The Workaholic

.

.

.

Naruto and All Characters belong to Masashi Kishimoto

.

.

Sasuke and Hinata Story

Warning! This is just a fanfic, don't think too much! No Bash! Many Typo! No Plagiarism!

Happy Reading

.

.

.

"..."

"Karin masih tinggal dirumahku, seperti dugaanmu."

"..."

"Aku rasa dia berusaha bersikap tenang, Hinata memberitahuku bahwa Karin pernah mendatanginya."

"..."

"Hn, mungkin. Saat aku pulang tadi Karin masih menyambutku seperti biasa."

"..."

"Baiklah. Aku urus Hinata dan kau tetap urus tugasmu."

"..."

"Sampai jumpa, Itachi."

* Chapter 4 *

Karin mengetuk pintu kamar Sasuke dengan pelan, sejenak tak ada sahutan dari dalam. Ia mengetuk kedua kalinya dan masih tak ada yang menyahut. Karin mengernyit, "Sasuke-kun? Apa kau tidak bekerja?"

Hening.

Karin ingin curiga namun disangkalnya, "Apa kau kelelahan, Sasuke-kun?"

Hening.

Sekejap tak masalah bila Sasuke mengabaikannya, tetapi tertidur hingga menjelang siang seperti ini jelas membuat Karin bertanya perihal apa yang tengah Sasuke alami. Ia pun berbalik hendak pergi, lalu pintu yang sedari tadi menimbulkan suara itu terbuka perlahan.

"Eh?" Karin terkejut ketika Sasuke menariknya masuk.

"Karin."

Sosok yang dipanggil merinding hebat,"A-ada apa ini, Sasuke-kun?" tanyanya antara takut bercampur senang.

Sasuke yang telah berpakaian rapi dengan kemeja terlipat hingga siku spontan menekuk lututnya, memamerkan sebuah box mini berbahan beludru merah, "Untukmu-" ia membuka box itu diiringi senyuman tipis.

Karin menganga takjub.

"-menikahlah denganku."

Kemudian dihantam batu besar hingga membuat kepalanya pening.

Sasuke masih bertahan dalam posisinya, "Karin?"

"E-eh?" gelagapan, gadis itu hanya menunduk, "Kenapa tiba-tiba sekali?"

"Aku sedang melamarmu, kau tidak suka?"

Karin menggeleng cepat, "Aku suka, sangat. Hanya saja-"

"Hey-" lelaki bermarga Uchiha itu berdiri, "-kita akan segera menikah, Sayang." dipeluknya Karin sembari memasangkan cincin berlian yang ia persembahkan tadi.

Karin menggigit bibir kuat-kuat, "Sa-sasuke-kun." isaknya membalas pelukan Sasuke.

Gadis itu tidak tahu, kini yang ia dekap bukanlah masa depan yang dicita-citakannya sejak lama. Karin dan kebahagiaan yang ia terima detik ini adalah awal kehancurannya. Tak tahukah dia bahwa Sasuke sedang bermain peran disini? Ucapkan selamat pada Karin karena berhasil menjadi salah satu tokoh dalam sandiwaranya.

Sasuke melepas skinship mereka, "Kenapa menangis, hm?"

"Aku bahagia." Karin mengusap jejak air matanya, "Aku terlalu bahagia, Sasuke-kun."

"Maafkan aku."

"Untuk?"

Sasuke menatap Karin lekat, "Selama dua tahun ini aku mengabaikan hubungan kita, aku tidak sadar keberadaanmu dan perhatianmu kepadaku. Maafkan aku, Karin."

"Ti-tidak. Sasuke-kun, kau sudah menerima perjodohan ini sejak awal, dari sanalah aku tahu bahwa Sasuke-kun juga mencintaiku seperti aku mencintaimu."

Sasuke mengangguk, "Lusa aku akan menunggumu dirumah orang tuaku."

"Lusa?" Karin memiringkan kepalanya, bingung. Raut wajah calon suaminya - ralat - tunangannya tak dapat ia tebak dengan mudah, "Kita tidak datang bersama?"

"Hm? Tentu tidak, Sayang."

"Kenapa?"

Sasuke membelai surai Karin selembut mungkin, "Aku menyiapkan kejutan besar untukmu." bisiknya kemudian. Setelah ia menarik kembali wajahnya dan melihat ekspresi Karin, Sasuke menyeringai dalam hati.

'sebentar lagi, Uzumaki.'

.

.

.

Hinata mengganti channel televisi beberapa kali.

Demi apapun, sekarang dirinya sedang dilanda mood yang kurang bersahabat.

Sudah sepuluh kali ia bolak-balik melihat jam dinding namun Sasuke belum menampakkan diri juga. Jika tahu lelaki itu hanya mempermainkannya, lebih baik Hinata pergi bekerja saja hari ini.

Ia meraih snack di meja.

Memakannya.

Lalu kembali mengotak-atik remote yang digenggamnya.

Selang 15 menit ketukan pintu terdengar. Dengan ogah-ogahan dan air muka masam ia berjalan membuka pintu, memperlihatkan sosok yang tak asing lagi baginya. Sasuke.

"Kau ini darimana saja, sih?" cercahnya langsung.

Sasuke memutar bola mata sekilas, "Aku harus membuat drama ini berjalan lancar, kau tahu?"

Tak ingin merespon lebih lanjut Hinata pun melangkah mundur, mempersilahkan Sasuke masuk tanpa bersuara. Setelah yakin pintu apartment tertutup dan terkunci barulah gadis itu mengekori Sasuke, mendaratkan diri di sofa yang kini juga Sasuke tempati.

"Langsung saja to the point, Uchiha."

Sasuke mengangguk paham, "Lusa kita bertemu di rumah orang tuaku."

"Sial, tidak ada pilihan lain?" Hinata mengadukan pandangannya ke arah orang itu.

"Menurutmu?" Sasuke membalas malas, "Jelas kemarin kau setuju membantuku sampai akhir, apa keputusanmu berubah lagi, Hinata?"

"Bukan begitu."

Sasuke bersedekap sambil bersandar, "Lalu buatlah omonganmu kemarin menjadi kenyataan. Kau pikir aku senang berlama-lama dalam situasi seperti ini?" entah setan apa yang merasuki Sasuke, pemuda itu tampak berantakan dimata Hinata. Bukan secara fisik, melainkan emosional.

Hinata menghela nafas pasrah. Dirinyalah yang kemarin menghubungi Sasuke dan dengan keputusan bulat ingin membantunya sampai akhir, ia tak bisa berkutik jika Sasuke menyindirnya seperti tadi. Hinata turut mengikuti gaya Sasuke, bersedekap lalu bersandar memikirkan sesuatu.

"Ne-"

Sasuke melirik Hinata.

"-setelah pertunanganmu gagal, artinya kerjasama kita juga berakhir, bukan?"

Sasuke mengangguk.

"Lalu apa?"

"Hm?"

Hinata menoleh ke samping, "Maksudku, lalu kau bagaimana?"

"Bagaimana?" Sasuke masih tak mengerti kemana Hinata membawa obrolan mereka.

"Sesudah pertunanganmu batal pasti kau mempunyai tujuan lain, 'kan?"

"Tentu."

Hinata mengangguk pelan, "Ah begitu." gumamnya setengah hati.

Sasuke tidak bodoh untuk memahami perasaan Hinata, ia bisa menangkap sinyal yang diam-diam Hinata tujukan padanya. Jika Sasuke benar kali ini, bisakah ia berharap Hinata menjadi miliknya lagi?

"Ka-kau ingin meminum apa?"

Onyx segelap langit malam itu memperhatikan Hinata, "Tak perlu, aku langsung pulang saja."

"Secepat itu?"

Sasuke terkejut.

Hinata terkejut.

"Maksudku-" ditundukkannya kepala menutupi kegugupannya, "-kau baru saja sampai. Tak perlu terburu-buru, bukankah ini apartment-mu?"

"Hn."

Hinata menggigit bibirnya, "Aku akan membuat lemon sebentar."

Sofa berdecit karena gesekan yang ditimbulkan oleh Sasuke. Ia tersenyum tipis, Sasuke melemaskan badannya sejenak untuk menyamankan diri. Hinata manis sekali jika bersikap seperti itu padanya, namun Sasuke memahami Hinata yang memiliki sisi tegas jika berada dalam suasana tak bersahabat. Tiba-tiba Sasuke teringat bagaimana dahulu mereka sering menghabiskan waktu berdua.

Bahkan Hinata selalu mengiyakan permintaan Sasuke untuk datang dan menemaninya ketika Sasuke sendiri sibuk mengutak-atik pekerjaannya. Lalu perlahan kepala Sasuke berdenyut kala memorinya mengulang perkara yang menghancurkan hubungan mereka. Ya, Sasuke dan segala kegilaan bekerjanya telah merusak kepercayaan Hinata.

"Ini untukmu."

Suara Hinata menyentak Sasuke, "Ah ya, terima kasih."

Hinata tersenyum, "Sasuke."

"Hn?"

"Aku ingin berbicara sebentar."

"Tentang apa?" wajah Sasuke telah sepenuhnya menghadap Hinata.

Hinata mendekat ke arah Sasuke lalu menyerahkan sesuatu, "Ini alamat rumahku."

"Lalu?" Sasuke belum mengambil kertas itu, ia kini melempar tanda tanya besar untuk si gadis Hyuuga.

"Aku tak ingin tinggal disini lagi-"

"Kenapa?" tatapan Sasuke menajam.

"-ini hakmu, setelah kerjasama kita selesai maka apartment yang aku tempati sekarang akan menjadi milikmu lagi, dan lebih baik aku pergi tanpa menunggu waktu itu datang."

Sasuke meletakkan lemon nya. Ia berdiri dan mendekap Hinata.

Terkejut. Sangat.

Hinata sampai lupa bagaimana cara berkedip. Jujur dari dalam hatinya, ia rindu pelukan itu.

Hinata rindu kehangatan yang Sasuke berikan.

Hinata rindu kasih sayang yang Sasuke tujukan hanya padanya seorang.

Hinata rindu kelembutan Sasuke.

Hinata rindu aroma tubuh Sasuke yang selalu menyenangkan penciumannya.

Hinata rindu.

Ia rindu semuanya, segalanya.

"Hinata."

Ia juga rindu suara Sasuke yang memanggilnya dengan nada memuja.

"Aku meyiapkan apartment ini bukan semata-mata karena ikatan kontrak." pelukan tersebut semakin mengerat, membuat mata Hinata memanas sebab mengharapkan hal yang ia tahu tidak mungkin terjadi, "Tinggallah."

Kemudian pipinya basah oleh air matanya sendiri.

Sasuke tahu cara membolak-balikkan perasaan, Hinata benci itu. Tetapi ia tak bisa mendorong dan menampar lelaki berengsek macam Sasuke saat ini, Hinata malah memeluknya lebih erat. Membenamkan wajahnya di dada bidang Sasuke, melampiaskan seluruh beban yang ia kubur jauh disana. Air matanya mengalir tanpa henti, Hinata pun tak ragu mengeluarkan erangan khas seseorang yang tengah putus asa.

Sasuke mengusap lembut punggung Hinata, tak jarang ia juga membelai surainya supaya tangis Hinata mereda. Apa yang mereka lakukan tak pernah terpikir sebelumnya, Sasuke dan Hinata selalu lemah jika menyangkut hubungan keduanya. Egoisme yang mereka junjung tinggi mulai runtuh, berharap tak ada lagi penghalang.

"Jangan me-mempermainkanku, Sasuke." Hinata berucap tulus, "Kau tahu apa yang a-aku rasakan, tolong jangan membuatku se-seperti dulu lagi."

Sasuke memejamkan matanya.

"A-aku tak ingin selemah i-ini-" si sulung Hyuuga terus terisak, "-aku ingin me-membuktikannya, a-aku i-ingin membuatmu me-menyesali semuanya."

Sasuke menarik bagian belakang kepala Hinata, memberinya tempat bersandar.

"Tidak mudah, Sa-sasuke." Hinata meremas kemeja yang lelaki itu kenakan, "Tidak mu-mudah melupakanmu dan bersikap se-seolah-olah ki-kita tak pernah ke-kenal."

Sudut mata pada netra gelap milik Sasuke berair, "Sudah cukup, Hinata."

"Sa-sasuke."

"Sudah cukup. Jangan berkata apa-apa lagi." mereka saling mendekap satu sama lain, saling memejamkan mata dan menikmati rengkuhan lawannya.

"Maafkan aku dan semua kebodohan yang aku lakukan padamu, Hinata."

Hinata menggigit bibirnya menahan suara isak.

"Aku yang salah karena terlalu mengutamakan pekerjaan dan menuruti perjodohan kedua orang tuaku. Aku yang salah disini, aku yang salah karena mengabaikan seseorang yang jelas-jelas sampai sekarang pun masih menggenggam hatiku. Aku masih mencintaimu, Hinata. Ya, perasaanku tak pernah dan tidak akan pernah berubah semudah itu. Aku mencintaimu."

Tubuh Hinata menegang.

Lidahnya mendadak keluh mendengar ungkapan Sasuke.

Matanya bertahan pada posisi terbuka, membola tak percaya.

"Ka-katakan sekali la-lagi."

Sasuke menguraikan skinship keduanya. Iris yang kontras diwarisi dari keluarga masing-masing beradu pandang, yang satu menyiratkan cintanya, yang satu menunggu harapannya.

"Aku mencintaimu-" Sasuke memajukan wajahnya, mengecup bibir Hinata sedikit lama, "-Hinata."

.

.

.

Bandara memang tak pernah kekurangan pengunjung. Sangat ramai karena kegiatan manusia yang sibuk pergi ke sana-sini dengan bantuan pesawat. Dan disitulah seseorang hadir, menuruni pesawat bercat putih sembari membawa barang-barangnya. Sesampainya ia di pintu keluar, tiga orang pria berjas hitam menyambutnya sopan. Mobil hitam bergaya mewah tak lama kemudian terparkir didepannya, menunggu sosok yang disanjung itu masuk.

"Kau sudah menyewa hotel sesuai perintahku, 'kan?"

Suara manly yang memenuhi isi mobil bertanya tegas pada lawan diseberang, dari caranya berbicara terbukti bahwa ia bukanlah orang sembarangan.

"Baguslah."

Suara bip! mengakhiri komunikasi melalui ponsel itu. Pemuda yang masih setia memakai kacamata hitamnya bersedekap santai, "Kakashi, kita pergi ke hotel itu sekarang juga."

"Baik, Itachi-sama."

Senyuman miring tercetak dibibir pemuda yang sedang memandangi suasana langit. Ia merindukan kota kelahirannya, dan kini saat ia kembali menginjakkan kaki di Tokyo, Itachi malah harus mengemban tugas yang orang lain berikan. Lucu memang, sebab orang itu tak lain dan tak bukan adalah otouto-nya sendiri.

Sasuke.

Uchiha Sasuke.

.

.

.

Hinata masih tertidur dalam dekapan Sasuke. Nafasnya terdengar teratur berirama, menyenangkan pendengaran Sasuke yang memilih bertahan untuk tidak bergabung dalam mimpi gadis itu. Sasuke memperhatikan Hinata, memainkan helaian rambut selembut sutra dengan jari-jari tangannya.

Sesekali Hinata menggeliat tak nyaman karena kecupan Sasuke pada wajahnya.

Kening.

Mata.

Kedua pipinya.

Dan bagian favorite pemuda itu, bibir Hinata.

Diatas sofa berlapis beludru menampilkan posisi keduanya yang saling merengkuh, sesi tangis-menangis tadi telah tergantikan oleh kenyamanan yang diterima saat ini. Hinata dan Sasuke sepakat untuk tak lagi membawa masa lalu mereka, mungkin Sasuke harus memanjatkan doa karena Hinata memahami dirinya.

Jangan lupakan, Hinata juga membalas perasaan Sasuke. Walaupun tak secara lisan, namun Hinata tampak menikmati ciuman yang Sasuke berikan tadi seusai menyatakan bahwa ia masih mencintai Hyuuga-nya.

Sasuke mendaratkan telapak tangannya dipipi Hinata, "Kau ini nakal sekali, ya?"

Hinata diam tak menjawab.

"Aku tahu kau berpura-pura, Hinata." Sasuke menarik gemas hidung itu.

Kelopak mata Hinata perlahan terbuka, memamerkan mata sembab dan mutiara didalamnya. Hinata mengerucut kesal, "Aku baru saja terbangun karena kau, Uchiha."

Ah, sikap menyebalkannya datang lagi rupanya.

Bukan Sasuke namanya jika tak bisa meluluhkan Hinata. Ia beranjak dan mendudukkan Hinata dipangkuannya, dalam kurung waktu semenit mereka hanya beradu mata tanpa niat berbicara. Sasuke adalah orang pertama yang memutuskan kontak tersebut, ia mengalungkan kedua tangannya dipinggang Hinata. Menarik gadis itu lalu kemudian menyandarkan kepalanya disekitar bahu rapuh si pujaan hati.

"Aku bermalam disini, ya?"

Hinata menaikkan alis kanannya curiga, "Apa yang kau inginkan?"

"Hanya menginap, apa kau keberatan?"

Hinata menggeleng singkat, "Hanya saja-"

"-kita akan tidur berdua nanti." potong Sasuke tanpa berpikir panjang.

"Dasar tidak waras."

"Tidak apa, selama kau mencintaiku."

Hinata tak menjawab. Ia menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan kecil yang nampak tulus, bagaimana bisa Sasuke si lelaki berengsek berubah menjadi manja seperti ini dalam hitungan menit.

"Bagaimana dengan Karin, hm?" Hinata bertanya pelan, berusaha tak membangkitkan emosi Sasuke.

"Biarkan saja."

"Jadi, lusa kita berangkat bersama atau hanya aku?"

Sasuke menghela nafasnya, "Bersama."

"Ba-baiklah." wajah Hinata memerah karena Sasuke bermain pada bahunya, melayangkan kecupan kecil dan sesekali mengadukan hidungnya sekedar menghirup aroma yang terkuar.

"Hinata."

"Hm?"

Sasuke menggenggam tangan kiri Hinata dan membawanya ke permukaan perut, "Sepertinya aku tak bisa menahan lapar lebih lama."

Tawa Hinata pecah, "Kau ingin memakan apa?"

Sasuke berpikir, "Memakanmu saja, bagaimana?"

"Hey-"

"-aku bercanda, Hinata." Sasuke tersenyum kikuk, "Pasta saja kalau begitu, aku yakin kau tak punya simpanan di lemari pendingin."

"Tepat sekali." Hinata berniat turun dari pangkuan Sasuke. Hanya berniat. Karena Sasuke yang secara tiba-tiba memutar posisi mereka hingga Hinata berada dibawahnya.

"Ini makanan pembukaku." bibir mereka pun bertemu. Sasuke membawa Hinata ke dalam zona yang lebih intim, seperti memberikan beberapa tanda kepemilikannya disekitar dada gadis itu.

Dua menit. Hanya dua menit.

"Hentikan, Uchiha." tegas Hinata setelah ia menjauhkan wajahnya, "Kau pikir berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk memasak jika kau terus seperti ini, huh?" omelnya sambil merapikan pakaian yang tersingkap.

Sasuke memutar bola mata, "Terserahlah." ia yang malas memperkeruh suasana akhirnya beranjak, membiarkan Hinata melenggang menuju dapur.

Karena tak ada hal lain yang bisa ia lakukan, Sasuke pun memasuki kamar Hinata. Merebahkan diri diatas benda berselimut putih yang menguarkan aroma lavender ketika disentuh, benar-benar wewangian yang mampu menghilangkan kesadaran seseorang.

Maka tertidurlah dia sekarang.

Selama mengiris bahan-bahan, mempersiapkan peralatan, dan membersihkan meja makan, Hinata tak absen tersenyum. Seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda, tadi ia menyambut Sasuke dengan background hati kesal luar biasa, kemudian beberapa jam yang lalu ia memaafkan kesalahan Sasuke dan menyetujui lelaki itu untuk mengulang kembali kisah cinta mereka.

Hinata terkadang merasa gelisah, apakah Sasuke yang baru saja dihadapinya benar-benar tulus atau sekedar berupaya karena mereka terlibat kontrak? Tidak, Hinata menggeleng.

Mana bisa ia berpikiran seperti itu saat Sasuke memberinya pernyataan langsung. Ya, pemuda bermarga Uchiha tersebut masih tetap mencintainya. Hinata memegang dadanya yang bergemuruh, apa-apaan jantungnya yang berdetak kencang itu? Jangan katakan Hinata jatuh cinta kedua kalinya pada orang yang sama. Namun itulah fakta.

Hinata memasak pasta lalu menghiasi piring hidangan, ia bergaya bak koki internasional. Selang hitungan detik, sepiring pasta bersauskan tomat telah siap disajikan. Usai menempatkannya dimeja makan Hinata bergegas kembali menuju ruang tengah. Matanya menyipit bingung, "Dimana dia?"

Ia mengedarkan pandangan. Menerka-nerka tempat persembunyian si jantan Uchiha. Nihil. Dibawah sofa pun Sasuke tak ada - sepertinya Hinata sedang tidak waras - tentu Sasuke bersembunyi ditempat yang lebih besar untuk ukuran manusia dewasa macam dia. Begitu tertuju pada pintu kamarnya, Hinata lantas berjalan mendekat dan membuka knop tanpa izin. Ia berkacak pinggang melihat Sasuke yang tengah tertidur pulas disana. Perlahan tapi pasti Hinata menghampiri Sasuke, berinisiatif membangunkannya dengan cara tak biasa.

Ide jahil itu tertepis otomatis saat mengetahui Sasuke yang memang menikmati mimpinya. Padahal Hinata pikir Sasuke sedang berpura-pura, tetapi malah ekspresi polos dan damai yang tercetak jelas diwajah pemuda itu. Hinata memajukan diri mengecup kening Sasuke, "Makanan sudah siap, Sasuke-kun."

.

.

.

to be continued

.

.

Siapa yang berpikir kalau fanfiction ini tidak aku lanjutkan karena terlambat posting? Di chap ini aku sudah membuat hubungan SasuHina membaik, penasaran kelanjutannya? Silahkan tunggu chapter berikutnya, ya!

Mind to review?