-THE LAST THING LOST-
Story by charlottecauchemar
Inspired by Demi Cinta, a Kerispatih's song
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning:
AU. OOC. Yaoi. Kegombalan merajalela. Lime/Lemon in later chapter.
Chapter 4
Summary: ... Karena dia tidak berharap banyak. Hanya satu hal yang diinginkannya, yaitu seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus. tidak terlalu muluk, bukan? Sasunaru.
Sasuke kembali mematut dirinya di depan kaca. Sebenarnya bukan hal yang perlu dilakukannya. Hampir apa pun yang dikenakannya, tidak akan banyak merubah penampilannya. Karena di atas semua itu, dia adalah seorang Uchiha. Dan harus diakui, setiap Uchiha adalah orang yang dianugerahi penampilan yang menawan.
Akhirnya, setelah hampir setengah jam berkutat di tempat yang sama, Sasuke memutuskan bahwa penampilannya sudah sempurna untuk kencan hari ini. Sasuke pun sebenarnya heran sendiri. Biasanya ia tidak pernah repot-repot sampai harus mengajak objek permainannya kencan, apalagi ke taman bermain, tempat yang penuh dengan berbagai macam orang dan keramaian. Tempat yang paling dihindarinya. Tapi entah kenapa, demi seorang Uzumaki Naruto, dia rela melakukan hal seperti itu.
Karena dia anak yang menarik, dan gue nggak sabar lagi untuk buat dia jatuh ke tangan gue… sepertinya itulah yang ada di pikirannya.
Sasuke segera meraih kunci mobilnya –mobil Gaara yang diberikan padanya lebih tepatnya- dan berjalan keluar dari kamarnya.
"Kau mau pergi ke mana, Otouto?"
Baru saja melangkah menuruni tangga, sebuah suara membuatnya menghentikan langkahnya. Sasuke berbalik dan menghadapi kakaknya yang bersidekap.
"Sepertinya ke mana aku mau pergi itu bukan urusanmu, Aniki…" katanya tanpa ekspresi.
Itachi mengernyitkan dahinya. "Kau tahu hari ini Ayah akan pulang, dan kau juga tahu kalau dia pulang dan kau tidak ada di rumah…"
"Laki-laki itu tidak akan peduli aku ada atau tidak," potongnya, "… yang penting adalah anak kesayangannnya sekaligus pewaris perusahaannya menyambutnya di rumah." Walaupun Sasuke mengatakannya dengan datar, Itachi bisa menangkap nada sinis dalam suaranya.
"Otouto…"
"Kalau kau tak ada perlu denganku lagi, Tuan Muda, aku mohon diri…" Lagi, walaupun datar, perkataan itu cukup menusuk hati Itachi.
Itachi memandang adiknya yang keluar rumah tanpa mengucapkan apa pun lagi. Bahkan ketika ibunya menyapanya, dia hanya terus berlalu membuat wanita yang melahirkannya itu mendesah panjang.
Itachi menyandarkan dirinya ke pagar tangga, mendengarkan suara mobil adiknya yang perlahan-lahan keluar dari garasi mobil. Dia tidak tahu dari mana adiknya bisa mendapatkan mobil sport keluaran terbaru itu. Seharusnya, sejak mobil jeep kesayangannya disita oleh ayahnya karena ketahuan menyetir sambil mabuk, adiknya itu tidak punya kendaraan lagi.
Pemuda berambut hitam itu kemudian menuruni tangga dan menghampiri wanita setengah baya yang tengah membereskan meja makan. Padahal, sepertinya tidak ada gunanya setiap pagi wanita itu menyiapkan sarapan untuk 4 orang di meja makan. Percuma. Entah sejak berapa tahun yang lalu, mereka tidak pernah melewatkan sarapan, makan siang, ataupun makan malam bersama. Bahkan untuk sekedar bertukar cerita sehari-hari seperti sebuah keluarga. Mungkin, kalau mereka masih bisa disebut keluarga…
"Okaasan… aku bantu ya…" Pemuda 25 tahun itu ikut mengangkati piring-piring yang berisi lauk dan sayur-sayuran ke lemari makanan untuk dipanaskan lagi nanti siang. Dan seperti biasanya, hanya wanita setengah baya itulah yang akan memakannya.
"Lebih baik Okaasan tidak usah menyiapkan sarapan setiap pagi seperti ini. Sayang makanannya…"
Wanita itu hanya tersenyum memandang anak sulungnya dan menggeleng. "Ibu berharap kita bisa makan bersama seperti dulu lagi…"
Itachi memandang wanita itu kemudian memeluknya. "Aku juga Ibu… aku nggak pernah berhenti berharap keluarga kita akan seperti dulu lagi…"
Pemuda itu terus memeluk ibunya yang terlihat rapuh.
Sasuke… andai kau bisa kembali jadi dirimu yang dulu…
~oOo~
Pemuda berambut pirang itu menilik jamnya sekali lagi. Masih ada waktu 10 menit sebelum waktu yang dijanjikan tiba. Dan dalam 10 menit itu dia bisa saja memutuskan untuk meninggalkan tempat parkir 'Miracle' dan kembali ke apartmennya, menikmati semangkuk ramen. Tapi, alih-alih melakukan hal itu, Naruto berdiri dengan tidak sabar menanti seorang pemuda berambut ayam untuk muncul.
Naruto menyandarkan punggungnya di dinding, kaki kanannya terus menerus menghentak berirama di lantai. Sampai akhirnya dia melihat sebuah mobil yang kemarin mengantarkannya ke tempat tinggalnya.
Pemuda itu tidak beranjak dari tempatnya, menunggu pemilik mobil itu untuk menampakkan dirinya.
"Tepat jam 10, kan?" ujarnya ketika sampai di hadapan Naruto.
Naruto mendengus. Tapi ketika pemuda itu menggenggam tangannya dan menariknya menuju tempat penjualan tiket, Naruto mengikutinya dengan patuh.
"Baiklah… kau mau ke mana?"
"Kamu yang ngajak… kamu yang mutusin…" jawabnya tanpa menatap pemilik mata onyx itu. Wajahnya yang menunduk terlihat memerah karena tangannya yang masih berada dalam genggaman Sasuke.
Sasuke kemudian mengayunkan langkahnya tanpa melepaskan pegangannya, yang sepertinya membuat Naruto tidak nyaman.
"Sasuke… bisa lepas tanganku?"
"Nggak," jawabnya singkat.
Naruto menggembungkan pipinya, yang mau tak mau membuat Sasuke mengeluarkan seringaian khasnya.
"Bukan apa-apa. Tempat ini ramai sekali, kalau sampai terpisah susah nyarinya…" jelasnya.
Dan sepertinya Naruto bisa menerima alasan yang cukup masuk akal itu.
Maklum, hari itu adalah akhir minggu, di mana orang-orang menghabiskan waktunya untuk berlibur. Dan sepertinya tidak sedikit yang berpikiran sama seperti mereka untuk menghabiskan waktu di taman bermain.
Padahal alasan yang sebenarnya sungguh berbeda bagi Sasuke. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia sangat menikmati keberadaan Naruto di dekatnya. Dan dengan menggenggam tangan pemuda pirang itu, Sasuke bisa membuktikan pada dirinya sendiri bahwa Naruto saat ini ada di sampingnya.
"Kita ke sana, Dobe…"
"Jangan panggil aku dobe, Teme…" desisnya. Sasuke hanya angkat bahu dan menariknya menuju sebuah arena permainan.
Begitulah mereka menghabiskan siang itu. Walaupun awalnya Sasuke yang harus menarik-narik Naruto, pun pada akhirnya dia sendiri yang kewalahan dengan tenaga Naruto yang seperti tidak ada habis-habisnya.
~oOo~
"Hebat…" Bola mata berwarna biru itu terbelalak menyaksikan pertunjukan di hadapannya.
"Bodoh… tipuan seperti itu hanya untuk anak kecil tahu…" ujar pemuda di sampingnya.
Naruto hanya melirik Sasuke dari sudut matanya, tidak menggubris komentarnya yang seperti menyuarakan 'dasar-anak-kecil'.
Sasuke tidak mengganggunya lagi. Saat itu, mereka berdua sedang berada di sebuah gedung pertunjukkan di dalam 'Miracle'. Sebuah pertunjukkan sulap sedang digelar di sana. Dan dengan bodohnya, dia mengangguk begitu saja ketika Naruto mengajaknya ke tempat itu.
Sasuke menghempaskan punggungnya ke kursi empuk yang di dudukinya, kemudian menyilangkan tangan di depan dadanya. Pertunjukkan seperti itu sama sekali tidak menarik minatnya. Karena dengan kejeniusannya, dengan mudah dia bisa menebak tipuan-tipuan yang pesulap itu gunakan.
Dan akhirnya, setelah hampir sejam dia terjebak dengan pertunjukan yang menurutnya konyol itu, Naruto bangkit dari tempat duduknya bersama-sama dengan puluhan pengunjung yang lain. Sasuke mengikuti di belakangnya.
"Lalu…" ujar Naruto, "… habis ini kita ke mana?"
Sasuke melirik jam tangannya. Beberapa menit menuju pukul 3.
"Kita makan," jawabnya memutuskan, "kau mau makan apa?"
"Ramen!" Naruto menjawab dengan bersemangat, tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Ramen? Makanan sampah seperti itu?"
Naruto menggembungkan pipinya kesal. "Kalau kau tidak mau, ya sudah. Aku bisa makan ramen di rumah, kok…"
Sasuke menyambar lengan Naruto yang mulai melangkah. "Kamu gampang ngambek, ya?" tanyanya dengan seringaian di wajahnya.
Kali ini, Sasuke menarik Naruto menuju ke pintu keluar taman itu. Kemudian menggiringnya ke mobil sportnya di tempat parkir.
Ketika Sasuke membukakan pintu bagian penumpang, Naruto terlihat ragu untuk menaiki mobil itu.
"Kenapa?" Sasuke mendekati pemuda itu. "Kamu nggak akan aku apa-apain, kok. Atau jangan-jangan…" sekarang punggung tangannya mengelus lembut pipi pemuda itu, "… kamu memang mau diapa-apain?"
"A… apa-apaan sih!" Naruto menepiskan tangan Sasuke yang masih menyeringai dan masuk ke dalam mobil.
~oOo~
"Tiga mangkuk porsi jumbo dan kamu sama sekali belum kenyang?" Sasuke memperhatikan Naruto yang masih sibuk dengan mangkuk keempatnya.
"Nggak boleh? Kamu sendiri yang bilang mau bayarin aku, kan? Sayang dong, kalau nggak dimanfaatin…" jawabnya cuek.
Sasuke dongkol sendiri. Niatnya, dia yang ingin mengerjai pemuda pirang itu, sekarang malah dia yang dimanfaatkan.
"Kamu sendiri… memang kenyang hanya minum jus begitu?" Naruto menunjuk gelas kosong di depan Sasuke.
"Hn."
Beberapa menit kemudian, Naruto menyingkirkan mangkuk kosongnya sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Hah… kenyang…"
"Kau sudah selesai? Bagus… sekarang kita bisa pergi dari tempat ini…" Sasuke memanggil seorang pelayan dan meminta bill kemudian membayarnya.
"Kenapa buru-buru gitu sih?"
Sasuke melempar tatapan kesal pada Naruto. "Lebih lama di sana semenit lagi, aku bisa mati…"
"Oh…'' Hanya itu respon yang keluar dari mulut Naruto, jelas sama sekali tidak berusaha terlihat simpatik.
Sasuke berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan restoran, namun segera menghentikan langkahnya ketika disadarinya Naruto jauh tertinggal di belakangnya.
"Ngapain di situ, Dobe?"
Naruto mendengus perlahan. "Mau jalan-jalan." Dan dengan itu, Naruto berjalan ke arah yang berlawanan dengan Sasuke.
"Hei… Dobe!" Sasuke mengikuti Naruto yang sudah mulai menjauh, berusaha mensejajarkan langkah mereka.
Tak berapa lama, mereka berdua sampai ke sebuah taman. Naruto tampaknya sangat mengenali tempat itu karena dia mengayunkan kakinya tanpa ragu.
Sampai akhirnya, mereka berdua sampai di bagian taman yang cukup dalam. Sedikit gelap karena tertutup oleh pepohonan. Sebuah tebing yang cukup terjal menawarkan pemandangan kota Konoha menjelang senja.
"Waaw…" Hanya itu yang bisa meluncur dari bibir Sasuke.
Naruto tersenyum puas mendengarnya. "Lihat… aku bisa membuatmu terkagum-kagum, kan?"
Sasuke berdehem, berusaha menghilangkan keterkejutannya. Dari sudut matanya dia bisa melihat Naruto yang sekarang duduk bersandar di batang pohon yang cukup rindang.
"Dari mana kau tahu tempat seperti ini?" tanyanya ketika dia sudah duduk di samping pemuda berambut pirang itu.
"Dunno…" Naruto mengangkat bahunya. "Sepertinya waktu itu aku tidak sengaja tersesat.''
Pemuda pirang itu memejamkan matanya, berusaha menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menyapanya.
Sasuke memandang Naruto yang terlihat sangat tenang itu. Selama ini, dia tidak pernah melihatnya begitu… damai? Tanpa disadarinya, tangannya bergerak menyibakkan rambut pirang Naruto yang jatuh menutupi kelopak matanya. Dan saat itu juga, mata biru Naruto terbuka. Pandangan mereka bertumbukan.
Mengikuti nalurinya, Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto, begitu dekat sampai dia bisa merasakan nafas Naruto di bibirnya. Sasuke memejamkan matanya, bersiap untuk menikmati bibir yang amat didambakannya itu.
"Stop trying to molest me…"
Seketika itu juga, Sasuke membuka matanya. Hidung mereka bersentuhan.
"Apa?"
Naruto mendorong pundak Sasuke dengan kedua tangannya. "Kau aneh, Sasuke…"
"Bagian mana dari diriku yang bisa mendapatkan label 'aneh'?" tantangnya, seakan berusaha meyakinkan pada pemuda di hadapannya bahwa tidak ada orang lain yang sesempurna dirinya.
"Kau…" Naruto menyentuh hidung bangir Sasuke dengan telunjuknya. "Buat apa sih, kau susah payah mendekatiku? Kita baru saja bertemu dan…"
"Aku sudah bilang kan, aku menyukaimu," potongnya, "apakah itu tidak cukup untuk jadi alasan untuk mendapatkanmu?"
Pemuda pirang itu menggeser posisinya sehingga sekarang ia terlentang di atas rumput. "Suka saja tidak cukup buatku," gumamnya.
Sasuke mengikuti jejak Naruto dan berbaring di sampingnya. "Lalu?"
"… kamu harus mencintaiku untuk mendapatkanku…" lanjutnya setengah berbisik.
Pemuda berambut hitam itu tertawa mengejek. "Cinta? Kalau begitu… anggap saja aku mencintaimu…"
"Nggak semudah itu, Teme…" Kali ini, Naruto membuka matanya, memandang langit yang mulai berubah warna menjadi kemerahan. "Cinta itu, bukan hanya sekedar ucapan di mulut saja. Lagipula, pada siapa kita jatuh cinta, kita tidak akan pernah bisa menduganya. Bisa saja kau memang benar-benar mencintaiku, tapi apa kamu yakin, kalau aku bisa membalasnya?"
Lagi, Naruto mengubah posisinya sehingga sekarang pemuda itu bertatap muka dengan Sasuke yang terbaring di sampingnya.
Tanpa disangka, Sasuke menarik pemuda pirang itu hingga akhirnya kepala Naruto berada di atas dadanya.
"Kalau begitu… aku tinggal membuatmu mencintaiku, kan? Mudah…"
"Teme… sudah kubilang, nggak semudah…"
Ucapan Naruto terpotong oleh Sasuke yang menarik tubuhnya dan mendaratkan sebuah ciuman cepat di bibirnya.
"Kau tinggal menunggu saat itu tiba, dan menurutku… tidak akan lama lagi…" Sasuke mengembalikan posisi Naruto di dadanya.
"Tapi Teme…"
"No buts, Dobe. And shut up.'' Perintah Sasuke itu langsung membuat Naruto terdiam.
Setelah itu, mereka berdua sama-sama tidak ada yang saling bicara. Masing-masing menikmati kehadiran yang lain di sampingnya. Sayangnya, keduanya tidak ada yang mau mengakuinya. Dan sepertinya, hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
~oOo~
Naruto mengucek-ngucek matanya sambil berusaha membuka kelopaknya yang terasa sangat berat. Tubuhnya terasa sedikit sakit karena posisi tidur yang salah sekaligus bantal yang bergerak naik turun… Tunggu dulu, tidak ada bantal yang bernapas. Jangan-jangan…
"Akhirnya kau bangun juga, Dobe…"
Naruto langsung mengambil posisi duduk dengan tiba-tiba. Ternyata, dia tertidur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Benda yang dianggapnya bantal tak lain dan tak bukan adalah dada Sasuke.
"Eh… aku tidur berapa lama?" Naruto berusaha menutupi mulutnya yang menguap lebar.
"Sekarang jam 10 malam dan kau mulai tidur sekitar jam 6 sore. Do the math, Dobe…"
"Aghh…" Naruto mengerang, "kenapa tidak dibangunkan?"
Sasuke dengan santainya hanya melanjutkan kegiatannya sedari tadi, menyilangkan tangannya di belakang kepalanya yang digunakannya sebagai bantal, mata onyxnya memandangi langit yang terlihat sangat indah dengan ribuan bintang yang bertaburan.
"Tidurmu nyenyak sekali, seperti kurang tidur selama berminggu-minggu. Lagipula…" Sasuke menggantung kalimatnya, sebelum akhirnya melanjutkannya ketika yakin Naruto mendengarnya dengan baik, "… wajah tidurmu benar-benar lucu."
Semburat merah muncul di pipi kecokelatan Naruto. Pemuda pirang itu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
Memang benar, sudah semenjak pindah ke Konoha, dia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Bayangan-bayangan dari masa lalunya tidak pernah absen untuk membuat rasa bersalahnya muncul. Dan Naruto sendiri tidak tahu, kenapa kali ini dia bisa tidur dengan tenangnya.
Dan sepertinya, Sasuke bisa membaca pikiran Naruto. "Aku benar, ya?" Bibirnya membentuk seringaian. "Kau boleh tidur di dadaku kapan pun kau mau, Dobe…"
"Berhenti menggodaku, Teme! Aku bukan cewek yang bakal luluh sama gombalanmu itu!"
Sasuke hanya tertawa mengejek dan kembali mengalihkan pandangannya ke langit malam yang sehitam amat onyxnya. Keheningan menguasai angkasa, sampai Naruto berinisiatif untuk memecahkannya.
"Yang tadi… kau serius?"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, berpikir sebentar. "Tentu saja. Kau boleh tidur di…"
"Bukan, bukan yang itu," potong Naruto. "Tapi… um…" Dia terlihat ragu sejenak. "Yang kau bilang kau akan membuatku… jatuh cinta?"
Rasanya, sudut bibir Sasuke akan membentuk segaris senyuman jika tidak dicegahnya. "Seorang Uchiha tidak akan pernah berbohong, apalagi menarik kata-katanya. Aku cukup yakin bisa melakukannya."
"Bolehkah…" Naruto menelan ludah, "aku berharap?"
Sasuke hanya bisa melempar tatapan bingung pada Naruto yang sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ah… sudahlah. Ayo kita pulang, Teme. Kau masih punya tugas untuk mengantarkanku sampai apartemen." Pemuda pirang itu bangkit dan menepuk-nepuk celananya yang sedikit kotor terkena tanah dan daun yang rontok.
Naruto berjalan mendahului Sasuke yang mengekor di belakangnya, menuju tempat parkir yang untungnya masih cukup ramai mengingat malam itu adalah malam minggu.
Pemuda pirang itu sibuk dengan segala macam pikiran yang berputar di kepalanya.
Tuhan… bolehkah aku kembali berharap akan ada seseorang yang mencintaiku dengan tulus?
~oOo~
"Selamat sampai tujuan sesuai pesanan, Tuan Muda." Sasuke menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang apartemen Naruto yang masih terbuka lebar.
"Baiklah… Selamat malam, Sasuke…" Naruto hendak membuka pintu mobil sebelum dirasakannya ada yang menahan pergelangan tangannya.
"Tidak ada tanda terima kasih untuk hari yang hebat ini?" tanyanya.
Naruto mengerang. "Oke, tutup matamu."
Dengan patuh, Sasuke melakukan perintah Naruto. Dia menunggu sebuah sentuhan hangat di bibirnya, sebuah kecupan manis yang diharapkan sebagai hadiahnya. Dan akhirnya kecupan hangat itu terasa… di pipinya.
"Hei!" protesnya, tapi Naruto sudah keburu melangkahkan kaki menuju aparmentnya di lantai dua dengan cengiran lebar di wajahnya.
"Sampai hari Senin, Teme!" teriaknya.
Sasuke hanya bisa mendesah panjang, sebelum akhirnya kembali menyalakan mesin mobilnya.
Tanpa disadarinya, otot-otot wajahnya bekerja sampai akhirnya membentuk sebuah senyuman. Di kepalanya seolah muncul gambaran film yang diputar ulang berisikan kegiatannya hari ini bersama Naruto. Sudah lama, dia tidak merasa setenang ini.
Jujur, ketika Naruto tadi tertidur di atas tubuhnya, jemarinya sibuk memainkan rambut pirang Naruto, sebelum akhirnya kantuk mulai menguasai dirinya. Untung saja, sekitar setengah jam sebelum Naruto terbangun, dia sudah lebih dulu membuka matanya.
Mungkin… dia memang benar-benar menyukai bocah itu?
Tiba-tiba, telepon genggamnya yang berada di dalam dashboard mobil berbunyi dengan nyaring. Dengan sebelah tangan, pemuda berambut hitam itu meraih telepon genggamnya. Begitu melihat nama yang tertera di situ, secara otomatis Sasuke mereject panggilan itu.
Untuk apa Itachi meneleponku?
Ketika dia memeriksa daftar panggilannya, ada lebih dari 10 misscalled yang masuk dari nomor kakaknya itu. Sasuke mendengus dan melempar telepon genggamnya ke kursi penumpang.
Sekali lagi, benda kotak berwarna hitam itu kembali meminta Sasuke untuk mengangkatnya. Sasuke berniat untuk mengabaikan panggilan itu lagi, namun ketika menyadari bahwa ringtone yang terdengar berbeda dengan yang sebelumnya, pemuda itu menjawabnya dengan malas-malasan.
"What is it, Gaara?" desisnya.
"Nothing,'' jawab suara di seberang sana, "hanya ingin tahu kabar kencan The Great Uchiha hari ini…"
Sasuke mendengus. "Not your bussiness…"
"Well… kalau ini menyangkut taruhan kita, itu urusan gue."
Sasuke terdiam.
"Hei… Jangan bilang kalau lo lupa sama tujuan kita semula dan benar-benar jatuh cinta…"
"Hell, no!" potongnya, walaupun dia sendiri sepertinya tidak yakin dengan jawabannya.
"Oke, gue percaya sama lo. Kita ketemu hari Senin, I guess? Lo sepertinya nggak bisa digangggu sekarang."
"Hn." Dan dengan itu, Sasuke memutuskan hubungan.
~oOo~
Sasuke mematikan mesin mobilnya kemudian keluar dan menguncinya. Mata onyxnya menangkap siluet mobil sedan di dalam garasi yang membuatnya mendengus kesal.
Ngapain orang itu pulang?
Pemuda itu melangkah menuju pintu samping yang dia tahu tidak akan dikunci sebelum dia sampai di rumah. Pintu itu menghubungkan garasi dengan ruang makan.
Wajah kesal bercampur khawatir kakak laki-lakinyalah yang pertama menyambutnya ketika dia masuk ke ruang makan. Tanpa mengindahkan tatapannya, Sasuke terus melangkah.
"Kita harus bicara, Otouto."
Suara berat Itachi hanya dianggapnya angin lalu.
"Lihat aku, Sasuke!" perintah Itachi. Tangannya mencengkeram lengan Sasuke yang bisa dicapainya.
"Kau tidak punya hak untuk memerintahku, Itachi," desisnya.
"Jaga kelakuanmu jika berbicara dengan kakakmu, Anak Bodoh."
Mendengar suara yang sudah lama tidak menyapa telinganya itu, Sasuke langsung berbalik untuk mendapati seorang pria dengan usia yang hampir setengah abad namun garis tegas wajahnya masih sangat kentara.
"Otousan…'' bisiknya. Pria itu sedikit berjengit ketika mendengar panggilan yang ditujukan kepadanya itu.
"Kalau kau memang masih menganggapku sebagai orang tuamu, baguslah. Kupikir anak bengal sepertimu sudah tidak punya tata krama,'' ujarnya tenang, seolah tidak manyadari kilat kebencian yang melintas di mata onyx Sasuke.
"Kalau hanya itu yang ingin kau bicarakan, Otousan," ujar Sasuke, "aku mau tidur."
"Tidak sebelum kau memberi alasan yang bagus pergi ke mana kau baru pulang semalam ini," ujarnya sambil merlirik jam dinding yang jarum panjang dan pendeknya hampir mencapai angka 12.
Sasuke menggertakkan giginya kesal. "Aku bukan anak kecil lagi, Ayah. Aku bisa menjaga diriku sendiri.''
"Kau harap ayahmu ini percaya omonganmu setelah semua masalah yang kau timbulkan dan mencoreng nama Uchiha yang kita sandang?" tanyanya, "Dan darimana kau mendapatkan mobil itu? Kuharap kau tidak mencurinya. Aku tidak mau mendengar kau berurusan dengan kepolisian lagi.''
Dan akhirnya kesabaran Sasuke mencapai batasnya. "Dan apa pedulimu? Bahkan kalau aku mati pun bukan masalah buatmu, kan? Yang penting anak kesayanganmu itu…"
PLAKK
Sebuah tamparan yang cukup keras membuat Sasuke kehilangan kata-katanya. Pipi putih pucatnya berubah merah.
"Aku tidak pernah mengajarkan anak-anakku untuk berbicara seperti itu! Kenapa kau tidak pernah bisa bersikap seperti layaknya seorang Uchiha? Paling tidak, contoh kakakmu!"
"Cih, dia hanya penjilat." Sasuke melempar pandangan jijik pada kakak laki-lakinya yang masih terdiam.
"Kau…" Fugaku mengangkat tangannya lagi, bersiap untuk memberikan tamparan lainnya. Namun, tangan Itachi menahannya.
"Otousan, jangan," ujarnya. Mata onyxnya menatap adik semata wayangnya, berharap Sasuke bisa bertindak benar sekali ini saja.
"Jangan harap aku berterima kasih padamu!" Dan dengan itu, Sasuke berbalik dan keluar dengan membanting pintu. Tidak lama setelahnya kembali terdengar suara halus mesin mobil yang dinyalakan dan digas secara tiba-tiba.
Itachi hanya bisa menggigit bibir bawahnya melihat kelakuan Sasuke. Fugaku tanpa banyak bicara segera menuju ruang kerjanya, sepertinya untuk menenangkan diri.
Pertengkaran seperti ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Setiap kali ayahnya pulang pada akhir bulan dari kantor utama Uchiha Corporation di Oto, pasti akan terjadi adu mulut yang diakhiri dengan minggatnya Sasuke dari rumah selama beberapa hari, sampai Fugaku kembali ke Oto.
Dengan langkah gontai, pemuda itu menuju kamarnya sendiri di lantai dua. Ketika melewati kamar orang tuanya, samar-samar dia bisa mendengar suara tangisan seorang wanita. Pasti ibunya mendengar pertengkaran itu. Namun seperti dirinya, wanita itu juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sebenarnya sudah sejak sore Itachi berusaha menelepon adiknya agar segera pulang sebelum ayah mereka datang. Harapannya, paling tidak bisa mencegah pertengkaran yang biasa terjadi itu. Tapi, harapan tinggal harapan.
Itachi sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk mengembalikan keharmonisan keluarganya. Dia sudah menuruti keinginan ayahnya untuk memimpin perusahaan di Konoha, tapi rupanya itu belum cukup untuk menaklukan ego orang tua itu. Sama susahnya untuk menjinakkan keegoisan adik semata wayangnya.
Apa pun, batinnya, andai ada yang bisa mengembalikan kebahagiaan kami seperti dulu, aku akan memberikan apa pun.
Dan sepertinya… Tuhan mendengar doanya…
-TO BE CONTINUED-
Edited. Semarang, 110613.
.charlottecauchemar.
