Suki — © locked-pearl

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

a story of Himuro Tatsuya.

Dadaku berdebar mendekati punggungnya. Helai hitamnya berkilau ditimpa matahari terbenam. Tatapnya kepada pantulan di kolam. Bising di pelataran sekolah sana tidak berefek pada mentalku.

Perasaanku gelisah. Satu langkah di belakang punggungnya, ia berbalik. Tersenyum.

Ah, dengan ekspresinya saat ini apakah ia akan senang atau kecewa jika aku ungkap rasa ini?

Tapi dia, Himuro Tatsuya-kun tidak pernah membiarkan orang lain sakit hati.

Dengan begitu, pada akhirnya aku yang merasa bersalah. Menambah beban hidupnya dengan merasa risi akan seorang yang memperhatikan.

"Apa yang ingin kau bicarakan, [Name]?" tanyanya lembut menyebut namaku.

Ini adalah nada suara yang selalu kurindu. Hatiku mengutarakan sejuta harap, bermimpi bahwa ini akan berjalan mulus. Menghembuskan napas, sedikit menghilangkan panas di pipi, aku akan mengungkapkannya.

"Aku menyukaimu—begitu, kan, eh?"

Tidak. Itu bukan aku yang mengatakannya. Itu suara Himuro-kun. Orang itu yang mengatakannya.

"E-eh?"

Himuro-kun terkekeh pelan. "Kau mudah ditebak. Sekarang, apa yang ingin kaukatakan apakah benar fakta? Apa memang benar kau menyukaiku?"

Kenapa dia terlihat tidak yakin?

Angin yang berembus ini ... Kumohon sampaikanlah kepadanya.

"Bagaimana kalau yang kau rasakan ternyata bukan cinta?"

"M-maksudmu?"

Dia menatapku lurus. "Apa benar kau menyatakan perasaanmu dari hati yang jujur?"

Air di danau yang tertimpa matahari tenggelam masih tenang. Tidak terusik dengan konflik kecil kami. Ayolah, apa kau tidak ada rasa simpati terhadapku?

"Aku sungguhan melakukannya." jawabku.

"Sungguhan dalam menjalankan permainan perempuan tentang tantangan keberanian?"

Tantangan keberanian? Dare? Tidak mungkin ... Himuro-kun melihatnya?

Rerumputan pendek yang kami injak bergoyang sepoi. Apa yang akan terjadi pada rumput ini jika orang lain yang menempati?

"Memang benar aku diberi tantangan menembak orang yang kusuka. Tapi kali ini bukan karena permainan itu. Aku sungguhan menyatakannya pada Himuro-kun. Apa kau tak bisa menerimanya? Kalau begitu, ... sudah jelas bagiku jawabannya. Terima kasih telah datang, Himuro-kun. Maaf membuang waktumu..."

Kubungkukkan punggung seperlunya. Perlahan meninggalkan tempat kami. Aku kecewa dengan situasi ini. Sakit hati. Tapi setidaknya aku bisa menata hati untuk ke depan.

Di saat aku mulai menjauh, tanganku ditarik mendekatinya. Himuro-kun tertawa keras-keras.

"Kau pikir tadi serius?"

... Hah?

Himuro-kun mencengkram tanganku berhadapan wajah dan wajah lagi.

"Yah, mungkin sedikit. Tapi kau harus tahu, perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan."

Berhasil mencerna apa yang terjadi, kegembiraan membuncah dalam setiap sudut jiwa ragaku. Wajahku memerah malu.

Perasaanku terbalas. Himuro-kun menyukaiku.

Segaris kurva hangat terukir di antara rahang.

"Aku bersyukur karena menyukaimu, Himuro-kun."

.

.

fin.

Belajar dari narasi, ini terjadi setelah bunkasai XD.

tenk yu for raiding! ?ᅡᅠ