Title: Fate

Rate: M

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu, Kim Heechul, Tan Hangeng (as Kim Hankyung), and other. Cast lain menyusul.

Disclaimer: Saya cuma pinjam nama. Yunho milik Jaejoong dan Jaejoong milik Yunho. Plot is mine.

Pairing: YunJae. HanChul. YooSu.

Warning: OOC. BL. GS for Heechul. Alur ngebut.

.

[Fate]

.

CKLEK

Yunho membuka pintu kamarnya-yang sekarang sudah menjadi kamar Jaejoong juga, dan mendapati kekasihnya sedang duduk di tepi ranjang.

"Kau terbangun?"

Jaejoong menghela napas lalu mengarahkan pandangannya pada jam di meja nakas samping ranjang seraya memerintah Yunho untuk mengikuti arah pandangnya, "Ini jam 2 pagi, Yun. Kenapa baru pulang, eoh?"

"Kerja malamku memang selesai pada jam-jam segini. Ini saja sudah kuusahakan pulang lebih cepat.", Yunho membelai rambut Jaejoong dengan sayang, menyesap aroma vanilla yang menguar dari tubuh namja cantiknya.. berharap dapat menghilangkan mual akibat bau anyir darah dari orang yang dieksekusinya tadi, "Kau tidurlah lagi."

"Kau juga.."

"Nde, aku akan tidur setelah mengganti pakaian."

"Mau kugantikan?"

"Jangan menggodaku atau kau tidak bisa berangkat kuliah besok."

"Aish, bear.. kau ini benar-benar.."

Jaejoong mencubit pinggang Yunho pelan dan namja tampan itu menggenggam tangan sang kekasih yang ada di pinggangnya, "Lihat. Cubitanmu saja tidak terasa sakit sama sekali. Kau sudah benar-benar lelah. Tidurlah.. aku akan ganti baju secepatnya lalu berbaring di sampingmu."

"Hmm, arraseo."

Setelah berganti pakaian, Yunho berbaring di samping Jaejoong yang sedang memunggunginya, kemudian memeluk namja cantik itu dari belakang.

Jaejoong menggenggam tangan Yunho yang ada di pinggangnya

"Belum tidur, Jae?"

Jaejoong menggeleng, "Yun.."

"Hmm?"

"Katakan saja bila ada orang lain di hatimu.."

"Eh? Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?"

"Yeah.. sudah rahasia umum namja sepertimu pergi malam apalagi kalau bukan untuk kencan dengan selingkuhannya."

"Hmm.. selingkuhan ya? Apa selalu memikirkan orang yang tak pernah kutemui bisa disebut selingkuh?"

"Siapa itu?"

"Lee Sooyeon. Eommaku.."

"Kenapa kau tak pernah bertemu eommamu?"

"Beliau meninggal saat aku lahir. Itulah yang appa katakan padaku."

"Bagaimana rupa eommamu? Apakah cantik?"

"Aku tak tau wajahnya."

"Memangnya appamu tak punya fotonya?"

"Appa sudah menyingkirkan semua hal tentang eomma. Beliau bilang hanya akan menghancurkan hatinya bila ingat eomma."

"Apakah ada peristiwa pahit yang terjadi?"

"Mianhae.. aku tak mau mengingatnya lagi."

"Berarti ada ya? Maukah kau berbagi kepahitan itu padaku?"

"Shireo.. sama seperti appa, semua itu akan mengancurkan hatiku.", Yunho memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada Jaejoong, "Kita harus tidur sekarang. Jaljja.."

'Bukannya aku tak mau, Jae. Tapi tak mungkin aku katakan padamu bahwa orangtuamulah penyebab semua kepahitan itu.'

Setelah aku melihat Heechul di depan rumah Jaejoong, aku segera memerintahkan orang kepercayaanku untuk menyelidiki apa hubungan Jaejoong dengan Heechul dan Hankyung. Dan tak berapa lama aku pun dikejutkan oleh kabar yang dibawa orang kepercayaanku bahwa orang yang aku klaim sebagai namjachinguku adalah anak dari musuh terbesar aku dan appa. Karena itu aku putuskan untuk tidak menemuinya lagi, walau aku masih sering melihatnya karena tuntutan pekerjaan di kampus. Tapi ternyata dia menemukanku dan akhirnya aku sadar bahwa aku membutuhkannya untuk di sisiku.

.

~yunjae~

.

"Pokoknya aku hanya ingin Jae hyung."

Jaejoong memasuki sebuah ruangan yang baru saja dilewatinya karena mendengar ada yang menyebut namanya, "Apa yang kau maksud itu aku, Changmin ah?"

Namja tinggi menjulang yang dipanggil Changmin itu menoleh ke arah Jaejoong, "Hyuung…", Changmin berlari menghampiri Jaejoong lalu menggenggam hyung cantiknya itu, "Kau datang di saat yang tepat."

Di belakang Changmin, terlihat Junsu yang berlaku aneh seakan mengisyaratkan sesuatu pada namja cantik itu.

"Kau mau bantu aku kan, hyung?" Tanya Changmin pada Jaejoong. Namja kelebihan kalsium tersebut tidak tau bahwa di belakangnya Junsu sedang memperingatkan Jaejoong agar tak mendengarkan perkataannya.

"Bantu apa?" Tanya Jaejoong dengan mata masih memperhatikan Junsu yang sedang mengatakan "Sudah kuperingatkan untuk jangan mendengarkan dia, hyung." dengan suara sangat pelan takut terdengar oleh Changmin.

"Hyung lihat kemana sih?" kesal Changmin sambil melihat ke arah yang dipandang Jaejoong, "Ya! Su-ie hyung, jangan merusak rencanaku."

"Sungguh, hyung. Jangan dengarkan bocah evil itu." pinta Junsu memelas.

"Katakan saja apa yang bisa kubantu, Changminnie?"

Changmin menatap penuh kemenangan pada Junsu yang sedang menepok jidat merutuki kebodohan Jaejoong, kemudian mengalihkan pandangannya pada hyung cantiknya, "Aku ingin hyung menjadi pemeran utama drama musikal yang klubku buat untuk ditampilkan akhir tahun ini."

"Kenapa harus aku?"

"Karena aku directornya dan aku ingin hyung yang memainkan peran itu."

"Baiklah. Tapi itu tidak gratis.."

"Tentu saja."

"Peran apa yang harus kumainkan?"

"Jadi yeoja, hyung." Sela Junsu cepat.

Hening..

Jaejoong menatap Changmin yang hanya senyum-senyum dan Junsu yang sedang memasang wajah kesal secara bergantian.

1 detik..

5 detik..

Hingga 1 menit berlalu akhirnya keheningan itu sirna karena teriakan Jaejoong, "MWOYA?! Aku tidak mau, Changmin ah.."

"Tapi hyung sudah menyetujuinya tadi dan aku sudah janji akan membayarmu."

"Andwae." Jaejoong menghampiri Junsu sambil bertolak pinggang, "Ya! Duckbutt.. kenapa kau tak bilang sejak awal kalau perannya itu yeoja, hah?"

'Hhhh.. akhirnya aku juga yang kena semprot kan?' batin Junsu.

"Aku kan sudah memperingatkanmu, hyung."

"Tapi kau tak mengatakan tentang peran itu."

"Salah hyung tak mau menuruti kataku sejak awal."

"Apa kau bilang? Kau mau ma.. hmp."

Changmin membekap mulut Jaejoong yang pasti masih akan mengeluarkan seluruh koleksi sumpah serapahnya sambil menyeret tubuh hyung cantiknya, "Kajja kita mulai latihannya sekarang. Tak baik membuang-buang waktu. Seohyun dan Hyeri, tolong rias Jae hyung agar kalian semua tau bahwa aku memilih orang yang tepat untuk memainkan peran itu."

.

"Omooo, neomu yeppo.." gumam semua orang yang ada dalam ruangan itu.

"Changmin ah, kau hebat. Dia benar-benar seperti apa yang kubayangkan saat membuat cerita ini." Ujar sang penulis skenario drama musikal.

Jaejoong mengepalkan tangannya, namja cantik itu sedang berada dalam puncak kekesalannya sekarang. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri yang menyetujuinya, dan ia pun sudah berikrar bahwa namja tak boleh menarik kembali ucapannya.

"Kau harus membayar mahal untuk ini, Changmin ah."

"Nde, yaksok. Kajja kita mulai latihannya sekarang. Hyung sudah tidak ada jam kuliah lagi kan?"

"Hhhh, nde.. latihan tak perlu berdandan seperti ini juga kan?" tunjuk Jaejoong pada wajahnya lalu dress yang dipakainya.

"Yeah.. tapi kalau hyung mau seperti itu untuk lebih mendalami peran juga tidak apa-apa."

"Andwae.."

"Haha.. Seohyun, Hyeri, tolong hapus make up Jae hyung dan hyung gantilah pakaianmu di ruang ganti."

"Tak perlu. Aku lakukan sendiri saja di toilet. Berikan saja pakaianku."

"Tapi toilet di sini sedang rusak, hyung. Kau bisa gunakan toilet yang ada di koridor depan." Ujar Changmin sambil menyerahkan pakaian Jaejoong, "Aku jadi penasaran, kau nanti masuk toilet mana, hyung?"

"Ya! Kau mau mati, huh?"

"Hahahaha.. hyung jangan galak-galak, nanti cantiknya hilang.."

"Huh.."

Jaejoong melangkahkan kakinya lebar-lebar keluar ruang klub drama menuju toilet, 'Aish.. jinjjaaa. Aku benar-benar seperti sedang dihukum oleh Tuhan..' gerutu Jaejoong dalam hati.

GREP

Tiba-tiba seorang namja paruh baya memeluk Jaejoong di koridor, 'Heh? Apa pula ini? Kenapa ajusshi ini tiba-tiba memelukku?'

Namja cantik itu mengerahkan seluruh tenaganya bersiap mendorong namja paruh baya itu agar melepaskan pelukan mautnya. Sumpah serapah sudah memenuhi otaknya yang sepersekian detik lagi pasti akan keluar dari cherry lipsnya.

"Yoonhee.. aku merindukanmu.. benar-benar merindukanmu.." gumam namja paruh baya itu.

Jaejoong membulatkan matanya kaget, 'Yoonhee? Merindukanku?'

"Maaf, ajusshi. Kenapa Anda memeluk kekasihku?" ujar Changmin yang baru saja datang membuat namja paruh baya itu melepas pelukannya dari Jaejoong namun kedua tangannya masih memegang erat bahu namja cantik itu.

Dalam kesempatan itu, Jaejoong mencoba melepaskan tangan namja paruh baya itu dari pundaknya. Namun hasilnya nihil, karena pegangan namja paruh baya itu benar-benar kuat, lebih seperti cengkeraman. Dan bukannya menjawab pertanyaan Changmin, namja paruh baya itu malah menatap Jaejoong dan Changmin bergantian.

"Maaf, ajusshi. Perhatikan baik-baik tanganmu! Kau tidak lihat kalau kekasihku kesakitan karena cengkeramanmu?" Changmin meninggikan nada dan volume suaranya.

Kini namja paruh baya itu yang membulatkan matanya kaget, seakan baru menyadari situasi. Kemudian dengan cepat ia membungkukkan badannya berkali-kali sambil menggumamkan kata maaf. Ia pun berlalu pergi dari hadapan Jaejoong dan Changmin dengan langkah cepat.

"Dia siapa, hyung?" Tanya Changmin sambil menatap punggung sang namja paruh baya yang menjauh.

"Molla..", Jaejoong memandang ke arah yang sama dengan Changmin kemudian memukul-mukul punggung Changmin pelan, "Yasudah, aku ke toilet dulu. Gomawo ne, Changminnie.."

"Ne, cheonma.. Ingat! Jangan salah masuk toilet yeoja, hyung.."

Jaejoong yang sudah berjalan menjauh dari Changmin lantas berbalik menghadap namja kelebihan kalsium itu sambil berkacak pinggang, "Ya! Kau mau mulutmu kujahit?"

Changmin begidik, "ANDWAEEE…" dan berlalu pergi.

.

~yunjae~

.

Jaejoong masuk ke dalam apartemen yang tampak sepi, "Apa Yunho belum pulang?" tanyanya pada diri sendiri sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, 'Sudah jam 10 malam.' batinnya kemudian mengambil ponsel dari dalam sakunya.

To: Yunho beruang jelek

Bear, kau dimana, eoh? Jam segini belum pulang..

Pesan dikirim. Jaejoong mendudukkan dirinya di sofa lalu ponselnya pun berdering pertanda ada panggilan masuk..

Jaejoong mengangkat telepon itu, "Yeoboseyo.." sapanya malas karena yang sedang ada di seberang telepon adalah Yunho.

"Mianhae.. aku mungkin tidak pulang malam ini."

"Ye ye ye.."

"Kau marah?"

"Ani.."

"Kalau begitu kututup teleponnya ne.."

PIP

Jaejoong menghela napas lalu menatap layar ponselnya kesal.

"Cari udara segar ah.." namja cantik itu melangkahkan kakinya ke pintu lalu membukanya.

"Joongiiiiiiieee…"

BRUK

Heechul mengagetkan Jaejoong karena kedatangannya yang tiba-tiba ditambah yeoja cantik itu langsung memeluk anaknya erat hingga Jaejoong hampir terjungkal.

"Eomma?"

"Joongie.. anneyoong.." ujar Hankyung yang sedang berjalan menghampiri istri dan anaknya.

"Appa juga.. ada apa?"

Hankyung mengangkat tas besar yang ada dalam genggamannya, "Kami ingin menginap.."

Jaejoong mengernyitkan alisnya, "Heeh? Menginap? Dimana?"

"Tentu saja di sini, pabbo.." ujar Heechul sambil melepaskan pelukannya.

"Mwo?!"

BLETAK

"Ya! Tidak sopan berteriak seperti itu di depan eommamu. Wae? Kau tak suka kami menginap disini? Tak taukah kau kalau kami sangat merindukanmu?"

"Ta.. tau. Tapi aku kan bisa kesana, kalian tak perlu repot kemari."

"Huh, kau selalu bilang akan menjenguk eomma dan appa di rumah, tapi akhirnya selalu tidak bisa dengan alasan sibuk. Lagipula, eomma ingin melihat namjachingumu yang kau bilang sangat tampan itu."

"Nde, nde. Masuklah.. tapi Yunho tidak pulang malam ini. Jadi eomma baru bisa melihatnya besok."

Heechul masuk ke dalam apartemen yang ditinggali Jaejoong dan Yunho itu sambil mengarahkan pandangannya bermaksud mengamati dengan Hankyung mengekori dari belakang, "Hmm.. kenapa tidak pulang?" tanyanya.

"Ada bisnis yang harus diurusnya."

Heechul mengangguk-angguk paham, "Dimana kamar tidurnya?"

Jaejoong menjawab dengan mengarahkan jari telunjuknya pada suatu ruangan. Tanpa babibu lagi Heechul masuk ke dalam ruangan itu lalu merebahkan dirinya di atas ranjang yang ada di sana.

"Kalian cepat kemarilah. Kita bertiga tidur bersama." Teriak Heechul pada Jaejoong dan Hankyung yang ada di luar kamar tidur.

"Bertiga? Shireoooo.." Jaejoong menanggapi dengan teriakan juga.

"Ya! Kau mau tidur di sofa ruang depan, huh? Hhh, aneh sekali.. apartemen semewah ini hanya ada 1 kamar tidur."

Jaejoong menghela napas berat. Perkataan eommanya benar. Akhirnya dengan langkah malas, namja cantik itu mengikuti Hankyung menuju kamar tidur.

"Joongie berbaring di tengah eomma dan appa.."

Heechul menepuk-nepuk tempat di tengah-tengah dirinya dan Hankyung yang sudah berbaring dengan keduanya menatap Jaejoong.

"Andwaee.. eomma saja yang di tengah."

Heechul merapat ke Hankyung sambil menepuk-nepuk tempat di sebelahnya yang masih kosong. "Nde, nde. Palli..."

"Hmm." Gumam Jaejoong lalu mengambil tempat di sisi kanan Heechul dan berbaring dengan punggung menghadap eommanya.

"Ya! Kenapa membelakangi eomma, eoh?" Heechul menyelipkan tangannya ke bawah leher Jaejoong lalu memaksa wajah Jaejoong agar mau menghadapnya, mau tak mau namja cantik itu membalikkan badannya juga menghadap eommanya, "Naah, begini lebih baik. Kau juga, Hannie."

Heechul merangkul anak dan suaminya erat hingga wajah ketiganya saling berdekatan.

"Aku seperti putri saja. Berada di tengah-tengah namja tampan."

"Eomma, diamlah. Joongie ingin tidur."

Heechul mengeratkan rangkulannya pada Jaejoong, walau rangkulannya itu lebih tepat disebut mencekik karena terlalu kuat, "Ya! Tak sopan kau.."

"Aww.. appo, eommaa.."

"Makanya jangan tidur dan dengarkan aku… Kau juga, Hannie."

Hankyung yang sebenarnya sudah setengah tertidur lantas membuka matanya lebar-lebar.

Heechul kemudian mengarahkan pandangannya ke atas seakan sedang menerawang, "Apa kalian menghitung sudah berapa lama kita tidak seperti ini?"

Jaejoong dan Hankyung menggerakkan jari-jari mereka seakan sedang menghitung sesuatu, dan Heechul menatap kedua orang di sampingnya sambil tersenyum, "Sudah lama sekali kan? Hingga tak terasa kau sudah sebesar ini." Heechul membelai kepala Jaejoong.

"Yeah.. dan aku pasti ditertawakan oleh Changmin, Yoochun, dan Junsu jika mereka melihat aku saat ini. Tapi…" Jaejoong merangkul pinggang Heechul dengan tangan kanannya, "Ternyata tak buruk juga."

Hankyung juga melakukan hal yang sama seperti Jaejoong, memeluk Heechul dengan tangan kirinya.

"Hannie…"

"Hmm?"

"Joongie.."

"Ne, eomma?"

"Kalian tau kan betapa aku menyayangi kalian?"

Hankyung dan Jaejoong mengangguk hampir bersamaan.

"Walau aku terkadang ragu karena eomma galak sekali padaku."

"Itulah ungkapan sayangnya padamu, Joongie." Ujar Hankyung.

"Nde. Kalian tentu tau aku bukan tipe orang yang suka berlaku manis."

"Dan bagi Joongie, eomma sangat keren karena hal itu.." gumam Jaejoong kemudian mulai memasuki alam mimpi.

Heechul yang melihat mata Jaejoong terpejam, membelai lembut kepala anaknya itu, "Jaljja.."

"Dia sudah tidur?"

"Hmm. Kajja kita juga tidur, Hannie.."

Hankyung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memandang Heechul dengan tatapan manja, "Bukankah banyak yang bisa kita lakukan sebelum tidur?"

"Ada Joongie disini.."

"Tidak masalah. Dia kan sedang tidur, tak mungkin tau."

"Andwaeyo. Tidur sekarang atau.."

Cepat-cepat Hankyung menutup matanya, "Nde, nde. Aku tidur sekarang."

.

~yunjae~

.

Suasana pagi di apartemen Yunho dan Jaejoong sangat tenang pagi ini. Jaejoong sedang berkutat di dapur menyiapkan sarapan, Heechul sedang duduk manis di sofa sambil menonton berita pagi dengan Hankyung duduk di sebelahnya sambil menyesap kopi hangat yang dibuatkan oleh istrinya.

Acara pagi itu menampilkan berita ditemukannya mayat yang mati mengenaskan kemarin malam. Perutnya terkoyak sampai seluruh ususnya terburai. Namun tak ada darah berceceran di TKP, diduga si pelaku mengambil seluruh darah mayat itu untuk suatu tujuan. Dan pelaku itu tak lain tak bukan adalah sang pembunuh berantai, si haus darah yang menjadi buronan sejak 20 tahun lalu.

Raut wajah Hankyung berubah sendu. Ia kemudian meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan tangan gemetar. Kini wajahnya tertunduk dalam. Perasaan bersalah dan menyesal mulai menyelimutinya. Heechul yang melihat perubahan tiba-tiba dari suaminya itu lantas mengulurkan tangannya untuk memegang pundak namja yang duduk di sebelahnya lalu mengelusnya perlahan sambil berucap lirih, "Yakinlah kita bisa menghentikannya."

"Simpan emosimu untuk nanti. Jangan biarkan Joongie melihatmu dalam keadaan begini, dan lagi menantu kita sebantar lagi datang. Tak mungkin kau menyambutnya dalam keadaan sedih 'kan?"

"Hmm.." Hankyung mengangguk kemudian mengelus tangan sang istri yang berada di pundaknya, "Gomawo."

Heechul tersenyum kemudian merangkul lengan kiri sang suami dengan kedua tangannya dan menyandarkan kepalanya pada Hankyung, "Sudah seharusnya kulakukan itu, Hannie."

"Eoh?" kaget Heechul saat melihat namja yang taka sing baginya berdiri tak jauh di hadapannya, "Kau yang waktu itu. Anneyoong.. apa kau salah rumah lagi?" Tanya Heechul bodoh pada namja tersebut sambil beranjak dari duduknya.

Sementara itu telah terjadi masa seperti waktu benar-benar sedang berhenti antara Yunho dengan Hankyung ketika mata kedua namja itu bertemu pandang. Tatapan sengit dilemparkan oleh keduanya.

"Eommaa.. appaaa.. sarapan sud.. eh? Yunho yah? Sudah pulang?" teriak Jaejoong yang sedang berjalan menuju ruang depan dimana ada Hankyung, Heechul, dan Yunho.

"Mwo? Yunho? Namja ini yang eomma lihat di depan rumah kita saat itu, Joongie. Kau bilang kau tak mengenalnya.."

Jaejoong menepuk kepalanya. Bodohnya ia tak menyadari itu. Ketahuan deh kalau ia berbohong saat itu. Matilah kau, Kim Jaejoong. Taring eommamu pasti akan keluar sebentar lagi.

Heechul mendekat ke arah Jaejoong sambil berkacak pinggang dan mata melotot, "Jelaskan.. pada.. eomma!" pintanya dengan nada penuh penekanan.

"Ss..so..soal itu, Joongie jelaskan nanti ne eomma. Sebaiknya kita ke meja makan dulu bersiap sarapan. Makanannya keburu dingin. La.. lagipula kasihan Yunho yang baru saja pulang, pasti lapar."

Heechul melirik Yunho sekilas, "Hmm.. arraseo." Kemudian berjalan cepat menuju meja makan karena ingin segera mendengar penjelasan dari anaknya, namun langkahnya terhenti saat melihat suaminya yang ternyata tak bergerak dari tempatnya, masih setia menatap Yunho sengit.

"Apa yang kau lakukan, Hannie? Kajja kita sarapan." Ujar Heechul sambil menarik paksa Hankyung menuju meja makan dan disusul oleh Jaejoong yang menarik Yunho.

"Saat itu hubungan kami belum resmi dan Joongie memang sedang menghindari Yunho." Jaejoong memulai ceritanya sambil menata meja makan dengan berbagai hidangan yang dimasaknya tadi, "tapi sejak Yunho ke rumah saat itu, ia menghilang begitu saja dan entah kenapa Joongie merasa kehilangan.", Jaejoong duduk di samping Yunho kemudian mengambilkan nasi untuk 3 orang di sana dan dirinya sendiri, "Barulah Joongie sadar kalau Joongie juga mencintai Yunho dan akhirnya kami resmi berhubungan." Jaejoong mengakhiri ceritanya bersamaan dengan sarapan yang benar-benar sudah siap disantap sekarang.

Mendadak raut wajah Heechul berubah, "Uwaaah.. manis sekaliii.." ujar yeoja cantik itu membuat Jaejoong sweatdrop di tempatnya.

"Lalu kenapa kau kabur saat melihatku?" Tanya Heechul pada Yunho yang langsung tersadar dari lamunannya (baca: terlalu fokus menatap Hankyung).

Hankyung yang juga penasaran atas jawaban Yunho, menatap mata bak musang itu.

"Mianhae, ahjumma. Saat itu saya hanya tak ingin menambah masalah dengan mengatakan yang sebenarnya. Lagipula saat itu saya belum tahu apa hubungan ahjumma dengan Jaejoong. Saya benar-benar minta maaf, ahjumma." Jawab Yunho sambil sesekali membalas tatapan Hankyung.

"Nde, nde. Tidak apa-apa, Yunho yah. Sekarang kajja kita sarapan."

"Tunggu.." cegah Hankyung, "Kenapa setelah itu kau tiba-tiba menghilang? Apa karena sudah tau hubungan Heechul dan Jaejoong, kau jadi menghindari anakku?" Tanya Hankyung sarkastik.

"Hannie, sudahlah. Kau seperti sedang menginterogasi tersangka saja. Ini bukan di kantor polisi. Jadi simpan semua pertanyaan tak bergunamu dan mulailah sarapannya karena setelah ini kita harus segera bersiap." Ujar Heechul.

"Kemana?" Tanya Jaejoong.

"Ke taman bermain. Kalian semua senggang kan hari ini?"

"A..aku ada kuliah hari ini, eomma."

"Hari ini Rabu, Joongie. Jangan kau pikir eomma lupa."

"Se..sepertinya Yunho tidak mau, eomma.."

"Benarkah? Kau tidak ingin ikut, Yunho yah?"

"Sepertinya itu menyenangkan. Aku ikut." Jawab Yunho.

Jaejoong memandang melas ke arah Yunho, berharap kekasihnya itu mengubah jawabannya. Tapi namja tampan itu tak menanggapi protesan Jaejoong dan tetap melanjutkan makannya.

.

~yunjae~

.

Hari sudah gelap saat Jaejoong, Yunho, Heechul, dan Hankyung selesai dari acara bersenang-senang mereka di taman bermain. Kini mereka sedang berselisih jalan karena Heechul dan Hankyung langsung pulang ke rumah mereka dan Jaejoong sedang bersama Yunho menuju mobil audi hitamnya.

"Kau menyetujui ajakan eomma dan bilang menyenangkan, tapi tadi kau sama sekali tak terlihat senang." Kesal Jaejoong.

"Aku senang kok."

"Tapi wajahmu datar begitu."

"Memang begini kan wajahku."

"Aiissshh.."

"Sudah jangan menggerutu. Kajja kita pulang secepatnya, karena setelah mengantarmu, aku harus pergi."

"Kemana?"

"Seperti biasa. Bisnis."

"Yasudah. Kau pergilah sekarang. Aku bisa pulang sendiri."

"Benarkah?"

"Hmm."

"Kalau begitu, hati-hati."

Cup

Yunho mengecup bibir Jaejoong sekilas.

"Nde, kau juga."

Yunho memasuki mobilnya kemudian audi hitam itu meluncur dengan mulus di tengah kota Seoul yang tanpa disadari oleh namja tampan itu bahwa mobilnya sedang diikuti oleh Hankyung dari belakang.

Saat sampai di sebuah kafe, audi hitam itu berhenti dan dari dalamnya keluar namja tampan bermata musang yang akan menemui seseorang di kafe tersebut.

TAP TAP TAP

Hankyung masih setia mengikuti Yunho dan mengambil tempat yang cukup dekat dengan kursi yang diduduki oleh kekasih dari anaknya itu. Betapa terkejutnya Hankyung saat matanya menangkap sosok namja yang duduk bersebrangan dengan Yunho sekarang.

'Jung Ji Hoo. Ada hubungan apa Yunho dengan dia?' batin Hankyung.

"Ada yang bilang melihatmu di taman bermain. Apa sekarang kau pergi ke tempat manis itu?" Tanya Ji Hoo dengan senyum miring.

"Hmm.. jadi aku dimata-matai ya."

"Hanya ingin mengawasi. Entah kenapa aku merasa akan terjadi hal buruk. Tapi ternyata hanya kecemasan semata saja. Aku sudah menyuruh mereka berhenti kok. Aku tau kau tak suka dimata-matai."

"Hmm. Yasudah, langsung saja ke pokok pembicaraan."

"Ah, nde. Ini.." Ji Hoo menyerahkan sebuah foto pada Yunho, "Seperti biasa, alat yang kau perlukan sudah disiapkan."

Yunho mengambil foto itu, "Cih, orang ini. Tak bisakah kau berikan padaku target yang sulit?"

"Apa katamu, Jung Yunho? Target sulit? Kau masih bau kencur.. bisa-bisa kau yang habis duluan jika kulakukan itu."

"Hmm, arraseo.." Yunho beranjak dari duduknya hendak meninggalkan tempat itu.

"Yunho yah, jangan sampai hanya karena taman bermain membuatmu lemah."

"Nde, appa."

DEG!

Bagai tersambar petir Hankyung saat mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Yunho itu. 'Appa? Jadi ia anak dari Ji Hoo? Ba.. bagaimana bisa?'

Hankyung menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian beranjak menuju pintu keluar bersiap mengikuti arah tujuan Yunho selanjutnya.

"Ada apa?" Tanya Ji Hoo heran karena tiba-tiba Yunho melihat sekeliling kafe.

"Sedari tadi aku merasa diikuti."

Ji Hoo memasukkan tangannya ke kantong jas dalamnya, menggenggam pistol yang tersimpan di sana, "Siapa?"

"Molla.." kembali Yunho memperhatikan seisi kafe dan akhirnya mata musang nan tajam itu tertumbuk pada sosok Hankyung yang ada di pintu keluar kafe, "Ah, sepertinya hanya perasaanku saja. Aku pergi ne, appa.."

.

~yunjae~

.

Yunho terus memperhatikan taksi yang mengikuti mobilnya dari belakang. Dengan cepat ia belokkan mobilnya ke gang yang cukup sepi dan sempit, membuat taksi yang ditumpangi Hankyung kehilangan pengawasannya terhadap audi hitam itu.

"Maaf, Hankyung-sshi. Kau harus kehilanganku sekarang."

Mobil Yunho berhenti tepat di ujung gang sempit itu. Disana sudah menunggu seorang namja paruh baya yang menjadi targetnya.

"Apa yang mau kau bicarakan, tuan kecil Yunho?" ujar namja paruh baya itu.

"Jangan panggil aku 'tuan kecil', pak tua."

"Hoo, berani menghinaku, bocah? Cepatlah katakan, apa urusanmu?"

"Aku ingin membunuhmu."

"Cih, memangnya bisa?"

"Tentu saja." Yunho mengambil sebilah pisau yang tersembunyi di salah satu sudut tempat itu. "Siapkan dirimu, pak tua."

"Jung Yunho.. apa yang kau lakukan?!"

TBC

a/n: aduuh, saya ngerasaaaa… chap ini gak banget -_- saya bener-bener minta maaf kalau hasilnya buruk banget. maaf kalau pendeskripsian di chap ini kurang dimengerti. Tapi saya harap readers mengerti alur chap ini. Gomawo buat yang baca ^^

Balasan review:

irna. lee. 96: hmm, jawabannya mungkin iya, mungkin tidak. Nanti akan terjawab di chap" selanjutnya. Ini bukan mpreg :) jgn bikin emak menderita? Saya gak janji, hehe.. Gomawo ne reviewnya^^

littlecupcake noona at chap 2: umur Yunho? Nanti dikasih tau :) kenapa ya? Coba Tanya sm orangnya langsung, hehe.. Gomawo ne reviewnya^^

littlecupcake noona at chap 3: haha, iya.. kita liat aja ya apa yang akan dilakukan Yunppa. Gomawo ne reviewnya^^

cminsa: bukan tokoh penting tentunya. Sip ini dilanjut. Gomawo ne reviewnya^^

everadit: cinta dan dosa? Emang pernah ada judul film kayak gitu? Hmm, kali ini bukan ortu Jaemma targetnya. Haha, kan beruang mecumnya cakeeep, makanya Jaemma langsung terpesona xD Gomawo ne reviewnya^^

kim anna shinotsuke: hehe.. Yunho kan rajin menerkam, hohoho.. Gomawo ne reviewnya^^

jongindo: ini dilanjut :) Gomawo ne reviewnya^^

dex indra: ada atau enggaknya nanti terjawab. Makasih udah penasaran dan Gomawo ne reviewnya^^

Guest: (Ehmmm rate M... tp..tp.. di skippppp..hihihi
Aq jdbingung nih.. klo pmbumuh itu yunho. .hrsny heechul kenal khan? Nah.. tp jni kyny yunho yg ajayg tau.. dan skrg yunho d srh sm appany nyelidikin HanChul. Sbnrny yg skrng mau d bunuh siapa? Hanchul? Mollaaaaaa... biar jls ayo author nim update lgeeer). haha, skip adegan ranjang ya? Saya gak kuat bikin begituan(?) xD rate M karena perkataan di sini menjurus pada kekerasan :) yang dibunuh kali ini bukan hanchul kok. Iya ini diupdate. Gomawo ne reviewnya^^

dienha: kyaa, *ikut teriak. Bukan, karena targetnya kali ini bukan tokoh penting dalam cerita ini :) jaejoong gak kabur kok. Gomawo ne reviewnya^^

LoveBoo: dasar editor geblek.. bikinin kalo mau, hahaha. Gomawo ne reviewnya^^

Guest: (ok sip dlnjut
jgn ngaret thor :p) bawel nih :p Gomawo ne reviewnya^^

Kuminosuki: sip ini dilanjut. Haha, iya.. Gomawo ne reviewnya^^

Guest: (wuaaa jd yunpa org jahat ya
kasian jaema kn klo ortu ny d bnh). Iya :) Gomawo ne reviewnya^^