PRANKK!ㅡBaekhyun menatap nanar sendok yang baru saja Chanyeol jatuhkan. "Makanan apa ini? Kau pikir aku sudi memakan sampah, hah?"

Baekhyun menghela nafas. "Maaf."ㅡselalu ia ucapkan ketika tak ingin memperpanjang masalah, dimata Chanyeol apapun yang Baekhyun lakukan selalu salah, bahkan hal sepele saja mampu menyulut amarah berkepanjangan pemuda itu.

Chanyeol beranjak meraih kunci mobil kemudian pergi tanpa berkata apapun.

.

.

Hard to Say 'I Love You'

.

Chapter 4

.

ChanBaek

.

Boy Love, Yaoi, OOC, Typo(s)

.

Don't Like Don't Read

No Bash No Flame

.

.


Happy Reading


.

.

"Dia benar-benar payah." Chanyeol menatap kekasihnya datar, memeluk bahu sempit itu sembari berjalan melewati halaman rumah Kyungsoo, baru pulang makan malam bersama.

"Baby, jangan membuatku mengingatnya." tanggap Chanyeol, melihat wajah kesal itu membuat Kyungsoo ingin tertawa.

Mereka berhenti di depan pintu rumah. "Sudah pulang sana!" usir Kyungsoo main-main.

"Kau tidak menawariku mampir sebentar?"

"Baiklah, masukㅡ"

Drrtt drrtt drrtt..

"S-sebentar, Yeol." pinta Kyungsoo melihat nama 'Kim Jisuk' di layar ponselnya.

"Siapa?" Chanyeol penasaran melihat reaksi terkejut Kyungsoo.

"Teman." jawabnya cepat. "Yeoboseyo?"

"Hyung~ uhukㅡ" sahut seseorang, suaranya berbeda, terdengar lemah. 'ada apa dengan Jongin?' batin Kyungsoo, raut wajahnya berubah khawatir. Jongin? Ya, Kyungsoo sengaja memberi nama samaran itu untuk nomor ponsel Jongin.

"Kau dimana? Sepertinya aku sedang tidak enak badan, bisakah kau menemaniku malam ini?" Jongin memohon.

"Benarkah? Kupikir aku melupakannya?ㅡtentu, noona, aku akan segera kesana."

"Noona? Nugu?ㅡHyung, jangan becanda.."

"Aku mengerti." tekan Kyungsoo. "Sepuluh menit lagi aku akan tiba disana."

"Tapi, hyungㅡ" Kyungsoo cepat-cepat memutuskan sambungan. 'Jongin, bodoh! Bisa-bisanya dia tidak mengerti situasi.' rutuknya.

"Ada apa?"

Kyungsoo menghela nafas. "Aku lupa memiliki janji dengan Jisuk noona, membahas proyek pengadaan hutan kampus di rumahnya. Aku harus kesana malam ini." bohongnya.

Dahi Chanyeol berkerut, nampak curiga membuat Kyungsoo gugup, biasanya ia dapat mengendalikan diri namun bersama Chanyeol semua menjadi kacau.

Chanyeol tersenyum lebar, mengacak gemas rambut hitam Kyungsoo. "Dari dulu penyakit pelupamu itu tidak juga hilang."

Mata bulat Kyungsoo sedikit melebar. "Ya! Kau ini." gerutunya pura-pura kesal, menangkis tangan besar Chanyeol dari kepalanya.

"Kau pulang jam berapa? Aku akan menjemputmu nanti."

"Aku tidak akan pulang, Yeol." melihat Chanyeol yang terkejut, Kyungsoo cepat-cepat meralat ucapannya. "ㅡtugasku sangat menumpuk, kami akan menginap bersama-sama."

"Tidak bisa ditunda ya?" Chanyeol berharap.

"Jangan memasang wajah seperti itu atau aku akan pergi dengan perasaan menyesal." pinta Kyungsoo.

Chanyeol tersenyum cerah. "Pastikan lain kali kita bisa menghabiskan waktu bersama. Aku merindukanmu."

"Aku janji."

.

Kyungsoo berlari masuki halaman luas rumah Jongin, segera menuju kamarnya di lantai dua. "Jonginie.." panggil Kyungsoo lirih, memasuki kamar dengan langkah pelan.

"Hyung, kau datang?" tanyanya lemah, Kyungsoo buru-buru menghampiri.

"Apa yang terjadi padamu? Bagaimana ceritanya kau bisa sakit seperti ini?" tanyanya cemas.

Panas. Itu yang Kyungsoo rasakan saat menyentuh kening Jongin, pemuda bebal ini benar-benar sakit rupanya. "Aku tidak tahu, ini tiba-tiba." jawab Jongin.

"Kau sudah makan?"

"Belum."

"Tidak ada yang tahu kau sakit, dimana semua maid-mu?" tanya Kyungsoo kesal, merasa tak ada yang mempedulikan Jongin disini. "Mereka semua tidak berguna." umpatnya

"Sengaja."

"Huh?"

"Aku tidak mau mereka merawatku dan sengaja menunggumu sampai datang." jelas Jongin.

"Kau gila, Kim." desis Kyungsoo. "Kauㅡ"

"Aku tidak ingin berdebat." sela Jongin. "Aish, kepalaku bertambah pusing sekarang." keluhnya.

Kyungsoo menghela nafas, mengalah. "Aku akan membuat bubur dan mengambil obat penurun demam."

Rencana menghindari Jongin terpaksa batal setelah melihat keadaan lemah pemuda itu membuat rasa kesal Kyungsoo menguap begitu saja, ia tak tega.

"Kau masih marah karena kejadian kemarin?" Jongin membuka suara setelah Kyungsoo masuk dengan membawa nampan berisi mangkuk bubur, gelas air putih, dan obat penurun demam.

"Tidak." balas Kyungsoo cepat, meletakkan yang ia bawa diatas meja nakas.

"Kau marah, hyung. Katakan saja dengan jujur."

Kyungsoo menggeleng pelan, lagi-lagi bukan jawaban yang membuat Jongin merasa puas. "Ck, kau benar-benar marah ternyata." Jongin segera membungkus tubuhnya dengan selimut, membelakangi Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng pelan melihat kelakuan kekasihnya. "Aku sudah tidak marah padamu, melihat kau sakit aku jadi tidak tega, rasa kesalku menguap entah kemana."

"Benarkah?"

"Ya, keluar dari balik selimutmu sekarang juga." perintah Kyungsoo, Jongin menurut. "Makan dan minum obatmu lalu istirahat." Kyungsoo mengaduk bubur yang masih panas itu, meniupnya agar dapat segera Jongin makan.

"Aku tidak lapar." celetuk Jongin pelan.

"Eoh? Kau tidak ingin cepat sembuh?" tanya Kyungsoo. Jongin tak menjawab. "Buka mulutmu."ㅡmendekatkan sendok bubur pada mulut Jongin.

"Tidak mau."

"Kau ini, ishㅡapa yang harus ku lakukan agar kau mau makan dan meminum obatmu, Jonginie? Mengurusmu merepotkan." gerutu Kyungsoo tak sabar.

"Sama sekali tak merepotkan, hyung."

"Lalu?" Kyungsoo bertanya malas.

"Aku mau makan jika kau menyuapiku."

Kyungsoo segera mendelik. "YA! Kim Jongin! Kau pikir apa yang ku lakukan, hah? Sedari tadi aku sudah ingin menyuapimu, bodoh!" umpat Kyungsoo kesal, tak mengerti jalan pikiran kekasihnya itu.

"Aku tidak ingin disuapi seperti itu, Kyungie hyung." jawabnya manja membuat Kyungsoo berusaha keras menahan keinginannya untuk menjitak kepala Jongin yang masih sakit, seperti yang pernah Chanyeol katakan, pukulan Kyungsoo sangat kuat dan menyakitkan, mengingat itu membuatnya harus benar-benar menahan diri.

"Lalu yang bagaimana kau menginginkannya?" Kyungsoo berusaha mengikuti kemauan Jongin sebelum emosinya meluap.

"Dengan bibirmu."

"MWO?!"

.

.

.

.

Baekhyun berdiri kaku ketika seseorang memeluk perutnya dari belakang, menumpukan dagu dipundaknya hingga terpaan nafas hangat itu membuat kedua mata Baekhyun terpejam. "Hyung, kauㅡ"

"Maaf.." suara dibelakang terdengar serak.

Baekhyun segera berbalik, memeluk pemuda itu erat. "Luhan hyung~" panggilnya masih tak percaya. "Syukurlah kau baik-baik saja."

Tangis Luhan seketika pecah. "Maafkan aku, Baekhyun-ah hiksㅡ" Baekhyun melepaskan pelukan mereka, jari telunjuknya menyentuh bibir Luhan, memintanya diam.

"Kau membuatku ingin menangis juga, kau tahu?" ia pura-pura kesal, tangan Baekhyun terulur mengusap air mata Luhan dengan ibu jarinya.

Luhan menepisnya pelan. "Mengapa kau lakukan ini?"

"Aku hanya tidak ingin kau pergi."

Luhan mengerang, merasa menjadi orang paling jahat di dunia ini, pemuda itu tersentak mengingat sesuatuㅡ"Kris?" menatap mata Baekhyun, memastikan pemuda itu tak akan berbohong. "Dia tahu tentang ini?"

Baekhyun tersenyum miris. "Ya."

Luhan terbelalak. "Kalian putus?ㅡYa Tuhan, maafkan aku."

"Tidak, hyung." sela Baekhyun cepat, menggigit bibir bawahya. "Kami baik-baik saja."

"Kau berbohong." Baekhyun menggeleng pelan. "Berhenti menyiksa diri sendirimu, Byun Baekhyun." ucap Luhan putus asa, tak menyangka perbuatan bodohnya tempo hari memberi banyak efek buruk.

"Kris sedang bekerja, sibuk sekali." Baekhyun enggan menatap mata Luhan. "Dia berjanji akan segera menemuiku setelah urusannya selesai." dustanya.

.

"Pelan-pelan, Jongdae-ya."

Jongdae memutar bola matanya malas mendengar keluhan Baekhyun untuk kesekian kali. "Ya! Ya!ㅡkau menekannya terlalu keras. Akh, sialan!" pekik Baekhyun meringis.

Jongdae menghentikan kegiatannya, mengarahkan tatapan tajam pada Baekhyun. "Cerewet!ㅡkau pikir ini rumah nenekmu, seenaknya saja kau berteriak dengan suara cemprengmu itu. Kau tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini." gerutu Jongdae ikut kesal. Mereka berada diruang kesehatan kampus sekarang, Kyungsoo sengaja mengaitkan kaki saat Baekhyun melewati koridor, membuat ia terjatuh dan mendapat luka lecet di telapak tangan.

"Kau seharusnya lebih berhati-hati, bodoh!"

"Aku tidakㅡ"

"Diam! Aku belum selesai."

Baekhyun menatapnya aneh. "Lanjutkan."

"Biarkan sekali saja aku membalas perbuatan si pendek itu." Baekhyun menggeleng tak setuju. "Kau tahu sendiri setetes darah ini tidak boleh terbuang sia-sia, ini menyangkut kelangsungan hidup seseorang." Jongdae mengambil plester. "Berikan tanganmu!" Baekhyun menurut. "Nah, selesai." ucapnya setelah plaster itu terpasang.

"Terima kasih."

Jongdae mengangguk singkat, merapikan kembali apa yang sudah ia ambil kedalam kotak obat. "Kupikir Luhan hyung harus mengetahui ini mengingat kau sudah mendapat perlakuan tidak menyenangkan hampir sebulan terakhir. Keterlaluan, kau bahkan tidak berani melawan."

"Aku punya alasan." jawab Baekhyun singkat. "Kujamin kau akan merasakan tendangan hapkido-ku jika berani mengadu pada Luhan hyung." ancamnya.

GlupㅡJongdae menelan ludahnya kasar, masih segar dalam ingatannya saat ia dengan suka rela menawarkan diri menjadi lawan tanding Baekhyun, salahnya juga terlalu percaya diri melihat postur tubuh Baekhyun lebih mungil darinya, lagipula di mata Jongdae Baekhyun terlihat seperti lawan yang lemah dan dapat dikalahkan dengan mudah. Dugaannya salah setelah ia tak dapat bangun dari ranjang selama satu minggu penuh karena cidera punggung, bukan Baekhyun yang memberikan itu melainkan Jongdae jatuh tergelincir saat menghindari serangan Baekhyun. Ketika Baekhyun datang menjenguk ia berkata Jongdae beruntung karena tak perlu merasakan tendangannya yang mungkin rasa sakitnya akan lima kali lipat dari ini, detik itu juga Jongdae pikir Baekhyun menyeramkan!

"Baik, baik." Jongdae menyerah. "ㅡaku tidak akan mengadu."

"Bagus." Baekhyun beranjak. "Aku harus pergi keperpustakaan untuk meminjam buku, aku akan kembali sebelum kelas dimulai."

Mereka keluar bersama, Baekhyun berhenti mendengar sesorang memanggil namanya. "Ah, Minseok hyung, sudah lama aku tidak melihatmu. Jongdaeㅡ" Baekhyun mengernyit menyadari sosok Jongdae sudah menghilang.

"Dia langsung pergi begitu melihatku." jelas Minseok, suniornya.

"Kalian bertengkar?" tebak Baekhyun.

"Hanya masalah kecil."

"Ya!" Baekhyun memukul pundak Minseok main-main. "Cepatlah berbaikan. Kau tahu bukan Jongdae mudah sekali salah paham." Minseok mengangguk dengan wajah muram. "Mau menemaniku keperpustakaan?"

.

.

.

.

"Kau yang bernama Kim Jongdae?"

Jongdae mengalihkan fokusnya pada buku yang ia baca, menemukan Kyungsoo sudah duduk depannya. "Kemana Minseok hyung pergi?"

Hampir saja Jongdae melayangkan buku tebalnya pada wajah Kyungsoo jika tak ingat pesan Baekhyun untuk tak ikut campur. "Aku tidak tahu, ini bukan kelasnya. Kau salah alamat."

"Kau kekasih Minseok hyung, bukan? Bagaimana bisa kau tidak tahu kemana kekasihmu pergi?" Kyungsoo berdecak sebal. Jongdae memilih tak peduli, kembali menyibukkan diri dengan bukunya sementara Kyungsoo mendengus karena diacuhkan.

"Kyungie hyung." Jongin mendekati tempat Kyungsoo. "Ternyata sedari tadi kau berada disini. Aku sudah mencarimu keseluruh penjuru kampus ini. Hah, aku lelah sekali." keluh Jongin.

"Kau berlebihan, Jonginie. Aku sedang mencari Minseok hyung untuk membahas proyek hutan kampus." jelas Kyungsoo.

"Minseok hyung?" Jongin terlihat berpikir. "Aku sempat melihatnya diperpustakaan tadi, dia sedang bersama kekasihnya."

"Kau ngelindur?" Jongin mengerutkan dahi tak mengerti. "Kau pikir dia siapa?" Kyungsoo menunjuk Jongdae disana.

"Kim Jongdae disini?" Jongin sedikit terkejut. "Lalu siapa yang bersama Minseok hyung? Kupikir itu kau karena mereka terlihat sedikit bisa dibilang eumm, maafㅡmesra." cicitnya diakhir kalimat namun sukses membuat Jongdae tersulut, hubungan mereka memang tengah bermasalah namun Jongdae tak mengira secepat ini Minseok menemukan pengganti, ia bahkan belum mengucapkan putus.

"Kau becanda? Maksudku Minseok hyung memang wajar berada diperpustakaan tapi kauㅡ" Kyungsoo berhenti berkata kemudian tertawa melihat wajah masam Jongin.

"Kau menghinaku, eum?

"Tidak, hanya sajaaaㅡ"

"YA!" tubuh Kyungsoo terdorong, Jongin segera mengapitnya. "Kau akan kuhukum." Jongin baru akan melancarkan aksinya sebelum terdengar teriakan kesal Jongdae.

"Berhenti membuat keributan disini!"ㅡsukses membuat mereka menoleh kaget.

"Ada apa dengannya?" Jongin bertanya heran setelah Jongdae keluar dari kelas.

"Entahlah" jawab Kyungsoo acuh.

.

.

.

.

Baekhyun menggerakkan kakinya gelisah, tidak sabar lebih tepatnya, menunggu Minseok yang pergi meninggalkannya sepuluh menit yang lalu. "Hyung.." ia segera berdiri dari tempat duduk melihat Minseok berjalan mendekat, mimik pemuda itu tak terbaca, menambah rasa khawatir Baekhyun. "Bagaimana?"

Minseok menghela nafas. "Kami putus."

Baekhyun terbelalak, ia hampir berlari meninggalkan Minseok sebelum pemuda itu mencegahnya. "Sudahlah."

"Tidak bisa seperti itu, hyung. Ini salah paham. Aku harus menjelaskan pada si bodohㅡ"

"Baekhyun-ah." tatapan Minseok memohon. "Jangan lakukan apapun.."

Baekhyun menunduk pasrah. "Maafkan aku, hyung."

"Bukan salahmu."

.

"Aku tidak menyangka kalian melakukan ini dibelakangku." suara seseorang menginterupsi membuat Minseok dan Baekhyun saling menjauhkan diri, ini salah paham.

"Jongdae-yaㅡ"

"Lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggu." sela Jongdae sinis.

"Kau salah paham, aku dan Minseok hyung hanyaㅡ"

"Berciuman. Aku tidak buta asal kau tahu." suara dingin itu kembali menyela.

"Tidak."

"Penghianat!"

"Berhenti berbicara buruk tentang Baekhyun!" bentak Minseok tak tahan.

"Kau membelanya?" Jongdae memberikan pandangan tak percaya.

"Demi Tuhan, Kim Jongdae, dia sahabatmu."

"Tidak lagi, mulai detik ini." Baekhyun terbelalak mendengar itu. "Kau." Jongdae menunjuk Minseok. "ㅡanggap kita tidak saling mengenal setelah ini."

Minseok mengerang keras, berjalan cepat menuju tempat Jongdae berdiri. "Lepaskan aku!"

"Kita harus bicara berdua." Minseok menarik tangan Jongdae menjauh sementara Baekhyun menatap nanar kepergian mereka. Seandainya ia tak memaksa meraih buku di rak tertinggi maka debu tak akan masuk kedalam matanya, dan kejadian layaknya adegan ciuman itu tak akan pernah terjadi.

.

.

.

.

Seharian ini Baekhyun memilih berdiam diri di apartemen. Akan ada waktu sekitar satu sampai dua jam sebelum Chanyeol pulang, Baekhyun tak harus menyiapkan makan malam mereka karena bibi Kim yang akan melakukannya, wanita itu kembali setelah Jungsu merasa jengah dengan Chanyeol yang kerap melayangkan protes tentang keahlian memasak Baekhyun.

"Sebanyak ini, bi?" Baekhyun mengangkat sendok berisi bubuk merica.

"Ya. Segera masukkan lalu aduk sampai merata." intruksi bibi Kim, Baekhyun mengangguk mengerti, menabur bubuk merica keatas tumis daging yang ia buat.

Suara bel pintu depan membuat mereka saling pandang. "Chanyeol?" tanya Baekhyun tak yakin.

"Bukan." bibi Kim mulai melepas apron yang ia kenakan. "Seseorang tengah datang bertamu."

"Biar aku saja, bi." cegah Baekhyun sebelum wanita itu beranjak.

Sosok Kyungsoo terlihat begitu Baekhyun membuka pintu. "Chanyeol sudah pulang?" tanyanya datar.

"Belum." Baekhyun pikir Kyungsoo akan segera pergi setelah mendengar jawab singkat darinya, nyatanya pemuda dengan mata bulat itu malah menerobos masuk, bonus menabrak keras bahu Baekhyun.

"Opss, maaf, aku memang sengaja melakukannya." Kyungsoo tertawa mengejek, tanpa sungkan menganggap apartemen ini seperti miliknya.

"Bibi Kim, kau kembali?" seru Kyungsoo ketika mampir kedapur.

"Selamat datang tuan muda Do." balas bibi Kim sopan. "Anda ingin minum sesuatu? Biar kubuatkan."

"Tidak." tolaknya tak minat. "ㅡhanya katakan padaku jika Chanyeol sudah datang, aku akan istirahat sebentar." Baekhyun menganga melihat Kyungsoo seenaknya masuk kedalam kamar dan tidak lagi terlihat keluar setelah itu.

Tepat jam delapan malam Chanyeol pulang, wajahnya terlihat lelah setelah melewati waktu dua jam tambahan kerja. Baekhyun menyambutnya, membawa tas dan jas yang ia lepas. "Aku sudah menyiapkan air panas untukmu. Didalam kamarㅡ"

"Diamlah." potong Chanyeol jengah. "Siapkan makan malamku." perintahnya singkat. Baekhyun tak peduli, ia sudah mencoba memberitahu Chanyeol jika Kyungsoo ada didalam tapi pemuda itu mau mendengar apapun.

Chanyeol segera pergi berendam, air hangat membuat tubuhnya merasa nyaman. Perut laparnya membuat Chanyeol tidak bisa berdiam lebih lama disana, ia keluar hanya berbalut handuk dipinggang, mengacak lemari pakaian memilih baju yang ia kenakan, belum sempat Chanyeol mengenakan bajunya ia tersentak ketika sebuah tangan melingkari pinggangnya erat. Chanyeol berbalik dengan cepat. "Baby.."

Kyungsoo tersenyum. "Aku merindukanmu." bisiknya.

"Sejak kapan kau disini?" Chanyeol masih tak dapat menutupi rasa terkejutnya.

"Kenapa? Kau tidak suka?" Kyungsoo tak suka akan reaksi Chanyeol. "Aku pergi saja." Chanyeol segera menahannya, menghimpit tubuh mungil itu kesudut ruangan.

Chu~

Sebuah ciuman lembut mendarat dibibir tebal Kyungsoo. "Hanya begitu saja?" tanya Kyungsoo setelah Chanyeol menjauh.

"Maafkan aku, baby.. Aku sangat lelah hari ini." jelas Chanyeol tak ingin Kyungsoo kecewa. "Aku sudah sangat kelaparan. Kita makan bersama, eum?"

Kyungsoo berdecak mendapati Baekhyun tengah menata menu makan malam diatas meja. "Tidak ada soju disini?" tanya Kyungsoo berulah.

"Kau ingin kita pergi ke kedai?" tawar Chanyeol.

"Tidak. Aku ingin kita minum berdua disini, Yeollie." rengek Kyungsoo.

"Setelah makan aku akan membelinya untukmu."

"Sekarang, Yeol."

"Babyㅡ"

"Ck, aku mau pulang saja." rujuk Kyungsoo sementara Chanyeol buru-buru mencegah.

"Aku berangkat sekarang, kau jangan pulang, oke?" ia segera bangkit, dengan cepat tangan Kyungsoo meraih pergelangannya, mencegah untuk pergi. "Kenapa?" tanya Chanyeol heran.

"Aku ingin kau tinggal, biar Baekhyun saja yang pergi, ya?"

"Aku tidak mau." tolak Baekhyun cepat.

"Kenapa?" Kyungsoo pura-pura terkejut. "ㅡanggap ini sebagai salam perkenalan kita, Baekhyun-ssi."

Baekhyun mendesis sebal, salam perkenalan katanya?ㅡsatu-satunya salam perkenalan yang Kyungsoo berikan berupa siraman jus strawberry. Apa dia sudah lupa?

"Dia tidak akan becus melakukan apapun." sindir Chanyeol. "Biar aku yang pergi."

"Tapi aku mau Baekhyun, Yeollie." Kyungsoo semakin gencar membujuk.

Chanyeol tengah berpikir, berusaha menimbang. "Mana ponselmu?" pintanya beberapa saat, Baekhyun segera memberikan tanpa banyak tanya, Chanyeol mengetik sesuatu disana kemudian mengembalikannya. "Sekarang pergilah, hubungi aku jika kau membuat ulah."

"Aku tidak mau."

Chanyeol mendesis kesal. "Seharusnya kau tahu, aku tidak cukup sabar untuk meladenimu."

Baekhyun mengerang, meraih lembaran won yang sudah Chanyeol siapkan diatas meja dengan kasar kemudian pergi.

.

Baekhyun mempercepat langkahnya, merasa seseorang mengikutinya dibelakang, derap langkah itu kembali terdengar, Baekhyun tersentak untuk kesekian kali, menengok disekeliling memastikan ia segera mendapat bantuan jika terjadi hal buruk, sayangnya tempat ini terlalu sepi. Baekhyun memperlambat langkahnya, seseorang dibelakang melakukan hal sama, ia dengan cepat menoleh kebelakang sebelum lelaki misterius itu sempat bersembunyi.

Baekhyun terbelalak sementara lelaki itu menyeringai mengerikan. "K-kauㅡ" tersentak oleh ingatannya sendiri membuat kaki Baekhyun mendadak lemas.

"Senang bertemu lagi denganmu, manis~" sinyal buruk segera diterima, mundur dua langkah, berbalik dan segera berlari menjauh.

Si misterius bersenyum sangar. "Hah~ kau selalu saja bermain-main denganku." gumannya sebelum mengejar Baekhyun yang belum terlalu jauh.

Baekhyun berharap dapat menemukan seseorang, ia tidak akan bertahan lebih lama lagi, nafasnya memburu bercampur rasa panik, udara seakan menipis, sesak ini menyiksa. Baekhyun memastikan jarak mereka cukup jauh, diluar dugaan si misterius berlari lebih cepat dari yang ia kira. Tanpa peduli kondisi tubuh yang mulai bekerja diluar batas, Baekhyun semakin memacu langkahnya, tanpa sadar memasuki sebuah gang sempit dan gelap.

BRUK~

"Akhㅡ" rintihnya tertahan, ia terjatuh setelah tersandung. Mendengar langkah kaki yang semakin mendekat, Baekhyun meringkuk, bersembunyi diantara tumpukan kardus-kardus bekas. Rasa sakit dikakinya membuat Baekhyun ingin menangis, ia ragu masih bisa berlari lagi setelah ini.

Baekhyun meraih ponselnya berniat menghubungi Chanyeol, pemuda itu pasti bisa menolongnya segera.

"Kumohon, angkat." rancaunya panik.

Tuttㅡ"Ada apa?"

"Tolong aku, Chanyeol, kumohon.." ucap Baekhyun kelewat lirih, berharap Chanyeol masih dapat mendengar.

"Ya! Byun Baekhyun. Bicaralah dengan jelas! Aku tidak bisa mendengar suaramu."

"Seseorang mengejarkuㅡhiks.."

"Apa? Bicaramu sama sekali tidak jelas, jangan membuang waktu, cepatlah pulang. Kyungsoo sudah terlalu lama menunggu."

"Chanㅡ" layar ponsel Baekhyun berubah gelap, mati.

"Berhentilah bermain-main, manis. Aku lelah mengikutimu." suara serak si misterius terdengar, sudah sedekat ini. "Keluarlah, aku janji tidak akan melukaimu." ia memberi jeda. "ㅡtapi, jika kau melawan, terpaksa aku hanya akan membawa mayatmu dihadapan tuan Lee."

DORRㅡBaekhyun memekik tertahan, suasana menjadi semakin mencekam. "Aku sengaja membawa pistol ini khusus untukmu, Byun Baekhyun. Apa kau tidak ingin keluar sekedar memastikan rupa benda yang akan memisahakan raga dan nyawamu nanti?"

Tangis Baekhyun semakin deras, gagal menenangkan diri. "Hiksㅡ" Baekhyun membekap mulut ketika tanpa sadar suara isak cukup keras lolos dari bibirnya.

"Keluar kau sialan! Aku tahu kau masih ada disini!" si misterius mulai hilang kesabaran.

Baekhyun masih betah disana, tak menyadari suasana telah berubah hening, terlalu hening hingga Baekhyun dapat mendengar suara nafasnya sendiri. Apa lelaki itu sudah pergi? Tapi Baekhyun tak mendengar derap langkah kaki menjauh, berharap dugaannya benar jika lelaki itu sudah perㅡPuk! Baekhyun berjingit kaget merasakan tepukan dipundak yang membuatnya segera menolehㅡsi misterius tepat berada dibelakangnya.

"Lepaskan aku, brengsek!" berontak Baekhyun dengan tangan terkunci.

"Waktu bermain sudah selesai, anak manis~" si misterius berguman mengerikan, memainkan ujung pistol dikulit wajah Baekhyun, nafasnya tercekat, takut lelaki itu melepaskan pelurunya tiba-tiba.

Plak!ㅡtamparan tangan kasar si misterius mendarat mulus dipipi Baekhyun, mengoyak sudut bibir yang kini mengeluarkan darah. Si misterius membalik posisi Baekhyun, mencengkram erat leher Baekhyun dengan wajah tersiksa.

"Ughㅡuhuk.. le-lepashh.." si misterius menyeringai puas sebelum menuruti permintaan Baekhyun, menghempaskan tubuh mungil itu kasar, membentur tembok. Baekhyun masih merintih kesakitan ketika lelaki itu menodongkan pistol, ekspresi wajahnya keras dan dingin tanpa rasa iba.

"Aku tidak bisa melakukan ini." ucap si misterius tiba-tiba, pistol diturunkan. "Kau tidak boleh mati sebelum aku menikmati tubuhmu."

Baekhyun bergidik sementara si misterius menyeringai, menatap Baekhyun lapar.

"Tidak. Jaㅡjangan lakukan, hiks.." mohon Baekhyun terbata, semakin terisak hingga rasa sesak kembali menyiksa, Baekhyun berusaha menghindar, menyulut kemarahan si misterius, tamparan keras kembali dilayangkan.

"Jangan hiksㅡ"

Si misterius tersenyum sinis, mencengkram pundak Baekhyun kuat danㅡKREEKK!

"Aarghh..." teriak Baekhyun merasakan perih goresan kasar kuku lelaki itu, baju yang ia kenakan terkoyak mengekspos pundak putih mulusnya.

"Hiksㅡhentikan.." berontak Baekhyun dengan sisa tenaga, si misterius berusaha menelanjanginya, mendorong kasar tubuh mungil itu hingga kembali terbentur berulang kali, Baekhyun merasa kepalanya begitu sakit sekarang.

Ketika si misterius meraih dagu Baekhyun untuk menciumnya, Baekhyun merasa sudah diambang batas, tenaga mereka jelas tak sebanding. Tubuh Baekhyun melemas, kedua matanya hampir terpejam, bibir menjijikan itu semakin dekat danㅡDUAGHH! Si misterius terpelanting, seorang pemuda tinggi menghajarnya bahkan sebelum ia mampu bangun. "Apa maumu? Katakan!" bentak sang pemuda tinggi setelah lelaki itu terkapar.

Si misterius mengusap sudut bibirnya yang berdarah, bersiap bangkit sebelum sang pemuda membuatnya kembali tersungkur. "Bicaralahㅡatau kuhancurkan kepalamu!" si misterius panik melihat pistol mengarah tepat dikepalanya.

"Ja-jangan. A-aku hanya orang suruhan." gagapnya.

"Apa tujuanmu, mengapa kau mengincar Baekhyun? Jawab!"

"Pemuda itu dibeli oleh tuanku dari ayahnya." si misterius menjelaskan. "ㅡbeberapa saat lalu ia berhasil kabur, tuanku tidak akan melepaskannya begitu saja, aku harus membawanya kembali."

Sebuah kartu nama terlempar di depan si misterius, sang pemuda pelakunya. "Aku menunggu tuanmu menghubungiku, sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk menghabisimu disini."

Si misterius segera kabur setelah memungut kartu nama itu, sang pemuda segera melempar pistol menjauh, raut wajahnya terlihat khawatir ketika menghampiri Baekhyun.

"Baekhyun-ah." panggilnya.

"Pergi, hiksㅡ"

Sang pemudaㅡKrisㅡsegera mendekap tubuh mungil itu, tak peduli pada Baekhyun yang terus berontak.

.

.

.

.

"Kau mau mengatakan apa?ㅡkeluarkan saja!" tanya Junmyeon sinis, Kris tetap memilih membisu.

"Kau pikir aku berbohong saat mengatakan Baekhyun mencarimu kemana-mana?ㅡberuntung kau belum terlambat." Junmyeon menatap prihatin sosok mungil yang terbaring diranjang besar Kris.

"Berhenti menyudutkanku." pinta Kris tak tahan, ia mengkhawatirkan keadaan Baekhyun, omelan Junmyeon semakin membuatnya kalut.

"Itu kenyataan."

"Tutup mulutmu, Kim Junmyeon!"

Junmyeon mendesis kesal, merapikan kembali alat medis yang ia bawa kedalam tas. "Aku membencimu.." ucapnya singkat. "ㅡmembenci kenyataan aku sangat menyayangimu, sebagai sahabatku."

.

.


TBC


.

.

.