From the author's desk : Yak, kembali lagi dengan saia dan fic ini. Semoga anda tidak bosan membacany. Jujur, selama proses pembuatan fic ini saia agak kesulitan, soalny disc game Suikoden IV saia rusak,jadi mau gak mau saia harus download gameplayny dari youtube *sigh*. Padahal lebih seru kalau main langsung, lebih dapet feelny. Owh well, ini update terbaruny, semoga memuaskan :).

Seluruh karakter original sepenuhny milik Konami.


Tale 4 : Something From The Past

Kedua kapal sudah hampir mendekati Pulau Hermitage saat sebuah Rune Cannon menghantam sisi kiri kapal Grishend, kapal milik Kika.

"Ya ampun, siapa lagi yang menyerang kita?!" Omel Jewel.

Lazlo segera berlari ke dek kapal, dan melihat ke belakang. "Kika, kalian baik-baik saja?!"

"Ya, kami baik-baik saja," Kika menatap Lazlo. "Kalian pergilah duluan. Dario, Sigurd, Hervey, kalian temani Lazlo ke pulau itu. Aku dan yang lainnya akan menangani mereka."

"Tapi..." Lazlo terlihat ragu.

Tidak lama setelah itu, Lino loncat ke kapal Kika. "Tenang, aku akan membantu Kika! Kalian cepatlah pergi, biar kami yang mengurus prajurit Kooluk ini!"

Lazlo masih ingin membantah, tetapi tangan Sigurd telah menahannya. "Dengarkan kata Lady Kika. Mereka pasti baik-baik saja, ada Raja Lino di sana. Kau tidak perlu khawatir."

Satu tembakan menghantam bagian belakang kapal kerajaan Obel, membuat Lazlo terhuyung-huyung.

"CEPAT PERGI!" Teriak Kika penuh emosi.

Melihat Lazlo yang masih belum bergerak, Dario memutuskan untuk mengambil alih komando kapal untuk sementara dan memberi tanda kepada nahkoda untuk segera keluar dari medan pertempuran yang baru tercipta ini.

"Kau, jangan sekali lagi membantah perintah Lady Kika." Kata Hervey dengan dingin.

Lazlo hanya terdiam dan tidak memberikan reaksi apa pun.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Kita sudah sampai," kata Rakgi, anak laki-laki dengan rambut silver.

"Baiklah, ayo kita turun!" Seru Hervey penuh semangat, dia menjadi orang pertama yang turun dari kapal, disusul oleh Dario.

Sigrud menatap Lazlo yang berdiri disebelahnya tanpa ekspresi, ia menghela nafas lalu menepuk pundaknya. "Tenang, mereka akan baik-baik saja. Sekarang, lebih baik kita pergi ke tempat Elenor."

Lazlo mengangguk pelan, kemudian ia meminta kepada Jewel dan yang lain untuk tetap di kapal, sementara ia dan ketiga anak buah Kika pergi. Jewel awalnya tidak senang dengan keputusan temannya, tetapi Keneth menahan Jewel untuk ikut loncat dari atas kapal.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di tempat Elenor. Sebuah rumah – yang menurut Hervey tidak layak menjadi tempat tinggal manusia – menyambut kedatangan mereka. Sigrud hanya bisa menaikan sebelah alisnya, sementara mulut Dario terbuka lebar saking terkejutnya. Dan Lazlo hanya bisa membelakan mata.

"Apa benar di sini tempat tinggal Elenor the tactician? Tempat ini bahkan tidak layak untuk menjadi tempat tinggal manusia!" Komentar Hervey.

"Sungguh kalimat yang tidak pantas diucapkan!" Suara seorang perempuan membalas komentar Hervey mengenai rumah ini.

"Huh?" Seru yang lain kompak.

Dari dalam rumah muncul seorang perempuan dengan rambut disanggul ke atas, dia langsung mendekati Hervey dan memarahi pria itu. Hervey yang kaget langsung salah tingkah dan akrhinya meminta maaf atas ucapannya. Wanita itu tidak menggubris Hervey lebih lanjut, dia pun mendekati Lazlo.

"Ah, jadi kau Lazlo!"

Pria yang menggunakan bandana merah itu mengangguk. "Apa anda Miss Elenor?"

Wanita itu terkekeh geli. "Bukan. Perkenalkan, aku Agnes, murid Lady Elenor dan sekaligus yang mengurus dia."

"Oh, um," Lazlo jadi gugup, "maaf."

"Tidak apa-apa." Wanita bernama Agnes itu tersenyum. "Nah, sambil menunggu Lady Elenor, aku akan menyiapkan makanan untuk kalian."

"Eh, um..." Sigrud belum selesai bicara, Agnes sudah kembali bicara.

"Kalian suka daging kan?"

"Iya, tapi..." Kali ini Hervey yang bicara.

Agnes menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, tenang saja. Nah, sekarang tunggu sebentar, akan aku siapkan makanan dan minumannya."

Keempat pria itu hanya saling pandang ketika wanita itu masuk ke dalam rumah, dan mereka menunggu di luar.

"Jadi, bagaimana ini?" Hervey menatap Lazlo, begitu juga Dario dan Sigrud. Meski Dario jelas-jelas menunjukan rasa kebahagiaan.

"Yah, tidak apa-apa 'kan?" Lazlo menjawab dengan senyum agak dipaksa. Disatu sisi dia ingin menolaknya karena rasanya segan, mereka makan disaat teman-temannya yang lain sibuk bertarung dan menunggu kepulangan mereka, disisi lain, jika dia menolak, itu artinya dia menghina niat baik tuan rumah.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"MAKAN INI KOOLUK SIALAN!" Teriakan Lino menjadi penutup dari teriakan-teriakan lainnya yang dikumandangkan oleh kru yang bertarung melawan Kooluk. Dan ketika tentara Kooluk terakhir telah tumbang, teriakan bahagia para krua menggema.

Kika yang berdiri di belakang Lino hanya bisa menghela nafas panjang. Untungnya kerusakan kapalnya tidak begitu parah, jadi mereka bisa langsung pergi ke tempat Elenor tanpa harus kembali ke Nest of Pirate untuk memperbaiki kapal.

"Kira-kira, mereka sudah berhasil membujuk Elenor untuk bergabung dengan kita atau belum?" Tanya Lino.

Kika menundukkan wajahnya. "Aku tidak tahu. Tapi selama ada Lazlo, aku percaya dia aka berhasil membujuk Elenor."

"Yeah, aku percaya kepada Lazlo."

"Apa kalau begitu kita tidak perlu ke sana?" Kika melirik Lino sekilas, lalu kembali menatap lautan luas dihadapannya.

Lino menggaruk-garuk dagu, kemudian menggeleng. "Entah kenapa aku merasa bahwa kita harus ke sana."

Kika hanya mengangkat bahunya, kemudian berjalan masuk ke dalam kabin.

"Terserah kau saja." Teriaknya kemudian.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Pandangan mata Lazlo menjadi buram, matanya berair dan kepalanya terasa sangat berat. Sayu-sayup dia mendengar suara seorang wanita asing yang baru kali ini dia dengar. Dengan susah payah dia berusaha memfokuskan pandangannya ke sosok wanita berambut merah yang tengah jongkok didekat tubuh Dario yang tergeletak di tanah.

Ap, apa yang terjadi...?

"Graham Cray... Ah, aku mengerti kenapa Kika mengirim kalian..."

Cray... Kika... Apa orang ini, Elenor...?

Lazlo mendengar suara langkah kaki mendekati tubuhnya yang duduk dalam keadaan tidak berdaya. Tiba-tiba dia merasakan kepalanya didorong menggunakan sebuah benda keras, ternyata si wanita itu yang melakukannya.

"Nampaknya racunku tidak mempan untukmu. Aku terkesima..." Wanita yang sama memberikan pujian. "Bagaimana jika kau dan aku melakukan ronde kedua di dalam?"

Lazlo yang sudah mulai berhasil mengendalikan tubuhnya hanya bisa mengadahkan kepalanya ke atas, menatap wanita itu dengan bingung.

"Agnes, bantu pria ini berdiri." Perintahnya sebelum masuk ke dalam rumah.

Yang diperintah segera melaksanakannya tanpa pikir panjang lagi. Sambil dipapah masuk oleh Elenor, dia terus berusaha mengembalikan kesadarannya. Bagian dalam rumah terlihat sederhana, ada sebuah lilin yang menyala ditengah meja, dan disana duduk wanita tadi.

"Aku sudah bisa jalan sendiri." Kata Lazlo sambil melepaskan papahan Agnes dan berterima kasih kepadanya. Ia pun duduk ditempat yang telah disediakan.

Agnes kemudian menuangkan sebuah air ke dalam cangkir dihadapan Lazlo, entah kenapa dia merasa trauma dengan minuman yang diberikan oleh orang-orang ini. Sang tuan rumah rupanya sadar akan hal itu, dan berusaha menyakinkan bahwa minuman itu aman. Setelah yakin, Lazlo pun menenguknya.

"Jadi, Kooluk bekerja sama dengan Cray Trading Company. Itu menjelaskan mengenai kejadian di Iluya beberapa hari silam. Aku tahu segalanya, walau pun aku tingal di tempat seperti ini." Elenor menatap lurus ke manik mata Lazlo. "Nah, apa yang kau inginkan dariku?"

"Aku mohon, bertarunglah bersama kami!"

Elenor menghembuskan nafas. "Dengar, tactician Elenor Silverberg sudah tewas lama sekali." Ada jeda cukup lama sebelum dia melanjutkan. "Tapi jika kau berencana untuk menghidupkannya kembali, kau harus siap untuk membayarnya. Apa kau tetap mau melakukannya?"

Lazlo mengangguk.

"Baiklah, kita lihat seberapa seriusnya dirimu. Dibelakang rumah ini ada sebuah gua, di dalam gua tersebut terdapat sebuah kotak. Bawa kotak itu kepadaku. Jika kau melakukannya dengan baik, aku akan berpikir untuk menolongmu. Nah, sekarang cepat pergi!"

Lazlo mengeritkan kening. Mengambil sebuah kotak? Aku kira tugasnya lebih berbahaya. Hanya mengambil sebuah kotak. Aku rasa aku sanggup...

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Kika turun dari kapalnya tidak lama setelah mereka merapat. Ia telah berpesan kepada Lino untuk tetap di kapal sementara dia melihat kondisi Lazlo dan yang lainnya. Entah kenapa, dia merasa sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka. Kika mempercepat langkahnya. Dan benar saja, dia melihat tiga anak buahnya tertidur pulas dengan piring serta botol berserakan didekat mereka. Kondisi buruk yang ini setidaknya bukan seburuk yang ada dalam bayangan Kika. Namun hilangnya Lazlo menimbulkan perasaan cemas. Ia pun masuk ke dalam, dan melihat Elenor tengah berdiskusi dengan Agnes.

"Ah, Kika." Sapa Elenor saat melihat Kika. "Aku kira kau tidak akan ke sini."

"Kemana Lazlo?" Tanya Kika langsung.

"Dia sedang aku suruh ke gua di belakang rumah untuk mengambil penawar racun yang aku berikan kepada mereka sebelumnya."

"Kau..." Kika berhenti. "Paling tidak mereka tidak mati. Tidak apa-apa. Tunggu, bukannya di sana ada monster yang menjaga pintu masuk gua tersebut?!"

Elenor hanya tertawa pelan. Kika berlari keluar untuk menyusul Lazlo.

"Apa tidak apa-apa, Lady Elenor?" Tanya Agnes.

"Biarkan saja. Toh aku yakin pemuda itu sudah berhasil mengalahkan monster sebelum Kika tiba disana." Elenor meneguk minumannya.

Dan benar saja, begitu Kika tiba di mulut gua, monster itu sudah terkapar tidak bernyawa. Wanita berambut pink itu menghela nafas lega, ia pun berjalan masuk ke dalam. Ada perasaan aneh menggelitik hatinya setiap langkah yang ia ambil. Dari kejauhan dia melihat sosok Lazlo, namun sedetik kemudian sosok itu berubah. Menjadi sosok seseorang yang sangat ia kenal, dan rindukan...

"Ed... Edgar..." Tubuh Kika seolah membeku ketika melihat pria itu tersenyum ke arahnya. "Tidak, tapi kau..."

"Ada apa Kika? Apakah seperti ini caramu menyambut pria yang kau cintai?" Sosok Edgar mulai mendekat.

"Tidak, kau, seharusnya..." Kika menelan ludahnya. Tangannya yang gemetaran sudah bersiap-siap diujung pedangnya.

"Aku sudah kembali, Kika."

"TIDAK!" Kika menebas sosok Edgar, yang ternyata hanya monster yang. Kika terjatuh ke bawah dengan lesu.

Lazlo yang akhirnya menyadari bahwa dirinya tidak sendirian di sini menoleh ke belakang, dan sangat terkejut saat melihat sosok Kika terjatuh. Sambil membawa barang yang diperintahkan oleh Elenor, dia berlari menghampiri Kika. "Kika, kau tidak apa-apa?!"

Kika mengangguk pelan. Dengan susah payah dia bangun, dibantu oleh Lazlo yang memberikan tangan kanannya.

"Apa yang kau lakukan di sini? Apa para prajurit Kooluk yang menyerang kita sebelumnya telah berhasil kalian kalahkan?"

"Bisakah, kita bicarakan hal ini di rumah Elenor?" Tanya Kika sembari memijit-mijit keningnya.

"Baiklah. Apa kau butuh bantuan?"

"Tidak, aku tidak apa-apa..."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Elenor bertepuk tangan ketika Lazlo tiba membawa sebuah guci berwarna hijau. "Kau berhasil, Lazlo." Raut wajah Elenor berubah dengan cepat saat melihat tubuh Kika yang lesu berdiri di belakang Lazlo. "Serahkan guci itu kepada Agnes, itu penawar racun untuk tiga pria yang masih pingsan di luar sana."

"Aku akan ikut membantumu, Agnes." Kata Lazlo setelah membantu Kika duduk dan menyerahkan sebuah crest kepada Elenor.

Meski awalnya ragu, Agnes membiarkan pemuda ini ikut keluar bersamanya, dan meninggalkan Elenor dengan Kika.

Sang tuan rumah menuangkan air putih untuk Kika. "Minum ini."

"Kenapa? Kenapa aku melihat sosok Edgar di sana?"

Elenor menghembuskan nafas. "Maaf, aku lupa mengatakan kepadamu."

Kika menenggak habis minuman yag diberikan oleh Elenor. "Mengatakan apa?"

"Ada alasan lain kenapa aku tidak berani ke sana. Ketika pertama kali aku menaruh seluruh racun, ada sebuah guci yang tidak sengaja dijatuhkan oleh Agnes. Guci itu berisi sebuah racun yang membuat kita mengingat seseorang yang telah pergi dari kehidupan kita." Wajah Elenor terlihat sendu untuk beberapa saat. "Oleh karena itu..."

"Tapi kenapa racun itu tidak mempan terhadap Lazlo? Apa artinya dia tidak memiliki orang yang..."

"Aku rasa," Elenor memotong kalimat Kika. "Mungkin karena True Rune miliknya."

"Ya, mungkin saja..."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Ugh, Dario, kau berat sekali!" Omel Lazlo saat dia sedang mengangkat tubuh Dario.

"Lebih baik biarkan saja dia meminum penawar ini dalam posisi terlentang asal kepalanya agak sedikit tinggi." Agnes memberi saran. Dia agak kasihan juga melihat Lazlo kesulitan mengangkat tubuh Dario yang gemuk.

"Sedikit lagiiii..." Lazlo tidak kuat lagi, akhirnya dia menjatuhkan tubuh Dario. Nafasnya tersengal-sengal, dia seperti baru saja berenang sepuluh kilometer bolak-balik.

"Sudah aku bilang 'kan..." Kata Agnes sambil mengangkat kepala Dario, kemudian menuangkan sedikit penawar ke dalam mulutnya.

Dengan wajah malu Lazlo terus mengamati Agnes. "Hei, boleh aku bertanya sesuatu?"

Agens tidak menjawab, namun dari lirikan sekilasnya, Lazlo yakin bahwa Agnes tidak keberatan. "Siapa itu Edgar?"

"Aku tidak tahu..." Agnes menjatuhkan kepala Hervey dengan kasar, mungkin itu balas dendam karena Hervey telah menghina rumah ini? "Oh, kalau tidak salah dia sahabat Brandeau. Berarti sahabat Lady Kika juga."

"Sahabat yah?" Gumam Lazlo.

"Kenapa?"

"Ah, oh, tidak. Hanya rasanya, aku pikir, hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat." Sadar akan apa yang baru saja dia ucapkan, Lazlo menggeleng-geleng dengan cepat. "Eh, ti, tidak. Bukan begitu maksudku..."

"Aku tidak mengerti apa-apa, jadi tenang saja."

Belum sempat Lazlo menjawab, terdengar suara pintu terbuka, dan dua wanita itu terlihat diambang pintu.

"Nah, Lazlo. Aku sudah melihat keseriusanmu. Jadi, sekarang giliranku. Janji adalah janji, aku akan membantumu."

Lazlo tersenyum bahagia. "Terima kasih, Lady Elenor."

"Hei, hei, kau pemimpinku. Panggil namaku saja," Elenor mengibas-ngibaskan tangannya.

"Baiklah, Elenor."

"Nah, kalau begitu, setelah aku selesai minum, aku akan menyusulmu ke kapal."

Kika menghembuskan nafas. "Dan aku harus menceramahi ketiga anak buahku."

"Jangan terlalu keras kepada mereka, Kika." Lazlo berkata. "Kali ini, bukan salah mereka sampai-sampai mereka mabuk begini."

"Ya, kau benar." Kika mendelik ke arah Elenor. "Ayo kembali ke kapal. Yang lain pasti mengkhawatirkanmu. Biarkan ketiga manusian ini kembali sendiri nanti."

"Baiklah. Kalau begitu, kami permisi dulu, Elenor." Lazlo membungkuk. "Kami tunggu kedatangan anda di kapal."

Elenor hanya bergumam kecil dan menyurh keduanya untuk segera pergi.

Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka berdua. Bahkan ketika monster menyerang mereka, semua diselesaikan tanpa suara selain bunyi pedang. Ketika mereka telah tiba di pantai, Lazlo berjalan agak jauh dibelakang Kika. Entah kenapa, kejadian di dalam gua membuat Lazlo sedikit penasaran mengenai hubungan Kika dengan pria bernama Edgar itu.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Elenor memutuskan Lazlo untuk berduel dengan Lino demi memutuskan siapa yang akan menjadi pemimpin pasukan ini. Lazlo keluar sebagai pemenangnya dan mendapatkan Golden Seal. Entah apakah Lino sengaja mengalah atau tidak. Ketika berduel, dia melihat wajah Kika sedikit khawatir. Apakah wanita itu mengkhawatirkan dirinya atau Lino? Atau mungkin keduanya? Selain itu, Elenor juga menyuruh Lazlo untuk memberi nama bagi pasukan ini serta kapalnya. Tov memberikan saran, Dauntless. Nama itu terdengar bagus, Lazlo pun menggunakannya. Sementara untuk pasukan, tidak ada yang memberi nama bagus. Ia pun memberikan nama lain untuk pasukan mereka.

"Bagus! Sekarang kita sudah siap!" Seru Elenor. "Nah, kemana tujuan kita selanjutnya?"

Lazlo terdiam beberapa saat. "Mungkin, aku harus melihat keadaan Iluya."

"Baiklah kalau begitu, perintahkan kapal untuk berangkat sekarang, Lazlo!" Lino menepuk punggung Lazlo dengan keras.

"Baiklah... Dauntless, berangkat!"

Hembusan angin malam membuat tubuh menggigil, mereka bahkan belum melewati Obel. Perjalanan masih sangat jauh. Seorang pria berbandana merah terlihat berdiri di dek kapal, memejamkan matanya. Rasa sakit yang tiba-tiba muncul ditangannya sudah mulai menghilang. Terima kasih kepadanya, tidur pria itu jadi terganggu. Padahal dia sudah lama tidak tidur dengan nyenyak. Nampaknya tidur nyenyak tidak bisa lagi dia dapatkan semenjak ia diusir dari Razril. Dulu, walaupun dia harus bangun pagi-pagi buta demi melaksanakan latihan rutin pagi, Lazlo selalu tidur dengan lelap. Sekarang, entah kenapa dia merindukan Razril.

"Tidak bisa tidur?" Tanya seorang wanita dari belakang.

Lazlo menoleh, dan melihat sosok Kika di sana. "Ya. Semenjak aku diusir dari Razril, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak lagi."

Kika hanya mengangguk. Ia berdiri di sebelah Lazlo, menyandarkan bagian belakang tubuhnya ke tali pengaman yang terbuat dari tali. Suasana sepi beberapa hingga Kika berbisik. "Terima kasih untuk yang tadi, Lazlo."

"Oh, itu?" Mungkin yang dimaksud Kika adalah kejadian waktu di Pulau Hermitage. "Tidak apa-apa. Sebetulnya, apa yang terjadi kepadamu, Kika?"

"Aku..." Kika berhenti bicara, ia menghembuskan nafas. "Aku melihat seseorang dari masa laluku."

"Seseorang?"

"Ya, seorang sahabat yang sangat aku sayangi..." Terpancar sebuah kesedihan dari iris mata Kika. "Sudah malam, lebih baik kau tidur sekarang, Lazlo. Selamat malam." Kika meninggalkan Lazlo yang masih diam di tempat.

Apa benar dia hanya seorang sahabat untukmu, Kika?