Seorang siswi berambut blonde tengah memasuki perpustakaan. Mata aquamarine nya menangkap sosok berambut merah muda seperti bunga sakura sedang duduk, tangan kanannya menopang dagu dan sedangkan tangan kirinya memegang buku yang sedang dibacanya.

"Boleh aku duduk disini Sakura?" tanyanya.

Sakura hanya mengangguk pelan tanda dia memberikan izin.

"Ngomong-ngomong aku selalu melihatmu sendirian. Kenapa kau tidak mencoba bergaul dengan murd-murid lain?" Tanya Ino pelan.

"Kau tahu kalau aku banyak dijauhi orang-orang karena sifat dinginku ini?" Ino hanya mengangguk pelan.

"Maka dari itu aku tidak mempunyai teman dan sering terlihat sendirian. Bagiku itu tidak masalah. Malahan aku sangat senang." Ungkap Sakura dengan nada datar.

"Tapi asal kau tahu sendirian, tidak mau bergaul bahkan tidak mempunyai teman itu tidak enak Sakura. Kalau kau mempunyai masalah, kau bisa curhat dengan teman. Pasti teman itu mau mendengarkan keluhanmu ataupun menghiburmu. Tapi jika kau tidak mempunyai teman, kau mau mengeluh atau curhat dengan siapa?" Tanya Ino.

"Ibuku. Dia adalah seorang ibu sekaligus sahabat bagiku" jawab Sakura.

"Tapi Sakura pemikiran antara orang dewasa dan remaja seperti kita sangat bertolak belakang. Dan kau tahu terkadang pikiran orang tua kita agak kolot" bantah Ino.

"Kau tahu Ino, lebih baik kita mendengarkan orang yang berpikiran kolot seperti mereka daripada mendengarkan orang degan pemikiran yang modern seperti pada remaja umumnya karena mereka telah melalui berbagai macam peristiwa dan diumur mereka yang sudah cukup tua, pastilah mereka telah mendapatkan pelajaran dari kehidupan yang sangat banyak. Dan orang yang berpemikiran modern itu terkadang mereka tidak memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya dan selalu ingin yang serba instan." Jawab Sakura panjang lebar.

"…" Ino hanya terdiam. Dia tidak tahu kalau Sakura yang ia kenal selama ini sebagai gadis pendiam dan jarang berbicara akhirnya di hadapannya, gadis itu berbicara panjang lebar.

"Ya itu benar Sakura. Tapi… tapi a-aku hanya ingin menjadi temanmu." Kata Ino sambil menjulurkan tangannya untuk berjabatan.

Sakura sejenak melihat kearah tangan Ino. Lalu emerald miliknya bertatapan dega aquamarine milik Ino.

"Aku tidak membutuhkan sebuah pertemanan" jawabnya datar. Seketika itu wajah Ino menunjukkan ekspresi kekecewaannya. Tangan Ino pun tidak lagi terjulur untuk berjabatan dengan Sakura.

"Aku hanya membutuhkan sebuah persahabatan" jawab Sakura lagi sambil memeluk Ino. Yang dipeluk hanya terkejut atas kejadian itu.

"Apa kau mau menjadi sahabatku, Ino?" Tanya Sakura seraya memeluk tubuh Ino.

"Ya aku mau" jawab Ino sambil membalas pelukan dari sahabat barunya itu.

"Tapi… apa kau mau menerimaku apa adanya sebagai sahabatmu Ino. Menerima segala kekurangan yang aku miliki?" Tanya Sakura khawatir sambil melepas pelukannya

"Tentu saja Sakura. Aku adalah sahabatmu mulai sekarang." Jawab Ino. Sekilas mata Sakura menatap mata Ino untuk menemukan sebuah kebohongan. Tapi tidak ada. Mata aquamarine seolah-olah berbicara tulus.

.

.

.

Bel tanda pulang pun berbunyi. Semua murid Konoha High School berhamburan keluar. Meraka seperti ayam-ayam yang dilepaskan dari kandangnya. Oh iya ngomong-ngomong tentang ayam, Mungkin semua langsung teringat dengan ayam tampan kebanggaan keluarga Uchiha itu. Ya, tidak salah lagi Uchiha Sasuke. Pemuda yang memiliki wajah tampan namun memiliki rambut khas pantat ayam itu. Tidak salah kan kalau author bilang Sasuke ayam tampan? *plakk* kena tabok readers.

Di jalan ia melihat sosok gadis berambut merah muda yang mengenakan seragam KHS sedang berjalan pulang. Ia pun langsung memarkirkan mobil sportnya dan keluar menghampiri gadis bersurai merah muda itu yang berjalan di depannya.

Sakura merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Kemudian ia berbalik untuk melihat siapa yang sebenarnya yang menepuk pundaknya itu walaupun ia sebenarnya tahu siapa yang menepuk pundaknya.

"Sakura?"Onyx Sasuke menatap emerald milik Sakura.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu."

Lalu Sasuke memegang tangan Sakura untuk menuntunnya menuju mobilnya. Kesan pertama yang didapatkannya adalah dingin. Sasuke bisa merasakan tangan Sakura yang sangat dingin. Ia berpendapat kalau Sakura gugup dengan keadaan sekarang ini. Biasanya gadis-gadis yang ia genggam tangannya akan berubah menjadi dingin karena saking gugupnya mereka. Dan ditambah lagi wajah yang merona merah tetapi berbeda dengan Sakura, ia sama sekali tidak merona dengan perlakuan Sasuke itu. Gadis itu selalu bisa menyembunyikan dibalik ekspresi wajah yang dingin dan tenang.

Sasuke membukakan pintu mobilnya untuk Sakura. Lalu ia masuk dan duduk di kursi kemudi mobilnya. Kemudian Sasuke menghidupkan mesin dan langsung mengendarai mobinya itu dengan kecepatan yang lumayan cepat.

Sampailah mereka disebuah restoran yang cukup mewah. Mereka pun memasukki restoran itu dan langsung duduk di kursi kosong. Seorang waitress menghampiri meja mereka.

"Beef Teriyaki with Onion" Kata Sasuke tanpa melihat daftar menunya karena dia sudah hafal dengan menu-menu yang tersedia di sini.

"Kau mau pesan apa Sakura?" tanyanya.

"Hm. Sama tapi tanpa bawang putih" kata Sakura sambil menatap meja.

"Minumnya?" Tanya waitress itu.

"Hn, Tomato juice"

"Darah… " kata Sakura pelan.

"Ehm maksudku strawberry juice" jawab Sakura gelagapan.

"Baiklah mohon tunggu sebentar." Kata waitress itu dengan ramah.

Selama beberapa menit menunggu dalam suasana hening karena tidak ada satu pun diantara mereka yang memulai pembicaraan, akhirnya menu yang dipesan mereka datang juga. Suasana hening pun kembali tercipta ketika mereka menyantap makanan mereka masing-masing. Hanya ada suara garpu dan pisau yang berbunyi pelan akibat berbenturan dengan piring. Mereka makan dalam diam. Tapi sebenarnya Uchiha Sasuke memikirkan kata-kata yang tepat untuk dikatakannya nanti. Walaupun wajahnya tenang tanpa ekspresi namun ia memendam segala kegelisahan yang ia tahan selam seminggu ini.

Acara makan pun selesai. Mereka mengelap bibir mereka masing-masing dengan serbet yang disediakan. Cukup lama mereka terdiam sampai sebuah suara memecah keheningan.

"Hn sebenarnya aku ingin mengutarakan sesuatu padamu Sakura" kata Sasuke agak gugup.

"Aku…aku menyukaimu" Kepala Sasuke tertunduk ketika mengungkapkan kalimat itu. Walaupun ia sering mengutarakan kalimat itu kepada gadis-gadis lain namun ini sangatlah berbeda. Dulu Sasuke mengatakannya dengan lancar dan tanpa ada perasaan. Namun kali ini berbeda ia sangat gugup dan tentu saja ia merasakan sebuah perasaan aneh yang ia sendiri perasaan apa itu.

"Maukah kau menjadi pacarku S-sakura" tanyanya sambil mendongak menatap emerald milik Sakura.

Lama. Sangat lama Sasuke mendapatkan jawaban dari bibir Sakura. Ia merasa ada perasaan kecewa ketika ia membayangkan sebuah penolakan terungkap dari bibir Sakura karena ia melihat respon Sakura yang datar seperti sebelumnya. Sakura sangat berbeda dengan gadis lain. Biasanya gadis lain akan merona ketika Sasuke mengatakan seperti itu. Dan akan langsung menerima pernyataan cinta dari Sasuke walaupun mereka tahu kalau Sasuke adalah seorang playboy. Tapi ekspresi Sakura tidak menunjukkan kalau ia bahagia selayaknya remaja yang jatuh cinta.

"Apa kau yakin kalau kau menyukaiku?" Tanya Sakura dengan sarkastis.

"Hn. Aku…aku menyukaimu S-sakura." Jawab Sasuke dengan tidak lancarnya.

"Baiklah aku akan menjadi pacarmu" jawab Sakura sambil melihat mata onyx itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"B-benarkah S-sakura?" Tanya Sasuke terbata-bata.

"Hm" Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Uchiha bungsu itu.

Betapa bahagianya Sasuke mendengar jawaban dari Sakura. Tubuhnya terasa sangat ringan dan ingin melayang-layang. Tapi lagi-lagi kebahagiannya dapat tertutupi berkat wajah datarnya. Walaupun samar-samar adak guratan merah di pipinya.

.

.

.

"Aku sudah menemukan keberadaannya tuan" kata seorang pria berambut abu-abu dan berkacamata bulat.

"Bagus" jawab sesorang yang dengan angkuh. Ia menduduki kursi kerjanya dan menatap sebuah jendela kaca yang sangat besar.

"Akan aku balaskan dendam mu, Hime. Dan kita akan hidup bersama lagi." Kata orang itu pelan dengan seringainya yang menakutkan.


Bersambung...

gomen kalau chapter ini dan sekaligus chapter-chapter kemarin kependekan. Sekali lagi gomen :') author gak bisa buat cerita yang panjang-panjang karena author males banget buat ngetik. Pengennya diceritaiin langsung pake mulut. *plakk* kena sambit pakek sendal.

Oh iya arigatou buat yang udah baca dan ngereviw. Maapin author karena gak bisa ngebales satu per satu.

Once again I say "Arigatou Gozaimasu" :)