Chapter 4
"Yui, kau baik – baik saja? Apa yang terjadi denganmu?" Aoki langsung masuk dan menanyakan kepada Yui, Taichi dan yang lain masuk belakangan dan melihat keadaan Yui, badan Yui baik – baik saja hanya saja mukanya sangat pucat.
"Yui, kau baik – baik saja? Tiba – tiba saja kau masuk kelas dengan muka seperti itu" ujar Iori sambil memegang pundaknya.
"aku baik – baik saja, hanya saja kepalaku hanya pusing saja" ujar Yui sambil tersenyum tipis.
"apa benar hanya sebuah pusing bisa membuat seseorang menangis seperti itu, jika kau ingin berbohong, cari alasan yang lain yang lebih tepat" Inaba melipat kedua tangannya di dada sambil memandang Yui dengan serius.
"Inaba.." ujar Taichi.
"well.. kalau Kiriyama-senpai tidak mau membicarakannya, jika itu tidak membuat kita semua dalam masalah, lebih baik tidak usah dipermasalahkan lagi.. mungkin saja itu masalah pribadi Kiriyama-senpai" gumam Chihiro dengan tatapan datarnya.
"Chihiro-kun! Itu terlalu kejam.. apa kau tidak mau membantu senpai!?" seru Shino kesal.
"tapi kalau senpai tidak mau membicarakannya, tidak ada yang bisa kita lakukan kan? Seseorang tidak mungkin bisa mempercayai atau bergantung pada seseorang terlalu dalam, hal itu hanya membuat prasangka buruk saja" ujar Chihiro. Shino hanya menunduk dan mengepal tangannya.
"tapi setidaknya kita bisa membantu Yui-senpai sedikit saja.. kenapa kau sama sekali tidak peduli dengan sekitarmu? apalagi dengan teman – temanmu.. dasar Chihiro-kun, Baka!" Shino langsung berlari ke luar UKS dengan berurai air mata.
"Shino-chan! Chihi-kun kejar dia!" seru Iori dengan marahnya.
"ah tapi.." ujar Chihiro dengan tampang tidak bersalahnya.
"kejar dia!" tegas Iori sekali lagi.
"baik, baik" ujar Chihiro berlari mengejar Shino.
"Yui.." ujar Iori menggenggam tangan Yui dengan lembut.
"aku baik – baik saja Iori, lebih baik kalian semua pulang saja, aku ingin berada disini sendirian, kalian tidak perlu menghawatirkanku sampai segitunya. Besok pasti aku akan datang ke sekolah.." Yui tersenyum datar ke Iori, dia melepaskan genggaman tangan Iori dan kembali menunduk.
"baiklah.. ayo.." Iori mengajak Taichi, Inaba dan Aoki pulang, setelah mereka keluar yang tersisa di dalam adalah Aoki yang masih memandang Yui dengan sedih.
"Yui.. apa benar kau baik – baik saja? Jika terjadi sesuatu, kau bisa membicarakannya denganku kalau kau tidak keberatan, aku pergi dulu, istirahatlah yang baik" Aoki membalik dan mulai berjalan tapi terhenti oleh tangan kecil yang menggenggaminya dengan lembut.
"hanya hari ini.. kau boleh menemaniku sampai aku merasa baikan Aoki" Yui menatapnya dengan memelas, Aoki hanya tersenyum lembut.
"hah? Sesuatu terasa aneh?" Taichi membalik menghadap Iori dan Inaba.
"iya.. hanya saja aku penasaran dengan sikap Yui yang seperti itu, dan yang terasa aneh adalah sejak pagi sampai sekarang tidak ada yang mengalami Mirai Koe. Bukankah itu aneh?" jelas Inaba dengan serius.
"benar juga, sangat aneh kalau hari ini tidak terjadi apa – apa dengan apa yang pernah kita alami selama ini" ujar Iori sedikit khawatir.
"benar juga, Yui tidak memberitahu kita kalau dia mengalaminya atau tidak.. apa jangan – jangan dia mendengar hal yang tidak wajar sampai menangis seperti itu, waktu pagi dia terlihat baik – baik saja akan tetapi sejak istirahat selesai dia langsung terlihat pucat, waktu istirahat yang hanya beberapa menit bisa membuat orang seperti itu, tidak salah lagi kalau Yui mendengarnya" Inaba tersadar akan sesuatu dan menggertakan giginya.
"Inaba.." panggil Taichi.
"bodohnya aku, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Suara yang dapat memperlihatkan masa depan hahaha, apanya yang beberapa menit.. sudah pasti dia akan memperlihatkan kita masa depan yang lebih lama lagi, jika Yui mendengarnya pasti Mirai Koe sedang tertuju terhadap dia saja sampai masa depan Yui yang didengarnya terjadi, kalau begitu.." Inaba langsung berlari kembali ke arah sekolah.
"Inaba, kau mau kemana?" tanya Iori langsung terkejut.
"ke sekolah, aku mau menanyakan padanya sekarang!" seru Inaba sambil berlari.
"kita juga ikut kesana" ajak Taichi, Iori mengangguk setuju.
Aoki hanya tersenyum melihat Yui yang tertidur di sampingnya, Aoki menghelus rambut panjangnya.
"Yui.. jika kulihat kau sangat cantik sekali, rambutmu juga halus" Aoki mengangkat beberapa helai rambut dan menciuminya.
"hem.. harum, Yui.." Aoki mengangkat tangannya
"jangan – jangan! Jangan lakukan itu Aoki, nanti Yui tidak akan menyukaimu lagi. Tahan Aoki, tahan, tapi.. aku ingin merasakannya, Yui.." Aoki mulai memegang bahunya akan tetapi suara yang dikenalnya menggema di kepalanya.
"kau mau melakukan apa padaku Aoki?" Aoki langsung sadar dari alam khayalnya dan melihat Yui yang menatapnya dengan kesal.
"Yu-i, kau sudah bangun?" tanya Aoki pura – pura tidak tau.
"yah, aku selalu terjaga sejak tadi sampai kau menghelusku dan menciumi rambutku" ujarnya bangun dengan posisi duduk.
"hahaha, berarti kau mendengar aku bergumam sendiri?" tanya Aoki agak ketakutan.
"iya, aku mendengarnya, semuanya" ujar Yui agak memerah. Aoki tersenyum dan mendekatkan wajahnya.
"berarti kau tau apa yang kumau dong?" goda Aoki.
"apanya? Emang kau mau apa?" tanya Yui pura – pura tidak tau, Aoki melirik ke bawah, kedua tangan Yui sudah dalam posisi kuda – kuda karate dan agak bergetar, spontan Aoki menaruh kedua tangan Yui ke bawah dan menggenggamnya dengan erat.
"yang kuinginkan adalah kau, Yui.." bisik Aoki di telinganya, Aoki langsung menciumi lehernya.
"hah!? Aoki kau mau-! Akhh.." Yui merintih ketika Aoki menggigit telinganya dengan pelan, tangan Aoki mulai masuk ke dalam seragam Yui.
"Aoki… hentikan.. kumohon hentikan..'mirip sekali..' aku mohon..'mirip sekali apa yang ku-'" Aoki mendekatkan wajahnya menatap Yui yang sudah merona merah dan matanya yang sudah berair, Aoki mendekat dan menciumnya dengan lembut, terasa lidah Aoki menjelajahi bibir kecil Yui, serasa dihipnotis Yui yang tadi memberontak menjadi diam dan hanya membiarkan Aoki melakukan apapun padanya.
'gawat, kesadaranku. Siapapun hentikan Aoki..' Aoki menghentikan ciumannya dan menatap Yui yang sudah tidak kuat lagi.
"Yui.." Aoki mulai ke lehernya lagi sampai seseorang mendobrak pintu UKS.
"apa yang kalian berdua lakukan?" Inaba dengan mata kejamnya berjalan ke Aoki.
"Inaba-chan.. UKH!" tanpa pikir panjang Inaba langsung memukul pipi kanan Aoki dengan keras dan menarik kerah bajunya. Yui yang tidak sadar langsung menangis dengan keras.
"apa yang sudah kau lakukan pada Yui!? Kau mau Yui tidak masuk sekolah seperti dulu! Apa kau mau membuat Yui sengsara selama hidupnya hah!? Jawab aku! Bodoh!" Inaba mencoba memukulnya sekali lagi sampai Taichi menariknya dari belakang.
"hentikan Inaba! Tidak ada gunanya kalau kau memukul dia terus, turunkan amarahmu.." Taichi menahan tangan Inaba yang sudah tidak sabar ingin memukulnya, Inaba yang sadar akan tingkahnya terduduk di lantai dan melirik Yui yang menangis.
"kau tidak apa – apa Yui?" Iori membenarkan seragam Yui yang berantakan. Inaba menggertakan giginya, berdiri dan langsung memegang kedua bahu Yui dengan erat.
"kenapa kau tidak melawannya!? Kenapa kau membiarkan dia melakukan apapun pada tubuhmu!? Kemana kuda – kuda karatemu ketika seseorang mendekatimu!?" seru Inaba mempererat pegangannya.
"badanku terasa lemah waktu itu, lagipula Aoki tidak melakukan apa – apa padaku, dia hanya menciumku dan bagian – bagian tertentu saja Inaba, kau tidak perlu marah sampai seperti itu" ujar Yui dengan memelas, Inaba yang tidak percaya dengan jawabannya, emosinya yang sudah sampai puncak, dia tidak bisa menahannya.
..
..
PLAKK
..
..
Pipi Yui yang putih menjadi merah, Inaba yang sudah tidak kuat lagi melihat Yui seperti itu, memperlihatkan wajahnya yang sudah berair.
"Inaba.." Yui terlihat ingin menangis lagi.
"maaf.. aku tidak bermaksud menamparmu sekeras itu, hanya saja emosiku kali ini tidak terkendali, haha kau sudah tau bagaimana aku kan Yui? aku tidak mau kau diperlakukan secara terpaksa seperti itu, aku.. aku.. ukhh! Sial! Ini tidak mau berhenti!" seru Inaba yang terus mengusap matanya.
"Inaba.. tidak apa – apa, kalau kau mau menangis, menangis saja" ujar Yui lalu Inaba langsung menutup kedua matanya dengan tangannya.
"ya ampun" Taichi melihat keadaan Aoki yang terduduk lemas.
"Aoki, kau baik – baik saja?" tanya Tachi mengulurkan tangannya tetapi diabaikan olehnya.
"aku baik – baik saja, aku akan pulang sekarang" Aoki berdiri dan mengambil tasnya dan menengok ke Yui.
"aku.. minta maaf" ujarnya dan meninggalkan UKS, Yui langsung terbangun dari kasur dan mengejar Aoki.
"eh Yui!" seru Iori.
"tunggu Aoki!" Yui memanggilnya dan Aoki berbalik dan melihat Yui bernafas terengah – engah.
"kau mau kemana? Setelah kau berbuat seperti itu, seharusnya kau meminta maaf kepada Inaba" ujar Yui menunjuk – nunjuknya.
"ah iya.. bilang pada Inaba-chan, maafkan aku karena sudah membuatnya menangis" ujar Aoki.
"Aoki.. aku juga terkejut ketika kau melakukan hal itu padaku, tapi karena tidak terjadi apa – apa, lebih baik kau bersikap biasa saja yah untuk besok, jangan murung seperti itu" seru Yui.
"Yui, apa kau benar – benar menyukaiku?" tanya Aoki dengan tanpa ekspresi.
"a-apa yang kau tanyakan? Aku.." ujar Yui memerah, Aoki hanya tersenyum tipis.
"memang benar, kau sama sekali tidak bisa mengungkapkannya, dari dulu sampai sekarang" Aoki menatap Yui dengan sedih, Yui hanya membulatkan matanya.
"aku rasa hubungan kita tidak akan bertambah baik dari sekarang, jadi mulai sekarang.. lebih baik kita hentikan saja.. hubungan kita.." Yui langsung mengerjapkan matanya, Aoki meninggalkan Yui sendirian di tempat itu, hanya suara pohon yang bergerak tertiup angin.
"hah? Apa maksudmu? Dasar Aoki bodoh, apa maksudnya dengan hentikan? Aku tidak mengerti.. sejak kapan.. sejak kapan kita memiliki hubungan seperti itu?" seketika hujan turun dengan deras di sekolah mereka, sama seperti Yui, air turun dari kedua matanya dengan perlahan, Yui terjatuh dan menutup matanya dan melihat kejauhan dimana Aoki sudah tidak terlihat lagi.
"bodoh, kau sudah melakukan semuanya denganku, dan sekarang kau pergi dengan mengatakan hentikan saja, aku benar – benar tidak mengerti" Yui memegang kedua bahunya. Taichi, Inaba dan Iori berlari menemuinya dan melihat Yui yang tergeletak di bawah, mereka saling bertatap dan memutuskan untuk mengantarkan Yui pulang.
Yui membuka matanya dan menemukan dirinya ada di kamarnya, ketika dia berpikir apa yang terjadi padanya, air mata turun kembali dari kedua matanya, pada saat itu juga suara ketukan pintu terdengar dan pintu terbuka memperlihatkan adik perempuan Yui, Anzu.
"onee, kau baik – baik saja, sejak pulang kau sama sekali tidak mau keluar kamar, apa terjadi sesuatu?" tanya Anzu. Yui tidak menjawab pertanyaannya dan hanya diam, menunduk.
"sudah waktunya makan malam, kalau onee tidak mau keluar, mama akan datang dan menanyakan ada apa, jadi.." Yui mengangkat kepalanya dan menatap Anzu tanpa ekspresi.
"bilang padanya aku sedang tidak mau makan, jadi biarkan aku sendirian, dan jangan masuk lagi ke kamarku" ujar Yui.
"tapi onee" Anzu memegang bahunya, dan Yui memukul bantal di depannya.
"sudah kubilang aku sedang tidak mau makan! Jadi kumohon biarkan aku sendiri.. Anzu!" seru Yui dengan keras sampai membuat Anzu ketakutan dan meninggalkan Yui di kamar.
"apa yang terjadi di atas? Tadi kakakmu teriak?" tanya ibunya.
"tidak, Cuma perasaan ibu saja. Kata onee dia sedang tidak mau makan, jadi kita tinggalkan saja" jawab Anzu. Yui mendengarnya dan kembali menangis dengan pelan.
Inaba di kamarnya mendapat sms dari Iori 'apa Yui baik – baik saja? Sejak diantarkan ke rumah dia hanya menunduk tidak mengeluarkan suara padahal tadi dia sudah baikan tadi, kenapa ya?' Inaba membaca keseluruhan teksnya dan membalasnya 'besok kita tanyakan dia sekalian tentang Mirai Koe, tadi kita tidak sempat menanyakannya. Aku juga penasaran apa yang terjadi ketika kita tidak ada' sebentar Inaba mengirimnya langsung mendapatkan balasan dari Iori 'benar juga, tidak ada gunanya bertanya – tanya, lebih baik kita tanyakan Yui besok, baiklah Inaba, oyasumi nasai ' Inaba tersenyum tipis.
"oyasumi nasai" tiba – tiba Inaba mendapat telepon dari Taichi.
"halo?" sapa Inaba terhadap orang di balik telepon itu.
"kau baik – baik saja Inaba, kau tadi emosi sekali, aku sampai tidak berani menghentikanmu" ujar Taichi.
"iya aku baik – baik saja, apakah seseram itu aku?" tanya Inaba.
"iya sangat seram, hari ini kau tidak usah memikirkan hal itu, tidurlah yang nyenyak Inaba" ujar Taichi mengkhawatirkan Inaba.
"kenapa kau bisa tau kalau aku terus memikirkannya?" tanya Inaba.
"kenapa ya? Mungkin karena aku sudah menjadi pacarmu dalam waktu lama, aku jadi tau bagaimana sifatmu itu" Inaba hanya tersipu malu.
"baiklah, baiklah aku tidak akan memikirkan lagi. Tapi, terima kasih Taichi sudah mengingatkanku" ujar Inaba.
"sama – sama, Oyasumi nasai Inaba" salam Taichi.
"Oyasumi Taichi" Inaba menutup teleponnya, mematikan lampu dan bersiap untuk tidur.
TO BE CONTINUE
