It's a Tale, so It's a Life

Terinspirasi dari novel "Goodbye Happiness" karya Arini Putri.

Naruto © Masashi Kishimoto

Pair: NaruFemSasu

Rated: T

Genre: Romance

Warnings: typo(s), AU, DON'T LIKE DON'T READ

part 4

Langkah ringanku terhenti saat kedua mataku menangkap dua sosok taka sing bagiku. Mataku membulat ketika menyadari dua sosok yang berhadapan itu adalah Naru dan.. Hyuga Hinata.

Aku tak dapat bergerak selangkahpun. Aku juga tak dapat mengalihkan pandanganku dari mereka. Koridor apartemen yang hening membuat suara mereka terdengar begitu jelas.

"gomawo, Naruto. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadaku tanpa kau saat itu,"ujar Hinata.

Naru tersenyum tipis. Dalam hati, aku tak dapat merelakan senyuman itu dibagi dariku. "sudah seharusnya aku melakukan itu. Tapi kau tidak apa-apa kan noona? Tidak terluka?" tanya Naru sambil memperhatikan Hyuga Hinata.

Beberapa detik kemudian, pemandangan itu membuatku tercekat. Hyuga Hinata bergerak mendekat dan memeluk Naru erat. Air mataku tiba-tiba saja jatuh tanpa permisi. Dan, aku tidak memiliki kekuatan untuk menghapusnya. Aku hanya membiarkannya mengalir deras sambil menatap Naru yang berada dalam pelukan Hyuga Hinata.

Rasanya aku ingin menangis sekeras mungkin. Aku hanyalah anak kecil yang tak siap menghadapi ini semua. Aku ingin berteriak agar semua orang tahu. Aku tidak baik-baik saja.. aku tidak baik-baik saja..

Aku membenci waktu yang perlahan mengubah diriku dan Naru. Kami sekarang bahkan seperti orang asing. Naru yang kukenal lebih menyukai susu coklat hangat dibanding minuman keras. Naru yang kukenal lebih memilih permen strawberry daripada sebatang rokok. Naru yang kukenal, bukan Naru yang tengah bersandar dipundakku.

"oh,dengan siapa dia?bukankan dia dekat dengan Akasuna Sasori?"bisik dua gadis muda yang barusaja berpapasan dengan kami. "ternyata, memang gadis yang suka menggoda laki-laki."

Tanpa aba-aba, Naru yang bersandar dipundakku terbangun dan melayangkan tinjunya kearah gadis itu.

"Aaaa!"gadis itu berteriak saat terjatuh ditanah.

"Naru!"teriakku lagi sambil menahan tubuh Naru yang terus berusaha menyerang gadis-gadis itu.

"pergilah,cepat!"serunya pada gadis-gadis itu. Mereka segera berlari menjauh secepat mungkin. Tubuh Naru masih sangat tegang. Aku memeluk lengannya erat-erat berusaha meredakan emosinya.

"Naru, mereka perempuan,"ujarku berusaha mengingatkan. Tubuh Naru masih terasa amat tegang. Dia menatapku dengan pandangan khawatir. Udara dingin tiba-tiba saja terasa terasa begitu menusuk tubuhku. Tanpa berpikir panjang, segera kulingkarkan kedua tangan disekitar tubuh Naru. Tubuh Naru yang tegang perlahan menenang. Aku menikmati angin yang berembus disekitar kami. Untuk kali ini saja. Mungkin saja ini pelukan terakhirku dengannya. Dengan lelaki yang amat kucintai, Naru.

Tanpa sadar, sebuah senyuman terukir diwajahku. Ya, semua yang terjadi bukanlah mimpi segalanya memang telah berubah perlahan hingga aku tak menyadari kapan itu dimulai. Sebelumnya, aku hanya gadis remaja biasa yang bermimpi menjadi aktris. Kini, aku berhasil berada diatas panggung bersama para kru, menerima penghargaan. Sebelumnya aku tak pernah membayangkan dapat tersenyum dengan nyaman bersama lelaki lain selain Naru. Namun kini Sasori berhasil membuatku tak menepis tangannya.

Tiba-tiba, perhatianku teralih pada keramaian dipinggir jalan. Orang-orang berkerumun dengan mobil polisi yang ikut terparkir disana. "apa terjadi sesuatu?" tanya Sasori penasaran.

Mataku tak dapat beralih dari kerumunan itu. Bahkan, aku berusaha sedikit berjingkat untuk mengetahui apa yang berada dibaliknya. Kedua mataku berhasil menangkap bahunya yang berlumuran darah. Mataku terbelalak. Tak tahu apa yang terjadi, tetapi jantungku tiba-tiba saja berdegup dengan amat cepat.

"Sasori-san,hentikan mobilnya!" seruku panic. Sasori menatapku heran. "cepat,aku ingin melihatnya. Tolong, Sasori-san!"pintaku sebelum Sasori sempat berkata apa-apa.

Aku segera berlari mendekat setelah keluar dari mobil. Kerumunan itu cukup padat, aku harus berusaha sedikit keras untuk menembusnya. Seketika, tubuhku melemas saat melihat sosok yang tergeletak diatas tandu. Darah masih mengalir dari dahinya. Sosok itu mengerang kesakitan sambil tah dapat melakukan apapun. Tubuhku membeku sesaat. Aku tak bisa melakukan apapun selain berharap semua yang kulihat hanya mimpi.

"Naru!" seruku sekeras yang kubisa, mencoba memanggil namanya.

"kami tidak bisa menjelaskannya secara detail karena masih dalam proses mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, benturan yang terjadi membuat saraf dan pembuluh darah diotaknya terganggu. Namun, efek yang kita temukan, pasien mengalami distorsi memori."

"memori?"

"ya, pasien akan mengalami kemunduran daya ingat secara perlahan. Untuk saat ini, belum terlalu terlihat. Namun, memori jangka pendeknya mulai melemah. Sebenarnya, penyebabnya tidak hanya kecelakaan ini. Kami menemukan sebelumnya telah terdapat benturan keras dikepalanya sebelum kecelakaan ini. Benturan itu tidak tertangani dengan baik sehingga beberafa saraf sulit untuk pulih."

"tapi masih ada kemungkinan untuk sembuh, bukan?"

"kami akan mengusahakan hal itu, tapi kami belum bisa memastikan. Namun, melemahnya memori sudah ditunjukan sbelum kecelakaan ini, kecelakaan ini hanya memperparah kondisinya dan kemungkinan mempercepat kemunduran memorinya. Perlahan pasien dapat kehilangan memori jangka panjangnya. Itu artinya, suatu hari dia tidak akan ingat apapun."

Aku duduk dengan tangan mengepal. Sekujur tubuhku tegang. Penjelasan dokter yang tak pasti membuat seluruh tubuhku terasa lemas. Perutku bahkan berputar hingga membuatku mual, kepalaku terasa sakit seakan dihantam oleh batu besar. Bagaimanapun rasanya sulit untuk menerima apa yang telah terjadi.

"Tink.."suara lemah itu membuaku kembali mengangkat wajah dengan cepat. Kutemukan Naru yang menatap kearahku dan tersenyum tipis. "Tink, kenapa kau menangis?"tanyanya lirih.

Tanpa berpikir panjang aku segera memeluk tubuhnya. Naru merintih pelan, tubuhnya masih terlalu lemah untuk ku peluk erat. "Tink, kenapa aku ada disini? Memangnya aku kenapa?"tanyanya dengan nada bingung. "ah kecelakaan mobil itu?"ucapnya setelah berusaha mengingat.

Aku tak sanggup mengatakan kepada Naru, bahwa kecelakaan itu sama sekali tak melibatkan mobil. Kecelakaan itu melibatkan dua motor yang tengah elakukan balapan liar. Naru, bagaimana caranya aku mengatakan padamu, bahwa mungkin nantinya kau tidak akan mengingat apapun lagi?

"tinggalin aku, Tink,"ucapnya tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya. Aku menatapnya lekat. Sama sekali tak mengambil langkah untuk meninggalkannya. "tinggalkan aku, Tink. Aku ingin sendiri dulu!"serunya keras.

"kau pikir aku bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Tidak akan, Naru,"ucapku berusaha melawan keinginannya. Aku benar-benar tak ingin meninggalkannya. Aku takut sekali saja aku pergi, aku tak akan pernah bisa kembali lagi kepelukannya. Dan aku tak mau itu terjadi.

Naru menarik napas dalam-dalam. Kulihat bahunya bergetar dan bahunya semakin lemah. Segalanya akan lebih berat nantinya, dan pada saat itu aku juga ingin melangkah disamping Naru. Seandainya nanti Naru tak mampu lagi mengingat apapun, aku akan tetap berada disampingnya, dan tak bosan menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya. Aku akan menyimpan segala memori Naru. Aku aka terus menjaganya.

Malam itu, aku tertidur dipinggir ranjangnya. Tanganku menggenggam tangannya dengan sangat erat. Aku tak ingin dunia yang berubah membuat kami berpisah. Aku ingin terus bersamanya. Bersama Naru.

"Naru, aku bawain kamu… Naru!" aku berteriak panic saat melihat Naru sedang membentur-benturkan kepalanya ditembok sebelah ranjangnya. Aku segera berlari kearahnya dan berusaha menahan tubuhnya. Naru masih berusaha membenturkan kepalanya. Aku melihat wajahnya basah oleh keringat dan airmata.

Naru mengerang saat aku menarik tubuhnya. Aku segera memeluknya erat, berusaha menahannya. "aku tidak bisa mengingatnya. Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Aku harus ingat. Aku harus ingat,"gumamnya berkali-kali disela tangisnya.

"jangan Naru! Kau tidak harus memaksakan diri,"ucapku berusaha menekan tombol panggilan dokter.

Naru berusaha menolakku dan membenturkan kembali kepalanya. "jangan Naru! Jangan! Aku mohon, jangan. Berhenti Naru,"ucapku sambil menangis dipundaknya.

Naru menangis keras. Dia menenggelamkan wajahnya dalam pelukanku. Dia terisak keras. Tangisan yang sama saat Naru menangis diam-diam saat pemakaman ibunya. Tangisan yang sama yang membuatku mengadari bahwa Naru hanyalah manusia biasa. "aku tidak bisa mengingatnya, Tink. Aku tidak bisa,"gumamnya tanpa henti. "aku tidak bisa mengingat bagaimana kita bertemu."

Tubuhku membeku saat mendengar ucapannya. Pertemuan pertama itu. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Bagaimana Naru muncul dan memotretku tiba-tiba, aku masih merekam segalanya dalam otakku. Aku melempaskan pelukanku dan menatapnya.

TBC