Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina, NaruHina, SasuSaku

Rated : T

Genre : Hurt/Comfort yang nggak kerasa, Romance abal-abal

Warning : masih newbie, AU, OOC, Typoos bertebaran dan cerita yang absurd, DLDR

Chapter 3

Entah kenapa pagi ini, kediaman Hyuuga terlihat sibuk seperti saat ini. "Nee-chan, kaos kakiku dimana?" Hanabi bertanya sambil mengobrak abrik isi lemari pakaiannya.

"Hinata, bisa kau tolong Tou-san memasang dasi ini? Hari ini ada meeting dengan klien." Kali ini yang memanggilnya adalah Hiashi, ayahnya.

"Hinata, apakah sarapannya sudah selesai?" Neji, kakak sepupunya yang sekali seminggu menginap dirumahnya ikutan nimbrung memanggilnya.

"Nee-chan..!" Hanabi memanggilnya dengan nada tidak sabaran.

"Hinata..!" Oh tidak, ayahnya juga.

"Hinata..!" Apakah kakak sepupunya juga memanggilnya?

"Guk..Guk..Guk.." Bahkan anjing peliharaannya Shiro, juga ikut memanggilnya. Ah, sepertinya Hinata lupa memberi makanan untuk anjing itu hari ini.

"Ah ya, tunggu sebentar, Minna!"

Hinata yang diketahui berada di dapur, dengan cekatan mematikan kompor dan menyajikan menu sarapan hari ini di meja makan. Celemek yang membalut seragam sekolahnya dilepas, dan disimpan dalam lemari penyimpanan di dapurnya. Dengan langkah yang lebar Hinata lekas keluar dari dapur dan berjalan menuju lantai dua, kamar Hanabi, Imotou-nya.

"Apakah kau kehilangan kaos kaki lagi, Hanabi?"

"Hehehe.. iya Nee-chan."

"Astaga, Hanabi! Cobalah hilangkan kebiasaanmu yang suka membuang barang sembarangan setelah pulang sekolah. Cobalah letakkan di tempatnya. Kali ini dimana lagi kau buang barang itu kemarin? Apakah semua bagian di kamar ini sudah diperiksa?"

Hanabi yang mendengar kalimat panjang sang kakak yang diucapkan dalam satu tarikan nafas hanya bisa nyengir dan menjawab "Sudah, tapi tak ketemu? Apakah Nee-chan mau membantuku mencarinya?"

Hinata yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas. Oh ayolah, hari ini bunkasai disekolahnya akan diselenggerakan. Dan biasanya sebelum festival itu dimulai, pasti ada acara pembukaan dulu dari kepala sekolahnya dan itu artinya upacara peresmian. Dan ia tak boleh datang terlambat, tapi jika keadaannya begini ia jadi sanksi bisa datang tepat waktu. Kenapa pagi ini, jadi sibuk sekali? Kenapa tidak memilih hari lain saja?

"Apakah kau sudah mengecek bawah tempat tidurmu, biasanya kan kau suka membuang barang ke sana."

"Aha ! kau benar Nee-chan, aku belum mengeceknya disitu. Kenapa tak terpikirkan kesana yah?" Hanabi bertanya pada diri sendiri dan mengecek ke bawah tempat tidurnya.

"Bagaimana? Sudah ketemu?"

"Sudah Nee-chan. Arigatou." Hanabi mengucapkan terima kasihnya dengan senyum yang lebar.

"Syukurlah. Kalau sudah selesai siap-siapnya, turunlah untuk sarapan."

"Ya, Nee-chan."

Satu masalah sudah selesai. Saatnya menyelesaikan masalah yang lainnya. Hinata melangkah turun menuju kamar ayahnya yang harus melalui ruang tamu. Di ruang tamu, lebih tepatnya di sofa, tampak olehnya Nii-sannya sedang sibuk membereskan barang-barangnya. Mungkin hari ini ia akan pulang ke apartemennya. Oh ya, kalau tidak salah, kakaknya ini menanyakan sarapan.

Dengan sambil lalu, Hinata mengajaknya ke ruang makan. "Nii-san, sarapannya sudah siap.."

"Oh ya, Nii-san akan kesana nanti."

Dan masalah semakin berkurang. Melangkah dengan cepat, Hinata sudah sampai di depan pintu kamar Ayahnya. Mengetuknya lebih dulu, Hinata masuk ke kamar Ayahnya. Dan yang terlihat dikamar itu benar-benar buat sakit kepala.

Dasi yang harusnya terpasang rapi didalam lipatan kerah baju itu, kenapa malah terlihat melilit leher? Apakah Ayahnya mau bunuh diri?

"Ya ampun Tou-san! Kenapa bisa jadi begini? Biar Hinata yang masang!"

"Maafkan Tou-san, Hinata. Pagi ini, Tou-san merepotkanmu."

"Daijobou.. Bukankah sudah menjadi tugas Hinata menggantikan ibu untuk urusan ini, Tou-san?"

"Arigatou Hinata, Tou-san beruntung punya anak sepertimu." Hiashi memandang Hinata sayang. Dan dibalas dengan senyuman lembut Hinata.

"Nah sudah selesai. Ayo sarapan Tou-san."

Meja makan yang tak bisa dibilang besar itu, Nampak penuh dengan keceriaan dan kehangatan keluarga ini. Terkadang diisi dengan candaan. Namun, kali ini Hinata tak bisa merasakannya lebih lama. Waktu yang tersisa sepertinya takkan cukup.

"Aku selesai. Terima kasih makanannya." Hinata beranjak dari kursinya dan mengambil makanan buat Shiro, Anjingnya.

"Tapi, makanannya belum kau habiskan, Hinata."

"Hinata sudah kenyang Tou-san. Hari ini ada bunkasai, jadi harus datang lebih awal."

"Ya sudah, Hati-hatilah di jalan!"

"Umm.." Hinata mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya dan dengan segera mengambil tasnya di tangan kanan, dan di tangan kirinya terdapat makanan Shiro.

"Ittekimasu..."

"Itterasshai.."

Melangkah cepat menuju depan rumahnya, memasang sepatunya dan sebelum mendekati pagar, Hinata menghampiri Shiro dan memberinya makan.

"Jaa ne, Shiro."

··

Jam sudah menunjukkan pukul 07:15 dan untungnya Hinata sudah tiba di Stasiun Nakahama. Dan ia masih harus berjalan sekitar 15 menit lagi menuju sekolahnya, andai ia punya sepeda, pasti ia akan sampai di sekolah sebelum pukul 07:30. Upacaranya kan berlangsung di jam segitu...

Tapi, melihat kondisinya yang sekarang, rasanya tidak mungkin jika datang tepat waktu. Kecuali, Kami-sama memberinya tumpangan gratis ke sekolahnya. Ah, pemikiran konyol bukan?

Namun, sepertinya kali ini pemikiran konyolnya itu terwujud. Lihatlah! Sekarang di depannya berhenti remaja laki-laki dengan sepedanya. Kalau dilihat-lihat mungkin seumuran dengannya. Hinata yang tadinya hanya dapat melihat punggung pemuda itu, kini dapat melihat mata blue saphire yang menenangkan saat pemuda itu membalikkan tubuhnya menghadap Hinata. Sekejap Hinata terpukau.

'Mata itu sungguh indah' pikirnya.

"Hey nona, mau tumpangan?"

"Eh..?"

"Ck, kau dari Konoha International High School kan? Sepertinya kita satu sekolah"

Aha, benar juga. Dilihat dari seragamnya, harusnya Hinata tau kalau mereka bersekolah di tempat yang sama. Kenapa ia tak sadar dari tadi ya?

"Ya. Aku juga sekolah disana.."

"Kalau begitu tunggu apalagi? Cepatlah naik! Kita hampir terlambat."

"Um.. Arigatou."

Pemuda ini... niatnya baik tapi haruskah seperti itu? Sebenarnya Hinata jengkel sama pemuda ini, wajahnya yang tampan ternyata tak sama dengan perkataannya. Tapi kenapa harus dipermasalahkan? Setidaknya karenanya hari ini Hinata tak jadi datang terlambat.

···

Ternyata dengan sepeda, mereka hanya butuh waktu 7 menit ke sekolah. Dan itu berarti mereka masih punya sisa waktu untuk bernapas lega. Hinata benar-benar terima kasih pada pemuda ini. Saat Hinata ingin memulai percakapan dengan pemuda itu, ia sudah keduluan..

"Yokatta ne, kita tak jadi terlambat." Ujar pemuda itu dengan senyum mentarinya.

"Kalau begitu aku duluan ya!" Lanjutnya.

"Matte!" Hinata berseru.

"Arigatou, um..."

"Naruto." Seakan tau maksud Hinata, pemuda itu menyebutkan namanya.

"Ah, arigatou Naruto-san!" Hinata melanjutkan perkataannya dengan ber-ojigi.

"Daijobou, Hyuuga. Jaa ne!" Melambaikan tangannya, pemuda itu sudah lebih dulu meninggalkan Hinata dalam kebingungannya di parkiran sepeda. Hinata hanya dapat terus memandang punggung Naruto sampai sosok itu menghilang dari netranya. Hinata merasa antara Sasuke dan Naruto punya kemiripan dalam berinteraksi dengannya. Mereka sama-sama tau namanya tanpa harus memperkenalkan diri terlebih dahulu. Padahal Hinata yakin ini pertemuan pertama mereka. Apakah ia seterkenal itu?

Melihat jam yang melingkar di tangannya, Hinata segera bergegas menuju Auditorium tempat upacara pembukaan itu diselenggarakan. Setibanya disana, murid-murid sudah duduk rapi di kursinya. Sepertinya akan sulit mencari kursi yang kosong.

"Hinata-chan! Kocchi-kocchi!" Dari jauh ia dapat melihat Tenten melambaikan tangan ke arahnya. Tanpa buang waktu, Hinata segera menghampirinya.

"Tenten-chan, ohayou.." sapa Hinata

"Ohayou.. aku sudah menyiapkan kursi untukmu. Duduklah!"

"Arigatou"

"Tumben datang telat. Padahal kan selalu cepat datang. Ada apa?" Ditanyai seperti itu, Hinata bingung harus menjawab apa.

"Pagi ini, aku harus mengurus keluargaku."

"Umm..umm.." Tenten mengelus-elus dagunya seakan mengerti.

"Kau memang anak yang baik ya. Eh, sepertinya akan dimulai. Lihat! Kepala sekolah sudah datang." lanjutnya.

Kepala sekolah memberikan pidatonya, dan sesekali para murid memberikan tepuk tangan. Dan itu membosankan!. Tapi untung saja tak berlangsung lama. Setelah kepala sekolah, masih ada Osis yang memberikan informasi seputar Bunkasai. Dan sepertinya, Hinata kenal dengan orang yang bicara di depan itu.

"Itu ketua osis kita?" Hinata bertanya pada Tenten.

"Kau tak tau?" Tenten mengernyit heran. "Ya ampun Hinata. Semua orang sudah tau siapa dia. Ketua osis kita itu kan sama populernya dengan Sasuke, namanya Uzumaki Naruto. Kau benar-benar tak tau?"

Hinata hanya bisa menggeleng sebagai jawabannya dan Tenten menghela napas.

"Yah, setidaknya kau sudah tau sekarang."

···

Upacara sudah selesai 10 menit yang lalu, dan semua orang sudah menempati stand mereka masing-masing. Bunkasai kali ini dibuka juga untuk umum. Sehingga, jangan heran kalau melihat hari ini, sekolah itu tampak ramai. Kelas 2D yang membuka stand rumah hantu pun juga ramai dikunjungi. Antrian yang panjang itu, membuat Hinata yang sudah memakai kostum Sadakonya tampak gugup. Ia tidak yakin bisa menakuti pengunjung, ia takut hanya akan mengacaukan rencana kelas mereka. Apa yang harus dilakukan?

"Woah,, Hinata-chan, kau membuatku jantungan saja" Tenten yang sedari tadi sibuk dengan kertas-kertas ditangannya tampak terkejut dengan kehadiran Hinata yang ada dibelakangnya.

"Ah, Tenten-chan, kau tak memakai kostum mu?" Hinata mengernyit heran melihat Tenten hanya menggunakan jubah hitam, dengan riasan mistis yang sederhana. Jauh dari kesan horror.

"Aku belum bilang ya? Hehehe.. " Tenten menggaruk pipinya grogi. "Aku dapat bagian di loket, jadi tak perlu tampilan seram kan?"

"Enaknya..., aku juga mau dapat bagian di loket..."

"Sudahlah, peranmu itu yang paling besar pada event ini. Jadi, jangan khawatir, para pengunjung itu pasti takut melihatmu,, Dah,, sepertinya sudah dimulai. Kembalilah ke pos jagamu Sadako-chan..."

Tenten tampak diburu waktu untuk segera ke meja depan, tempat para pengunjung mendaftarkan diri mereka jika ingin masuk ke wahana Obake House tersebut. Hinata yang melihatnya hanya dapat melangkahkan kakinya ke pos jaganya. Berdiam diri dan mencoba menghampiri pengunjung di kala sudah dekat dari tempatnya sekarang. Mungkin benar kata Tenten, entah kenapa reaksi mereka semua hampir sama dengan temannya yang satu itu. Padahal ia kan hanya berdiri di belakang mereka, pikirnya. Andai Hinata tau jika suasana kelas yang didesain gelap, dibagi menjadi beberapa bagian dan berliku, backsound yang mendukung dan hawa keberadan Hinata yang tipis, memang untuk sport jantung, pasti dirinya sendiri akan menjerit juga ketika bercermin.

···

Sibuk membuatmu lupa akan waktu. Yah, itu yang dialami Hinata. Ia tak menyadari jika 10 menit lagi adalah waktu istirahat. Hp yang berada dibalik kostum itu bergetar, dan itu adalah E-mail dari Sasuke. Hinata segera mengeceknya. Untung saja saat ini pengunjung sedang sepi jadi ia tak masalah untuk melihat Hp miliknya barang sebentar. Membaca E-mail dari Sasuke membuatnya ingat akan permintaan pemuda itu kemarin. Hmm,, sepertinya ini bisa dijadikan alasan untuk istirahat lebih cepat, pikirnya.

Meninggalkan pos jaganya, Hinata menuju ruang ganti. Sebelumnya, ia sudah melapor pada kaichou-nya kalau ia akan istirahat lebih cepat karna ada urusan dan tempatnya itu sudah diganti dengan teman shift selanjutnya. Jadi tak masalahkan kalau sekarang ia pergi?

Dengan seragam sekolahnya dan setelah atribut hantu itu dilepas, Hinata menuju kelas 2A. Hinata yang tampak akan pergi itu, terlihat oleh Tenten.

"Hinata-chan, mau pergi kemana?"

"Ah,, Tenten-chan. Aku mau ke kelas 2A. Tenten-chan mau ikut?"

Tenten yang mendengar kelas 2A, mengernyitkan dahinya. Ekspresi yang terpasang di wajahnya itu, seperti orang yang ingin tau sesuatu. Hinata yang menyadari itu, bertanya "Ada apa Tenten-chan?"

"Sebenarnya, ini sudah lama inginku tanya.." Tenten menghentikan kalimatnya sebentar lalu memasang mimik muka yang serius.

"Apakah kau berpacaran dengan Uchiha Sasuke?" Ditanya seperti itu, membuat Hinata bingung harus menjawab apa. Hubungan mereka kan dalam masa percobaan. Apakah harus diceritakan ya?

"Mungkin iya atau mungkin tidak." Akhirnya hanya itu yang bisa dijawab oleh Hinata.

"Aku hanya ingin memberi tau, kalau menurut rumor yang beredar, Sasuke itu playboy. Setiap perempuan yang menyatakan cinta padanya, tak pernah ia tolak, walau dilihat dari sikapnya, mereka juga tidak diterima. Pokoknya, mereka banyak kecewa dan patah hati. Apakah kau menyatakan cinta padanya, Hinata?"

"Tidak" kata Hinata cepat.

"Lalu, apakah ia menyatakan cinta padamu?"

'menyatakan cinta yah..' batin Hinata. Ia berusaha mengingat kejadian saat Sasuke mengajaknya berada dalam hubungan yang aneh ini. Apa yah yang Sasuke katakan.. Hmm..

[Well, langsung saja, jadilah pacarku Hyuuga!]

[Aku tahu ini terlalu mendadak. Kau tidak usah menjawabnya sekarang. Pikirkanlah. Lusa, berikanlah jawabannya, Hyuuga.]

[Tentunya kuharap kau tak menolakku Hyuuga.]

[Berikan aku kesempatan satu bulan untuk jadi pacarmu. Jika kau merasa tak nyaman, anggap saja ini sebagai pertemanan.]

Sekilas, ingatan Hinata kembali ke masa itu, kalau dipikirkan lagi, Sasuke tidak pernah mengucapkan kata cinta padanya, sikapnya kepada Hinata pun tak pernah bisa ditebak dan ambigu, dan lagi waktu Sasuke mengajaknya menempuh hubungan yang aneh ini pun terlihat tergesa-gesa. Benar juga, sebenarnya apa mau laki-laki itu?

"Aku rasa ia tidak pernah mengucapkan kata itu, Tenten."

"Souka,, " Tenten menghela napas lelah "Ini saranku saja sih, sebaiknya jangan pernah terlibat dengan permainan yang dibuat oleh Uchiha itu. Apalagi jatuh cinta padanya. Setiap tindak tanduk orang itu, pasti punya maksud terselubung. Jadi, berhati-hatilah! Kau paham itu, Hinata-chan?"

"Uum,, arigatou, Tenten-chan. Akan ku ingat itu baik-baik."

"Ya sudah, aku ingin balik ke stand lagi, jaa.."

Hinata terus memandang punggung Tenten sampai sosok itu hilang dari pandangan. Perkataan Tenten selalu terngiang olehnya. Apakah benar Sasuke orang yang seperti itu? Ia tak bisa mengambil kesimpulan dengan cepat tentang kepribadian orang, karna ia tak benar-benar dekat dengan Sasuke dan ia tak pernah bisa menebak pikiran orang itu. Jadi, sebaiknya ia harus bagaimana?

···

Kelas 2A sudah terlihat oleh kedua mata amethyst Hinata dan bisa dibilang pengunjung kelas itu lebih ramai dibandingkan kelas mereka. Ternyata maid yang moe dan para waitres ikemen benar-benar hebat efeknya.

'Pengunjungnya ramai sekali, mereka pasti sibuk. Apa Sasuke-kun ada di dalam ya?' pikirnya.

Melihat sekelilingnya, Hinata melihat seorang gadis dengan surai pirang pucat anggota kelas 2A sedang duduk di dekat pintu masuk. Menghampiri gadis itu, Hinata melihat nametag gadis itu bertuliskan Ino Yamanaka.

"Ano,, Sumimasen, Yamanaka-san. Apa Sasuke-kun ada?" Gadis itu melihat Hinata dan menganggukkan kepalanya.

"Ya, dia ada di gudang penyimpanan yang ada di sebelah kelas kami. Masuk saja"

"Arigatou, Yamanaka-san" Hinata yang paham, melangkah masuk ke kelas itu, dan berusaha mungkin untuk tidak menggangu aktivitas mereka yang ada di dalam. Melihat pintu yang bertuliskan gudang, Hinata membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Tapi, pemandangan yang dilihatnya lebih horror dibanding Obake House milik kelasnya.

Apa ini? Kenapa dadanya terasa sakit?

"Sasuke-kun..."

Mendengar ada yang memanggil namanya, Sasuke yang memunggungi Hinata melirik Hinata dari ekor matanya. Sesaat ia tersentak.

"Hinata.." ujarnya lirih

TBC

Review, Kritik dan Saran benar-benar dibutuhkan untuk membuat fict ini lebih baik. Berbagilah ilmu dengan Ane :D

Jadi, Bagi yang mau mereview, kasih kritik dan saran, Dozou, Arigatou gozaimasu. (^/ \^)