.

Rating: Masih M menjurus T sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Genre:Parody, katanya. A bit Drama for this chap?

Warning:5 OC!male!Indonesia. OC!Male!Portugal. AU. Nista. Mood-rollercoaster. Style menulis campursari. Shounen-ai/yaoi/slash implisit, untuk saat ini. Hints-dodecahedron. Pop-culture references. Zoo language. Manusia-manusia ber-anger management issues. Daleman berkibaran. Perlu obat tetes mata, obat penenang, dan insulin cadangan. Ada pengumuman di AN bawah OwOb

.


.

"EKAAAAA! DEMI BRIEF HITAM KELAM YANG GUE KASIH WAKTU KITA PERTAMA KALI KETEMUAN, JAUH-JAUH DARI GUEEEEE!"

"Tidak bisa. Perintah Sanjoyo adalah saya harus mencium anda, tepat di bibir."

"Anjrit, Jon! Ngapain lo ngasih perintah aneh-aneh kayak gitu ke Eka? Tarik sekarang! Kalo nggak, gue nolak buat nyelesaiin tu perisai!"

"Kalau kau tidak menyelesaikan perisai itu, Guntur, mereka bisa melacak kita lagi. Kau mau itu terjadi?"

"KALO MATA GUE KATARAK HABIS NONTON ADEGAN COWOK CIPOKAN GUE MALAH GA BISA NYELESAIIN TU PERISAI, NYET!"

"Ciuman itu apa? Kenapa aku tanya dari tadi tidak ada yang jawab? Joni, ciuman itu apa sih? Kenapa Gar sepertinya ketakutan banget sama ciuman? Lalu cipokan itu apa pula?"

"LO LO PADA MATI AJA SEMUAAAA! DEMI DALEMAN, EKA! SADAR NAK, KAMU ITU DIMANFAATKAN!"

"Saya hanya menjalankan perintah dari Sanjoyo."

"Oh ya, Eka. Satu perintah lagi, dan ini berlaku untuk selamanya. Panggil aku 'Captain'. As in, CAPTAIN LONGJOHN."

.


.

The Undies

Cerita CAPTAIN LONGJOHN

.


.

Sanjoyo L. Setiabudi, 24 tahun. Kelahiran 17 Agustus 1996. Hanyalah seorang pemuda-menjelang-pria, gay terbuka, hobi mengenakan jas lengkap ke mana-mana sampai sering dikira eksekutif muda. Kalau ditanya alasannya, dia akan menjawab bahwa pekerjaan selaku kurator museum nasional, sejarawan, dan pemilik rumah lelang menuntutnya untuk rapi senantiasa—sementara rekan-rekannya ngotot itu tak lebih dari suit-fetish belaka. Selain pengetahuan sejarah, toleransi alkohol, dan kemampuan negosiasi-coret-ngeles di atas rata-rata, tidak ada yang istimewa dalam dirinya. Oh masih ada; beberapa insan (terutama ibu-ibu paruh baya) menganggap senyumnya karismatik dan menyejukkan jiwa. Sementara beberapa (tertanda: mereka yang tengah tinggal serumah dengannya) menuding senyumnya mengerikan dan berpotensi memperpendek usia.

Joni—nickname yang dibuatnya sendiri berhubung dia pikir Sanjoyo itu terlalu formal dan kurang seksi—dalam sekali pandang tampak seperti sejarawan profesional. Dalam dua kali pandang tampak seperti om-om yang dikaruniai dosis libido ketinggian. Dalam tiga kali pandang, barulah tampak sebagai sosok (lumayan) dewasa yang jago mengkombinasikan ancaman, senyuman (mengerikan), dan ramalan.

Ya, Sanjoyo L. Setiabudi bisa melihat masa depan. Tapi, kemampuan ini didapatkannya bukan tanpa bayaran.

Sejarah Super Power-nya berawal sewaktu Joni masih duduk di bangku SMA. Masih polos dan inosen untuk standarnya, masih mimisan kalau menonton bokep yang diimpor dari Jepang sana, masih pingsan kalau menenggak sepuluh botol tequila.

Orangtuanya menjalankan museum dan rumah lelang dan secara finansial tergolong berada—oke, dia merendah; mereka kaya raya. Namun, biarpun sering dikira anak tunggal di keluarga yang bisa dibilang punya kekayaan di tingkat semi-bangsawan ini, sebetulnya Joni tidak seorang diri; dia punya seorang kakak laki-laki. Kakak serba bisa yang tak pernah bisa ia saingi dari segi prestasi, membuatnya senantiasa dihantui perasaan haus kekuasaan dan ingin mendominasi hingga kini. Kakak yang pergi begitu saja saat Joni bahkan belum memasuki sekolah menengah pertama, meninggalkan keluarga. Pergi menghilang entah ke mana.

Fixed. Joni—yang mendadak resmi menjadi satu-satunya anak di keluarga—pun dilatih untuk mewarisi museum dan rumah lelang keluarganya. Dijejali ilmu sosial—sejarah, politik, sedikit manajemen, psikologi (siapa tahu dia butuh buat membujuk rayu klien nanti), dan semua yang dibutuhkan untuk menjadi sejarawan profesional. Mabok belajar, tapi hasilnya sepadan. Apalagi, selaku anak satu-satunya, Joni dihujani kasih sayang oleh orangtuanya. Mereka memberi Joni apapun yang ia inginkan; dari ukiran bebatuan khas karya seni suku Indian Pueblo Acoma sampai fosil yang diambil langsung dari desa di kaki Tambora. Tapi tetap, selaku orangtua yang waras dan bertanggung jawab, mereka menolak untuk mengeluarkan uang untuk sesuatu yang justru diklaim Joni sebagai kebutuhan asasinya. Film dokumenter dengan agenda primer membantu pendidikan menuju kedewasaan, agenda sekunder membantu stimulasi hormon demi kesehatan, dan agenda tersier untuk bersenang-senang. (Gar: "Bilang 'video porno' aja apa susahnya sih, Bang?")

Lalu, demi memuaskan kebutuhan asasi yang tidak didukung orang tua ini (sebetulnya ayahnya mendukung, tapi beliau langsung kicep begitu disenyumin sang istri, jadi ya mau bagaimana lagi), apa yang dilakukan oleh seorang Joni? Tentu saja, cari uang sendiri. Berbekal sebuah vespa, Joni di masa SMA berkeliling kota menjadi pengantar chip film ke mana-mana. Biar tidak seberapa, uangnya lumayan juga. Orangtuanya juga tidak bisa protes karena video por—uhuk, film-film dokumenter itu dibelinya dengan uang sendiri dan berakhir membiarkannya (ibunya sempat menentang dan ibu-anak itu berakhir adu senyuman di ruang keluarga, membuat pembantu rumah mereka trauma).

Namun, aktivitas itu hanya bertahan tak lebih dari setengah tahun lamanya.

Bapak dan Ibu Setiabudi histeris sewaktu mendengar kabar putra mereka masuk rumah sakit, terluka parah tertabrak kereta gara-gara sebuah daleman yang diterbangkan angin langsung menutupi mata, dan divonis braindead-otaknya berhenti berfungsi karena pendarahan hebat. Para dokter mengatakan bahwa sudah tidak mungkin menyembuhkan pasien dengan kondisi separah Joni. Kecuali, kalau mereka mencoba cara yang menggebrak dan menjurus ke malpraktek...

Menanamkan chip film itu ke dalam kepala Joni untuk menstimulasi otaknya yang mati supaya kembali berfungsi.

Ibu Joni pingsan seketika. Ayah Joni minta waktu tiga jam untuk berpikir—dan menenggak habis lima botol vodka—sebelum memberikan persetujuan melakukan operasi itu pada anaknya.

Berhasil. Walaupun seminggu koma dan harus melewati rehabilitasi berbulan-bulan, Joni sembuh total tepat menjelang UAN jadi dia bisa lulus dengan normal dan tenang. Peninggalan dari kecelakaan berikut operasi/malpraktek itu 'hanya' bekas luka di sekujur tubuhnya (dia mengenakan longjohn—satu-satunya daleman yang bisa menutupi seluruh tubuh—setiap hari untuk menutupinya supaya tidak perlu ditanya-tanya), chip yang terselip di suatu tempat di kepalanya, orientasi seksual yang mendadak jadi tertarik ke sesama pria (Gar dan Guntur menolak untuk percaya; mereka keukeuh Joni itu sudah dari orok nista), dan satu bonus ekstra...

"Nak, besok hujan tidak?"

"Bakal mendung dan gerimis sedikit sampai sekitar jam dua siang, tapi habis itu cerah."

"Oke. Kalau begitu, pameran outdoor kita adakan setelah jam tiga."

"Bapak..."

"Apa, Nak?"

"Besok bakal ada cewek kece masuk museum kita sekitar jam makan siang dari gerbang sayap kanan. Kesempatan lho, kesempatan."

Joni jadi punya kemampuan meramal masa depan. Yang langsung dimanfaatkan sebagai badan meteorologi pribadi keluarga (sepertinya inilah akar jiwa opportunisnya). Kemampuan aneh ini muncul setelah operasi, maka asumsi terkuatnya bahwa ini semua gara-gara chip yang ditanam di kepalanya. Awalnya, untuk mengakses kekuatan ini dia harus berada dalam kondisi trans atau tidak sadar, namun lama kelamaan dia bisa juga ngupil sambil meramal. Seiring berjalannya waktu, dia menyadari kekuatannya ternyata tidak cuma terbatas pada masa depan saja.

Psychometry. Kemampuan melihat masa lalu benda; benda hidup maupun benda mati. Dia menyadari kemampuan ini sewaktu memegang pulpen dosen ilmu politiknya, mengetahui bahwa sang dosen ternyata punya obsesi tidak sehat pada lawan jenis yang berusia jauh lebih muda, dan mem-blackmail-nya. Nilai ilmu politiknya sejak itu tidak pernah di bawah A.

Joni menyadari kekuatannya yang satu lagi, yang membuatnya yakin bahwa Super Power-nya ternyata memang berartribut 'manipulasi waktu', ketika dia menginjak tahun pertama di bangku kuliah. Tetapi daripada kepanjangan, cerita ini disimpan untuk kapan-kapan.

Kecelakaan berujung malpraktek berujung Super Power ini hanyalah salah satu dari beberapa kejadian yang mengubah hidup seorang Sanjoyo Setiabudi selamanya. Yang satunya adalah ketika orangtuanya tewas ditikam pencopet selepas menonton produksi ulang Batman—saat itu dia sedang di kampus melembur skripsi di perpustakaan. Alhasil, dia lulus menyandang tidak hanya gelar sarjana muda, tapi juga yatim piatu yang mendadak diwarisi banyak properti dan harta. Yang sejak saat itu harus seorang diri menghadapi kerasnya dunia—berhubung kakaknya yang minggat itu sudah tidak dihitung sebagai keluarga. Sementara peristiwa yang satunya...

Malam itu cerah, berbintang, nyaris tak berawan. Joni menyetir pulang dari pantai pribadi ke penthouse-nya hanya berbalut kemeja. Jas armani-nya disampirkan ke beban ekstra di jok belakang, menutupi tubuh bagian atas seorang pemuda berambut hitam ikal. Joni belum tahu siapa namanya, tapi pemuda bermata abu-abu ini—ya, dia sudah tahu warna iris mata sang pemuda meski sekarang tertutup rapat—akan membawanya pada petualangan menegangkan demi menyelamatkan dunia, lengkap dengan segala kenistaannya.

Joni melirik melalui kaca spion atas, memperhatikan sosok pemuda yang terlelap di kursi belakang. Tepat saat mata dibalik kacamata itu menatap wajah penuh kedamaian di belakangnya, napasnya tercekat dan jantungnya berhenti berdetak untuk sementara. Memusatkan pandangan kembali ke jalan raya—yang seperti biasa sedang macet-macetnya—Joni membuat catatan mental untuk mengunjungi dokter ahli koroner keesokan harinya. Curiga kebiasaannya minum alkohol akhirnya benar-benar berdampak ke jantungnya.

.


.

Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya

.

Sanjoyo L. Setiabudi © ry0kiku

Rangga Wicaksono © are . key . take . tour

Guntur Mahendrata © Jowo . Londo

Garuda Eka Prakoso © vreemdleven

Bhinneka Adhi Jayawardhana © skadihelias

.

THE UNDIES © Spice Islands

.


.

Suara bantingan membuat Kiku Honda dan dua Iberias mendongak, sesaat melupakan aktivitas masing-masing. Tiga pasang mata menatap was-was ke arah pintu masuk utama headquarter mereka—sekaligus satu-satunya jalan masuk dari hangar kapal selam mereka—ketika suara derap kaki terdengar menggema di ruangan baja tersebut. Belum sempat Antonio, Alfonso, atau Kiku beranjak dari tempat duduknya dan mengecek ada apa gerangan, pintu menuju ruang santai Colonialist terbuka lebar. Volume air yang begitu besar langsung menyeruak masuk ke ruangan tersebut dengan target khusus ke dua orang kakak-beradik Iberias.

Kiku Honda yang semula duduk santai di bawah sakura scanner yang ia ciptakan sambil menyeruput teh hijau buru-buru berdiri dan mencabut katana dari selipan obinya, waspada. Apa mereka diserang musuh? Tapi, satu-satunya orang yang ia tahu sanggup mengendalikan air, tahu markas mereka, dan luar biasa marah pada kedua Iberias itu hanya satu orang.

Willem Nikolaas Hendrik VAN DERPSEN.

Benar dugaan Kiku. VAN DERPSEN berjalan masuk ke dalam ruang santai Colonialist dengan mata hijau menatap garang dan air terentang tinggi. Butiran-butiran air masih mengelilingi sang pria berambut pirang jabrik dan terus menghujam Antonio maupun Alfonso dalam jumlah besar, membuat dua bersaudara itu kewalahan.

"VAN DERPSEN, hentikan ini! Antonio dan Alfonso tidak bersalah!" seru Arthur panik. Sang pria Inggris berlari tergopoh-gopoh menyusul langkah kaki lebar VAN DERPSEN. Panik, ia berusaha menarik rekan sesama Colonialist-nya untuk mundur dan membiarkan dua bersaudara itu.

"Tidak bersalah!" Raung kemarahan VAN DERPSEN terdengar menggema, membuat Antonio dan Alfonso berjengit. "Berani-beraninya mereka pulang ke markas dengan tangan hampa! Dan yang lebih menyebalkan lagi, MEREKA MEMBIARKAN TARGET MATI!"

Kembali ratusan kubik air menerjang Antonio dan Alfonso, membuat keduanya terlempar ke dinding baja markas. Bahkan Alfonso yang mempunyai kemampuan teleportasi saja tak sempat mengumpulkan tenaga untuk memakai kekuatannya dan menghindari serangan air VAN DERPSEN yang mengelilingi tubuhnya, menenggelamkannya di tempat. Tentu saja, mengingat luka yang dideritanya yang bahkan membuatnya kesulitan berdiri, hal itu membuat keadaan semakin parah.

"JAUHKAN AIR BODOHMU DARI HERMANO, DERP!"

Sulur-sulur merambat tiba-tiba saja mengitari sekujur tubuhnya, menghambat pergerakannya dalam mengendalikan air yang mengepung Alfonso. Ia berbalik dan melihat Antonio Fernandez Carriedo dengan tanaman merambat yang ia tumbuhkan dari pot-pot di ruangan Kiku berusaha menjeratnya, memaksanya melepas serangannya pada Alfonso.

Di keadaan biasa, VAN DERPSENakan menganggap panasnya Antonio ini sebagai sebuah tantangan. Tapi ia sedang tidak ingin bermain-main sekarang, meskipun korban yang tidak melawan memang sama sekali tidak ada seru-serunya...

"Begitu, kau nekat mau melawanku sendirian, Antonio? Di sini? Di benteng buatan di dalam laut ini? Kalian berdua memang sama bodohnya. Tidak, kurasa kakakmu punya sedikit lebih banyak akal sehat daripada kau..."

Di saat seperti ini, Antonio merasa beruntung telah mengabiskan waktunya untuk menghijaukan seluruh markas mereka -sampai ruang kerja rekan-rekannya-dengan pot-pot pohon tomat. Selain enak dipandang dan dapat diajak mengobrol selagi senggang, bisa menjadi senjata cadangan sewaktu-waktu The Colonialist yang biasanya damai sentosa memutuskan untuk saling bunuh.

"Tidak usah bermulut besar, DERP! Lepaskan Hermano sekarang!" Bentakan seorang Antonio Fernandez Carriedo bukan sesuatu yang bisa kau dengar setiap hari, dan VAN DERPSENmenganggap itu cukup manis juga. Sayang ia bukan orang yang suka dengan sesuatu yang manis-manis, seperti kelinci, misalnya.

"Baiklah." VAN DERPSENmenarik airnya dari Alfonso yang terengah-engah di lantai, memasang kuda-kuda mengancam ke arah Antonio, mengumpulkan air yang digunakannya sebagai senjata di sisi tubuhnya, siap menyerang Antonio. "Akan kutunjukkan siapa yang bermulut besar."

Pertarungan berjalan tidak seimbang. Antonio yang mempunyai Super Power bermedium alam tentu saja tidak bisa mendemonstrasikan seluruh kekuatannya di dalam benteng buatan dalam laut yang hanya menempel ke batuan gersang dasar laut itu. Ditambah staminanya yang belum kembali selepas mengejar-ngejar target mereka, segera saja tubuh Antonio terbanting di lantai baja, dihempaskan air hasil manipulasi VAN DERPSEN yang sekarang mulai mengepung dan menenggelamkannya.

"DERPSEN! Kau mau langsung membunuh mereka begitu saja?" jerit Arthur frustrasi ketika melihat Antonio mulai kewalahan bernapas di bawah desakan air asin. "For Pete's sake, VAN DERPSEN, hentikan sekarang juga! Kau bisa benar-benar membunuh Antonio!"

Si pria dengan syal biru-putih hanya tertawa—tawa mengerikan bagaikan seorang maniak—dan terus menyerang dua bersaudara Iberias itu. Ia betul-betul sudah tak peduli—gelap mata—dengan berbagai alasan dan larangan Arthur untuk membunuh rekannya. Coret. Mantan rekannya. Dua orang tak kompeten ini sudah VAN DERPSEN coret dari keanggotaan Colonialist gara-gara kelalaian mereka. Gagal menangkap target masih bisa dimaafkan, tapi sampai membiarkan target berharga mereka mati itu sudah tak bisa ditolerir lagi.

Dua orang ini harus mati, sekarang juga.

Luncuran tiga buah shuriken dan nyaris menyambar wajah VAN DERPSEN membuat pria Belanda ini menghentikan serangannya. Ia bergerak mundur selangkah untuk menghindari serangan tersebut. Mata hijaunya berkilat dan geraman mengerikan terdengar dari mulutnya saat VAN DERPSEN menoleh ke arah Honda Kiku. Si pemuda Asia sudah siap dalam posisi menyerang. Empat shuriken terselip di sela jarinya, siap untuk dilemparkan lagi.

"Saya tak mau melakukan ini, VAN DERPSEN-san." bisik Kiku. Mata monokrom cokelatnya menatap tajam sosok VAN DERPSEN yang mulai mengumpulkan butir-butir air dan menciptakan bola air yang cukup besar. "Tapi, saya tak bisa membiarkan Anda membunuh dua teman saya seperti itu. Anda tak tahu kalau mereka berdua sudah berjuang sampai terluka untuk mendapatkan target."

VAN DERPSEN mendengus. "Berarti mereka semakin hina saja. Sudah luka parah, tapi gagal mendapatkan target." cibirnya.

"Tak bisakah Anda hargai perjuangan mereka? Antonio-san dan Alfonso-san sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan target—"

"Tapi, nyatanya mereka tidak berhasil mendapatkan ketiga target! Jadi, lebih baik mereka berakhir disini!"

Serangan VAN DERPSEN yang berikutnya kembali dihentikan oleh Honda Kiku. Sang pemuda berambut hitam lurus itu bukan hanya melemparkan shuriken-nya, dia juga berlari—begitu halus sampai tak terdengar suara tapak kakinya—dan nyaris menggorok leher VAN DERPSEN dengan katana.

Kalau bukan karena kecepatan refleksnya, VAN DERPSEN sudah pasti akan tewas dengan lubang menganga di leher yang mengucurkan darah.

VAN DERPSEN menggertakkan giginya, kesal dengan intervensi yang dilakukan oleh Honda Kiku. Dia tak peduli seberapa besar rasa hormatnya pada Honda Kiku, tapi intervensi semacam ini tak bisa ditolerir. Kalau dia melindungi dua saudara payah itu, maka dia juga harus mati.

Honda Kiku merentangkan pijakan kakinya, memperkokoh kuda-kuda bertempurnya. Lengan yukata panjang yang ia kenakan sudah digulung hingga ke pundak dan matanya menyorotkan kesiagaan. Dia siap untuk bertarung melawan VAN DERPSEN demi dua rekannya.

VAN DERPSEN tekekeh pelan sambil menggelengkan kepala. Dia benar-benar tak menyangka kalau Honda Kiku—si anggota Colonialist yang paling pendiam dan pasif—akan turun tangan langsung untuk melindungi temannya. "Kau mau melawanku? Kau serius, Kiku?"

Kiku tak menjawab. Ia hanya diam dan menatap tajam sosok VAN DERPSEN yang berdiri angkuh di depannya.

VAN DERPSEN meregangkan jemari dan pundaknya. Seulas senyum tersungging di bibirnya yang tipis sebelum ia merendahkan tubuhnya. Tangan berlapis sarung tangan cokelat itu terentang siaga, mengumpulkan kembali air yang buyar di bawah kakinya. "Baiklah kalau itu yang kau mau, Kiku. Lawan aku sekarang."

Tak perlu dikomandoi dua kali, Kiku dan VAN DERPSEN langsung berlari, menyambut lawan masing-masing dengan senjata terangkat tinggi. Gulungan air berputar mengerikan bagai pusaran air di tengah samudera, tepat di belakang VAN DERPSEN, siap menelan Kiku kapan saja.

Honda Kiku sudah mengangkat tangannya. Dengan kecepatan ninjanya, shuriken-shuriken ini siap meluncur menebas udara dan segala benda padat yang berada di jalurnya.

VAN DERPSEN merentangkan tangannya. Gulungan air di belakang punggungnya mulai bertransformasi menjadi percikan kecil yang tajam bagai jarum, siap mengoyak tubuh lawannya.

"VAN DERPSEN! HENTIKAN PERTARUNGAN BODOH INI! KALAU TIDAK, KUBUNUH TEMANMU INI!"

VAN DERPSEN dan Honda Kiku menghentikan serangan mereka, tepat sebelum mengenai mata masing-masing. Butiran air langsung jatuh ke lantai baja, menggenangi ruangan yang sudah basah tak karuan. Kiku juga sudah menurunkan katananya dan berbalik menatap seorang pemuda Inggris dengan alis mata kelewat tebal. Mata hijaunya menatap sebal ke arah dua orang yang bersitegang itu. Di tangan sang Brittish gentleman, tergenggam sebilah pisau lipat dan...

Seekor kelinci imut-imut berwarna putih bersih. Kelinci tak berdosa yang mengigiti wortel dengan tampang kiyut minta dicubit dan diremas.

Kelinci kelewat imut yang notabennya adalah peliharaan kesayangan Willem Nikolaas Hendrik VAN DERPSEN.

Okay...

"Aku benar-benar akan membunuh kelinci ini, VAN DERPSEN, kalau kau tidak menghentikan kegilaan ini!" ancam Arthur. Tangan yang memegang pisau lipat terangkat tinggi, siap menusuk sang kelinci yang asyik dengan makan siangnya. "Aku tak peduli seberapa imutnya dia, aku akan benar-benar membunuhnya!"

Mendengar ancamannya Arthur, VAN DERPSEN terdiam. Mata hijaunya membelalak lebar, tak percaya. "...Kau tak akan berani..."

"Coba saja kau lukai Kiku, Antonio, atau Alfonso barang satu goresan saja dan aku akan bunuh kelincimu!" desis Arthur. "Dan kau, Kiku! Berani kau serang lagi VAN DERPSEN, akan kuhancurkan komputer supermu yang sok tahu!"

"Um... Arthur-san, sayang sekali. Komputer saya memang sudah rusak karena meneliti sampel darah."

Hening. Sepertinya otak Arthur Kirkland sedang bekerja cepat untuk mencari bahan ancaman baru untuk si ilmuwan berdarah Asia ini.

"Ka... Kalau begitu, aku akan hancurkan Sakura Scanner yang sudah susah payah kau buat! Ahahaha!" kata Arthur gembira. Akhirnya berhasil menemukan bahan ancaman yang baru. "Akan kucabuti satu demi satu kelopak sakuranya! Hah!"

"Um... Arthur." Alfonso Carriedo yang sedari tadi terdiam akhirnya memutuskan untuk bicara. "Bukannya aku bermaksud menghancurkan kesenanganmu mengancam orang, tapi... Bukankah kalau kau hancurkan Sakura Scanner Kiku, kita tak bisa mencari manusia-manusia dengan Super Power itu lagi?"

That's it.

"Hei, bodoh! Aku sedang berusaha menyelamatkan pantatmu dan adikmu, tahu! Give me a little respect here!" jerit Arthur frustrasi. "Pokoknya aku tidak mau kalian—kamu, kamu, kamu, dan terutama kamu!—bertengkar sampai mau bunuh-bunuhan! Kalau itu terjadi, kelinci VAN DERPSEN akan tinggal sejarah!"

"Kenapa harus kelinciku yang jadi korbannya!" bela VAN DERPSEN, tak rela kalau kelinci imut-imutnya harus menjadi tumbal atas pertikaian ini.

"Karena kau yang memulai pertengkaran terlebih dulu."

"Kenapa tidak salahkan Antonio dan Alfonso? Gara-gara kelalaian mereka, aku jadi marah!"

"Tolong jangan putar balik fakta, VAN DERPSEN..."

"Tapi, mereka—"

"KAU MAU KELINCIMU MATI KONYOL, HAH? KAU MAU KELINCIMU KUJADIKAN SUP KELINCI DAN KUBUAT PIE!"

Omongan barusan sukses membuat VAN DERPSEN terdiam. Mulutnya terkunci rapat, tak berani melawan Arthur. Bagaimanapun juga, si penguasa ilusi itu sedang menyandera kelincinya. Demi ratusan botol gel yang ia gunakan untuk menegakkan rambutnya, si kelinci imut itu harus kontrol ke dokter hewan besok dan jadwal sudah dibuat...

"Guys, aku mengerti kalau kalian semua kecewa dengan target pertama kita yang semuanya tewas, tapi itu bukan berarti misi kita berakhir, kan? Masih banyak target lainnya di luar sana selama kita sabar menanti!" ucap Arthur dengan penuh optimisme. "Jadi, tolong... Jaga temperamen masing-masing. Kita pasti akan mendapatkan semua Super Power di negara ini."

Anggota Colonialist lainnya hanya saling pandang dalam bisu. Mereka tahu kalau mereka harus waspada pada rekan mereka. Tapi, untuk sekarang...

"Hei, Arthur. Bisa kau lepaskan tanganmu dari kelinciku? Dia terkena infeksi telinga dan mau kubawa ke dokter hewan besok."

Setelah yakin betul kedua belah pihak sudah tenang dan Iberia bersaudara positif tidak akan berakhir masuk koran sebagai korban pembunuhan, Arthur berjalan mendekati VAN DERPSEN dan menaruh kelinci sanderanya di tangan sang pengendali air yang terulur. Sang illusionist berani sumpah tadi raut wajah VAN DERPSEN melembut barang sedetik sewaktu menatap mamalia berbulu lembut yang masih menggerogoti wortel dengan cuek-coret-inosen itu. Arthur tidak tahu apakah senyum sedetik itu bisa dikategorikan sebagai gestur menggemaskan atau mengerikan.

"Jadi," gumam Arthur sambil memijit-mijit keningnya. "Lebih baik kita berdua istirahat saja. Kita semua sudah mengalami hari yang cukup panjang, mungkin itu juga yang membuat pikiran kita jadi tak tenang dan mudah emosi."

.


.

"Gue tau lo di situ, Gar. Masuk aja."

Garuda Eka Prakoso melongokkan kepalanya ke garasi, menatap Guntur yang tengah duduk memunggunginya.

"Lo masih idup, Ntur?" sang telekinesis bertanya hati-hati, memasuki garasi sambil membawa nampan berisi makanan dan botol air baru. Wajar dia khawatir; hampir sepanjang hari Guntur mengurung diri di garasi hanya ditemani perkakas, mesin-mesin, dan aroma oli. Mahasiswa mekanik itu bekerja non-stop delapan belas jam untuk membuat alat penghalau gelombang elektromagnetik. Ajakan Gar untuk makan bersama tadi sama sekali tidak digubris. Perlu tiga puluh menit sampai akhirnya Gar menyerah membujuknya untuk makan dan meninggalkannya sendiri di garasi. Guntur bekerja empat belas jam untuk membuat alat yang terbagi menjadi empat bagian tersebut, dan empat jam lain untuk mengubur alatnya di dalam tanah di sudut-sudut tanah Joni. Setelah puas dengan pekerjaannya, hal pertama yang dilakukan Guntur adalah memaksa Gar untuk membuat makanan—nasi putih dan ayam kremes—untuknya.

"Jadi, ada perkembangan apa?" Sang mekanik bertanya di sela-sela kunyahan, mengisi ulang energinya yang habis dipusatkan dalam membuat perisai mereka. Dia baru sadar dia merasa lapar. Sangat lapar. Cukup lapar untuk menyantap Gar. Oke, itu lebay.

"Rangga masih di ruang keluarga, nggak dibolehin Bang Joni ke mana-mana soalnya masih luka. Bang Joni sendiri lagi sama Eka mendesain kostum kita."

Tangan Guntur yang sedang menyuapkan ayam kremes terhenti dalam perjalanan menuju mulutnya. "Kostum apaan?"

"Kalo kata Bang Joni sih, kostum buat kita beraksi nanti. Buat menutupi identitas kita waktu memerangi bule-bule nggak jelas itu."

Guntur berani sumpah dia melihat Gar bergidik. Wajar, itu kostum yang diusulkan oleh seseorang yang hampir membuat Gar kehilangan ciuman pertamanya. Di bibir—atau speaker?—seorang android pula. Beruntung tadi Gar bertindak cepat, meng-counter Eka dengan perintah baru ("Berhenti, Eka! Ini perintah Joni!") sehingga adegan yang berpotensi membuat Guntur mengabsen kebun binatang bisa dielakkan. Tapi tetap saja, kejadian itu membuktikan lebih jauh lagi indeks kemesuman dan orientasi seksual tuan rumah mereka, dan hanya daleman yang berkibar ditiup angin padang yang tahu kira-kira kostum macam apa yang bakal didesain sejarawan mesum seperti itu untuk mereka semua...

"Ah? Garuda sudah di sini duluan rupanya?"

Speak of the devil, and he shall appear.

Joni memasuki garasi dengan langkah tenang, Eka mengikuti di belakang. Mata cokelat di balik kacamatanya menatap Guntur dan Gar yang duduk lesehan bersebelahan di tengah tumpukan mesin dan perkakas, yang satu tengah melahap ayam kremesan dengan tangan sementara yang satu memegangi botol air yang tinggal setengah isinya, seperti istri yang setia. Seulas senyum jahil menari di bibir sang sejarawan.

"Kalian mesra, ya?"

Sebelum Guntur sempat melemparnya dengan dongkrak, Joni keburu melambaikan tangannya dan tertawa kecil. "Bercanda, bercanda. Ngomong-ngomong, apa kabar perisainya, Guntur? Apakah sudah bisa digunakan? Bisakah kau jelaskan ke kami cara kerjanya?"

Guntur memang agak tidak terima tadi sempat secara tidak langsung diimplikasikan punya hubungan khusus dengan Gar, namun perasaan itu langsung menghilang begitu mendengar pertanyaan Joni. Ada yang mau mendengar kuliah mesin rupanya. Challenge accepted.

"Oke. Jadi, dari material-material yang gue temuin, gue bisa bikin dan masang alat... Oke, kita sebut aja alat ini dengan nama Perisai. Perisai ini gue pasang di sudut-sudut rumah ini. Jadi, sekarang kita ada di zona yang nggak bisa dilacak baik oleh satelit atau apa pun yang tujuannya mengirim gelombang elektromagnetik." Guntur menjelaskan apa yang dikerjakannya seharian ini pada para anggota The Undies yang lain.

"Saya tidak bisa menemukan sinyal wi-fi." ujar Eka pelan.

"Nah itu dia, tujuan gue bikin Perisai ini kan buat menghalau scanner-nya para bule pemburu Super Power itu... Tapi, karena gue bikinnya buru-buru, gue belum bisa ngatur seberapa kuat perisai ini." Guntur mengalihkan pandangannya ke Eka, "Untuk sementara, kita belum bisa pake wi-fi, TV satelit, handphone, atau apapun yang berfungsi dengan manfaatin hubungan nirkabel ke luar perisai."

"Sampai kapan?" tanya Eka, sadar bahwa hal ini akan membuatnya tidak berfungsi optimal.

"Sayangnya, gue belum nemu material yang gue butuhin buat meminimalisir kekuatan perisai ini. Jadi, gue perlu nyari bahannya dulu. Kira-kira paling lama dua-tiga harian lah, gue janji."

"Buset, tiga hari? Gue nggak bisa internetan atau nelpon emak gue, gitu, selama tiga hari?" jerit Gar, panik. Sebagai anak tunggal, dia selalu menganggap mengabari kampung halaman mengenai segala yang dialaminya sebanyak tiga kali sehari itu wajib. Meski dia agak ragu apakah kisah menegangkan diburu para pria asing pantas untuk diceritakan. Ibunya yang kelewat khawatir bisa-bisa langsung menurunkan titah untuk memaksanya pulang. Dan kalau selama tiga hari dia tidak segera mengabari tempat kerjanya bahwa ia sudah mengundurkan diri, bisa-bisa dia di-PHK tanpa pesangon, gajinya yang ditunggak bosnya selama tiga bulan bisa jadi almarhum, pergi entah kemana, menghilang ditelan ombak pantai Bang Joni. Oke, lebay.

"Berarti, aku juga tidak bisa menerima telepon dari museum dan dari klien-klienku..." Joni bergumam, alis berkerut tanda tenggelam dalam pemikiran. Terbayang sudah betapa menumpuknya nanti jadwal pertemuan dan artefak menanti untuk diterjemahkan...

"Eh, tiga hari itu udah keitung cepet, tau! Lagian itu 'paling lama' kan gue bilang. Ya bisa aja lo nelpon, tapi lo keluar dulu ke pantai sono," jawab Guntur santai sambil menunjuk ke arah pantai yang terlihat dari jendela besar rumah Joni. "Udah, ah. Sekarang biarin gue sendirian di garasi. Gue juga pengennya kerjaan ini cepet beres. Makanya ini gue mesti cepet-cepet lanjutin kerjaannya. Jangan ganggu-ganggu gue kalo gak penting-penting banget!"

"Kalo misalnya rumah kebakaran?"

"Selama garasi gak kebakaran, gue sebodo amat."

"Kalo misalnya rumah kena tsunami gimana?"

"Selama garasi gak kena, gue sebodo amat."

"Kalo kemalingan?"

"...Gar, lo pernah kelolotan tang, gak? Kalo belom, ini gue punya banyak tang. Lo tinggal pilih mau gue jejelin berapa banyak ke mulut lo? Bacot..."

Catatan penting untuk Gar yang seharusnya ia ingat sejak dulu: Jangan usik Guntur yang sudah bertekad kuat untuk mengerjakan tugasnya. Apapun alasannya, jangan ganggu Guntur kalau tak mau perkakas mobil dengan kecepatan ratusan kilometer per detik bak mobil F1 melayang tepat menuju wajahmu.

"Baiklah kalau begitu, aku dan Eka akan melanjutkan pembuatan kostum kita. Gar, bisa kau tolong temani Rangga? Sepertinya dia insomnia dan memutuskan untuk marathon film-film Nich*las S*putra lagi... Gun, kau yakin tidak mau istirahat sebentar saja?" tanya Joni, agak khawatir juga pada pemuda yang bekerja mengutak-atik kabel-kabel dan besi non-stop di garasinya seakan kesetanan ini.

"Heh, gue udah biasa kali nggak tidur sampe tiga hari kayak gini. Eh, ngomong-ngomong kostum kayak apaan tuh yang lo bikin? Nggak ada kancut di luar kan?"

Joni kembali memasang senyum misteriusnya. "Kau akan lihat sendiri nanti. Baiklah, kami ke atas dulu."

Guntur mengerenyit curiga, namun segera kembali ke pekerjaannya, berusaha menyelesaikannya lebih cepat. Setidaknya S*perman juga memakai kancutnya di luar, sambil dalam hati bersyukur bukan dia yang terdampar di pulau terpencil dan membuatnya harus terbang dengan garter yang berkibar.

.


.

Joni memapah Rangga memasuki kamarnya. Sudah lebih dari dua puluh empat jam pemuda bermata abu-abu itu belum istirahat. Bahkan ketika kakinya diobati, dia juga menolak disuntik bius, membuat Joni kelewat khawatir Rangga akan tambah sakit kalau tak istirahat. Maka, setelah memberi instruksi macam-macam dan yakin penuh Eka bisa menyelesaikan sisa proyek kostum mereka tanpa dirinya, Joni pun berlalu untuk membujuk pemuda insomnia itu supaya mau dibawa ke kamar untuk istirahat. Kamar Joni, lebih tepatnya.

Sebetulnya bukan hanya Rangga yang belum istirahat. Joni, Gar, Guntur, dan juga Eka belum memejamkan mata barang sedetik pun. Sepertinya kelima pemuda ini terlalu bersemangat sampai tak bisa tidur. Siapapun juga pasti akan kepikiran, panik, dan sulit tidur setelah dikejar-kejar dua bule sinting yang berkoar-koar mau mengambil Super Power mereka. Apalagi setelah ditelisik lebih jauh, dua bule itu masih punya tiga sekawan lainnya dengan tujuan yang sama busuknya, lengkap dengan alat pelacak kelewat canggih.

Derita...

"Biar kuperiksa dulu kakimu," bisik Joni pelan. Ia membiarkan Rangga menyamankan dirinya di atas kasur empuk dengan bantal-bantal menumpuk. Sang pemuda berkacamata itu lalu menggulung celana panjang Rangga, berniat untuk memeriksa luka tusuk pemuda itu. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Joni membuka balutan perban yang melingkari betis kiri sang pemuda berambut ikal.

Betapa terkejutnya Joni saat mendapati luka di balik perban itu sembuh total, menyisakan gurat luka tipis yang sepertinya dalam tahap penyembuhan.

"Kakimu sepertinya sudah tidak apa-apa, Rangga," kata Joni sambil menepuk-nepuk betis Rangga dan tersenyum. "Sampai sekarang aku masih kagum dengan kemampuanmu. Kau yakin kalau kau tidak punya Super Power seperti kita? Super Power yang bisa menyembuhkan luka dengan sangat cepat?"

Raut wajah Rangga berubah sendu saat mendengar omongan Joni dan menunduk lesu, memperhatikan tangannya yang tergeletak di atas pangkuannya. Joni yang menyadari kebisuan dan raut kesedihan di wajah Rangga berdiri kaku, panik. Dia sepertinya sudah salah bicara. Salah bicara yang kelewat fatal... "Um, Rangga, aku tidak bermaksud untuk—"

"Kenapa wajahmu begitu, Joni?" ucap Rangga sambil tertawa. "Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Toh, aku sudah mulai terbiasa dengan amnesia ini. Walau kadang aku benci dengan hilang ingatan. Hilang ingatan membuatku seperti bodoh saja, tak tahu apa-apa, bahkan namaku. Kalau bukan karena kau yang menolongku, merawatku, dan mencarikanku nama, mungkin aku sudah mati..."

Joni hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut ikal hitam milik Rangga. "Aku yakin suatu hari nanti pasti ingatanmu akan kembali. Sampai saat itu tiba, aku tak keberatan, kok, direpotkan oleh orang semanis dirimu, Rangga," ucap Joni, mengakhiri omongannya dengan kedipan mata dan tawa.

Rangga mendengus pelan dan tersenyum. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum menarik selimut dan berbaring, bersiap untuk tidur. Pemuda berambut ikal ini masih memperhatikan Joni yang sekarang sibuk berganti pakaian. Sepertinya hendak mengikuti Rangga dan mengistirahatkan diri. Wajar, sudah lebih dari sehari ia tak tidur barang sedetik pun.

"Ceritakan lagi bagaimana kau bisa menemukanku, Joni," pinta Rangga dengan suara pelan, nyaris tak terdengar oleh telinga yang dituju.

"Bukankah sudah kuceritakan dulu, saat kau sadar setelah pingsan dua hari?" kata Joni sambil lalu. Pemuda berkacamata ini sekarang menghilang di balik pintu walking closet, mengganti pakaiannya yang entah sudah dari kapan melekat di tubuhnya. Terlalu banyak yang terjadi dalam satu hari sampai ia tak sempat mengganti pakaian yang sudah basah keringat dan kotor.

"Siapa tahu aku bisa tahu masa laluku kalau kau ceritakan lagi sekarang. Lagian kamu cerita saat aku masih setengah sadar begitu dan masih kebingungan."

"Ahaha. Maaf, deh. Justru kupikir dengan menceritakan lebih cepat, kau bisa ingat."

Sang pemuda bermata abu-abu menenggelamkan kepalanya ke bantal empuk, mengangkat selimut tebal sampai menutupi dagunya dan tersenyum. Kepalanya sedikit terangkat saat ia mendengar suara derit pintu dan langkah kaki di atas lantai berkarpet. "Kau betul-betul tidak menemukan barang pribadi—identitas—apapun, di dalam mobilku yang rusak?"

Joni menghela napas sebelum duduk di tempat tidur, tepat di samping Rangga. Jemarinya bergerak menelusuri helai demi helai ikal milik sang pemuda amnesia dan berbisik, "Sayangnya tidak. Mobilmu langsung meledak dan terbakar, tepat saat aku berhasil menyeretmu keluar dari mobil. Lagipula, kalau aku menemukan sedikit saja petunjuk mengenai identitasmu, aku pasti akan memberitahumu."

"Tak bisakah kau pakai Super Power-mu dan lihat masa laluku?"

Ah, lagi-lagi permintaan ini. Sudah berkali-kali sejak Rangga mengetahui kekuatannya, si pemuda berambut ikal itu selalu meminta—memaksa—Joni untuk melihat masa lalunya. Sayangnya, Joni belum siap untuk mengungkap masa lalu Rangga. Bahkan kalau bisa, dia tidak mau mengungkap masa lalu Rangga sampai kapanpun juga...

"Super Power-ku tidak sehebat itu, Rangga. Psikometri itu hanya berlaku saat aku menyentuh benda lain selain makhluk hidup..."

"Begitu..."

"Maaf, kalau malah membuatmu semakin kecewa..." kata Joni, buru-buru menambahkan saat melihat raut kesedihan di wajah Rangga.

"Bukan salahmu." kata Rangga sambil tertawa—dipaksakan, tentu. "Aku seharusnya berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku tepat waktu. Kalau bukan karena kau, aku mungkin sudah tak ada di sini."

"Ya... Tapi, gara-gara aku juga kau jadi harus ikut dikejar orang-orang asing itu..." gumam Joni. "Apalagi sampai terluka seperti ini..."

"Dan apakah aku pernah sekali saja protes atau mengeluh?" Joni menggeleng pelan, membuat senyum Rangga semakin melebar. "Makanya, kau tidak usah terlalu ambil pusing masalah ini. Aku mau membantu kalian semua, kok."

Joni tersenyum mendengar ucapan Rangga. Lalu tiba-tiba, sebuah gagasan terbersit di benaknya.

"Kalau begitu," Joni meraih tangan kanan Rangga dan menggenggamnya erat, enggan untuk melepaskannya. "Saat The Undies menjalankan misinya, kau akan berada bersamaku di garis belakang—"

"Kau membiarkan Guntur, Gar, dan Eka bertempur di depan? Kau membiarkan mereka berperang habis-habisan sementara kau santai di garis belakang?" tanya Rangga dengan sorot mata tak percaya. Ternyata orang yang selama ini dia sangka baik, berbudi pekerti, rajin menabung, dan tidak sombong adalah seorang scumbag sejati yang rela mengorbankan orang lain demi keuntungan sendiri.

"Bu... bukan begitu!" sanggah Joni cepat, khawatir Rangga salah menangkap maksud yang sesungguhnya. "Kita berdua di garis belakang untuk membantu teman-teman kita yang lainnya. Dengan kemampuan membaca masa depanku, aku bisa memberikan perintah pada yang lainnya mengenai serangan yang akan datang berikutnya. Gar dengan Super Power telepatinya bisa menjadi sarana komunikasi kita-kasarannya, antena pemancar, lah. Berhubung kemampuan beladiriku nol—jangan tertawa, karena aku sendiri juga malu untuk mengakuinya—aku membutuhkanmu untuk melindungiku, seandainya ada musuh yang mencapai garis belakang dan menghabisiku selagi aku sibuk memprediksi gerakan lawan dan menyampaikannya ke Gar. Kau tidak mau aku mati, kan?"

Rangga menggeleng pelan. Keningnya masih berkerenyit, agak bingung dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Joni. "...Jadi, kau memintaku untuk menjadi pengawal pribadimu?"

"Umm... mungkin akan lebih pas kalau disebut rekan yang selalu ada di sampingku yang selalu ada saat aku butuh bantuannya, yang bisa diandalkan dan mempunyai kemampuan menyerang jarak jauh yang tak perlu disangkal lagi." kata Joni, mengoreksi omongan Rangga sambil tertawa garing. "Sederhananya, tim kita bagi menjadi dua. Tim strategi dan support di baris belakang-aku dan kamu, Rangga-dan tim ofensif-Guntur, Garuda, dan Eka-di depan. Kurasa tidak perlu mengkhawatirkan mereka; selain Super Power mereka yang lebih ofensif dari yang kupunya, aku sangat yakin kalau Guntur lebih dari mampu untuk melindungi Garuda dan Eka." Joni mengakhiri penjelasannya dengan senyuman penuh pengertian.

"Bicara tentang Guntur," Rangga melepaskan tangannya dari cengkeraman Joni. Dia lalu menegakkan tubuhnya. "Tadi, waktu Guntur datang dengan niat untuk mencegahmu memukul Eka, dia sempat mengucapkan sesuatu mengenaiku. Dia bilang, dia mau... umm... cium? Apa itu?"

Perlu waktu beberapa detik bagi Joni untuk mencerna apa pertanyaan Rangga. Di saat ia menyadari inti pertanyaan Rangga, ia hanya bisa mengedip, mengedip, dan terus mengedip, bingung mau bicara apa.

Demi daleman yang berkibar, Rangga bertanya tentang apa itu... ciuman?

"Um... Kalau masalah itu, aku..." gumam Joni, salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya dan melirik ke kiri dan kanan—kemana saja, asal tidak beradu pandang dengan sorot abu-abu penuh rasa penasaran itu.

Jangan lihat mata itu, Sanjoyo Setiabudi, batin Joni. Sekali kau melayangkan pandang pada sepasang kelereng abu-abu itu kau tak akan bisa keluar, selamanya tersesat di dalam—

Crap. Entah kesambet apa, Joni terlanjur menunduk dan beradu pandang dengan Rangga. Demi seluruh daleman Garuda Eka Prakoso yang berkibar ditiup angin, Joni tak bisa menolak tatapan penuh pertanyaan, innocent-as-hell, dan kelewat menggoda itu.

"Jadi, begini..." Sambil menghela napas tanda menyerah, Joni menggeser tubuhnya mendekati Rangga. Ia lalu mengambil tangan kanan Rangga dan mendekatkannya ke bibir. "Ciuman itu sebenarnya menyentuh anggota tubuh seseorang dengan bibirmu. Seperti ini." Joni lalu mengecup punggung tangan Rangga dan tersenyum. "Arti ciuman bisa bermacam-macam, tergantung dimana orang itu menciummu. Bila ia menciummu di tangan—seperti yang kulakukan tadi—itu berarti dia menghormatimu. Bila ia menciummu di kening," Joni mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening Rangga. "Juga pipimu," Lalu kedua pipi Rangga. "Itu berarti dia menyayangimu. Dan bila ia menciummu di bibir, itu berarti dia mencintaimu."

Melihat Rangga yang terdiam membuat Joni panik. Jangan-jangan, penjelasannya kurang dan Rangga meminta lebih. Kalau iya, pemuda berkacamata ini tak yakin bisa menahan dirinya lebih jauh lagi. Kalau Rangga terus menanyainya dengan pertanyaan menjurus seperti ini, dia bisa—

"Kau mau menciumku di tangan, pipi, dan kening. Tapi, kenapa kau tidak mau menciumku di bibir? Apa kau tidak mencintaiku?"

That's it. Joni akan menyalahkan Rangga dan tatapan ala Puss In Boots-nya kalau bocah manis kelewat menggoda ini mengeluh bokongnya sakit keesokan paginya.

"Ah, aku ini bicara apa, sih... Cinta itu seperti apa saja aku tidak—"

Rangga merasakan jemari lembut menyelinap di bawah dagunya, membuat kepalanya mendongak. Mata abu-abunya bertemu pandang dengan mata cokelat gelap milik Joni dan... apakah ini hanya perasaannya atau memang jarak wajah mereka berdua terlalu dekat?

"Joni, sepertinya kau harus mundur." gumam Rangga. "Kalau terlalu dekat begini, bisa-bisa kita saling terantuk..."

"Bukankah ini permintaanmu, Rangga?" bisik Joni. Desah napas yang menerpa pipi Rangga membuat pemuda bermata abu-abu itu bergidik dan mendesah pelan. "Ciuman di bibir, seperti yang kau minta. Dan kalau kau mau, aku bisa tunjukan lebih dari sekedar kecupan singkat di bibir."

Rangga tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya terlanjur lemas. Matanya terpaku pada lautan cokelat milik Joni—terhipnotis. Hembusan napas yang menerpa kulitnya membuat kedua pipinya memerah dan bergidik. Tak terasa, kedua tangannya merambat naik dan mencengkeram piyama Joni, meremas pakaian berbahan sutera itu.

Jarak keduanya sebatas benang. Begitu dekat, tapi tak terasa sentuhannya. Terlalu dekat, sampai-sampai mereka bisa merasakan detak jantung masing-masing. Sedikit lagi...

"Oi, Jon! Itu perisainya udah—ANJRIT, KAMPRET, ASU, MONYET, BABI!"

Dan suasana romantis itu hancur seketika saat Guntur Mahendrata dan Garuda Eka Prakoso memasuki kamar Joni tanpa mengetuk, permisi, dan berbagai pemberitahuan lainnya.

Joni memutar kedua bola matanya, sebal. Sejujurnya, ia tidak tahu harus sebal atau gembira atas interupsi ini. Dia memang kesal atas interupsi kurang ajar dua bocah yang menumpang di rumahnya, tapi kalau bukan karena mereka berdua, Joni pasti sudah melakukan... Ah, lebih baik dilupakan saja.

"Kalian butuh apa?" tanya Joni seraya berjalan mendekati Guntur dan Gar yang masih terpaku di ambang pintu—yang satu marah-marah dan yang satunya bertampang seperti maling jemuran yang kepergok warga.

Menghiraukan pertanyaan Joni, Guntur malah berbalik menghadap Gar dan berseru panik, "Gue bilang juga apaaaa! Dua orang ini pasti ada apa-apanya! Udah, ah! Mendadak gue jadi males ngomong sama Joni! Lo gantiin gue, Gar! Gue mau ke kamar, mau nontonin video... koleksi gue, ngilangin yang barusan gue liat! Anjrit!"

"Ya kan gue bilang jangan masuk... Eh, Ntur!"

Dua pasang mata cokelat mengikuti sosok Guntur—masih bersungut-sungut—yang berjalan menjauh dan menghilang saat di belokan. Keduanya baru saling pandang ketika yakin Guntur sudah tak ada, entah serius mau menonton video bokep koleksinya atau kembali ke garasi untuk memperbaiki perisai.

"Ntur aneh... Orang udah gue bilangin, masih aja ngotot... Nggak, Bang. Tadi si Ntur cuma mau ngabarin kalo perisainya udah beres. Kita udah bisa pake internet, telepon, sama sms di dalem rumah," gumam Gar.

Joni mengangguk-angguk. Dalam hati, ia memuji kemampuan Guntur untuk membuat perisai sesulit itu dalam waktu yang begitu singkat. Sekarang, ganti ke Gar yang entah kenapa masih berdiri di sampingnya. Kalau dia hanya mau menemani Guntur bicara kepadanya perihal perisai, harusnya dia bisa langsung pamit. "Ada lagi yang mau kau bicarakan, Garuda?"

"Bang, berapa kali aku bilang: jangan panggil Garuda! Panggil aja Gar apa susahnya, sih? Perlu aku tulis di jidat, 'DILARANG PANGGIL GARUDA?'" sembur Gar, kelewat emosi. "Nggak, kok... Cuma mau protes aja soal kostum. Itu seriusan kostumnya harus begitu? Gak bisa diganti lagi? Masih sempet diganti—sekalian sama nama grupnya—sebelom Eka motong polanya, Bang. Serius..."

"Sudah kubilang kalau nama tim sudah fix The Undies. Kau Garterboy, Guntur si Kancutboy, Eka jadi Briefboy, Rangga itu Thongboy, dan aku pemimpin kalian, CAPTAIN LONGJOHN," kata Joni, tampak santai namun sorot mata berikut isi kepalanya yang sudah memikirkan beratus alasan membuat Gar urung untuk mendebatnya lebih jauh lagi. Kalah telak.

Gar lalu sempat mengintip ke dalam kamar dan melihat sosok Rangga yang sudah bergulung di bawah selimut. Sepertinya tertidur. Ia lalu melirik Joni yang rupanya tadi sempat mengikuti arah pandangan Gar. Keduanya saling tatap selama beberapa detik dan Joni—seolah-olah sanggup membaca pikiran Gar—meraih pintu dan menutupnya dengan sigap. Menyembunyikan Rangga dari pandangan Gar.

"Aku tahu apa yang mau kau katakan, Garuda Eka Prakoso," desis Joni sambil tersenyum. Bukan senyum ramah seperti yang ia berikan pada Rangga. Ini senyuman yang kelewat mengerikan sampai membuat bayi berhenti menangis dan anjing lari ketakutan.

Berusaha untuk melawan senyuman dingin itu—juga tubuh tinggi Joni yang mulai bergerak maju, memepetnya ke dinding—Gar berkata, "Lho? Bukannya itu bener? Lagian kalo Bang Joni beneran peduli sama Rangga, harusnya Bang Joni kasih tau dia dari sekarang kalau dia itu—"

Omongan Gar terputus di tengah jalan saat ia merasakan sesuatu meraba naik, menelusuri tiap lekuk pantatnya yang kurang bisa dibanggakan sebagai aset seorang lelaki sejati. Butuh waktu beberapa detik bagi Gar untuk menyadari kalau yang sekarang sedang meraba pantat yang bentuk dan teksturnya menyaingi Sari Roti itu adalah sepasang tangan milik orang paling mesum yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.

"BANG JONI APA-APAAN, SIH? NGAPAIN RABA-RABA PANTATKU!"

Joni tertawa renyah ketika melihat muka Gar merah padam. Pemuda berambut berantakan itu otomatis memepetkan dirinya ke tembok, antisipasi kalau-kalau Joni memutuskan untuk meraba lagi bagian belakang tubuhnya yang bikin iri kaum hawa.

"Hukuman karena kau sudah mengungkit-ungkit masa lalu Rangga." kata Joni santai. Sang pemuda berkacamata itu lalu berbalik dan melangkah santai menuju kamarnya. "Aku sudah bilang padamu untuk tidak pernah lagi menyinggung masalah masa lalu Rangga. Sekali lagi kau bicara mengenai itu, pantatmu itu bukan cuma sekedar kuraba, Garuda Eka Prakoso."

Gar bergidik ngeri membayangkan jenis hukuman aneh yang akan diberikan Joni seandainya dia melanggar janji. Tidak, terima kasih. Gar masih memilih untuk membiarkan pantatnya bersih dari sentuhan Joni atau pria mesum manapun. "Bang, bukannya mau ngungkit atau apa. Tapi, ntar kalau dia tau sendiri bukannya malah lebih sakit? Bukan dianya yang sakit, lho, Bang. Abang sendiri."

Ucapan Gar sukses membuat Joni mematung, terdiam beberapa saat. Gar hanya bisa melihat punggung tinggi tegap sang sejarawan. Sedikit ketakutan, Gar berjalan maju dan menepuk pundak Joni. "Bang...?"

Yang pertama keluar dari mulut Joni adalah kekehan pelan yang terdengar agak dipaksakan. "Kau ini ngomong apa, sih? Yang bisa lihat masa depan itu aku, Gar. Bukan kamu. Dan sejauh yang aku lihat, hubungan kami akan baik-baik saja meski ia ingat masa lalunya."

Gar hanya terdiam dan memperhatikan Joni. Mulutnya lalu berbisik pelan, "Bang Joni bohong. Bang Joni belom pernah sekali pun dapet penglihatan tentang masa depan Rangga. Yang barusan ngarang bebas, kan?"

Sang pemuda berkacamata tampak memutar bola matanya, jengah. "Terus kenapa? Sudahlah, Gar. Kau ini khawatir berlebihan. Rangga pasti akan baik-baik saja, begitu pula denganku. Saat ingatannya kembali, Rangga sendiri yang memutuskan dia mau kembali ke kehidupan masa lalunya atau tetap bersama kita."

"Kalau dia memilih masa lalunya gimana? Bang Joni mau terima?"

"Kalau memang itu keinginannya, ya mau bagaimana lagi."

"Bang Joni bo—"

"Garuda," potong Joni. Pemuda itu melepaskan kacamata dan memijit-mijit keningnya, tanda kelelahan. "Bisa kita sudahi saja percakapan ini? Aku benar-benar kelelahan. Sudah lebih dari sehari aku belum tidur dan aku benar-benar butuh tidur. Besok, aku harus kembali bekerja di museum."

Gar memperhatikan sosok Joni yang masuk ke dalam kamar, tak bicara apa-apa. Kening sang pemuda berambut berantakan ini mengerenyit, sedikit menyesali kenyataan bahwa dirinya tak bisa membujuk Joni untuk mengutarakan kebenaran pada Rangga. Sesuatu membuatnya yakin kalau suatu saat, mereka akan menuai akibatnya di masa depan.

.


.

Hari panjang dan melelahkan yang dilewati oleh kelima pemuda Indonesia ini akhirnya berlalu sudah. Setelah dikejar-kejar dua orang bule sinting yang mengincar Super Power mereka, nyaris mati tertimpa runtuhan gedung dua puluh lantai, dan serkarang terjebak bersama di rumah tepi pantai seorang sejarawan kelewat mesum. Beruntung rumah ini terletak tepi pantai. pemandangan matahari terbit, laut, serta pasir cokelat sukses membuat kelimanya melupakan beban berat dan bersantai sambil menyantap makan siang—sarapan terlewat dengan suksesnya.

Suasana santai masih berlanjut hingga sore harinya. Guntur yang sudah menyelesaikan perisainya sekarang sibuk membongkar semua koleksi film Joni, bertekad kuat untuk menemukan rekaman video porno straight. Gar yang semula menentang sikap Guntur sekarang malah berlutut di samping Guntur dan ikut membongkar lemari-lemari tinggi yang mengitari ruang televisi. Untuk Rangga... pemuda berambut ikal ini hanya membolak-balik majalah sambil meminum gin dari gelas beer, tak terlalu peduli dengan aksi bongkar-bongkar dua teman barunya.

Perhatian ketiga orang itu teralihkan oleh datangnya seorang pemuda berkacamata dan seorang pemuda bermata monokrom. Keduanya menenteng beberapa potong pakaian dan lima pasang sepatu.

"Eka sudah menyelesaikan kostum kita. Sebaiknya kalian mencobanya," jelas Joni singkat lengkap dengan senyuman, sementara Eka membagi-bagikan satu set pakaian dan sepatu kepada rekan-rekannya yang lain.

"Kostum...?" ulang Gar, ragu. Mata cokelatnya menatap ngeri ke arah tumpukan pakaian yang sepertinya berwarna paling mencolok dibandingkan dengan yang lainnya. Demi daleman yang berkibar, yang lain dapat warna hitam atau warna gelap lainnya, tapi punyanya... merah. "Aku tanya sekali lagi nih. Jadi kita bener-bener ngelawan kejahatan pake codename daleman itu, serius, Bang?"

"Kau pikir aku bercanda?"

Wajah Gar memucat. Sang mind reader menyadari bahwa ada hal yang tidak beres dari apa yang didengarnya dari pikiran sang sejarawan muda.

"Coba kalian pakai saja dulu, jangan buru-buru protes. Tenang saja, bahannya bukan dari bahan murahan seperti lycra ataupun latex." kata Joni sambil tersenyum. Sang sejarawan berkacamata juga mengambil satu set pakaian dan sepatu, sepertinya bersiap untuk ganti pakaian.

"…Awas aja kalo norak, bajunya." ancam Guntur ketika sang mekanik berjalan melewati Joni.

Rangga cuma menurut pada Joni dan berjalan santai menuju kamar. Guntur sempat mengerenyitkan dahinya ketika ia melihat Rangga menyampirkan sebuah thong berwarna biru dongker pada bahunya dan melangkahkan kakinya menuju kamar Joni.

Lain halnya dengan Gar. Pemuda berkemampuan telekinesis menerima kostumnya dengan wajah tidak yakin.

"Bang... Abang serius ngasih aku kostum yang kayak gini?" tanya Gar. Nada suaranya penuh harap.

"Udah, kamu coba aja dulu." bujuk sang pemuda berkacamata.

Tahu kalau ia tak bisa mengelak apalagi melawan omongan Joni, Gar mengambil kostumnya yang berwarna merah dan meninggalkan mereka menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Semoga pakaian ini tampak jauh lebih baik ketika melekat di badannya, ketimbang terlipat rapi seperti ini. Semoga ia tidak akan terlihat seperti Sang Saka Merah Putih yang siap dikerek di tiang depan rumah. Semoga...

Eka adalah yang pertama kembali ke ruang tengah. Ia mengenakan top berkerah tinggi tanpa lengan yang berwarna hitam dengan sedikit warna putih dan kelabu. Ia juga mengenakan briefs berwarna hitam, tidak diketahui apakah dia masih mengenakan dalaman tambahan lagi dibalik briefs-nya atau tidak. Ia lalu melangkahkan kakinya yang memakai high top sneakers berwarna merah dan duduk di sofa.

Baru sedetik ia duduk, Guntur memasuki ruang tengah dengan berjalan agak tergopoh-gopoh, belum terbiasa berjalan memakai boots selututnya yang berwarna hitam. Tubuhnya terbalut superhero suit-nya yang berupa jumpsuit tebal (dan ketat) berkerah tinggi berwarna hitam dengan aksen merah marun yang menutupi hampir seluruh badannya—minus kepala.

"Buset, nggak risih lu paha keekspos gitu? Yang lainnya mana?" tanya Guntur pada Eka.

"Pakaian ini merupakan perintah dari Kapten. Kapten, Rangga dan Garuda belum keluar dari kamarnya masing-masing sedari tadi." jawab Eka. Guntur lalu duduk di sebelah Eka, melepas topeng wajahnya yang berwarna merah.

Tidak lama kemudian, Joni dan Rangga menghampiri mereka. Joni mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang beberapa kancingnya dibuka, menunjukkan longjohn hitam dibaliknya. Celananya berwarna hijau tua dan ia memakai boots tinggi berwarna hitam. Ia akan tampak seperti seorang petinggi militer tersesat apabila ia tidak memakai jubah hitam dan shoulder plate berbahan metalik yang bertengger rapi di bahunya. Sedangkan Rangga, ia mengenakan bodysuit berkerah tinggi dengan lengan pendek berwarna hitam plus aksen biru tua. Thong berwarna biru tua dikenakannya di luar bodysuit macam Superman yang terkenal dengan kancut merahnya. Sepatunya adalah boots setinggi setengah betis berwarna kelabu. Di bahunya juga tersampir shoulder plate metalik seperti milik Joni. Guntur cengo. Dalam hati ia mengasihani Rangga yang menjadi korban kemesuman si sejarawan berkacamata.

"Umm Jon, punya gue oke juga, minus spot kancut ini…" Guntur angkat bicara, membicarakan soal aksen merah pada kostumnya yang membentuk pola seperti ia memakai kancut diluar.

"Baguslah kalau kau suka." kata Joni sambil tersenyum puas. "Awalnya, aku ingin memberimu kancut betulan, jadi kau memakainya di luar superhero suit-mu. Tapi kemudian Eka bilang tidak akan praktis untukmu yang berkemampuan terbang. Katanya, sih, mudah melorot. Jadi, yah. Begitulah."

Jubah panjang menyapu lantai yang dikenakan Joni membuat Guntur kepkiran. Ragu, sang mekanik bergumam, "Lo nggak ribet, apa, pake jubah panjang macem Batman gitu?"

"Tidak, aku kan tidak akan banyak bergerak di lapangan nanti." ucap Joni diiringi senyuman horornya, sukses membuat Guntur menutup rapat bibirnya. Scumbag Captain, indeed.

"Joni? Bagaimana? Tidakkah... thong-nya agak terlalu ketat?" tanya Rangga yang tampak agak risih dengan thong birunya. Tangannya berkali-kali bergerak ke belakang, mencoba untuk melonggarkan thong yang terlalu ketat tersebut.

"Tidak kok. Mungkin karena masih baru, jadi masih agak ketat."

Menghiraukan artikel pakaian yang baru kali ini ia kenakan, Rangga menatap berkeliling dan sadar akan satu hal. "Gar di mana?" tanyanya ketika menyadari absennya Gar.

"Eka, kamu jemput Gar. Ini perintah," perintah Joni pada Eka. Eka lalu berjalan meninggalkan mereka untuk mencari Gar.

Guntur memperhatikan Eka yang berjalan menaiki tangga, hendak menjemput Gar. Ia lalu melirik Joni dan bertanya penuh rasa curiga, "Baju macem apaan sih yang lo kasih ke Gar? Kayaknya dia nggak rela banget."

"Lihat saja sendiri."

Dari kejauhan, mereka mendengar jeritan Gar yang keukeuh tidak ingin bertemu dengan yang lain ("Ekaaa! Turunin aku! Aku nggak mau kesana!") dan tidak menyukai kostumnya ("T*I banget sih bang Joni yang ngedesain ini! T*IIIIIII!").

Biar bagaimanapun Gar memberontak, Eka tetap berhasil menyeretnya ke ruang tengah. Gar berdiri di dekat tangga dengan wajah merah padam karena malu. Bagaimana tidak, kostumnya yang berwarna merah terang bak bajaj di lalu lintas ibukota dengan aksen putih berpotongan di pahanya, menunjukkan garter yang berlanjut ke stocking hitam yang menutupi paha mulusnya. Alas kakinya adalah boots hitam selutut yang menyerupai milik Joni.

Guntur tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak melihat temannya memakai kostum yang sangat mengundang perhatian itu. Guntur berani sumpah, tinggal tambahkan bulu-bulu burung—atau kemoceng, bisa juga—di kepalanya, Gar persis seperti Vegas Showgirl jadi-jadian.

"Kampret lo, Ntur," umpat Gar. Bersumpah dalam hati akan melempar Guntur dengan bajaj betulan.

"Gar, coba kamu menghadap ke sana. Balik badanmu," kata Joni.

Tidak punya pilihan, Gar menuruti perkataan Joni dengan ragu. Sang pemuda berkacamata memasang senyum penuh arti. Sudah ia duga, akan tampak… bagus. Bahkan Guntur pun mengakui, kostum itu memang membuat pantat seorang Garuda Eka Prakoso tampak semakin… ehem.

"Dasar kalian semua ini... MESUM LEVEL ASIAN! AKU OGAH PAKE KAYAK GINI!" jerit Gar yang lalu berbalik ke kamarnya, meninggalkan mereka semua dengan dramatis.

"Jon, bisa aja lo bercandanya. Kasian itu anak orang kalo nangis gimana?" cengir Guntur, mulai berpikir bahwa tindakan Gar barusan adalah hasil didikan sinetron.

"Bercanda? Siapa yang bercanda? Aku serius dengan kostum Gar yang seperti itu," balas Joni. Wajahnya menunjukkan raut kebingungan, membuat cengiran pada wajah Guntur langsung hilang.

"GILA LO!"

.


.

Waktu makan malam sudah semakin dekat, tapi makanan belum tersaji satu pun. Jelas tak mungkin membiarkan Guntur yang seorang mekanik memasak makanan untuk empat orang. Satu-satunya makanan yang bisa ia masak dengan hasil bagus dan enak hanyalah Indomie. Joni juga kemampuan masaknya nol besar. Pemuda berkacamata yang sedari kecil punya terlalu banyak uang ini selalu memesan makanan ketimbang memasak sendiri. Rangga... berdasarkan penceritaan Joni, membiarkan Rangga di dapur sama saja bunuh diri. Pemuda bermata abu-abu kelewat cuek ini tak bisa dipercaya untuk urusan dapur. Saat terakhir Rangga dibiarkan memasak, dapur di penthouse Joni kebakaran. Eka mungkin bisa memasak, tapi dia sudah cukup sibuk dengan urusan rumah lainnya.

Satu-satunya orang yang mempunyai keahlian memasak di atas rata-rata adalah Garuda Eka Prakoso. Sialnya, orang yang bersangkutan masih mengurung diri di kamar, ngambek karena kostum yang ia dapatkan.

"Gar, Gar keluar dong. Paling enggak buka, kek, kuncinya. Please? Itu si Joni emang kayak lobang pantat, tega banget ngasih kostum macem gitu ke lo. Gar, gue udah minta kostum lo diganti kok. Gar, jangan ngambek gitu, napa?" Guntur membujuk Gar, dahinya menempel pada pintu kamar Gar. Sudah 30 menit ia begini, namun tidak ada respon apapun dari Gar. "Gar... lo tega biarin gue kelaperan? Ayo, dong keluar terus masak..."

Guntur bersumpah akan mendobrak pintu ini jika masih tidak ada jawaban dari Gar selama lima menit kedepan.

"Gar, ayo dong buka pintunya. Gue nggak bakal ketawa lagi deh. Suwer, itu kostumnya mau diganti sama Joni—"

Omongannya terpotong oleh pintu kamar Gar yang dibuka dengan kasar, membuat jantung Guntur berhenti sedetik. Gar menatapnya dari balik pintu, sudah berganti pakaian memakai kaosnya yang biasa. Wajah kusutnya menyiratkan ke-bete-an yang amat sangat.

Guntur memandang pemuda yang bertampang seperti ABG perempuan yang sedang PMS itu. Merasa simpati dan berniat menghibur, Guntur berkata pelan-pelan, "Gar... Lo abis nangis ya?"

This is it. "T*I LO, GUE GAK NANGIS ANJR*T!" teriak Gar, membanting pintunya keras-keras di depan wajah Guntur sampai tembok rumah itu bergetar. "MAKAN AJA SANA TANG LO!"

Susah memang, serumah dengan remaja tua bermental galau.

.


.

"Hei DERPSEN, Kau... serius mau membunuh mereka berdua kemarin?" Arthur berbisik cepat di telinga VAN DERPSEN, ekor matanya mengawasi dengan tajam Kiku yang tengah berbincang dengan kedua Iberia yang masih berdiri di ujung lain ruang kerja Kiku—sementara dirinya dan VAN DERPSEN duduk dengan santainya di sofa futuristik Kiku yang empuk—tampaknya menanyai apakah keduanya terluka akibat kejadian kemarin.

VAN DERPSEN melempar lirikan sengit ke arah dua bersaudara itu sebelum mendengus. "Hampir serius. Walaupun dipikir-pikir, daripada dibunuh, akan jauh lebih menguntungkan bagi kita bila mereka berdua kubuat jadi... kau tahu..." Bibir pria jabrik itu menyunggingkan seringai tipis penuh arti, sementara jemarinya memainkan butiran-butiran air yang melayang di udara. Arthur menatap rekannya dengan ekspresi horor sekaligus tak percaya.

"DERPSEN, kau tidak mungkin serius. Itu terlalu gegabah. Jangan bilang kau sudah lupa kejadian dengan Mathias dulu?"

Alih-alih jawaban, VAN DERPSEN hanya melebarkan seringainya. Seringai dingin penuh ambisi tak terbendung. Arthur mengerenyitkan alisnya, tampak mual.

"...Kalau kau sampai melakukan itu pada mereka berdua, maka aku akan terpaksa—"

Kalimat Arthur terpotong oleh desisan penuh peringatan dari VAN DERPSEN. Peringatan bahwa Kiku Honda dan Iberia bersaudara telah memasuki jarak dengar mereka.

"Antonio-san dan Alfonso-san baik-baik saja. Agak terguncang, tapi tidak ada luka tambahan dari segi fisik." Kiku berkata dengan nada memberi laporan. Mata monokromnya terpancang pada Arthur, dengan sengaja menghindari VAN DERPSEN. Mungkin akan butuh berhari-hari bagi pemuda Asia ini untuk benar-benar memaafkan si jabrik yang telah membanjiri ruang scanner-nya dengan air asin.

Arthur mengangguk, menahan hasrat untuk memijat keningnya. Dia punya perasaan tidak enak ke depannya bakal harus menjembatani komunikasi keempat rekannya yang kemungkinan besar bakal agak perang dingin ini. Kalau saja ada yang bisa dilakukan untuk mencairkan kekakuan situasi...

"Terima kasih laporannya, Kiku. Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita berlima pergi jalan-jalan sebentar?"

Bukan hanya Kiku; Antonio, Alfonso, dan bahkan VAN DERPSEN kini menatap Arthur seolah-olah dia sedang memakai apron berenda. Arthur Kirkland, anggota Colonialist paling uptight dan konvensional, baru saja menyarankan mereka semua pergi jalan-jalan?

"Art, kau kenapa? Overdosis batu bara gorengmu sendiri ya?"

"Itu namanya scone, Spainiard bodoh! Tidak ada alasan khusus, tapi apa kalian tidak bosan, berada di markas terus-terusan? Terutama kau, Kiku. Setahuku, kau pasti belum menghirup udara segar sejak sedikitnya sebulan lalu. Kita cari pantai atau bar buat cuci mata dan senang-senang. Nggak ada ruginya, kan?" Arthur menambahkan, memandangi satu per satu rekan timnya, menanti reaksi mereka.

Antonio dan Alfonso berpandangan sejenak, menimbang-nimbang, lalu bertukar senyum girang. Alkohol, pantai, wanita! Dua bersaudara ini tentu tidak akan menolak kesempatan mempraktekkan darah flamboyan mereka, apalagi di tanah asing yang katanya eksotis ini.

"Kami ikut!" Antonio berseru riang. Di sampingnya Alfonso mengangguk mengiyakan, tidak sehiper adiknya namun cukup ketara sangat senang.

VAN DERPSEN hanya mendengus, membalikkan badan, lalu menyalakan pipanya. Cuek seperti biasa. Tapi tidak menolak. Yang berarti si jabrik itu diam-diam juga sudah rindu bersantai ditemani alkohol dan—kalau melihat dari foto yang pernah salah di-email-kannya ke Arthur—gadis di bawah umur.

Kiku adalah satu-satunya yang tampak agak ragu-ragu memutuskan.

"Anu, Arthur-san, kalau kita berlima meninggalkan markas, lalu bagaimana dengan-"

"Scanner-mu itu? Sudahlah, Kiku. Ini waktunya untuk bersantai. Kita semua butuh rekreasi sesekali, dan kamu bukan pengecualian. Scanner itu bisa tetap bekerja walaupun ditinggal, kan? Dia nggak akan rusak ditinggal beberapa jam," papar Arthur meyakinkan.

Kiku tampak masih agak ragu, tapi akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah, saya ikut."

"Begitu, dong!" Arthur menepuk punggung Kiku, tersenyum lebar bercampur lega. Semoga setelah jalan-jalan ini, mood mereka semua bisa diperbaiki dan perpecahan bisa dihindari. Semoga.

"Alfonso, kau yang bisa teleportasi jalan duluan sana sama Antonio. Aku, VAN DERPSEN, dan Kiku menyusul dengan kapal selam. Kita bertemu di pantai tiga puluh menit lagi."

Tanpa perlu diinstruksi dua kali Alfonso mengangguk, menggandeng adiknya lalu menghilang di tempat, begitu saja. VAN DERPSEN berbalik dan tanpa berkata-kata melangkah keluar dari ruangan, menuju hangar kapal selam mereka. Arthur dan Kiku mengikuti di belakangnya, alis Arthur agak berkedut karena sikap kelewat cuek dan emosian si jabrik pengendali air tersebut.

Sebelum menutup pintu ruangan, Kiku sempat mencuri pandang ke arah Sakura Scanner buatannya. Menatapnya lama. Setelah memutuskan bahwa tidak ada perubahan apa-apa, ilmuwan merangkap ninja berdarah Asia itu menutup pintu ruangan dan menyusul VAN DERPSEN dan Arthur, meyakinkan dirinya sendiri bahwa sedikit liburan tidak akan berpengaruh apa-apa pada misi mereka.

Padahal seandainya dia tinggal dalam ruangan itu beberapa detik saja lebih lama, mungkin dia bisa melihat satu dari sekian ratus bunga merah muda yang tumbuh di pohon sintetis itu bergetar sesaat.

.

-tbc-

.


.

AN: Chap ini dibuat ketika dua dari kami sedang sakit demam, 2 sakit perut, dan sattu sakit gigi #sakitmulu #gaguna, ditambah tugas2 sekolah-kuliah-skripsi yang minta dibakarcoret dielus, liburan yang membuat firing level kita lebih tinggi dari biasanya... ^_^ #eh. Tapi sekali lagi, chap ini berhasil diselesaikan ditengah itu semua...QwQ. Dan sekali lagi juga, kayak yg terjadi pada chap2 sebelomnya, draf awal dari chap ini berakhir dibagi 2, jadi lanjutannya ditunggu yah~ OwO/ *lambai daleman*. Maaf kalo apdetnya lebih lama dari kemaren! Mudah2an wordcount nya bisa mencukupi kebutuhan penistaan anda selama 2-3 minggu kedepan. Jangan lupa obat tetes matanya yah OwOb #plak

PENGUMUMAN: Terus kita-kita punya rencana jahat buat mem-posting drabble ngaco yang off topic dari cerita inti The Undies OuO Rencananya si drabble ini bakal mulai dilepas kalo review The Undies udah 100~ Ada yang berminat? Gak ada? Okay... #eh Ini adalah bentuk terima kasih kita atas para reader dan terutama reviewer yang mengapresiasi fic nista kita QuQ #peluksatusatu

Buat para ripiuwers & terutama fanartist yg udah dengan indahnya meripiu & membuat fanart dari fic nista ini, silakan, ini ada vodka gratis dari Joni! OwO #bukan. Makasih banyak atas karyanya! XD

Balesan reviews:

Kirazu Haruka: Dijadiin film, ya? Nanti kalo seluruh Indonesia katarak ngeliat cowok2 berdaleman main di balik layar gimana? QwQ #tungguiniambigu Seriusan dibaca sampe dua kali? OAO #nggaksiwer? Sejujurnya kami bingung itu pujian atau keluhan…oTL #dor eniwei, makasih reviewnya :D

Chernaya shapochka: Iyaa, apdet~ Harus dong, seorang VAN DERPSEN kan paling macho di antara penjajah Indo OuO #darimana Emang karakter Joni agak brengsek, sih X'D #diakuipemilik tapi masa sampe mau diketekin... QwQ #peluk #eh Joni punya alas an untuk menjadi begitu, sih X'D *lirik kakaknya* *dibalang*. Ini udah diupdate~ maap agak telat ya X'D makasih reviewnya!

7 sableng: ...ini seriusan ada 7 orang? OAO #tepoktangan #eh (Vree: Kami memang membuat fic secara collab, tapi tidak menerima review collab! *diinjek* #curangbangetlol #abaikan) Soal ada atau tidaknya lemon, ikuti saja ceritanya ya :) Dan jangan santet kami sebelum kami wisuda dan lulus SMA... QwQ #salah makasih reviewnya!

Megumi Yoora: maap ya, kami kalo update di jam-jam galau X'D #author2galau #bukan Joni sama Ntur nggak lanjut adegan selanjutnya soalnya nanti wordcountnya abis buat mereka rebutan posisi seme~ #eh ry0kiku bakal masih di indo sampe akhir maret, habis itu balik lagi ke jepang QwQ #empotnya nama VAN DERPSEN dicaps biar kelihatan semeslashmacho-nya dong~ ….itu serius salah baca jadi VAN DEPRESI? X'D #usepDERPSEN fanart akan kami terima dengan hati gembira :') #emotnya Soal Garuda... tau tuh, pemiliknya OuO #disambitwajan (Vree: karena orang2 yang menggil dia Burung…dan soal pantat itu courtesy dari kak Ry0, jadi Tanya dia aja =3=b *dibunuh) Nope, secara biologis bukan Joni yang oldest. Ayo tebak siapa~ #woi memang bukan tanggal 23, tapi ini berhasil juga diupdate akhirnya. maap lama yah X'D #dogeza makasih reviewnya~

plyingdutchies: aww hkr. dedikasimu mengharukan.. :') #usapairmata #dibakar VAN DERPSEN dibold dan italic soalnya kesemeannya butuh penekanan X'D #dicakarkelinci ...iya ya. mestinya Guntur jadi bintang iklan popok aja, ya OuO #dibalangdongkrak #dicekekyangpunyaguntur iya, udah ada di dA. lengkap dari semua author, lho~ #terus makasih reviewnya!

KOkuryoUma Oni: makasih fanart-nya, ya! Indah sekali! X'DD #masihh hooo makanya Gar di fanart dirimu terlihat sangat unyu, lengkap dengan garternya~ XDD lol di chapter ini nggak cuma VAN DERPSEN doang kan yang dapet penekanan? Semoga anda nggak kesilauan(?) aka katarak ya :) #eh makasih review dan fanartnya!

pelajar: #tepok semoga TO-nya lancar, ya.. QwQ #nostalgia kan~ pantat Kim Kardashian Gar emang menggoda, kan? OuO #enggak (Vree: *loncat dari Monas*) Kayaknya latar belakang anggota Undies nggak ada yang nggak random dan nggak nista deh, ohoho #disumpeldaleman. Disini VAN DERPSEN muncul lebih banyak loh~ Iya dong Belgie harus jadi derpina~ mau sekalian dicapsbolditalicunderline plus lampu-lampu ala casino Las Vegas? OuO #lebay makasih sudah menyempatkan diri review di tengah terjangan TO, ya QwQ #usapairmata

N and S and F: hemm... karena sambil nungguin jemurannya kering, Eka nyetrika jemuran yang kemarin dulu. Lumayan buat menghemat waktu OuO #lolmaksa #jiwapelajarperantauan #enggak (Vree: uhm…dipikiran saya emang begitu waktu nulisnya X'D *dibacok*) eh, kenapa sensi sama Belanda? Bukankah kemunculannya yang ditandai nama penuh caps bold dan italic itu sangat elegan? OuO #apanyaa Eka penampakannya kayak anak SMP, tapi isinya... tunggu dengan sabar backstory-nya dia, ya :) #gabantu #dihajar Tenang, pasti ada Kiku-Eka kok! makasih reviewnya!

sherry-me males log in: semangat ngosek bak mandinya.. QwQ/ #lambaidaleman #woi LOL! pertemuan Eka sama Gar mirip Chobits, ya? masih untung switch on-off-nya Eka nggak terletak di 'situ'... #ifyouknowwhatimean #ditonjok Joni pervert maksimum itu diakui semua orang #termasukpemilik #plak semoga kesemean Guntur dan kecluelessan Rangga makin kelihatan ya di chapter ini~ :D #digorokparapemilik makasih reviewnya!

Aldred van Kuroschiffer: Duit di kantong anda ada 9k? OAO #bukan JowoLondo sama hkr kompakan banget ya, ngiklannya... OuO #tepoktangan #bukan fic ini lebih dapet feelingnya kalo dibaca di toilet, ya? OuO mungkin kami kapan2 harus mencoba nulisnya di toilet... #HOI #konklusiapaini (Authos lain: *meme likeaboss bareng*) Cieee Guntur, populer nih ye~ #toel #dijejelinobeng Eka dari segi tampang emang paling muda, tapi isinya.. #spoilerwoy #tungguajaya ini udah apdet~ makasih reviewnya!

lele: ...entah ini review keberapa yang curcol tentang toilet/bak mandi/kamar mandi. fic berhawa daleman ini bener-bener, ya.. #apanya #dor kadar humornya berkurang, ya? Tapi iniemang bukan humor maksimal.. tapi kenistaannya enggak, kan? OuO #tetep #eh ...dan sy keselek baca antakusuma ngambek terbang... #usepgatotkaca #usepguntur Joni kayak gitu ada alesannya, kok OuO anggaplah dia personifikasi Indonesia era majapahit ato beberapa dekade post-colonial, pas lagi di puncak kesemean~ #maksa #dihajar daleman vs bule-nya ditunggu ya~ di chapter ini udah ada sedikit action kan, bule vs bule OuO #uwoy soal cawatboy ditunggu aja ya. otak kami anomalinya nggak terduga soalnya :) #emotnya makasih reviewnya!

TheMasochistDevil: ...review anda bikin speechless, in many ways. Berasa kayak baca backcover buku X'D #usapairmata #lebaygila ahaha terlalu beresiko kalau kami bikin buku lawakan. soalnya benda ini saja ada kemungkinan untuk sewaktu2 banting setir jadi tragedi pembunuhan :) #emotnya #siap2dirajam Soal Guntur dan Gar... tanya pemilik masing2 aja ya, ohoho #gaguna makasih reviewnya!

delaciouseFoodMONSTER: sudah diupdate~ semoga anda menikmati kebadassan plus keunyuan seorang VAN DERPSEN di chapter ini OuO #disirem waduh. nggak sampai smut, tapi JoniRangga lovey-dovey nyaris kissu sudah ada kan di chapter ini? #wink #pembacahoek makasih reviewnya! (Vree: btw, anda titisan Joni ya? #bukan)

pemimpin fujoshi: apdetnya lama, tapi wordcountnya bisa memenuhi kebutuhan crack anda selama 2-3 minggu kan? X'D *kubur anda* #OI. Si lemon ada kok di belakang, nanti ya, kita panggil dulu #eh. Yang nyiptain Joni itu Spice Islands lah~ #eh. Dan semua Undies emang minta dibanting sekaligus diraepcoret dielus kan? OwO #NGAWUR #abaikan. Hah? Ripiu anda gak kayak flame kok~ Kembali ripiu yah! XD

GreyLady89 : Jika lagi sendirian di rumah, cobalah baca THE UNDIES di kamar mandi, dijamin level nistanya akan meningkat beberapa level #saranapaini. Iya, sebenernya itu awalnya bentuk naratif, tapi karena OMG-panjangbanget-Shinkansen-kalah & jatohnya tll banyak flashback, jadi diputuskan page monolog aja. Karena… Joni ngeship EkaGar #BUKAAAN. B Indo yg baik & benar? Fic dengan daleman dan binatang bertebaran iniii? QwQ *author2 Spice Islands dilempar guru B Ind*. Liat dong gambar dalemannya~ #eh

Kagamiyo Neko: Derpina~ *dilempar waffle*. Ah masa sih DERPSEN gak unyu? OwO *elus kelincinya* #plak. Tenang, YaoMingface & impossibru bakal muncul kok #plak. Tanyakan pada yang punya, apakah Joni & orang yg anda lirik itu masih virgin? *dibalang*. Kostumnya Gar, kejawab? X'DD #BELOM

Lereviewer: (masukkan waktu)! XD. Kami bingung apakah JJS anda yg berakhir menemukan fic ini bisa dianggap keberuntungan atau kesialan #eh. Author yg ini juga kadang menganggap judul fic ini emang THE UN-DIES kok, saking nistanya judul aslinya oTL (author yg lain: *Yao Ming face*). Iya dong, W.N.H VAN DEPSEN itu nama paling likeaboss 2020 OwOb #bukan. Ada sesuatu~ Sesuatu~ #OI. Kenapa salamnya buat Gar dong? Yang lain nagih juga tuh! XD #eh. Review lagi ya~

Ela: Ripiu panjang nan absurd adalah bahan bakar(?) kami, jadi akan selalu diterima di kotak ripiu ini~ Soal kenapa Eka gak ditonjok lagi aja, ntar dia korslet atau penyok kebanyakan ditonjok yg mau benerin siapa? #eh. Yg mau dicium itu Gar, bukan Ntur... Pairing & kelanjutan, stay tuned aja yah~ X'DD #gabantu #plak

dr. shwatsonlock: Anda liburan? QwQ *sirik* #eh. Maaf udah bikin peru anda salto mendadak, gak mau salto beneran aja? OwOb *salto* #eh. Hehe~ yang bikin juga nyengir2 sendiri bikinnya #ehplak. Iya, gambar Guntur & Gar nya kak skadi itu emang unyu banget~ QwQ #kenapamalahfangirlingan #lupakan. Review selanjutnya ditunggu~

Eiirma UrukiruaSchiffer: Nooo kalo Gar jadi bintang ilkan popok, bisa2 dia jadi bintang iklan legendaris yg terkenal sampe sekarang & dia jadi gak madesu lagi! #SALAHHH. Scene itu gak diliatin, karena akan menodai kesucian mata kita #bukan #diciumajaenggak. Hoho~ dan mulai chap ini, yang bikin silau bukan Cuma DERPSEN aja~ Ibers baik2 aja kok... Ditunggu ripiu nya! XD

pembaca aja: balesan ripiu seingkat yang hanya terdiri dari 2 kata: TERIMA KASIH! XD #woooy. Beneran, makasih ripiunya~ Nanti ripiu lagi yang panjang ya! #plak

AlpacaCokelat: Makin gaje ya? Expect ke-gaje-an yang meningkat-berkurang seiring perjalanan plot ya~ #eh. Kalo bingung mau ripiu apa, curcol aja juga boleh kok #plak. Tenang, , tunggu aja kelanjutannya XD. Eh..ini sebenernya bukan 5 cerita yg dijadiin 1 kok, yang dijadiin 1 Cuma OC-OC Indo madesucoret kami yg dilemparkan ke AU nista yang sama. Makasih udah dibilang epic, ditunggu ripiunya~ XD

Lunatique-Sakura is DEAD: Makasih ripiunya, dibilang menarik pula :D. *Tebar cliffie bareng2* *dikeroyok sefandom*. Yang anda nantikan sudah muncul kan? XD. Ide ttg sihir Barat vs Nusantara itu terdengar keren! XDD. Tapi masalahnya di Undies ini, chara nya (OC-OC kami yang udah ada dari kapan tau & direcycle terus2an di fic2 absurd kami yg lain #eh) duluan yang lahir(?), baru ceritanya. Jadi sayang sekali chara Indonesia kami ini (yang gak refers ke kebudayaan suku tertentu) gak bisa dibikin gitu, dan kayak tujuan awal, ini berakhir dengan daleman yang berkibaran X'DD #jder. Semangka! Doakan Joni, Rangga, Guntur, Gar & Eka bakal lebih nista lagi di fic2 mereka yg lain! XD #bukangitu

Tsubaki Audhi: Curcol diterima kok disini 8D #eh. Uwooh anda kesengsemnya ama Gar? OAO (Vree: Uhm…kenapa anda bisa jatcin sama tuh anak? Diakan medesu level ASIAN =A= *balikin Gar ke kandang* #PLAK #scumbagownerindeed). Rangga gak oon, dia anak polos yg terperangkap dalam tubuh pemuda uke 22 tahun…QwQ #bukan. Maaf membuat penonton kecewa, tapi first kiss GarKa belum sekarang saatnya..#woy. Itu sampaikan ke dia sendiri aja, ati2, siap2 ada bajaj melayang ya #eh,

Tamtamtami: Itu terdengar sangat…nista X'DD #emangdariawalnista. Kenapa…tanya aja ama si DERPSEN sendiri kalo anda berani OwO; *sembunyi dibalik Kiku* #eh. Ibers selamet kok... tauk tuh si DERP lagi PMS =3= *dibunuh*. Iya gak cuma 1, contohnya si Joni yg 'time-manipulator' bisa punya bermacem SP yg brhub sama waktu, tapi ada spesifikasinya (Psychometry, Precognition) & ada limitnya juga 8D. List nya…diliat di jalan cerita aja ya, soalnya pemiliknya aja belom semuanya tau SP mereka apa aja XD #alasanapaini #tapibener

Charles Grey: Pagi~ Kesan pertama baca ripiu anda: EPIC! Ripiu super panjang nan detil yang sangat awsum…QwQ. Terus kami bingung mau balesnya gimana..o_o. Kiku gak cuma pinter, ninja terlatih pula XD. Apa karakter + SP nya udah oke dimata anda? Kritik saran diterima loh 8D. Adegan actionnya, doakan setelah nulis UNDIES, kami & kalian bisa nulis adegan action, deskripsi & karakterisasi dgn baik! Pantat Toni vs Gar…hm..patut dipertanyakan #APANYA. Yang homophope maksimal itu Ntur btw, lebih parah dari Gar XD. Hmm…mungkin si Ibu Kos nanya: "Siapa yg melakukan ini?" Gar: "Saya sam-" terus langsung diamuk? Owo; #gaje. Kalo foto hints…minta aja ke seseorang XD #inispoiler? Rangga itu berspesies Uke Madesu *diblaster*. Ntur keahliannya didemonstrasikan besar2an di chap 2 & 3~ Di chap ini, giliran Joni yang ditelanjangicoret dikupas(?) karakternya, oke/no? XD. SP Colon yg lain, entar pasti keliatan pas udah melawan UNDIES~ . VAN DERPSEN (dan CAPTAIN LONGJOHN) harus ditulis begitu karena…ITU NAMA SUPERLIKEABOSS 2020 *_* #bukan. Ttg perintah Joni di akhir itu, silakan interpretasikan sendiri apa sebenernya yg dipikirkannya X'D. Rangga ditunggu ya OwO/ Tonjokan Eka, daripada dia penyok ditonjok terus, UNDIES jd gk berani coba2 nonjok dia lg..X'D. Cerita Joni, udah ada di chap ini~ Ditunggu ripiu awsam nya lagi! XD *lambai daleman* #eh

Tsukuyomi Hime: Anda nyanyi2 sambil joget di jam pelajaran? OAO #eh. Ke-yaoi-an Joni udah dikonfirmasi sama orangnya sendiri tuh! Eh, bukti2 mengarah kesana ya? Rangga, kamu alien bukan Nak? Owo (Rang: *todong blaster* #eh). Ripiu ditunggu~

Arthuriver: ANDA KEMANA AJAAAA wOAOw *guncang2* *dibalang*. Kami turut simpati sama nilai anda ya…QwQ #plak. Kalo Ntur gak bikin perisai, tar si Joni diculik DERPSEN gimana? =A= #bukan. Keren kan, garter~ #enggak Berani googling thong? O.o #eh. Terserah anda, mau mengorbankan keutuhan tangan anda buat ngambil kekuasaan thd Eka atau gak..owo #plak. Langkahi dulu Joni kalo mau meraep si Rangsut eh Rangga… Udah dikasih tau kan ciumannya? Apakah setelah liat Colon disini anda gak jatuh cinta? Owo #eh Ripiu ditunggu~

Mochiyo-sama: tentu saja disini 9gag bertebaran! Kami agen saleswati 9gag! #BUKAAAN. X'DD (Vree: btw, cacing Taenia saginata sama bakteri Salmonella typhosa hubungannya apa…owo *diseret yang lain ke belakang* #abaikan). Kami gak na9a-an sayangnya..~~;. Jadi anda ada di kapal(?) JonRang atau GunJon nih? XD Lemon masih sembunyi… ayo summon bareng! #EH. Ditunggu ripiunya & selamat bercinta dengan buku sejarah~ #plak