Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Genre : Romance, fluff
Selamat membaca!
Love Me One More Time
Chapter 4 : I Want To Hate You
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto sulit tidur malam ini. Dia berguling kesana-kemari, gelisah dan terbangun tiap beberapa jam hingga akhirnya ia terlelap tepat pukul dua dini hari. Banyak hal yang membuatnya gelisah malam ini. Orangtuanya yang menetap di Birmingham hanya memperbolehkannya tinggal di Tokyo selama satu bulan, padahal dia memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan buku terbarunya yang berlatar belakang Kota Tokyo. Belum lagi, editornya- Mrs. Smith, wanita berusia empat puluh tahun dengan rambut coklat sebahu, wajah datar serta sorot mata tajam yang menjadi ciri khas, cerewet dan perfectionist, dengan gigih terus mengingatkannya hampir setiap waktu jika ia hanya memiliki waktu tiga bulan untuk menyelesaikan buku barunya.
Oh, tolong jangan lupakan Sasuke, yang sepertinya tidak memiliki pekerjaan lain selain meneleponnya, malam ini. Hal itu memaksa Naruto menyetel telepon genggamnya dalam mode tanpa suara. Ngomong-ngomong, darimana pria itu tahu nomor telepon genggamnya? Naruto bersumpah akan memberi pelajaran pada siapa pun yang sudah dengan lancang memberikan nomor telepon pribadinya pada pria itu.
Wanita itu tersentak bangun dari tidurnya. Ia kemudian meraih telepon genggamnya yang diletakkan di atas meja di samping tempat tidurnya- pukul 5.50 pagi. Ada dua puluh lima panggilan tidak terjawab di layar teleponnya dari nomor yang sama. Nomor milik Sasuke. Kurang kerjaan, pikirnya. Ia mengembalikan setelan telepon genggamnya ke mode suara, sebelum ia kembali melempar telepon genggamnya itu ke samping tempat tidur, kemudian mengerang.
Dia menghela napas berat saat ingat apa yang diimpikannya sebelum terbangun tiba-tiba. Naruto berada di sebuah panggung pertunjukkan, menyanyikan sebuah lagu cinta dengan penuh perasaan untuk Sasuke. Naruto menekan rasa malunya saat beberapa siswi mulai meneriakinya, mencemoohnya, memintanya untuk turun panggung. Semuanya persis seperti apa yang dialaminya, bedanya, di dunia mimpi, Sasuke menerima pernyataan cintanya dan memberinya ciuman manis.
Naruto kembali mengerang, lalu menundukkan kepala dalam. Kenapa kali ini mimpi yang dialaminya berakhir berbeda? Karena apa yang telah terjadi, sama sekali tidak terasa manis.
Mimpi buruknya saat remaja berawal ketika dia bernyanyi di atas panggung, saat festival musim panas di SMA Konoha, tahun 2002. Sasuke menolaknya dengan kasar di hadapan para siswa dan siswi yang memenuhi area depan panggung pertunjukkan.
Sebenarnya, bukan penolakan Sasuke yang membuatnya sakit hati. Naruto cukup tahu diri, siswi tidak populer sepertinya hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan siswa populer seperti Sasuke. Namun dia menegaskan di dalam hati, jika dia tidak menyatakan perasaannya, dia akan menyesalinya. Bukankah masa remaja tidak datang dua kali?
Yang membuatnya sakit hati dan depresi adalah perlakuan buruk beberapa murid setelah kejadian itu. Memang, banyak murid yang kagum akan keberaniannya, tapi tidak sedikit juga yang mengolok-oloknya dengan kasar.
Karena terlalu sering mendapatkan hinaan dan cacian, sedikit demi sedikit dia mulai mempercayai apa yang dikatakan para pembencinya itu. Saat itu dia percaya jika dia tidak cukup cantik untuk memiliki kekasih. Dia tidak cukup baik untuk disukai orang lain, dan bahkan dia percaya jika dia tidak seharusnya berada di satu tempat yang sama dengan Sasuke.
Perlu waktu yang cukup lama hingga akhirnya kepercayaan dirinya pulih dan dia terlahir kembali menjadi Naruto yang baru. Orang-orang terdekatnya terus memberinya dorongan kuat, memberinya semangat untuk melangkah, menatap masa depan. Naruto terus belajar untuk menulikan telinganya dari ucapan-ucapan kasar para pembencinya, dan menganggap semua itu sebagai ungkapan cinta yang terlampau besar untuk dirinya. Dan sekarang, saat dunianya tertata rapi, kenapa Sasuke harus kembali ke dalam kehidupannya dengan niat yang tidak disukai oleh Naruto.
Walau enggan, Naruto harus mengakui jika ketertarikan terhadap Sasuke itu masih ada. Namun masalah yang terjadi di masa lalu membuatnya memasang tembok, menjaga jarak agar tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ah, mungkin akan jauh lebih baik jika dia memiliki teman kencan saat ini. Statusnya yang masih bebas membuat Sasuke lebih leluasa untuk mendekatinya. Tapi, mengenal sifat pria itu, Sasuke jelas tidak akan mundur begitu saja walau status Naruto saat ini sedang terikat dengan pria lain. Salahkan saja sifat brengsek dan arogan yang sepertinya sudah mendarah daging di dalam jiwa pria itu.
"Lupakan dia!" tegasnya pada dirinya sendiri. "Romansa bukan tujuanmu datang kesini!" tambahnya penuh penekanan. "Sasuke sama dengan masalah, dan kau harus menjauhi masalah. Titik!" putusnya, yang kemudian memutuskan untuk bangun.
Dia mandi dengan cepat, lalu kembali dengan rambut setengah kering dan handuk yang masih membungkus tubuhnya yang berbentuk sempurna. Setiap wanita yang melihatnya berjalan pasti merasa iri melihat lekukan-lekukan tubuhnya yang proporsional, sementara para pria pasti meliriknya untuk kedua kali.
Naruto mengangkat gagang telepon di kamarnya, lalu menekan nomor operator hotel, memesan sarapan pagi untuk diantar ke dalam kamarnya. Selesai memesan, Naruto kembali berjalan untuk menyibak tirai yang menutupi jendela kamar hotelnya. Sinar matahari berwarna pucat pun masuk setelah ia menyibak tirai berwarna putih gading itu. Sejenak dia berdiri di tempat itu, menikmati kedamaian yang sangat disukainya.
Pesanannya datang tepat setelah dia selesai berpakaian dan mengeringkan rambut. Naruto menyalakan televisi sembari menuang teh Earl Grey yang dipesannya ke dalam cangkir. Dia menggigit kecil croissant yang dipesannya, lalu mengunyahnya pelan. Hari ini dia berencana untuk menjenguk Ino dan bayinya, lalu mampir ke gedung apartemen yang salah satu kamarnya akan disewa selama beberapa bulan ke depan. Ia ingin tahu berapa lama lagi tempat itu siap untuk dia tempati. Dia benar-benar ingin keluar dari hotel ini secepatnya untuk menghindari Sasuke. Karena alasan pertama itulah, dia berpakaian pantas dan sangat sopan hari ini. Ah, mungkin dia harus membawa kado istimewa sebagai ucapan selamat atas kelahiran putri Ino dan Sai. Naruto tersenyum saat sebuah benda yang dianggapnya cocok untuk dijadikan kado terlintas di pikirannya. Ya. Dia akan memberikan putri Ino sebuah boneka beruang berukuran besar sebagai hadiah. Bayi itu pasti menyukainya, pikirnya terlalu jauh, dan Naruto kembali menikmati sarapan paginya dengan tenang.
Waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi saat telepon genggamnya kembali berdering. Dengan enggan dia beranjak dari sofa nyamannya menuju tempat tidur dimana telepon genggamnya dia letakkan dengan asal. Keningnya ditekuk dalam saat mengenali nomor yang memanggilnya- nomor milik Sasuke. Demi, Tuhan, apa Sasuke tidak memiliki kegiatan lain selain mengganggu kehidupannya sepanjang waktu?
Naruto mengambil napas dalam lalu menyentuh layar datar telepon genggamnya untuk menjawab panggilan itu. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya terdengar kesal. Dia merasa tidak perlu berbasa-basi dengan Sasuke. Kesopanannya menguap jika berhadapan dengan pria yang secara naluriah ingin dihindarinya.
"Apa aku harus menghubungimu sebanyak tiga puluh kali dulu, baru kau menjawab teleponku?" Sasuke balik bertanya dengan nada tenang yang mengagumkan. "Ngomong-ngomong, tolong buka pintu kamarmu," tambah Sasuke dengan suara berat yang terdengar seksi.
Naruto melotot, lalu melirik ke arah pintu kamarnya. Jangan bilang jika Sasuke ada di depan pintu kamarnya saat ini.
"Benar, aku ada di depan pintu kamarmu," kata Sasuke, seolah bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Naruto saat ini. "Cepat buka pintu sebelum aku membuat keributan yang akan membuatmu malu setengah mati," ancamnya serius membuat Naruto menelan ludah dan akhirnya dengan berat hati dia pun membuka pintu kamarnya untuk Sasuke.
Pria itu tersenyum tipis, mengamati penampilan Naruto pagi ini dengan tatapan intens. Dia menyukai gaya pakaian Naruto, dress selutut warna kuning lembut yang dikenakan Naruto terlihat sangat sopan, berbeda dengan pakaian santai yang dikenakan Naruto kemarin. Pakaian yang kemarin dikenakan wanita itu terlalu terbuka, mengekspos bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dilihat oleh pria manapun selain dirinya. "Kau terlihat menawan pagi ini," puji Sasuke yang kemudian mencuri sebuah kecupan singkat dari Naruto.
Sasuke melenggang masuk ke dalam kamar dengan santai, mengabaikan Naruto yang berdiri kaku di tempatnya saat ini. Wanita itu harus mencerna lama apa yang baru saja terjadi, mengerjapkan mata hingga akhirnya dia kembali sadar sepenuhnya. Ia menutup pintu kamarnya keras, lalu berjalan cepat, menyusul Sasuke yang kini sudah duduk santai di atas sofa. "Sarapan?" tawar Sasuke dengan senyum memikat. Dia mengulurkan sebuah croissant ke arah Naruto, sementara tangan kirinya memegang cangkir teh milik Naruto. "Lumayan," ucapnya sembari meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Pria itu mengambil remote, mengganti saluran televisi dan berhenti di saluran yang menyiarkan berita pagi.
Diletakkannya kembali remote itu ke atas meja, tangannya yang bebas kemudian mengangkat cangkir teh ke bibirnya, dia menyesap teh hangat milik Naruto dengan nikmat, sama sekali tidak terpengaruh aura hitam yang keluar dari tubuh Naruto. "Kenapa kau hanya berdiri? Duduk!" ujarnya tanpa menatap Naruto. Sasuke melirik ke arah Naruto saat mendapati wanita itu bergeming di tempatnya berdiri. "Aku sengaja datang kesini agar bisa sarapan berdua denganmu sebelum pergi ke kantor," katanya dengan senyum yang membuat Naruto terpana untuk beberapa detik. "Aku menghubungimu sejak tadi malam, kenapa kau memutuskan teleponku begitu saja?" tanyanya datar. Sasuke duduk bertopang kaki, sementara punggungnya bersandar nyaman pada punggung sofa.
Hanya ada keheningan yang menggantung setelahnya. Naruto terlalu kesal, marah dan dongkol untuk menjawab pertanyaan Sasuke saat ini.
"Tadi malam aku sengaja menghubungimu untuk menanyakan kondisi kakimu," lanjut Sasuke tenang, matanya masih menatap lurus layar televisi yang menayangkan berita pagi saat ini. "Apa kakimu tidak sakit setelah menendang pintu mobilku hingga penyok?"
Suara gemertuk gigi Naruto terdengar keras, ingin sekali dia menyumpal mulut menyebalkan Sasuke dengan bantal, sikat toilet atau benda apapun yang bisa membuat pria itu berhenti bicara dan mengejeknya saat ini. Naruto bahkan menekan keinginannya untuk menjambak rambut Sasuke.
"Bukankah aku sangat perhatian?" kata Sasuke yang kini mendongakkan kepala untuk menatap Naruto. "Aku lebih mengkhawatirkan kondisi kakimu daripada mobil mewahku." Suara pria itu terdengar geli saat mengatakannya, dan hal itu sukses membuat Naruto menerjang ke arahnya untuk memberi pria itu pelajaran.
Sayangnya, dengan gerakan lihai, Sasuke berhasil lolos dari serangan Naruto dan membalikkan keadaan dengan cepat. Pria itu menahan tubuh Naruto di atas sofa, dan mengunci pergerakan tangan Naruto dengan kedua tangannya. Sasuke memiringkan kepalanya ke satu sisi, dan berkata, "aku sama sekali tidak menyangka jika kau bisa bertindak seliar ini, Naruto. Kau hanya perlu meminta dengan suara manis jika menginginkan seks denganku." Ujarnya yang terdengar sebagai ejekan di telinga Naruto. "Kau sudah berpakaian cantik, dan aku sudah mengenakan pakaian untuk ke kantor. Aku bisa terlambat jika harus melayanimu seks sekarang. Apa kau bisa menahannya hingga nanti malam?" tanyanya penuh janji sensual di matanya. "Dengan senang hati aku akan melayanimu hingga kau puas dan tidak bisa berpaling ke pria lain."
"Kau gila. Kau seharusnya menemui psikiater," desis Naruto dengan nada marah yang terselip disetiap kata yang diucapkannya. "Ada sesuatu yang salah di otakmu!" tambahnya dengan mata melotot.
Sasuke tertawa renyah, sama sekali tidak terusik oleh tatapan menusuk yang diberikan Naruto padanya. "Asal kau tahu, Naruto sayang," ujarnya lambat-lambat. "Yang kubutuhkan hanya kau. Kau membuatku nyaris gila tadi malam. Sifat keras kepalamu membuatku hampir lepas kendali untuk datang ke sini dan membawamu pergi, menyekapmu di dalam kamar pribadiku hingga kau mengatakan bersedia untuk menikah denganku."
"Kau gila!" teriak Naruto tepat di depan wajah Sasuke. "Kenapa kau tidak meminta salah satu model, artis dan wanita cantik yang pernah kau kencani itu untuk menikah denganmu?" tambahnya cepat. Sial. Kenapa dia harus mengatakannya sekarang? Naruto menggigit bibir bawahnya saat Sasuke menatapnya geli. Tidak. Dia sama sekali tidak peduli dengan kehidupan pria di atasnya ini. Setelah bertemu kembali dengan Sasuke, Naruto hanya ingin tahu sedikit mengenai kehidupan pria itu, hingga akhirnya dia mulai mencari berita-berita mengenai pria itu di internet, yang sebagian besar menceritakan mengenai kehidupan asmara serta kesuksesan kasus demi kasus besar yang ditanganinya selama ini. Brengsek! Umpat Naruto di dalam hati.
Sasuke menyeringai kecil lalu mengangkat sebelah bahunya dan menjawab cuek, "kau yang menyebabkanku seperti ini, karena itu kau yang harus bertanggungjawab."
Disulut amarah, Naruto kembali meronta dengan hebat, namun gagal. Berat tubuh Sasuke yang menindihnya saat ini membuatnya kesulitan untuk bergerak. Andai saja ada sedikit ruang, dia pasti sudah melayangkan lututnya ke arah alat kelamin Sasuke. Naruto memaki di dalam hati saat merasakan kemaluan pria itu membesar dan mengeras di balik celana katun berwarna hitam yang dikenakannya. Kenapa Sasuke harus terangsang dalam kondisi seperti ini? Maki Naruto di dalam hati.
"Apa yang kau harapkan dari pria dewasa normal dalam kondisi seperti ini?" tanya Sasuke serak, menjawab ekspresi horor Naruto. Matanya berkabut oleh gairah saat menatap ke dalam kedua bola mata Naruto. "Jangan bergerak, Naruto!" desisnya dengan suara yang terdengar semakin aneh. "Kau membuat situasinya semakin berat untukku, Sayang!"
.
.
.
TBC
Hello.. hello...
Untuk yang penasaran kenapa fic ini bisa update kilat, itu karena saya sudah publish fic ini di wattpad sebelumnya. Ke ffn tinggal publish ulang. Yah, walau di wattpad juga baru sampe chap 4 sih. #Nyengir
Untuk yang merasa konflik dific ini kurang berasa... Ehmm... memang iyah. #NyengirSeimutMungkin
Karena genrenya fluff, jadi saya membuat konfliknya seringan mungkin. Maaf kalau jadi terasa tidak nyaman. Nggak tahu juga, fluffnya masih kerasa apa nggak. Maaf yah...
Dan kenapa ada yang tanya: ada lemon atau nggak? Aish... dasar pada mesum! #Jewer
Untuk yang minta Naruto-nya udah punya pacar, maaf sudah saya jelaskan dichap kemaren, disini Naruto jomblo akut, persis kayak sebagian besar yang baca. #Eh...
Untuk pembaca baru, selamat bergabung, Teman2! #KetjupinSatu2
Untuk Na Ta: Hai... Say, kemane aje? Udah lulus SMA belum? Lama nggak bercakap2 sama dirimu. ^^
Dan untuk yang tanya kenapa setiap chap fic ini pendek: memang disengaja. Fic ini setiap chapnya hanya 1,5 - 3K saja.
Untuk Yuki, arti penname saya itu : Cahaya bulan di musim dingin. Ketjeh, kan?! #Maksa #Melotot #AsahGolok
Sedangkan untuk pertanyaan : kenapa saya lebih sering membuat fic dengan chara berusia di atas 28 tahun, karena lebih sreg aja. Titik sebesar kelapa. ^^
Btw, saya mau ngucapin terima kasih sama siapa pun dari kalian yg menominasikan fic saya : Mr. Arrogant, Calendula officinalis dan I'm Sorry I Love You di Ifa 2015. Makasih yah, Teman2. Saya jadi terharu. #Nangis #LapIngus
Ok, deh, sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^
#WeDoCareAboutSFN
