DISCLAIMER : Naruto milik Hinata -ditonjok Masashi Kishimoto-
WARNING : Typo transparan (?), OOC, AU, Garing,dan Dapat dibaca semua umur (?)
PAIRING : NaruHina -Wajib- slight NaruShion
Jika anda tidak menyukainya, Get Out Of Here Its Gonna Blow.
"Baiklah Naruto-kun, terima kasih atas tumpangannya dan sampai jumpa besok" Hinata tersenyum kepada Naruto, kali ini senyumannya dapat membuat Tobi mengurungkan niatnya untuk membuat dunia baru.
Tanpa sadar wajah Naruto kini telah dihiasi oleh rona merah. "Sa-Sama- Sama Hinata-chan, kalau begitu aku pulang dulu ya. Jaa!" Naruto buru - buru menjalankan sepedanya karena takut melihat senyum Hinata yang membuat dirinya tidak fokus.
Dan Hinata pun selangkah lebih dekat mendapatkan hati Naruto.
.
.
.
Chapter 4
Flashback
"Hei, kembali kesini kau bocah!"
"Kau sendiri masih bocah, dasar Naruto-baka."
"Oh iya aku lupa hehehe.."
Hari sudah semakin sore, namun Naruto dan Shion masih asik bermain di taman. "Naruto-kun, Aku mau pulang dulu, sudah sore besok kita main lagi". Shion yang mulai lelah dan kotor meminta izin kepada Naruto untuk pulang.
"Ehm, baiklah. Tapi besok janji ya kita main lagi?" tanya Naruto
"Tenang saja besok kan hari Minggu, kita bisa bermain sepuasnya." Jawab Shion.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok Shion-chan" Naruto berbalik lalu pergi meninggalkan taman bermain tersebut.
Setelah Naruto tidak terlihat lagi, Shion menunggu ayahnya untuk menjemputnya. Tidak beberapa lama kemudian muncullah sebuah mobil limosin berwarna hitam datang. 'nah itu Tou-san sudah datang, kenapa lama sekali sih?' gerutu Shion dalam hati.
Mobil tersebut berhenti di tepat di depan Shion. Kaca depan mobil terbuka memperlihatkan wajah sang pengemudi yang ternyata seorang lelaki berambut panjang.
"Tou-san kenapa lama sekali sih?" Shion bertanya sambil cemberut.
"Maaf Shion, tadi Tou-san menjemput Nee-sanmu dari tempat lesnya." Jawab sang supir yang ternyata ayah Shion. "Ya sudah, cepat masuk sebelum Tou-san dimarahi ibumu karena terlambat pulang".
Shion memasuki mobil tersebut, di dalamnya sudah ada anak perempuan yang seumuran dengannya. Wajah dan matanya mirip dengan Shion, tetapi rambutnya berwarna lavender sebahu jika mereka berdiri berhadapan bagaikan melihat ke sebuah cermin.
"Hinata-nee sudah pulang dari tempat les ya?" tanya Shion kepada anak perempuan tersebut.
Hinata hanya menatap Shion dengan ekor matanya. "Tentu saja, aku tidak seperti dirimu yang selalu bermain"
Walaupun mereka kembar dan bentuk fisiknya sangat mirip. Namun kepribadian mereka berbeda 180 derajat. Shion sangat periang dan terbuka kepada siapa saja, sedangkan Hinata memiliki sifat dingin dan tertutup.
"Ne, Tou-san. Bukankah anak kecil harus lebih banyak bermain?" Shion bertanya kepada ayahnya dengan nada polos.
"Hahahaha, tentu saja sayang, tapi kau harus ingat jika terlalu banyak bermain juga tidak baik." Hiashi menasihati kedua putrinya tersebut.
"Lagipula kalian kan anak kembar, seharusnya kalian kompak satu sama lain bukan bertengkar seperti ini. Kalian juga harus menjadi contoh yang baik bagi Hanabi" Lanjut Hiashi
"DIA YANG MULAI TOU-SAN!" jawab dua putrinya berbarengan.
"Nah, kalau kompak pasti kalian terlihat manis. Ahahahah" Hiashi tertawa melihat tingkah anak - anaknya.
Hinata dan Shion saling memandang satu sama lain dan ikut tertawa bersama ayahnya.
Flashback End
Dua minggu berlalu sejak Naruto mengantar Hinata ke rumahnya yang super megah. Sejak itu pula Naruto mulai sering pulang bersama Hinata setelah sekolah usai. Bahkan Hinata menolak tawaran beberapa siswa tajir yang mengantarnya pulang dengan kendaraan mewah, hanya untuk bersama Naruto dan sepedanya.
Ketika ditanya oleh Ino dkk kenapa dia lebih memilih pulang dengan sepeda daripada naik mobil ataupun motor mewah, dia hanya menjawab dengan enteng "Aku lebih menyukai barang antik"
Seperti hari- hari sebelumnya, di depan gerbang Hinata menunggu Naruto yang mengeluarkan sepedanya sambil mendengarkan lagu dari telepon genggamnya.
"Menunggu seseorang, Ojou-sama?" Goda Naruto sambil menuntun kendaraannya.
"Tentu saja, aku menunggu seorang pangeran dengan 'kuda' putihnya. Apa kau melihatnya di sekitar sini?" Hinata membalas godaan Naruto.
"Kurasa aku tidak melihat siapa - siapa di sini, tapi jika kau mau kau boleh menunggang 'kuda' ini bersamaku."
"Dengan senang hati." Tanpa basa basi lagi Hinata langsung menaiki sepeda Naruto.
Perjalanan pulang memang sangat menyenangkan apalagi bagi Hinata. Karena di momen seperti itu lah dia merasakan ketenangan bersama Naruto.
"Oh iya Naruto-kun, besok kan hari libur dan sebentar lagi akan ada ujian sekolah. Bagaimana kalau kau datang ke rumahku untuk belajar bersama?" Tanya Hinata sambil terus mendekap perut Naruto.
Naruto berpikir sejenak, karena jika hari libur biasanya dia bekerja part time sebagai pelayan di sebuah toko. "Hmm, besok aku harus bekerja. Tapi mungkin aku akan datang agak siang, bagaimana?" jelas Naruto.
"Tidak apa - apa, aku akan menunggumu jam 2.30 siang ya?"
"Siap, tuan putri"
Keesokan Harinya
Seorang pemuda berkulit tan sedang membersihkan meja di sebuah toko dekat pinggir jalan. Setelah semua meja sudah bersih lalu dia membalik papan bertuliskan OPEN menjadi CLOSED, yang artinya toko tersebut sudah tutup.
'Akhirnya selesai juga pekerjaanku.' kata Naruto dalam hati.
"Oi, Naruto. Tidak biasanya kau buru - buru seperti ini, seperti mau mengambil gaji saja?" tanya Ryuzetsu, teman kerja Naruto di toko.
"Eh tidak kok Ryuzetsu-chan. Aku ada urusan penting jadi harus cepat pulang, lagipula ini kan baru awal bulan masa sudah meminta gaji lagi pada Iruka-san." jawab Naruto kepada partnernya tersebut
Ryuzetsu memicingkan matanya kepada Naruto pertanda dia tidak percaya perkataanya barusan. "Urusan penting apanya, aku tidak percaya dengan omonganmu pemalas sepertimu kan cuma tidur setelah bekerja."
"Biarkan saja dia Ryu-chan, mungkin Naruto-kun akan berkencan hari ini, hehehe." timpal seseorang dengan codet di hidungnya.
"Pffft.., Boss mana mungkin ada orang yang mau dengan si baka pemalas ini." Ejek Ryuzetsu yang masih tidak percaya.
"Hey, aku memang baka tapi tidak malas. Lagipula aku tidak menerima saran dari perempuan yang kasar dan galak sepertimu. Karena itu kau belum punya pacar kan?" Naruto melawan ejekan Ryuzetsu.
wajah Ryuzetsu memerah karena menahan malu "A-a-apa yang kau bicarakan hah?."
"Mengaku saja kau nenek sihir. Tidak usah bohong kepadaku, heheheh." Kata Naruto sambil cekikian sendiri.
"Sudahlah kalian berdua jangan bertengkar terus, walaupun Naruto itu bodoh dan malas pasti ada wanita yang menyukainya di luar sana. Tapi kenapa mukamu memerah Ryu-chan, apa jangan - jangan kau cemburu ya?" goda Iruka kepada dua anak muda yang sedang adu mulut.
"T-t-ti-tidak, siapa yang cemburu kepadanya Boss? Cih, lebih baik aku pulang duluan. Jaa Boss." Ryuzetsu buru - buru melangkah ke arah pintu keluar untuk mengindar dari godaan Bossnya.
Naruto menghela napas melihat kelakuan satu - satunya partner di toko tersebut. "Ada apa dengan dia?, apa dia salah makan tadi pagi ya?".
"Ahahahaha, masa muda memang menyenangkan." Kata si Boss alias Iruka.
"Nani?, usiamu kan masih 27 tahun. Tetapi bicaramu sudah seperti orang tua saja." Ujar Naruto
"Siapa yang kau panggil orang tua?, kau mau gajimu dikurangi heh? dasar bocah sialan." Iruka menjawab dengan kesal.
"Go-gomen Boss-sama, aku tadi hanya bercanda jangan dimasukkan ke hati, hehehehe." Naruto mulai ketakutan karena ancaman Boss-nya tersebut. 'Lagipula jika gajiku dikurangi pasokan ramen ku otomatis akan berkurang juga.'
"Hmmm, baiklah akan kumaafkan kali ini. Ya sudah kalau begitu cepat pergi sana, aku akan mengunci toko ini."
"Hai, sampai bertemu besok Boss-sama." Naruto melambaikan tangannya sambil menuju ke tempat parkir untuk mengambil sepedanya.
"Kuso, karena terlalu lama ngobrol aku jadi kesiangan. Padahal aku sudah berjanji akan datang jam 2.30."
Naruto melihat sekilas jam yang berada di tangannya menunjukan pukul 2 siang. ' jarak antara toko tempatku bekerja dengan rumah Hinata kira - kira 3 Kilometer. Untuk sampai tepat pada waktunya dibutuhkan kecepatan seperti motor Shinobi RR*. Yosh, itu bukan masalah bagi Uzumaki Naruto sang penguasa jalanan Konoha.' Oceh Naruto dalam hatinya.
25 menit kemudian
Akhirnya setelah terjatuh sebanyak 2 kali, menabrak tong sampah 5 kali , menabrak Kiba yang sedang jalan - jalan dengan Akamaru, lalu menabrak Sasuke yang sedang menanam tomat, ditambah menabrak Orochimaru yang keluar dari rumah sakit, dan menabrak orang aneh lainnya, Naruto sampai di depan Hyuuga Mansion dengan cengiran khasnya.
"Yeah, masih tersisa 5 menit. Aku memang hebat." Gumamnya.
"Hey kau yang berkepala duren, sedang apa kau disini mencurigakan sekali?" seru seorang penjaga Mansion tersebut.
Naruto menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menunjuk dirinya sendiri "Kau bicara denganku paman?"
"Tentu saja, di daerah sini jarang sekali ada orang yang sangat mencolok seperti dirimu. Mungkin kalau kau jadi ninja, kau akan mati duluan karena warna rambutmu itu." Tegas sang penjaga.
"Oi, tuan penjaga gerbang, jika aku jadi ninja aku akan membelah kepalamu dengan jurus - jurusku. Ingat itu baik - baik." Kata Naruto dengan mata berapi - api.
"Kau terlalu banyak mengkhayal bocah. Sudahlah, kalau kau kesini untuk berdebat lebih baik kau pul-"
"Hentikan, Ebisu. Biarkan orang itu masuk" kata seseorang
Orang tersebut memakai T-shirt putih dan hotpants, Rambutnya Indigonya yang biasanya tergerai kini di ikat keatas.
"Hi-Hinata-sama, tapi orang ini mencurigakan" kata Si Penjaga Gerbang yang bernama Ebisu tersebut.
"Dia temanku, cepat buka gerbangnya!" teriak Hinata kepada Ebisu.
"B-ba-baik, Hinata-sama." dengan cepat Ebisu langsung membukakan gerbang untuk Naruto.
Sambil menuntun sepedanya, Naruto masuk ke halaman rumah Hinata. "Ne, Hinata. Dimana aku meletakkan sepedaku ini?."
Hinata lalu menunjuk ke sebelah kanan halaman rumahnya. "Kau bisa meletakannya disana Naruto-kun."
Naruto menoleh ke arah yang ditunjuk Hinata. Dia menganga melihat halaman rumah Hinata yang sudah seperti showroom motor mewah. Disana berjejer kira - kira 7 buah motor sport dan 2 buah motor klasik yang harganya mencapai ratusan juta Ryo.
"Hinata-chan , boleh aku bertanya padamu?" Naruto yang menyadari sesuatu bertanya kepada Hinata.
"Ada apa Naruto-kun?" kata Hinata
"Untuk apa kau membeli kendaraan sebanyak ini jika setiap hari kau pulang denganku?"
"Ini bukan milikku Naruto-kun. Neji-nii sering membawa motornya kesini untuk koleksi saja, lagipula aku lebih memilih sepedamu daripada motor yang terlalu kencang itu." Jawab Hinata jujur.
"Kau ini aneh Hinata-chan."
"Nani? Apa maksudmu Naruto-kun?" Hinata tampak bingung dengan ucapan Naruto.
"Aku bilang kau itu aneh. Tapi aku suka dengan orang aneh sepertimu." Naruto berkata tanpa menyadari ucapannya.
"Kau...Menyukaiku..?" Hinata salah sangka dengan perkataan Naruto.
Naruto yang menyadari itu langsung merona karena malu. "Ano...Eto...maksudku.."
"Aku hanya bercanda Naruto-kun." Kata Hinata "Kenapa mukamu merah Naruto-kun?, apa udaranya panas?, lebih baik kita masuk ke dalam saja."
"O-oke" Naruto berkata sambil menahan blushing. 'Fyuhh, hampir saja dia salah sangka.'
"Sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu Naruto-kun" Hinata tiba- tiba berhenti.
"A-a-apa itu Hinata-chan?" kata Naruto.
"Apa kau tidak panas memakai apron itu Naruto-kun?"
Naruto terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah baju yang dipakainya. 'Kuso, aku lupa melepas ini. Mungkin sekarang dia menggangapku bodoh.'
"Oh iya aku lupa, aku akan mengganti dengan yang lebih layak. Gomen Hinata-chan" jawab Naruto.
"Sudahlah, tidak apa - apa. Kau bisa menggantinya di dalam." Hinata berkata sambil membuka pintu rumahnya.
"Baiklah kalau begitu Hinata-chan" Naruto pun mengikuti Hinata yang masuk kedalam.
Begitu sudah di dalam dia kembali menganga. Kali ini Naruto melihat foto sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami – istri dan 2 orang anak perempuan serta seorang bayi perempuan. Mata Naruto tertuju pada 2 anak perempuan yang mirip tersebut.
'Anak itu, tidak salah lagi. Itu Shion-chan.'
To Be Continued
A/N:
Akhirnya Chapter 4 keluar setelah mengendap di hardisk.
Author minta maaf atas keterlambatannya -emang ada yang nungguin-
sekali lagi makasih buat yang review...dan buat yang gak review gak makasih. -ditonjokin para silent reader-
buat yang nanyain Shion itu siapa, di chapter ini udah dikasih tau.
kalo masih gak tau silahkan baca lagi dengan seksama. heheheh
udah gitu aja ocehan author, sampai ketemu di chapter selanjutnya -gak ada yang nanya-
