09

"Hunhun, waktunya makan." Lu Han membuka kotak berisi ikan untukku seperti biasa. Aku beranjak mendekat secara perlahan dan mengendus bau ikan yang terasa sangat nikmat, lalu aku memakan dua suap dan berhenti.

"Kenapa kau tak memakannya? Apakah kau sudah bosan dengan makanan ini?" Lu Han membelai kepalaku dan memanjakanku lewat nada suaranya. Aku mengangkat kepalaku dan menoleh kearahnya. Lelaki tua berumur dua puluh delapan ini telah memiliki keriput di sekitar matanya; tatapannya masih lembut seperti biasa dan selalu memanjakanku dengan cinta. Cinta yang seperti itu, yang terasa tumbuh di seluruh kebun bunga teratai—mampu melewati pulau dan gunung. Bagaimanapun juga, aku tahu sekarang, bahwa cinta yang seperti itu bukanlah untukku, namun untuk orang lain.

Cintanya untukku hanyalah sekadar pertemanan, dan ia sungguh tak tahu tentang apa yang kurasakan padanya. Dia selalu mencintai orang lain. Bahkan saat mereka tak bisa bersama, dia tak pernah berhenti untuk mencintainya dan berpaling padaku.

Karena aku hanyalah seekor kucing yang dinamai Hunhun. Majikanku menamauiku seperti itu sebagai pelarian dari perasaannya pada Oh Sehun. Cinta dan kasih sayang yang terasa mampu untuk melintasi pulau dan gunung itu ia tunjukkan padaku semata-mata hanya sebagai refleksi atas apa yang tak bisa ia salurkan pada Oh Sehun.

Saat ini, aku ingin sekali memarahinya, menyuruhnya agar bangun. Kau yang membuat keadaan jadi begini, kau sangatlah egois. Kau tak ingin pergi bersamanya karena kau takut hal itu akan menghancurkan karir dan keluargamu. Jadi kau memilih untuk menyakitinya karena keegoisanmu itu, bukankah begitu?

Tapi aku, sayangnya, hanya seekor kucing yang hanya bisa menemaninya dalam kehidupan yang terasa hampa ini.


10

Lu Han sepertinya telah di diagnosa mengidap depresi. Walaupun begitu, ia tak juga berusaha untuk sembuh.

Dia masih mabuk-mabukan sampai perutnya berdarah. Dengan wajahnya yang kian memucat, tiap hari ia selalu memanggil sebuah nama di dalam mimpinya. Nyonya Lu menggenggam tangan anak lelakinya, air mata yang mengering masih terlihat di wajahnya, dan ia menggelengkan kepalanya.

Bagaimana bisa alkohol mampu membuat hatinya yang kosong mati rasa?

Tuan Lu meremas rambutnya frustrasi. Ia memandang wajah anaknya, benci pada kenyataan bahwa Lu Han tak cukup kuat untuk menghadapi situasi ini.

"Sayang, tolong berhenti bersikap terlalau kasar pada anak kita sendiri," kata Nyonya Lu penuh dengan air mata. "Lihatlah ia. Berapa lama lagi ia akan bertahan seperti ini? Biarkan ia pergi, biarkanlah dia. Sehun bukanlah lelaki yang buruk. Mereka bisa saling menjaga satu sama lain."

Tuan Lu masih mempertahankan wajah tanpa ekspresinya di depan jendela.

"Kumohon, tolong! Aku masih ingin menganggapnya sebagai anakku, bahkan jika kau tak lagi mau menganggapnya! Aku hanya memiliki satu anak, maukah kau mengembalikan anakku jika ia mati nanti karena kau siksa tanpa ampun? Atau, kia bisa berceria. Kau bisa tak menganggapnya anakmu lagi, dan aku akan menyetujui hubungannya dengan Sehun."

"Apakah kau sudah gila?!" Tuan Lu murka.

"Ya, aku sudah gila! Gila karena kamu! Anakku dan aku gila karenamu! Biarkan aku memberitahumu, jika sesuatu terjadi pada anakku, aku akan memastikan bahwa kau akan menangis di depan makamku!"

"Kau—!" Tuan Lu tak bisa menahan amarahnya lagi. "Sudah benar-benar gila! Semuanya sudah benar-benar gila!"

Dia pergi setelah mengatakan, "Biarkan dia melakukan apa yang ia inginkan! Aku akan berpura-pura bahwa aku tak pernah memiliki anak seperti dia."


11

Kali ini musim semi datang lagi.

Lu Han sepertinya berada dalam suasana hati yang sangat baik. Ia menelepon Oh Sehun kemarin, tersenyum ceria saat ia berbicara. Oh Sehun bilang bahwa ia akan datang berkunjung keesokan harinya. Lu Han mengangguk dengan riang dan berkata, "Baiklah, baiklah! Aku akan membuatkanmu masakan yang enak ketika kau datang. Keahlianku memasak sudah meningkat dengan drastis!"

Seperti biasa, aku bermalas-malasan di sofa dan mengawasinya menyibukkan diri di dapur. Sinar lampu memancar dan menyinari rambutnya dengan lembut, dan matanya berkilau dengan harapan akan hidup baru.

"Hunhun..." Lu Han duduk di sebuah bangku kecil, memecah buah kenari, sesekali ia akan memakan dan mengunyahnya. "Sehun bilang dia ingin pergi jalan-jalan. Kira-kira kemana enaknya, ya?"

Aku tak mengatakan apapun dan dia lanjut berbicara seperti biasa. "Kupikir, kita harus mengambil foto di Tiananmen. Aku selalu ingin pergi kesana. Tapi dia bilang dia ingin pergi ke Amsterdam. Padang di sana sungguh indah. Oh, dia adalah seorang Nasrani. Aku tak tahu jika aku pernah memberitahukanmu hal ini. Haha, tapi kau juga pasti tak tahu apa itu Nasrani, kan?"

"Kau tahu, Hunhun, jika dia tahu bahwa namamu adalah Hunhun, apa yang akan ia pikirkan? Hahahahahaha, aku berani bertaruh dia pasti akan memukulku! Hahahahah..."

Mendengarkan lelaki kecil ini berkata-kata, mataku terasa mulai basah.

Aku berjalan dengan susah payah kearahnya dan menenggelamkan badanku pada lengannya. Sama seperti bagaimana pertama kali aku bertemu dengannya dan bermanja-manjaan dengannya. Walaupun jika dibandingkan dengan empat tahun yang lalu, aku yang sekarang sudah sangat gemuk.

Lu Han terlihat begitu terkejut. "Kenapa kau melengket padaku akhir-akhir ini? Hunhun, aku merasa bahwa kau tak pernah selengket ini padaku sebelumnya. Kenapa kau... eh? Hey, jangan tidur dulu! Kenapa kau sangat pemalas?"

Lu Han, jangan mendorongku menjauh. Jangan mendorongku menjauh. Biarkan aku tidur di sampingmu lagi, kali ini saja.

Karena aku takkan mengganggumu lagi setelah ini.


12

Lu Han, kau mungkin tak tahu hal ini namun aku adalah kucing dengan sembilan nyawa.

Kucing sembilan nyawa bisa hidup selama sembilan kali. Nyawa kami bisa hilang karena kecelakaan atau 'mati' karena majikan mereka telah berhenti mencintai mereka. Kemudian, kami akan mulai kehidupan baru lagi.

Aku tahu duniaku sungguh kecil. Hanya satu mausia dan kau telah mencapai umurmu yang hampir memasuki tiga puluh tahun. Kau takkan mungkin hidup untuk beberapa puluh tahun lagi dan umurku hanya tinggal sedikit. Kau takkan lagi membutuhkanku untuk sisa umurmu.

Lu Han, aku pernah membencimu sebelumnya, karena cintamu padaku hanyalah cinta semu dan bodohnya, aku percaya padamu walau apa yang kudapatkan darumu hanyalah kejutan-kejutan kosong. Kau adalah manusia dan aku adalah seekor kucing, dan juga, kau hanya mencintai Oh Sehun.

Dan aku ingin menikmati waktu-waktu terakhirku dan ingin mengucapkan salam perpisahan padamu ketika waktuku telah tiba, walau aku tak tahu bagaimana caranya. Aku hanya tahu bagaimana caranya bermanja-manjaan denganmu dan bagaimana marah padamu. Akankah kau ingat padaku bahwa kau punya seekor anak kucing yang menemanimu selama tahun-tahun yang terasa begitu berat? Kau memberiku naa seperti nama miliknya, Hunhun, dan aku ada di sini untuk menerima cintamu walau hanya sebagai simbol.

Aku melihat Oh Sehun masuk tergesa-gesa kedalam rumah ini ketika kau menyambutnya. Ia lalu masuk dan memelukmu begitu erat.

Ah, indahnya—kembar—kau berdua terlahir untuk bersama, lalu bagaimana bisa kalian akan terpisahkan? Ah, manisnya.

Lalu, tolong tetaplah bersamanya. Kau telah menanti selama dua belas tahun sampai pada hari ini, dan pada akhirnya, di sinilah kalian.

Empat tahun lalu, saat subuh menjelang dan rintik hujan turun membasahi, kau muncul di sampingku tanpa aba-aba, lalu kau memberikanku sebuah tempat untuk berlindung.

Dan pada akhirnya, aku siap untuk benar-benar pergi—mati.

Aku akhirnya tahu mengapa kau menyukai bunga mawar berwarna merah muda itu. Bukan karena bunga-bunga itu mirip sepertimu, tapi karena bunga-bunga itu merupakan simbol cintamu pada Oh Sehun.

Dalam bahasa bunga, mawar berwarna merah muda melambangkan "Aku ingin bersamamu selamanya."

Lu Han, aku juga ingin bersamamu selamanya.


The End


Keiri's note : Kuharap kalian suka fanfiksi ini seperti aku menyukainya! Lagi, aku ingin mengingatkan bahwa bukan aku yang menulis fanfiksi ini, dan aku hanyalah menerjemahkannya. Aku menangis saat pertama kali aku membaca cerita ini, dan aku menangis lagi ketika aku menerjemahkannya.

SachiMalff's note : phew! Setelah tiga hari meluangkan waktu dan curi-curi kesempatan untuk menerjemahkannya, akhirnya selesai juga! Sachi minta maaf jika terjemahannya nggak sebagus dan sehalus yang dijanjikan, tapi ini udah berusaha semaksimal mungkin agar bisa sedekat mungkin dengan terjemahan kak Keiri. Yang mau baca terjemahan kak Keiri yang bahasa inggris, silakan buka foreword, di sana ada link ke aff kak Keiri. Kalau kalian suka terjemahan kak Keiri, tolong komen di akun aff-nya ya, katakan kalo kalian suka!

With love, SachiMalff!