ANTIFAN
"Hei! Apelku…," / Chanyeol membalikkan badannya dan menggigit dengan senyum termanisnya, memamerkan buah apel di genggamannya/"Dasar pencuri!"/GS/Chapter 4 Update!
Cast :
Park Chanyeol EXO as an Actor
Byun Baekhyun EXO as a Girl
And other cast of EXO member
Chanyeol berjalan kearah dapur dengan gontai. Hari ini benar-benar melelahkan. Tidak cukup hanya dengan jadwal yang padat, ia juga harus berlari bersama antifannya untuk menghindari para fansnya. Bukankah itu aneh? Chanyeol membuka kulkas dan mengambil air dingin lalu meminumnya. Pria itu meletakkan botol plastik di meja lalu merogoh sesuatu dari saku jaketnya. Chanyeol melihat kartu identitas seseorang. Bukan miliknya, namun milik seseorang yang ditemuinya karena taruhan bodoh.
"Byun Baekhyun…", Chanyeol menyebut nama itu berulang-ulang. Ia merasa heran. Orang ini bukanlah orang berwajah kriminal tapi sikapnya yang bisa disebut meneror Chanyeol membuat pria itu tidak habis pikir. Ini membuat Chanyeol penasaran, mengapa ada orang yang begitu membencinya.
Chanyeol meraih ponselnya setelah merasa sesuatu bergetar di kantong jaketnya. Ia memperhatikan nama yang tertera pada layar. Manager.
Seperti burung beo, Chanyeol mengulang kata-kata yang sama sebelum mengangkat panggilan. Ia mengulang kata halo berkali-kali dengan nada yang berbeda-beda. Ia harus memastikan suaranya terdengar lemah dan kesakitan.
"Halo hyung", Chanyeol menyapa dengan suara rendah yang dibuat-buat.
"Kau masih sakit?", nada suara diseberang telepon terdengar khawatir. Tentu saja khawatir, Xiumin bukan sekedar manager, tapi kakak bagi Chanyeol. Ia bisa mencapai puncak berkat bantuan Xiumin.
"Kurasa begitu", ucap Chanyeol masih dengan aktingnya.
"Kalau begitu beristirahatlah", balas Xiumin.
"Kau menelponku hanya karena ini?", Chanyeol merasa aneh. Biasanya Xiumin akan menelponnya karena urusan pekerjaan.
"Aku ingin tau kondisimu, kurasa kau belum siap untuk syuting di daerah yang jauh setelah mendengar kabarmu, tadi sutradara menelponku, katanya ia ingin pindah lokasi syuting di Pohang untuk beberapa scene. Tapi karena kondisimu, aku akan segera bicara dengannya", Xiumin menjelaskan maksudnya menelpon.
Chanyeol yang masih memegang kartu identitas milik Baekhyun membaca tempat tinggal Baekhyun tertulis Pohang. Ia menyebut kata Pohang berkali-kali dalam hati.
"Yeoboseyo? Park Chanyeol?", Xiumin memanggil nama Chanyeol berkali-kali, memastikan orang yang ditelponnya masih bisa mendengarnya. Ia khawatir Chanyeol tiba-tiba pingsan atau hal buruk terjadi padanya. Namun betapa leganya ia saat mendengar suara Chanyeol.
"Ne hyung, aku masih mendengarmu, tadi kau bilang aku akan pindah lokasi syuting di Pohang?", Chanyeol memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Seharusnya begitu, tapi karena kondisimu, aku akan bicara pada sutradara untuk tetap melakukan syuting di Seoul saja"
"Ani, ani!", Chanyeol menjawabnya dengan semangat. Ia bahkan lupa bahwa ia masih harus berakting sakit saat bicara dengan Xiumin. Ia segera mencegah pikiran Xiumin untuk membatalkan mengganti lokasi syuting.
"Ma-maksudku, bukankah tidak professional mengganti lokasi syuting hanya karena aku? Kita harus memperhatikan artis lain dan juga jalan ceritanya hyung. Bila memang harus dilakukan di Pohang, maka aku harus melakukannya. Bukankah aku dibayar untuk ini?", Chanyeol mencoba mencari alasan. Sebenarnya syuting dimana pun bukan masalah. Tapi mendengar kata Pohang bagai mendapat jackpot. Ia akan membuat antifannya itu terkena serangan jantung karena berdiri di depannya.
"Kau yakin bisa?", tanya Xiumin ragu.
"Besok pasti aku akan segera baikan. Jadi jam berapa besok kita berangkat?"
-ANTIFAN-
Baekhyun tertidur di perpustakaan. Semalam ia sampai di rumah larut malam, belum lagi saat dirumah ia harus duduk mendengarkan ceramah ayahnya. Dan sampai di kamar, Kyungso mengomel lewat telepon mengingatkannya belajar untuk ujian hari ini. Alhasil, Baekhyun hanya tidur selama tiga jam.
Jam kuliah sudah selesai, hari ini adalah hari terakhir ujian. Hanya tinggal menunggu hasil. Namun tidak untuk Baekhyun. Ia masih harus menebus ujian yang tidak ia ikuti karena pergi ke Seoul. Untung saja dosennya masih mempercayai alasan sakitnya. Ia harus berterimakasih pada kedua temannya yang telah bersaksi palsu bahwa ia sakit dan tidak bisa mengikuti ujian. Baekhyun tau ia harus menebusnya. Tunggu saja sebentar lagi, Tao dan Kyungso pasti akan datang dan siap menguras uang jajannya selama sebulan.
Benar saja, Tao sudah datang ke perpustakaan. Ia yang melihat Baekhyun meringkuk dengan buku tebal segera mendekatinya. Baekhyun masih tertidur pulas. Tao merasa heran, bisa-bisanya temannya ini tidur di sembarang tempat.
Tao menggoyangkan bahu Baekhyun pelan, namun tidak ada respon. Baekhyun masih saja sibuk berkelana di alam bawah sadarnya. Tao kembali menggoyangkan bahu Baekhyun kali ini lebih keras. Sepertinya berhasil. Karena Baekhyun mengeram dengan gaya baru bangun tidurnya. Ia menyingkirkan buku tebal yang daritadi digunakan untuk menutupi wajahnya. Baekhyun mengadah melihat Tao duduk di depannya. Matanya yang sipit terlihat makin sipit saat ia baru bangun tidur.
"Apa kau mimpi indah?", sindir Tao dengan suara pelan. Ia masih ingat ia sedang berada dimana. Baekhyun menegakkan kepalanya. Masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.
"Hampir saja Kris menciumku kalau kau tidak menggangguku", ujar Baekhyun sewot.
Tao memajukan bibirnya sebal. "Ayo keluar, kau harus mentraktirku makan"
Baekhyun tau akan seperti ini. "Baiklah, lima menit lagi", Baekhyun kembali menyandarkan kepalanya di meja untuk melanjutkan tidurnya namun Tao segera menariknya berdiri dari kursi.
"Baekhyun bangun, Kau memang gadis pemalas"
Baekhyun akhirnya memilih bangkit berdiri karena Tao menyeretnya keluar dari perpustakaan.
Diluar perpustakaan, Baekhyun membetulkan letak poninya yang berantakan karena tidur siangnya.
"Kyungso dimana?", tanya Baekhyun.
"Ia harus mengurus penggemarnya terlebih dahulu", jawab Tao.
Baekhyun menatap Tao dengan wajah penasaran. Tao yang melihat Baekhyun segera menyebutkan nama seseorang yang langsung membuat Baekhyun mengerti.
"Jongin"
"Bagaimana acara tadi malam? Apakah menyenangkan?", Baekhyun tau Tao sengaja bertanya untuk membuatnya kesal. Fans seperti Tao pasti menonton acara penghargaan itu di rumah. Dan ia pasti tau Kris tidak memenangkan piala utamanya.
"Tao, lebih baik kau menutup mulutmu dan membukanya saat sudah kutraktir makan", ujar Baekhyun dengan tersenyum paksa. Tao yang tidak mau batal mendapat makanan gratis akhirnya memilih menurut.
Baekhyun merangkul Tao dengan tersenyum lebar, "Ayo makaaannn!"
-ANTIFAN-
Baekhyun dan Tao sedang duduk di kafe yang tidak jauh dari kampusnya. Tao sibuk menghabiskan makanan yang ada di meja sedangkan Baekhyun memilih melihat Tao menghabiskan uangnya.
Tak lama kemudian orang yang ditunggu datang. Kyungso mengambil tempat di sebelah Baekhyun. Baekhyun menatap Kyungso, "Apa yang baru saja kau lakukan?", tanya Baekhyun penasaran setelah melihat Kyungso dengan penampilan acak-acakan.
Kyungso segera merapikan rambutnya dengan jari tangannya lalu mengikat tinggi rambutnya.
"Dia mengcopy fotoku dan oppaku lalu menempelkannya diseluruh mading, jadi aku harus berkeliling mencopotnya satu per satu", ujar Kyungso dengan nada bicara yang kesal.
Baekhyun tau siapa yang Kyungso maksud dengan 'dia'. Tidak lain dan tidak bukan pastilah Kim Jongin. Baekhyun menggeleng prihatin. Sejak masuk ke universitas Kyungso lebih suka memainkan permainan kekanak-kanakan dengan Jongin. Kejar-kejaran atau main petak umpet.
"Pesanlah makanan", ujar Baekhyun. Kyungso yang sebelumnya memasang raut wajah kesal kini berubah ceria, "Kau tidak makan?", tanya Kyungso.
"Aku menunggumu. Tao sepertinya sudah kelaparan, jadi ia memesan duluan", ujar Baekhyun sambil memperhatikan Tao yang sibuk mengunyah hotdog miliknya.
Kyungso memanggil pelayan.
"Ada yang bisa kubantu?", ucap pelayan perempuan yang sudah berdiri di depan meja mereka.
"Aku pesan kue kacang merah, sandwich daging sapi, sosis panggang, es krim coklat dengan keju dan earl grey. Untuk dibawa pulang—"
"Ya Do Kyungso!", Baekhyun menghentikan temannya itu. Pesanan Kyungso sudah cukup banyak, dan sekarang ia masih ingin memesan untuk dibawa pulang? Yang benar saja.
Kyungso berhenti bicara, ia menoleh kearah Baekhyun. "Ada yang salah?"
"Tidakkah itu terlalu banyak?", tanya Baekhyun.
Kyungso kembali memasang raut wajah cemberut yang sebelumnya, "Kau tidak tau aku sudah berbohong hanya untuk menyelamatkan masa depanmu dan sekarang aku hanya memesan beberapa piring makanan kau sudah mengeluh bahwa—"
"Baiklah, baiklah, pesan saja sesukamu, kalau perlu akan kubelikan kafe ini untukmu", ujar Baekhyun.
Kyungso tersenyum menang, ia kembali melanjutkan pesanannya, "Untuk dibawa pulang aku ingin seloyang pizza tanpa bawang bombay."
Pelayan itu mencatat pesanan Kyungso. Kyungso tersenyum kearah Baekhyun, "Terimakasih, itu saja sudah cukup, tidak perlu membelikan kafe ini untukku, aku yakin pesananku sudah cukup menguras isi dompetmu"
Tao yang mendengar ucapan Kyungso hanya menahan tawa. Ekspresi Baekhyun saat ini benar-benar minta dikasihani.
"Ada tambahan?", tanya pelayan itu lagi.
"Kau tidak ingin pesan sesuatu?", tanya Kyungso pada Baekhyun.
"Aku pesan uang satu koper", sahut Baekhyun.
Kyungso menggeleng-gelengkan kepalanya, "Jangan seperti anak kecil, eonni ini masih banyak pekerjaan, cepat apa pesananmu"
Bila tahu seperti ini, Baekhyun tidak akan pernah mau berjanji mentraktir temannya ini. Dasar tukang porot! Baekhyun memasang tampang kesal, "Tiramisu dan kopi. Tidak perlu earl grey. Aku mau yang lokal. Takut uangku tidak cukup," sindir Baekhyun.
Walau berat hati, ia tidak membatalkan niatnya mentarktir Kyungso dan Tao. Kalau Baekhyun nekat membatalkan traktirannya, wajah cerah Kyungso pasti akan kembali cemberut. Dan Tao akan kembali membuka mulutnya. Demi kedamaian persahabatannya, Baekhyun memilih bangkrut.
Pelayan itu mencatat pesanan Kyungso dan Baekhyun lalu membaca semua pesanan. Saat Kyungso sudah mengatakan benar, pelayan itu segera kembali ke dapur.
"Berkatmu aku tidak akan pergi ke kantin selama sebulan", ujar Baekhyun.
Kyungso tersenyum, "Kau tenang saja, kita kan sudah mulai liburan, kau tidak perlu repot-repot ke kantin universitas hanya karena ingin makan"
"Baekhyun, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan? Bukankah mulai besok kita libur?", usul Tao.
Baekhyun segera menggeleng. "Kenapa? Kau takut aku akan menghabiskan uangmu lagi?", tanya Kyungso.
"Bukan begitu, besok pagi aku harus ke sekolah untuk menyetor tugasku dan setelah itu aku sudah berjanji akan menjaga supermarket ayahku. Ini yang harus kubayar karena memilih pergi ke Seoul daripada mengikuti ujian", ucap Baekhyun dengan nada sedih. Masa liburannya harus ia habiskan dengan menjaga toko.
"Sayang sekali, tapi itu harga yang pantas kau dapatkan karena perbuatanmu", ucap Tao.
"Memangnya apa yang kulakukan? Apa aku melakukan hal kriminal? Aku hanya memberikan dukunganku untuk idolaku lalu pulang ke rumah", Baekhyun berusaha membela dirinya.
"Bolos kuliah itu adalah hal kriminal", sahut Kyungso. Tentu saja hal kriminal bagi Kyungso. Orang sepintar Kyungso tidak pernah memiliki pikiran untuk bolos kuliah sekalipun ia demam tinggi.
Baekhyun mengalah. Ia memilih diam. Berdebat dengan kedua orang yang tidak mendukungnya akan sia-sia saja.
Pesanan sudah datang. Kini meja mereka bertiga benar-benar penuh dengan makanan. Baekhyun melihat porsi makanan ini cukup untuk enam orang tapi kenyataannya hanya ada mereka bertiga.
"Aku tidak tau selera makanmu sebagus ini", ujar Baekhyun saat melihat makanan di depannya. Tentu saja makanan yang dibeli dengan seluruh uangnya.
"Karena itulah aku tumbuh dengan sangat baik", ucap Kyungso.
"Cepat makan, aku sudah lapar", Kyungso mengambil sosisnya terlebih dahulu. Melihat selera makan Kyungso membuat Baekhyun kenyang walaupun belum mengunyah apapun.
-ANTIFAN-
Hari sudah mulai siang dan Chanyeol baru tiba di tempat peristirahatannya. Pohang memang tidak sebesar kota Seoul. Namun udara disini masih segar.
Xiumin sibuk menurunkan barang-barangnya dan Chanyeol dari bagasi. Cahnyeol segera membantu Xiumin. Dari koper besar yang dibawa, kelihatannya mereka akan berada di sini dalam waktu yang tidak sebentar.
"Masuklah kedalam, aku akan membawa barang-barangnya nanti", ujar Xiumin.
Namun Chanyeol tidak mendengarkan, ia justru mengambil kopernya dan Xiumin lalu membawanya masuk kedalam rumah yang akan ditinggalinya selama berada disini. Xiumin tersenyum melihat Chanyeol sudah membawa barang-barangnya. Chanyeol membuat Xiumin hanya perlu membawa barang yang kecil saja.
Tempat ini terlihat seperti sebuah resort. Tidak mewah, namun nyaman untuk ditempati. Ada kolam renang kecil di tengah ruangan. Ornamen tempat ini juga didominasi dengan desain rumah tradisional Korea. Namun sofa putih di ruang tengah membuatnya tetap terlihat modern.
Chanyeol menyandarkan tubuhnya di sofa. Perjalanan panjang membuatnya merasa lelah. Namun ia masih tetap semangat. Udara di kota ini benar-benar menyegarkan. Setidaknya bisa membuatnya beristirahat dengan nyaman setelah syuting.
Xiumin masuk ke ruangan. Ia meletakkan beberapa kantong plastik di meja. Sepertinya beberapa snack yang dibelinya.
"Menurutmu bagaimana?", tanya Xiumin sambil memperhatikan sudut-sudut rumah ini.
"Aku menyukai tempat ini hyung", jawab Chanyeol sambil tersenyum.
"Oh iya, kapan syutingnya dimulai?", Chanyeol kini menegakkan tubuhnya.
Xiumin mengeluarkan ponselnya dan melihat agendanya, "Hmm… besok pagi, hanya menyelesaikan beberapa scene saja. Jadi kemungkinan besok syutingnya akan selesai lebih awal"
"Kedengarannya bagus", ujar Chanyeol. Pria tinggi itu segera bangkit berdiri. "Aku mandi duluan hyung"
"Hm, baiklah", jawab Xiumin.
-ANTIFAN-
Baekhyun memakai sepatunya dengan terburu-buru. "Appa, aku berangkat", teriak Baekhyun dari luar teras rumahnya. Ia memang belum terlambat. Hanya saja ia ingin cepat-cepat menyerahkan tugasnya sehingga ia tidak perlu memikirkan hal lainnya selama liburan.
"Baekhyun!"
Baekhyun menghentikan langkah kakinya dan melihat ayahnya berdiri di depan pintu rumah.
"Nanti jangan lupa menjaga supermarket, kau ingat janjimu kan?", teriak ayahnya.
Baekhyun mengangguk, "Aku tau, kalau begitu aku pergi", Baekhyun melambaikan tangannya lalu keluar pagar. Ia mempercepat langkah kakinya menuju halte.
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu, bis yang ditunggu Baekhyun sudah tiba. Bis di pagi hari memang sedikit padat. Pegawai kantoran, siswa, bahkan para ibu yang baru kembali dari pasar semuanya berdesak-desakan dalam satu bis. Karena tidak ada tempat duduk yang tersisa, Baekhyun terpaksa berdiri.
Sesampainya di universitasnya, Baekhyun segera mencari dosennya, ia menyerahkan tugas-tugasnya yang sudah ia buat semalaman. Universitas ini masih dipenuhi oleh beberapa mahasiswa walau sudah memasuki masa liburan. Para senat yang melakukan pertemuan rutin, atau beberapa organisasi yang berkumpul membahas sesuatu.
Baekhyun mendengar suara ponselnya bordering, ia segera mengangkatnya, "Ne?"
"Kau dimana?", tanya seseorang di seberang panggilan.
"Di universitas, aku baru saja bertemu dosen. Bagaimana denganmu?"
"Aku dan Tao sedang di kebun Haniwoon. Seharusnya kau disini dan melihat bunga bersama kami. Kita bisa mengambil gambar bersama dan menguploadnya ke SNS"
"Berhenti pamer dan membuatku iri. Setelah ini aku harus ke toko ayahku"
"Kau harus bekerja keras selama liburan untuk mengumpulkan uang yang sudah aku habiskan kemarin. Semangat Byun Baekhyun! Kalau begitu nanti aku hubungi lagi ya. Annyeong"
"YA—"
Belum sempat Baekhyun membalas, panggilannya sudah terputus. Ia mendnegus sebal memandang ponselnya.
-ANTIFAN-
"Apa yang ia katakan?", tanya Tao pada Kyungso yang baru saja selesai menghubungi Baekhyun.
"Seperti rencana kemarin, ia harus menerima hukuman ayahnya", jawab Kyungso.
Tao melirik ke sekitar kebun Haniwoon. Karena sekarang musim semi, kebun Haniwoon terlihat lebih indah dengan banyaknya bunga yang baru bermekaran.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan kesana?", Tao menunjuk bukit yang agak jauh dari tempatnya berdiri. Dari sini ia bisa melihat bukit itu dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna ungu. Kyungso mengangguk setuju. Mereka berjalan santai. Sesekali berhenti untuk mengambil gambar selca bersama.
Bunga-bunga yang baru bermekaran di musim semi dan rumput hijau benar-benar terlihat indah di kebun Haniwoon. Biasanya tempat ini akan menjadi tempat favorit Baekhyun, Kyungso dan Tao. Namun kali ini sayang sekali Baekhyun tidak bisa turut serta melihat bunga yang baru tumbuh di musim semi. Karena itu Tao akan memotret bunga rock jasmine putih kesukaan Baekhyun. Temannya itu pasti senang saat menerima foto yang Tao kirimkan.
"Sebenarnya disini ada apa?", Kyungso heran melihat tempat ini tidak seperti biasanya.
Tao yang sedang sibuk memotret bunga-bunga di sepanjang perjalanannya menuju bukit menoleh kearah Kyungso lalu beralih mengikuti arah pandang Kyungso. Tao melihat begitu banyak kamera dan orang-orang sibuk kesana-kemari. Tiba-tiba seorang pria berkacamata menghampiri mereka.
"Maafkan aku, tapi kau tidak bisa kemari", ucap pria itu.
"Tapi aku mau melihat bunga rock jasmine putih", ujar Tao sambil menunjuk bunga-bunga kuning yang berada disekitar bukit tempatnya sekarang.
"Ahjussi, musim semi tidak datang setiap hari, dan bunga itu hanya tumbuh saat musim semi. Kami sengaja jauh-jauh kemari untuk melihatnya tapi kau mengecewakanku dengan tidak mengijinkanku masuk kemari", omel Kyungso.
Pria berkacamata yang membawa gulungan kertas tersebut berbicara dengan sabar, "Maafkan aku, tapi kami sudah meminjam tempat ini untuk syuting, jadi orang selain staf dilarang untuk masuk kemari."
"Aku mengerti, tapi biarkan aku mengambil beberapa gambar untuk temanku setelah itu akan segera pergi", Tao mencoba menerobos masuk namun pria itu segera menghadangnya.
"Maafkan aku, tapi kau tidak bisa", ucap pria itu.
"Ahjussi ini kenapa? Lagipula kalian belum mulai syuting kan? ini tidak akan memakan waktu lama", Tao yang keras kepala masih berusaha mencari cela untuk masuk namun pria itu mendorong Tao menjauh dari sana.
"Nona, kumohon mengertilah", ucap pria itu mulai frustasi.
"Ada apa ini?", suara pria lain membuat Tao, Kyungso dan pria berkacamata itu menoleh.
"Oh, manager Xiumin. Kedua wanita ini memaksa masuk ke lokasi", pria berkacamata itu mencoba menjelaskan kepada Xiumin yang kebetulan baru tiba.
"Ya! Aku tidak akan memaksa kalau ahjussi membiarkanku mengambil beberapa gambar", jelas Tao.
Xiumin melihat kearah Kyungso dan Tao lalu tersenyum sopan, "Kalau aku boleh tau, apa tujuanmu kemari?"
"Kami datang jauh-jauh kemari untuk melihat bunga yang tumbuh hanya saat musim semi dan ahjussi ini melarangku masuk. Apa aku harus menunggu musim semi selanjutnya untuk melihatnya?", ujar Kyungso yang sudah sebal.
"Tapi kau tau kan kami sedang syuting", ucap Xiumin.
"Aku tau, tapi aku hanya ingin mengambil beberapa gambar lalu pergi, apa sulitnya hal seperti itu?", jawab Kyungso.
"Biarkan saja mereka masuk, lagipula syutingnya belum dimulai", kini suara berat pria lainnya datang tiba-tiba.
Pria bertubuh tegap dengan wajah tampan berdiri di depan Tao dan Kyungso. Membuat kedua wanita itu terhipnotis dalam pesona seorang Park Chanyeol. Tao merasa ia sedang bermimpi di siang bolong. Seorang malaikat tampan turun ke bukit Haniwoon untuk menyelamatkannya. Sedangkan Kyungso mengira dirinya pasti sedang salah mengira. Walaupun ia bukan fans fanatik seperti Tao yang akan berteriak di depan sebuah poster. Kyungso masih wanita normal yang bisa menjerit di depan seorang pria tampan. Dia tidak salah lihat bukan? Ia tidak pernah mengira seorang Park Chanyeol akan setampan aslinya.
Xiumin dan staf pria yang berada disana hanya heran melihat kedua wanita di depannya. Yang berdiri persis seperti manekin dengan pandangan kosong kearah Chanyeol. Xiumin hanya tersenyum simpul. Ia sudah sering melihat reaksi wanita-wanita yang baru pertama kali bertemu Chanyeol.
"Nona…", Chanyeol melambaikan tangannya di depan wajah Tao dan Kyungso.
Chanyeol harus melakukan hal yang sama berulang kali sampai akhirnya Kyungso sadar terlebih dahulu.
"K-kau Park Chan-Yeol bukan?", tanya Kyungso dengan terbata-bata.
Ya Tuhan! Melihat Park Chanyeol berdiri di depannya saja sudah membuat kakinya lemas dan sekarang pria tampan ini tersenyum padanya. Kyungso yakin sebentar lagi mungkin ia akan jatuh pingsan. Ini adalah serangan pria tampan.
"Ye, Aku Park Chanyeol. Aku tersanjung sekali karena kau mengenalku. Senang bertemu denganmu", ucap Chanyeol ramah. Kyungso sampai tidak tau ia harus mengatakan apa sekarang.
"Oppa", panggil Tao pelan. Chanyeol yang mendengarnya gentian menatap Tao. Disebut dengan oppa masih terasa tidak nyaman baginya walau ia mendengar panggilan itu setiap hari.
"Ne?"
"Aku fans beratmu, bisakah kita mengambil foto bersama?"
Chanyeol tersenyum, "Kau tidak jadi mengambil foto bunga-bunga itu? Kau bilang kau ingin melihat bunga yang tumbuh hanya saat musim semi?", tanya Chanyeol.
"Bisakah aku berubah pikiran? Aku bisa melihat bunga itu tahun depan. Tapi aku tidak tau apakah akan bertemu denganmu lagi tahun depan", ucap Tao.
Xiumin dan staf pria itu hanya menahan tawa. Bukankah tadi mereka berdua memaksa masuk? Namun hanya dengan bertemu Chanyeol mereka rela menunggu musim semi selanjutnya.
"Baiklah, kemarilah", Chanyeol merangkul Tao dan Kyungso di sisi kiri dan kanannya. Lalu menyerahkan kamera yang daritadi dibawa Tao kepada Xiumin. Xiumin mengambil langkah membidik gambar ketiga orang di depannya.
"Satu… dua… ti…ga…", suara jepretan kamera berbunyi. Xiumin melihat hasil gambarnya. Chanyeol tersenyum lebar kearah kamera, sedangkan ekspresi Tao dan Kyungso terlihat seperti orang yang baru bangun dari mimpi. Xiumin menyerahkan kamera itu kepada Tao.
"Maafkan aku karena ketidaknyamananmu", ujar Chanyeol menyesal.
"Tidak apa-apa, aku yang harusnya minta maaf karena membuat keributan", sergah Tao.
"Kalau begitu kami pergi dulu, selamat bekerja", Kyungso segera membungkuk hormat sebelum pergi. Ia menarik Tao dari sana.
Chanyeol balas membungkuk kepada Kyungso dan Tao. Kyungso dan Tao berjalan menjauh namun berkali-kali mereka menoleh hanya untuk melihat Chanyeol.
"Lihatlah, pesona seorang Park Chanyeol", goda Xiumin pada Chanyeol saat kedua wanita itu sudah pergi dari seperti tidak peduli. Ia segera mendekati staf yang lain untuk siap-siap syuting.
-ANTIFAN-
Baekhyun masih di ruang lab komputer kampusnya. Hanya ada dua orang di ruangan ini. Dirinya dan seorang mahasiswa dari jurusan lain. Baekhyun membuka file tugasnya dan mengirimkannya lewat e-mail untuk dosennya. Selain meminta tugas dalam bentuk hard copy, ia juga diminta mengirimkan dalam bentuk soft copy. Baekhyun tidak boleh mengeluh. Inilah yang harus ia lakukan untuk cepat mendapatkan kelulusan. Salahnya sendiri bolos ujian semester untuk menonton festival film hingga ke Seoul.
Baekhyun mengklik tombol 'send' setelah mengcopy semuanya ke e-mail.
"Akhirnya selesai", Baekhyun mengangkat tinggi kedua tangannya. Mencoba merenggangkan tubuhnya. Setelah ini ia tidak harus menyibukkan diri dengan tugas. Ia hanya harus fokus menjalani tugas liburan dari ayahnya.
"Ahh… pikirkan hal baiknya Byun Baekhyun. Setidaknya appa memberikan uang jajan lebih", Baekhyun mencoba menghibur dirinya sendiri.
Baekhyun merapikan kursi yang ia tempati tadi lalu beranjak keluar ruangan. "Oppa, aku duluan ya", Baekhyun pamit kepada satu-satunya orang di ruangan itu.
"Oh", jawab orang itu singkat.
Hari sudah mulai siang. Baekhyun sudah berjanji akan menggantikan ayahnya saat pukul 3 sore. Masih tersisa waktu satu jam lagi. Baekhyun segera bergegas ke halte menunggu bis lalu mampir ke supermarket kecil keluarganya.
Baekhyun sampai awal di supermarket. Ia melihat ada dua pelanggan yang sedang makan ramen di luar. Ia segera masuk menemui ayahnya.
"Kau datang awal", ucap ayahnya saat melihat Baekhyun.
"Hm", jawab Baekhyun singkat.
"Oh, noona sedang apa disini?", ucap seorang lelaki yang sepertinya sudah mengenal Baekhyun.
"Aku akan menemanimu menjaga supermarket. Kau senang kan?", sahut Baekhyun.
"Benarkah?", tanya lelaki itu terlihat tidak percaya. Setaunya Baekhyun sangat jarang mau ke supermarket. Bila kemari pun hanya untuk minta uang pada ayahnya.
Baekhyun mengangguk singkat lalu pergi ke ruang belakang. Ia mengganti pakaiannya dengan seragam lalu menggantung tasnya setelah itu beranjak keluar kearah kasir.
"Appa kembalilah ke rumah, aku akan mengurus sisanya", ucap Baekhyun saat melihat ayahnya berdiri di dekat rak minuman terlihat mencatat sesuatu.
Ayahnya mengangguk lalu melepas celemek dan memberikan kunci kepada Baekhyun. "Jam sepuluh malam tutup supermarketnya"
"Aku tau, setelah itu akan pulang ke rumah, appa jangan mengingatkanku lagi. Dan tidak usah mencemaskanku, jarak dari sini kerumah hanya beberapa meter", ucap Baekhyun.
"Tetap saja tidak baik anak gadis pulang sendirian malam-malam"
"Kalau ayah mengkhawatirkanku, mengapa menyuruhku melakukan ini?", protes Baekhyun.
Ayahnya memilih tidak menjawab. Dan pamit untuk pulang. Tidak lupa ia menitipkan Baekhyun pada Jongdae pegawainya.
"Noona, sebenarnya ada apa?", tanya Jongdae penasaran saat melihat Baekhyun masuk setelah mengantar ayahnya keluar.
"Aku hanya ingin bermain selama liburan. Berhenti bertanya dan bekerja. Tidak ada ayahku itu artinya aku atasanmu", ujar Baekhyun.
Jongdae hanya mendengus kesal lalu kembali memasukan minuman ke dalam mesin pendingin.
-ANTIFAN-
Hari ini Baekhyun benar-benar bekerja keras. Ia memang bukan pertama kalinya membantu ayahnya. Dulu ia sering melakukannya namun semenjak memasuki semester akhir, ia terlalu sibuk kuliah hingga jarang untuk sekedar melihat supermarket.
Baekhyun menghitung stok yang terjual hari ini, saat ada pelanggan ia akan berdiri di meja kasir, saat mobil dari supplier datang, ia akan mengecek barang apa saja yang datang. Dan kali ini Baekhyun sedang berada diluar toko. Memindahkan buah-buah apel dari keranjang kayu ke tempat khusus setelah itu akan dibawa kedalam supermarket untuk diletakkan di lemari pendingin agar tetap segar.
Baekhyun memindahkannya dengan hati-hati. Dan memilah mana buah yang masih segar dan sudah tidak segar. Ia meletakkannya di tempat yang berbeda.
"Ya Jongdae-ah!"
"Ne?", sahut Jongdae dari dalam toko. Ia segera keluar menghampiri Baekhyun.
"Bawa keranjang yang ini ke dalam", ujar Baekhyun. Jongdae menurut. Ia segera mengangkat keranjang buah yang sudah dipilah oleh Baekhyun. Sekarang Baekhyun hanya harus mengurus satu keranjang apel lagi.
Seorang pemuda tinggi berdiri di samping Baekhyun, lalu memilih-milih apel berwarna merah pucat tersebut.
"Ini berapa harganya?", tanya pria itu.
Baekhyun yang sibuk, hanya menjawab tanpa menoleh. "Lima puluh won"
"Hah?! Lima puluh won untuk buah sekecil ini?"
Baekhyun mendadak menghentikan pekerjaannya. Tangannya menggeram kesal. Ia harus menjelaskan betapa nikmatnya apel ini dan dipetik dengan hati-hati kepada pelanggan yang tidak tahu apa-apa ini.
"Kau mau membeli atau menghina apelku?", Baekhyun terkejut saat melihat siapa pelanggannya. Pria itu kini tersenyum lebar di hadapannya. Ini bencana. Bencana!
"Annyeong antifan, kau masih mengingatku kan?", tanya Chanyeol santai. Baekhyun merasa heran bagaimana caranya orang ini berada disini. Apakah setelah mendapatkan kartu identitasnya, Chanyeol menyelidiki tempat tinggalnya? Apakah orang ini sedang balas dendam meneror hidupnya?
"Ba-bagaimana caranya ka-kau bisa berada disini?", tanya Baekhyun dengan kalimat terputus-putus.
"Tidak penting bagaimana caranya. Apakah kau bekerja disini?", Chanyeol sibuk memperhatikan supermarket milik keluarga Baekhyun.
"Kau... untuk apa kemari?", Baekhyun geram melihat tingkah pria menjengkelkan itu.
"Hanya ingin tau tempat tinggalmu, aku baru saja dari sana."
"Mwo?!"
"Kau tenang saja, sekarang aku tidak akan membalas suratmu lewat e-mail, aku akan mengirimnya langsung ke rumahmu seperti caramu mengirimkannya ke rumahku", ucap Chanyeol dengan senyumnya yang membuat Baekhyun ingin muntah.
"Awas saja kalau kau berani melakukannya!"
"Kenapa? Kau takut ayahmu tau kau berurusan denganku? Anggap saja kita saling berkirim surat 'cinta'."
"Menjijikan, Pergi dari sini!"
"Pantas saja daganganmu sepi, kalau pegawainya galak sepertimu."
"Aku tidak butuh pembeli tidak tau diri sepertimu."
Chanyeol seketika berjalan pelan menjauh dari tempat Baekhyun berdiri, dengan membawa satu buah apel di genggamannya.
Baekhyun melihat Chanyeol menjauh. Ia tidak menyangka akan semudah ini mengusir aktor sok terkenal itu. Baekhyun kembali melanjutkan pekerjaannya. Memindahkan apel-apel itu. Tunggu! Apel? Ya, Baekhyun pun sadar apelnya dibawa oleh pria tidak tau diri itu tanpa membayarnya. Baekhyun melihat Chanyeol berjalan tak begitu jauh dari posisinya berdiri.
"Hei! Apelku…," teriak Baekhyun dan mulai berlari dengan langkah yang besar-besar.
"Tunggu!"
Chanyeol membalikkan badannya dan menggigit dengan senyum termanisnya, memamerkan buah apel di genggamannya. Melihat Baekhyun berlari mengejarnya, Chanyeol pun dengan sigap ikut berlari. Dia yakin antifannya itu tidak akan berhasil mengejarnya dengan dengan posturnya yang pendek dan body-nya yang bantet walau tidak gendut. Dengan semangat, Chanyeol berhasil melarikan diri ke dalam mobilnya dan melaju pergi. Ia melambaikan tangan keluar kaca melihat Baekhyun masih mengejarnya dari kaca spion. Ia tersenyum puas.
Baekhyun tampak ngos-ngosan. Ia tidak mampu lagi mengejar mobil itu.
"Dasar pencuri!", teriak Baekhyun.
Dengan berat hati Baekhyun kembali ke supermarket karena Chanyeol berhasil meloloskan diri. Dan hari ini ia harus siap ayahnya memotong uang jajannya karena lalai membiarkan satu apel tanpa dibayar. Menyebalkan.
-000-
-000-
-000-
TBC!
-000-
-000-
-000-
Chapter 4 Update!
Sejauh ini, ini adalah chapter terpanjang yang author ketik dengan 4.261 words.
Semoga reader suka ceritanya ya.
Author selalu berusaha menampilkan cerita-cerita yang unik di setiap chapternya semoga berhasil.
Author juga minta maaf apa bila ada kesalahan ketik.
Di chapter ini ada cast baru. Say welcome to Chen aka Jongdae! ^^
Sekian dulu salam-salam author. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Mohon reviewnya ya! ^^
Annyeong~
NB: Untuk yang minta akun sosial media atau e-mail author bisa lewat PM ya *author sok axis*
Paipai…
