Title : Move On!
Genre : Romance, Hurt, Friendship
Rating : T
Chap : 4 of ?
Cast : All SuJu member – GS for uke – , and OC .
~ Yesung's POV ~
"Eomma , kau yakin ini alamatnya?" gumamku saat membaca pesan dari Eommaku yang masuk ke ponselku . Aku mengerutkan dahiku , sepertinya ini bukan tempatku mengantarnya malam itu . Jadi siapa yang salah? Yang Eomma berikan atau alamat yang waktu itu?
Ya , hari ini aku memutuskan untuk mencari tempat tinggal gadis yang saaaaaangat manis itu , Kim Ryeowook . Mumpung hari ini tak ada pelajaran , jadi aku bolos saja . Aku bertanya pada Eomma tentang tempat tinggal gadis itu , bukankah Eomma teman Eomma Ryeowook? Kkkk~ Kau cerdas Yesungie~
Tanpa banyak berpikir , aku langsung melajukan mobilku menuju alamat dari Eomma tadi . Ya , tak jauh lah dari rumahku ternyata . Bukankah semakin mudah untuk mendekatinya? Kkkkk~~
Cukup 5 menit saja , aku sudah sampai di alamat tujuan . Dan ... Hey , bukankah dia model? Artis kan? Kenapa rumahnya biasa saja? Tak seperti rumahku , berbeda dari bayanganku ... Bukan maksudku untuk sombong atau menghinanya . Hanya saja ... terlihat sederhana .
Aku melepas kacamata hitamku dan turun dari mobilku . Benar , ini bukan alamat ketika aku mengantarnya malam itu . Aku jadi curiga .
Aku melangkahkan kakiku berjalan mengendap – endap memasuki pekarangan rumah yang tak begitu besar seperti rumahku itu . Aku menghampiri jendela kaca yang tertutup , aku ingin tahu bagaimana isi di dalamnya tanpa ada yang tahu keberadaanku .
"Ryeowook-ah! Kau ini merugikan sekali! Jadi ini pendapatanmu semalam! Hanya ini! Dan sekarang kau bilang akan pergi sekolah? Cih . Mimpi saja! Lihat jadwalmu hari ini! Kau harus menemui ! Dia sudah membayarmu dengan harga penuh!" kudengar suara wanita berteriak begitu lantang . Sepertinya ia emosi , dan kenapa juga ia menyebut nama Ryeowook? Hey , ada apa ini sebenarnya?
Tak mau mati penasaran , aku segera mengintip di jendela itu . Untung saja mereka tak tahu .
"Hiks ... Eomma ... Hiks ... Jebal ... Aku tak mau melakukan semua itu ... Cukup kau menjualku pada pemilik agency itu ... Aku tak mau dijual pada siapapun lagi ... Kumohon , aku ingin menjadi Kim Ryeowook yang seperti dulu ... hiks ..."
"MWO! Apa aku tak salah dengar? Jadi Ryeowook yang manis itu di jual Eommanya pada pemilik agencynya? Aishh , manusia macam apa yang tega menjual putrinya sendiri!" gumamku . Jujur , aku sangat electric shock *plak* melihat Ryeowook yang bersimpuh di hadapan Eommanya sembari menangis sesenggukan . Aigoo~~ gadis mungil itu , membuatku ikut sakit merasakannya . Ya Tuhan , dadaku begitu sesak . Aku memegang dadaku yang terasa sakit , tapi telingaku tetap berusaha mencuri dengar keributan di dalam .
"Aku menjualmu pada pemilik agencymu? Bukankah kau sangat menyukai profesimu sebagai model itu? Bukankah itu menyenangkan jika nantinya kau akan memiliki pemilik agency yang kaya raya itu? Hey , lihatlah , kau tak punya kelebihan sama sekali! Seharusnya kau bersyukur karena pemilik agency itu mau menjadikanmu salah satu modelnya! Bahkan membayarmu langsung dengan harga penuh! Baru menjadi cover majalah saja kau sudah ingin berhenti , eoh? Beri Eomma lebih banyak uang lagi!"
Aku mengepal tanganku begitu kuat mendengar ucapan panjang lebar wanita itu . Apa dia benar – benar gila melakukan semua itu pada Ryeowook? Apa benar dia ibu kandung Ryeowook? Apa Eommaku juga tahu masalah ini? Kenapa Eomma juga bisa berteman dengan orang seperti ini? Aishh~~ Aku pusing!
"Eomma ... Aku sangat lelah ... hiks ... menjalani semua ini ... Kumohon Eomma ... Jebal ... hiks ... Aku ingin seperti anak yang lainnya" sekali lagi , kulihat Ryeowook bersimpuh hingga memegang kedua kaki Eommanya memohon agar wanita itu menghentikan semua kegilaan ini . Dan yang kulihat? Eommanya hanya memalingkan mukanya tanpa mengindahkan permohonan gadis mungil itu .
"Pergilah! Bawakan aku uang yang banyak ketika kau pulang nanti . Terserah apa yang akan kau lakukan! Menjual tubuhmu pun aku tak peduli . Pergilah!"
'JDAR!'
Serasa disambar petir aku mendengar ucapan wanita itu . Benar – benar tak bisa dibiarkan , tapi kau bisa apa Yesungie? Tak mungkin kan jika kau tiba – tiba muncul menjadi pahlawan kepagian untuk Ryeowook?
"Eomma ... hiks ..." lagi – lagi Ryeowook menangis . Wanita itu sudah meninggalkan Ryeowook sendiri . Kulihat Ryeowook berdiri dan mengambil barang – barangnya . Apa dia akan keluar rumah hari ini? Aku harus bertemu dengannya .
Aku kembali ke mobilku , aku msuk ke dalam mobil menunggu Ryeowook keluar dari rumah . Dan bingo! Dia sedang menutup pintunya dari luar dan berjalan dengan gontainya menyusuri pekarangan . Dan sekarang ia mulai mendekati mobilku , apa yang harus ku lakukan? Ya Tuhan , aku bingung ...
"Mwo? Hanya lewat?" teriakku kaget . Ternyata gadis itu tak memperhatikan mobilku yang terparkir di depan rumahnya . Ia malah berjalan lurus tanpa memperhatikanku . Apa sebegitu parahnya kah keadaannya hingga ia tak memperhatikan sekelilingnya?
Aku turun dari mobilku dan bersandar di mobilku . "Kim Ryeowook ..." kulihat ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghapadaku . Dan What? Ia tersenyum? Dengan keadaan seperti itu masih bisa menampilkan senyuman terbaiknya? Ya Tuhan ...
"A ... Annyeong Haseyo Yesung-ssi" ia membungkukkan badannya menyapaku . Ia sudah tepat di hadapanku sekarang . Lihatlah! Wajahnya tak segar , matanya sembab . Kulihat ia mengerutkan dahinya , mungkin ia sedang berpikir kenapa aku bisa ada disini dan apa yang kulakukan disini .
"Ryeowook-ah , panggil aku Oppa . Jangan terlalu formal seperti itu"
"Ah ... Ne , Oppa" ia tersenyum lagi . Ya Tuhan , manis sekali gadis ini . "Oppa ... Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya bingung .
"Aku hanya kebetulan lewat" kataku asal .
"Benarkah?" aishhh , gadis ini tak mudah percaya ternyata . "Kajja!" aku langsung menariknya dan memasukkannya ke dalam mobilku .
"Kita mau kemana Oppa?" tanyanya . Aku hanya tersenyum sembari memasangkan seat belt untuknya . Kurasa aku harus membuatnya melupakan kejadian hari ini .
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan yang tak bisa dibilang di batas rata – rata itu . Sesekali kulirik wajah manis yang termenung di sampingku , dan ia hanya memandang lurus ke depan seolah memikirkan sesuatu . Tanpa sepatah kata , ia hanya diam . Aku juga bingung harus bagaimana , aku gugup .
'Ciiitt'
Aku berhenti di depan gedung seni milik keluargaku , keluarga Kim . Ia melongo sekaligus takjub melihat apa yang ada di hadapannya saat ini . Benar saja , gedung ini begitu megah . Appa membuatkannya khusus untukku , Appa ingin aku menjadi musisi . Tapi , aku masih ingin menghabiskan waktu bersama teman – temanku daripada mengurus gedung sebesar ini .
"Oppa ... Kenapa sepi sekali? Tak ada pengunjung yang datang? Kita tak menyelundupkan?" ia menyadarkanku dari pemikiranku . Rupanya ia masih bingung dengan tujuanku yang tiba – tiba membawanya kemari . "Kajja!" sekali lagi dengan seenaknya aku menarik gadis itu pergi ke lantai atas ke aula musikal *mian , tempatnya ngarang* .
'Cklek'
Aku membuka pintu itu lebar – lebar . Mata gadis itu berbinar – binar melihat apa yang ada di dalamnya . Panggung yang besar , sorot lampu dimana – mana . "Ini indah Oppa" ia memimpinku masuk ke dalam . Senyuman mulai terukir di bibirnya , aku lega .
"Duduklah" aku mendudukkannya di baris penonton paling depan . Aku berjalan ke atas panggung dan duduk di depan grand piano hitam itu . Aku tersenyum padanya , lalu mengarahkan jemariku untuk memainkan tuts – tuts grand piano itu .
nun ddeugodo
eol baraboji mothae
jichin chueoge heuryeojin
neoui mameul nan chatji mothae
mani ulgo
jichyeo deo isang mothae
saenggakhaedo neoreul bomyeon gwaenchaneul geot gata
jikyeojugo shipeo
neoui jalmotdwen nappeun beoreutdeulkkajido
himdeun nal utge mandeuneun geoya
jom himdeulgetjiman
neol saranghae rago maldo hal geoya
meonjeo nae pume oneun nalkkaji
utji mothae
useodo gieok mothae
oneul harudo kkumcheoreom
nunddeumyeon sarajil geot gateun
neol bogodo
gyeote eobneun geot gata
pyohyeoni seotunreungabwa neol saranghagien
hoksi dareun ongireul chaja
naege ddeonaga haengbokhae hal geoni
geuraedo neol bonael su eobseo
baby jukgiboda deo apeultende
naega neol saranghae
dareun nugudo ani ne ape itjana
naega ni soneul jabgo itjana
nugungaui pume
jul su eobseo aesseo utgo itjana
bonael su eobseohaneun mameul wae
Aku menghentikan permainan pianoku , aku membuka mataku yang sedari tadi terpejam . Dan baru kusadari kalau gadis itu tengah berdiri mematung di depanku , di depan grand piano ini . Air matanya kembali mengalir . Aigoo~~ ia menangis lagi? Apa aku tak berhasil menghiburnya?
"Berikan aku ponselmu" kataku sembari melangkah menghampirinya . "Mwo?" ia bingung , tapi tetap saja menyerahkan ponselnya padaku . kkkk~~
Jemariku menari di atas layar ponsel touchscreennya . "Untuk apa kau memberikan nomor ponselmu?" tanyanya polos . Haishh , jinjja!
'GREP'
Ya Tuhan , kumohon maafkan aku untuk kesekian kalinya karena aku memeluk gadis manis ini . Aku tak sanggup melihatnya menangis . "Uljima~" bisikku .
"Kau belum menjawab pertanyaanku" lirihnya .
"Hubungi aku jika kau membutuhkan dada bidang untuk menangis"
~ Yesung's POV end ~
OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
Koridor sekolah . Ya , inilah tempat murid – murid bercengkrama maupun berkumpul untuk sekedar membunuh kepenatan yang memenuhi pikiran mereka . Namun tidak untuk laki – laki itu , ia semakin bosan saja melihat teman – temannya yang asyik bercengkrama hingga mulut mereka berbusa . Tak seperti teman – temannya yang tengah bersuka cita menyambut Kim Kibum yang mulai masuk sekolah hari ini . Ada Hankyung , Donghae , Sungmin , dan Zhoumi .
"Kau tak senang Kibummie masuk sekolah?" tanya laki – laki yang lumayan tinggi namun tak lebih kurus darinya , Hankyung .
"Hyung , aku bosan . Tak ada yang bisa kumainkan" gumamnya datar .
"Kau mau kemana?" tanya Hankyung saat melihatnya beranjak dari tempat duduknya .
"Aku ingin mencari mainan" ia melangkahkan kakinya meninggalkan teman – temannya yang masih asyik bercengkrama . Ia mengambil kacamata yang selalu setia standby di saku kemeja seragamnya , dan memasangnya di hidungnya yang kelewat mancung itu .
"Kyaaa! Orang tampan lewat! Kyaa!"
"Oppaaaa! Kau tampan!"
"Berhentilah Oppaa! Lihat aku!"
"Oppa! Kyaa!"
Smirk terukir di bibirnya mendengar gadis – gadis berteriak heboh memuji wajahnya yang begitu ehm ... tampan . Dengan tinggi badannya yang cukup tak bisa dibilang wajar , rambut yang di cat merah , kacamata yang selalu setia ia pakai , ia berjalan dengan percaya dirinya yang melebihi tinggi badannya , bak model catwalk .
"Seperti itu dibilang tampan? Apa mereka tak tahu apa arti tampan sebenarnya? Cih . Memakai kecamata seperti orang buta saja"
Langkahnya terhenti , seiring dengan ekspresi wajahnya yang langsung berubah mendengar ucapan salah satu gadis yang juga bergerombol di antara gadis – gadis lainnya . Ia melepas kacamatanya dan menghampiri gadis itu .
"Kau yang berucap?" tanyanya dingin .
"Wae? Apa aku salah?" tanya gadis itu sedikit sewot .
"Kau bahkan belum mengganti rugi kacamataku . Cih"
"Aish" gadis itu menepuk dahinya pelan , ekspresi wajahnya berubah seketika . Dan lagi – lagi ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya .
'SRET'
"Kyeopta!" kata laki – laki itu meraih kedua telapak tangan yang menutup wajah gadis yang sudah memerah padam itu . "Kajja!" ia menarik tangan gadis berpipi tembam bermata sipit itu , Henry Lau .
"Ya! Kau mau membawaku kemana!" teriak Henry Lau . Dan gadis – gadis yang ada disana hanya menatap mereka dengan mupengnya .
"Duduklah" Zhoumi mendudukkan Henry Lau di salah satu kursi di kelas kosong itu . Ia duduk di meja dan kembali memakai kacamatanya .
"Kau ... Kau mau apa membawaku ke kelas kosong seperti ini?" Henry gugup karena hanya ada ia dan laki – laki berambut merah itu saja . Belum lagi kelas ini cukup jauh dari koridor tempatnya tadi .
Zhoumi membungkukkan badannya , mendekatkan wajahnya pada wajah putih bersih itu . "Ya! Tuan Fashionista! Kau jangan macam – macam padaku!" . Teriak Henry sembari memundurkan wajahnya . Zhoumi semakin mendekatkan wajahnya , hingga berjarak 10 cm . Lalu ia melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya . "Menyerahlah Henry Lau" katanya singkat , namun wajahnya masih tepat di depan wajah Henry Lau yang sudah memerah .
"Menyerah untuk apa?" gumam Henry Lau pelan .
"Hey , bukankah kau orang kaya? Mengganti kacamata 1 saja tak masalah kan? Itu kacamata kesayanganku Henry Lau!" suara Zhoumi semakin meninggi , tak ia pedulikan Henry Lau yang memandangnya takut – takut . Hey , kenapa hanya masalah kacamata saja bisa sampai seperti ini? Zhoumi terlalu berlebihan -_-
"Shireo!" bentak Henry Lau .
"Jadilah milikku" bisik Zhoumi di telinga Henry .
"MWO? SHIREO!"
"Bukankah kau menyukaiku hingga kau selalu mengulur – ulur waktu agar aku mendekatimu? Padahal jika kau langsung mengeluarkan uangmu dan membelinya tak susahkan?" bisiknya sekali lagi .
Henry terdiam , tak berminat menanggapi kata – kata lelaki yang menurutnya gila itu . Sedetik kemudian , ia menopang dagunya dengan salah satu tangannya . "Micheosseoyo?" tanya Henry singkat tanpa melihat ekspresi wajah menunggu Zhoumi itu .
"Kau tak lihat diluar sana banyak yang ingin menjadi yeojachinguku? Ah ani , bahkan mereka mengantri hanya untuk sekedar berbicara denganku . Kau yang gila menolak tawaran sebaik ini" kata Zhoumi dengan sombongnya .
'Tawaran? Bukankah seharusnya permintaan?' batin Henry Lau , ia mengerutkan dahinya mencoba berpikir .
"Jujurlah , katakan kau menyukaiku , Henry Lau"
Tak mau mendengarnya lebih banyak lagi , Henry beranjak dari tempat duduknya . "Ani , aku bahkan membencimu , Tuan Fashionista ..." bisiknya begitu lembut di telinga Zhoumi .
'CUP'
Henry mengecup pipi Zhoumi lalu pergi meninggalkan laki – laki yang shock itu di kelas sendiri . "Henry ... Kau ..." lirihnya pelan sembari memegang pipinya yang baru saja diberi kecupan gadis manis itu .
"Aku takkan berhenti ..."
OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
"Kyu , sudah kukatakan ..."
"Sssst" Kyuhyun menempelkan jari telunjuknya di bibir plump gadis yang menurutnya saaaaaangat manis itu . "Jangan katakan lagi Chagi , aku bosan . Ini kewajibanku" kata Kyu lembut .
"Tapi Kyu , kali ini kau tak membawa sepeda . Apa kau akan jalan kaki kembali ke rumahmu?" tanya gadis itu .
"Kemarilah" Kyu menarik gadis itu agar duduk di bangku taman dekat rumah gadisnya . Ia memandang wajah manis itu dengan seksama . Sedetik kemudian ia tersenyum , "Waeyo?" gadis itu , Sungmin , bingung melihat Kyu yang tiba – tiba tersenyum .
'GREP'
Kyu menarik Sungmin ke dalam dekapannya , ia membelai surai kecoklatan Sungmin yang begitu harum dan lembut . "Chagi , kau tau? Sedari dulu aku sudah menyukaimu" Kyu mulai mendongeng -_-
"Jeongmalyo?" Sungmin melepaskan dirinya dari dekapan Kyu , namun Kyu menariknya lagi .
"Benar . Kau tak percaya padaku , Chagi? Bahkan sejak pertama aku melihatmu , aku sudah tertarik padamu . Kau sering melintas di depan sekolahku seorang diri , terkadang bersama temanmu itu . Kau begitu cantik , begitu baik , dan begitu pintar" Sungmin tersenyum mendengar banyak pujian yang terucap dari bibir Kyu . Tak menyangka jika Kyu sudah lama menyukainya . kkkkkk~~
"Dulu , aku tak pernah berani mendekatimu . Meskipun sekolah kita berdekatan , aku tetap tak berani . Apalagi setelah aku melihatmu bertanding taekwondo dengan salah satu perwakilan sekolahku . Awalnya kupikir kau yeoja yang menakutkan , tapi ternyata kau sangat menyenangkan . Kau sangat manis , Chagi" Kyu sedikit mengerutkan dahinya ketika tak mendengar respon dari Sungmin .
"Ming?" ia memanggil Sungmin , namun tak ada jawaban dari gadis itu . "Aigoo~ Kau tidur? Kau lelah Chagi?" ia tersenyum melihat gadis itu tengah terlelap dalam dekapannya .
"Kau tahu? Meskipun sepasang kakiku nantinya harus patah karena lelah . Aku akan selalu menjagamu" bisiknya di telinga Sungmin , meskipun ia tahu kalau Sungmin tak mungkin mendengarnya .
"Baiklah ..." Kyu mencoba menaikkan Sungmin ke punggungnya dan menggendong Sungmin sampai rumah Sungmin . Ia tak mungkin membangunkan gadisnya yang terlihat lelah itu . Jadi mau tak mau ia harus mengantar Sungmin sampai di rumahnya , meskipun itu artinya ia harus berhadapan dengan orang tua Sungmin yang sangat menyeramkan itu .
'Drap Drap'
Ia berjalan perlahan memasuki halaman rumah Sungmin . Jantungnya berdegup begitu kencang , ia gugup . Ini pertama kalinya ia masuk ke rumah Sungmin . Sebelumnya mana mungkin ia berani masuk ke rumah itu .
"Ahjumma , annyeong" sapa Kyu ramah saat melihat Eomma Sungmin tengah menyirami tanaman di sore hari menjelang malam seperti ini .
"Nuguya?" tanya Eomma Sungmin .
"Aku hanya ingin mengantar Lee Sungmin pulang . Ia tertidur tadi , mungkin ia lelah setelah berjalan kaki" jelas Kyu . Ia sedikit menghela nafas lega karena tak harus berhadapan dengan Appa Sungmin yang menyeramkan itu .
"Bawa dia ke kamarnya , selagi Appanya belum datang . Kamarnya ada di atas , kamar nomor 2 dari tangga" kata Eomma Sungmin tanpa menanyai Kyu lebih lanjut .
"Gamsahamnida Ahjumma" Kyu membungkukkan badan meskipun ia merasakan beban yang sangat berat di punggungnya .
Ia memasuki rumah Sungmin yang sederhana itu , mulai mencari anak tangga yang hendak membawanya ke kamar Sungmin . Dan akhirnya ketemu , dengan hati – hati ia melangkah menyusuri anak tangga tersebut . 'Kalau bukan karena aku mencintaimu , aku tak mungkin mau melakukan hal konyol seperti ini' seringai terukir di bibirnya . Semua karena cinta? Kkk~~
Setelah menyusuri anak tangga , sampailah ia di lantai 2 rumah Sungmin . Tanpa mencari – cari , ia langsung menemukan kamrar Sungmin yang dari pintunya saja sudah berwarna pink .
Ia membuka pintu itu perlahan , lalu masuk ke dalamnya . Matanya membulat , ia takjub melihat kamar yang beitu rapi dan beraura pink dimana – mana itu . Meskpin ia tidak suka pink , tak mungkin kan jika ia harus menurunkan Sungmin di depan pintu tadi? Konyol~
Ia merebahkan tubuh Sungmin di atas tempat tidur Sungmin yang juga berwarna pink . "Hahh ..." ia menghela nafas panjang . Lelah , itu lah yang ia rasakan sekarang . Ia duduk di tepi tempat tidur Sungmin , matanya terarah pada bingkai foto yang ada di meja samping tempat tidur Sungmin . Ia meraihnya . Dipandanginya foto itu sembari tersenyum tak jelas seperti biasa . "Kau tak berubah Ming" gumamnya pelan . "Sudah kubilang , kau begitu manis seperti gula kapas" lanjutnya .
"Benarkah Kyu?"
"Omo!" Kyu terlonjak kaget melihat Sungmin yang sudah membuka matanya tanpa sepengetahuan Kyu . Jadi gadis itu sudah bangun? Sejak kapan?
"Ming ... Kau ..." Kyu gelagapan . "Aku hanya pura – pura tertidur" kata Sungmin di sertai senyuman innocentnya .
"Kenapa tak bilang?"
"Aku hanya ingin seorang Cho Kyuhyun menggendongku dan mengantarku sampai rumah . Ayolah Kyu , kau bahkan tak pernah menginjakkan kaki di pekarangan rumahku" Sungmin mempotkan bibirnya , membuat Kyu benar – benar ingin memakannya .
"Gomawo Kyu"
'CUP'
Ya , kini Sungmin sudah berani mengecup pipi namjachingunya , bahkan di kamarnya sendiri . Benar – benar tak di duga , tak seperti Lee Sungmin yang sebelumnya .
Kyu tersenyum menyeringai melihat ekspresi wajah Sungmin yang berubah . 'Ya Tuhan, pertanda apakah ini?' batin Sungmin .
'CUP'
Kyu mencium bibir Sungmin dan belum berniat melepasnya . 'I got you Lee Sungmin , hahahaha' batin Kyu di dalam hati sembari tertawa setan . Bibirnya masih tetap menempel di bibir plump Sungmin yang bisa di bilang menggiurkan itu . Tapi , ia masih belum memiliki keberanian untuk melakukan ciuman yang labih jauh , hanya sebatas menempel bibir saja .
Ia melepaskan ciumannya , menatap wajah Sungmin yang sudah berblushing ria (?) itu . Ia terkikik pelan , "Apanya yang lucu?" tanya Sungmin dengan nada manjanya . "My first kiss , Kyu" gumam Sungmin pelan , namun Kyu masih bisa mendengarnya .
"Kau menginginkannya lagi Lee Sungmin?" tanya Kyu jahil , dan Lee Sungmin? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengangguk malu – malu seperti itu? Tak sadarkah itu semakin membuat Kyu bertindak lebih jauh? Kkkk~~
'CUP'
OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
~ Eunhyuk's POV ~
Aku memandang jauh ke langit yang begitu gelap . Tak ada bintang lagi , eoh? "Hahh" aku menghela nafas panjang , lalu menyandarkan tubuhku di sandaran kursi yang ada di balkon apartementku . "Aku benar – benar tak berguna sekarang" gumamku .
'TES'
Air mataku menetes lagi . Ya Tuhan , apa aku harus menangis untuk kesekian kalinya di hari ini?
Flashback on ...
Kurasakan bias sinar matahari menerpa wajahku . "Hoooamm" aku meregangkan tubuhku sembari menguap selebar mungkin . Aku memiringkan tubuhku mengambil jam beker yang selalu standby di meja samping tempat tidurku . Aigoo~~ Kenapa badanku begitu sakit jika aku bergerak? Terlebih lagi tubuh bagian perut ke bawah rasanya begitu sakit .
"Omo!"
Aku terbelalak kaget seketika aku melihat ke dalam selimutku . "Ya Tuhan , kenapa aku bisa naked seperti ini? Kemana semua bajuku?" aku menoleh menyusuri ruangan kamarku dan benar saja kulihat pakaianku tengah berserakan di lantai .
Aku memakai selimut sebagai penutup tubuhku , "Darah ..." ujarku lirih . Dan kenapa ... Kenapa ada darah? Aku melihat ke selangkanganku yang juga terdapat bekas darah serta bau – bau amis seperti sperma . Ya Tuhan , berarti semalam ...
"ANDWAE!" Aku berteriak memasuki kamar mandiku . Kuguyur tubuhku bersama selimutku di bawah shower yang mengucur air deras . Betapa aku merasa jijik terhadap diriku sendiri , betapa aku merasa tak punya harga diri sebagai perempuan suci lagi . Ya Tuhan , kenapa ini bisa terjadi? Apa salahku? Dan siapa yang berani melakukannya? Ya Tuhan , kumohon ampuni aku yang telah berani melakukan itu tanpa janji suci seperti yang seharusnya .
"ANDWAE!" aku terus berteriak meskipun itu percuma , karena tak ada orang lain di apartement no 44 ini selain aku . Tak kupedulikan berapa banyak air yang sudah mengguyur tubuhku . Aku merasa seperti perempuan murahan , perempuan hina yang tak mempunyai harga diri . Bagaimana bisa semua ini terjadi padaku? Bahkan di saat aku masih ingin meraih impianku , kenapa hal seperti ini harus terjadi? Bagaimana Eomma dan Appa kalau mereka sampai tahu? Lalu bagaimana teman – temanku yang lain? Ya Tuhan , aku tak mampu menanggung aib seperti ini ...
Flashback end ...
Aku masih menerawang jauh melihat gelapnya langit malam ini , air mataku masih menetes . Aku mencoba memutar ingatanku mengingat – ingat siapa yang berani melakukan itu padaku , meskipun itu percuma karena aku tak mungkin mengingatnya . Tapi , sepasang mata itu ... mata yang memandangku begitu teduh . Aku hanya mengingat matanya saja , karena seingatku , aku seperti di bius hingga aku pusing dan tak sadakan diri . Apa benar hanya laki – laki itu yang memiliki mata teduh seperti itu? . Tapi apa dia setega itu melakukan ini padaku?
Ya Tuhan , tolong aku , kumohon . Meskipun aku tak pantas lagi bersimpuh di hadapanmu karena aku yang sudah hina ini , tapi kumohon paling tidak beri aku petunjuk agar aku bisa menemukan siapa laki – laki itu .
Aku menghapus air mataku , meskipun masih ada yang terus menetes . Aku berjalan gontai menuju kamarku , aku tak mau masuk angin karena terlalu lama di luar .
'TAK'
Kurasakan kakiku menginjak sesuatu , tanpa pikir panjang aku langsung mengambilnya , "Ini ..."
~ Eunhyuk's POV end ~
OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO
-TBC-
Annyeong ^^
Aku balik lagi dengan chap 4 ^^
Mian kalo ceritanya garing gaje gak menarik sama sekali *bow*
Dan sedikit pengumuman , semua FF saya sudah saya publish d WP saya : cloudymimirisekyu . wordpress . com ^^
termasuk Still Remain In My Heart beserta sequelnya , dan FF ini mulai chap depan :)
Tinggalkan jejak anda ^^
Gomawo ^^
*deep bow*
