Story About Hyukjae's Love And Life

Romance, Family, Hurt/Comfort

HaeHyuk and Other Cast

Broken home, selalu memainkan perasaan orang lain, bad attitude yang berlebihan, selalu meremehkan orang-orang yang tidak suka kepadanya, bertingkah menjadi penguasa, dan masih banyak lagi hal buruk yang ia jalani dalam kehidupan nya. Ia selalu beranggapan bahwa Tuhan membencinya sampai memberikan kehidupan yang kelam seperti ini. Namun seiring berjalan nya waktu, seseorang hadir dalam hidup nya. Merampas semua yang ada pada dirinya, tapi... justru itulah yang terbaik untuk hidup nya. Hanya dengan cara merampas semua yang ada pada dirinya, semua akan berubah indah. Hingga ia sadar bahwa kisah cinta dan kehidupan nya bisa ia goreskan dengan tinta guna menjadi sebuah cerita pada diary hati kecil nya.


Happy Reading


Chap 4

.

Author POV

.

CEKLEK

"Apa Hyukkie belum sadar?" tanya Siwon setelah menutup pintu rawat Eunhyuk secara perlahan. In Guk yang mendengar itu menghentikan aktivitas membaca nya untuk menjawab pertanyaan Siwon karena Sungmin kini sedang tertidur di pinggiran ranjang yang ditiduri Eunhyuk.

"Seperti yang kau lihat, dia memang belum sadar." In Guk kembali melanjutkan aktivitas nya, sedangkan Siwon kini berjalan menghampiri meja nakas dekat dengan ranjang Eunhyuk untuk menyimpan buah-buah an yang baru dibelinya. Dirapihkan nya beberapa makanan yang diberikan pihak rumah sakit untuk sarapan Eunhyuk. Setelahnya, ia berjalan menghampiri In Guk dan ikut duduk di atas sofa. Punggung nya ia sandarkan pada sandaran sofa dengan kedua tangan nya yang disimpan di belakang kepalanya untuk di jadikan sebagai ganjalan. Merasa sedikit tak nyaman pada punggung nya, Siwon menegak kan badan nya dan menolehkan sedikit kepala nya untuk melihat apa yang telah membuat punggung nya merasa tak nyaman. Diambil nya tas punggung Eunhyuk kemudian disimpan di samping nyg guna tak membuat punggung nya merasa tak nyaman saat bersandar pada sandaran sofa.

"Ehm, apa kau tak bosan terus-terus an membaca buku seperti itu?" Siwon mencoba membuka sebuah pembicaraan dengan In Guk agar suasana tak terlalu canggung.

"Aniya, justru membaca buku membuat ku ketagihan." Jawab In Guk membuat Siwon hanya mengangguk-angguk paham.

"Membaca buku dapat membuat wawasan kita semakin bertambah luas." Lanjut In Guk sambil tetap membaca buku yang sedari tadi mengalihkan perhatian nya. Suasana kembali heninga Eunhyuk tak kunjung bangun. Begitu pun dengan Sungmin yang kini masih tertidur pulas.

"Lalu bagaimana dengan mu?"

"Ne?" Siwon menaikan sebelah alisnya bertanda ia tak mengerti dengan apa yang telah In Guk tanya kan kepada nya.

"Bagaimana dengan mu?" tanya In Guk sekali lagi. Namun Siwon masih belum paham maksud dari pertanyaan In Guk barusan. Pasalnya, Siwon kan sedang tak melakukan apa-apa. Jadi, apanya yang bagaimana? Atau... bagaimana apanya?

"Bagaimana apa nya?" tanya balik Siwon meminta penjelasan atas pertanyaan yang In Guk lontarkan kepadanya.

"Ya... bagaimana dengan mu? Apa kau tak bosan terus-terus an membuat Eunhyuk merubah sikap nya yang seperti itu?" kini Siwon paham maksud dari pertanyaan In Guk, dan ia paham arah pembicaraan mereka menuju kemana. Namun sepertinya Siwon lebih memilih untuk berpura-pura belum mengerti atas apa yang In Guk tanyakan padanya. Siwon masih ingin mendengar apa yang ingin dilontarkan In Guk terhadap nya.

"Apa maksud mu? Merubah sikap nya a—"

"Sudah lah, jangan berpura-pura tak mengerti seperti itu. Aku tak sebodoh yang kau pikir kan. Bahkan, orang lain pun mungkin bisa tau bahwa cara bersikap mu terhadap Eunhyuk menunjukan bahwa kau ingin sekali merubah sikap nya yang seperti itu. Semua nya terlihat jelas, mulai dari cara mata mu menatap nya dan intonasi bicara mu terhadap nya itu terlihat berbeda. Dan aku tau arti dari semua itu." potong In Guk membuat Siwon terdiam untuk beberapa saat. Ia memicingkan mata nya terhadap In Guk, tatapan yang penuh selidik.

"Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? Dan... dan darimana kau dapat menyimpulkan gerak-gerik ku yang seperti itu?"

"Apa aku perlu menjawab nya?" tanya balik In Guk.

"Tentu! Kau harus menjawab nya." jawab Siwon cepat. In Guk menarik nafas nya dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan. Ditutup nya buku yang sedari tadi ia baca dan menyimpan nya di sebuah meja. In Guk masih terdiam, belum menjawab pertanyaan Siwon. Sedangkan yang bertanya kini masih tetap setia menanti jawaban seperti apa yang akan di keluarkan oleh In Guk yang notabene adalah sahabat nya yang sudah ia anggap sebagai saudara nya sendiri.

"Apa kau pernah merasakan cinta?" bingung. Satu kata yang dapat mendeskripsikan keadaan Siwon saat ini adalah bingung. Bukan kah tadi ia bertanya mengenai alasan In Guk yang menyimpulkan gerak-gerik nya terhadap Eunhyuk dengan seenak jidat nya? Yah, meskipun apa yang dikatakan In Guk memang benar, namun Siwon ingin tau apa yang membuat In Guk dengan mudah nya menyimpulkan hal seperti itu. Padahal, bisa saja kan jika Siwon memang ingin bersikap seperti itu terhadap Eunhyuk dan bukan ingin merubah sikap nya?! Dan beberapa detik barusan, In Guk malah melontarkan pertanyaa aneh yang membuat nya... yah seperti itulah pokok nya. Apa mungkin In Guk tak bisa menjawab pertanyaan Siwon karena ia hanya asal menebak? Atau malah In Guk tak ingin memberitahu nya dan mencoba mengalihkan permbicaraan?

"YA! Apa maksud mu bertanya seperti itu? Sudah lah, jangan mengalihkan pembicaraan! Aku hanya ingin kau menjawab apa yang aku tanyakan tadi. Itu saja..." ucap Siwon dengan nada santai nya, agar atmosfer diantara mereka terasa rilex seperti biasanya.

"Aku tak mengalihkan pembicaraan. Kau hanya cukup menjawab pertanyaan ku beberapa detik yang lalu dan kau akan tau mengapa aku dapat menyimpulkan gerak-gerik mu terhadap Eunhyuk dengan mudah nya." Ujar In Guk seraya mengambil sebungkus roti dari sebuah kantung plastik yang berada di atas meja depan sofa.

"Arra, arra... apa pertanyaan mu tadi?" Siwon mengikuti jejak In Guk mengambil sebungkus roti dari kantung plastik yang sama dengan In Guk. Karena di atas meja itu hanya terdapat satu kantung plastik berisikan roti dan beberapa camilan lain nya.

"Apa kau pernah merasakan cinta?" ulang In Guk sambil membuka bungkus roti tersebut. Begitu pun dengan Siwon, ia mulai membuka bungkus roti itu.

"Aku... pernah merasakan cinta! Bahkan, sekarang pun aku merasakan nya." jawab Siwon sambil menggigit roti yang berada di tangan nya. In Guk tersenyum simpul mendengar nya.

"Hhh~ kau tau?" Siwon menolehkan pandangan nya terhadap In Guk yang sedang menatap lurus ke depan, lebih tepat nya ke arah Eunhyuk yang masih tak sadar kan diri.

"Terkadang, rasa cinta terhadap seseorang dapat menimbulkan suatu keinginan tersendiri. Misalnya... keinginan untuk memiliki jiwa dan raga nya secara utuh hanya untuk diri kita sendiri dan tak terbagi untuk orang lain, terkecuali untuk orang tua nya sendiri. Dan itu sudah pasti dirasakan oleh seseorang yang sedang merasakan 'cinta' terhadap seseorang. Bohong jika mereka tak merasakan itu." In Guk kembali menggigit roti ber-selai kan coklat itu, kemudian melanjut kan perkataan nya. "Namun di lain sisi, untuk sebagian orang yang merasakan 'cinta' yang mungkin... terasa sedikit 'tak normal' terkadang memiliki keinginan tersendiri lain nya."

"Keinginan tersendiri lain nya? Keinginan seperti apa itu?"

"Keinginan untuk merubah pribadi sosok yang kita cintai. Mungkin terkesan egois bagi orang yang ingin merubah nya itu, namun mereka yang memiliki keingin seperti itu tak bisa di cap 'egois' begitu saja karena itu merupakan refleksi luapan perasaan." Siwon menaikan sebelah alis nya mendengar penjelasan In Guk. Baru saja Siwon membuka mulut nya untuk menyela, In Guk sudah terlebih dahulu berucap lagi.

"Satu point penting yang harus di aplikasikan oleh seseorang yang memiliki perasaan 'cinta' dengan sebuah 'keinginan' seperti itu, yakni... orang itu harus lebih bisa mengendalikan perasaan nya dan lebih mengendalikan perilaku nya yang ingin merubah sosok yang dicintai nya tersebut agar tak terkesan memaksa. Perubahan pribadi seseorang yang kita cintai biarlah berubah dengan sendiri nya seiring berjalan nya waktu. Biarlah sosok yang kita cintai itu berubah pada sosok dirinya sendiri dengan tenang, layak nya air yang terus mengalir dengan sendiri nya." Siwon menghentikan aktivitas memakan roti nya yang kini tinggal setengah. Matanya kini tertuju pada In Guk yang kini berdiri dari duduk nya.

"Kau bermaksud memberi nasehat terhadap ku?" selidik Siwon. In Guk memasuk kan kedua tangan nya pada saku celana nya dan mulai melangkah kan kaki nya menuju pintu.

"Aku tak memberi nasehat pada siapa-siapa. Bukan kah tadi kau bertanya darimana aku dapat menyimpulkan gerak-gerik mu terhadap Eunhyuk? Dan baru saja aku telah menjawab nya." tangan nya kini beralih memegang knop pintu dan membuka pintu itu lebar-lebar. Siwon hanya melirik In Guk sekilas dan memilih untuk menatap roti di tangan nya.

"Aku benar-benar tak mengerti apa maksud mu." Aku Siwon jujur. Mendengar itu, In Guk yang hendak melangkah kan kaki nya keluar dari pintu mengurung kan niat nya sebentar dan kembali berdiri tegak di dekat pintu. Decihan pelan terdengar dari mulut nya.

"Kau memang tak di wajibkan untuk mengerti. Penjelasan ku tadi cukup untuk menjawab pertanyaan mu. Aku bisa mengetahui gerak-gerik mu terhadap Eunhyuk dengan mudah karena aku pun sama dengan mu."

"Ne?"

"Kita ini sama, namun pengendalian kita terhadap diri kita sendiri berbeda. Aku berbicara seperti tadi hanya ingin menjawab apa yang kau tanyakan sekaligus mengingat kan mu agar lebih bisa untuk mengendalikan 'keinginan' mu itu. Ingat! Pribadi seseorang untuk berubah tak bisa dipaksa, begitu pun dengan cinta. Jangan paksa cinta untuk datang padamu, tapi tunggulah cinta itu dengan sabar hingga pada akhirnya cinta itu akan datang menghampiri mu tanpa ada unsure paksaan sedikit pun."

BLAM

Pintu ruang rawat Eunhyuk tertutup, menandakan bahwa In Guk baru saja keluar. Siwon terdiam, mencerna baik-baik perkataan In Guk barusan. Diletak kan nya roti yang tinggah sepotong lagi itu di atas meja. Perut nya mendadak kenyang dan tak ada rasa lapar sedikit pun. Siwon jadi berpikir, apakah gerak-gerik nya terhadap Eunhyuk begitu mencolok? Apa gerak-gerik nya itu terkesan memaksa? Begitukah? Begitukah dirinya dimata sahabat nya sendiri? Namun seketika, Siwon merasa ada yang janggal dengan perkataan In Guk tadi. Apa kata nya tadi? In Guk bisa mengetahui gerak-gerik nya terhadap Eunhyuk dengan mudah karena In Guk pun sama dengan diri nya sendiri? Apa maksud nya itu? Sama dengan dirinya?

'Kita ini sama, namun pengendalian kita terhadap diri kita sendiri berbeda.' Suara In Guk kembali terngiang di gendang telinga nya. Siwon menyandarkan punggung nya pada sandara sofa. Kata 'sama' pada kalimat In Guk tadi begitu menganggu Siwon.

"Sama..." gumam nya pelan. Seketika itu pula, Siwon membelalakan matanya menyadari perkataan In Guk tadi. Meskipun ia belum begitu yakin 100%, namun... bolehkah ia mengambil kesimpulan, bahwa... In Guk sama dengan dirinya! Bukan, bukan itu kesimpulan nya. Melainkan, In Guk sama memilki 'keinginan' itu dan juga, sama-sama... mencintai Eunhyuk?

Sibuk dengan pikiran nya sendiri membuat Siwon maupun In Guk yang sekarang sudah tak berada disini lagi tak sadar bahwa Sungmin sedari tadi sudah terbangun yang secara otomatis mendengar kan apa yang dibicarakan oleh In Guk dan Siwon.

'Mereka... gay?' batin Sungmin terkejut.

.

Other Side

.

'Kenapa kau tiba-tiba tak mau kembali ke Inggris?'

'Padahal ayah sangat berharap kau tetap fokus pada pendidikan mu di sana! Kenapa kau tiba-tiba ingin melanjut kan nya disini? Di Korea?'

'Pendidikan disana jauh lebih baik dari pada di sini! Bukankah dulu kau yang bilang seperti itu pada ayah? Bukan kah waktu itu kau memaksa ayah untuk menyekolahkan mu di Inggris? Dan sekarang, saat liburan mu akan berakhir kau berkata bahwa kau tak ingin melanjutkan sekolah disana dan lebih memilih melanjutkan nya disini?'

'Pikir kan baik-baik Lee Donghae, bukan kah kau sudah bersusah payah agar dapat bersekolah di Inggris? Jangan melepas bintang yang sudah susah payah kau raih begitu saja. Ayah tak ingin menerima sebuah kegagal darimu! Camkan itu!'

"Shit!" Donghae menutup laptop nya kasar saat perkataan ayah nya kemarin kembali terngiang di gendang telinga nya. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati nya. Ekor mata nya tak sengaja melirik ponsel milik nya yang tergeletak di meja nakas samping tempat tidur nya. Diambil nya ponsel itu lalu mengutak-ngatik nya, terlihat seperti sedang mencari sesuatu. Gambar seorang namja yang sedang merokok di pinggir jalan dengan sebelah tangan yang dimasuk kan ke dalam saku celana nya kini terpampang dengan jelas pada layar ponsel nya. Gambar yang sengaja ia ambil(atau mungkin lebih tepat nya ia curi) dari akun seseorang di salah satu situs jejaring social.

"Lee Hyukjae..." gumam nya pelan. Namja ini, namja yang telah menarik perhatian Donghae semenjak malam itu, malam dimana namja dalam gambar ini menjadi korban pengeroyokan bersama namdongsaeng tiri nya. Namja itu pula yang telah membuat nya ingin melepas bintang yang selama ini ia inginkan dan sudah ia dapat kan dengan jerih payah nya. Mengingat namja bernama Lee Hyukjae itu, Donghae jadi kembali pusing untuk mengambil keputusan seperti apa kepada ayah nya beberapa menit lagi. Apakah ia harus menuruti perktaan appa nya untuk tetap melanjutkan pendidikan nya di Inggris atau malah berpindah melanjutkan pendidikan nya disini? Di Korea?

Entah mengapa pertemuan tak sengaja nya dengan Lee Hyukjae itu membuat sesuatu di dalam hati Donghae merasakan getaran yang tak biasa. Saat berada di dekat namja itu, saat melihat wajah nya serta lekukan tubuh nya, saat berbicara dan menatap namja itu... timbul sebuah rasa ingin memiliki jiwa dan raga itu seutuh nya hanya untuk dirinya sendiri dan merubah sesuatu yang tak beres yang bersarang pada hati namja itu. Rasa dan keinginan itu sebelum nya tak pernah Donghae rasakan. Dan setelah bertemu dengan Lee Hyukjae, terlebih lagi setelah membaca isi diary milik nya, perasaan dan keinginan itu semakin menjadi saja.

CEKLEK

"YA! Appa menunggu mu di ruang kerjanya!" Donghae mendecak sebal karena aktivitas nya yang sedang memandangi gambar namja yang menarik perhatian nya dalam ponsel di interupsi begitu saja. Terlebih lagi, oleh namdongsaeng tiri nya yang tak punya sopan santun itu. Menambah tingkat kekesalan Donghae saja. Jb yang masih menggunakan tongkat penyangga tubuh hanya diam sambil bersandar pada pintu kamar Donghae.

"YA! YA! YA! Apa kau tuli? Appa menunggu mu di ruang kerja nya!" seru Jb jengah melihat Donghae yang tak kunjung turun dari ranjang nya. Donghae melirik Jb sekilas dan langsung turun dari ranjang nya. Donghae melangkah kan kakinya keluar dari kamar. Namun saat ia berpapasan dengan Jb, dengan sengaja kakinya menendang tongkat penyangga tubuh yang digunakan Jb hingga tubuh namdongsaeng tiri nya yang memang belum bisa berdiri dengan normal itu kehilangan keseimbangan, hingga akhir nya terjatuh begitu saja.

"Aisshh... dasar tak berperasaan!" Jb meraih tongkat penyangga tubuh nya dan mencoba berdiri kembali. Kaki nya berniat melangkah meninggalkan kamar hyung tirinya, namun sebuah cahaya yang terpancar dari ponsel milik Donghae yang tergeletak begitu saja di atas ranjang menarik perhatian nya. Kaki nya berputar arah yang tadinya hendak meninggalkan kamar Donghae, kini malah melangkah kan kaki nya masuk ke dalam kamar Donghae. Tangan nya meraih knop pintu itu dan menutup nya pelan, guna menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Jb melangkah terpincang ke arah ranjang Donghae kemudian menaruh tongkat penyangga tubuh nya dan memilih duduk di pinggiran ranjang. Tangan nya bergerak meraih ponsel itu yang kini sudah tak mengeluarkan lagi cahaya. Ibu jari nya ia gunakan untuk menekan sebuah tombol pada layar ponsel tersebut.

"Bukankah namja ini adalah..." Jb menyipitkan matanya saat melihat sosok seorang namja yang tertera pada layar ponsel Dongahe. Otak nya ia paksa kan untuk mengoyak-ngoyak ingatan nya akan kejadian bebeapa hari yang lalu. Mata nya semakin menyipit ketika samar-samar ingatan nya di hari-hari sebelumnya menemukan bayangan namja yang sangat mirip dengan sosok namja yang terpampang pada layar ponsel Donghae.

"Ah~ bukankah ini namja yang berniat menjadi pahlawan?! Hahaha~ untuk apa photo namja ini ada dalam ponsel Hae hyung?" tanya nya entah pada siapa saat is benar-benar ingat akan sosok namja dalam ponsel Donghae yang berniat menjadi sosok seorang pahlawan di malam hari. Senyuman meremehkan semakin terkembang pada bibir Jb saat mengingat namja itu berada di rumah sakit.

Di lain sisi, Donghae terlihat mengatur nafas nya guna menenangkan perasaan dan pikiran nya sebelum akhirnya ia dipersilahkan masuk oleh dua orang namja bertubuh besar yang menjaga pintu masuk sebuah ruangan.

"Bagaimana keputusan mu?" satu pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut seorang namja paruh baya yang duduk pada sebuah kursi kerja dengan posisi membelakangi nya. Donghae mendekat ke arah meja kerja tersebut hingga jarak nya kini tepat berada di depan meja kerja tersebut. Merasa tak kunjung mendapat jawaban, kursi itu kini berputar. Menampak kan sosok namja paruh baya yang menyandang status sebagai appa nya. Tuan Lee menautkan kedua tangan nya dan menjadikan tautan tangan nya itu untuk menopang dagu ber-janggut nya.

"Apa kau tuli?" tanya tuan Lee dengan nada mengejek. "Atau bisu?"

"Aku akan tetap menjawab pertanyaan mu dengan jawaban ku yang dulu."

"Berpindah dan menetap disini? Di Korea? Begitu?"

"Ne." Jawaban yang sangat singkat itu membuat tuan Lee tersenyum meremehkan. Namja paruh baya itu berdiri dari duduk nya dan berjalan keluar dari balik meja kerjanya. Tangan nya terangkat lalu menepuk-nepuk bahu putra nya pelan.

"Aku sebagai ayah nya mu benar-benar bingung apa yang membuat mu melepaskan 'bintang' yang telah susah payah kau raih begitu saja dan lebih memilih mengambil 'rumput liar' yang sangat mudah untuk didapat kan banyak orang?" tak ada niatan sedikit pun dalam benak Donghae untuk menjawab pertanyaan dari ayah nya tersebut. Ia lebih memilih diam dan mendengar kan perkataan atau cibiran apa lagi yang akan dilontarkan ayah nya atas keputusan nya untuk berpindah dan menetap di sini. Di Korea.

"Apa ada seorang yeoja yang menarik perhatian mu saat kau menghabiskan liburan mu disini, eoh? Nuguya?" dilirik nya tangan sang ayah yang sedikit meremas bahu nya menggunakan ekor matanya.

"Jika kau mau, ayah bisa mencarikan mu yeoja yang sesuai dengan kriteria mu di Inggris." Tuan Lee melepaskan remasan pada pundak putra nya. Terdengar suara langkah kaki sang ayah yang semakin lama semakin terdengar pelan.

"Ayah akan berangkat ke Inggris tiga jam lagi, jika kau berubah pikiran... cepat lah menyusul ke bandara." Seiring dengan usainya kalimat tersebut, tak lama suara pintu tertutup pun terdengar menggema di dalam ruangan. Donghae masih terdiam pada posisinya, ia tak tau sekarang harus melakukan apa. Matanya kini hanya tertuju pada sebuah bingkai photo yang terletak di balik sebuah vas bunga sudut ruangan. Terlihat sekali bahwa sang pemilik photo tersebut enggan memperlihat kan nya terhadap orang-orang yang masuk ke dalam ruang kerja ini. Hatinya terasa sakit, benar-benar sakit. Terlebih lagi saat pandangan nya ia alihkan untuk menatap sebuah bingkai photo yang diletak kan dengan indah di atas meja kerja ayah nya. Seorang namja paruh baya, seorang yeoja yang masih sulit ia terima sebagai sosok seorang ibu, dan seorang namja yang enggan ia anggap sebagai namdongsaeng nya sendiri terpampang dengan jelas dalam photo itu. Hanya tiga orang, tanpa ke-ikutsertaan Donghae di dalam nya.

'Photo yang indah namun menyakitkan...' batin nya miris.

.

Hospital Side

.

CEKLEK

"Annyeong~" sesosok yeoja dewasa dengan seragam putih pendek masuk ke dalam ruang rawat Eunhyuk dengan sebuah papan yang menjepit beberapa kertas. Siwon dan Sungmin berdiri dari duduk mereka dan balas menyapa suster tersebut dengan membungkuk kan setengah badan mereka, sedangkan In Guk masih tertidur dengan pulas nya di atas sofa.

"Mianhae mengganggu kalian sebentar ne." Suster tersebut mendekat ke ranjang Eunhyuk, mengecek keadaan kantung dan selang infus yang dipasangkan pada pergelangan tangan Eunhyuk. Sedangkan yang diperiksa malah sibuk dengan kegiatan nya sendiri, yakni menonton salah satu acara comedy di salah satu stasiun tv yang selalu ditonton oleh mendiang ibu nya ketika masih hidup. Meskipun kini ia memang sedang menonton acara comedy, namun sedari tadi gelak tawa tak kunjung keluar dari bibir Eunhyuk. Siwon dan Sungmin hanya diam sambil memperhatikan suster yang terlihat sedang mencatat keadaan Eunhyuk.

"Bagaimana keadaan nya?" tanya Siwon penasaran. Eunhyuk melirik Siwon sekilas lalu kembali memperhatikan tayangan dalam televisi.

"Eunhyuk-sshi sekarang sudah mulai membaik." Jawab suster tersebut dengan ramah nya.

"Aisshh.. jika memang sudah membaik, kapan aku bisa keluar dari tempat mengerikan ini? Kau tau ahjumma? Disini benar-benar membosan kan! Selain itu makanan nya tak enak, minuman nya hambar, dan aku tak suka obat-obat an! Bisakah kau suruh pada petugas yang selalu mengantarkan makanan untuk ku dengan makanan yang lebih enak dengan sebotol soju? Ditambah dengan rokok jika bisa." suster tersebut menggeleng-geleng kan kepalanya mendengar permintaan aneh Eunhyuk. Baru kali suster tersebut menemukan orang seperti Eunhyuk. Orang yang tak memperdulikan kesehatan badan nya.

"Asalkan Eunhyuk-sshi bisa diatur dan lebih mengutamakan serta menjaga kondisi tubuhnya, maka ia bisa segera pulang." Bukan nya menjawab terhadap Eunhyuk, suster tersebut malah memilih untuk menjawab nya terhadap Siwon, bermaksud memberitahu dan sedikit mencibir kepada Eunhyuk agar ia lebih mementingkan kondisi tubuh nya.

"Ah ne, arraseo. Gomawo ahjumma atas saran nya." suster tersebut mengangguk dan tersenyum sebagai balasan. Ia membalik kan badan nya dan melangkah keluar dari ruang rawat Eunhyuk.

"YA! Bisa-bisa nya kau meminta hal-hal seperti itu disaat kondisi tubuh mu lemah seperti ini! Apa kau tak bisa lebih mementingkan kondisi tubuh mu dibanding kan dengan ego mu?" amrah Sungmin terhadap Eunhyuk. Bagaimana pun juga meskipun Eunhyuk namja, bukan berarti ia harus menyepelekan kondisi tubuh nya yang bisa dibilang lemah saat ini. Bisa saja kondisi tubuh nya yang tak pernah diperhatikan bisa berakibat fatal nanti nya.

"Aishh... hyung, apa kau tau? Lidah ku pahit! Dan ini benar-benar tak nyaman." Sungmin memutar bola mata nya malas melihat Eunhyuk yang tidak bisa diatur sedikit pun. Mata Eunhyuk yang semula tak memancarkan binar semangat, tiba-tiba saja menjadi berbinar semangat tatkala mata nya melihat tas punggung milik nya yang berada di atas sofa.

"Hyung, bisakah kau ambilkan aku sebatang rokok dalam tas ku?" pinta Eunhyuk penuh harap. "Sepertinya jika aku merokok, lidah ku tak akan pahit lagi. Ayo ambilkan!" perintah Eunhyuk tak sabaran. Namun seperti nya, permintaan nya yang satu itu tak akan pernah terkabul karena—

"Semua rokok-rokok mu sudah Siwonnie buang!"

JDER!

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Eunhyuk membelalakan mata nya lebar, mulut nya mengaga tak percaya, jantung nya terasa berhenti berdetak, badan nya kaku seketika dan paru-paru nya terasa tercekat begitu saja saat mendengar bahwa barang pemuas-rokok- kesayangan nya dibuang begitu saja. Eunhyuk menatap Siwon tajam dengan tangan yang mengepal. Sedangkan orang yang mendapat tatapan tajam hanya membalas dengan wajah datar seraya berjalan mendekati Eunhyuk dengan sebuah pisang di tangan nya. Sungmin yang merasakan hawa-hawa tak beres yang menguar dari tubuh Eunhyuk menatap Siwon dan Eunhyuk secara bergantian. Wajah Eunhyuk memerah menahan amarah, lain hal nya dengan wajah Siwon yang terlihat datar tak ber-ekspresi. Posisi Siwon yang kini sudah dekat dengan Eunhyuk serta wajah Eunhyuk yang memerah menahan amarah disertai tatapan tajam dan tangan yang mengepal kuat, membuat Sungmin tau apa yang akan terjadi selanjut nya.

"YA! CHOI SIWON! AP—AMMP!" Sungmin yang tadi nya hendak kabur dari ruang rawat Eunhyuk karena takut terkena luapan amarah Eunhyuk, kini mengurungkan niatan nya tatkala ekor mata nya tak sengaja melihat Siwon yang menginterupsi amarah nya dengan cara menyumpalkan sebuah pisang yang tadi di bawa nya terhadap mulut Eunhyuk.

"Mianhae hyung, seperti nya kau harus mulai membiasakan hidup mu tanpa rokok." Siwon tersenyum pada Eunhyuk seraya mengacak-ngacak rambut Eunhyuk sayang. Eunhyuk yang memang kesal atas tindakan Siwon, membalas senyuman indah sahabat nya itu-atau mungkin orang yang telah memisahkan hidup nya dengan rokok- dengan delikan mata kesal dan menepis kasar tangan Siwon yang tengah mengacak-ngacak rambut nya-sayang-.

.

Hyukjae's House

.

CEKLEK

"Hoya?" seorang yeoja dewasa masuk ke dalam sebuah kamar tanpa pencahayaan di karena kan sang empu nya kamar yang sengaja mematikan lampu kamar nya. Yeoja itu melangkah kan kaki nya ke dalam dengan sebelah tangan nya yang meraba-raba dinding kamar bermaksud untuk mencari saklar lampu dan menyalakan nya.

CTAK!

Sebuah kamar dengan dekorasi dinding berwarna caramel kini terlihat jelas dalam penglihatan yeoja dewasa itu. Kaki nya ia langkah kan mendekati sebuah single bed yang terdapat sebuah gundukan besar di balik sebuah selimut. Merasa tak kunjung mendapat jawaban, yeoja dewasa itu memilih untuk duduk di pinggiran ranjang tersebut dan menyingkap kan selimut yang sedari tadi menutupi sosok seorang namja.

"Eomma tau kau belum tidur." Ujar yeoja dewasa itu. Namja yang tadi tertutupi selimut itu kini menatap yeoja dewasa yang mengaku dirinya sebagai 'eomma' dengan tatapan lelah.

"Wae eomma?"

"Hoya, dengar kan eomma ne!" namja yang baru saja dipanggil Hoya tersebut hanya membalas nya dengan anggukan.

"Besok, kau harus mencari hyung mu. Jangan turuti apa kata appa mu, turuti lah perkataan eomma mu ini. Cari hyung mu, bawa dia pulang ke rumah. Arra?" pada awalnya, namja itu hanya diam sambil merasakan usapan lembut pada rambut nya, namun beberapa saat kemudian namja Hoya mengangguk seraya mengucapkan beberapa kalimat. "Ne eomma, besok aku akan mencari Hyukkie hyung sampai ketemu. Aku juga akan membawa nya pulang ke rumah sesuai permintaan eomma tanpa mendengar perkataan appa." Jawab nya dengan senyuman manis yang dibalas oleh senyuman pula oleh eomma nya itu. Namun siapa sangka, setelah kepergian sang eomma dari kamar nya, senyuman manis Hoya kini berubah menjadi sebuah seringaian yang sarat akan niatan jahat.

'Akan kubawa pulang kau ke rumah, Hyukkie hyung... akan kubuat kau menderita karena telah mengatai eomma ku sebagai seorang pelacur!'

.

Cho Family Side

.

"Bagaimana Kyu?" suara bass dari sosok seorang namja paruh baya menggema di ruang makan yang besar nan megah ini. Beberapa maid terlihat melangkah pergi meninggal kan ruang makan saat namja yang duduk bersebrangan dengan namja paruh baya itu memberi isyarat pada seluruh maid berupa suara jentikan jari. Setelah dirasa semua maid pergi meninggalkan ruang makan, namja yang dipanggil 'Kyu' itu menyimpan pisau dan garpu di samping piring berisikan steak. Kedua tangan nya saling bertautan di atas meja, mata nya menatap serius pada sosok namja paruh baya di hadapan nya.

"Aku tak menemukan nya di kampus. Seperti nya ada masalah yang menimpa nya." Ujar namja itu. Namja paruh itu terlihat ikut menyimpan pisau dan garpu nya di samping piring, nafsu makan nya terasa hilang begitu saja.

"Sudah ayah duga, pasti mereka akan menghindar. Hhh~" namja paruh baya yang mengaku sebagai 'ayah' itu menghela nafas nya lelah. "Jika terus begini, biar anak buah appa saja yang mengurus nya!"

"ANDWE!" namja paruh baya itu menaikan sebelah alis nya heran atas respon yang diberikan oleh putra nya-Kyuhyun-.

"A..emp, bersabar lah sedikit ayah! Tolong, untuk urusan keluar Lee itu biar aku saja yang mengurus nya dengan cara ku sendiri!" seru Kyuhyun cepat. Tuan Cho terlihat menatap Kyuhyun tajam, detik berikut nya Tuan Cho bangkit dari duduk nya. Kaki nya ia langkah kan meninggalkan ruang makan seraya berkata "Baiklah, terserah pada mu saja!"

Kyuhyun yang mendengar itu kini menyeringai setan yang aneh nya malah menambah kesan tampan pada wajah nya.

'Lee Hyukjae...' batin nya disertai seringai yang masih terpampang indah pada wajah tampan nya.

.

.


TBC


Holla~ chapter 4 finished :D

Hoya with Kyu mulai berkeliaran xD

Hehe.. dan di chapter ini, In Guk tak banyak bertingkah karena... rahasia xD

Don't forget to Review ok guys ;)

Always love YAOI!

KEEP AND PRESERVE YAOI!

See you in chap 5 :)