.

Heartbeat

.

Starring: Hyuuga Hinata, Uchiha Sasuke, Uzumaki Naruto

.

Disclaimer :

Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei

Author gain no material profit from this fanfiction

.

Btw, this is a Sasuhina fanfiction, ya know? Are u sure to continue?

Oh come on, why u so serious? Let's just read and enjoy it! :D

.

...3rd Beat...

.

"Benarkah tidak terjadi apa pun diantara kalian?"

"Bertanya sekali lagi dan kau akan mendapat payung cantik gratis," sindir Hinata mulai kesal dengan pertanyaan Tenten yang sudah diulang ribuan kali.

"Aku hanya memastikan," cengir Tenten tanpa merasa bersalah sedikit pun. Hinata menarik nafas panjang merasakan kelakuan unik teman barunya ini.

Tenten adalah salah seorang karyawan magang di Sharingan Konstruksi cabang Amegakure Fresh Graduated pantang menyerah yang sedang berusaha menjadi karyawan tetap di Sharingan Konstruksi. Umurnya tidak terpaut jauh dari Hinata. Mungkin karena itulah Hinata mudah mengakrabkan diri dengan Tenten dibanding dengan yang lainnya. Terlebih dengan sifat Tenten yang easy going.

"Oh ayolah, siapapun yang melihat interaksi diantara kalian berdua juga akan berpikir ada something. Sikapmu yang sering gugup jika berdekatan dengannya. Dia yang selalu memanggil namamu di setiap kesempatan. Dan pandangan matanya yang selalu terarah kepada—Auww! Ittai! Hey, apa yang kau lakukan?!"

"Pantas untukmu karena kebanyakan nonton drama," balas Hinata sadis. Tanpa merasa bersalah menimpuk kepala Tenten dengan tempat pensil. Salahkan Tenten dan khayalan liarnya.

Sungguh. Semua yang dikatakan Tenten barusan hanya ada dalam kepalanya saja. Hinata akui dia memang sering gugup jka berdekatan dengan makhluk bernama Uchiha Sasuke. Namun itu karena tatapan tajam bin sinis yang selalu Sasuke layangkan ke arahnya.

Dan tentang Sasuke yang selalu memanggil namanya? Oh jangan bayangkan ada nuansa romantis dengan background bunga bunga disekitarnya. Percayalah. Itu hanya imajinasi berlebih Tenten. Yang ada adalah rentetan perintah semena – mena yang selalu Hinata terima.

"Tsk! Kau kejam sekali Hinata. Aku kan hanya berasumsi. Nee Hinata, katakan padaku. Benarkah tidak pernah terjadi apapun diantara kalian berdua? Sepertinya ada. Mengingat kelakukan kalian aneh gitu waktu pertama kali datang kesini," seringai dan nada Tenten yang menggoda membuat Hinata memerah tiba – tiba.

Penginapan. Hujan. Kamar. Bed. Pelukan. Intim.

Sekelebat bayangan kejadian beberapa minggu lalu menari – nari di kepalanya. Saat ia dan bosnya yang angkuh terjebak dalam posisi yang memalukan. Ugh! Serasa ada uap yang menguar dari kedua telinga Hinata saking malunya.

Tentu saja akan ada orang yang menyadari atmosfer kikuk antara dia dan Sasuke. Tentu saja. Hinata merutuk dalam hati.

Hinata masih ingat awal – awal setelah insiden itu. Dia tidak pernah berani memandang langsung mata si bos. Gagapnya akan semakin parah saat berbicara dengan Sasuke. Belum lagi dia yang seringkali menjadi kelewat kaget—jika tidak mau dibilang histeris—bila tak sengaja bersentuhan dengan Sasuke. Oh, tentu saja orang – orang akan mencium sesuatu yang janggal dari sana. Namun yang paling sial adalah fakta bahwa tampaknya Sasuke tampak tidak terpengaruh sedikit pun pasca insiden memalukan itu. Wajahnya tetap datar dan dingin

"Nah, nah, nah! Apa ku bilang? Pasti terjadi sesuatu! Pasti! Intuisiku tidak pernah salah tentang beginian!"

Hinata menyipit sinis ke arah Tenten.

"Itu, dikatakan oleh seseorang yang telah menjomblo selama 23 tahun," balas Hinata sadis.

Tenten sudah membuka mulut ingin membalas saat sebuah suara berat menginterupsi.

"Jadi seperti ini kelakuan pegawai dan mahasiswa magang Sharingan Konstruksi? Mengecewakan sekali,"

"Uchiha-sama!" Hinata dan Tenten terkesiap. Dengan ngeri mereka berbalik untuk mendapati tatapan mematikan Sasuke membekukan mereka.

"Daripada kalian terus mengobrol tidak penting saat jam kerja, cepat selesaikan pekerjaan kalian! Kalian pikir kami menggaji kalian untuk bergosip? Masih banyak orang diluar sana yang bersedia menggantikan posisi kalian sebagai karyawan perusahaan ini, kalian tahu? Dan kau mahasiswa magang, kalau kau ingin nilai magangmu bagus lakukan pekerjaanmu dengan benar!" desis Sasuke tajam.

Hinata dan Tenten yang masih ingin hidup segera ber-ojigi dan mengucapkan permintaan maaf berkali – kali. Berkata tidak akan mengulangi kesalahan.

Mengapa? Mengapa akhir – akhir ini kesialan sering sekali menyambangi kehidupannya?! Teriak batin Hinata merana.

"Sudahlah, Sasuke-san, jangan terlalu galak dengan anak buahmu. Mereka terbukti kompeten sehingga bisa menghasilkan karya yang luar biasa! Aku puas dengan revisi rancangan resort dari timmu. Ah, dan jangan lupakan renovasi interior lobi resort kami yang baru. Aku suka sekali!" ujar Suzuki yang ternyata berdiri di samping Sasuke. Dia tertawa renyah sembari menepuk bahu Sasuke menenangkan.

"Senang mendengarnya jika Anda puas dengan rancangan kami, Suzuki-san," sahut Sasuke tersenyum formal tetapi tetap terkesan ramah.

Mulut Hinata hampir terbuka saking takjubnya dengan kecepatan perubahan ekspresi Sasuke. Tersenyum devil lalu tiba – tiba sekian nano second berikutnya sudah tersenyum ramah. Hell, apa – apaan bosnya itu!

"Haha, tidak usah formal seperti itu! Aku sudah lama berbisnis dengan para Uchiha. Jadi aku tahu betul tangan dingin para Uchiha dalam menangani sesuatu. Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut jika kalian bisa merenovasi ulang resort kesayangan isteriku ini yang tadinya membosankan jadi luar biasa seperti ini. Ah, apalagi interior lobi yang baru.. Aku harus bertemu dengan Interior Designer yang menanganinya!"

"Nona Ino Yamanaka-san aku yakin akan sangat tersanjung bila bisa bertemu dengan Anda. Dia adalah Ketua Tim Interior Designer yang bertanggung jawab mendekorasi ulang resort Anda. Sayang sekali dia sedang tidak disini."

"Ah, benarkah? Sayang sekali," gumam Suzuki sedikit kecewa.

"Anda bisa bertemu dengannya di pesta Launching Resort ini nanti malam, Suzuki-san. Sementara ini mungkin Anda harus terpaksa puas bertemu dengan asisten Nona Yamanaka-san. Sebenarnya aku pribadi meragukannya tetapi Nona Yamanaka sendiri yang mengatakan bahwa semua ini berawal dari ide si Asisten yang—tanpa disangka—brilliant. Nona Yamanaka-san pun berkata bahwa keberhasilan desain interior Lobi dan juga tempat yang lainnya tak luput dari sumbangan ide Nona Hyuuga-san."

Hinata terkesiap saat Sasuke menyebutkan namanya. Tidak menyangka bahwa Sasuke akan memujinya di depan klien penting mereka. Well, meski sangat jelas telihat bahwa Sasuke tidak ikhlas memujinya. Lihat saja tatapan meremehkan dan nada mencibir itu! Namun tetap saja hal ini sudah terhitung hal yang wajib dirayakan!

"Wah, kalau begitu aku harus berterimakasih kepada ide brilliant-mu Hyuuga-san. Kau harus datang ke acara nanti malam. Isteriku pasti akan senang bertemu denganmu! Oke?" ujar Suzuki menyalami Hinata dengan bersemangat sebelum beranjak pergi. Tidak memberi kesempatan Hinata untuk menjawab.

"Kau dengar Hyuuga, jangan mempermalukan perusahaan nanti malam," dengus Sasuke berlalu pergi. Meninggalkan Hinata yang cengo bersama Tenten yang mengerling penuh kemenangan ke arah Hinata. Akhirnya setelah seharian ini membujuk Hinata untuk menemaninya berbelanja dress pesta untuk nanti malam bakal kesampaian.

"Nee, ku bilang juga apa? It's shopping time!"

Oh, tidak! Ini benar – benar disaster!

.

.

.

Naruto memandang sekeliling caffe yang baru saja dimasukinya sembari sesekali melihat Seiko yang melingkar di tangan kanannya. Dia terlambat 5 menit dari kesepakatan.

Benar saja. Partner janjiannya sudah menempati salah satu meja caffe di dekat jendela.

"Maaf saya sedikit terlambat. Apakah Anda sudah menunggu lama, Kizashi-san?" sapa Naruto setelah tiba di samping orang yang memiliki janji terhadapnya itu.

Haruno senior itu tesenyum ramah dan mengedikkan kepala ke arah kursi di depannya. Mempersilahkan dokter muda itu duduk.

"Tidak, Uzumaki-sensei. Saya juga baru saja tiba. Anda ingin memesan apa? Biar saya pesankan. Pelayan, kami ingin pesan sesuatu!" seru Kizashi memanggil pelayan dan memesan minuman untuknya sendiri dan untuk Naruto.

"Maaf saya telah menggangu waktu Uzumaki-sensei yang berharga. Padahal pasti Anda sedang sibuk sekali!"

"'Naruto' saja, please! Kita sedang ada di luar rumah sakit, jadi panggilan 'sensei' sedikit menggelikan di telingaku," kekeh Naruto mengibas – kibaskan tangannya. "Dan ini bukan masalah besar. Anda tak perlu risau."

"Sebenarnya saya ingin meminta bantuan Anda, Naruto-san. Bisakah―bisakah Anda mempertemukan saya dan isteri saya dengan Hinata-san?" Senyum Kizashi tampak sendu. Dan tiba – tiba saja dia terlihat lebih tua. Seorang tua yang rapuh karena terlalu merindukan putrinya.

"Saya sebenarnya ingin membantu. Hanya saja seperti yang dikatakan Hiashi-san dan Jiraiya-jiisan, kami tidak bisa―"

"Tolonglah Uzumaki-san. Saya-saya tidak bermaksud untuk mengusik kehidupan Hinata-san. Sungguh! Kami ikhlas mendonorkan jantung Sakura untuk Hinata. Kami senang bisa memenuhi permintaan terakhir putri kami agar bagian tubuhnya dapat memberi manfaat untuk orang lain. Kami hanya ingin bertemu dengan Hinata, Uzumaki-san. Orang tua yang kehilangan putri semata wayangnya ini hanya ingin mendengar detak jantung putri kami melalui Hinata-san,"

"Kizashi-san―"

"Kumohon bantu kami! Sekali saja pertemukan kami!" Suara Kizashi sudah bergetar menahan emosi yang meluap di dadanya. Dengan putus asa Kizashi meraih tangan kanan Naruto yang berada di atas meja. Meremasnya erat dan menatap Naruto penuh permohonan.

"Isteri saat ini sedang sakit saking merindukan Sakura. Dan mungkin-mungkin dengan bertemu Hinata dia bisa mendapatkan semangat hidup. Kau-kau boleh tidak mengatakan yang sebenarnya pada Hinata-san. Bahwa kami ini adalah orang tua pendonor jantungnya. Tapi tolong, pertemukan kami dengan pemilik jantung anak kami yang sekarang. Kami ingin-"

"Kizashi-san," panggil Naruto agak keras untuk memotong rentetan kalimat permohonan yang membuatnya bingung dan kasihan. Ia sebenarnya takut dengan reaksi Hinata bila bertemu dengan keluarga pendonor jantungnya. Hanya saja dia juga tak tega melihat seorng ayah yang meratap merindukan anakya.

"Baiklah, Kizashi-san. Aku akan mempertemukan Hinata dengan Anda dan isteri Anda," Naruto tersenyum tulus. Menepuk pelan bahu Kizashi menyemangati.

Mata Kizashi seketika berbinar lega dan bahagia. Berkali – kali dia membungkuk dan mengucapkan terima kasih.

"Terimakasih, Naruto-san! Terimakasih! Terimakasih..."

.

.

.

Hinata merasa benar – benar out of place. Bukan karena pakaiannya. Dress biru hasil berburu bersama Tenten tadi siang dia rasa cukup menawan. Tenten juga sudah berbaik hati mendandaninya. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untuknya merasa minder. Hanya saja, dia tidak terbiasa dengan suasana pesta seperti ini.

Hyuuga bukannya tidak pernah mengadakan pesta. Namun karena kesehatannya yang sering memburuk dia jarang berada lama di tengah keramaian pesta seperti ini. Dia benar – benar merasa tidak nyaman. Berdiri canggung sendirian dengan segelas cocktail yang tidak ia sentuh sama sekali.

Oh, jangan tanyakan tentang Tenten! Dia sudah pergi entah kemana untuk menggaet pria – pria tampan. Mungkin lebih baik dia mencari udara segar sejenak di luar gedung pesta.

Hinata bersyukur malam ini tidak turun hujan. Langit malam ini cerah sekali. Dekorasi lampu warna – warni yang indah menghiasi taman tampak indah memanjakan mata Hinata. Meskipun ya, udaranya terasa lumayan dingin. Membuat Hinata sedikit bergidik dan mengutuk dress tanpa lengan yang dikenakannya.

Riuh suasana pesta semakin meredup bersamaan dengan langkah kaki Hinata menjauhi gedung. Dia melangkah semakin dalam memasuki taman di depan ballroom pesta.

Ahh, Hinata akhirnya dapat menghela napas lega. Disini suasanya sunyi menenangkan―

"Sampai kapan aku harus menunggu, Sasuke-kun?! Aku lelah!"

err setidaknya sampai terdengar suara orang yang sedang beradu mulut.

"Aku tidak pernah memintamu untuk menunggu, Ino!"

Itu suara Sasuke! Hinata menutup mulutnya yang hampir memekik kaget melihat sang pemilik suara yang sedang bertengkar. Nyaris tanpa berpikir Hinata bersembunyi di balik semak – semak agar Sasuke dan pasangan bertengkarnya―yang ternyata adalah Ketua Tim Desain yang dia asisteni, Yamanaka Ino.

"Demi Tuhan! Sakura sudah mati, Sasuke! Berhentilah terus menatapnya!" Ino semakin meninggikan nada suaranya frustasi.

"JANGAN―" Satu kalimat Ino tersebut adalah batas dari kesabaran Sasuke. Dengan marah Sasuke membentak Ino tepat di depan wajah Ino. Jari telunjuk Sasuke mangacung penuh peringatan di depan mata Ino.

Ino menatap Sasuke berkaca – kaca. Mungkin itulah yang membuat Sasuke mngerjap sadar. Dia menurunkan tangannya dan urung membentak. Hanya menggeram rendah.

"―jangan berani – beraninya kau sebut namanya! Dan berhentilah mencampuri urusanku seakan kau berarti di hidupku. Kau bukan siapa – siapa!"

Air mata itu sudah tidak bisa dibendung lagi.

"Tidak bisakah kau sekali saja-sekali saja menatapku, Sasuke-kun?" lirih Ino sebelum berbalik meninggalkan Sasuke sendirian.

Jika saja Sasuke tidak tahu bahwa ada penonton ilegal yang dari tadi menonton drama picisan barusan.

"Kau ternyata punya hobi mengintip, Hyuuga."

Hegh! Hinata semakin mengeratkan pejaman matanya. Tangannya semakin erat membekap mulutnya sendiri.

"Oh, tidak! Tidak! Tidak! Jangan sampai dia menemukanku disini!" rapal Hinata dalam hati.

Walaupun sepertinya doanya tersebut tidak terkabul karena Sasuke sudah menyibak semak – semak persembunyian Hinata.

Deg Deg... Deg Deg...

Menghiraukan detak jantungnya yang menggila, dengan takut – takut Hinata mendongak ke atas.

Sasuke sedang bersedekap angkuh menatap dirinya tajam.

"Bisa kau jelaskan apa yang sedang kau lakukan disini, Hyuuga?"

Oh tidak! Dirinya benar – benar habis kali ini!

.

.

.


bersambung...


.

A/N:

Alohhaaa... Lama kita tidak bertemu! Sudah berapa lama yaaa saya nganggurin fic ini... hahaha #plak #diShurikenReaders

maaf untuk typo(s) yang selalu muncul

Dan yap harusnya chapter ini tidak berakhir disini, tapi karena saya tidak sabar untuk update jadi saya potong jadi 2 bagian... Untuk yang nungguin Sasuhina momment chapter depan bakalan ada yang manis2 hehe... Kalo jadi :D

Maaf juga tidak bisa membalas review kalian semua :( saya sedang menjalani hari yang hectic banget :( tapi saya akan berusaha untuk cepat update err yaahh setidaknya tidak akan sampai berbulan - bulan. hehehe #plak

Last, smoga suka dan terhibur dengan chap ini haha...

Vote dan comment nya mungkin? .