MAAAAAAAAAAAAAAAAAF! Untuk para readers yang sabar nungguin fanfic yang nggak nongol-nongol iniiiii! *ditabok* yah, karena sudah terlanjur *dicincang* ini diaaaaaaa! Chapter selanjutnya dari Crown of Flowers!
Arigato untuk Hikage Natsuhimiko, Ameru-Genjirou-Sawada, Profe Fest, and Silent Melody 2413 yang sudah me-review dan terus mendukung!
Disclaimer : KHR bukan punyakuuuuuu! Kalo punyaku, Hibari pasti kubikin punya adek! *plak* Aku cuma punya Rasiel dan plotnya!
Hope you like it!
Hibari kembali melangkahkan kakinya ke lingkungan hutan Namimori. Dengan santai tapi tegas, pemuda itu melangkah dengan pasti melewati pohon-pohon yang berjajar dengan jarak yang lumayan rapat. Pandangannya yang dingin menatap lurus ke depan. Setelah sampai pada padang terbuka tempat ia biasa menemui Mirai – ya, Hibari memilih menyebutnya dengan nama itu daripada Rasiel.
Seperti biasa, sinar mentari yang menyilaukan mata dan menyengat kulit dengan panasnya melingkupi padang terbuka itu. Hanya satu hal yang membedakan; bunga-bunga bagaikan pelangi yang menutupi padang itu dengan berbagai warna, hilang tanpa jejak. Hanya bunga berwarna putih yang menyelimuti padang itu.
Hibari menaikkan alis ketika melihat pemandangan serba putih itu. Bunga-bunga itu seolah bercahaya dan menyilaukan mata ketika sinar matahari yang terik menerpa kelopak-kelopaknya. Hibari kembali melangkah mendekat dan berlutut demi memperhatikan bunga-bunga itu lebih dekat.
Carnation.
Sempat terbersit di pikiran Hibari bahwa Mirai pasti akan berteriak kegirangan ketika melihat pemandangan ini. Namun, pemikiran itu segera ditepis oleh pemuda bermarga Hibari itu ketika fakta bahwa Mirai sudah tidak ada lagi menamparnya keras-keras. Hibari nyaris meringis karena hal itu, tapi ia tidak mungkin menunjukkannya. Neraka harus membeku dulu sebelum ia berani menerapkannya di depan umum. Apa? Hibari Kyoya mengeluh? Bersiaplah untuk di gigit sampai mati.
"Midori tanamiku, Namimori no," suara dengan nada tinggi itu memenuhi udara yang hanya diisi oleh suara hembusan angin.
Hibari tidak perlu menoleh ke atas atau ke segala arah untuk mencari asal suara itu. Toh, ia sudah dapat menebak dengan mata tertutup suara apa itu.
"Dainaku shounaku, nami ga ii." Suara itu berhenti bersamaan dengan bertenggernya seekor burung berwarna kuning yang sangat bulat di atas kepala Hibari. Burung itu mengibaskan sayap-sayap kecilnya dan membuat dirinya yang mungil nyaman di antara rambut hitam sang Skylark.
Sempat terbersit, lagi, dipikiran Hibari bahwa Mirai pasti akan memekik ketika melihat dirinya datang bersama seekor burung kuning yang bisa menyanyikan lagu Nami-chuu. Hibari bahkan bisa membayangkan cengiran lebar gadis itu dan berkata 'kau lucu!' berulang kali sembari mengelus Hibird.
Sudut bibir Hibari berkedut sesaat ketika membayangkannya.
Angin berhembus, menyebabkan daun-daunan di pohon bergesekan satu sama lain dan membuat bunyi gemerisik. Rambut hitam sang Skylark juga dimainkan angin. Hibird mengepak-ngepakkan sayapnya dan terbang ke arah pohon besar yang berada di tengah padang, pohon yang biasa Hibari kunjungi ketika ia bersama maupun menunggu Mirai.
"Hibari! Hibari!" Hibird berkicau menyebut nama majikannya seraya hinggap di sebuah gundukan yang tertutup oleh tanaman merambat. Gundukkan itu berada diantara semak-semak yang berada jauh di seberang tempat Hibari berdiri. Pemuda itu segera berjalan dengan hati-hati agar tidak merusak bunga-bunga carnation yang menutupi rumput hijau.
Ketika sampai, Hibari berlutut dan menyingkirkan tanaman rambat yang menutupi gundukan itu. Keterkejutan mencengkram hati pemuda itu ketika melihat penampilan asli gundukan tersebut.
Sebuah batu nisan.
Batu nisan berwarna abu-abu yang sangat simple tanpa ukiran-ukiran rumit. Bentuknya pun sangat sederhana berupa setengah kapsul. Tulisan yang terukir diatasnya telah mengabur di makan oleh usia. Hibari membersihkan tulisan pada nisan tersebut dengan mengelapnya dan sebuah nama yang cukup jelas dan dapat dibaca.
Rasiel Nighthoven.
Hibari membaca kelanjutan kata-kata tersebut yang berupa garis miring beserta 'Saroma Mirai'. Hibird yang bertengger diatas nisan itu segera terbang untuk menyingkir dan mendarat di bahu pemiliknya.
"Aku baru ingin memberitahumu soal itu." Kata seseorang tepat di belakang Hibari. Pemuda itu memicingkan kedua matanya dan segera berbalik dengan cepat seraya mengayunkan tonfanya. Orang yang terkena ayunan tonfa itu pastilah akan langsung knock out, padahal sang Skylark tidak mengeluarkan usaha untuk itu.
Hibari segera menyarungkan kembali tonfanya ketika ia berhadapan dengan seorang pria tua yang mengenakan pakaian pegawai negeri sipil. Kacamata berlensa ganda bertengger di batang hidungnya, rambutnya yang telah keseluruhan berwarna putih menandakan bahwa pria itu telah berusia senja. Senyuman ramah penuh kebijaksanaan terlukis di wajahnya yang telah berkerut. Hibari menaikkan alisnya.
"Ah, ya, pasti Kusakabe-kun telah bercerita tentang Mirai dan bagaimana aku menolongnya." kata pria tua itu. Kata-kata itu membuat pertanyaan yang melayang-layang di otak Hibari terjawab.
Pria tua yang katanya mengenal Saroma Mirai.
"Aku ingin memberitahumu soal makam Mirai, Hibari-kun." Jelas pria tua itu, tidak menunjukkan ketakutan menyebut nama Hibari dengan embel-embel '-kun'. Biasanya Hibari akan langsung menghajar orang yang seenak jidat memanggilnya selain 'Hibari-san', tapi kali ini ia akan membiarkan hal itu.
Hanya kali ini.
Hibari baru menyadari adanya sebuah buket penuh dengan berbagai macam bunga ada di tangan pria tua itu. Lily, mawar, wysteria, hyacinth, dan anggrek, kira-kira itulah bunga-bunga yang ada dan dirangkai rapi di dalam buket tersebut. Pria tua itu meletakkan buket bunga itu tepat di depan batu nisan tersebut. Tangannya yang sudah berkerut serta kasar mengelus permukaan licin batu itu dengan lembut dan penuh kasih sayang, seolah ia mengelus kepala Mirai.
Gestur itu membuat hati sang Skylark terasa sedikit nyeri, mengingat Mirai sudah tidak mendapatkan lagi kasih sayang dan kehangatan orang tua sejak usianya sangat belia.
"Mirai… maaf, kakek tidak bisa mengunjungimu akhir-akhir ini…" kata pria tua itu dengan sedih. Nada penyesalan sangat kental terdengar di dalamnya. "Seharusnya, kakek mengunjungimu dan membersihkan batu ini… tapi, apa boleh buat, pekerjaanku makin menumpuk… aku makin sibuk. Waktuku untuk menemanimu termakan oleh pekerjaan yang terus memburu."
Hibari hanya bisa diam ketika mendengar penuturan tersebut.
"Tapi, Hibari-kun telah menemanimu 'kan? Kau pasti senang sekali karena ada anak seumuran denganmu yang menemanimu." lanjut pria tua itu, kali ini dengan nada yang kembali cerah. "Hari ini aku juga membawa semua bunga favoritmu sebagai tanda permintaan maaf."
Pria tua itu berbicara pada batu nisan tersebut seolah ia sedang berbicara pada Mirai. Tentu saja, batu itu benda mati, benda itu tidak akan membalas ucapan pria tua itu. Namun, kenyataan tersebut tidak menghentikan pria tua itu untuk terus berbicara, menceritakan tentang hal-hal yang ia lalui selama ia tidak mengunjungi pusara tersembunyi ini.
Hibari tetap menunggu.
Untuk pertama kalinya, ia betah menunggu.
Biasanya seseorang, baik perempuan maupun laki-laki, yang membuatnya menunggu akan mendapat hadiah berupa ciuman tonfa Hibari. Kali ini, entah kenapa, Hibari tidak mempunyai kuasa untuk mengayunkan tangannya dan menghantam pria tua itu. Bagian dari pikirannya berkata bahwa jika ia menyakiti pria tua itu, Mirai akan sedih, dan ia tidak mau itu terjadi. Walaupun akhirnya bagian dari pikiran milik Hibari itu langsung hangus terbakar ketika selesai memanjatkan kata-kata yang ternyata merupakan wasiat. Yah, salahkan kembali penyakit harga diri Hibari yang kembali kambuh.
"Hibari-kun." panggilan itu membuat Hibari tersentak dan kembali ke alam nyata. Pemuda yang bersangkutan bahkan tidak mengetahui bahwa sejak tadi ia melamun.
"Hn." balas Hibari singkat-padat menanggapi panggilan pria tua itu.
"Terima kasih sudah menemani Mirai selama aku pergi," kata pria tua itu. "Berkat kau, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya dibutuhkan."
Perasaan Hibari kembali campur aduk ketika mendengar kata-kata 'dibutuhkan'. Ia tahu Mirai selalu sendirian dan kesepian, nyaris sama seperti dirinya jika kata kesepian di coret. Hibari tidak mengerti apa itu perasaan 'dibutuhkan'. Selama ini, orang-orang membutuhkannya hanya karena kekuatannya, kekuasaannya. Sebagai contoh, Sawada Tsunayoshi dan Disciplinary Committee.
Namun, ia mengerti sekarang.
Perasaan senang, atau bahkan bahagia, ketika seseorang yang dekat denganmu sangat membutuhkan kehadiranmu. Bukan karena kekuasaan, kekayaan, atau hal-hal yang berhubungan dengan material, melainkan karena perasaan membutuhkan orang tersebut. Menandakan bahwa kau tidak sia-sia dilahirkan di dunia ini.
"Hn." hanya itulah jawaban yang keluar dari bibir Hibari. Pria tua itu tersenyum sebelum melangkahkan kakinya untuk berjalan meninggalkan padang tersebut. Hibari menoleh ke belakang, memastikan bahwa pria tua itu benar-benar telah pergi. Kemudian, pemuda itu berjalan mendekati nisan.
Tidak di sangka-sangka, sang Skylark berlutut di depannya, meletakkan kedua tangannya di permukaan batu tersebut, dan menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh permukaan batu nisan yang dingin tersebut.
"Mirai…"
Hibari bergumam dengan nada sedih yang akan terdeteksi jika kau benar-benar memasang telingamu. Pemuda itu menggigit bibirnya, sungguh ia berdoa, berharap bahwa gadis itu akan kembali. Hibari tidak dapat lagi menampis hal itu. Semakin ia berbohong, hatinya semakin sesak dadanya.
Sahabatku satu-satunya…
Itulah yang mungkin diteriakkan Hibari dalam hati. Ia tidak sanggup mengucapkan kata-kata itu secara langsung. Meskipun kata-kata itu telah berada di ujung lidahnya, entah kenapa ia memutuskan untuk menelannya kembali. Hibari sendiri tidak paham, apakah karena harga dirinya yang menahan hal itu? Atau memang ia tidak sanggup melakukannya?
Ia tidak paham.
Di tengah hatinya yang sangat dingin dan nyaris hancur karena memiliki terlalu banyak retakan, kehangatan aneh muncul tiba-tiba. Kehangatan itu menyelimuti hatinya hingga tubuhnya. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang menyesakkan kepalanya segera dibubarkan oleh kehangatan misterius itu.
Hibari-san!
Suara panggilan itu menggema di kepala Hibari. Pemuda itu mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan apakah suara itu nyata atau hanya imajinasinya saja.
Hibari-san!
Sekarang Hibari tahu bahwa suara itu bukanlah imajinasinya yang mulai meracuni otaknya. Hibari dapat dengan mudah membayangkan Mirai memanggilnya, sambil melambaikan tangan. Senyum lebar merekah di bibir gadis itu. Di satu tangan lain gadis itu terdapat mahkota bunga dari carnation putih yang sama persisi dengan yang Hibari terima.
Sekarang, Hibari dapat merasakan kehangatan di sekitar lehernya dan bahunya, seolah ada lengan yang melingkarinya. Hibari menarik nafas dalam-dalam. Aroma apel yang biasa ada pada Rasiel memasuki indera penciumannya.
Ayo kita buat mahkota bunga lagi!
Hibari tidak dapat menahan sudut bibirnya untuk naik, membentuk senyum kecil.
"Dasar gadis bodoh." gumamnya. Namun, ada jawaban lain atas ajakan tersebut. Jawaban itu ia katakana dalam hati.
Ayo.
End
.
.
YAK! Itulah akhir dari Crown of Flowers! Akhir yang aneh, bukan? *dilempar piso* terima kasih untuk para readers yang telah membaca cerita iniiiii!
Tenang saja! Karena VidaReale akan terus menerbitkan kumpulan fanfic baru! Meskipun pengerjaannya bisa buat orang yang nunggu jadi kering… *plak*
Yak, sekian basa-basi author untuk Crown of Flowers!
Please Review!
