"Tetsuya," panggil Akashi pelan. "Tetsuya," panggilnya lagi setelah selama beberapa menit tidak ada tanggapan dari orang yang dipanggilnya. Akashi akhirnya memutuskan untuk menghampiri Kuroko yang sedang duduk tenang disalah satu kursi diruang luas penuh buku itu.

Ya, sekarang Akashi dan Kuroko sedang berada disebuah perpustakaan yang lumayan besar. Setelah membeli pakaian ganti untuk Kuroko, Akashi segera membawa mereka ke perpustakaan terdekat. Setelah sampai, tanpa ba bi bu lagi, Kuroko segera masuk dan tenggelam dalam dunianya sendiri, meninggalkan Akashi yang justru hanya berdiri didepan pintu masuk memperhatikan gerak gerik Kuroko.

Akhirnya tiba juga! Pokoknya aku harus banyak-banyak memebaca untuk menghilangkan pikiran tentang kejadian tadi, Kuroko bertekad dalam hati. Tapi pikirannya justru kembali memutar kejadian sebelum ke toko pakaian tadi dan kembali membuat wajah Kuroko memerah, untung saja Akashi tidak melihatnya.

Setelah memilih buku yang menarik perhatiannya, Kuroko segera mencari tempat yang tidak terlalu ramai dan memungkinkannya membaca dengan tenang. Tapi sejak beberapa menit yang lalu seseorang bersurai merah telah menganggu ketenangannya dengan terus-terusan memanggil namanya. Kuroko merasakan kalau orang itu berjalan mendekatinya.

"Tetsuya," panggil Akashi lagi.

Kuroko mengalah, terpaksa dia harus mengabaikan buku ditangannya. "Ada apa Akashi-kun?" ada nada malas disana meskipun tetap saja wajah Kuroko datar.

"Kau sudah membaca surat kabar pagi ini?" tanya Akashi.

Kuroko berpikir sejenak, ini gara-gara Nijimura-niisan yang menggangu acara pagiku, batinnya lalu menggeleng. "Memangnya ada apa Akashi-kun?"

"Ada lowongan pekerjaan yang dicetak di surat kabar pagi ini. Kau berminat?" Akashi memperlihatkan surat kabar yang sejak tadi berada ditangannya kepada Kuroko. Kuroko mengangguk. Akashi segera membuka surat kabar itu dan memperlihatkan iklan lowongan pekerjaan yang dikatakan Akashi.

Kuroko hanya bisa facepalm –secara imajiner tentunya karena wajah datarnya tak mau lengser dari peringkat tertinggi ekspresi yang paling sering digunakan Kuroko – melihat iklan lowongan kerja yang dicetak sebesar satu halamaan. "Perusahaan Rakuzan sedang membuka lowongan pekerjaan, syarat-syaratnya… "Kuroko bergumam lalu melanjutkan bacaannya dalam hati.

"Kau memenuhi semua syarat-syarat ini, Tetsuya. Besok kau melamar pekerjaan dikantor ini," entah kenapa Akashi terdengar seperti sedang memerintah Kuroko. Kuroko mengangguk pelan, masih sedikit ragu.

"Tapi disini tidak tertulis akan dipekerjakan dibidang apa, Akashi-kun."

Akashi terdiam, sejenak berpikir. "Tenang saja, ini pasti pekerjaan yang bisa kau lakukan," Kuroko hanya mengangguk lagi. "Sepulang dari sini kau harus langsung menulis surat lamarannya, atau jika kau mau, Aku bisa membantumu menulisnya sekarang," tawar Akashi.

Kuroko menggeleng, "Tidak perlu Akashi-kun. Lagipula berkat pengajaran dari Akashi-kun, aku sudah bisa menulis surat lamaran pekerjaan dengan format yang benar," tolak Kuroko halus. Akashi ingin memaksa, tapi diurungkan niatnya. Biarlah kali ini Kuroko mengurusnya sendiri.

"Baiklah, besok kau sudah harus mengirimkannya." Kuroko lagi-lagi hanya mengangguk dan kembali fokus dengan bacaannya. Akashi juga memilih pergi mencari buku yang juga ingin dibacanya untuk menemani Kuroko.

_ Surat Lamaran _


SURAT LAMARAN

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi-sensei

Story and OCs belongs to Miho Haruka

Rated: T

Pairing: AkaKuro, etc.

Warning: BL, OOC, typo(s), gaje, OC, abal-abal, etc.

Genre : Romance, Friendship, little bit Humor

Summary: Akashi, pemilik perusahaan besar tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang misterius/Badsummary/BL/


_ Surat Lamaran _

Akashi hampir saja mengamuk sambil melempar gunting kepada Midorima setelah masuk kedalam ruang kerjanya dan menemukan tumpukan berkas baru yang menggunung. Seingatnya kemarin sudah dia selesaikan semua.

"Berkas-berkas apa ini, Shintaro?" tanya Akashi sambil menahan tangannya untuk tidak mengambil gunting dari dalam saku celananya. Midorima hanya bisa berdehem kaku sambil menaikkan kacamatanya.

"Itu berkas-berkas pelamar pekerjaan dari surat kabar yang kemarin kau perintahkan nanodayo."

Alis Akashi berkedut, bahkan meskipun syarat-syaratnya sudah sangat spesifik, ternyata masih banyak juga yang mengirim surat lamaran pekerjaan ke kantornya. "Sejak kapan berkas-berkas ini sampai?" Akashi mendelik kearah Midorima.

"Sejak kemarin siang nanodayo. Beberapa orang memutuskan untuk mengantarkannya langsung nanodayo."

Akashi berjalan menuju kursi kerjanya, menyimpan tas diatas mejanya lalu berjalan lagi menuju jendela besar dibelakang kursinya sambil merogoh saku celananya. Ponsel pintar berwarna merah milik Akashi segera terangkat keluar saat Akashi mengeluarkan tangannya dari saku celananya. Dia lalu menekan tombol kontak dan menekan angka satu. Setelah itu, ponselnya dia dekatkan ke telinga. Aura gelap masih tetap melekat ditubuh Akashi sejak melihat tumpukan berkas tadi.

Midorima yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Akashi tiba-tiba membelalakkan matanya tak percaya ketika aura gelap disekitar tubuh Akashi menghilang tak berbekas saat Akashi menyebutkan nama seseorang.

"Halo, Tetsuya?" Akashi terdiam, samar-sama Midorima mendengar suara lawan bicara Akashi ditelepon.

Entah kenapa Midorima sudah bisa menebak siapa lawan bicara Akashi setelah aura gelap itu tiba-tiba menghilang. Orang yang bisa membuat Akashi seperti itu, siapa lagi kalau bukan Kuroko Tetsuya nanodayo, batin Midorima. Dia lalu memutuskan keluar dari ruang kerja Akashi sambil memperbaiki letak kacamatanya, meninggalkan Akashi yang mulai sibuk dengan dunianya bersama Kuroko. Sepertinya dia harus segera ke kafetaria sekarang, dia membutuhkan sesuatu yang mungkin bisa menghilangkan dampak negatif dari aura gelap Akashi yang terlanjur masuk kedalam tubuhnya.

"Kau sudah mengirim surat lamaran pekerjaanmu?" Akashi kembali diam, menunggu lawannya selesai bicara. "Begitu, ya. Kau harus mengirimkannya hari ini juga. Jangan sampai berkasmu tidak diterima karena jumlah pelamar yang sudah memenuhi kuota." Akashi kembali terdiam. "Kau harus mengirimnya langsung. Saat sampai di kantornya, kau harus melapor ke meja resepsionis dan mengatakan namamu. Kau mengerti, Tetsuya?" Akashi tersenyum, atau mungkin menyeringai? "Bagus. Kalau begitu aku tutup ya, Tetsuya" saat hampir menekan tombol merah, Akashi teringat sesuatu. "Ah, Tetsuya!" Kuroko menyahut pelan dari seberang sana. "Kau harus memakai pakaian yang menurutmu mencerminkan kepribadianmu." Akashi kembali tersenyum, bukan, kali ini benar-benar menyeringai. "Kalau begitu sudah ya, Tetsuya. Jaa."

Sambungan terputus. Akashi kembali ke kursi kerjanya dan duduk disana. Setelah menarik nafas sejenak, dia lalu menekan salah satu tombol telepon yang terletak diatas mejanya. "Segera ke ruanganku sekarang, jangan lupa bawa beberapa kantung sampah besar." Setelah mengatakan itu, Akashi bersandar sejenak dikursinya sambill menutup mata.

Saat mendengar suara ketukan, Akashi segera mempersilahkan si pengetuk yang diyakininya seorang OB. "Bereskan berkas-berkas itu, semuanya," titah Akashi. Dia tak perlu khawatir akan ada berkas kantor yang terikut karena kemarin dia sudah menyimpannya dengan rapi dilaci mejanya. Lagipula menurut laporan Midorima, semua berkas-berkas ini berasal dari para pelamar pekerjaan. Sekarang Akashi tinggal duduk tenang diatas kursinya.

"Saya permisi, Akashi-sama," pamit si OB lalu berjalan keluar dari ruangan Akashi.

Sayup-sayup Akashi mendengar suara riuh para bawahannya yang kebetulan berada didepan pintu ruang kerjanya.

"Apa-apaan sampah itu?" tanya seseorang, Akashi menduga dari nada bicaranya orang itu sedang terkejut dan memandang tak percaya pada OB yang baru saja memasuki ruang kerjanya.

"Ini berkas para pelamar pekerjaan yang baru, tuan," sahut si OB.

"Semuanya dibuang?" kali ini suara yang berbeda.

"Akashi-sama ada-ada saja, kenapa menawarkan lowongan pekerjaan kalau pada akhirnya semuanya justru dibuang?" seorang anak buahnya sepertinya berani mengomentari sikap Akashi.

"Hei, Akashi-sama bisa mendengarmu!" teguran dari orang itu datang terlambat karena beberapa detik sebelumnya terdengar sesuatu yang sepertinya menancap dipintu ruangan Akashi. Dan tanpa berpikir lama para bawahan Akashi sudah tau kalau si bos pasti mendengar percakapan mereka. Mereka memilih kabur sebelum terkena langsung lemparan gunting dari Akashi.

Sedangkan Akashi dalam ruangannya justru terheran-heran, sejak kapan banyak bawahannya yang lalu lalang didepan ruang kerjanya.

_ Surat Lamaran _

Saat ini Nijimura sedang fokus memperhatikan tingkah pemuda yang lebih muda beberapa tahun darinya, Kuroko Tetsuya. Nijimura merasa pagi ini Kuroko bertingkah aneh. Dia terlihat kelelahan dan kurang tenaga.

"Kau kenapa, Kuroko?" tanya Nijimura sambil menghampiri Kuroko yang sedang sibuk menyikat giginya. Kuroko diam, sibuk menggosok giginya meski tangannya bergerak seperti tak bertenaga. "Kau sakit?" Nijimura menyentuh dahi Kuroko. "Tidak panas," gumamnya kemudian. "Apa kau bermimpi buruk?"

Kuroko menghentikan gerakan menggosok giginya sejenak, beberapa menit kemudian dia mulai menggosok giginya lagi, mengabaikan pertanyaan Nijimura yang bertubi-tubi. Lebih buruk lagi, Nijimura-niisan,batin Kuroko.

Semalam Kuroko memutuskan untuk mencoba tidur, tapi baru beberapa menit terlelap, potongan adegan-adegan kemarin saat dirinya berada didalam mobil Akashi kembali menari-nari didalam kepalanya. Akibatnya Kuroko terpaksa membuka kelopak matanya yang sebenarnya sudah sangat berat. Dan setelah merasa cukup tenang, Kuroko kembali mencoba untuk tidur dan lagi-lagi potongan-potongan adegan itu mengganggunya. Sudah kuduga aku tidak akan bisa tidur malam ini. Akhirnya Kuroko menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Dan saat waktu menunjukkan pukul empat Kuroko akhirnya bisa tidur, tetapi tidurnya kembali terganggu saat jam weker yang diletakkan di atas nakas disamping tempat tidurnya berbunyi dan menandakan pukul lima pagi. Kuroko dengan sangat berat hati hanya mematikan jam wekernya dan kembali tidur. Alhasil, dia bangun kesiangan.

"Tumben kau tidak mengajak Nigou lari pagi. Dan tidak biasanya juga kau bangun terlambat. Apa terjadi sesuatu?" sepertinya insting Nijimura soal adiknya yang manis ini tak bisa diremehkan.

Mendengar itu, Kuroko menghentikan gerakan tangannya saat hendak mengambil gelas berisi air untuk berkumur. Nijimura menangkap gerakan Kuroko dengan mata memicing, curiga. Tapi berkat wajah datar Kuroko, Nijimura masih tidak bisa menebak isi pikiran Kuroko.

"Ya sudah kalau tidak mau bilang, aku sudah membuat sarapan. Aku tunggu diruang makan," setelah mengatakan itu, Nijimura berjalan keluar dari kamar mandi. Tapi sebelumnya, tak lupa dia mengacak pelan surai lembut Kuroko yang masih belum dirapikan oleh pemiliknya.

Kuroko hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, Kuroko muncul diruang makan dengan keadaan yang lebih mendingan dibandingkan saat menggosok gigi tadi.

"Duduklah," Nijimura mempersilahkan lalu meletakkan makanan Kuroko didepan kursi Kuroko.

"Ohayou gozaimasu, Nijimura-niisan," sapa Kuroko. Dia baru ingat, tadi dia lupa mengucapkan sapaan pagi kepada NIjimura.

Nijimura tersenyum lembut. "Ohayou, Kuroko," balas Nijimura sambil duduk dikursinya. "Ayo makan. Itadakimasu."

"Itada–" ponsel Kuroko tiba-tiba berbunyi. Dan setelah melihat nama si pemanggil, Kuroko menatap Nijimura yang sedang asyik menyantap makanannya.

"Angkat saja dulu telponnya," Nijimura memberi izin.

Kuroko segera berdiri lalu menunduk pelan sambil tersenyum kecil. Dia lalu berjalan menuju ruang tengah yang hanya dibatasi lemari kecil dari ruang makan.

Kuroko mendekatkan ponsel birunya ke telinga setelah menekan tombol hijau. Dia terdiam sejenak, "ya, Akashi-kun?" Kuroko terdiam lagi, "belum," sahut Kuroko sambil menggeleng pelan.

Nijimura kembali memperhatikan tingkah pemuda manis yang sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri.

Kuroko tampak sangat serius mendengarkan perkataan lawan bicaranya. "Baik, Akashi-kun." Wajah Kuroko masih tetap datar tapi matanya mengerjap cepat beberapa kali seperti sedang kebingungan. Setelah terdiam beberapa lama, Kuroko kembali menyahut, "mengerti Akashi-kun." Kuroko mengagguk pelan, "ya, Akashi-kun." Kuroko menjauhkan ponselnya dari telinganya, tetapi saat mendengar namanya dipanggil oleh lawan bicaranya ditelepon Kuroko segera mendekatan ponselnya kembali ke telinganya. "Eh?" kuroko benar-benar bingung tapi kemudian menyahut, "baiklah Akashi-kun." Kuroko kembali terdiam, "Jaa."

Sambungan diputuskan, Kuroko kembali berjalan ke ruang makan sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan duduk dikursinya. Dikepalanya sedang timbul pertanyaan darimana Akashi mendapatkan nomor teleponnya. Dan Kuroko teringat beberapa jam setelah kejadian dimobil Akashi, Kuroko memberikan nomor teleponnya kepada Akashi.

Sementara itu, Nijimura terus saja memandang Kuroko dari kursinya, curiga. "Tumben ada yang menelponmu pagi-pagi begini. Siapa dia?" Nijimura sampai menghentikan acara sarapannya demi menginterogasi Kuroko.

"Dia Akashi Seijurou-kun. Orang yang kemarin bertemu dengan Nijimura-niisan di restoran khas Jepang itu," sahut Kuroko sekenanya. Dia lalu menggumamkan 'itadakimasu', meraih sumpit dan memulai sarapan paginya.

Nijimura mengernyitkan alisnya, Kenapa si Akashi Seijurou itu menelpon Kuroko pagi-pagi? Terus, apa Kuroko tau Akashi itu siapa?, gumam Nijimura. Dia yakin seratus persen Kuroko masih belum tau identitas Akashi yang asli. "Kuroko apa kau–" saat ingin bertanya, Nijimura melihat Kuroko sudah berdiri dari duduknya dan membawa peralatan makannya. Nijimura memandang Kuroko bingung, "kau sudah selesai?" Kuroko mengangguk sambil berjalan menuju bak cuci piring. "Kau tidak ingin tambah? Porsi yang tadi seperempat dari porsiku sendiri. Apa kau yakin?" Nijimura sepertinya mulai khawatir dengan kesehatan Kuroko, apalagi tadi pagi sepertinya Kuroko kurang sehat.

"Maaf, NIjimura-niisan. Aku harus buru-buru. Lagipula aku sudah kenyang." Kuroko selesai meletakkan peralatan makannya, dia lalu berjalan menuju kamar. "Niisan tenang saja, aku akan singgah membeli sesuatu di perjalanan nanti." Terdengar suara pintu ditutup.

"Pasti vanilla milkshake," Nijimura menggeleng pelan lalu kembali melanjutkan acara makannya. Saat masih asyik mengunyah, dia teringat janjinya pada Kuroko kemarin. "Aku harus mentraktirnya vanilla milkshake jumbo hari ini," gumam Nijimura lalu mempercepat gerakannya.

"Kau mau kemana?" tanya Nijimura saat melihat Kuroko keluar dari kamarnya dengan pakaian kasualnya. Setelah makan, Nijimura beralih ke ruang keluarga dan menyalakan televisi.

"Pergi melamar pekerjaan," jawab Kuroko.

"Dengan pakaian yang seperti itu?" Nijimura membelalakkan matanya saat melihat pakaian yang dikenakan Kuroko. Saat ini Kuroko menggunakan celana kain berwarna biru pudar, hampir seperti jeans, dan kaos putih polos yang dilapisi kemeja.

"Akashi-kun bilang, aku harus memakai pakaian yang menurutku mencerminkan kepribadianku. Kurasa ini cocok," Kuroko menjawab pelan sambil melihat kembali pakaiannya.

"Tidak bisa! Ayo kembali ke kamarmu dan biarkan aku yang memilihkan pakaianmu," Nijimura menarik paksa lengan Kuroko. Kuroko hanya pasrah mengikuti kemauan kakaknya.

_ Surat Lamaran _

Kuroko sedang asyik menyeruput vanilla milkshake jumbonya, hasil dari traktiran Nijimura sambil berjalan menuju stasiun kereta. Meski wajahnya datar, aura bling-bling karena pagi-pagi sudah ditraktir vanilla milkshake jumbo oleh kakaknya terus berputar-putar disekitar tubuhnya. Sedangkan Nijimura yang berjalan disampingnya hanya tersenyum maklum.

"Aku sudah tidak ragu lagi, kau memang benar-benar maniak vanilla ya, Kuroko? Bahkan sampai pasta gigimu juga berasa vanilla." Kuroko mengangguk pelan sambil sedikit tersenyum.

Kuroko menghentikan kegiatan menyeruput vanilla milkshake-nya lalu menoleh kearah Nijimura. "Niisan yakin mau menemaniku? Apa tidak ada kerjaan dikantor?" tanya Kuroko.

Nijimura menggeleng, "karena Midorima-san kerjanya cepat, jadi semua kerjaan dikantor sudah aku selesaikan kemarin. Hari ini aku mau berisitirahat sejenak sambil menemanimu," Nijimura memandang Kuroko balik, Kuroko lagi-lagi hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan Nijimura. "Tapi apa kau yakin tidak ingin diantar dengan mobil? Sebenarnya aku bisa mengantarmu dengan mobil jika kau mau," Nijimura teringat penolakan halus di apartemen tadi saat dia menawarkan untuk mengantar Kuroko dengan mobil.

"Aku mau naik kereta, Niisan. Lagipula tempatnya dekat," jawab Kuroko yang hanya dibalas dengan tatapan bingung Nijimura.

Kuroko tiba-tiba berhenti saat mereka berjalan didepan toko cake dan menoleh kedalam toko. Nijimura yang terheran-heran segera mengikuti arah pandangan Kuroko. Dia melihat seorang pemuda tinggi bersurai ungu sedang melambai kearah dirinya dan Kuroko. Pemuda itu bernama Murasakibara Atsushi, yang diberi julukan 'bayi raksasa' oleh beberapa teman mereka. Kuroko, Nijimura, dan Murasakibara adalah teman sejak kecil meski Nijimura lebih tua beberapa tahun.

Pintu toko terbuka, pemuda tinggi bersurai ungu tadi keluar masih dengan menggunakan pakaian kokinya lalu menghampiri Kuroko dan Nijimura. "Ohayou, Niji-chin…" sapa Murasakibara.

"Ohayou, Murasakibara," balas Nijimura.

"Ohayou, Murasakibara-kun," kali ini Kuroko yang menyahut. Dia sadar diri kok, Murasakibara tidak menyadari keberadaannya dan memilih menyapa duluan.

Murasakibara terlihat membelalakkan matanya sejenak, lalu tatapan malas andalannya kembali mengambil alih. "Ah, Kuro-chin, ohayou…" Murasakibara tanpa izin langsung mengelus kepala Kuroko. Kuroko hanya membalasnya dengan tatapan datar, tidak perduli dan lebih asyik menyeruput vanilla milkshake-nya.

"Tumben tokomu buka pagi-pagi, Murasakibara. Apa ada event tertentu hari ini?" tanya Nijimura.

Murasakibara menggeleng malas, tangannya sudah kembali keposisinya semula. "Aku hanya kebetulan bangun pagi-pagi hari ini…" jawabnya sambil menatap Nijimura, pandangannya lalu beralih ke Kuroko. "Ah, Kuro-chin, kemarin aku baru saja membuat resep cake baru dengan rasa vanilla. Kuro-chin ingin mencobanya?" Murasakibara langsung menarik lengan Kuroko tanpa menunggu jawabannya. Dan karena tubuh mereka terlampau jauh berbeda tingginya, Kuroko hanya bisa pasrah dibawa masuk kedalam toko dengan wajah yang tetap datar tapi aura disekitarnya sedikit suram. Nijimura hanya tertawa kecil melihat tingkah adiknya dengan teman masa kecil mereka itu.

Murasakibara memaksa Kuroko duduk disalah satu kursi dan berjalan pelan menuju etalase cake miliknya. Dengan kakinya yang panjang tak butuh waktu lama untuk Murasakibara kembali sambil membawa dua piring cake ditangannya. Melihat cake itu aura suram disekitar Kuroko hilang tak berbekas.

"Silahkan, Kuro-chin, Niji-chin," Murasakibara meletakkan kedua piring cake itu didepan Kuroko dan Nijimura. Jangan tanya kenapa Murasakibara bisa tahan tidak memakan cake yang ada ditangannya tadi, karena sekarang ini dia sedang pergi mengambil cake yang sama tetapi dengan ukuran lima kali lipat dibandingakan cake Kuroko dan Nijimura. Dia juga ikut makan bersama Kuroko dan Nijimura. Biarlah para pegawainya yang beres-beres sambil bersiap menyambut pembeli.

"Kuro-chin mau kemana?" tanya Murasakibara langsung sambil mengunyah cake-nya.

Kuroko menyuruput vanilla milkshake-nya sedikit, mengabaikan morning tea yang dibawakan salah satu pegawai saat mereka baru duduk beberapa menit yang lalu. "Pergi melamar pekerjaan, Murasakibara-kun."

Murasakibara diam sejenak sambil masih mengunyah, sedangkan Nijimura dengan hikmat menikmati cake yang sudah diduganya pasti enak.

"Apa aku boleh ikut?" tanya Murasakibara sambil menatap Kuroko.

Kuroko menggeleng, "tidak boleh, Murasakibara-kun. Kau tidak boleh meninggalkan tokomu," tolak Kuroko halus.

"Tenang saja, Muro-chin bisa mengurusnya…" balas Murasakibara sambil menunjuk seorang pemuda yang sepertinya seumuran dengan mereka yang sedang sibuk dibalik meja kasir.

"Kau tidak boleh merepotkan Himuro-kun terus-terusan, Murasakibara-kun," Kuroko masih tetap menolak.

Nijiimura yang hanya sebagai silent listener, manggut-manggut mengiyakan perkataan Kuroko. Tangannya meraih cangkir morning tea-nya

"Tapi aku merasa Kuro-chin dalam bahaya…" jawaban polos Murasakibara membuat Nijimura tersedak. Dia lalu memandang Murasakibara dengan tatapan bertanya-tanya. Begitu juga Kuroko yang langsung menghentikan makannya. "Aku hanya merasa seperti itu…" jawab Murasakibara sambil mengalihkan pandangannya menatap cake didepannya.

Kuroko mengehela nafas pelan, Nijimura hanya memandanganya. Sekilas memang mereka sempat melihat tatapan khawatir Murasakibara. Entah kenapa Nijimura merasa senang tak hanya dia yang khawatir dengan Kuroko.

"Tenang saja, Murasakibara-kun. Aku akan baik-baik saja, lagipula tempatnya tidak terlalu jauh kok," Kuroko menjawab sambil menatap Murasakibara, matanya memancarkan ketenangan.

Sikap inilah yang selalu membuatnya cocok dengan anak-anak, pikir Nijimura sambil tersenyum kecil menatap Kuroko dan Murasakibara.

Kuroko masih belum yakin Murasakibara sudah merasa tenang, dia berpikir sejenak. "Tidak perlu khawatir, Murasakibara-kun. Tenang saja. Sepulang dari melamar pekerjaan nanti, aku akan datang lagi kesini bersama Nijimura-niisan," Kuroko masih berusaha menangkan. "Murasakibara-kun tunggu saja disini sambil membantu Himuro-kun, oke?" meski wajahnya datar, perasaan Kuroko tersampaikan lewat nada bicaranya yang lembut dan menenangkan. Murasakibara akhirnya mengangguk.

Setelah menghabiskan cake-nya, Kuroko dan Nijimura pamit dan kembali melanjutkan perjalan. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul delapan.

_ Surat Lamaran _

Nijimura hanya bisa sweetdrop menatap gedung tinggi didepannya. Dia tidak menyangka kalau tempat yang dituju Kuroko adalah gedung ini. Salahnya tidak bertanya sebelumnya pada Kuroko. Kalau tau begini, dia tidak akan memilih pakaian semi resmi seperti yang digunakan Kuroko saat ini.

"Kau ingin melamar pekerjaan di perusahaan Rakuzan?!" tanya Nijimura masih tak percaya. Kuroko mengangguk lugu. "Kau tau siapa bekerja disini?" tanya NIjimura lagi.

Kuroko mengangguk, "Midorima-kun. Orang yang kemarin kita temui dan merupakan teman Momoi-san dan Akashi-kun." Kuroko melupakan Kise dan Aomine.

Nijimura memijit pelan pelipisnya, "hanya itu?" Kuroko mengangguk pelan, dia menatap bingung kearah Nijimura. "Kau tau–"

"Kuroko-cchi!" panggil seseorang dari kejauhan mengalihkan atensi Kuroko dari Nijimura. Seorang pemuda bersurai kuning sedang berlari ke arah Kuroko dari dalam gedung. Dibelakang mengikut pemuda berkulit tan dengan surai biru tua dan seorang gadis bersurai merah muda.

"Ohayou gozaimasu, Kise-kun, Aomine-kun, Momoi-san," sapa Kuroko. Nijimura menatap aneh ke sekelompok orang yang berjalan ke arah mereka. Salah satu alisnya berkedut saat salah seorang dari mereka tiba-tiba memeluk Kuroko dengan erat. "Sesak, Kise-kun," tegur Kuroko pelan, tapi si surai kuning, Kise Ryouta, tak mau melepaskan pelukannya. Dan saat Nijimura hendak menarik paksa Kise, seorang berkulit tan telah mendahuluinya.

"Hentikan itu, Kise! Tetsu jadi susah bernafas!" tegur orang itu. Saat si surai kuning berhasil disingkirkan, giliran si surai merah jambu yang tiba-tiba melingkarkan kedua lengannya di lengan kiri Kuroko.

Alis Nijimura kembali berkedut. Apa-apan orang-orang ini? Kenapa mereka bersikap sok kenal pada Kuroko?, pikir Nijimura tidak terima. Dan salah satu dari mereka berani memanggil Kuroko dengan nama kecilnya!

Kuroko diam saja, gelas vanilla milkshake jumbo-nya sudah masuk ke tempat sampah saat mereka meninggalkan stasiun kereta tadi. Dia melihat kakaknya, Nijimura, mulai sedikit merasa terganggu dengan keberadaan ketiga temannya. "Niisan, kenalkan. Mereka teman-teman baruku. Dia Kise Ryota-kun, Aomine Daiki-kun, dan Momoi Satsuki-san," Kuroko menunjuk teman-temannya yang tiba-tiba berdiri kaku sambil sedikit tersenyum saat mendengar kata 'Niisan' dari mulut Kuroko.

Kakaknya!, jerit ketiganya dalam hati.

"Senang berkenalan dengan anda/-ssu," sahut ketiganya kompak sambil membungkuk sejenak. Nijimura balas membungkuk sambil berusaha tersenyum seperti biasa. Tapi tetap saja perasaan terganggunya tidak bisa dengan cepat hilang.

Suasana jadi hening. Kuroko lalu memilih buka suara. "Kenapa kalian ada disini?" tanya Kuroko heran.

"Itu…" Momoi tampak ragu menjawab. Dua orang lainnya juga terlihat sama. Nijimura hanya menatap mereka heran. Momoi menatap kedua temannya. Mereka seperti sedang bertelepati. Setelah beberapa menit, Momoi mengangguk mantap. "Tetsu-kun," panggil Momoi. Kuroko yang sejak tadi memandang mereka bertiga mengalihkan pandangannya kepada Momoi. Momoi kembali sedikit ragu.

Aomine menggaruk tengkuknya agak kesal karena Momoi terlalu mengulur waktu, mereka tidak ingin ketahuan Akashi sedang berada disini. "Kau lama, Satsuki. Tetsu!" kali ini Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah Aomine. Aomine tertegun sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. "Kami dengar dari Midorima, kau akan datang kesini. Makanya kami datang." Aomine melirik sejenak ke arah Kuroko dan Kuroko semakin menatap Aomine dengan tatapan bertanya. Aomine salah tingkah, "jadi begitulah…"

Apa-apaan sikapnya itu?!, pikir NIjimura dalam hati. Ada api imajiner disekitarnya.

Kuroko masih belum mengerti, Aomine sudah malas menjelaskan sedangkan Momoi masih ragu-ragu. Kise manatap kedua temannya. Dia sudah tidak tahan lagi. "Genkai-ssu!" pekikan cempreng Kise mengalihkan semua pandangan padanya. "Kami khawatir dengan Kuroko-cchi. Soalnya Midorima-cchi bilang Kuroko-cchi mau kesini-ssu."

Kuroko masih gagal paham, atau memang tidak mengerti arah percakapan ini. Apa salahnya datang ke perusahaan ini?, pikir Kuroko.

Oh God, lindungilah Kuroko yang tidak menyadari ada iblis berkedok malaikat tampan yng sedang menunggunya didalam gedung tinggi itu.

"Anoo… Tetsu-kun?" kali ini Momoi yang bersuara karena melihat kedua temannya sudah kehabisan akal bagaimana memberitahu Kuroko. Mereka bertiga yakin, Akashi mengawasi gerak-gerik mereka saat ini dari suatu tempat didalam gedung didepan mereka itu. Melihat Kuroko yang sama sekali tidak merasa dirinya berbahaya, Momoi, Kise, dan Aomine bisa manarik kesimpulan kalau Kuroko tidak tau siapa pemilik perusahaan yang sedang ditujunya itu. Saat Kuroko beralih menatapnya, Momoi mengalihkan pandangannya sambil sesekali melirik. "Tetsu-kun, apa kau tidak tau kalau…"

Perkataan Momoi menggantung membuat Kuroko memasang pose bingung yang menggemaskan. Kepalanya dimiringkan lalu menatap Momoi dengan tatapan bingung. Manusia bersurai warna warni disana hanya bisa mengalihkan pandangannya sambil berusaha menutupi rona merah di pipi mereka, kecuali Nijimura dan Kuroko tentunya. Nijimura sudah sering membuat Kuroko memasang pose seperti itu, sudah sejak kecil malah. Makanya dia sudah terbiasa, tapi tetap saja rona merah dipipinya membuktikan kalau dia tetap tak terbiasa dengan pesona keimutan Kuroko yang sepertinya makin lama makin meningkat.

Momoi kembali dikuasai oleh akal sehatnya, dia berdehem sebentar. "Tetsu-kun, sepertinya kau tidak tau kalau Akashi-kun–" lagi-lagi deringan di ponsel Kuroko memotong pembicaraan penting. Momoi menggerutu pelan.

"Maaf, Momoi-san," Kuroko lalu menekan tombol hijau. "Moshi-moshi, Akashi-kun?" sahut Kuroko.

Jleb! Terdengar bunyi sesuatu yang tertusuk. Momoi, Kise, dan Aomine seketika memegang dada mereka. Ketahuan!, jerit mereka dalam hati. Mereka tidak tau kalo Akashi punya nomor telepon Kuroko. Dan sekarang mereka sudah kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Kuroko dari cengkeraman Akashi.

Melihat Kuroko masih asyik berbicara dengan Akashi, Kise mengambil inisiatif untuk memberitahukan Nijimura yang notabenenya adalah kakak Kuroko, meski dia tidak tau kakak kandung atau bukan. "AnooNiisan?" panggil Kise.

Nijimura menoleh, sebelah alisnya berkedut mendengar panggilan Kise padanya. "Nijimura, Nijimura Shuzou."

"Baiklah. Nijimura-cchi," alis Nijimura kembali berkedut, -chii?, tanyanya dalam hati. "Ini cuma perasaanku, tapi…. Apa Kuroko-cchi tidak tau kalau Akashi-cchi…" Nijimura mengerti arah pembicaraan Kise dan segera mengangguk.

"Sama sekali," jawaban Nijimura memunculkan petir imajiner dibelakang tubuh Kise, begitu juga Momoi dan Aomine yang jadi pendengar. "Memang ada apa?" Nijimura bingung melihat reaksi ketiga orang didepannya yang sudah pucat seperti mayat.

"Nijimura," panggilan Aomine membuat lagi-lagi alis NIjimura berkedut, tanpa embel-embel?. "Sebaiknya kau cegah Tetsu umtuk bekerja disini," saran Aomine. Nijimura merasa ada sesuatu dibalik ini semua, dan jika Kuroko bekerja disini akan ada hal yang buruk yang menimpa Kuroko.

"Nijimura-san," untuk pertama kalinya Nijimura tidak merasa kesal dengan panggilan yang diberikan teman-teman baru Kuroko ini. "Aku tidak yakin jika mengatakan ini tapi, Tetsu-kun benar-benar dalam bahaya jika berkerja disini. Jadi kami mohon, Nijimura-san meyakinkan Tetsu-kun untuk tidak melamar pekerjaan disini."

Nijimura mulai merasakan firasat buruk, "tapi dia belum tentu diterima kan?"

Ketiga orang didepannya menggeleng. "Apa Nijimura-san sudah melihat iklan lowongan pekerjaannya?" Tanya Momoi. Nijimura menggeleng pelan, Kise lalu memberikan sebuah suratb kabar yang entah darimana dia dapatkan. Nijimura mulai membaca, beberapa menit kemudian kedua matanya membelalak tidak percaya. Semua syaratnya menjurus ke Kuroko! Apa-apaan dengan 'pemuda bersurai biru dan bermanik mata senada' itu?! Sudah pasti ketahuan siapa yang dimaksudkannya kan?!, Nijimura meremas Koran yang dipegangnya. "Aku harus menghenti–"

"Maaf, Niisan, Kise-kun, Aomine-kun, dan Momoi-san. Aku harus segera masuk, kata Akashi-kun, Midorima-kun sudah menungguku di dalam. Aku permisi," pamit Kuroko mengabaikan tatapan tak rela dari orang-orang yang ditinggalkannya.

"Aku tidak sadar mereka sudah selesai berbicara…" Momoi langsung kehilangan tenaga. Sedangkan ketiga pemuda lainnya hanya menatap tubuh Kuroko yang semakin mengecil hingga tak terlihat lagi dengan tatapan tak percaya.

_ Surat Lamaran _

Saat ini Kuroko sedang duduk sendirian disalah satu sofa dalam sebuah ruangan besar yang memilik dua meja dan kursi kerja yang sedikit berdekatan. Ruangan itu memiliki satu set sofa, dua buah lemari berisi buku, satu lemari pendingin, dan tentu saja AC. Didepannya ada dua jendela besar yang langsung memperlihatkan pemandangan kota dibawahnya. Kuroko tak yakin sekarang dia ada di lantai keberapa. Saat di lift tadi, dia tidak sempat melihat tombol yang ditekan MIdorima dan tau-tau mereka sudah sampai.

Meski terlihat sedang duduk diam, sebenarnya kepala Kuroko sibuk memutar adegan saat dia baru memasuki gedung ini sejam yang lalu.

Flashback

Setelah masuk kedalam gedung, Kuroko segera menuju meja resepsionis. "Anoo, sumimasen," sapa Kuroko. Dua orang wanita yang sedang bertugas dimeja resepsionis itu sibuk celingak celinguk mencari asal suara. Mereka tidak mennyadari keberadaan Kuroko padahal Kuroko berdir tepat didepan mereka. "Sumimasen, saya disini," sahut Kuroko. Dan saat kedua wanita itu menemukan sosok Kuroko, mereka terbelalak kaget sambil memekik lumayan keras tetapi semenit kemudian menatap Kuroko dengan tatapan kagum.

"Sumimasen, ada yang bisa kami bantu?" sahut seseorang diantara mereka yang dengan cepat tersadar dari pikatan pesona Kuroko, sedang salah satunya lagi masih sibuk fangirl-an.

"Saya mau melamar pekerjaan disini berdasarkan iklan di surat kabar beberapa hari yang lalu."

Keduanya kembali terbelalak. Wanita yang akhirnya tersadar juga dari zona fangirl-nya langsung menatap Kuroko serius. "Apa anda yakin?"

Kuroko menatap bingung, lalu mengangguk. "Iya."

Setelah mendengar jawaban Kuroko, kedua wanita itu tiba-tiba melakukan rapat kecil-kecil. Kuroko sayup-sayup mendengar percakapan mereka.

"Apa kau yakin?"

"Ya, mau bagaimana lagi. Meskipun aku tidak tega. Soalnya kemarin semua berkasnya dibuang."

"Aku tak ingin menyakiti malaikat rapuh itu."

"Aku juga."

Yak, dua orang telah terdaftar dalam tim penyelamat dan pelindung Kuroko Tetsuya.

"Tapi kita harus bersikap profesional. Untuk saat ini aku akan mencoba menghubungi Midorima-sama dulu."

Kuroko melihat salah satu diantaranya meraih telepon dan menekan sesuatu. Dan setelah beberapa menit dia memutuskan sambungan dan kembali menelpon seseorang. Kuroko mendengar namanya disebut dan wanita yang sedang menelpon itu menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

"Kuroko Tetsuya-san, mulai hari ini anda sudah bisa bekerja disini. Sebentar lagi, Midorima-sama akan menjemput anda dan mengantar anda ke ruang kerja anda," wanita yang baru saja menelpon mengabarkan perintah atasannya pada Kuroko.

Kuroko bingung, bukannya dia harus diwawancarai dulu? Saat malamar pekerjaan menjadi guru di TK Momoi saja dia harus menjalani beberapa tes. Masa sekarang langsung diterima begitu saja. "Anoo, bagaimana dengan wawancaranya?"

Wanita tadi menggeleng, "anda tidak perlu wawancara." Jawabannya membuat wanita di sebelahnya membelalakan mata. Sementara itu, Midorima dari depan lift sudah memanggil nama Kuroko, Kuroko lalu berjalan menuju Midorima sambil sejenak melirik dua wanita yang tadi berbicara dengannya.

"Aku tak percaya, tanpa wawancara, bahkan tanpa baca berkas dia langsung diterima!"

"Aku juga, aku pikir berkasnya juga akan berakhir seperti kemarin. Tapi syukurlah…"

Setelah itu Kuroko tak mendengar apa-apa lagi karena langkahnya sudah sampai kedalam lift.

Flasback End

Kuroko terus saja kepikiran. Ditengah-tengah lamunannya, seseorang membuka pintu yang menghubungkan ruang yang di tempatinya dengan koridor di depan. Seseorang masuk diikuti seseorang lagi. Kuroko tak berani melihat siapa yang masuk karena masih merasa asing.

"Maaf menunggu lama, Tetsuya." Suara itu tak asing di telinga Kuroko. Dengan cepat Kuroko melihat siapa yang baru saja masuk. Dan kedua matanya membelalak beberapa detik sebelum kembali seperti semula dan memancarkan kebingungan.

Di depannya berdiri Akashi dengan pakaian resmi, kemeja merah dilapisi jas berwarna hitam dan celana kain berwarna sama serta sepatu pentofel hitam. Sedangkan di belakang Akashi berdiri Midorima yang juga berpakaian sama tetapi kemeja yang dikenakan Midorima berwarna hijau. Ditangan midorima juga ada jas berwarna putih.

"Akashi-kun? Kenapa disini?" tanya Kuroko. Dia sama sekali tidak mengerti.

"Are? Tetsuya, kau mau bekerja di perusahaan ini tapi tidak mengetahui siapa pemilik perusahaan ini?" Akashi menggeleng pelan sambil sedikit menyeringai, Kuroko ternyata masih belum tau siapa dia.

Kuroko menggeleng, polos. Dia memang tidak sempat mencari tau informasi tentang perusahaan Rakuzan karena Akahsi terus-terusan menyuruhnya untuk secepatnya melamar pekerjaan diperusahaan ini.

Midorima maju selangkah, "Perkenalkan Kuroko, dia adalah Akashi Seijurou," Kuroko manggut-manggut mengerti, "dia pemilik perusahaan ini nanodayo," acara manggut-manggut Kuroko seketika berhenti.

"Apa?" Kuroko sejenak merasa tuli.

Akashi, masih dengan seringainya, pura-pura kesal dan berdecak keras. "Apa kau tidak dengar Tetsuya, aku pemilik perusahaan tempat kau bekerja ini"

Kuroko masih diam, berusaha mencerna, wajahnya memang datar, tapi Akashi bisa melihat sirat kekagetan dimata Kuroko.

"Mulai hari ini kau menggantikan pekerjaan Shintarou," titah Akashi.

Kuroko mengedipkan matanya beberapa kali. "Eh? Tapi…" dia merasa tidak enak pada MIdorima karena tiba-tiba merebut jabatannya.

"Tenang saja, Shintarou dengan senang hati memberikanmu jabatannya." Kuroko masih ragu

Midorima memperbaiki letak kacamatanya, "aku senang kau datang menggantikanku, Kuroko. Dengan begini, aku bisa fokus dengan pekerjaan yang ingin kulakukan nanodayo. Bukan berarti aku berterima kasih padamu nanodayo."

Kuroko tetap saja merasa tidak enak dan ragu. "Tapi –"

"Tidak ada tapi-tapian. Ingat aku pemilik perusahaan ini, Tetsuya. Dan aku tidak bisa dibantah, aku absolut."

"Kalau begitu aku permisi dulu, mulai sekarang mejamu ada disana nanodayo," pamit Midorima. Setelah menunjukkan meja Kuroko yang terletak disamping Akashi, Midorima segera keluar ruangan.

Kini hanya Akashi dan Kuroko yang berada dalam ruang itu. Kuroko hanya bisa diam tak bergeming ditempat duduknya, Akashi lalu duduk tepat disamping Kuroko. Membuat Kuroko sedikit risih, apalagi memori tentang kejadian kemarin kembali berputar dikepala Kuroko dan membuat rona merah kembali muncul di kedua pipinya.

"Kenapa wajahmu memerah, Tetsuya?" tanya Akashi sambil membawa wajah Kuroko menatapnya dengan sebelah tangannya. Melihat Tetsuya hanya diam, sambil berusaha melihat kearah lain, Akashi kembali menyeringai, kali ini lebih lebar. Dia lalu mendekatkan wajahnya, dia dapat merasakan tubuh Kuroko mulai menggeliat tak nyaman. Dan setelah tinggal beberapa senti, Akashi menghentikan pergerakannya. "Tetsuya."

Kuroko berusaha mengabaikan, dalam hati dia berdoa semoga kejadian kemarin tidak terulang karena bisa berakibat buruk untuk jantungnya.

"Tetsuya, tatap mataku," titah Akashi. Hawa keabsolutannya membuat Kuroko dengan terpaksa menurut. Dan saat keduanya saling menatap, Akashi kembali menyeringai membuat bulu kuduk Kuroko berdiri. "Mulai hari ini kau adalah sekretaris sekaligus asisten pribadiku. Dan jangan lupa bahwa kau juga milikku. Yoroshiku nee, Tetsuya."

Seluruh bulu kuduk Kuroko berdiri mendengar perkataan Akashi, entah kenapa firasat buruk mulai menghantuinya. Tapi firasat itu menjadi hilang tak berbekas saat Kuroko melihat senyuman tulus Akashi. "Baik, Akashi-kun," jawab Kuroko langsung tanpa tau rencana apa yang telah disusun Akashi didalam kepalanya.

Dan saat Kuroko merasa semuanya akan baik-baik saja – dia berusaha membuang pikiran negatif –, senyuman tulus Akashi kembali berubah menjadi seringaian yang lebih lebar. Bulu kuduk Kuroko kembali berdiri.

Lindungilah aku/Kuroko/Kuroko-cchi/ Tetsu/ Kuro-chin/ Tetsu-kun, Kami-sama, doa Kuroko dan orang terdekatnya serempak dalam hati.

_ Surat Lamaran _


Omatase…
Gomen, Minna-san
to Senpai tachi
Saya update lagi-lagi lama/bow/

Sepertinya chapter kali ini terlalu panjang… /baru sadar/
Semoga Minna-san to Senpai tachi tidak keburu bosan membaca…

Trus, special thanks buat Minna-san yang udah mau repot-repot ngereview chapter kemarin /bow/
Kalian menyembuhkanku dari penyakit WB, hontouni arigatoo/nangis terharu/
Buat yang ngereview chap yang lalu-lalu juga, hontouni arigatoo… ^.^

So, mind to review?

TBC