Ini bukan pertama kalinya Kim Donghyun menghadiri acara reuni semenjak ia lulus sekolah tiga tahun lalu. Pestanya pun tidak berbeda jauh dari tahun sebelumnya— sebuah aula besar yang dapat menampung ribuan orang, konsumsi berupa roti dan kue, lalu beberapa sofa besar untuk bertemu rindu, dan yang paling spesial adalah bar kecil yang menyediakan minuman pesta.
Ini juga bukan pertama kalinya Donghyun mencicipi anggur merah bar tersebut. Sejak tahun pertama angkatannya ikut reuni, hal utama yang harus dilakukan seorang Kim Donghyun adalah memesan anggur merah, karena itulah favoritnya.
Sekolah biasa mengundang satu sampai lima angkatan siswanya yang telah lulus, makanya mereka selalu menyewa tempat yang cukup sekiranya seribu orang—karena siswa mereka terbilang cukup banyak—. Dari berbagai generasi, sekolah ini bagai pemersatu semuanya.
Donghyun meraih segelas anggur merah di meja bar kemudian mengambil kursi yang tersisa di sana. Baru saja ia menikmati anggurnya seteguk, pria itu dikejutkan oleh suara batuk wanita di sampingnya. Donghyun melihat wajahnya dan tidak menyangka siapa wanita tersebut.
Ia mengenalnya. Namanya Lim Youngmin, kakak kelasnya dulu yang tergabung dalam angkatan dua tahun di atasnya.
Wajah kalem ciri khas dirinya sekarang hilang ditelan Bumi, digantikan oleh mata bengkak dan pipi basah. Donghyun yang selalu mengagumi Youngmin pun tentu terkejut. Setahunya, seniornya ini terkenal tidak suka minum. Di saat teman-temannya memegang gelas mewah berisi alkohol, di sana terdapat Youngmin menikmati segelas jus. Namun hari ini justru berbeda, Youngmin sedang sendiri dan meminum sebotol alkohol.
"Hei."
Perempuan berperawakan kurus itu lantas memandang Donghyun, merasa kalau dialah yang sedang dipanggil. Alisnya bertaut kala melihat Donghyun sedang menahan tawa.
"Apa yang lucu?"
"Dimana kalimatmu yang biasanya? 'Jus lebih menyehatkan daripada alkohol'?" Youngmin mendengus. Setelah dari temannya, kini mantan adik kelasnya juga ikut mengejeknya. Astaga, apa image Lim Youngmin tampak sebaik itu?
"Berhenti mengejekku!" rengek Youngmin dengan suara seraknya. Ia tidak peduli lagi jika Donghyun tahu kalau dia habis menangis.
"Youngmin-ssi habis menangis? Kenapa?"
"Tidak perlu tahu."
"Ayolah, beritahu aku."
"Aku tidak ingin—uhuk."
Donghyun berdecak pelan, setelah itu meneguk habis anggur merahnya tanpa menyisakannya barang setetes. Ia mendesah, merasakan cairan tadi membakar tenggorokannya. Dilihatnya lagi sosok wanita yang dikenalnya sejak tahun keempat ia bersekolah. Sesungguhnya Donghyun tidak suka melihat seniornya bertindak abnormal seperti ini.
"Cerita saja padaku, aku bukan mulut ember." Youngmin menaikkan alisnya, sedangkan Donghyun tersenyum kecil agar Youngmin memercayainya.
"Hah, dasar keras kepala." pria itu tertawa mendengar respon seniornya. Tak lama, Youngmin pun menumpahkan semua keluh kesahnya kepada Donghyun. Mulai dari perusahaan tempat ia bekerja yang bangkrut sebelum ia mendapat gaji, lalu dompetnya yang tercopet saat ia berkeliling mencari pekerjaan baru, dan kesukarannya mendapat pekerjaan akibat banyaknya perusahaan yang menolaknya. Youngmin menceritakannya dengan tubuh setengah limbung efek minum alkohol terlalu banyak, sampai Donghyun harus beberapa kali membantunya untuk duduk dengan benar.
Dan ketika Youngmin ingin meneguk alkoholnya lagi, Donghyun cepat-cepat mengambil botol tersebut dari tangannya. Ia berusaha merebutnya, namun adik kelasnya mengangkat botolnya tinggi-tinggi.
"Kim Donghyun, kembalikan botolku! Aku mulai kedinginan."
"Peluk saja aku, tidak usah minum lagi."
Youngmin mendecih, berbanding balik dengan Donghyun yang tertawa puas. Pria itu menyembunyikan botol alkohol tadi dari pandangan Youngmin lalu menarik tubuh seniornya ke dalam rengkuhannya.
Youngmin tersentak, sempat ingin melepaskan diri namun akhirnya pasrah karena tenaga Donghyun lebih kuat darinya.
"Wajah senior kalau menangis jelek sekali."
"Diam—"
Donghyun menunduk, dan Youngmin menengadah, membuat bibir mereka bertemu tanpa sengaja. Keduanya diam sejenak, sama-sama terkejut dengan kejadian yang tidak mereka prediksi sebelumnya.
Belum sempat Youngmin membuka mulutnya, pria yang memeluknya tersebut memajukan wajahnya dan kembali menubrukkan bibirnya dengan bibir sang lawan main.
Wanita itu kehilangan akal, kepalanya terlalu sakit untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi ini. Youngmin membiarkannya, tak sadar bahwa ia ikut menikmati permainan Donghyun.
Lidah mereka lincah bergerak dan bibir mereka terus beradu, tidak tahu menahu dengan tatapan orang lain pada tangan mereka yang mulai merogoh tubuhmasing-masing. Donghyun yang tak sengaja melihat mata menyalang para gadis di sebelah bar berinisiatif menutupi wajah Youngmin dengan jasnya dan membawanya pergi dari tempat reuni menggunakan taksi. Ia tidak ingin seniornya terkena keganasan penggemarnya hanya karena ia menciumnya di tempat umum.
.
.
.
.
"Kau mau membawaku kemana?"
"Ke hotel?"
"Untuk apa ke sana?"
Donghyun tidak menjawab, ia hanya tersenyum simpul.
HEAVEN —0.3
pojokers:
(attach iykwim emoticon lol)
HUWAA SERIUS AKU NGGAK NYANGKA BANYAK YANG SUKA FANFIC INI:") kupikir ini cuma tulisan dengan storyline nggak jelas hnggg syukurlah (send virtual hug)
p.s: adegan flashbacknya cuma chapter ini doang, jadi kalau ada yang minta adegan di ranjangnya(?), maaf aku nggak bisa turutin. aku nggak berniat naikin rate fanfic ini, wkwkwk
thanks for reading!
