Selamat membaca!

Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M

Genre : Tragedy, fantasy, hurt/comfort

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Golden Cage

Chapter 4 : Tamu Tak Diundang

By : Fuyutsuki Hikari

Suara derap kaki kuda berbunyi sangat keras. Penduduk kota segera menyingkir untuk memberikan jalan. Satu baris pasukan berkuda memimpin rombongan itu, dibelakangnya, dua baris pasukan pembawa panji-panji dan bendera Kerajaan Ame mengikuti penuh wibawa. Di belakang mereka, sebuah kereta yang ditarik empat buah kuda terlihat mewah, menandakan status sang pemilik kereta. Sementara satu pasukan berkuda yang lain mengikuti di belakang kereta.

Di dalam kereta, Itachi merengut kesal. Sesekali dia mendelik ke arah Sasuke yang memejamkan matanya erat. "Ck, kalau keadaannya seperti ini, kita tidak bisa sampai ke Istana Konoha dalam waktu tiga hari."

Hening.

"Kenapa aku harus pergi dengan pengawalan ketat seperti ini? Aku hanya perlu dua orang pengawal untuk menemaniku pergi." Itachi kembali menggerutu kesal. "Berpergian seperti ini malah akan mengundang perhatian!" semburnya. "Bagaimana jika rombongan kita dihadang perampok?" katanya lagi begitu risau. Itachi mengernyit dalam, kemungkinan itu bisa terjadi. Bagaimana pun rombongan mereka terlihat seperti rombongan saudagar, berkantung tebal, pikirnya.

Hening.

"Sasuke?" Itachi membentak keras. Sasuke benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Kenapa Itachi tidak membawa Sai atau Obito juga? Setidaknya mereka bisa menjadi teman ngobrol selama di perjalanan, batinnya sebal.

Sasuke menghela napas panjang, namun masih enggan untuk membuka kedua matanya. "Hn," sahutnya pendek. Hanya perampok berotak miring saja yang berani mengganggu perjalanan mereka. Kibaran panji dan bendera Kerajaan Ame seharusnya bisa membuat nyali penjahat atau perampok manapun ciut, pikir Sasuke. Pangeran keempat Ame itu hanya bisa mencibir dalam hati, kenapa otak Itachi selalu tidak bekerja dengan benar jika menyangkut sesuatu hal mengenai Kurama?

Itachi menyipitkan kedua matanya, sinis. "Tidak bisakah kau mengatakan sesuatu untuk menghiburku?" katanya setelah terdiam cukup lama. Dia lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Jika kau ingin penghiburan seharusnya kau membawa Pangeran Obito serta." Sahut Sasuke datar. "Selera humornya lebih baik daripada aku."

Itachi mendengus dan berdecak kesal. "Selera humor Obito memang tinggi," ujarnya mengakui. "Sedangkan kau-" tunjuk Itachi tepat di depan hidung Sasuke. "Kau tidak punya selera humor sama sekali."

"Hn," Sasuke mengangkat bahu, membalas tatapan sinis Itachi dengan cuek. Persetan jika dia tidak memiliki rasa humor, dia tidak mau terlihat konyol seperti kakak keduanya, Obito.

"Kurama pasti sangat sedih saat ini," Itachi kembali bicara dengan nada bersalah. Dia menyibak tirai untuk melihat keluar jendela kereta, tatapannya menerawang jauh. "Sahabat macam apa aku ini yang bahkan tidak ada di sampingnya saat dia sangat membutuhkanku."

Sasuke menghela napas panjang, melihat wajah sedih kakak pertamanya membuatnya tidak tega juga. "Dia akan mengerti, pasti mengerti."

Itachi menoleh ke arahnya, "kau pikir begitu?"

Sasuke kembali memejamkan mata. "Hn." Sahutnya pendek. Jangan meminta penghiburan dari Sasuke, sungguh dia sama sekali tidak pandai dalam hal itu.

"Dia kehilangan dua orang penting dalam hidupnya sekaligus, Sas." Itachi berkata lirih. "Pernahkah kau memperhatikan sinar mata dan raut wajahnya saat dia membicarakan Putri Naruto?"

Sasuke terdiam namun hatinya membenarkan. Benar, Kurama yang berwajah galak itu terlihat lembut jika membicarakan hal yang menyangkut adik kesayangannya itu. "Jangan khawatir, kita pasti segera sampai di Istana Kerajaan Konoha!"

Dan keduanya pun kembali terdiam untuk waktu yang lama, mereka sibuk dalam lamunannya masing-masing.

.

.

.

Matahari sudah kembali ke peraduannya, langit semakin gelap, sementara rembulan mengintip malu dibalik awan yang juga gelap, mendung. Sebentar lagi mungkin turun hujan, pikir Naruto.

Gadis itu masih mendongak, menatap langit gelap di atasnya. Kedua tangannya masih terikat di belakang. Kakinya pun sama terikat kencang. Sedari tadi dia sama sekali tidak buka suara, hanya matanya yang menatap berkeliling, mengamati situasi yang dihadapinya saat ini. Buruk! Tukasnya dalam hati. Kelompok yang menahannya saat ini pasti perampok, pikir Naruto. Aku harus memikirkan cara untuk melarikan diri, batinnya lagi.

Naruto sedang berpikir keras saat seorang pria berwajah garang berjalan pelan ke arahnya, Naruto merapalkan doa di dalam hati, meminta perlindungan para dewa. Gadis itu berusaha bersikap setenang mungkin, wajahnya tanpa ekspresi, namun jantungnya berdetak sangat cepat. Nii-sama, aku takut. Batin Naruto pilu.

Pria itu berdiri menjulang tinggi di hadapannya, kemudian mencabut sebilah pisau kecil yang terselip di ikat pinggang, membungkuk dan dengan gerakan cepat dia membuka ikatan tali pada pergelangan tangan Naruto.

Naruto mengatur napasnya sebisa mungkin. Dia tidak boleh terlihat takut, pikirnya. Gadis kecil itu menelan air liurnya saat seekor ikan bakar berukuran kecil disodorkan tepat di depan wajahnya.

"Makan!" perintah pria jahat itu galak. Bau khas arak menguar dari mulut pria itu. Tanpa pikir panjang Naruto merebut ikan itu dan melahapnya dengan rakus.

Pria itu berjongkok, tangannya mengacungkan pisau kecil di tangannya pada Naruto. "Siapa namamu?" tanya pria itu lagi terdengar menakutkan.

Seolah tuli Naruto tidak menjawab. Dia lebih memilih untuk menikmati ikan bakar ditangannya. Perutnya sangat lapar, sama sekali tidak bisa diajak kompromi.

"Siapa namamu?" pria itu kembali bertanya, setengah berteriak. "Kau tuli?" teriak pria itu tepat di depan wajah Naruto.

Gadis kecil itu masih mengunyah makan malamnya, namun kini matanya menatap lurus pria asing di depannya. Ia menggeleng pelan, menjawab pertanyaan pria itu.

"Kalau begitu, siapa namamu?" pria itu menggertak marah, kesabarannya sudah mulai menipis.

Naruto memiringkan kepalanya, sementara mulutnya mulai menelan makan malamnya.

Pria itu menyempitkan mata, pisau di tangannya kembali teracung tepat di depan wajah Naruto. "Jangan-jangan kau bisu?" tebak pria itu asal.

Mungkin lebih baik jika aku pura-pura bisu, batin Naruto. Gadis kecil itu mengangguk pelan.

"Sial!" umpat pria itu kasar. "Ketua, bocah ini bisu." Lapor pria itu keras, membuat sang ketua yang sedang duduk di depan api unggun menoleh, dan akhirnya bergerak, berdiri lalu berjalan menghampiri keduanya.

"Dia bisu," lapor penjahat itu lagi pada sang ketua yang bernama Zetsu.

Ketua perampok itu lalu berjongkok, mengamati wajah Naruto dengan seksama. "Siapa yang mau memperkerjakan bocah bisu sepertimu?" dengusnya keras. Naruto mengernyit, kembali terganggu oleh bau arak murah dari tubuh dan mulut ketua perampok itu.

"Setidaknya kuda dan rambutnya cukup berharga." Kisame tersenyum jahat, mengingatkan. "Bagaimana jika kita bunuh saja bocah ini jika dia tidak laku dijual, Ketua?"

Ketua perampok yang bernama Zetsu pun mengernyit, tangannya mengelus dagu yang ditumbuhi janggut tipis. "Kau pastikan saja dia tidak melawan, kita bisa menjadikannya budak jika dia tidak laku dijual."

"Membawa serta bocah bisu ini hanya akan merepotkan kita, Ketua. Dia bisa memperlambat perjalanan kita." Protes Kisame. Pria itu kembali memperhatikan Naruto dengan sorot mata jahat. "Lebih baik kita bunuh saja dia," usulnya lagi membuat Naruto menunduk dalam.

Aku akan dibunuh? Pikirnya kalut. Tangan gadis itu bergetar, takut. Demi Tuhan dia sangat ketakutan saat ini.

Zetsu memicingkan mata menatap Naruto yang kembali pura-pura sibuk menyantap makan malamnya, gadis kecil itu menyembunyikan ketakutannya dengan baik. "Kau benar," sahut Zetsu menyetujui. "Dia hanya akan jadi beban, dan memperlambat pergerakan kita. Kalau begitu, kau bunuh dia jika tidak laku dijual!" Zetsu sekilas melirik ke arah tawanannya yang lain sebelum krmbali menatap Naruto datar. "Ingat, ikat dia lagi!"

"Aku mengerti," pria pertama yang bernama Kisame itu mengangguk cepat. Mulutnya menyeringai puas. Tanpa perasaan dia menelusuri pipi Naruto menggunakan punggung pisau kecilnya.

"Besok kita bergerak menuju Suna, kita jual dia di pasar gelap Suna." Zetsu kembali bicara setelah terdiam sejenak. Dan ketua perampok itu pun kembali melenggang pergi menuju kelompoknya, menikmati arak, hangatnya api unggun dan binatang buruan yang menjadi santap malam mereka malam ini.

"Berdoa saja agar ada seseorang yang mau membelimu, bocah tengik!" Kisame tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang runcing pada Naruto sambil mengikat kedua pergelangan gadis kecil itu erat sebelum melenggang pergi.

.

.

.

Langit malam ini begitu gelap. Cahaya rembulan tidak mampu menembus barisan awan mendung yang siap memuntahkan isinya. Suara petir saling bersahut, membuat suasana malam ini semakin mencekam.

Seorang gadis berparas cantik namun berpakaian lusuh tersenyum tipis saat suara hujan mendominasi malam. Hujan akan membantunya menghilangkan jejak saat melarikan diri, pikirnya. Tapi hal itu juga akan memperlambat langkahnya. Hutan akan semakin gelap, jalanan pasti sangat licin karena guyuran hujan. Fuu mengambil napas panjang, kesempatan ini tidak akan datang dua kali, pikirnya. Dia harus mengambil kesempatan ini apapun resikonya. Fuu tidak pernah menyangka jika salah satu perampok itu melakukan kesalahan besar hingga lupa mengikatnya kembali setelah memberinya makan tadi. Aku sangat beruntung, batin Fuu senang.

Gadis remaja berusia lima belas tahun itu mengamati sekelilingnya. Tidak jauh dari tempatnya saat ini dia melihat sosok Naruto yang balas menatapnya lurus. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena Naruto memutuskan untuk merebahkan diri dan tidur.

Fuu tidak habis pikir kenapa gadis kecil berambut pirang itu masih bisa bersikap begitu tenang, padahal Fuu yakin jika gadis kecil itu pasti tahu apa yang akan terjadi kepadanya. Anak aneh, pikir Fuu. Dia melirik ke sampingnya dimana beberapa wanita remaja dan anak kecil diikat, mereka berbaring di atas lantai biara yang sudah berlumut, bergelung, saling merapatkan diri untuk berbagi kehangatan.

Terbesit dalam pikiran Fuu untuk melarikan diri seorang diri, namun hati kecilnya berteriak, protes. Bagaimana bisa dia tega meninggalkan mereka disini. Tidak. Dia tidak bisa melakukan hal itu. Keputusan sudah diambil, dia akan melepaskan mereka dari kawanan perampok tak berperasaan itu.

Fuu terus menunggu dengan sabar hingga keadaan aman. Para perampok itu sudah tertidur karena mabuk berat. Bagus! Pikir Fuu. Dia segera bergerak mendekati Naruto yang meringkuk, kedinginan, terpisah dari tawanan yang lain.

Hati Fuu mencelos, iba. Melihat tubuh Naruto yang menggigil hebat membuatnya semakin tidak tega. Dia mendengar dengan jelas jika ketua perampok itu memerintahkan untuk membunuh Naruto jika tidak laku dijual. Dasar perampok keparat! Maki Fuu di dalam hati. Fuu menggoyangkan tubuh Naruto pelan. Berusaha untuk tidak membuat kegaduhan. Terlalu berbahaya, pikirnya.

"Bangun!" bisik Fuu lirih sementara tangannya mulai membuka ikatan tali di pergelangan tangan dan kaki Naruto.

Naruto mengerjapkan mata, berusaha mengingat dimana dia berada saat ini. Dia membelalakkan mata, mengangguk kecil saat Fuu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar Naruto menutup mulut. "Kita harus melarikan diri," kata Fuu lagi masih dengan bisikan pelan namun masih bisa ditangkap baik oleh pendengaran Naruto. "Kau mau ikut denganku?" tanya Fuu lagi. Naruto mengangguk cepat membuat Fuu tersenyum dan mengacak rambut gadis kecil di depannya penuh sayang. Naruto tercekat, hatinya merasa hangat. Dulu Kurama sering mengacak rambutnya seperti ini. Ah, sungguh dia merindukan Kurama.

Fuu kembali bergerak menuju tawanan yang lain. Dengan cekatan dia melepas ikatan tali pada pergelangan tangan dan kaki salah satu tawanan itu. Total tawanan berjumlah sepuluh orang, termasuk dirinya dan Naruto. Fuu hanya berharap jika tawanan yang lain memiliki keinginan yang sama untuk melarikan diri sepertinya.

"Apa yang kau lakukan?" desis seorang tawanan wanita saat Fuu melepas ikatan pada pergelangan tangannya.

"Melarikan diri," jawab Fuu tenang sementara matanya yang tajam terus mengawasi sekeliling, takut jika perampok itu bangun dan memergokinya.

"Jangan libatkan kami!" wanita itu kembali berkata tajam, lirih. "Pergilah sendiri! Kami tidak mau terlibat." Tambahnya dengan mata berkilat. Marah dan takut berbaur menjadi satu. Membayangkannya saja sudah membuat wanita muda itu merinding ketakutan. Tidak, dia tidak mau mati sia-sia. Lebih baik aku dijual dan dijadikan budak daripada mati, pikirnya takut.

"Kita akan dijual dan dijadikan budak." Fuu mendesis, tidak percaya akan apa yang dikatakan wanita di depannya saat ini. Fuu memperhatikan tujuh tawanan lain yang sepertinya sama takutnya dengan wanita yang menolak untuk melarikan diri ini.

"Jangan libatkan kami!" tolak wanita itu lagi untuk yang kedua kalinya. "Pergilah sebelum aku berteriak dan membangunkan para perampok itu!"

Fuu bergerak mundur, menatap horor wanita di depannya. "Kau tidak akan melakukannya," ujarnya pelan.

"Aku akan melakukannya jika itu bisa menyelamatkanku dari hukuman mereka," balas wanita bernama Takuya itu dingin, menantang.

Fuu menggenggam tangan mungil Naruto, tanpa banyak bicara dia menyeret tangan gadis kecil itu untuk melarikan diri. Sedangkan Takuya mulai berteriak histeris, mengatakan jika ada tawanan yang melarikan diri.

Naruto mengeratkan genggaman tangannya pada Fuu. Mereka berlari di tengah guyuran hujan lebat. Keduanya basah kuyup, kedinginan, namun hal itu tidak menyurutkan niat keduanya untuk melarikan diri.

Di belakang mereka beberapa perampok itu mulai mengejar dalam keadaan mabuk. Umpatan-umpatan kasar para perampok itu terdengar samar di telinga keduanya. Fuu dan Naruto mulai panik. Suasana gelap, jalanan licin serta suara petir yang menggelegar membuat keduanya semakin takut.

Apa kami akan mati disini? Batin Naruto pasrah. Sesekali kakinya tergelincir, membuatnya terjatuh, terjerembab ke dalam genangan lumpur. Namun Fuu segera menggendong gadis kecil itu di atas punggungnya.

"Kita tidak akan mati!" teriak Fuu mencoba menandingi suara hujan yang semakin deras. Fuu menoleh lewat bahunya. "Kita tidak akan mati! Kita harus hidup! Harus!" ujarnya penuh keyakinan.

Kepayahan, Fuu terus berlari menembus gelapnya hutan. Suara umpatan kasar perampok yang semakin terdengar jelas membuatnya berlari semakin cepat. Sesekali Fuu membetulkan posisi Naruto di punggungnya.

"Itu mereka!" salah satu perampok yang membawa obor di tangannya berteriak keras memberitahu posisi Fuu dan Naruto pada rekannya yang lain.

Brengsek! Maki Fuu dalam hati. Kenapa obor di tangan perampok itu tidak mati terkena air hujan? Jantung Fuu dan Naruto berdegup semakin cepat. Ditulikannya teriakan-teriakan perampok yang mengejar keduanya. Fuu berlari sekuat tenaga.

"Argh...!" Fuu berteriak keras saat kakinya terpeleset. Tubuhnya berguling cepat menuruni lereng terjal yang cukup dalam. Fuu melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. "Gadis kecil?!" Fuu berusaha untuk bangun, menyempitkan mata untuk mencari keberadaan Naruto yang terpental dari atas punggungnya.

"Mereka terjatuh ke lereng!" teriak salah satu perampok yang mengejarnya.

"Turun! Kita harus mencari mereka!" sahut yang lain.

"Kau gila!" raung perampok pertama. "Salah langkah, kita bisa mati!"

"Ketua akan membunuh kita juga jika kita tidak membawa pulang kedua anak sialan itu!"

Teriakan-teriakan itu masih bisa di dengar oleh Fuu dan Naruto. Napas Fuu tersengal, dengan cepat dia menyeka air hujan yang membasahi wajahnya. "Gadis kecil?!" Fuu melempar tatapannya ke sekeliling. "Genggam tanganku!" ujar Fuu. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas tanah, tangannya terulur berusaha untuk menarik tubuh Naruto dari pinggir jurang. "Ulurkan tanganmu!" ujar Fuu lagi. Napas keduanya semakin memburu.

Naruto sangat terharu. Dia sama sekali tidak menyangka jika wanita muda ini bersedia menolongnya. Ternyata di dunia ini masih ada orang baik, pikir Naruto. Gadis kecil itu tersenyum untuk terakhir kali sebelum melepaskan genggaman tangan Fuu dan jatuh berguling ke dasar jurang yang cukup dalam. Naruto tidak mau membebani Fuu lebih jauh lagi.

"Oh, Tuhan!" teriak Fuu tidak percaya. Kedua matanya membulat sempurna, tangannya menggapai-gapai, berusaha meraih tubuh Naruto yang berguling jatuh, walau dia tahu hal itu percuma namun Fuu terus melakukannya. Fuu memukul keras tanah basah di bawahnya. Marah, kesal, sedih dan rasa bersalah itu bercampur aduk di dalam hatinya. Fuu ketakutan, menoleh lewat bahunya saat teriakan-teriakan perampok itu terdengar semakin jelas di telinganya. "Maafkan aku!" Fuu menunduk dalam, air matanya jatuh bercampur dengan air hujan. "Maafkan aku!" rintihnya lagi sebelum beranjak pergi untuk melarikan diri.

.

.

.

"Mana kedua gadis sialan itu?" teriak Kisame marah saat anak buahnya kembali dengan tangan kosong.

Lima orang anak buahnya hanya bisa menunduk dalam, terlalu takut untuk menatap wajah Kisame. "Mana mereka?" teriak Kisame lagi membuat kelima pria berbadan besar itu tersentak takut.

"Keduanya masuk ke dalam jurang," lapor salah satu anak buahnya, berbohong. Kelima pria itu memang sudah merencanakan laporan yang akan diberikan pada Kisame. Kisame bisa memukul mereka tanpa ampun jika tahu salah satu tawanan itu berhasil melarikan diri. Dan Zetsu bisa membunuh mereka tanpa beban.

Kisama memukul keras wajah pelapor itu hingga jatuh tersungkur. "Kalian yakin mereka berdua jatuh ke dalam jurang?" teriaknya marah. "Jangan berbohong kepadaku!" Kisame mendesis, tangannya mencengkram kasar pakaian yang dikenakan anak buahnya yang kedua.

Pria pertama yang tersungkur itu kembali bangkit dan menundukkan kepala semakin dalam. "Kami tidak berhasil meraih tubuh keduanya. Mereka terpeleset dan masuk ke dalam jurang yang cukup dalam."

Kisame melepaskan cengkramannya dan kembali menatap anak buah pertamanya. "Dan kalian tidak memastikan kematian keduanya?" Kisame melotot, meraung marah.

"Jurang itu cukup dalam dan terjal, kami yakin keduanya akan sulit bertahan hidup." Kata seorang perampok itu lagi, bergetar takut.

Kisame mengangkat tangan kanannya ke udara, kembali melayangkan sebuah tinju keras. "Bukan berarti keduanya mati-"

"Sudahlah, Kisame!" potong Zetsu dengan suara berat.

"Tapi, Ketua. Mereka benar-benar bodoh!" Kisame meludahi wajah anak buahnya itu. "Mereka bahkan tidak mampu membawa dua bocah ingusan!" tambahnya dengan suara bergetar karena marah.

Zetsu menepuk bahu tangan kanannya itu. "Aku yakin keduanya tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan kelaparan dan mendapat luka serius jika terjatuh ke dalam jurang. Ditambah lagi hujan deras seperti ini akan membuat mereka kedinginan. Bukankah itu terdengar bagus? Kematian mereka akan lebih menyakitkan." Zetsu tertawa keras, melengking menyaingi suara hujan yang semakin deras.

Kisame menyeringai puas. Membayangkan Fuu dan Naruto mati perlahan membuatnya senang. Siapa suruh mereka melarikan diri, pikirnya jahat. Kisame hanya berharap jika tubuh kedua bocah itu dicabik-cabik dan dimakan hewan buas. Ah, membayangkannya saja sudah membuat pria itu tertawa puas dan melupakan amarahnya. "Kembali ke pos kalian dan awasi tawanan! Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi!" seru Kisame dengan sorot mata mengancam. "Aku tidak akan segan-segan membunuh kalian jika ada tawanan yang kabur lagi. Mengerti?"

"Kami mengerti!" jawab kelimanya kompak.

.

.

.

"Istriku! Istriku!" seorang pria setengah baya berteriak keras di depan pintu gerbang rumahnya yang kumuh.

Seorang wanita setengah baya setengah berlari segera keluar dari rumah tua mereka untuk menyambut kedatangan suaminya. "Kau sudah pulang!" wanita itu berseru senang. Suaminya sudah pulang, itu berarti dapur di rumah mereka akan kembali mengepul. Ketiga anak mereka tidak perlu menangis karena lapar di malam hari. Senyuman wanita itu langsung hilang saat melihat suaminya kepayahan menyeret sebuah tandu dengan seorang anak wanita di atasnya. "Anak siapa itu?" tanya wanita itu sambil berkacak pinggang. "Anak selingkuhanmu?" tanyanya tajam dengan mata menyipit tidak suka.

Pria yang bernama Teuchi itu menggeleng cepat. Dengan sekuat tenaga dia menyeret tandu yang dibuatnya sederhana masuk ke dalam rumahnya yang hampir roboh.

"Kau belum menjawab pertanyaanku!" desak sang istri lagi tanpa menyembunyikan amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun. Wanita itu terus mengekori suaminya hingga masuk ke dalam rumah.

"Pergi ke dapur dan masak obat ini!" Teuchi mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari balik pakaiannya, memerintah tanpa menjawab pertanyaan sang istri. Sang istri tetap bergeming. Teuchi menghela napas panjang dan akhirnya menjawab dengan tenang. "Gadis kecil ini aku temukan di mulut lembah saat aku mencari bahan obat-obatan. Dia terluka parah dan aku memutuskan untuk membawanya ke rumah kita." Jelasnya panjang lebar.

"Kau membawanya ke rumah reyot ini, padahal kau tahu jika di dalam rumah ini ada lima perut yang saling berebut jatah makanan? Apa kau sudah gila?!" teriak istri Teuchi marah.

Teuchi membaringkan tubuh Naruto di atas tempat tidurnya yang sederhana. Pria tua itu melipat tangan pakaiannya dan bergerak menuju dapur untuk mengambil air dingin serta memasak ramuan obat untuk Naruto.

"Suamiku apa kau tidak sadar jika keluarga kita sudah sangat sulit mendapat makanan untuk mengisi perut?" sang istri terisak kecil. Suaranya semakin merendah, dia hanya mencemaskan keadaan keluarganya setelah kedatangan gadis kecil itu.

"Rezeki sudah diatur oleh para dewa, apa yang harus kita keluhkan?" Teuchi mengipasi kompor tanah liat di depanya pelan, membuat arang di dalamnya kembali membara.

"Kau bisa bicara seperti itu, tapi pada kenyataannya anak-anak kita hampir tiap malam menangis karena lapar."

Teuchi memejamkan mata, melirik ke arah istrinya dengan sorot teduh. "Dia hanya gadis kecil, dia tidak akan makan banyak." Ujarnya tenang. "Aku membawa sedikit beras dari hasil penjualan tanaman obat di kota, ambillah dan masak."

"Tanpa lauk?" sang Nyonya Teuchi menghela napas kecewa.

Teuchi menggeleng pelan dan memeluk tubuh kurus istrinya. "Lain kali aku akan membawa sekarung beras dan banyak lauk untukmu dan anak-anak kita."

"Kau selalu berkata seperti itu setiap pulang," keluh sang istri.

"Lain kali aku tidak akan berbohong," sahut Teuchi dengan senyum lebar. "Dimana anak-anak kita?"

Sang istri menyeka air matanya dan menjawab ketus. "Main."

Teuchi kembali tersenyum. "Sekarang tolong bantu aku untuk merawat anak itu."

"Baiklah," jawab sang istri pasrah. "Tapi dia harus keluar setelah sembuh!"

Teuchi kembali menghela napas panjang, melirik ke arah istrinya tanpa mengatakan apapun.

.

.

.

Bunyi langkah kuda berderap memasuki gerbang kota Konoha. Sebaris pasukan berkuda berbaris rapih membawa panji-panji Kerajaan Ame.

Danzo berdiri di depan gerbang masuk kerajaan untuk menyambut kedatangan Putra Mahkota Kerajaan Ame. Kenapa mereka datang disaat tidak tepat seperti ini? Apa mereka mengetahui sesuatu tentang apa yang terjadi di kerajaan ini? Danzo mulai berspekulasi.

Pasukan berkuda Kerajaan Ame itu serta-merta berhenti begitu pun dengan kereta kuda mewah yang membawa Itachi dan Sasuke di dalamnya.

"Selamat datang!" Danzo membungkuk memberi hormat pada Itachi dan Sasuke yang kini berdiri tepat di hadapannya.

"Terima kasih untuk sambutannya, Perdana Menteri." Itachi tersenyum kecil dan pai-pai. Pemuda itu mengedarkan pandangannya, mencari sosok Kurama.

"Saya akan membawa anda berdua kepada Putra Mahkota," Danzo menunjukkan jalan kepada keduanya. "Maaf karena kami menyambut kedatangan anda dengan sederhana."

"Tidak masalah," sahut Itachi ramah. "Lagipula aku tidak memberitahukan perihal kedatanganku terlebih dahulu. Awalnya aku ingin mengejutkan Kurama dengan kedatanganku." Jelas Itachi panjang lebar. "Aku hanya tidak menyangka jika Kurama tidak menyambut kedatangan kami." Itachi pura-pura mengeluh, menyembunyikan jika dia sudah mengetahui semua yang terjadi di kerajaan ini.

"Putra Mahkota sangat sibuk, hingga beliau mengutus saya untuk menyambut." Jelas Danzo dengan nada meminta maaf. "Silahkan lewat sini!" kata Danzo lagi menunjuk jalan.

"Ngomong-ngomong, Perdana Menteri. Apa kerajaan ini sedang berduka?" pancing Itachi dengan nada suara tenang. Pria muda itu memasang pose berpikir saat Danzo berbalik dan menatapnya lurus.

Keren, puji Sasuke di dalam hati. Harus dia akui jika Itachi memang sangat pandai berpura-pura lugu.

Danzo terdiam sejenak, menimang-nimang apa dia perlu mengatakan keadaan yang sebenarnya pada kedua tamu kerajaan ini. "Sebenarnya kami memang sedang berduka."

"Siapa yang meninggal?" tanya Itachi lagi dengan wajah terkejut. "Jika melihat bendera putih di depan gerbang istana, serta pakaian berkabung yang digunakan anda serta kasim dan dayang, sepertinya yang meninggal merupakan keluarga penting kerajaan."

"Yang meninggal memang keluarga kerajaan," jawab Danzo dengan nada suara berat. Pria tua itu menerawang jauh, berdeham kecil sebelum menjawab. "Selir Kushina dan Putri Naruto meninggal beberapa hari yang lalu."

Itachi tertawa kecil, menyempitkan mata dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Jangan bercanda!" ujarnya dengan nada geli yang terdengar jelas. Maafkan aku, Ku. Itachi bergumam di dalam hati. Merasa bersalah karena harus berakting seperti saat ini. "Bukankah Putri Naruto baru saja merayakan pesta ulang tahun beberapa hari yang lalu?"

"Itu memang benar," Danzo menjawab lirih. "Semuanya sudah dituliskan. Kita hanya manusia biasa. Kita tidak bisa melawan kehendak dewa." Danzo menggelengkan kepala lemah, raut wajahnya berubah sendu, sedih. "Maaf, saya tidak bisa membahas hal ini lagi." Pria tua itu membungkuk kecil, meminta maaf.

Itachi mengibaskan kedua tangannya di udara. "Aku yang harusnya meminta maaf karena sudah lancang menanyakan hal ini pada anda."

"Saya hanya masih terbawa suasana," sahut Danzo tenang. "Mari kita lanjutkan perjalanan!"

Ketiganya pun kembali berjalan menuju paviliun milik Kurama, diekori oleh barisan kasim dan dayang di belakangnya.

Dua orang kasim penjaga paviliun barat berteriak keras, memberitahukan kedatangan ketiganya. Kasim itu membungkuk dalam, memberi hormat sebelum membuka pintu ganda dengan ukiran singa pada bagian depannya.

"Silahkan masuk!" Danzo mempersilahkan keduanya untuk masuk.

Di dalam kedatangan ketiganya disambut oleh deretan dayang istana yang cantik. Pantas Kurama betah tinggal di istana, gerutu Itachi. Dengan sikap anggun kedua putra Fugaku itu duduk di atas kursi tamu. Para dayang menuangkan arak berkualitas untuk kedua tamu.

"Tolong tuangkan teh untuk adikku," pinta Itachi dengan senyum menawannya membuat dayang-dayang itu sedikit tersipu, salah tingkah.

Danzo berdeham keras, mengingatkan posisi dayang. Dayang itu langsung membungkuk dalam, meminta maaf dan segera membawa pesanan Itachi dan menyuguhkannya pada Sasuke.

"Sebentar lagi waktu makan malam, Putra Mahkota akan menjamu anda berdua disini." Kata Danzo setelah semua dayang keluar ruangan luas dengan plafond tinggi dan terkesan sangat mewah. "Beliau akan segera tiba, saya mohon diri."

Itachi segera berdiri, pai-pai sebagai tanda terima kasih dan Danzo pun berlalu pergi.

"Bisakah kau berhenti mondar-mandir di hadapanku?" tanya Sasuke sambil menyeruput teh teratainya dengan nikmat. Itachi memang terus berjalan mondar-mandir setelah Danzo pergi dan hal itu membuat Sasuke sakit kepala.

"Apa yang harus aku katakan pada Kurama?" tanya Itachi gusar. "Aku harus bersikap bagaimana?" tanyanya lagi.

"Bersikaplah seperti biasa," jawab Sasuke datar. "Kau pasti akan tahu jika sudah bertemu dengannya."

"Kau-" Itachi menghentikan ucapannya yang sudah di ujung lidah saat teriakan keras seorang kasim memberitahu penghuni paviliun mengenai kedatangan Kurama. "Dia datang! Dia datang!" seru Itachi panik.

"Duduklah!" tukas Sasuke tenang. Pemuda berusia dua belas tahun itu menggelengkan kepala pelan, takjub akan sikap Itachi yang keluar dari sifatnya jika hal itu bersangkutan dengan Kurama.

Itachi berjalan cepat menuju kursinya, berpura-pura menikmati arak mahal yang tadi disuguhkan oleh dayang.

"Kenapa kalian tidak memberitahu jika akan datang?" Kurama memasuki ruangan dengan wajah ditekuk, masam. Dia menatap tajam ke arah Itachi yang terbatuk hebat. Terlalu kaget karena Kurama bersikap biasa, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali pakaian berkabung yang masih dikenakannya saat ini.

"Ada apa denganmu?" Kurama bergerak cepat, menuangkan teh ke dalam cawan dan menyodorkannya pada Itachi.

Itachi menatap wajah sahabatnya itu tanpa berkedip. Dalam gerakan cepat dia meneguk habis teh di dalam cawan, sementara Sasuke mengamati interaksi keduanya dalam diam.

"Dan kenapa kau membawa bocah menyebalkan ini juga?" Kurama membalikkan badan, menatap sinis Sasuke yang menanggapinya cuek.

Itachi menepuk bahu Kurama dan menjawab riang. "Aku memenuhi undanganmu. Dan Tou-sama memerintahkan agar Sasuke menemaniku."

"Tanpa memberitahuku terlebih dahulu?" tanya Kurama dengan sebelah alis terangkat.

Itachi mengangkat bahunya cuek, dan menjawab ringan. "Kejutan?"

Kurama menghela napas panjang dan duduk di kursi kosong di depan Itachi. "Aku hampir kena serangan jantung saat prajurit perbatasan melaporkan kedatanganmu. Kukira dia bercanda," ujarnya tenang. "Jika aku tahu kalian akan datang, aku pasti menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk menyambut kalian."

"Maaf jika kami mengejutkanmu," Itachi tersenyum canggung.

Pembicaraan mereka sejenak terhenti saat dayang-dayang kembali masuk membawa berpoci-poci arak mahal ke dalam ruangan itu. Makanan lezat pun ikut dihidangkan di atas meja. Sasuke yang memang sudah sangat lapar hampir saja meneteskan air liurnya menatap hidangan-hidangan lezat itu.

"Kenapa hanya menatapnya?" sindir Kurama tajam. "Cepat makan!" perintahnya pada Sasuke. Dan tanpa banyak bicara, Sasuke mengangkat sumpitnya dan menyantap hidangan yang tersaji.

Kurama menuangkan arak ke dalam cawan porselennya. Dia menutup erat mata dan membawa cawan berisi arak itu ke mulutnya. Cairan itu diteguknya sekaligus, dan dengan cepat dia kembali mengisi cawan kosongnya.

Itachi dan Sasuke terdiam, mengerti betul akan sikap Kurama saat ini. Putra Mahkota Kerajaan Konoha itu sedang terpuruk. "Kalian sudah tahu apa yang terjadi disini, kan?" Kurama kembali bicara setelah meneguk isi dari cawan keduanya. Itachi mengangguk kecil. "Hah, sudah kuduga." Ujar Kurama tenang, ia menekuk bibirnya ke atas, tipis. "Bagaimana kalian bisa tahu?"

Itachi dan Sasuke diam, tidak mampu menjawab pertanyaan Kurama. Lagipula keduanya yakin jika sebenarnya Kurama sudah tahu akan jawaban dari pertanyaannya.

Kurama menghela napas dan menatap tajam ke arah Sasuke. "Aku belum sempat mengenalkannya padamu!" kata Kurama keluar dari topik pembicaraan.

Sasuke terdiam, mencoba menjadi pendengar yang baik.

Kurama terkekeh, bertopang dagu. "Sifatnya yang ceria akan sangat cocok denganmu yang sangat menyebalkan." Pemuda itu terdiam cukup lama, mendongakkan kepala menatap langit-langit ruangan yang tinggi dan berukir rumit. "Sayangnya aku terlambat satu langkah, adikku pergi dengan cara mengenaskan, Sasuke." Jelasnya lirih. "Aku hanya memiliki waktu satu hari untuk menangisi kematian mereka. Aku sangat menyedihkan!" Kurama mengisi cawannya dan kembali meneguk isinya cepat. "Kami akan menguburkan dua buah peti kosong. Hingga saat ini jenazah keduanya belum ditemukan. Bolehkah aku berharap jika keduanya masih hidup?" tanya Kurama pilu.

"Ku?" panggil Itachi lemah.

"Apa kalian tahu jika keluarga besar ibu angkatku melakukan harakiri? Dari surat wasiat yang ditinggalkan, mereka merasa malu akan apa yang dilakukan oleh putri mereka. Ini konspirasi, mereka semua dibunuh oleh fitnah kejam, Tachi."

Sasuke bergerak cepat dan menutup pintu ruangan itu rapat. Di istana tembok pun memiliki telinga. Sasuke tahu benar hal itu. "Kecilkan suaramu, Rubah jelek!" seru Sasuke tanpa sungkan.

Kurama tertawa keras mendengarnya, sementara Itachi menepuk dahinya keras. Sepertinya dia sangat menyesal telah membawa Sasuke serta. "Selain Naruto, hanya kau yang berani mengataiku dengan kurang ajar." Katanya terdengar senang, sama sekali tidak merasa tersinggung.

"Kurama, Sasuke benar. Kau harus menjaga ucapanmu." Tegur Itachi serius.

"Apa yang kukatakan ini bukan omong kosong!" Kurama berteriak, kesal. "Mereka membunuh ibu angkat dan adikku. Menyingkirkan panglima terbaik dan menyingkirkan keluarga jendral yang paling berpengaruh. Ini konspirasi jahat." Kurama menundukkan kepalanya dalam. Sedikit lega karena pada akhirnya dia bisa mengeluarkan isi hatinya dengan bebas. "Sekarang Tou-sama sakit, dan aku tidak tahu siapa yang kalian jadikan mata-mata untuk mengorek informasi di kerajaanku." Kurama melipat kedua tangannya di depan dada, matanya menatap dingin kedua tamunya.

Itachi tersenyum kering, tidak tahu alasan apa yang bisa dipakainya untuk menjelaskan mengenai mata-mata itu. Dengan gugup dia meneguk araknya, membuat Kurama semakin menyipitkan mata, curiga.

"Musuhmu akan semakin waspada jika tahu kau sudah mengendus pekerjaan kotor mereka," Sasuke menyahut setelah ketiganya terdiam cukup lama. Canggung karena mata-mata yang diungkapkan oleh Kurama. Sasuke terdengar begitu dewasa dalam usianya yang masih belia. "Kau harus bersikap tenang, dan diam-diam mencari tahu siapa dalang dibalik konspirasi ini."

"Bagaimana jika apa yang dituduhkan Kurama itu tidak benar?" Itachi memasang pose berpikir.

Kurama menggebrak meja, membuat arak di dalam cawannya tumpah ke atas meja. "Selir kedua tidak mungkin berselingkuh apalagi dengan panglima kepercayaan Tou-sama. Dan kenapa Naruto ikut diusir dari kerajaan? Hal ini tidak mungkin kebetulan. Ketiganya merupakan orang-orang paling dekat dengan Kaisar. Pasti ada seseorang yang menginginkan kematian ketiganya. Bagaimana jika orang yang membunuh ibu dan adikku bersekongkol dengan orang luar? Ame misalnya?"

Lagi-lagi Itachi tersedak. Sasuke melotot, tersinggung karena Kurama mencurigai orang Kerajaan Ame. "Kami memang memiliki mata-mata disini. Dan kurasa itu wajar, karena kita bukan kerajaan dengan hubungan baik."

"Tadinya Naruto akan dinikahkan dengan salah satu dari Pangeran Ame. Sayangnya hal itu tinggal rencana." Kurama tersenyum miris.

"Bisakah kita tidak membicarakan pernikahan?" pinta Sasuke dingin. Kurama hanya mengangkat bahu ringan menjawabnya. "Apa ibumu memiliki masalah di dalam istana?"

Kurama mengangkat bahunya lagi. "Aku tidak tahu. Ibu angkatku terlalu baik hati untuk memiliki musuh."

"Cinta yang diterima berlimpah bisa menimbulkan rasa cemburu dari pihak lain," Sasuke kembali angkat bicara. Baik Kurama dan Itachi hanya bisa menatapnya tak percaya. Sasuke terlalu bijak untuk anak berusia dua belas tahun. "Apa?" tanya Sasuke, mulai risih.

"Apa kau benar berusia dua belas tahun?" tanya Kurama takjub. "Kau bahkan lebih bijak dari Itachi."

"Itu bukan pujian!" sela Itachi cepat. "Kurama pasti memiliki maksud tersembunyi dari ucapannya itu. Percayalah!"

"Aku serius memuji adikmu!" bantah Kurama tajam.

"Kau tidak pernah memujiku," protes Itachi tidak terima.

"Apa yang harus aku puji darimu, Keriput?" tantang Kurama lagi, galak.

Sasuke menghela napas panjang, mulutnya kembali menguyah pelan. Mungkin memang ada baiknya Itachi datang. Kakaknya itu walau sebentar namun mampu mengusir kesedihan di dalam hati Kurama.

.

.

.

"Bagaimana? Apa yang mereka bicarakan di paviliun Putra Mahkota?" tanya Sara dengan ekspresi tegang. Tangannya berkeringat dingin, begitu takut jika Kurama mengetahui rencana busuknya dan meminta bantuan Putra Mahkota Kerajaan Ame untuk membalas dendam.

Dayang tua yang merupakan tangan kanan kepercayaannya itu membungkuk, memberi hormat. "Lapor permaisuri. Menurut mata-mata, ketiganya tengah menikmati makan malam dan bercanda satu sama lain."

"Bercanda?" Sara menaikkan sebelah alisnya, terlihat senang. "Kurama masih bisa bercanda di masa berkabung ibu angkat dan adiknya?"

"Begitulah, Yang Mulia." Dayang tua itu ikut tersenyum penuh kemenangan.

"Bagus," ujar Sara terlihat lebih santai. "Lebih baik jika Kurama bisa melupakan kedua orang brengsek itu, dan aku bisa menjadikannya sebagai bonekaku."

.

.

.

"Jadi kapan anak bisu itu pergi?"

Teuchi menggelengkan kepala, sementara tangannya sibuk mengemasi barang-barang bawaannya untuk mencari tanaman obat jauh ke dalam hutan. "Dia masih belum sembuh benar," sahut Teuchi.

Namun sepertinya istri dari Teuchi sudah kehilangan kesabaran dan merasa sangat terganggu akan kehadiran Naruto. "Sudah tiga hari dia disini. Luka-lukanya hampir mengering."

"Tapi belum sembuh total," sahut Teuchi mengingatkan.

"Persediaan beras kita semakin menipis karena keberadaannya. Lagipula dia bisu, bagaimana jika dia membawa sial untuk keluarga kita?"

"Jangan bercanda!" bentak Teuchi kesal. "Bagaimana bisa seorang anak tidak berdosa membawa sial? Coba jelaskan padaku!"

"Bisa saja keluarganya sengaja membuangnya." Wanita paruh baya itu membela diri. Matanya berkilat, menantang. Dia harus memikirkan perut anak-anaknya bukan?

Teuchi menyampirkan keranjang rotan di bahunya. "Jaga dia hingga aku kembali. Aku pasti membawa banyak makanan untuk kita semua."

Wanita paruh baya itu mendengus geli. Suaminya terus bicara seperti itu tanpa bukti. Apa yang harus kulakukan? Pikirnya setelah suaminya pergi untuk beberapa hari ke depan. Dia memerlukan bahan makanan untuk anak-anaknya selama suaminya pergi. Wanita itu membuka gentong penyimpanan beras dan menghela napas saat melihat isinya. Beras yang dimilikinya hanya cukup hingga besok pagi.

Aku harus mencari uang, tapi kemana? Batinnya lagi. Dan sebersit pikiran jahat itu pun muncul. Aku akan menjual anak bisu itu ke kota dan mendapatkan uang untuk membeli bahan makanan. Ya, aku akan ke kota untuk menjualnya besok.

Wanita tua itu tersenyum senang, dan Naruto akan kembali menghadapi masa-masa yang tidak kalah berat di beberapa tahun yang akan datang.

.

.

.

TBC

Holla, saya datang lagi dengan chapter baru. Terima kasih untuk semua review yang masuk. Maaf tidak saya balas satu per satu. Semoga chap ini tidak mengecewakan.

Well, masih ada reader yang minta untuk update cepat dan menanyakan jadwal update fic saya. Maaf, saya tidak bisa menjanjikan untuk update cepat. Saya juga tidak bisa menentukan bulan ini fic mana saja yang akan diupdate. Semuanya tergantung pada mood, ilham cerita mana yang mampir dan terutama pada waktu senggang yang saya miliki. Karena itulah saya tidak memiliki jadwal update yang pasti.

Seperti yang saya jelaskan dichap sebelumnya, fic ini berlatar kerajaan China, karena saya lebih tertarik akan sejarah kerajaan China daripada Jepang ataupun Korea. Maaf kalau latar kerajaannya kurang terasa, akan terus saya perbaiki. Begitulah, semoga pembaca semua maklum. ^^

Ok, sampai jumpa dichap selanjutnya!

#WeDoCareAboutSFN