Haai para readers... ini termasuk update kilat tidak ya? hmm...
aku lihat yang mereview fanfic ini sedikit sekali. apa ceritanya kurang menarik? atau karena pairingnya StiCy? hmm yasudahlah tidak apa-apa :)
Baiklah, aku akan membalas review-review~
pidachan99 : melongo? hati-hati kemasukkan lalat(?) hmm rogue disini bener-bener OOC. dari sifat dan sikap yang pida-chan sebutkan itu. hehe -_-v
Tohko Ohmiya : ini sudah lanjut, silahkan dibaca...
Ayane75 : mengarah ke StiCy tapi ada NaLu juga hehe. ini sudah update...
Mirajane Blue Heart : Ariigatou. ini sudah lanjut. dibaca yaaaaa...
Baiklah, sudah balas review. sekarang ayo masuk keceritaaaa~~~~~~
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Love Affair
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Sting menoleh, dan menatap manik cokelat yang indah milik Lucy.
"Aku mencintaimu, Lucy"
Lucy membelalakan matanya, ia tidak percaya apa yang telah dikatakan oleh kakaknya. Tapi ia segera menepis pikiran yang tidak-tidak.
"Iya-iya aku tahu dari sikapmu yang galak pada setiap laki-laki yang mendekatiku. Kau ini over protectif pada adikmu, onii-san." Ucap Lucy dengan santai.
"Aku mencintaimu sebagai seorang pemuda biasa, bukan sebagai seorang kakak." Jelas Sting. Lucy langsung menoleh kearah Sting. Lucy menatap Sting dengan pandangan yang tidak percaya.
"Ya aku mencintaimu. Aku baru sadar hari ini, aku fikir aku bersikap normal, aku merasakan perasaan sayang, cinta terhadap adikku sendiri. Tapi rasa kesalku saat kau kemarin jalan dengan Natsu, kau memberikan senyum manismu kepada Natsu pada saat masuk kedalam rumah, membuat ku sadar bahwa perasaanku bukan sekedar sayang ataupun cinta pada adik sendiri, tapi rasa yang-berbeda" jelas Sting.
Lucy masih tidak percaya. Lucy segera bangkit berdiri dan menatap Sting.
"Onii-san, kau harus membuang perasaan itu. Kita ini bersaudara. Dan aku tidak bisa membalas perasaanmu. Dan aku akan jawab pertanyaanmu. Ya, aku menyukai Natsu, aku jatuh cinta dengannya" jelas Lucy. Lucy berlari meninggalkan Sting.
'Apa yang kau lakukan tadi, Sting baka' batin Sting.
Sting segera berdiri dan berjalan meninggalkan atap untuk kembali kekelasnya.
Lucy berlari menuju toilet. Ia menatap wajahnya dari cermin. Ia mengingat kejadian yang terjadi di atap bersama dengan Sting, kakaknya. Jantungnya berdegup dengan kencang.
"Apa yang terjadi, kenapa begini? Kami-Sama tolong aku..." gumam Lucy.
Setelah kejadian diatap sekolah, setiap harinya Lucy dan Sting menjadi canggung untuk berbicara satu sama lain. Dirumah, maupun disekolah. Lucy seperti menghindar dari Sting. Sting hanya bisa menghela nafas melihat tingkah laku adiknya.
Lucy sekarang sudah masuk kedalam team cheers sekolah. Ia akan ikut menyemangati team basket sekolahnya yang mengikuti kompetisi.
Setiap pulang sekolah, Lucy harus latihan dengan team cheersnya. Lucy pulang bersama dengan temannya dengan naik angkutan umum.
Sting yang kadang terlenih dahulu sampai dirumah, hanya bisa menunggu Lucy dengan khawatir.
Sampai akhirnya,
Lucy masuk kedalam rumah dengan wajah yang ceria. Sting sedang duduk diruang tengah. Sting tahu kalau adiknya sudah pulang dan akan melewati dirinya saat ingin masuk kekamarnya.
Saat Lucy melewati Sting. Sting segera meraih pergelangan tangan Lucy. Lucy menoleh.
"Lucy...boleh kita bicara sebentar?" Tanya Sting. Lucy hanya mengangguk pelan, dan duduk berhadapan dengan Sting.
"Hmm ada apa, onii-san?" Lucy menatap Sting. Sting pun membalas tatapan Lucy.
"Aku mohon, jangan lakukan ini padaku. Aku sungguh khawatir denganmu. Jangan jauhi aku seperti ini, Lucy" ujar Sting dengan tatapan sendu.
Lucy menunduk saat mendengar pernyataan atau permintaan dari kakaknya.
"Kalau begitu..apakah kau sudah bisa melupakan perasaanmu padaku yang kau ungkapkan beberapa hari yang lalu?" Ujar Lucy. Sontak membuat Sting kaget. Dengan cepat Sting tersenyum memandang kearah adiknya yang masih tertunduk.
"Angkat wajahmu, Lucy. Tatap aku" pinta Sting. Lucy masih menunduk.
"Tolong..." Pinta Sting lagi. Akhirnya Lucy mengangkat wajahnya dan mulai menatap Sting lagi. Sting tersenyum.
"Jujur Lucy, aku belum bisa melupakan perasaan itu. Aku-hmm aku akan berusaha, seiring dengan waktu, aku yakin perasaanku akan berubah terhadapmu, bukan berubah menjadi benci, tetapi akan berubah seperti perasaan layaknya kakak-beradik. Dan aku senang kau memilih mencintai seseorang yang benar. Aku akan percayakan dirimu dengannya" jelas Sting sambil tersenyum. Senyum yang lembut. Bukan sebuah seringaian.
Lucy merasa hatinya sakit mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Sting. Entah kenapa. Lucy memegang dadanya. Ia menahan untuk tidak meneteskan airmatanya dihadapan Sting.
"Hmm baiklah, onii-san...A-arigatou" sahut Lucy sambil berjalan meninggalkan Sting menuju kekamarnya. Sting hanya memandang adiknya yang berjalan meninggalkannya sambil tersenyum.
'Mungkin ini memang jalan yang terbaik' batin Sting.
Lucy yang sudah berada dikamarnya, menghempaskan dirinya ketempat tidurnya. Ia menutupi wajahnya memakai bantal, ia menangis. Ia tidak tahu kenapa ia begitu sedih mendengar pengakuan dari kakaknya. Hatinya merasa sakit dan perih.
"Ke-kenapa aku bisa sesedih ini? Kenapa? Hiks..." Gumam Lucy dalam tangisnya.
"Baka, semustinya kau senang. Kau harusnya senang, karena kakakmu akan berusaha bersikap normal layaknya kakak beradik..hikss..baka..hiks..baka..Lucy bakaaa" ujar Lucy yang masih saja menangis.
Minggu-minggu berlalu dalam sekejap mata. Sebelum mereka tahu itu, turnamen basket telah tiba. Acara ini diadakan di aula olahraga sekolah Lucy, banyak siswa yang datang untuk mendukung tim.
Dibangku penonton sudah ada Levy, Gajeel, Loke, Gray, Jellal, Juvia, Erza, dan siswa lainnya yang membawa spanduk untuk mendukung tim dari sekolah.
"Erza, sebelum pertandingan dimulai, Lu-chan dan Lisanna akan tampil kan?" Tanya Levy.
Erza mengangguk "Iya mereka akan tampil, aku sudah tidak sabar melihat penampilan mereka berdua" ujar Erza dengan antusias. Jellal yang duduk disebelahnya hanya bisa tersenyum melihat Erza.
"Gray-samaa, kau tidak akan melirik-lirik Lucy-san dan Lisanna-san kan saat mereka beraksi?" Tanya Juvia dengan nada merengek. Gray bersweatdrop.
"Terserah apa katamu saja, Juvia" sahut Gray dengan santainya. Juvia menggembungkan pipinya.
Diruang ganti, tim cheers sudah bersiap, begitupun juga Lucy dan Lisanna. Mereka sudah memakai kostum cheers. Kostum cheers itu berlengan panjang berwarna perpaduan antara putih dan biru langit. ditengahnya terdapat tulisan fiore dan juga rok pendek yang berwarna sewarna dengan bajunya. Kostum tersebut membuat Lucy dan Lisanna menjadi tambah manis dan menawan.
"Aaaah Lucy..kawaiiiiii" ujar ketua klub cheers sambil memeluk Lucy. Lucy hanya bersweatdrop.
"Ah arigatou, ketua" respon Lucy
"Aku sudah menduganya, kalau kostum ini akan cocok denganmu, Lucy" seru ketua. Ketua cheers ini bernama Minami Yoshida. Ia satu kelas dengan kakaknya, yaitu Sting.
"Dan kau juga Lisanna, kau manis sekali dengan kostum itu hihihi" seru Minami.
"Arigatou senpai" sahut Lisanna, yang di pipinya sudah ada semburat merah.
"Baiklaaaaah, saatnya kita tampil. Ayoooo!" Seru Minami dengan semangat yang menggebu-gebu.
Akhirnya Lucy dan tim keluar, mereka semua menunjukkan gerakan-gerakan yang selama ini mereka latih. Setelah beberapa menit, pertunjukkan selesai, dan tim cheers melambaikan tangannya kearah penonton. Sedangkan penonton yang melihatnya hanya berseru nama-nama siswi yang ada di tim cheers yang mereka favoritkan.
"Lucy-chaaaan kyaaaaa kawaiiiiiii"
"Heartfilia-san, daisuki yoooo"
"I love youuu Lucy-chaaan, kawaiiiiii"
"Minami, so hoooottt"
"Lisannaaaaa~"
"Wohooo kyoko kawaaaiiii"
Dan tim cheers hanya tersenyum ramah sambil melambaikan tangan mereka.
Lucy menoleh kearah bangku pemain, ia melihat kakaknya dan juga Natsu. Sepertinya kakaknya sedang memberi pengarahan pada pemain lain. Secara, Sting adalah kapten tim basket. Natsu dan Sting menyadari kalau mereka diperhatikan oleh Lucy.
Natsu tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Lucy. Sedangkan Sting? Sting hanya tersenyum, dan kembali ke kegiatannya. Lucy tidak tahu kenapa, Lucy menjadi kecewa melihat ekspresi kakaknya. Apakah saat tadi ia perform ia kurang bagus? Atau ada hal lain yang membuat kakaknya hanya tersenyum padanya? Kalau dipikir-pikir Sting adalah tipe pemuda yang aktif sama seperti Natsu. Itu tidak normal bukan?
Lamunan Lucy dibuyarkan oleh Minami.
"Lucy, ayo kita kembali" ajak Minami. Lucy mengangguk dan berjalan beriringan dengan Minami ketempat yang sudah disediakan untuk menonton pertandingan.
Beberapa saat kemudian, MC mengumumkan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Para pemain diminta untuk bersiap-siap memasuki lapangan. Tim basket dari sekolah Lucy mengenakan kaus putih dengan garis-garis hitam menghiasi sisi-sisinya dan lengan. Di sisi lain , lawan mereka mengenakan kaus hitam. Kedua tim sangat bersemangat. Begitupun Natsu dan juga Sting. Mereka berdua bersemangat untuk memulai permainan.
Laxus adalah keuntungan yang di miliki oleh pihak tim Sting, Laxus mempunyai tinggi yang menjulang. Ia mempunyai Rambut pirang yang runcing, warna yang sama persis seperti Lucy dan juga Sting, dan terkadang kalau mereka bertiga sedang berkumpul, mereka disebut trio blondie, dan tidak lupa bekas luka berbentuk petir di mata kanannya dan otot terlihat jelas di balik kostumnya. Dia menyilangkan lengannya di dada dan masih memberikan pandangan yang garang kepada pemain-pemain lawan. Elfman adalah pemain yang serupa dengan Laxus. Tinggi badannya pun menjadi andalannya. Ia selalu berteriak" man...man...man" dan ia adalah kakak lelaki dari Lisanna. Dan ada Makoto, Dia tidak setinggi Laxus. Dia tampak tenang dan rileks tapi tanpa diketahui yang lain, ia mungkin sudah menyusun strategi bagi tim mereka untuk menang. Dia adalah seseorang yang banyak perhitungan. Sedangkan lawan mereka semua tampak serupa karena rambut cepak mereka.
Wasit pergi ke tengah lapangan, memegang satu tangan ke bola, dan tangan yang lain memegang peluit. Dia menatap para pemain, peluit diposisikan pada bibir wasit dan tangannya memegang bola diturunkan. Laxus menatap lawannya, tubuhnya menegang menunggu suara peluit . Setelah meniup peluit, wasit melempar bola ke udara dan membuat jalan keluar dari tengah lapangan untuk tidak menghalangi pemain. Laxus melompat tinggi di udara dan mengambil bola. Ia melakukannya dengan mudah. Dia memiringkan tubuhnya empat puluh lima derajat ke kiri dan mengoper bola ke Natsu. Natsu menangkap bola dan mulai menggiring bola ke arah ring tim lawan. Dia menembak dan bola pun masuk, ini membuat timnya mendapatkan sorak-sorai dari kerumunan.
"Waaaah Natsu hebaaaat, ayooo semangaaaat" sorak Lucy
Natsu yang mendengar sorak dari Lucy hanya melambaikan tangan dan tersenyum, Lucy blushing.
"Ciee Lucy...kau menyukai Natsu ya?" Tanya Lisanna dengan nada meledek.
"Ah..anoo..hmm yasudah ah tidak usah dibahas, ayo kita tonton pertandingan lagi" elak Lucy. Lisanna hanya tertawa pelan.
Sorak-sorai dari kerumunan terus terdengar setiap tim Sting mencetak point. Ketika Sting mencetak satu poin untuk tim mereka, ia memberikan seringai terkenalnya. Hal ini menyebabkan gadis penggemarnya menjadi pingsan dan menjerit-jerit histeris. Lucy yang melihatnya merasa ingin merobek mata para fans Sting sampai keluar.
'Eh? Apa yang aku pikirkan' batin Lucy
Apa yang dirasakan oleh Lucy? Cemburu? pasti tidak. Perasaan takut? Apa-apaan, memangnya Sting kenapa. Lucy mencengkeram roknya erat dan menghendaki tatapannya menjauh dari Sting, akhirnya ia berfokus pada Natsu. Dia melihat Natsu menyeringai dan merasa bahwa ia tampak begitu lucu. Lucy merasa wajahnya memerah. Natsu hendak menembak dan bola masuk kedalam ring. Babak pertama usai, para pemain kembali ketempatnya untuk beristirahat.
Lucy melihat Natsu, setelah itu menoleh kearah Sting yang sedang minum. Lucy memegang dadanya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Tidak tahu apa alasannya, saat melihat Sting, Lucy merasa jantungnya berdegup dengan kencang. Ia berpikir itu karena peristiwa yang terjadi di atap sekolah.
Beberapa saat kemudian, para pemain sudah berkumpul lagi ditengah-tengah lapangan. Permainan babak kedua pun dimulai, Elfman sudah merebut bola dari pihak lawan, menggiringnya dan melihat kearah mana ia akan oper. Ia melihat Natsu posisinya di block oleh pemain lawan, begitupun dengan makoto, Elfman melihat yang bebas berlarian hanya Sting, ia melempar bola kearah Sting, dan tepat, Sting menerimanya dan Sting menggiring bola itu dan memasukkan kedalam ring. Sting mencetak poin. Disusul dengan Natsu yang mencetak 3 poin. Pihak lawan kewalahan dengan permainan tim Sting. tapi pada detik terakhir, Sting meraih bola yang dioper dari makoto, ia berlari dan tiba-tiba dihadang oleh pemain lawan, ia melihat kesekitar, ia melihat Natsu yang melambai-lambaikan tangan memberi sinyal bahwa ia bebas dari kepungan. Akhirnya dengan sigap, Sting melempar bola kearah Natsu, Natsu menerimanya dan segera berlari menuju ring dan memasukkan kedalam ring. Dan pluit tanda permainan berakhir berbunyi. Tim Sting menang.
Para penonton bersorak-sorak akan kemenangan tim Sting. Begitupun dengan tim cheers. Lucy dan Lisanna melompat kegirangan sambil menggoyang-goyangkan pom-pomnya.
Tim Sting kembali ketempatnya setelah bersalaman dengan pihak lawan.
Lucy tersenyum dan berlari ketempat Natsu dan Sting berdiri.
"Aaaah kita menaaaang! Kalian hebaaat!" Seru Lucy sambil merangkul kakaknya dan Natsu dengan akrab.
"Ahaha iya dong, itu karena sentuhan terakhir dariku, Luce" ucap Natsu.
"Bukan hanya karena dirimu, kalau kau tidak mendapatkan bola dariku, kau juga tidak akan bisa mencetak poin didetik terakhir" timpal Sting.
Mereka bertiga tertawa riang. Setelah itu Lucy melepaskan rangkulan dari keduanya dan berdiri berhadapan dengan Natsu. Lucy tersenyum manis kepada Natsu. Memberikan minuman dan handuk kering. Sting hanya bisa menatap pasangan itu dengan tatapan nanar. Sting segera menerima minuman yang diberikan oleh Laxus.
"Eeeh? Ada apa dengan wajahmu itu? Kau tidak terlihat senang, padahal kita ini menang" ucap Laxus yang sedang mengelap keringatnya
"Bukan urusanmu" sahut Sting dengan santai. Laxus hanya menyeringai. Sebelum ia bertanya pada Sting, Ia tahu kalau Sting sedang menatap Natsu dan Lucy yang sedang berbincang.
'Dasar bocah itu, overprotectif' pikir Laxus.
Natsu dan Sting sedang dikamar ganti. Ia mengganti kostumnya dengan pakaian bersih setelah mandi.
Natsu yang topless sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kering dan duduk di bangku. Sting keluar dari kamar mandi dan kepalanya dibalut dengan handuk. Sting melihat Natsu dan segera menghampiri Natsu.
"Hoy, tadi permainan yang bagus" ucap Sting.
"Hmm ya begitulah" sahut Natsu.
"Natsu, aku ingin bertanya sesuatu padamu" ucap Sting sambil memandang Natsu. Natsu membalas pandangan Sting.
"Ada apa? Ya silahkan saja" Natsu masih terus menggosokkan rambutnya pakai handuk keringnya yang sekarang sudah basah.
"Apa kau menyukai adikku?" Tanya Sting.
Natsu menghentikan aktifitasnya dan menatap Sting dengan pandangan bingung. "Eh?"
"Apa kau menyukai Lucy?" Tanya Sting lagi, tetapi ia sudah tidak menatap Natsu, Sting sekarang melihat kearah lain.
Natsu terdiam sejenak. Dan memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Iya aku menyukainya, sejak SMP" ucap Natsu. Sting tersenyum.
"Oh souuka..." Sting bangkit berdiri.
Natsu hanya menaikkan sebelah alisnya. Ia berpikir kenapa Sting tiba-tiba bertanya padanya tentang perasaannya pada Lucy. Ia mengangkat bahunya dan melanjutkan aktifitasnya.
Lucy sedang berada diruang ganti. Ia mengganti kostum cheersnya dengan pakaian yang sudah ia bawa. Setelah ia sudah selesai memakai pakaian. Lisanna menghampirinya.
"Lucy, anak-anak menunggu kita di tempat karaoke, katanya mereka ingin merayakan kemenangan tim sekolah kita" ucap Lisanna.
"Hmm begitu ya, baiklah. Ayo kita kesana" ajak Lucy. Lisanna dan Lucy berangkat ketempat anak-anak berkumpul.
Sesampainya di tempat karaoke, Lucy dan Lisanna langsung masuk kedalam ruangan dimana anak-anak itu sudah ribut. Lucy dan Lisanna hanya bisa tersenyum dan berjalan menghampiri mereka.
Ditempat karaoke sudah ada Natsu, Laxus, Makoto, Elfman, Levy, Loke, Gajeel, Juvia, Gray, Erza, Jellal, Minami. Lucy memperhatikan sepertinya ada yang kurang.
'Loh, onii-san tidak ada?' Pikir Lucy.
Lucy duduk dekat Levy.
"Hey, kakakku kemana? Kalian tidak ajak ya?" Tanya Lucy dengan nada menuduh.
"Oy bunny girl, jangan menuduh yang tidak-tidak. Tidak mungkin kita tidak mengajak sang kapten" ujar Gajeel.
"Iya Luce, tadi kita sudah mengajak Sting, tapi dia bilang masih ada urusan yang harus diurusinya. Jadi ia pergi lebih dahulu" jelas Natsu.
Lucy berpikir, sejak kapan Sting, kakaknya menjadi tidak suka pesta dan lebih memilih mengurusi urusannya. Dan terlebih lagi, urusan apa yang harus diurusi oleh Sting.
"Ce..Luceee...Lucyyyyy" panggil Natsu. Lamunan Lucy menjadi buyar.
"Ah, kenapa Natsu?" Sahut Lucy
"Kau melamun saja, ayo kita mulai pestanya" seru Natsu.
"Yohooo, ayo kita mulai pestanyaaa!" Ujar Makoto dengan semangat yang menggebu-gebu. Diikuti sahutan dari yang lainnya.
Mereka semua bernyanyi, dari Natsu yang bernyanyi, lalu Gajeel, lalu Makoto, dan selanjutnya Jellal dengan Erza, mereka berduet. Setelah itu Natsu dan Lucy yang berduet, saat mereka bernyanyi anak-anak bersorak untuk menggoda Lucy dan Natsu.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, Lucy melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia khawatir dengan kakaknya. Pasti ia akan dimarahi oleh Sting. Dan juga kalaupun Sting sudah sampai rumah terlebih dahulu, ia akan memakan apa? Dirumah tidak ada makanan. Lucy berpikir akan membelikannya makanan pada saat pulang.
"Luce, kau pulang denganku saja ya? Aku akan mengantarmu sampai rumah" tawar Natsu. Lucy mengangguk dan tersenyum.
Natsu dan Lucy sekarang sudah berada dimobil. Mereka berjalan untuk pulang kerumah.
"Natsu, kita mampir ke supermarket dulu ya. Aku ingin membelikan makanan untuk Sting. Pasti ia sudah kelaparan" pinta Lucy. Natsu mengangguk.
Setelah menepi dan memarkirkan mobilnya, hanya Lucy yang masuk kedalam supermarket. Lucy membeli sayuran, telur, roti dan beberapa makanan siap saji. Setelah selesai berbelanja, Lucy masuk kedalam mobil Natsu dan melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya didepan rumah Lucy. Natsu membantu Lucy untuk membawa belanjaan Lucy yang tadi ia beli. Lucy membuka pintu rumahnya, Natsu dan Lucy masuk.
"Taruh didapur saja ya Natsu, aku cari Sting dulu sebentar" ucap Lucy sambil bergegas berjalan kearah kamar Sting.
Sesampainya dikamar Sting, Lucy mengetuk pintu.
"Onii-san, aku masuk yaaa" Lucy membuka pintu dan ia melihat kamar Sting berantakan, buku-buku berserakan, pakaian pun berserakan, dan Lucy melihat Sting sudah terlelap tidur. Lucy menghembuskan nafasnya.
'Huh aku harus membereskan ini semua' batin Lucy.
Lucy segera keluar dari kamar Sting dan berjalan menghampiri Natsu yang duduk diruang tamu.
"Maaf membuatmu menunggu. Kau mau minum apa Natsu?" Tanya Lucy.
Natsu bangkit berdiri "Tidak usah Luce, aku harus cepat pulang. Sudah malam" sahut Natsu.
"Hmm baiklah, hati-hati dijalan ya. Sampai ketemu besok" ujar Lucy sambil menutup pintu depan.
Ia segera masuk kekamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, ia bergegas menuju kekamar Sting yang berantakan.
Lucy menguncir rambutnya dengan tinggi, ia memakai t-shirt yang kebesaran dan juga hotpants. Ia memunguti buku-buku yang ada dibawah, ia taruh dimeja dan ditata kembali. Setelah selesai, ia merapikan pakaian-pakaian Sting yang berserakan dimana-mana. Ia harus melipatnya lagi dan memasukkan kedalam lemari. Setelah selesai, Lucy duduk sejenak dipinggir tempat tidur Sting. Lucy memperhatikan Sting yang tertidur, dan baru ia sadari kalau Sting tidur masih memakai sepatu. Dengan segera Lucy melepaskan sepatu yang dipakai Sting dan menyelimuti Sting.
"Oyasumi, onii-san" ucap Lucy sambil keluar dari kamar Sting.
Saat Lucy ingin bangkit berdiri, dengan cepat Sting menarik tangan Lucy. Lucy tergelincir terjatuh diatas tempat tidur Sting dan menimpa Sting. Sting sudah duduk ditempat tidurnya. Lucy yang menyadari posisinya, ia langsung bangkit berdiri.
"Apa-apaan kau ini? dan kenapa kau bau alkohol? kau minum-minum ya? sejak kapan?" ucap Lucy dengan nada tinggi.
Sting diam dan bangkit berdiri untuk menghampiri Lucy. Sting menatap Lucy dengan pandangan yang tidak bisa dibaca oleh Lucy. Lucy mundur. Ia melihat sikap kakaknya yang aneh menjadi horror sendiri. Setiap Sting memajukan langkahnya, Lucy pasti memundurkan langkahnya. tetapi dengan cepat, Sting meraih tangan Lucy dan menariknya sehingga Lucy lagi-lagi terjatuh ditempat tidur Sting. Sting segera mendekati Lucy yang terbaring. Dia menaruh tangannya di sisi tubuhnya , tubuhnya menjulang di atasnya. Lucy mencoba untuk mendorong Sting pergi, tapi Sting terlalu kuat.
"Onii-san...apa kau-" Kata-katanya terputus karena bibir Sting yang sekarang sudah berada di bibirnya. Sting meminta izin untuk memasukan lidahnya tapi Lucy terus menutup mulutnya. Tetapi Sting tidak menyerah, akhirnya Lucy membuka mulutnya memberikan izin Sting. Sebuah erangan pelan dari Lucy dan Sting. Ciuman mereka makin memanas.
Lucy menarik-narik rambut Sting, mencoba untuk membuatnya berhenti tapi Lucy membawa Sting lebih dekat kepadanya. Lucy akhirnya menyerah dan memegang bahu Sting. Akhirnya Sting melepaskan bibirnya dan menatap Lucy. Keduanya jelas terengah-engah. Lucy sadar kalau dia telah bercumbu dengan kakaknya dan lebih parahnya di tempat tidur.
"Aku mencintaimu Lucy, Sungguh. Aku tidak bisa melupakan perasaan ini, apalagi menghapusnya. Saat aku mecoba itu, aku merasa perasaan ini semakin mendalam. Saat aku melihat dirimu dengan Natsu, aku merasa terbakar oleh cemburu. dadaku sakit melihatnya. Maaf..Maafkan aku" jelas Sting. Lucy segera duduk disebelah Sting yang memang ia sudah duduk setelah mencium Lucy.
"Sejak kapan? sejak kapan perasaan itu ada?" tanya Lucy
"Aku..aku tidak tahu, perasaan itu hanya mengalir begitu saja. Aku fikir ini adalah rasa cinta yang normal pada seorang adik. Tetapi akhir-akhir ini aku merasa cinta itu tumbuh makin mendalam. Aku tidak mengerti. Sulit untuk dijelaskan" jelas Sting
Sting tertunduk. Lucy hanya bisa menatap kakaknya dengan tatapan sendu. Lucy menjadi ingat ciuman panasnya bersama dengan kakaknya. Lucy tahu itu salah, tapi ia merasa menyukai ciuman itu. Ia menyentuh bibirnya dengan jarinya, pipinya merah merona karena mengingat kejadian yang tadi.
"Onii-san" panggil Lucy dengan lembut. Sting menoleh dan tiba-tiba...
GREEEEP
Lucy memeluk Sting dengan erat. Sting merasa kaget, tapi pada akhirnya ia membalas pelukan Lucy.
"Maafkan aku, onii-saan. Aku sungguh egois, tidak memikirkan perasaanmu, selama ini kau sakit melihat diriku. Maafkan aku..Maaf...hikss" isak Lucy
"Tidak Lucy, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Aku yang salah, aku yang salah karena telah mencintaimu" ucap Sting.
Mereka berdua melepaskan pelukan mereka. Mereka saling menatap. Manik coklat milik Lucy bertemu dengan manik biru milik Sting. Wajah mereka semakin dekat. makin dekat.. dan akhirnya mereka berciuman kembali. Bukan ciuman panas seperti yang mereka lakukan tadi, ini adalah ciuman yang penuh perasaan dan kelembutan. Lucy meneteskan airmatanya saat berciuman. Sting menyadari hal itu dan segera melepaskan ciuman itu.
"Maafkan aku" ucap Sting. Lucy menggeleng.
"Ak-aku mencintai seseorang. Ja-jadi aku tidak bisa membalas perasaanmu. Ma-maafkan aku" ucap Lucy dengan gugup. Sting tersenyum. Sting berpikir, Lucy berubah. Dari ciuman pertama mereka diatap sekolah sampai dengan hari ini. Sting senang. Lucy dengan perlahan menerima perasaannya. terbukti dengan adegan 2x ciuman tadi. Lucy membalas ciuman Sting walaupun pertamanya ia berontak.
"Aku tahu. Aku tidak akan memaksakannya. Aku tahu ini seharusnya tidak dilakukan, tapi aku sudah tidak tahan. Aku ingin memiliki dirimu. Tapi kau ingin memiliki Natsu. Dan sekarang kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu. Aku akan mencintaimu lebih dari Natsu ataupun orang lain" ucap Sting. Lucy menoleh dan wajahnya memerah. Sting yang menyadari itu hanya tertawa.
"Ka-kau bisa berbicara seperti itu ka-karena kau tidak memiliki pacar" sahut Lucy dengan gugup. Jantungnya berdegup dengan kencang.
"Terserah apa katamu, tapi kau harus ingat. Aku tidakk akan memberikan dirimu kepada Natsu ataupun ke yang lain dengan mudahnya" ucap Sting sambil menyeringai. Lucy meringis dan berlari keluar meninggalkan Sting.
"Oyasumiiii, vanilaaaa" seru Sting
Lucy yang sudah berada diluar kamar Sting terengah-engah. Ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sting. Wajahnya memanas, jantungnya berdegup dengan kencang.
Sedangkan Sting yang masih didalam kamarnya, terbaring ditempat tidurnya. Memikirkan kejadian yang bau saja terjadi.
"Vanila dan Strawberry" gumam Sting sambil menyentuh bibirnya dengan jarinya.
Ditempat lain, tempat dimana orang tua Lucy dan Sting sedang bekerja. Layla dan Jude sedang beristirahat dari pekerjaannya. Mereka berdua berbincang-bincang dengan santai sambil minum kopi.
"Layla, kapan sebaiknya kita membicarakan hal itu pada anak-anak?" Tanya Jude yang sedang menyesap kopinya.
"Lebih baik nanti, aku tidak tega untuk membicarakannya pada mereka." Sahut Layla yang menundukkan kepalanya.
"Apa kau berpikir Sting bisa menerima kenyataannya?" Tanya Jude kembali.
"Aku tidak tahu, sayang. Dan aku tidak pernah berpikir akan jujur tentang hal itu padanya" ucap Layla yang terlihat sedih.
"Tapi mau tidak mau, kita harus memberitahukan faktanya..." Ucap Jude sambil memeluk istrinya yang menangis sedih. Layla yang berada dalam pelukan Jude pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang dibicarakan oleh Jude.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
Yes, ini dia.. bagaimana menurut kalian? hayooo apa yang sedang dibicarakan oleh orang tua Lucy? ada apa sama Sting? rahasia apa sih tentang Sting yang mau diomongin ama Jude dan Layla? kalian bisa menebaknya? please review..
Jika ada yang kurang, salah, atau apapun kalian bisa mengomentarinya lewat review ataupun PM.
terimakasih
jaa nee...
