BAGIAN KEEMPAT
"Apa rasanya berpacaran dengan sesama jenis?" tanya Kaoru sambil mengernyitkan dahi. Ia sama sekali tidak menyangka kalau calon sepupunya yang ia kagumi ternyata tertarik terhadap laki-laki. Terlebih lagi, usia mereka terpaut hampir sepuluh tahun.
"Sama saja dengan perasaanmu setiap kali berkencan dengan Aoi," jawab Shuuichi dengan tenang.
"Jangan samakan hubungan kami dengan kalian. Hubungan kalian itu tidak normal, kalian sakit!" protes Aoi, ketus. Shuuichi memang mengenal Aoi sebagai pribadi yang meledak-ledak dan berterus terang, tidak peduli ucapannya itu menyakitkan bagi orang lain.
"Jaga ucapanmu, Bocah Tengik! Biar bagaimana pun, aku lebih tua darimu, hormati pilihanku!" bentak Shuuichi.
"Walau kamu lebih tua sekali pun, tetap saja kamu salah menempatkan pilihan hatimu. Sadarkah kalau hubungan kalian itu tidak menghasilkan apa pun? Kalian tidak akan memiliki keturunan," kata Jun, seraya memperbaiki posisi kacamatanya.
"Mungkin memang benar, kami tidak bisa memiliki keturunan. Tapi kami bisa memikirkan hal itu belakangan. Kami bahkan belum terpikir untuk menikah. Aku masih kuliah dan Shuuichi sedang dalam masa emasnya di dunia film," Takashi angkat bicara.
"Usia Shuuichi sudah cukup untuk menikah dan kalau ia berbakat, seharusnya ia tidak perlu khawatir karirnya hancur dan kehilangan 'masa emasnya'. Lagipula sebagai 'kekasih', bukankah sudah sepantasnya kamu memahami pasanganmu? Aku yakin Shuuichi berniat menikah, tetapi ia terlalu bodoh untuk mengungkapkannya dan memintamu menikahinya. Sedangkan kamu terlalu buta untuk melihat hasrat terpendamnya," komentar Seiji.
"Seiji!" bentak Shuuichi lagi. Ia tidak suka jika seseorang mencela Takashi, walau sesungguhnya Shuuichi setuju dengan ucapan Seiji mengenai pernikahan.
Takashi membuka mulutnya, hendak membantah, tetapi tak ada suara yang ia keluarkan. Ia memikirkan ucapan Seiji dan Jun. Shuuichi berusia 27 tahun, sudah sepantasnya menikah dan memiliki keturunan. Dan dari kesetiaan Shuuichi terhadap Takashi, Shuuichi pasti ingin menikah dengannya. Akan tetapi, tentu saja Takashi tidak akan pernah bisa memberikan Shuuichi keturunan. Haruskah ia melepaskan Shuuichi? Jika demikian, ia akan menghancurkan hatinya dan Shuuichi karena ia sangat menginginkan Shuuichi, begitu pula sebaliknya.
"Aku tidak asal bicara, Shuuichi! Kamu anak satu-satunya dari keluarga Natori ini dan harus menikah dan memiliki keturunan jika ingin keluarga ini terus hidup. Sebelum kamu menyesal seumur hidup," ujar Seiji, terdengar ragu, tetapi ia tidak berniat untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa maksudmu menyesal seumur hidup? Aku sudah bersama dengan belahan jiwaku, dan untuk keturunan, bukankah aku bisa mengadopsi seorang anak?" Shuuichi mendebat Seiji.
"Bodoh! Kenapa kamu begitu bangga jika mengadopsi anak? Toh dia bukan anak kandungmu. Natori-san pasti ingin bermain bersama cucu kandungnya…" potong Kaoru. Wanita itu langsung menutup mulut saat Aoi menyikutnya pelan, tindakan yang tidak disadari Shuuichi maupun Takashi.
"Tunggu, jadi ini semua tentang keturunan? Kalian semua berkumpul di sini untuk membahas siapa yang akan menjadi penerus keluarga Natori karena aku dan Takashi tidak bisa memiliki keturunan? Kalau begitu kenapa tidak salah satu dari kalian saja yang melanjutkannya? Kalian tidak tergiur dengan kekayaan yang kami miliki dan…"
Sebuah tamparan menghentikan ucapan Shuuichi. Takashi sudah berada di sampingnya dan memukul kekasihnya itu dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan. Ia marah. Ia juga sedih karena harus mendengarkan perdebatan mengenai dirinya yang tidak bisa memberikan keturunan untuk Shuuichi.
"Kumohon, maafkan saya karena mencintai putra Anda, Natori-san. Hubungan kami memang tidak seharusnya terjadi. Saya bukan perempuan, yang bisa hamil dan melahirkan. Jika Anda mengundangku ke sini untuk mempertegas hal itu, saya pun menyadarinya. Dan, jika Anda menginginkan saya untuk mengakhiri hubungan kami karena Anda ingin memiliki penerus, saya akan mencoba memenuhinya, meski itu berarti bahwa saya harus menghancurkan hati saya karena kehilangan belahan jiwa saya," kata Takashi kepada Akio, tidak memedulikan tatapan tidak pecaya yang diberikan Shuuichi kepadanya.
"Tunggu. Takashi, kamu bicara apa?" tanya Shuuichi.
"Aku mau kita mengakhiri hubungan ini. Sebaiknya kamu menerima perjodohan dengan perempuan dan memiliki anak bersama jodohmu yang sesungguhnya, Shuuichi. Terima kasih atas hal-hal indah yang telah kita lewati selama dua tahun ini. Aku sebaiknya pulang," Takashi kembali menghadap Akio dan membungkuk hormat sebelum akhirnya beranjak pulang.
"Takashi!" Shuuichi hendak mengejar, tetapi Jun mengamit lengan Shuuichi dan Seiji serta Kaname ikut mencegahnya. Shuuichi berusaha memberontak. Otot-ototnya bekerja keras untuk lepas dari kuncian Kaname dan Seiji, tetapi tetap saja ia tidak bisa lolos.
"Ada satu hal yang perlu kamu ketahui, Nak," Akio akhirnya angkat bicara. "Usiaku tidak akan lama dan dalam sisa hidupku ini, aku mau memeluk cucuku. Sepupu-sepupumu ini baik karena mereka yang merawatku. Makanya, sebelum aku mati, kuharap kamu mau menikah dengan perempuan yang kupilihkan dan punya anak dari pernikahan kalian itu."
Shuuichi terduduk lemas. Seiji dan Kaname akhirnya melepaskan tubuh Shuuichi dan kembali ke tempat duduk mereka. Sementara Shuuichi memandang ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Ayahnya sedang sekarat, makanya beliau terkesan terburu-buru merencanakan perjodohan untuk Shuuichi. Selama ini Shuuichi mengira kalau ayahnya mulai menjodohkannya dengan anak-anak kerabatnya karena hubungannya yang menyimpang. Yah, sebagian pasti memang karena alasan tersebut, dan sebagian lagi karena Akio mengharapkan cucu kandung dari pernikahan Shuuichi dengan seorang perempuan.
"Kalau harus menikah dengan seseorang, aku tetap akan memilih menikahi Takashi," kata Shuuichi setelah terdiam cukup lama.
"Kak Shuuichi, sudahlah. Jangan keras kepala begitu. Turuti saja permintaan Paman Akio dan menikah dengan perempuan seperti pada umumnya," Kaname yang sejak awal selalu diam, akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Tidak, aku tidak bisa hidup tanpa Takashi. Hatiku sudah pergi bersamanya, Ayah." ujar Shuuichi. "Aku tidak akan membantah lagi apa pun keinginan ayah, asal jangan paksa aku untuk berpisah dengan Takashi. Kalau ayah ingin aku berhenti menjadi artis, akan kulakukan. Kalau ayah ingin aku meneruskan bisnis keluarga, ingin aku belajar kesenian tradisional Jepang, atau apa pun yang ayah inginkan, akan aku lakukan. Tetapi hanya satu syaratnya, aku ingin Takashi yang menjadi pendampingku."
"Shuuichi! Kamu hanya mengulang-ulang hal yang kamu inginkan!" protes Aoi. Lelaki berambut hitam itu hendak melanjutkan ucapannya, tetapi Akio mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Aoi berhenti bicara.
"Lalu bagaimana dengan keturunanmu? Seperti yang sudah dikatakan Kaoru-chan, aku menginginkan cucu kandung, bukan anak adopsi," ujar Akio, bersikeras dengan keinginannya. Sifat antara ayah dan anak memang tidak akan jauh berbeda, kan?
Shuuichi terdiam.
"Kak Shuuichi pasti tidak bisa memikirkan cara yang terbaik selain menikahi perempuan, kan? Jadi lakukan saja apa yang diinginkan Paman Akio, Kak," tegur Kaname dengan lembut.
Shuuichi menatap Kaname, kemudian bergilir kepada Kaoru, Aoi, Akio, Seiji, dan Jun. Otaknya berpikir keras tentang cara ia mendapatkan keturunan, dan pandangannya terus terpaku pada Jun. Gadis berkacamata di sebelahnya itu merasa tidak nyaman ditatap lekat-lekat oleh sepupunya itu, jadi ia memalingkan wajah.
"Aku akan memikirkan caranya, jika memang seorang penerus begitu penting bagi Ayah. Beri aku waktu, kumohon," Shuuichi membungkuk begitu dalam kepada Akio.
Untuk beberapa saat, Akio tidak menjawab. Namun, kemudian beliau berkata, "Baiklah. Minggu depan ajak dia makan malam bersama lagi, sebagai permintaan maaf atas hari ini. Lalu, kuizinkan kalian tinggal bersama di rumah ini, dalam ikatan pernikahan. Akan tetapi, dalam waktu satu bulan, kalian harus sudah mendapatkan solusi agar bisa memiliki keturunan."
Shuuichi mengangkat kepalanya dengan sorot mata berbinar penuh kemenangan, sementara para sepupu lainnya protes, khususnya Aoi, Kaoru, dan Seiji. Mereka tampak tidak percaya atas keputusan Akio.
"Setelah itu kamu mundur dari dunia perfilman dan menuruti apa pun yang kuinginkan," lanjut Akio. Tanpa pikir panjang, Shuuichi menyetujui ucapan Akio tersebut, lalu bangkit untuk mengejar Takashi yang entah sudah berada di mana saat itu. Waktu terasa begitu lambat bagi Shuuichi untuk mencapai kesepakatan dengan ayahnya dan ia merasa Takashi sudah cukup jauh untuk dikejar olehnya. Walau begitu, sejauh apa pun keduanya berada, mereka akan selalu menemukan satu dengan lainnya. Selalu seperti itu, dan memang itulah yang Shuuichi dan Takashi percaya. []
