Title : Secret Admirer

Author : Jung Raehyun (bngtnxoap)

Cast : Bangtan Boys – Kim Taehyung & Jeon Jungkook

Other Cast : Find ur self.

Genre : Friendship , School life , Romance , Little Hurt(?)

Rating : K+ / T

Disclamer : all cast and other cast belong to god , their parent's and their agency. But, story is mine.

Warning : Yaoi! bxb , Typo (always) , pasaran , bahasa aneh , belibet dan berlebihan.

Happy Reading~

.

.

.

.

.

" Bae Irene? " Bisik Jungkook.

" Ja-jadi, Dia itu–" Jungkook tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Pemuda itu langsung menutup laptop nya dan menaruhnya di tempatnya semula. Ia langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut putih miliknya. Ia merasa hatinya sakit karena seseorang yang di kaguminya ah–di sukainya telah memiliki kekasih. Kemungkinan perasaannya tidak akan terbalaskan bukan? tetapi, dirinya tidak bisa langsung menghapus perasaan itu bukan? Entahlah, Pemuda ini bingung.

Karena terlalu banyak yang di pikirkan, Ia langsung memejamkan matanya dan memasuki alam mimpinya.

.

–––––

.

Malam telah berganti menjadi pagi. Tetapi Seseorang itu masih bergelayut dengan selimut tebalnya.

Brak!

Seseorang itu terkejut dikala pintu kamarnya terbuka kencang. Ia langsung terduduk di samping tempat tidurnya dan menatap seseorang itu kesal.

" Apa yang kau lakukan?! " Tanya nya kesal pada si pembuka pintu. Yang di tanya hanya memutar bola matanya.

" Sudah pagi, mandi dan sarapan. " Ucap si pembuka pintu datar.

" Tapi ini hari minggu, Kim Mingyu! " Seseorang itu sepertinya sudah sangat kesal pada si pembuka pintu–Mingyu.

" Mama menyuruhmu makan. Kau akan sakit jika tidak makan, Kim Tae-hyung. " Ucap Mingyu. Pemuda yang di panggil Tae-hyung itu terdiam dan langsung memasuki kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi yang tidak berdosa itu. Oh, kalau sudah berkaitan dengan Ibu ny, Taehyung pasti kalah. Mingyu terkikik lalu keluar dari kamar Taehyung dan membuat si pemilik kamar kesal setengah mati.

Okay, Kim Taehyung dan Kim Mingyu itu sebenarnya adalah saudara. Saudara sepupu lebih tepatnya. Sejak kecil, mereka sudah bersama dan di besarkan oleh Orang Tua Taehyung. Mingyu tinggal bersama keluarga Taehyung di karenakan Ibu dan Ayahnya bercerai. Ibunya menitipkan dirinya di Keluarga Taehyung karena memang hanya mereka yang dapat di percaya oleh Ibu Mingyu. Dan juga, Orang tua Taehyung pun dengan senang hati menerima Mingyu dan menjadikannya sebagai anak angkat mereka. Bisa disimpulkan bahwa Mingyu itu Anak 'Broken home'.

Dan sebenarnya Taehyung itu lebih tua satu tahun dari Mingyu. Oleh karena itu Mingyu memanggil Taehyung dengan sebutan 'Hyung'. Dari teman-teman Mingyu, hanya Junhong yang mengetahui bahwa Mingyu serumah dengan Taehyung karena pada waktu itu mereka berdua pernah mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Mingyu pun menjelaskan semuanya pada Junhong. Taehyung juga sengaja tidak memberitahu orang lain kalau Ia merupakan kakak sepupu Mingyu. Baginya itu tidak penting. Mingyu sendiri pun juga tidak keberatan, berakting seolah Taehyung itu bukan siapa-siapanya.

Ngomong-Ngomong, Sekolah mereka, Seoul High School itu akan menerima murid baru dan mengulangnya dari kelas satu tanpa peduli berapa umur mereka. Oleh karena itu, Taehyung mengulang sekolahnya dari kelas satu walaupun sebenarnya Ia sudah kelas dua.

Taehyung sebenarnya adalah siswa pindahan dari Jepang. Ia mendapat Beasiswa disana. Pemuda itu tidak meneruskan sekolahnya sampai kelas tiga di karenakan alasan pribadi. Taehyung sangat enggan menceritakan hal itu pada Orang Tuanya. Karena menurutnya itu tidak penting dan membiarkan hal itu Ia rahasiakan dari Orang Tuanya sampai ajal menjemput.

Pada saat itu, Taehyung menelpon orang tuanya bahwa Ia ingin pulang ke Korea dan berkata bahwa sudah tidak betah berada di Jepang. Sebenarnya, Orang Tuanya sangat keberatan jika Taehyung berhenti, karena itu adalah kesempatan langka. Tetapi mendengar suara Taehyung yang merengek akhirnya mereka pun menuruti permintaan itu. Dan semenjak pulang dari Jepang sifat Taehyung berubah total. Tidak seperti Taehyung yang dulu, ceria dan banyak bicara. Berbeda dengan yang sekarang, Cuek dan sedikit Dingin. Mungkin pengecualian kepada Orang Tua nya dan adik sepupunya, Kim Mingyu.

.

–––––

.

Pemuda bergigi kelinci itu menuruni tangga dengan wajah kusut. Walaupun sudah membersihkan diri, tetapi wajah pemuda itu tetap terlihat kusut. Ia masih mengingat kejadian semalam. Dimana Ia mengetahui bahwa Kim Taehyung sudah memiliki kekasih bergender wanita. Apa kabar dirinya yang bergender lelaki? Apakah dirinya mempunyai peluang untuk memiliki Taehyung?

Karena asik melamun, Pemuda itu tidak sengaja menabrak seseorang dan dirinya langsung tersadar dari lamunannya.

" Yah Jeon Jungkook! " Seseorang yang di tabrak Pemuda kelinci itu berteriak dengan suara beratnya dan membuat Jungkook mendongak untuk melihat wajahnya.

" Jeon Wonwoo? " Bingung Jungkook. Ia langsung berdiri dan menyentuh pipi pemuda yang bernama Wonwoo itu untuk memastikan bahwa Seseorang itu adalah Jeon Wonwoo sungguhan.

" Hei, panggil aku Hyung, bocah. " Kata pemuda yang tidak sengaja di tabrak oleh Jungkook itu seraya menepis lengan Jungkook yang berada di wajahnya.

" Apa benar Kau Jeon Wonwoo hyung? " Tanya Jungkook lagi mengabaikan ucapan Pemuda itu.

" Lepaskan tanganmu, Jungkook-ah. Iya benar, Aku Jeon Wonwoo. " Ujar Pemuda itu–Wonwoo.

Jungkook langsung memeluk Wonwoo, dan di balas oleh Wonwoo. Setelah beberapa detik, mereka melepas pelukan hangat nan bersahabat itu. " Apa yang sedang kau lakukan disini, hyung? "

" Mulai sekarang Aku tinggal disini bersamamu, Jungkook-ah. " Wonwoo menjawab sembari menunjukan senyuman menawannya. " Benarkah, hyung? Aku senang sekali akhirnya mempunyai teman dirumah besar ini. Menjadi anak tunggal ternyata ada asik dan tidaknya. " Jungkook mengerucutkan bibirnya lucu.

Wonwoo langsung mencubit kedua pipi gembil Jungkook karena gemas. " Kau ini semakin imut saja. "

Jungkook menepis kedua tangan Wonwoo yang mencubiti pipi nya, lalu tersenyum jahil. " Kau semakin hari semakin cantik saja hyung. Aku jadi iri akan kecantikan mu. " Kata Jungkook lalu berlari kearah dapur.

Wonwoo menggeram, " Awas kau kelinci! " Pemuda bersuara berat itu berteriak lalu menyusul Jungkook ke arah dapur.

.

.

Jungkook melahap makanannya dengan tenang begitu juga dengan Wonwoo. Kedua pemuda itu kini diam setelah ribut beberapa menit yang lalu. " Jadi Wonwoo hyung, mengapa hyung memutuskan untuk tinggal disini? " Jungkook memulai pembicaraan sembari melahap makanannya tentu saja.

Wonwoo menghentikan sejenak kegiatan makan nya lalu menjawab, " Paman Sehun yang memintaku untuk tinggal disini, karena Beliau tahu bahwa kau membutuhkan seorang teman dirumah ini. Paman Sehun dan Bibi Luhan selalu sibuk. Lagipula, Kau tahu kan Aku tinggal sendiri di Jepang, jadi Aku menerima permintaan Paman Sehun. " Jelas Wonwoo lalu Ia mengambil segelas air dan meminumnya.

Jungkook mengangguk mendengar penjelasan Wonwoo, " Ya, Papa memang selalu sibuk dan Mama pun begitu. Padahal kemarin Ia sedang ada disini. Mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga mereka melupakanku disini. " Jungkook tersenyum kecut mengingat kedua orang tuanya.

Wonwoo beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kursi yang Jungkook duduki. " Tak apa Kook, mulai sekarang ada Aku disini yang menemanimu pagi hingga malam. Bahkan aku bersekolah di sekolah yang sama denganmu. Jadi kau tidak kesepian lagi. " Wonwoo tersenyum dan memperlihatkan eyesmile nya seraya mengusap rambut hitam eboni milik Jungkook.

" Terima kasih, Wonwoo hyung. " Jungkook tersenyum lebar mendengar penjelasan Wonwoo. Sedangkan yang lebih tua hanya mengangguk sebagai jawaban.

.

–––––

.

Taehyung sedang berbaring di sofa ruang keluarga sembari memainkan ponsel putih miliknya. Jujur saja, Ia rindu dengan benda putih canggih itu karena semalam Ia tidak bermain dengan benda itu dikarenakan kehabisan daya. Oke, ini berlebihan.

Pemuda berambut cokelat itu membuka aplikasi perpesanan dan Ia melihat tujuh pesan tak terbaca dari dua orang yang berbeda. Enam dari Kekasihnya dan satu lagi dari nomor yang tidak dikenal.

Ia membuka pesan dari nomor yang tidak dikenal terlebih dahulu lalu membacanya.

" Dari Jungkook? " Ia segera menyimpan nomor pemuda manis bergigi kelinci itu entah kenapa hatinya menyuruhnya langsung menyimpan nomor itu.

" Eh? Kerja kelompok pukul sembilan? " Pemuda berambut cokelat tua itu langsung melihat kearah jam dinding. " Masih setengah delapan. " Lanjutnya. Lalu Ia langsung membuka pesan dari Kekasihnya tersebut. Ia hanya melihat pesan itu seraya tersenyum kecil. Saat Ia mulai mengetikkan balasan–

" Dor! "

–Seseorang mengejutkannya.

Taehyung langsung melihat kearah seseorang yang mengejutkannya tadi. Setelah melihatnya, Ia langsung menggeram marah. " Apa yang kau lakukan Mingyu?! Untung saja Aku tidak memiliki penyakit jantung. " Taehyung berkata dengan intonasi tinggi. Mingyu hanya terkekeh pelan.

" Sedang apa Hyung? Serius sekali. " Tanya Mingyu. Mata tajamnya melirik kearah ponsel putih Taehyung yang sedang membuka aplikasi perpesanan. " Pesan dari siapa? Bae Irene kah? " Lanjut pemuda berambut perak itu dengan merubah nada bicaranya menjadi datar.

Taehyung langsung menatap tajam adik sepupunya tersebut. " Ini urusan orang dewasa, anak kecil. "

Mingyu memutar bola matanya, " Seperti Kau sudah besar saja, hyung. " Okay, sepertinya Mingyu mengajaknya berdebat kali ini.

" Ya, aku memang sudah besar. Aku kelas dua dan Kau kelas satu! "

" Kau juga kelas satu! bahkan kita sekelas, hyungnim. "

" Tapi sebenarnya Aku sudah kelas dua! "

" Siapa peduli? "

" Dasar Bodoh. "

" Kau yang bodoh, Hyung. Memacari perempuan yang jelas-jelas ingin membunuhmu. " Ucap Mingyu tanpa sadar. Lalu Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Taehyung menatap Mingyu dengan tatapan yang sulit di artikan. Lalu setelah itu matanya berganti menatap Adik sepupunya dengan tajam seolah meminta pertanyaan atas perkataannya. " Apa maksudmu, Kim Mingyu? "

Mingyu menghela nafas, " Tidak apa-apa. Cepatlah bersiap, hyung. Sebentar lagi kita akan berangkat ke taman kota. Kau tidak lupa 'kan kerja kelompok? "

Taehyung hanya diam saja. Ia masih memikirkan perkataan Mingyu tadi. Sedangkan adik sepupunya itu langsung berjalan cepat menuju kamar yang terdapat di lantai dua.

" Huft. Untung saja~" Gumam Mingyu pada saat sudah berada di dalam kamarnya.

.

–––––

.

Taman Kota di daerah Seoul hari ini sedang padatnya karena hari ini merupakan hari Minggu. Dimana saat para manusia berkumpul bersama keluarga masing-masing maupun bersama dengan teman-temannya.

Terlihat seorang Pemuda berambut hitam dan mempunyai kaki yang panjang itu sedang duduk di salah satu bangku taman dan melahap es krim yang Ia genggam di tangan kanannya. Terlihat seperti anak kecil memang. Tetapi, penampilannya tidak terlihat seperti anak kecil dengan jaket kulit hitam yang terbuka dengan kaus putih polos di dalamnya , celana hitam panjang dengan rantai yang menggantung di sebelah kanannya serta sepatu converse berwarna hitam yang melekat di telapak kaki besar miliknya. Menambah kesan Badboy padanya.

" Hei, Junhong-ah! "

Pemuda yang sedang di deskripsikan tadi segera menatap kedepan setelah mendengar nama nya di panggil. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang memanggilnya. Ia melihat seseorang yang berambut hitam sama sepertinya sedang menghampirinya dengan menggendong tas ransel di punggungnya.

" Kau mengecat rambutmu lagi, Junhong-ah? " Kata Pemuda yang menggendong tas ransel tadi setelah mendudukkan bokongnya di bangku sebelah temannya. Junhong menganggukkan kepalanya, " Iya, bagaimana menurutmu? bagus 'kan? apakah aku berlihat lebih manly dengan rambut dan penampilan seperti ini? " Tanya Junhong dengan percaya dirinya.

Temannya memutar bola matanya malas, " Kau pikir, seperti ini terlihat manly? " Katanya dengan menatap Junhong dari atas sampai bawah dengan pandangan datar. " Kau justru terlihat seperti anak kecil dengan sisa es krim di sudut bibirmu itu, Choi Junhong. " Lanjutnya seraya mengulurkan tangannya ke sudut bibir Junhong. Bermaksud membersihkan sisa es krim itu dengan ibu jarinya.

Junhong merasa malu di hadapan sahabatnya ini. Beruntung dihadapannya itu adalah sahabatnya. Coba kalau senior yang pandai menari itu? Ah, kenapa Junhong jadi memikirkan senior itu? Pemuda itu segera menyingkirkan pikirannya tentang senior itu.

" Hehe, terima kasih, Kookie. Kau datang sendiri? Dimana yang lain? " Junhong mengalihkan pembicaraan.

Jungkook memutar bola matanya untuk yang kedua kalinya, " Entahlah, Kita tunggu saja disini. "

Mereka berdua pun mengobrol dari yang penting hingga yang tidak penting sekalipun seraya menunggu teman-teman mereka datang.

" Jungkook! Junhong! "

Merasa nama mereka terpanggil, kedua orang itu segera menoleh kearah suara. Mereka melihat Bambam sedang tersenyum ceria seraya menghampiri mereka berdua dengan menenteng tas yang berisi tikar. Di belakangnya terdapat Mingyu dan Taehyung. Saat melihat Taehyung, Jungkook jadi teringat yang semalam lagi. Ia pun mencoba melupakan hal itu.

.

.

Kini mereka berlima duduk di rerumputan ber-alas tikar yang di bawa oleh Bambam. Pemuda berdarah Thailand itu sepertinya sedang dalam mood baik hari ini, terlihat dari sifatnya.

" Jadi, sekarang kita melakukan apa? " Tanya Mingyu setelah mereka membuka buku bahasa inggris milik masing-masing.

" Tentu saja membagi tugas. " Kata Taehyung datar. Kemudian Ia melirik adik sepupunya yang sedang mencibir tanpa suara. Dalam hatinya Ia tertawa setan karena Ia tahu kalau adik sepupunya itu kurang bisa dalam pelajaran asing ini.

Junhong menghadap Jungkook yang tepat berada di sampingnya. " Kau saja yang membagi tugas, Kookie. " Ucap Pemuda yang bersifat kekanakan itu.

Jungkook menatap teman-temannya ragu seolah-olah berkata; 'kalian yakin?'

Teman-temannya hanya mengangguk, termasuk Taehyung. Ia hanya mengikuti saja. Jungkook menghela nafasnya. Beginikah nasib orang pintar? pikirnya.

" Oke, Mingyu, Kau mengerjakan bab 1 , Bambam bab 2 , Dan Kau Junhong, bab 3–" Pemuda bergigi kelinci itu kini menatap Taehyung. Hatinya bergetar saat bertatapan dengan mata tajam milik orang yang disukainya itu. "–Taehyung-ssi , kau bab 4. Sedangkan aku sendiri mengerjakan bab 5. Lalu kalau sudah selesai, kita merangkainya. " Lanjut pemuda itu lalu memfokuskan dirinya di pekerjaannya sendiri. Mingyu sedikit jengkel karena Ia mengerjakan tugas ini sendirian. Diam-diam Ia mengumpati Kakak sepupunya yang sedikit menyebalkan itu. Bukan sedikit, Tetapi memang menyebalkan.

" Jika kau kesulitan, bertanya saja padaku atau pada yang lainnya, Mingyu-ah. " Kata Jungkook lagi tanpa mengalihkan perhatiannya dari perkerjaannya. Mingyu menganggukkan kepalanya semangat, " Oke! "

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Maklum saja jika suasana di taman kota ini semakin panas. Kelima pemuda itu kini tengah serius merangkai pekerjaan mereka untuk di presentasikan nanti.

" Aku ingin beli minum, haus sekali. Kalian ingin pesan? Akan aku belikan. " Kata Bambam sembari mengibaskan tangan kanannya –kepanasan. Keempat temannya menatapnya, lalu menyebutkan pesanan mereka. Bambam mengangguk lalu langsung melangkahkan kaki nya kearah stan minuman yang berada di dekat situ.

Kini, tinggal mereka ber-empat yang berada di depan laptop hitam milik Jungkook. Jungkook lagi, Jungkook lagi, Okay, karena Jungkook yang paling pintar disini, Jadi Ia yang harus mengurus dan menyumbangkan sesuatu miliknya. Heol, pemikiran abstrak ini berasal dari Mingyu dan bodohnya di setujui oleh yang lainnya. Membuat Jungkook ingin membenturkan wajah tampan sahabatnya itu ke dinding.

" Jadi, Procedure text itu intinya adalah teks yang berisi tentang tata cara pembuatan suatu benda atau makanan. Paham, Kim Mingyu? " Jelas Jungkook seraya menekan nama lengkap milik sahabatnya itu. Sedangkan Mingyu hanya nyengir tidak jelas. Demi apapun, Jungkook sangat ingin membenturkan wajah Mingyu ke dinding yang sangat keras.

" Sudahlah, Jungkook-ssi. Anak bodoh seperti Dia memang susah mengerti. Biarkan saja Dia bersama dengan kebodohannya itu. " Kata Taehyung tiba-tiba karena sudah sangat jenuh dengan pemandangan di hadapannya. Jungkook hanya diam saja, tetapi pipinya terlihat memerah samar. Oh, Jungkook, sepertinya kau harus berterima kasih pada sahabatmu yang bodoh itu karena dirinya, Kim Taehyung kini berbicara duluan padamu.

Mingyu menatap tajam Kakak sepupunya dan Sahabatnya itu. Tapi kini seringaian muncul di bibirnya. Matanya beralih menatap Junhong yang berada di sebelah Jungkook. Yang ditatap hanya memberikan tatapan seolah-olah berkata; 'ada apa?'

" Ah, Bambam lama sekali beli minumnya. Aku sudah sangat haus, mulutku rasanya kering sekali. Aku ingin menyusulnya, Kau mau ikut denganku, Junhong? " Alibi Mingyu. Ia sebenarnya ingin sahabatnya itu berduaan dengan kakak sepupunya –ceritanya ingin balas dendam.

" Ayo, kita menyusul Bambam. " Kata Junhong dengan polosnya lalu Ia bangkit dari duduknya dan pergi bersama Mingyu.

Jungkook mengumpat didalam hatinya pada kedua sahabatnya itu. Ia segera menyibukkan diri di hadapan laptop miliknya. Ia mengetik dengan sangat cepat lalu setelah dirasa pekerjaan itu selesai Ia segera menyimpan tugasnya di flashdisk miliknya yang berbentuk Iron Man versi chibi.

" Jungkook-ssi, Kau itu lelaki, kenapa memiliki benda lucu seperti itu? " Tanya Taehyung tiba-tiba membuat jantung Jungkook bekerja dengan ritme yang lebih cepat lagi.

" Err..yaa..karena aku itu..hmm..yaa seperti itu..hehe. " Jawab Jungkook gugup. Pasalnya, kedua mata tajam Taehyung kini menatap matanya.

" Seperti itu bagaimana? " Taehyung melontarkan pertanyaan lagi.

" karenaakupecintaironman. " Jungkook berkata cepat seperti seorang rapper, membuat Taehyung bingung.

" Kau berkata ap–"

" Kami datang~! "

Kata-kata Taehyung terpotong karena teman-teman mereka datang dan membawakan minuman. Jungkook menghela nafas lega. Ia menerima minuman dingin itu dari tangan Bambam lalu menyeruputnya. Mengurangi rasa gugup di dalam hatinya.

" Apa tugasnya sudah selesai, Kookie? " Tanya Junhong.

" Sudah. Tugasnya sudah kumasukkan kedalam flashdisk. Kenapa memangnya? " Balas Pemuda manis bermarga Jeon itu lalu menutup laptopnya dan menaruhnya di dalam tas ransel miliknya.

" Tak apa, Aku pamit duluan, ya. Ibuku dari tadi mengirimiku pesan dan menyuruhku pulang. bye. " Junhong berlari kearah motornya yang berada sekitar situ seraya melambaikan tangannya kearah teman-temannya dan di balas gelengan kepala oleh mereka karena sifatnya yang sangat kekanakkan.

Mereka yang hanya tinggal ber-empat pun merapihkan barang-barang mereka dan melipat tikar milik Bambam. " Terima kasih, kawan. Aku pulang dulu, ya. Mark Hyung sudah menungguku. " Lalu pemuda berdarah Thailand itu menuju kearah mobil kekasihnya yang sudah terparkir disitu seraya menenteng tikarnya.

" Aku juga pamit, ya. Ada urusan mendadak. Bye. " Mingyu terlihat tergesa-gesa lalu berlari kecil kearah mobilnya seraya tersenyum penuh arti.

Tinggal Taehyung dan Jungkook yang berada di taman itu, Hening menyelimuti mereka berdua. Setelah kejadian tadi, mereka berdua jadi merasa canggung satu sama lain. Akhirnya, Jungkook membuka suara terlebih dahulu, " Taehyung-ssi, Aku pulang duluan, ya. Permisi. " Katanya sopan lalu segera berjalan.

" Tunggu, Jungkook-ssi–"

Jungkook yang di panggil menghentikan langkahnya lalu menoleh ke sumber suara. Ternyata Taehyung yang manggilnya. Jungkook mengangkat sebelah alisnya. Seolah bertanya; 'ada apa?'

" –Uhm, Aku naik motor sendiri. " Lanjut Taehyung sedikit gugup dan mengusap tengkuknya. Kenapa kau jadi gugup seperti ini, Taehyung?

" Lalu? " Tanya Jungkook seraya mengantupkan bibir tipisnya. Oh, Jungkook, Kenapa kau tidak peka? Dan apakah yang ada di pikiran kita sama?

" Kau pulang berjalan kaki, bukan? Mau pulang bersama? " Akhirnya Taehyung mengucapkan kalimat itu dengan lancar.

" Bolehkah? " Jungkook bertanya pada Taehyung dan di jawab anggukkan olehnya. Jungkook bersorak dalam hati.

Mereka berdua pun menuju motor sport Taehyung yang berada di parkiran. Saat Taehyung menaiki motornya, Jungkook masih menatap Taehyung ragu. " Kau serius ingin mengantarku pulang? "

" Tentu saja aku serius. Naiklah. " Balas Taehyung lalu memberikan helm pada Jungkook.

Setelah memakai helm, Jungkook menaiki motor sport merah itu. Setelah dirasa Jungkook sudah berada diatas motornya, Taehyung segera melajukan motornya dengan kencang. Refleks Jungkook memeluk pinggang Taehyung. Yang di peluk sedikit terkejut namun hanya membiarkan. Jungkook sendiri sudah malu dan berusaha mengontrol degupan jantungnya. Tetapi, Entah kenapa Jungkook merasa nyaman dan terlindungi saat memeluk Taehyung. Sedangkan Taehyung, Ia juga merasa nyaman saat dipeluk oleh teman sekelasnya itu.

Dalam hati, Pemuda berambut cokelat tua itu mengumpati jantungnya yang berdetak kencang. Apa Maksudnya?

Apakah akan terus berlanjut seperti itu? entahlah.

.

.

.

.

.

-TBC-

A/N : I'm backkkkk! /hening/ . Akhirnya FF ini dilanjut juga, Dan Aku akhirnya memiliki waktu luang untuk melanjutkan. Yaiyalah, ini kan udah liburan -_-" Maaf ya ini di updatenya lama banget huhuhu:'

Bagaimana menurut kalian cerita ini? Chapter ini adalah chapter yang paling panjang word nya lho wkwk:v

Btw, disitu muncul Wonwoo ya? Kemungkinan Ia bakal jadi peran penting di dalam FF ini, dan loh loh itu ada kata 'pembunuhan' , kenapa? entahlah, aku hanya ingin menambahkan sedikit bumbu-bumbu crime/? itu juga kalo gak gagal huft:3

Terima kasih banyak buat kalian yang menunggu kelanjutan FF absurd ini, terutama yang Review/Fav/Follow aww big love buat kalian3

.

.

.

.

Last,

Mind to Review?

-bngtnxoap-