-oO-TamaSa-Oo-
Disclaimer: Marvel
Rated: T
Pairing: STony (Steve x Tony) and others
Warning: Boyslove, AU, (really) OOC,Maybe typo(s)
Don't like, don't read!
-oO-TamaSa-Oo-
Tony tidak terkejut ketika melihat ada begitu banyak wartawan yang menantinya tepat di depan pintu masuk gedung kantornya. Pepper sudah memberitahunya tadi pagi, tentu saja dengan bonus omelan panjang lebar karena kegilaan yang ia lakukan semalam. Yaahh... semalam memang gila, dan dia sudah memutuskan untuk tidak mengingatnya lagi. Sulit, tentu saja. Karena apapun yang ia lakukan, efeknya selalu ada. Dan ia harus menanggung semua resikonya, termasuk...
"Mr. Stark, mungkin anda berkenan memberikan keterangan mengenai keributan di bar semalam?"
"Apakah pria yang cekcok dengan anda adalah kekasih pria anda?"
"Lalu mengenai pria yang berciuman dengan anda seperti dalam foto yang beredar, apakah dia benar Chris Hemsworth?"
"Ada hubungan apa anda dengan Chris Hemsworth? Sekedar rekan kerja ataukah dia adalah teman kencan anda yang baru?"
"Apakah ini alasan anda berpisah dengan Pepper Potts?"
Dan masih banyak pertanyaan absurd lainnya yang diajukan oleh para wartawan ketika Tony membuka pintu mobilnya. Tony tidak membalas apapun, hanya tersenyum dan melambaikan tangannya bak seorang aktor. Beberapa pengawalnya mencoba mencarikan jalan untuk Tony, membelah kerumunan para wartawan.
Sebenarnya Pepper sudah menunggu kedatangan Tony dari tadi di resepsionis. Ia memperhatikan keriuhan wartawan di luar gedung dan akhirnya sadar kalau Tony sudah datang. Ia tidak mengikuti tingkah para wartawan di luar yang langsung mendekati Tony. Ia hanya berdiri, dengan angkuhnya, menanti Tony dari dalam gedung. Ia sudah menyiapkan kata-kata mutiara apa yang akan ia lupakan pada mantan kekasihnya itu.
Damn Tony! Berapa kali ia sudah mengingatkan pria itu untuk selalu berhati-hati dalam bertindak di muka umum? Dan kenapa hal konyol seperti ini masih bisa terjadi? Dasar bodoh!
Pepper bisa melihat Tony yang sudah berada tepat di depan pintu kaca kantor. Para pengawalnya membukakan pintu untuknya, dan Tony buru-buru masuk ke dalam gedung, membiarkan para pengawal menutup kembali pintu kaca dan menahan kerumunan para wartawan yang berusaha ikut masuk. Tony menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak habis pikir dengan yang baru saja terjadi. Dia masih tidak sadar, Pepper sudah berdiri di belakangnya sambil berkacak pinggang. Saat sadar dengan hawa gelap di sekitarnya, ia tak sempat menghindar dari tangan Pepper yang menarik telinganya.
-oO-Tamasa-Oo-
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Pepper, really!"
"Hoo... memangnya kau tahu apa yang kupikirkan sekarang?"
"Kau hanya salah paham..."
"Cepat jelaskan padaku! Now!"
Saat ini Tony dan Pepper berada di ruangan pribadi Tony, di lantai paling atas Stark Building. Hanya Pepper, dan beberapa pegawai tertentu yang boleh masuk di sini -itupun dengan diawasi Tony sendiri, karena memang ini ruangan paling pribadi milik Tony. Tony dan Pepper duduk di sofa, saling berhadapan. Tangan kanan Pepper digenggam erat oleh Tony, wajahnya memelas meminta pengampunan dari wanita berambut pirang itu. Dan seperti yang diinginkan wanita itu, akhirnya Tony menceritakan semua yang terjadi semalam. Mulai dari pertemuannya dengan klien di restoran, bagaimana mereka berakhir di bar berdua, ciuman panas dengan Hemsworth, dan kedatangan Steve yang tiba-tiba.
"Wait... you knew that Chris is a gay, but you still went with him?"
"Aku belum tahu, Pepper. Aku hanya menduga saat itu!"
"Benar atau tidak dugaanmu, seharusnya kau tak pergi dengannya!"
"I... I don't know... aku rasa dia sudah menghipnotisku kemarin...," Tony tampak gugup. Matanya melirik kesana kemari, membuat Pepper semakin memicingkan matanya.
"Say to me, Tony... Kau tertarik padanya?"
"I didn't!!"
"You were! Memangnya seperti apa sih Chris itu?" Pepper menyenderkan punggungnya ke sofa, mulai bersikap santai. Tony mencoba mengingat-ingat.
"Dia cukup tampan, body-nya bagus. Hanya dengan melihatnya beberapa detik kau akan langsung tahu kalau dia seksi."
"Oh ya?" Pepper tersenyum meremehkan .
"Aku bersungguh-sungguh."
"Menurutmu, mana yang lebih seksi.Chris, atau... Steve?"
"Steve? You mean... Steve Rogers?"
"Ya. Lebih seksi mana?" Tony menatap Pepper dengan sorot bingung. Pertanyaan Pepper tentu saja mengejutkan Tony. Mengapa tiba-tiba Pepper membandingkan Chris dengan Steve?
"Aku lebih memilih... Chris," Tony menjawab ragu. Masih belum yakin dengan maksud pertanyaan Pepper.
"Tapi bukankah Steve juga tampan?"
"Tunggu dulu Potts. Kau menyukai bocah tengik itu?"
"What? Who?"
"You!! Don't tell me that you fallin' love with him?"
"Absolutely no!"
"Lalu mengapa kau menanyakan hal absurd seperti itu? Ini seperti bukan dirimu saja..."
"I just try to test you," Pepper tersenyum simpul. Kedua kakinya disilangkan dengan anggun. Lagi-lagi wanita cantik itu memberikan pernyataan yang tidak jelas.
"Tes apa?"
"Tes pribadi. Aku hanya ingin tahu, seberapa gay-nya kau sekarang..."
"Haha...," Tony tertawa sarkastis, "mengapa kau sekarang jadi sebrengsek ini Potts? Aku benar-benar belum siap dengan perubahanmu yang sekarang..."
"Thank you, Stark," Pepper tersenyum geli, tidak peduli dengan raut wajah Tony yang sudah berubah masam.
"Kau merasa kau tidak tertarik sama sekali pada Chris, am I right?" Pepper kembali berbicara dengan nada serius, membuat Tony sedikit takjub dengan perubahan emosinya. Cepat sekali ia mengalihkan pembicaraan.
"Yes, of course."
"Jadi seharusnya ketika ia menciummu saat itu kau menolaknya. Kau bukan gay, right?"
"Ya, aku ingat sempat menolaknya."
"Sempat?"
"Well...umm... He's a good kisser, Potts. Wajar saja kalau pada akhirnya aku terbuai!" Tony lagi-lagi membela diri, yang tentu saja mendapat respon kurang baik dari Pepper.
"Oke! Anggap saja kau sudah berusaha menolaknya, tapi kau tidak bisa. Lalu kemudian Steve datang, mencoba memisahkan kalian berdua, right?" Tony mengangguk berkali-kali, seperti anak kecil.
"Bukankah... sebenarnya Steve telah membantumu saat itu? Chris sedang... ehm, sebut saja... melecehkanmu, dan dia secara tidak langsung menolongmu untuk lepas dari Chris, bukankah begitu?"
Sebenarnya Tony menyadari hal itu, bahkan sejak di detik pertama ia melihat kalau yang mendorong Chris darinya adalah Steve. Kalau saja Steve melihat bagaimana leganya Tony saat berhasil melepaskan diri dari Chris. Mungkin saja dia melihatnya. Tony akui ia tertolong. Tapi sayangnya, harga diri Tony terlalu tinggi untuk mengakui itu, mengakui bahwa dia terbantu dengan kedatangan Steve. Tony masih belum tahu, sebenarnya apa tujuan Steve melabraknya saat itu. Karena jujur saja, Tony malah menduga alasan Steve melabraknya di depan umum adalah karena Beruang Besar itu cemburu pada Chris dan Tony. Mungkin Steve tidak suka dengan aksi mereka berdua karena sebenarnya Steve menyukai Tony.
Oke. Tony sadar, Tony sedang kepedean saat ini. Tapi, manusia mana sih yang tidak jatuh cinta pada Tony? Bahkan pria tampan sekelas Chris Hemsworth saja bisa seagresif itu pada Tony. Tony mendadak teringat pada motto yang trending di jaman dia kuliah dulu.
Lelaki baru bisa dibilang benar-benar tampan jika dia bisa membuat, tidak hanya wanita, tapi juga pria, jatuh cinta padanya.
And I did it, Tony tersenyum angkuh sambil merapikan jasnya. Lagi-lagi tak menyadari tatapan aneh dari Pepper.
"Hentikan senyum bodohmu itu, Tony," ucap dingin Pepper, membuat Tony tertegun sesaat.
"Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Sejak tadi kau sama sekali tidak fokus...," lanjut Pepper heran. Tony tak menjawab, bibirnya menempel rapat. Beberapa saat Pepper menunggu jawaban dari Tony, namun hingga beberapa menit berlalu, tak kunjung ada jawaban. Merasa hanya membuang waktu, gadis cantik itu menghembuskan nafas panjang.
"Kurasa kau butuh istirahat," Pepper beranjak berdiri. Ia merapikan pakaiannya, "tidurlah satu atau dua jam. Kurasa itu bisa membuatmu segar kembali..."
Tony mengangguk kecil. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Tangan kanannya ia gunakan untuk menyangga kepalanya. Ia tidak mau repot-repot berpindah tidur di kamar, meskipun ia tahu betul jarak kamarnya dan sofa yang ia gunakan saat ini tidak lebih dari 20 langkah. Pepper berdecak, masih heran dengan sifat Tony yang pemalas. Tapi biarlah... lebih baik ia segera meninggalkan Tony sendirian. Tidak akan ada yang bisa masuk ke ruangan ini selain Pepper dan Tony sendiri, karena jelas-jelas di depan sudah ada tombol kode yang harus diinput. Tony jelas butuh untuk tidak diganggu. Ia hafal dengan kebiasaan Tony. Jika ada masalah sedikit saja yang menyangkut dirinya langsung, dia akan kesulitan tidur.
"Aku pergi dulu," pamit Pepper. Tony tak menjawab, lengan kirinya ia gunakan untuk menutup kedua matanya. Ia hanya mendengar langkah kaki Pepper yang semakin menjauh dan pintu yang terbuka.
"Tony!" panggil Pepper, membuat Tony spontan mengangkat lengannya dan menoleh pada Pepper yang kini berdiri di ambang pintu.
"Jangan menyalahkan anak baru itu, karena mungkin dia tidak bermaksud mempermalukanmu!"
"Come on, Pepper. Jangan bicarakan bocah itu lagi," gumam Tony, kembali menutup kedua matanya. Tak mau tahu dengan apa yang akan dikatakan Pepper selanjutnya.
"I'm seriously, Tony. Kau tidak bisa terus-terusan menyalahkannya untuk kesalahan yang kau buat sendiri." Tony tak menjawab. Ia hanya beringsut memunggungi Pepper, membuat Pepper berdecak lagi dan akhirnya pergi keluar dari ruangan itu.
Tanpa tahu kalau setelah kepergiannya, Tony membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa tertidur. Ya, ia memikirkan perkataan Pepper dengan serius.
-oO-Tamasa-Oo-
Steve mencuci mukanya di wastafel. Ia membasahi rambutnya, kemudian mengusirnya dengan jari ke belakang. Ia menatap ke cermin, mengerutkan kening saat menyadari ada kantung mata yang mengganggu. Ia memang kesulitan tidur belakangan ini, stress penyebabnya. Alasan ia mencuci muka karena ia ingin sedikit menyegarkan isi kepalanya.
Masalah pekerjaan, rekan kantor yang tak henti membicarakan hubungannya dengan Mr. Stark yang absurd, percintaannya dengan Peggy Carter yang stuck, dan jangan lupakan para wartawan yang sudah menantinya di luar kantor. Steve tak habis pikir dengan para wartawan. Berkali-kali Steve mengatakan kalau ia tak ada hubungan apapun dengan Anthony Stark dan tak mengenal sama sekali dengan pria yang bernama Chris Hemsworth, tapi tetap saja mereka menyangkutpautkan Steve dengan gosip ini. Steve bahkan sampai pusing melihat highlight berita di handphone atau tayangan TV, walaupun ia tahu semua yang ada di pemberitaan adalah omong kosong.
Steve mematikan kran air saat sadar kalau ia sudah membiarkan air mengalir cukup lama. Urusannya sudah selesai, tapi ia masih belum ingin kembali ke ruangannya. Ia masih tidak ingin melihat Peggy dulu. Ya, Peggy Carter. Sebenarnya permasalahan mengenai kejadian di bar itu tidak begitu mempengaruhi Steve, jika saja sikap Peggy tidak berubah padanya. Ya, Peggy mendadak berubah sikap padanya semenjak pemberitaan ini muncul. Peggy mulai menjauhinya, menghindarinya. Steve tidak tahu alasannya, dan ia tidak punya cukup nyali untuk menanyakannya langsung pada gadis cantik itu. Saat mereka berdua berpapasan, Peggy cenderung membuang muka. Dan ia sering mendapati Peggy menatap tajam padanya saat jam kerja. Yaahh... ia tidak ingin berharap muluk-muluk, misalnya mengharap kalau Peggy cemburu pada Tony, karena sudah jelas itu tidak mungkin. Mereka berdua, Steve dan Peggy, terlalu beda kelas. Itu pula alasan Steve selalu ragu untuk menyatakan perasaannya.
"Kurasa aku butuh liburan," desah Steve memijat keningnya. Ia benar-benar lelah dengan tekanan yang ia hadapi saat ini. Saat masih bekerja di minimarket dulu, hidupnya sangat tenang. Semuanya berjalan sangat teratur. Permasalahan paling berat yang ia hadapi hanyalah memilih film yang akan ditonton pada akhir pekan. Meskipun gaji yang ia terima terbilang cukup kecil, tapi ia bahagia. Apalagi Mr. George, pemilik minimarket tersebut sangat baik padanya.
Sekarang, orang tahu dia memiliki pekerjaan yang lebih baik dibanding sebelumnya. Ia bekerja di perusahaan besar yang terkenal, sudah pasti kehidupannya akan lebih baik dibanding sebelumnya. Masalahnya mereka tidak tahu kehidupan Steve yang sebenarnya. Ia bermasalah dengan bosnya, padahal statusnya hanyalah sebagai karyawan magang. Ia tidak bisa mendekati gadis yang disukainya karena saingannya terlalu banyak dan berat. Ditambah lagi skandal yang beredar belakangan ini antara ia dan pemilik perusahaan. Argh... rasanya kepala Steve akan meledak.
Semua permasalahan yang ia hadapi hanya karena satu orang, Anthony Stark. Semakin memikirkan dia, benci yang dirasakan Steve makin besar. Rasanya seluruh tubuh Steve bergetar karena menahan emosi. Seumur hidup Steve, tak pernah sekalipun ia membenci seseorang sampai seperti ini. Bahkan pada Charles, tukang bully saat dia masih sekolah dasar dulu sekalipun.
Pria congkak itu merebut Peggy dengan terang-terangan, di hadapannya. Kalau mau dibandingkan, jelas pria itu menang banyak. Yang membuat ia kesal, dengan mudahnya ia menggoda Peggy, semudah itu pula ia mencampakkannya. Semudah itu ia mencumbu orang lain, bahkan dengan sesama pria. Pria gila seperti itu masih berani mendekati Peggy? Dan ada pula dengan Peggy? Peggy jelas terlihat layaknya wanita berkelas. Keanggunannya, kecantikannya, dan kepandaiannya. Jika Peggy tunduk pada Tony hanya untuk menjaga imagenya di kantor, maka Peggy tidak ada bedanya dengan gadis-gadis murahan di kantornya yang bisa hook-up dengan pria manapun sesuka hati mereka. Ibaratnya... turun kelas!
Oh lihat, kenapa sekarang Steve menilai buruk pada Peggy juga? Padahal belum tentu yang ia pikirkan sekarang ini benar kan? Dan lagi-lagi Steve menyalahkan Tony karena perubahan sifat Steve. Pria itu adalah biang keladi dari kerunyaman hidup Steve.
-oO-Tamasa-Oo-
"Rasanya aku sedikit menyesal karena memaksamu waktu itu..." Johny menyesap kopinya dengan perlahan. Sementara Steve yang duduk di depannya hanya meliriknya sekilas di balik kacamata hitamnya. Saat ini Johnny dan Steve sedang berada di sebuah coffe shop di dekat rumah Johnny. Steve yang mengajaknya terlebih dahulu saat pulang kerja tadi. Johny, mungkin sudah tahu kalau Steve butuh teman curhat, menerima dengan antusias. Sebenarnya sih karena tawaran 'traktir' dari Steve yang membuatnya langsung meng-iya-kan. Such a good friend, isn't he?
"Seandainya kau tidak ikut saat itu, mungkin semua kericuhan ini tidak akan terjadi. Dan kau tidak perlu menutupi identitasmu seperti ini...," Johnny kembali terkikik ketika melihat penampilan Steve saat ini. Topi, kacamata hitam dan jaket kulit -pinjaman dari Johnny. Steve menjadi incaran para wartawan, jadi jelas ia butuh penyamaran. Dan menurut Johny, yang terbiasa melihat penampilan formal Steve, penampilan Steve yang sekarang jelas menggelikan. Ia tak peduli meskipun Steve menunjukkan wajah masamnya.
"Bagaimana dengan Carter?" Johnny mulai berbicara dengan nada serius. Yang ditanya hanya mengangkat bahu.
"Dia masih belum mau berbicara padamu?" tanya Johnny lagi.
"Kau bisa melihatnya sendiri kan bagaimana sikapnya padaku saat di kantor?" Steve balik bertanya, nadanya ketus. Johnny terkekeh. Ya, semua orang menyadari, tidak hanya Peggy tapi juga hampir seluruh pegawai wanita di kantor mulai menjaga jarak dari Steve. Bahkan tak sedikit yang menyindirnya karena menganggap Steve sedang membuat sensasi hanya untuk karirnya di kantor. For God's sake, Steve malah sudah muak berada di tempat kerjanya. Bagaimana bisa mereka berpikiran ke arah sana?
"Lalu bagaimana? Kau masih ingin mengejar Peggy atau berhenti sampai di sini saja?"
"Sudah tidak ada harapan...," jawab Steve lemah. Ia menyangga keningnya dengan telapak tangan kiri. Sementara tangan kanannya bermain-main dengan sendok kopinya.
"Kau yakin?"
"Kalau memang dia tidak nyaman bersamaku, untuk apa aku memaksa?"
"Hey man," Johnny mengulurkan tangannya, memijat pundak Steve, bermaksud memberi dukungan, "Peggy adalah gadis yang baik, kau tidak bisa menyamakannya dengan gadis lain di kantor kita. Aku mengenalnya cukup lama, jadi kurang lebih aku tahu bagaimana karakternya..."
"Sebelum semua kejadian ini aku juga berpikir seperti itu," Steve menyela.
"Peggy itu harga dirinya tinggi. Dia tidak akan tunduk semudah itu pada Mr. Stark, meskipun dia adalah pemilik perusahaan. Dia adalah satu-satunya gadis di perusahaan ini yang tidak bisa tunduk pada Anthony Stark. Pepper Potts saja pernah tunduk pada Stark, meskipun sekarang sudah tidak."
Steve terdiam. Ia belum begitu mengenal Peggy, karena mencari waktu untuk mereka berdua bisa berbincang saja sangat sulit. Steve sering lembur, karena banyaknya pekerjaan yang diberikan Mr. Smith. Sementara Peggy, setiap pulang kerja selalu memiliki kegiatan dengan teman-temannya. Kesempatan untuk mengobrol hanya di saat makan siang, atau saat Peggy tidak ada jadwal hangout dengan temannya. Yang Steve tahu tentang Peggy hanya informasi umum, seperti alamat apartemennya, latar belakang pendidikannya, dan kedua orangtuanya. Hanya mengetahui itu saja, Steve sudah merasa minder. Gaya hidup mereka sangat bertolak belakang. Lalu bisakah Peggy menerima Steve yang hanya seorang pemuda sederhana?
"Sejauh apa kau dengannya?" Johnny bertanya, membubarkan lamunan Steve.
"Maksudmu?", ia mengangkat cangkirnya.
"Sudah sejauh apa kau dengan Peggy?" ulang Johnny. Steve mengernyit, menyeruput kopinya.
" Yeah... I mean... sex with her... have you?" Steve nyaris menyemburkan kopi yang ia minum. Tak menyangka kalau Johnny akan menanyakan hal itu.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu?" Steve tidak bisa menahan getar di suaranya. Johnny meringis.
" Aku tidak pernah menyentuhnya sedikit pun, asal kau tahu! Dia pernah mengajakku mampir ke apartemennya, tapi aku menolak," Steve menggeram. Memangnya Johnny pikir Steve itu sebejat apa?
" Kau serius? Kau menolak tawarannya?"
" Tentu saja! Aku pantang melakukan seks pranikah!"
"Kuno sekali kau ini..."
"Ini soal prinsip, dude," tandas Steve, "lagipula gadis seperti Carter terlalu berharga untuk menerima perlakuan buruk seperti itu."
Johnny bertepuk tangan tepat ketika Steve menyelesaikan kalimatnya. Polahnya itu tentu saja menarik perhatian pengunjung kafe yang lain. Tapi memang pada dasarnya Johnny adalah orang yang cuek, jadi dia tak peduli.
"Kau hebat bung, aku salut padamu! Aku jelas tidak punya pertahanan sebaik dirimu!"
"Pelankan suaramu!" Steve bsrdecak. Rasanya ia ingin memukul kepala Johnny kalau saja ia tidak ingat Johnny adalah seniornya di kantor.
"Lalu bagaimana dengan Mr. Stark?" Johnny mengalihkan pembicaraan. Steve mendecih ketika mendengar nama pria yang dibencinya itu lagi.
"Sudahkah kalian bertemu sejak kejadian itu?" tanya Johnny lagi. Steve hanya menggeleng.
"Kau tidak meminta maaf padanya?"
"Untuk apa?"
"Karena sudah ikut campur urusannya?"
"Aku mendatanginya saat itu karena berbagai alasan. Kau jelas melihatnya kan, saat itu Stark berusaha mendorong pria gondrong itu?"
"Yeah, I did. Tapi aku tidak mendatanginya, karena secara spesifik itu bukan urusanku. Aku justru bingung mengapa kau malah menolongnya, sementara kau sendiri tahu hubungan kalian berdua tidak begitu baik?"
"Karena...," Steve kehilangan kata-kata. Ia menatap bingung pada Johnny. Saat itu ia hanya bermaksud menolong Tony, karena Tony mendorong Chris. Ia hanya refleks. Kalaupun ia sempat emosi, itu semata-mata karena Steve sebal pada Tony yang tidak bisa konsisten mendekati satu orang saja. Steve lupa, kalau memang itulah yang selalu dilakukan oleh playboy, tidak bisa setia.
"Kau... kau yakin hanya bermaksud menolongnya?" Johnny menggoda Steve. Jari telunjuknya mencolek telapak tangan Steve, membuat bulu kuduk Steve meremang.
"Jangan katakan apapun, Johnny!"
"Jangan bilang kalau kau mulai tertarik pada Mr. Stark?" Johnny terus bicara, "pantas saja kau bilang sudah tidak ada harapan pada Peggy..."
Dan detik berikutnya Steve memukul Johnny. Di kepala. Menggunakan topinya.
Poor Johnny...
To be continued...
-oO-Tamasa-Oo-
Part ini lebih ke... keruwetan pikiran Tony dan Steve. Dan karena harus menulis mereka yang lagi BT, otomatis saya jadi ikut-ikutan BT. You know what, saya sempat WB nulis part ini. Saya gampang jenuh, mood saya terlalu...swing, dan rasanya bener-bener gila cuman gara-gara nggak bisa ngatur mood. Belum lagi kerjaan yang numpuk, efek puasa (well, sebenernya saya non muslim jadi nggak ada kewajiban buat puasa, saya aja yg emang pingin kompak'an ama temen-temen kerja), dan notifikasi di grup-grup chat yang gak berhenti-berhenti (nggak diliat tuh bikin penasaran, kalo diluar entar idenya malah ikut terbang). Tapi... so far... I passed it away. Hhaa... lupakan curcol nggak penting ini!
Shout out untuk J'TrimFle, Leny Chan, Putri Rstarsnow, fuuuton. Terimakasih sudah mampir untuk review.
Terimakasih juga untuk yang udah fave dan follow saya maupun cerita saya.
Nah, mind to review again?
Ciao!
