Insainity
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : First fic CC—dibuat oleh empat author gila—, AU, typos, multiple pair and genre, DLDR.
.
.
"Dan, aku bertaruh, dia akan bertambah aneh setiap harinya," Karin mendorong salah satu bangku lalu duduk diatasnya.
"Oh, ayolah, Karin, itu belum seberapa," Naruko membuang permen karetnya. "Dia bergumam tentang aku dan project aneh dengan judul Insainity. Bah, dia pikir aku separah apa hingga berniat memasukkan namanya."
"Insainity.." Sakura mengulang ucapan Naruko sambil menahan tawanya. "Sai terlalu sering berduaan dengan kakakmu, Naruko.."
"Hn. Aku tahu itu."
"Kawan-kawanku tersayang, Sai bahkan bicara omong kosong tentang aku yang dengan senang hati telanjang dihadapannya." Ino mematahkan pensil yang ada di genggamannya.
"Hmm," Kiba mengalungkan lengannya ke leher Ino. "What about Sai, my dear? Was he naked, too?"
Ino mendengus. Ia memutar kepalanya hingga wajah Kiba hanya berjarak beberapa centi dengan hidung mancungnya. "He was fully dressed."
Seringai kecil bertengger di wajah Kiba. Ia melepas lengannya dari leher Ino dan memilih duduk di samping Naruko. Merampas snack yang seharusnya berada di pelukan gadis yang begitu mirip dengan Naruto itu. "Well, aku akan duduk disini dan berpura-pura percaya dengan ucapanmu, Ino."
Ino melempar bantal yang ada di pangkuannya. "Aku bicara apa adanya, dumbass!"
"Ugh." Kiba memeluk bantal yang mendarat di kedua telapak tangannya tersebut. "Sejujurnya, aku tidak keberatan untuk menemani Sai—"
"Kemari kau, Kiba." Ino menggulung lengan pakaiannya.
"Merry Christmas, Ino." Kiba tertawa sambil menelan keripik pedas milik Naruko. Menyebabkan makanan ringan itu tersangkut di kerongkongannya. "U—ugh!"
"Kau lihat? Tuhan juga membencimu, Inuzuka." Ino kembali duduk di sofa-nya. Senyum mengejek ia persembahkan khusus untuk Kiba.
"Oh, stop it, you two." Shikamaru menenggelamkan wajahnya ke bantal yang ia dapat dari kasur Temari.
"Entah kenapa, aku berharap kalian menikah setelah lulus sekolah." Temari bergumam pelan. Namun cukup untuk tiba di telinga Ino.
"Hell no." Ino melirik Kiba dengan tatapan yang cukup tajam. Ia mengeluarkan jari tengahnya, menunjuk wajah Kiba tanpa menatap pemuda berambut cokelat itu."He's not my style."
"Enough." Sakura menatap sekeliling. "Ada yang berkenan memberitahuku kenapa Shino tidak muncul hari ini?"
.
.
Chapter 4 : Suspense — Humor
By : Ri (CC) a.k.a Minyuurichi
Made for #CCProject1
.
.
Ding..! Dong..!
Shino meletakkan gitarnya. Ia melirik jam biru yang menempel di dinding—untuk mendapati kedua jarum yang menunjukkan pukul sembilan di pagi hari. Suara bel semakin rajin menyambangi telinganya. Membuat Shino yakin tamu-nya tersebut tak mengenal kata 'sabar'. Dalam beberapa langkah, ia tiba di pintu apartemen-nya.
Klik.
Di sisi lain daun pintu, berdiri seorang Shimura Sai dengan senyuman lebar yang bertengger di wajah pucatnya. Shino tidak mengharapkan akan kedatangan tamu di hari liburnya, apalagi dikunjungi oleh si-anti-sosial Shimura Sai.
Oke, dia mungkin juga seorang anti-sosial. But, you know what I mean.
Tangan Sai bergerak. Menunjukkan kue dengan cream berwarna merah muda yang menghiasi bagian atasnya. Ditambah dengan bubuk gula dan taburan coklat yang bertebaran di sekitartubuh si cupcake.
"Cupcake?" si–tersenyum–Sai berucap. Manis. What.
Shino membanting daun pintu apartemen-nya.
.
.
.
"Guys, aku serius," Sakura mengetuk papan tulis dengan spidol di tangannya. "Sai butuh bantuan."
Ino bangkit dari tempat duduknya. "Aku setuju, forehead. Sai-kun butuh pertolongan. Atau dia akan bertambah buruk setiap harinya."
Naruko menatap kedua rekan-nya. Ia meletakkan kedua kaki panjangnya ke sandaran bangku Ino. "Hm. Aku tidak mau mendengar ucapan ngelanturnya tentang klon, gen, atau apapun itu, yang memasukkan namaku."
"Dan aku tidak ingin Sai mengucapkan sesuatu tentang aku menjadi hantu, atau tentang mutilasi generasi pirang."
Drrt… Drrt…
"Oh, lihat," Ino mengambil ponsel-nya yang tergeletak di atas meja. Saat ia menatap layar ponsel-nya, senyum Ino mengembang. "Aku mendapat pesan!"
Sakura memutar bola matanya. "Ino, ini bukan pertama kalinya kau mendapat sms.."
"Dari…" Mata Ino menyipit saat melihat nama si pengirim sms. "Shi—" Lalu ia menghembuskan nafasnya. Dengan sebal, Ino berjalan mendekati bangku Shino. "Shino-kun, apa kau terlalu malu untuk menyatakan cinta-mu kepadaku secara langsung?"
Shino tetap diam. Ia bahkan tak melirik Ino yang berdiri disampingnya.
"Shi—"
"Tolong baca pesanku terlebih dulu, Yamanaka-san."
Ino mendengus. Ia segera membuka kotak masuk-nya. Membaca sebuah pesan yang dikirim oleh Shino beberapa detik yang lalu.
From : Aburame Shino
Dia menawariku cupcake kemarin.
"Dia menawariku cupcake kemarin." Ino membaca pesan Shino dengan volume suara maksimal. "Psh."
"Dia?"
"Dia siapa?"
Ino tak menghiraukan pertanyaan Naruko dan Sakura. Perhatiannya masih terfokus pada pemuda berkacamata yang duduk dengan begitu tenang di bangkunya. "We're sitting in the same room, why are you chatti—"
"Sai."
"What the—I'm talking to you, idiot!"
"Oh, maaf, Ino.." Shino membetulkan letak kacamatanya. "Aku hanya berbicara pada orang yang menggunakan bahasa Jepang."
Ino bersumpah ia melihat bibir Shino membentuk seringai kecil. Dan itu membuatnya kesal setengah mati.
"Aku membencimu, Shino. Tidak. Sungguh. Argh! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" Ino menghentakkan kaki-nya lalu berlari menjauhi ruang kelas.
"Bye, Ino." Sakura menutup pintu ruang kelas. Ia kembali ke posisi awalnya—berdiri di bagian terdepan ruang kelas. "Jadi, Shino, kau juga korban keanehan Sai?"
"Kau bisa menganggapnya seperti itu."
"Bagaimana rasa cupcake buatan Sai?"
"Aku tidak menerimanya. Dan, aku tidak yakin dia yang membuatnya."
"Shino benar, Naruko," Karin menepuk pundak Shino. Seolah memberinya salam duka cita. "Sai bahkan tidak tahu cara memegang pisau."
"Apa hanya aku yang belum menjadi korban Sai?" Kiba mengangkat tangannya.
"Aku juga." Shikamaru menerawang langit-langit ruang kelas. "Maksudku, aku bukan salah satu dari kalian." lanjutnya sambil menatap Sakura.
"Ah!" Kiba tersenyum konyol. "Sai tidak menyerang manusia dengan kepintaran di atas rata-rata. Kau tau, seperti aku dan Shikamaru."
"Teruslah bermimpi, Kiba, itu baik untuk kesehatan otakmu."
"Hey," Naruko berdiri dari bangkunya. "Anggap aku gila, tapi sepertinya Tuhan memberiku semacam—um—petunjuk…?"
"Jangan bicara ngelantur, oke?"
"Tidak, tidak," Naruko mengambil alih posisi Sakura. "Aku akan mengirim kalian sms nanti."
"Oh, ayolah, Naruko…"
"Aku harus pulang sekarang," Naruko membuka pintu ruang kelas. "Sampai jumpa nanti malam, guys!" lalu menutupnya dengan cukup keras.
.
.
.
From : Uzumaki Naruko
Hai, kalian! kkk
Karena besok adalah hari libur nasional, bagaimana kalau kita begadang malam ini?
Shino-kun, kau tinggal di bangunan yang sama dengan Sai-kun, 'kan? Kau harus hadir malam ini, oke? Kau kunci perjalanan kita! :D
Midnight school, anyone? Hehehe :D Maksudku, bagaimana kalau kita berkumpul di depan sekolah? Karena hanya tempat itu yang setiap dari kita tahu lokasinya.
So, see ya~
Love and hugs,
Naruko
.
.
.
"You've got to be kidding me."
"No, I'm not." Naruko mendorong pundak Sakura. "Lakukan saja, oke?"
"No. Fucking. Way."
"Oh, Sakura-chan… Yang harus kau lakukan hanya berjalan kesana, sedikit berakting, dan kita akan mendapat kunci duplikat itu."
"Kenapa harus aku, Naruko?!"
"Ugh, karena kau adalah ketua klub drama. Ayolah, Sakura… Please?"
Sakura menatap kawanan yang berdiri di belakang Naruko. Mereka tampak tak peduli—kecuali Karin dan Ino—. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke Naruko yang bersiap menerkamnya dengan sepasang puppy-eyes. Ugh. Dia, mau tidak mau, harus menyerah kali ini.
"Oke." ucapan Sakura disambut sorakan Ino dan Naruko. "Kalian berhutang banyak padaku."
"Aku mencintaimu, Sakura-chan~"
.
.
.
"Tuan, aku butuh kunci duplikat ruang apartemen milik Shimura Sai."
"Maaf, nona, anda siapa?"
"Shimura Ino."
"Dan hubungan anda dengan Tuan Shimura Sai?"
Sakura mengambil nafas. Ia memejamkan matanya. Erat. Lalu membuka kelopaknya perlahan. Memamerkan manik emerald-nya yang dibumbui dengan amarah yang ia buat se-natural mungkin. "Siapa?! Bah! Kau tanya kepada Shimura Sai siapa aku untuknya!"
"Maaf, no—"
"Kau tanya padanya, tuan! Kau tanya pada keparat satu itu siapa aku di matanya! Dia pikir dia bisa lari begitu saja setelah menyakiti perasaan Okaa-san?!"
"Maafkan saya, nona, namun menurut prosedur perusahaan, kami tidak diperbolehkan untuk—"
"Kau punya ibu, tuan? Kau tau rasanya seorang ibu yang merindukan putra kesayangannya?"
"Ta—"
"Aku tahu kau dibesarkan oleh tangan seorang ibu yang luar biasa." Sakura berharap matanya sungguhan meneteskan air mata. "Aku sebagai kakak tirinya merasa tak berguna telah membesarkan seorang pemuda seperti dia. Okaa-san begitu mencintainya, menyayanginya dengan sepenuh perasaan yang beliau punya. Tapi, lihat dia! Berhasil lari ke kota dan lupa siapa dia sebenarnya! Lupa siapa yang memberinya semesta selama ia masih di desa!"
Sakura bisa merasakan air asin yang mengalir di bibirnya. Ia menatap pria itu dengan akting sempurna. "Dan ia tinggalkan ibu di desa. Kesakitan. Merindu putranya yang tak pulang-pulang. Sakit, tuan… Sakit…"
"Nona…"
"Kumohon, tuan…" Sakura menjatuhkan diri. Membuat lututunya menumpu berat badannya yang akhir-akhir ini naik beberapa kilo. "Kumohon bantu gadis desa ini untuk bertemu adik nya. Untuk memberitahunya betapa Okaa-san sangat merindukan senyumannya."
Damn, my knees hurts. "Kumohon, tuan… Kumohon…"
Mata Sakura sedikit melirik pria yang berdiri dihadapannya. Sakura tahu si pria mulai ragu dengan prinsip-nya. Mungkin merasa tergerak hatinya oleh cerita karangan Sakura. Damn it, kapan kau akan memberiku kunci duplikat itu...
"Ini…" Sakura hampir menjatuhkan bola matanya saat mendengar suara pria itu. "…sampaikan pada Tuan Shimura Sai untuk lebih menghormati dan menyayangi ibunya. Tuan Shimura Sai begitu beruntung memiliki saudara seperti anda, nona."
Sakura melompat dari posisi-nya. Ia segera mengambil kunci duplikat itu dan memeluk pria paruh baya tersebut. "Oh God! Thank you!"
.
.
.
"Kita disini," Naruko bisa merasakan jantungnya berdetak begitu keras.
"Hn." Hanya itu tanggapan dari Shikamaru.
"Kapan kita membobol pintu ini, guys? Kalian tidak akan dapat apa-apa jika hanya berdiri seperti orang bodoh disini."
"Tunggu. Bagaimana kalau dia tahu kita ada disini? Bagaimana kalau ternyata Sai menyimpan bom, pistol, atau semacamnya, dan membunuh kita disinni? Bagaimana kalau Sai—"
"Bagaimana kalau kita masuk dulu ke dalam, mencari apa yang kita perlukan dan pulang?"
"Tapi—"
"Oh, ayolah, Ino… itu semua sudah menjadi konsekuensi-nya sejak kau bergabung dengan kita satu jam yang lalu…"
"Uh. Tetap saja. Aku tidak mau mati ditangan Sai sebelum aku berhasil menikah dan bahagia dengan Sasuke-kun."
Klek.
"What the fucking fuck, Shino!" Kiba hampir menjerit saat melihat Shino dengan santainya memutar kunci yang tertanam di lubang daun pintu apartemen Sai.
"Kalian terlalu lama berdiskusi," Shino mengangkat bahunya. "Dan itu menghabiskan terlalu banyak waktu."
.
.
.
"Eww…" Karin menatap jijik sesuatu yang membuat alas kaki-nya basah.
"Ssh!"
"Kalian tidak jijik? Lihat cat-cat ini! Menggelikan! Seharusnya seniman menghargai—"
"Sssh!"
"Okay.. okay…"
Shino hanya menghembuskan nafasnya. Masih tak percaya ia melibatkan diri di rencana gila ini. Delapan remaja dengan tubuh yang menginjak dewasa mengendap-endap di sebuah apartemen berukuran kecil tengah malam hanya untuk sesuatu yang sungguh di luar nalar.
Tapi, sejujurnya, Shino sendiri merasa aneh dengan keadaan apartemen Sai. Aroma cat miyak bercampur dengan udara di dalam ruangan. Seluruh sumber cahaya dipadamkan—tidak terlalu mengejutkan sebenarnya, karena ia sendiri juga seperti itu—namun, Sai membiarkan tirai-nya terbuka, seolah menyuruh cahaya bulan untuk menyambangi kediamannya. Koran bekas bertebaran dimana-mana. Ia bahkan bisa mencium bau rokok yang entah darimana asalnya.
"Oh, shit!"
"Kiba?"
"Aku menginjak sesuatu."
"Cat?"
"Bukan..." Kiba mengangkat kakinya. Ia melepas sepatunya dan mendekatkan alas sepatu itu ke indra penciumannya. "…baunya seperti cat. Tapi, aku bersumpah, aku tidak hanya menginjak cat! Sungguh!"
"Kiba, kau membuatku takut." Shino dapat mendengar suara Sakura yang sedikit bergetar. "Guys, aku merasa aneh dengan ini. Bagaimana kalau kita—"
Click.
Seluruh dari mereka tak bergerak dari posisinya. Terlalu terkejut dengan lampu utama yang tiba-tiba menyala. Shino mampu mendengar derap jantung kawan-kawannya yang begitu keras.
Ia menyempatkan diri untuk melirik sesuatu yang berada di bawah kaki Kiba.
"Ugh." Memuntahkan makan malamnya terasa begitu menggoda saat itu.
Ya, Kiba memang menginjak sesuatu dengan cat diatasnya. Itu sebuah lukisan. Dengan cat yang belum mengering sempurna. Ia bisa melihat bekas sepatu Kiba dengan sedikit sereten di sana. Namun, bukan itu yang membuat ia ingin segera mengeluarkan isi perutnya.
Lukisan itu terdiri dari delapan orang. Dua pirang. Dua cokelat. Satu hitam. Satu merah muda. Dan satu merah. Hanya kepala. Dengan wajah yang sedikit terkoyak dan darah dimana-mana. Digantung di sebuah ruangan yang nampak seperti ruang kelas.
Satu yang Shino tahu. Itu mereka.
"Oh, hai, kalian," Shino hampir kehilangan nafasnya saat mendengar orang yang menyalakan lampu itu berucap. "Kalian mampir untuk makan malam?"
"S—S–Sai-kun…"
"Ya, Ino-chan?"
"T—ta–tangan…"
"Hm?"
"I–itu apa?"
"Ini?" Sai mengangkat tangan kanannya. Menunjukkan kresek hitam yang terlihat cukup berat. Lalu ia tersenyum lebar. "Makan malam."
"Ma–makan malam?"
Sai tersenyum. Matanya membentuk bulan sabit yang nyaris sempurna. Shino tahu ada yang salah. Apalagi saat ia melihat tetes darah mengalir dari kresek besar itu. Dan sebilah pisau yang sedikit terlihat saat Sai menggerakkan tangan kirinya.
"Hm. Dan," Sai mengambil satu langkah maju. Membuat seluruh dari mereka, termasuk Shino, bergerak dua langkah ke belakang. "Sepertinya makan malam-ku bertambah beberapa porsi hari ini."
.
.
END
(4/4 Completed)
.
.
A/N :
Yup. Rie ngantuk berat. Dan benar-benar ngelindur saat membuat chapter ini. Maafkan Rie karena ngaret untuk publish last chap ini *bow*
Jangan tanya humor-nya dimana. Itu bukan bidang Rie. Jangan tanya juga suspense-nya bagian mana. Rie bahkan nggak tahu suspense itu bentuk-nya gimana (._.v)
By the way, Happy New Year!
Terima kasih untuk kalian yang telah membaca.
Rie.
