RUNAWAY
(PELARIAN)
HUNKAI
NOVEL ASLI KARYA RL.STINE
Warn
1. Setting cerita berada di amerika
2. Kai adalah Nama samaran Jongin
Don't forget to review this story
Chapter 4
"APA?" Jongin tersentak.
"Itu kecelakaan!" kata Sehun. "Jangan memandangku seperti itu. Itu cuma kecelakaan!"
"Apa maksudmu?" tuntut Jongin. "Entah Vic membunuhnya atau tidak, pilih salah satu."
"Ia tidak bermaksud begitu," jawab Sehun. "Aku tahu ia tidak bermaksud membunuh Nickhun."
"Apa yang terjadi?"
"Ceritanya panjang."
"Yang benar saja, Sehun," kata Jongin dengan marah. "Mula-
mula kau katakan Vic membunuhnya. Sekarang kau mengatakan itu cuma kecelakaan. Kau harus menjelaskannya."
Sehun mendesah. "Nickhun tewas dua tahun yang lalu. Vic tidak bersekolah untuk waktu yang lama. Ia harus dirawat psikolog dan menjalani sekolahnya dengan tutor. Orang tuanya kaya, kau tahu?
Pokoknya, kami mulai pacaran sekitar enam bulan yang lalu."
"Tapi apa yang sebenarnya menimpa Nickhun?" desak Jongin.
"Sebentar lagi kuceritakan," sergah Sehun. "Vic dan Nickhun mulai berpacaran sejak kelas tujuh. Itu lima tahun yang lalu, Kai. Hai, kencan pertamaku bahkan baru di kelas dua SMU! Semua orang mengira Vic dan Nickhun benar-benar serius. Tapi lalu Nickhun bosan atau
entah kenapa."
"Ia berselingkuh?" tanya Jongin.
"Aku tidak tahu pasti," jawab Sehun. "Tidak ada yang tahu. Ia keluar dengan gadis bernama Kwon Yuri. Keluarga Kwon
sudah lama pindah dari kota ini. Tapi tidak ada yang tahu pasti apakah waktu itu Nickhun sudah memutuskan hubungannya dengan Vic atau
belum."
Jongin mengangguk.
"Tidak penting bagaimana kejadian yang sebenarnya," lanjut Sehun. "Pokoknya, Vic mengetahui hubungan mereka."
"Dan ia meledak," kata Jongin.
"Yeah. Bisa dikatakan begitu. Nickhun menemui Vic di rumahnya keesokan malamnya. Kurasa ia merasa tidak enak dan ingin meminta maaf kepada Vic. Ia tampaknya cowok yang baik, kau tahu? Bukannya cowok yang suka berselingkuh. Pokoknya, mereka bercakap-cakap di balkon rumah Vic. Kau tahu mana yang kumaksud?"
"Yeah, aku sudah melihatnya," jawab Jongin.
"Mereka lalu bertengkar tentang Yuri, kurasa. Vic marah besar. Ia memukuli Nickhun. Nickhun mencoba mendorongnya agar menjauh dan tanpa sengaja membenturkan kepala Vic ke pintu. Vic murka. Ia balas mendorong."Sehun terdiam sejenak. "Lalu Nickhun kehilangan keseimbangan," katanya dengan suara pelan.
"Ia jatuh," kata Jongin menyimpulkan. Ia merasa perutnya melilit.
"Yeah... tapi bukan itu yang menyebabkan ia tewas."
Jongin merasa kebingungan. "Jadi apa yang menyebabkan ia
tewas?"
Sehun menelan ludah dengan susah payah. "Kau tahu pagar besi yang mengelilingi rumah Vic?"
Jongin menutup mulutnya. Ia bisa membayangkan pagarnya... Dari besi, dengan ujung-ujung yang tajam.
"Empat batang di antaranya menembus punggung Nickhun" bisik Sehun. "Satu lagi menembus lengan kirinya." Ia berdeham. "Menurut berita di TV, ia tidak langsung tewas."
Jongin gemetar. Cara yang mengerikan untuk mati.Dan Vic bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Jongin hampir bisa membayangkan Vic berdiri di atas tubuh Nickhun yang tertembus pagar. Melihat cowok tersebut saat ia sekarat. Saat darah
menyembur dari dadanya. Saat mulutnya berusaha meneriakkan permintaan tolong—tapi terhalang oleh darah.
Jongin melipat tangan di dadanya. Nickhun mungkin melihat ujung-ujung pagar besi mencuat dari dadanya. Tahu kalau Vic tengah berdiri di dekat situ. Tahu kalau dirinya akan meninggal.
Mengerikan sekali. Mengerikan bagi Vic. Jongin tahu
bagaimana rasanya hidup dengan beban kesalahan atas kematian orang lain.
Tidak ada gunanya meyakinkan diri sendiri kalau itu hanya
kecelakaan. Tidak ada gunanya mengatakan kalau kau tidak
bermaksud begitu.
"Sekarang kau mengerti mengapa aku tidak bisa memutuskan hubungan kami," kata Sehun lembut. "Aku tidak bisa membiarkan Vic mengalami peristiwa itu lagi. Tidak sekarang. Ia belum cukup kuat. Ia bahkan tidak bersekolah selama setahun penuh."
Foto dalam buku tahunan kembai melintas dalam benak Jongin.
Ia teringat bagaimana setiap inci dari foto Nickhun ditutup dengan darah.
Ditutup dengan hati-hati. Ditutup dengan rapi. Tidak setetes pun yang mengenai wajah Vic.
Ia menghapus Nickhun dari hidupnya, pikir Jongin. Ia sudah membohongiku tentang berapa lama hubungannya dengan Sehun.
Apa Vic sedingin itu? Sekejam itu? Mungkinkah Vic memang
berniat untuk membunuh Nickhun?
Kalau benar, kalau Vic memang membunuh Nickhun... apa yang
akan dilakukannya terhadapku? pikir Jongin.
Ia menggosok-gosok lengannya. Seluruh tubuhnya terasa dingin.
Kukira pesan-pesan itu dari seseorang yang mengetahui masa laluku. Seseorang yang ingin membalas perbuatanku terhadap Taemin dan Minho.
Ia menghela napas, tersendat-sendat. Tapi aku keliru. Pasti Vic yang telah mengirim pesan tersebut. Pasti ia yang telah mengaduk-aduk ruang belajar Dr. Eric.
Vic tidak peduli dengan masa laluku. Ia cuma peduli dengan
Sehun. Ia pasti berusaha menakut-nakuti diriku agar menjauhi Sehun.
Tapi aku tidak pergi.
Jongin menyambar lengan Sehun. "Pasti Vic yang telah
mengirimkan surat-surat ancaman itu. Ia mencemburuiku sejak awal. Ingat? Ia menodongkan pisau jagal itu kepadaku dan menyuruhku menjauhi dirimu. Kukira itu cuma lelucon konyol."
Jongin berbicara semakin lama semakin cepat, kuku jemarinya menusuk daging lengan Sehun. "Tapi Vic serius. Sekarang ia akan mengejarku. Ia akan membunuhku sama seperti ia membunuh Nickhun!"
"Hentikan! Vic tidak membunuh Nickhun. Sudah kukatakan kalau itu cuma kecelakaan," jerit Sehun. "Mula-mula kau pikir ada ilmuwan yang mencoba melacakmu. Sekarang kau mengira Vic hendak membunuhmu. Cobalah untuk melihat kenyataan, oke?"
Jongin melepaskan cengkeramannya. "Baik," katanya. "Tapi ada yang menaruh surat itu dalam lokerku. Ada yang menuliskan
ancaman di dinding. Kalau bukan Vic yang melakukannya, lalu siapa?"
"Aku tidak pernah melihat satu pun pesan-pesan itu," gumam
Sehun.
Jongin merasa matanya panas. Ia mengedip-ngedipkannya
untuk menghalangi air mata yang telah siap untuk tumpah. Kalau Sehun tidak mempercayainya, tak apa. Ia sudah biasa sendirian. Ia tidak
memerlukan Sehun.
"Sudah waktunya untuk bekerja," katanya. "Eunhyuk akan kemari dalam tiga puluh detik sambil berteriak-teriak kepada kita."
"Kau harus berjanji satu hal lebih dulu."
"Apa?" Jongin memegang tangkai pintu. Ia ingin meninggalkan Sehun sekarang juga.
"Jangan sampai Vic tahu kalau aku sudah menceritakan semua ini padamu."
"Aku berjanji," jawab Jongin datar. Ia tidak akan membiarkan Sehun mengetahui seberapa parah cowok itu telah menyakitinya. "Vic tidak akan pernah tahu."
"Tahu apa?" Mereka mendengar suara Vic, sarat dengan
kemarahan.
"Vic!" kata Sehun. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Vic membungkuk dan menatap mereka melalui jendela di
samping Jongin. "Eunhyuk memintaku datang lebih awal," jawabnya dingin. "Kurasa aku tiba tepat pada waktunya."
Jongin mencoba untuk tersenyum. "Hei, bagaimana kabarmu?" tanyanya, berharap Vic tidak mendengar terlalu banyak.
Vic menggeleng. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Vic
tidak akan tahu tentang apa?"
Jongin melirik Sehun. Sehun tampaknya tidak tahu harus berkata apa. Cepat berpikir, katanya sendiri.
"Sehun meminta nasihatku tentang sesuatu," sembur Jongin.
Kuharap Sehun bisa bekerja sama dengan baik, pikirnya.
"Nasihat?" Vic mencibir. "Nasihat macam apa yang bisa
kau berikan padanya?"
"Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat yang istimewa,"
kata Sehun. "Kupikir Kai mungkin punya gagasan bagus tentang itu."
"Apa?" sergah Vic, seakan itu hal terbodoh yang pernah
didengarnya.
"Kita sudah lama tidak bepergian. Kalau tidak bertemu di sekolah, kita bertemu di tempat kerja," kata Sehun menjelaskan. "Aku ingin merencanakan sesuatu yang menyenangkan."
Vic tidak mengatakan apa-apa.
Apa ia percaya? Jongin penasaran.
"Kai bahkan setuju untuk menggantikan giliranmu agar kita bisa libur pada malam yang sama," tambah Sehun.
"Kejutan!" jerit Jongin.
Jongin menatap Vic. Apa kau yang selama ini mengancamku? pikirnya. Apa kau orangnya?
"Itu saja?" kata Vic pada akhirnya. "Itu rahasia besar yang seharusnya tidak boleh kuketahui?"
"Menurutmu apa?" tanya Sehun jengkel.
"Maaf." Vic menggigit bibirnya. "Kurasa aku harus berhenti
bersikap terlalu curiga."
"Sudah pasti," jawab Jongin. "Kita teman, bukan?"
Jongin turun dari mobil.
Vic bergegas mendekati Sehun dan memeluk pinggangnya.
"Bagaimana kalau kita semua merayakannya dengan masuk ke dalam dan melempari pengunjung dengan lemak?" tanya Sehun.
"Kedengarannya bagus," kata Jongin.
Sehun dan Vic mendului berjalan ke pintu belakang Burger Basket. Saat melangkah masuk, Sehun memandang ke balik bahunya.
"Terima kasih," katanya tanpa suara kepada Jongin.
Jongin mengangguk. Kurasa kita semua kembali berteman,
pikirnya. Sampai aku tahu yang sebenarnya tentang Vic.
"Apa burger ini sama dengan yang di gambar?" tuntut seorang pembeli. "Kurasa tidak!"
Jongin mendesah. Apa malam ini bulan purnama, atau apa?
pikirnya. Semua orang yang datang kemari malam ini benar-benar menjengkelkan.
Ia memberikan sebuah burger baru kepada orang tersebut. Lalu menuang segelas besar Diet Coke untuk dirinya sendiri.
"Aku mau istirahat," gumamnya kepada Vic sambil menuju ke ruang belakang.
"Tolong beritahu Eunhyuk, oke?"
"Oh, Kai, tunggu!" panggil Vic, tanpa berpaling, sambil
menuangkan setumpuk kentang goreng ke alat penghangat. "Sebelum beristirahat, bisa kau ganti dulu bohlam lampu di gudang? Yang itu sudah terbakar."
Jongin berusaha untuk tidak mendesah. "Bukan masalah."
"Trims," jawab Vic.
Jongin mengalihkan langkahnya menuju ke gudang. Ia mencari-
cari bohlam lampu. Lalu mengambil tangga logam dan
mengangkatnya ke tengah ruangan.
Ia mendengar suara seperti siraman air sewaktu berjalan. Lalu merasakan sepatunya basah. Ada yang menumpahkan ember untuk mengepel dan—seperti biasa—tidak mengepelnya. "Bagus," gumam
Jongin. "Siapa yang ceroboh kali ini?"
Aku tidak akan mengepelnya, pikirnya. Biar mereka yang
membersihkannya sendiri. Ia membuka tangga lipatnya, memastikan kalau posisinya telah mantap, dan naik ke atas, membawa bohlam lampu baru di satu tangan. Jongin berdiri pada ujung jemari kakinya
di tangga, menjulurkan tangan untuk mengambil bohlam lampu lama.
Ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya dalam kegelapan gudang.
Tangannya menyentuh bohlam. Bohlam tersebut terayun-ayun pada kabelnya yang panjang. Jongin berusaha meraihnya.
Bunga api meletik dari kabel tersebut. Jongin terlonjak dan menjatuhkan bohlam lampu yang baru. Bohlam tersebut mengenai lantai yang basah dan pecah berantakan.
Bau plastik terbakar yang tajam menyengat hidungnya. Ia mendengar dengungan dari atas kepalanya. Dan mendengar derakan lembut
Jongin turun selangkah. Pandangannya menangkap sesuatu yang mengilat: Mirip tembaga.
Ia menyadari kalau kabelnya telah terkelupas. Itu sebabnya
bohlam yang lama padam, ada yang mengiris kabelnya.
Kepanikan menerobos dirinya.
"Aku harus keluar dari sini," bisiknya. Ia melompat turun dari tangga, sepatunya mencipratkan air ke mana-mana saat mendarat dan menginjak pecahan kaca. Ia melangkahmundur, lututnya terasa lemas. Air di lantai... kabel yang terkelupas... tangga logam.
Aku bisa terpanggang!
Jongin berbalik dan bergegas menuju ke kotak sekring dekat pintu keluar. Ia harus memutuskan aliran listrik sebelum ada yang
terluka.Ia membuka pintu kotak sekring dan mempelajari labelnya.
Gerakan di sudut matanya menyebabkan ia tersentak dan berpaling. Dan melihat Eunhyuk melangkah masuk ke dalam gudang.
"Kenapa di sini gelap?" omel Eunhyuk.
Ia meraih rantai untuk menghidupkan lampu.
"Eunhyuk —jangan! " jerit jongin.
Eunhyuk tidak berhasil meraih rantai, dan justru memegang
kabel yang terkelupas.
Cahaya putih yang terang benderang meledak dari dalam
ruangan. Udara bagai mendesis-desis.Eunhyuk menjerit kesakitan. Sengatan listrik melontarkannya ke
seberang ruangan—dengan kabel listrik masih dalam genggamannya.
Ia menghantam rak logam tempat persediaan makanan.
Kabelnya meletikkan bunga api sewaktu menyentuh logam.
Jongin menatap tubuh Eunhyuk yang terkulai. Pada asap yang
mengepul dari rambut dan pakaiannya.
"Ada apa?" ia mendengar suara Sehun.
Jongin seketika beraksi. Ia meraih sakelar aliran utama. Bunga api berloncatan dari dalam kotak sekring. Ia menarik tangannya.
"Keluarkan semua orang dari sini—sekarang!" teriaknya pada Sehun. "Kabelnya terbakar. Tempat ini akan terbakar sebentar lagi."
Ia lari ke belakang meja. "Pergi!" teriaknya kepada wanita pirang yang berdiri di depan antrean.
Terlambat.
Jongin membeku. Ia tidak mampu berlari. Tidak mampu
bergerak. Bulu-bulu di lengan-nya berdiri tegak.
Aliran listrik melesat melalui kabel-kabel restoran.
Lampu-lampu neon meledak satu per satu. Kepingan-kepingan setajam pisau cukur berhamburan ke mana-mana.
Api menyembur dari steker-steker.
Laci mesin kasir tersentak membuka. Uang-uang kertas dan koin berhamburan keluar.
Vic berjongkok di lantai, menutupi kepala dengan lengannya.
Jongin hanya bisa terpana. Ia mengikuti kerusakan dari satu
lampu ke lampu berikutnya dengan pandangannya, hingga seluruh restoran.
Lalu pandangannya terpaku pada deretan microwave—dan pada Sehun yang tengah berdiri tepat di depannya.
"Sehun! Pergi!" jerit Jongin.
Sehun berlutut. Aliran listrik menghantam deretan microwave. Peralatan tersebut meledak. Makanan, plastik terbakar, dan serpihan kaca
menghujani Sehun.
Lampu-lampu alat pemanas. Jongin sadar kalau lampu-lampu tersebut giliran berikutnya. Sebelum ia mampu memberi peringatan, lampu-lampu tersebut meletup.
Bunga-bunga api putih yang sangat panas menghujani alat
pemanggang.
Minyak pun menyembur menjadi tiang api. Jongin mendengar
seseorang mengerang ngeri.
Sepotong langit-langit yang menyala jatuh dan menghalangi pintu masuk.
Adrenalin membanjiri pembuluh darah di tubuh Jongin. Keluar!
ia memerintah sendiri. Keluar sekarang!
Eunhyuk! pikirnya. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Ia mungkin cuma sekadar pingsan. Ia bisa mati terbakar.
Ia melesat ke gudang, kakinya sulit menjejak dengan mantap di lantai yang basah. Ia melihat Eunhyuk telentang di lantai, tidak bergerak.
Jongin berlutut di sampingnya dan menyelipkan lengannya di
bawah punggung Eunhyuk.. Ia berjuang untuk memberdirikan Eunhyuk.
Eunhyuk terlalu berat!
Jongin menurunkannya kembali ke lantai. Ia menghela napas
panjang. Asap tebal terasa membakar tenggorokan. Mengisi paru-parunya. Ia tercekik.
Seseorang menerobos asap mendekatinya. Sehun!
"Kau tidak apa-apa?" teriaknya.
"Bantu aku mengeluarkan Eunhyuk dari sini," balas Jongin.
"Tubuhnya terlalu berat."
"Tarik!" kata Sehun. "Pegang kakinya. Tarik ke pintu belakang! Aku mau mencoba mendobrak pintu depan. Orang-orang perlu bantuan untuk keluar."
Jongin meraih kaki Eunhyuk. Ia menyadari kalau kaki Eunhyuk
telanjang. Sengatan listrik telah melontarkannya lepas dari sepatunya!
Jongin menarik dengan seluruh kekuatannya. Tubuh Eunhyuk
mulai bergeser.
Hanya beberapa langkah dari pintu, pikirnya. Tarik! Tarik!
Tarik! Asap bergumpal-gumpal menyerbu matanya. Setiap tarikan napasnya serasa membawa lebih banyak asap—dan semakin sedikit oksigen.
Warna-warna terang mulai menari-nari dalam pandangan
Jongin. Ia merasa pusing. Tubuhnya serasa bergoyang-goyang.
Tidak bisa, pikirnya. Tidak bisa.
Lalu ia merasakan selot logam mengenai punggungnya. Selot
yang melintang di tengah pintu belakang.
Kelegaan membanjiri Jongin. Ia menghantamkan seluruh berat
tubuhnya ke pintu. Pintunya melayang membuka.
Momentumnyamembawa Jongin keluar. Ia menyeret Eunhyuk keluar bersamanya. Ia terjatuh ke lantai semen dekat tong sampah. Terengah-engah,
ia berjuang mati-matian untuk mengisi paru-parunya dengan udara.
Kekuatannya pulih seiring tarikan napasnya. Berhasil! Aku masih hidup!
Tapi Sehun masih di dalam.
Jongin menatap dinding api yang sekarang menghalangi pintu belakang. Menjulang tinggi akibat semburan oksigen melalui pintu yang terbuka.
Aku tidak akan bisa kembali ke sana. Mustahil.
Lalu sebuah gagasan melintas dalam benaknya.
"Aku harus pergi, Eunhyuk," katanya dengan muram, walaupun tahu kalau Eunhyuk tidak akan bisa mendengarnya. "Kuharap kau selamat."
Ia bangkit berdiri dan melesat. mengitari Burger Basket. Asap
menghalangi setiap jendela. Api menjebol langit-langit di beberapa tempat.
Jongin tahu mati-hidupnya setiap orang yang berada di dalam restoran tergantung pada tindakannya. Ia tidak boleh gagal.
Ia menghela napas panjang dan lari ke pintu samping yang
membuka langsung ke ruang makan. Daging jemarinya seketika terpanggang saat menyentuh tangkai pintu, tapi ia tidak memedulikan sakitnya dan masuk ke dalam.
Api bagai dituangkan dari dapur melintasi langit-langit. Bara
api besar mengambang di udara. Ingat rumah pantai tua, katanya sendiri. Kau bisa
melakukannya.
Kali ini ia menginginkan kekuatannya. Ia menginginkan semuanya.
Jongin berdiri diam. Panas bagai mengiris-iris kulitnya. Asap membakar matanya, menerobos masuk ke paru-parunya bersama setiap tarikan napas.
Ia memejamkan mata dan membayangkan apinya.
Jongin mendorongnya dengan segenap tenaganya, merasakan kekuatannya menggelegak di seluruh tubuhnya.Dan dalam benaknya, api mulai menyurut mundur. Asapnya
berkurang. Udara terasa lebih sejuk.
"Apa yang terjadi?" terdengar seseorang berkata dari tempat makan. "Apa yang sedang dilakukan orang itu?"
"Persetan!" teriak yang lain. "Aku mau keluar!"
Jongin membuka matanya. Ia maju selangkah, memerintahkan kekuatannya untuk mendorong lidah api ke belakang. "Vic! Sehun!"
jeritnya. "Sehun! Jawablah!"
Seorang pria jangkung menerobosnya. "Keluar dari sini! Apa kau sudah sinting?"
Jongin mendorong semakin kuat. Lidah api bergetar dan
berusaha melawan. Jongin tiba di gerai depan. Bagian atas meja yang terbuat dari
plastik mulai menggelembung. Asap kuning membubung dari situ.
Jongin merasa tercekik. Tidak. Kemarahannya bangkit. Jangan berhenti sekarang!
Ia memejamkan mata dan memaksa lidah apinya menyusut.
Melalui asap ia melihat sekelompok orang yang terhuyung-huyung mendekatinya. Ia mengumpulkan kekuatan lagi—dan mengarahkannya kepada orang-orang tersebut. Ia mendorong mereka maju. Dan mendorong lidah api ke belakang.
Api balas mendorongnya dengan kuat. Jongin tahu kalau
kekuatannya tidak bisa menahan lebih lama lagi.
"Lari!" teriaknya. "Lari! Keluar dari sini! Pergi!"
Sehun dan dua orang remaja lain terhuyung-huyung menerobos asap. "Bagaimana dengan dirimu?" teriak Sehun.
"Pergi saja dulu!" perintahnya. Kekuatannya tinggal sedikit.
"Aku tidak mau pergi tanpa dirimu," kata Sehun. Ia mendorong anak-anak yang lain ke pintu.
"Tidak, Sehun," pinta Jongin. "Kau tidak mengerti! Kau harus keluar lebih dulu!"
Ia tidak punya waktu untuk berdebat. Lidah api kembali
mendekat.
Aku tidak bisa memaksa api itu mundur. Terlalu kuat. Terlalu
panas.
Lidah api bergegas maju. Jongin dan Sehun membuang diri ke lantai, menelungkup. Jongin mengawasi dengan perasaan ngeri saat api melalap pintu tempat orang-orang keluar. "Jalan keluar terakhir
kita—terhalang," kata Sehun.
Kemarahan membanjiri Jongin. Ia tidak akan membiarkan hal
ini terjadi! "Aku tidak sudi mati dengan cara begini!" jeritnya. Sakit merobek paru-parunya. Kekuatannya kembali muncul dalam benaknya.
Ia melihat salah satu kursi makan—dan mengarahkan seluruh sisa kekuatannya ke sana. Kursi tersebut melayang di udara dan menghantam salah satu jendela depan.
"Keluar!" teriaknya.Sehun bangkit berdiri dan terhuyung-huyung ke jendela. Ia menyeret Jongin bersamanya, tangannya mencengkeram tangan
Jongin erat-erat.
Jongin merasakan kekuatannya terkuras habis. Kakinya tidak mampu menahan tubuhnya. Ia merosot ke lantai.
Kelelahan. Kehabisan tenaga.
Lidah api menjulang di sekelilingnya. Sekarang saatnya, pikirnya tanpa daya. Beginilah rasanya mati.
Jongin berjuang untuk membuka matanya—dan melihat wajah Sehun.
"Jongin?" bisik cowok tersebut dengan lembut. "Kau baik-baik
saja?"
Jongin tersenyum. Aku masih hidup! Kami berdua masih
hidup!
"Hai," katanya dengan suara serak.
Sehun membantunya duduk. Jongin mengedip-ngedipkan mata untuk menjernihkan pandangannya dan mengamati sekelilingnya. Para petugas pemadam kebakaran tengah sibuk menyiramkan air ke
reruntuhan Burger Basket.
"Sudah berapa lama aku pingsan?" tanyanya.
"Lima belas menit," jawab Sehun. "Kau sempat sadar beberapa kali."
"Restorannya musnah dalam lima belas menit?"
Sehun mengangkat bahu. "Sebagian besar sudah roboh sewaktu kita berhasil keluar. Tinggal sedikit yang tersisa."
"Wow."
Sehun menggeleng. "Menurutmu apa yang menyebabkan kebakaran ini? Yang aku tahu tiba-tiba segalanya mulai meledak."
"Korsleting," kata Jongin, mengingat-ingat. "Oh tidak! Eunhyuk!"
"Ia baik-baik saja," jawab Sehun dengan tenang. "Ia tersengat cukup hebat. Tapi kepalanya benar-benar keras. Ia sudah pergi dengan
ambulans." Sehun tersenyum padanya. "Kau sudah menyelamatkannya, Kai. Dan tindakanmu sesudah menyelamatkan Eunhyuk... kau menyelamatkan kami semua."
Jongin tidak tahu harus berkata apa.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan di dalam tadi?" tanya Sehun.
Jongin menatap lurus ke mata Sehun. "Tolong jangan tanyakan itu," bisiknya.
Sehun tidak memprotes. Ia hanya membalas tatapan Jongin, menerima permintaannya. Untuk saat ini. Jongin tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi nanti.
Apa yang bisa ia ceritakan pada Sehun? Aku memadamkan api
dengan pikiranku?
"Itu dia!" teriak seseorang dari seberang lapangan parkir yang ramai. "Itu orangnya! Ia yang menyelamatkan semua orang."
Belasan wartawan bergegas menuju ke Jongin, lampu kilat dan kamera terguncang-guncang di depan mereka.
"Oh, Sehun, kau harus membantuku pergi dari sini!" kata Jongin.
"Kenapa?" tanya Sehun. "Apa kau tidak mau menjadi pahlawan yang disiarkan televisi?"
"Tidak! Tidak boleh ada yang tahu siapa aku! Polisi akan
menemukanku! Aku harus pergi dari sini."
Sehun merogoh ke dalam sakunya dan memberikan kunci
mobilnya. "Bawa mobilku. Pergilah. Kembalilah ke tempatmu sampai
situasinya mereda. Telepon aku nanti."
Jongin menyambar kunci tersebut. Gantungan kunci plastik Shadyside High tersebut bengkok dan rusak—dan masih hangat.
Sepanas itu api tadi, pikirnya sambil menggigil. Bahkan plastik dalam saku Sehun pun meleleh!
"Lari!" desak Sehun. "Kucoba untuk menghalangi mereka."
"Trims, Sehun."
"Pergi sajalah," desak cowok tersebut.
Jongin masih merasa lemah dan tertegun. Tapi ia berhasil
menerobos kerumunan petugas pemadam kebakaran dan memasuki kerumunan penonton.
Para wartawan tiba di depan Sehun. "Ia tidak mau bicara dengan siapapun!" Jongin mendengarnya berteriak.
"Siapa dia?" tanya seseorang.
"Apa kau mengenalnya? Siapa namanya? Di mana rumahnya?"
tuntut orang yang lain lagi.
Jongin sempat mendengar percakapan lain dibelakangnya.
"Tentu saja aku yakin!" kata salah seorang pengunjung restoran bersikeras. "Apinya menjauhi orang itu! Jangan memandangku seperti itu! Aku mengatakan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri!"
Oh tidak, pikir Jongin. Orang itu menceritakan segalanya!
Kalau berita tentang tindakannya menyelamatkan orang-orang itu diterbitkan, Kepolisian Ridgely akan tahu di mana ia berada!
Jongin berjalan secepat mungkin. Tapi ia merasa pusing dan kelelahan. Mobil Sehun terasa bagai bermil-mil jauhnya. Tapi akhirnya
ia berhasil mencapainya.
"Kenapa kau tidak mati saja?" kata seseorang. Suara wanita
yang hampir tidak dikenalinya. Penuh kemarahan.
Jongin berbalik.
Vic.
Wajahnya tertutup jelaga. Seragam Burger Basket-nya ternoda keringat dan abu. Matanya berkilat-kilat penuh kebencian.
"Apa?" Jongin tersentak.
"Kau seharusnya mati!" teriak Vic. "Kau cuma perlu mengganti bohlam lampu bodoh itu!"
Vic melesat lurus ke arah Jongin, menubruknya sebelum
Jongin sempat bergerak. Mereka berdua jatuh ke trotoar.Kepala Jongin menghantam semen. Sakit meledak di belakang bola matanya.
Vic berguling ke atas Jongin dan menjepitkan tangannya di
sekeliling leher Jongin.
Ia mau membunuhku, pikir Jongin. Ia mencoba untuk
menyetrumku.Jongin berusaha membangkitkan kekuatannya, berusaha melontarkan Vic dari atas tubuhnya. Tapi ia tidak menemukan apa-apa. Ia bahkan hampir tidak bisa mengangkat lengan untuk melawan.
Vic membungkuk dekat kepada Jongin, wajahnya memancarkan kemurkaan. "Kau menyelamatkan Sehun," bisiknya.
"Tapi itu tidak berarti ia milikmu sekarang. Itu tidak berarti kau bisa mengambilnya dariku."
Jemari Vic terbenam makin dalam di tenggorokan Jongin. "Kau tidak akan pernah mendekati Sehun lagi."
Warna-warna berputar-putar dalam mata Jongin. Lengannya
terkulai di sisi tubuhnya. Ia terengah-engah, berusaha menghirup udara.Cekikan Vic bertambah kuat.
"Kau seharusnya mati!" lolong Vic. "Kenapa kau tidak mau
mati?"
Jongin tercekik, berjuang untuk menghirup udara.
"Hentikan, Vic!" Jongin mendengar seseorang berteriak.
Suaranya terdengar sangat jauh. "Hentikan! Kau membunuhnya!"
Ia merasa tangan Vic terangkat dari tenggorokannya, dan udara sejuk membanjiri paru-parunya. Ia berguling ke samping, memusatkan
perhatian untuk menghela napas panjang dengan lambat.
Vic! pikirnya dengan tiba-tiba. Di mana Vic? Dengan susah
payah, Jongin beranjak duduk.
Sehun dan Vic tengah berdiri agak jauh. Berpelukan.
"Aku benci padanya!" jerit Vic.
"Aku akan membunuhnya!"
Sehun mencengkeram bahu Vic dan mengguncangnya. "Diam,
Vic!" teriaknya. "Tutup mulutmu!"
Vic terdiam sejenak, matanya terbelalak dan ia shock. "Jangan sekali-kali kau menyuruhku menutup mulut!" teriaknya. "Kau lebih memperhatikan ia daripada aku!"
"Tidak!" sergah Sehun. "Kenapa kau tidak mau mempercayaiku? Kenapa kau tidak berhenti menyakitinya? Ia bukan apa-apa! Ia tidak berarti apa-apa bagiku!"
Jongin merasa ada gumpalan yang mengganjal tenggorokannya.
Aku sendirian, pikirnya. Vic terkulai dalam pelukan Sehun. "Jangan membohongiku, Sehun." erangnya lemah.
"Aku tidak bohong, Vic. Aku bersamamu. Bukan dengan
Kai. Denganmu."
Sehun membimbing Vic menjauh tanpa melirik Jongin. Ia memeluk Vic begitu erat, mencium pipinya dan mengelus-elus rambutnya.
Perlahan-lahan, Jongin bangkit berdiri. Tubuhnya terasa sakit
semua, sakit yang menusuk-nusuk setiap persendiannya.
Aku harus lari lagi. Harus.
Vic akan terus mengejarku sampai aku mati. Dan pada saat berita kebakaran ini disebarkan, Kepolisian Ridgely akan dengan mudah menemukanku.
Tapi bagaimana dengan Sehun? sebuah suara kecil dalam dirinya bertanya.
Memangnya kenapa dengan Sehun? pikirnya. Ia tidak akan
pernah meninggalkan Vic. Ia mencintai Vic. Aku tidak akan pernah sama pentingnya seperti Vic baginya. Ia bahkan tidak peduli Vic telah berusaha membunuhku. Jemari Jongin mencengkeram kunci mobil
Sehun erat-erat. Ia tidak memerlukannya.
Ia melangkah ke mobil, sakit menusuk-nusuk tubuhnya setiap kali melangkah, Ia membuka pintu mobil, lalu menjejalkan kuncinya di laci mobil.
Ia menutup pintu mobil, lalu meninggalkannya tak terkunci. Ia melangkah ke dalam kegelapan. Begitu tiba di rumah Dr. Eric ia tahu persis apa yang akan dilakukannya. Mengemasi ranselnya, menuangkan sekantong penuh makanan untuk Miss Quiz, dan pergi.
Ia pernah melarikan diri sebelumnya. Ia bisa melakukannya lagi. Aku semakin baik dalam hal ini, pikirnya.
Oh tidak! Foto Dad! Ada di sekolah! Jongin tersadar. Ia tidak bisa meninggalkannya di sana. Itu satu-satunya foto ayahnya yang dimilikinya. Satu-satunya benda yang berkaitan dengan masa lalu yang masih disimpannya.
Jongin mengerang. Ia terpaksa pergi ke sekolah pagi-pagi sekali besok dan mengambilnya. Jangan berbicara dengan siapa pun, jangan melihat siapa pun, bahkan memikirkannya pun jangan, katanya sendiri. Ambil saja fotonya lalu pergi.
Pergi sejauh mungkin dari Shadyside. Sebelum ada kejadian buruk yang menimpa. Kejadian yang sangat buruk.
TBC
Update 2 chap sekaligus. Kurang 1 chap terakhir
