Keluarga Uchiha, bagi yang tidak up-to-date di dunia kriminalitas (juga tidak tinggal di seputaran area rumah mereka) mungkin hanya mengenal mereka sebagai keluarga biasa. Padahal nyatanya keluarga ini, secara turun temurun merupakan pemilik grup Yakuza terbesar di Kota Konoha. Seperti yang sudah dituturkan sebelumnya, mereka saat ini bertugas lebih seperti penjaga daerah. Mereka macam satpamnya Konoha. Tapi bagaimanapun juga bisnis di masa lalu tidak semudah itu ditinggalkan. Mereka memang sudah tidak melakukan transaksi obat-obat Narkotika, tapi tanpa diketahui para polisi dan pemerintah, mereka dengan lihainya masih menjadi pemasok berbagai jenis senjata api. Sampai saat ini kelompok Yakuza yang dikenal dengan nama Uchiwa-gumi itu memiliki sekitar lima cabang kelompok yang dipantau ketat, serta total anggota sekitar dua ribu orang, yang 150 diantaranya tinggal di rumah utama Uchiha. Bukan tanpa alasan nenek moyang Uchiha menamai kelomok tersebut Uchiwa, selain karena tulisan kanji Uchiha pun bisa dibacademikian. Konon kelompok Yakuza itu mampu melibas musuh-musuhnya dengan cepat tanpa meninggalkan jejak, persis seperti kipas yang membuat angin untuk meniup semua yang ada di depannya.

Fugaku Uchiha saat ini menjadi kepala keluarga Uchiha sekaligus bos dari Uchiwa-gumi. Pria berusia 43 tahun itu dikenal sebagai sosok yang berwibawa, garang dan sadis bagi para anak buahnya. Ia tidak pernah sungkan mengayunkan pedang atau menarik pelatuk pistolnya bila merasa dirugikan. Sang istri, Mikoto merupakan putri salah satu pejabat Negara (yang juga Uchiha). Wanita yang dua tahun lebih muda dari Fugaku itu merupakan wanita yang anggun juga masih menjunjung tinggi budaya tradisional Jepang. Pasutri ini dikaruniai dua orang penerus, Itachi sang sulung yang dikenal akan kelihaiannya dalam berbisnis dan si bungsu Sasuke yang mahir dalam bertarung, baik dengan alat maupun tangan kosong.

Karena Sasuke yang menjadi tokoh utamanya maka mari kita fokus pada pemuda minim ekspresi satu itu. Pemuda dengan tinggi 195 senti itu dijelaskan memiliki hobi menembak dan tinju, dan secara harfiah dia melakukannya di kehidupan nyata, iya, menembak dengan pistol dan meninju orang. Sebagai anak bungsu dan juga tuan muda dari kelompok Yakuza terbesar se-Konoha, Sasuke jelas sangat dimanja dan diagung-agungkan oleh para anggota Uchiwa-gumi. Ini membuat Sasuke memiliki perangai yang sangat yakuza-ish. Dingin, sadis, tidak berekspresi, dan tidak kenal ampun. Atau begitulah yang semua orang tahu tentangnya. Uchiha berusia 14 tahun itu kini merupakan siswa SMA Konoha. Dirinya yang selama ini mengenyam pendidikan rumah, sudah dapat dipastikan berperilaku bagai anak ayam yang baru keluar dari kandang. Antusias; polos; norak. Dan nyatanya inilah sifat asli sang tuan muda.

Yakuza X Kouhai

By: Ame Pan

Genre:

Age-gap Romance, Yakuza (?), Slice of life

Rate: M

(saya rasa cocoknya masuk rate mature, ini temanya dewasa. No Smex or else. Maybe lol)

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning! Yak sudah saya peringatkan dari awal, iniOOC maksimal karena tuntutan plot. Silahkan bertahan sebisa mungkin dari rasa mual.

Keterangan:tulisan bercetak miring menandakan bagian kilas balik (maaf sebelumnya lupa tidak saya beri keterangan)

.

.

.

Chapter Four

Di Kyoto.

Sebuah aula besar dengan minim penerangan menjadi latar tempat. Asap rokok mengepul di langit-langit. Aura tak mengenakan membuat semua yang berada di tempat itu memilih untuk menyaksikan dalam diam. Tempat itu memang bukan tempat untuk main bola atau pesta anak muda. Tempat itu merupakan sebuah tempat pertemuan penting. Di tengah-tengah kota Kyoto yang begitu ramai penduduk, di balik bayangan gedung-gedung pencakar langit, tempat yang ternyata adalah sebuah gudang kosong itu kini menampung manusia-manusia dengan status mengerikan.

Beberapa percakapan terjadi. Tidak meliputi seluruh audiensi yang hadir, hanya beberapa orang saja yang yang ikut andil. Begitu rahasia, begitu misterius. Beberapa barang yang menjadi topik pembicaraan diletakan pada meja yang hanya dibuat dari beberapa kotak kayu kokoh.

Di tengah ruangan terdapat empat sofa halus yang diisi oleh empat pria. Satu diantaranya adalah pemuda berusia 20 tahun. Kontras terlihat bagaimana pemuda itu berpenampilan. Ia yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana Jeans sangat tidak bersanding dengan tiga pria lain yang mennggunakan jas mahal berbagai merek terkenal. Namun hal itu tidak membuatnya minder, justru disana ialah yang paling sering mengumbar senyuman congkak.

Itu adalah Itachi. Si sulung klan Uchiha, yang kelak akan mengambil alih kekuasaan sang ayah menjadi ketua yakuza Uchiwa-gumi. Ia duduk dengan kaki kanan yang menumpu-menyilang pada kaki kiri. Di sebelah kanannya berdiri tegap sang adik yang dengan tatapan datarnya sibuk men-screening ketiga pria lain, terus-menerus.

"Uchiha, bisa katakan pada adikmu itu untuk tidak memelototiku?" ucap seorang pria tua bertubuh kecil. Dari wajahnya jelas terlihat kalau ia sangat terganggu dengan kegiatan si bungsu Uchiha.

"Ara~ memangnya ada apa, Onoki-san? Anda takut kalau adikku menemukan Kristal Meth* yang kau sembunyikan di balik hidung merah besarmu itu, hm?" ujar Itachi dengan nada ringan. "Lagipula tidak mungkin adikku melotot, matanya terlalu sipit untuk bisa melakukan itu." lanjutnya sambil terkekeh pelan. Yang menjadi bahan pembicaraan hanya mendengus jengah.

Si tua Onoki berdecih makin tak suka. "Dasar Uchiha! Masih saja kau sombong. Aku memang membenci kalian bahkan sebelum Madara memegang kendali." Keluh Onoki.

"Ssssttt… kakekku sudah tenang di alam sana. Bisakah anda tidak membicarakannya begitu?" lagi-lagi nada ringan digunakan Itachi. Ia menggerakan teunjuknya, mengetuk bibirnya sendiri dalam bahasa isyarat untuk diam.

"Jadi, mau sampai kapan pembicaraan ngalor-ngidul ini berlanjut? Kau pikir aku anak muda tak ada kerjaan sepertimu, heh, Uchiha." kali ini yang berbicara adalah seorang pria berkulit gelap bertubuh besar. Ia mengusap rambut putihnya kebelakang.

"Maafkan saya, Raikage-sama. Tapi saya yang menegelola bisnis ini kalau anda ingin tahu." Sebuah seringai bertengger di wajah putih Itachi. Melihat tampang kesal para pria tua dihadapannya itu memang suatu kesenangan tersendiri baginya. Apalagi bila alasan mereka kesal adalah karena kalah debat dengannya. Hahaha… Itachi merasa jadi superior sekarang.

"Jadi bagaimana tuan-tuan? Apa kalian tertarik dengan penawaran kami?" Uchiha sulung. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa single yang duduki. Perhatian ketiga pria paruh baya itu tertuju pada meja kayu di hadapan mereka.

Pada meja yang terdiri dari boks-boks kayu yang dibalik dan disusun sedemikian rupa itu berjajarlah beberapa model sejata api laras panjang dan laras pendek. Rasa ketertarikan terlihat di ekspresi masing-masing pemimpin kelompok itu.

Si tua Onoki memberi tatapan menyelidik pada Itachi, "Apa kau bisa menjamin 'keamanan' transaksi ini?" tanyanya.

Itachi mengangkat kedua bahunya. "Ya, seperti biasa saja."

"Kalau begitu kirimkan padaku seperti biasa juga." Pria pendek itu kemudian berdiri dari duduknya. Sang anak buah terlihat mengekori ia yang beranjak keluar gudang itu. Salah satu orang kepercayaannya menyerahkan selembar kertas cek dengan nominal yang sesuai dengan transaksi mereka.

Itachi melambaikan tangannya mengiringi kelompok koleganya itu menghilang dari pandangannya. "Jadi?" tanyanya ambigu pada dua pria yang tersisa.

Pria besar berkulit gelap yang dipanggil Raikage berdecih. Ia menggerakan tangannya, memberikan tanda pada anak buahnya untuk menyerahkan cek pada Itachi.

"Mengesalkan mengatakan hal ini, tapi memang hanya keluarga Uchiha yang masih bisa kupercaya dalam suplai senjata kelompokku." Ujar Raikage. "akan kukirim beberapa anak buahku untuk kelanjutan transaksi ini. Mereka akan ada untuk pengawasan juga."

"Eeh~ anda bilang, anda percaya padaku atas transaksi ini, kan?" ujar Itachi dengan nada main-main sambil mengibas-ngibas pelan kertas cek di tangannya. "Tenang saja, paketnya akan dikirim seperti biasa, sesuai pesanan, sista~**"

"Cih, aku memang percaya pada keluarga Uchiha, tapi aku tidak pernah percaya padamu, dasar bocah bau kencur!" dan dengan itu, pria besar itu berjalan meninggalkan tempat. Menyisakan kubu Itachi dan kubu pria tua dengan eyepatch.

"Dasar, tua Bangka! Aku kan juga anggota keluarga Uchiha." gumam Itachi kesal. "Iya, kan, Sasuke?" Sang adik hanya melirik. Dalam hati agak jijik juga mengakui kalau orang yang duduk di sebelahnya itu adalah kakak sekaligus calon utama ketua kelompoknya.

"Jadi, bagaimana denganmu, Pak tua bermata satu?" tanya Itachi. Kini tidak ada senyum congkak maupun nada main-main. Ia begitu sinis memandang pria itu. dagunya terangkat, dengan aura mengintimidasi.

"Mataku ada dua, hanya saja yang berfungsi cuma satu." Jawab pria itu. entah serius atau berniat bercanda.

"Apa hal begitu penting untuk dibahas?" balas Itachi sinis.

"Oh, kukira anak muda jaman sekarang senang lelucon."

"Ya ya ya, dan leluconmu berbau seperti orang tua. Maaf, aku rasa aku tidak punya waktu untuk menyelediki bagian mana yang lucu dari kalimatmu tadi." Pria itu mengangkat bahunya, cuek. Wajah keriputnya tidak jua memberi ekspresi.

Itachi melirik pada adiknya. Bisa ia lihat kalau Sasuke juga merasakan kecurigaan yang sama dengannya. Mata onyx yang kembar dengannya itu memang terlihat datar seperti biasa. Namun ada kilat lain disana, bagai serigala yang memandang curiga pada kawanan hewan lain yang mendekati teritorinya.

Ia kembali memadang pria di hadapannya. Pria itu bernama Danzo. Ia adalah pemimpin dari Ne-gumi. Kelompok yakuza yang belum lama beraliansi dengan Uchiwa-gumi. Ia bukanlah cenayang, tapi melihat riwayat kriminal yang tertera atas kelompok itu dimasa lalu, Itachi yakin kalau ia harus berhati-hati. Ini menyangkut kelangsungan hidup keluarga dan anak buahnya juga.

"Aku tidak mau banyak basa-basi denganmu, Danzo. Katakan, apa keputusanmu dan kita akan urus perjanjiannya sesegera mungkin." Ujar Itachi.

"Dikriminasi, hm? Dua tua bangka tadi sepertinya tidak mendapatkan interogasi sedingin ini sebelumnya."

"Perjanjian kami sudah diatur sejak lama, sedangkan kelompokmu masihlah tidak jelas statusnya bagi Uchiwa -gumi," ujar Itachi. "apakah kau itu dapat menguntungkan kami atau ternyata hanya sekumpulan Hyena yang tengah mengintai." Bisa Itachi lihat, Danzo mengerutkan alisnya hampir tak kentara.

Suara tawa membahana di seluruh gudang itu. "Bahkan tak ada label 'teman' di kamusmu, hm?" ujar Dnzo kemudian.

"Setidaknya, tidak ada untukmu."

"Hm, baiklah baiklah. Aku menginginkan transaksi ini. Lusa, aku akan kirim anak buahku untuk mengatur jadwal." Danzo berdiri dari duduknya. Beberapa anak buah yang dibawanya, mengekor ketika ia berjalan keluar dari gudang itu.

"Oh, hey!" suara Itachi memantul pada dinding gudang. Membuat Danzo dan anak buahnya berhenti dan berbalik. "Aku hanya ingin memberitahu satu hal, aku rasa kau lupa," Danzo memandang Itachi dengan penasaran. "Kau juga tua bangka."

Hening. Tak ada respon baik dari kubu Itachi maupun Danzo. Kalau teliti ada pesimpangan di dahi Danzo. Namun nampaknya ia cukup bijak untuk menelan kekesalannya kembali. Ia melambaikan tangannya lalu kembali berjalan meninggalkan gudang.

Sedetik setelah Danzo keluar dari gudang itu, seluruh anak buah Itachi yang ikut dalam pertemuan itu memuntahkan tawanya. Tak terkecuali Itachi.

"Astaga, kalian lihat itu? Wajahnya! Ya Tuhan, seandainya aku bawa kamera tadi." Ujar Itachi sambil mengusap ujung matanya yang berair saking gelinya tertawa.

"Wakadanna, sebenarnya saya membawa satu," ujar salah seorang anak buah Itachi. Ia juga masih mengatur napasnya pasca tertawa hebat.

"Eeh? Bohong! Kau melewatkan kesempatan sebagus itu tanpa memeberitahuku kalau kau bawa kamera, dasar bodoh!" dengan tenaga (yang katanya) pelan, Itachi memukul kepala botak sang anak buah sambil lanjut tertawa. "Hey Sasuke, yang tadi itu lucu, kan? Hahahaha, mungkin kau tidak sempat lihat ya-"

"Aku lihat."

"Hm?" suara tawa berhenti membahana. Semua mata tertuju pada Sasuke yang masih setia berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun. "Y-ya, syukurlah kalau kau lihat wajahnya-"

"Bukan wajah." Yang kedua kalinya suara berat sang adik memotong kalimat Itachi. "Pistolnya. Ia mengantongi pistolnya. Dia melanggar peraturan."

Mata Itachi agak membelalak. Tak disangka, bahkan belum ada satu perjanjianpun yang disepakati antara dirinya dan Danzo, namun sang adik sudah menemukan tanda-tanda pemberontakannya atas aturan yang sudah disepakati.

Dalam pertemuan atau pelelangan yang dilakukan antara Uchiwa-gumi dengan kelompok relasinya (baik pribadi atau umum) memang sudah menjadi aturan kalau tak ada satupun anggota yang diperbolehkan membawa senjata baik itu senjata tajam maupun api, dalam bentuk dan jenis apapun, ke dalam ruang pertemuan atau pelelangan.

Mata elang milik Itachi memandang tajam pada sofa yang sempat diduduki Danzo tadi. 'Heh, sepertinya memang Hyena yang sedang mengintai.' Pikir Itachi. Ia kemudian berdiri dari duduknya, lalu menepuk pundak sang adik, pelan. "Waspada. Aku akan laporkan semuanya pada Ayah. Kau, perhatikan juga gerak-gerik anggota di rumah utama, karena kita tidak tahu berapa banyak penyusup yang mungkin akan ia kirimkan. Sisanya tinggal tunggu keputusan Ayah."

Sasuke tidak merespon. Mata dinginnya menatap punggung. Sang kakak yang berjalan menuju pintu gudang, diikuti anak buah yang memang mereka ikut sertakan.

=====sweet=====

"Kiba, sini!" ujar Naruto yang melambai-lambai semangat pada Kiba yang masih bingung memilih beberapa jenis shampoo.

"Apa sih? Heboh banget."

"Kau harus lihat ini. Ya ampun, Pompom*** memang yang paling lucu~" ujar Naruto sambil memasukan jari telunjuknya pada celah salah satu kandang seekor anjing yang ada di toko itu.

"Huh, Akamaru jauh lebih lucu****."

Naruto tidak menggubris perkataan Kiba. Ia masih sibuk memainan jarinya pada kepala mungil anjing cokelat berbulu panjang itu.

Naruto akhirnya menemani Kiba berbelanja kebutuhan Akamaru. Saat ini mereka berada di Pet Shop langganan pemuda bersurai cokelat itu. sudah dua jam lebih mereka disana. Niat awal yang hanya membeli, malah berubah jadi ajang lihat-lihat-lucu. Yah, siapa sih yang bia tahan pada godaan Pet Shop? Apalagi dengan sederetan hewan peliharaan yang dipajang di dalam kandang nyaman, menyalak girang minta perhatian. Bagi pencinta hewan jelas tempat begini adalah Surga. Apalagi di toko ini disediakan play lounge, semacam area kecil dimana beberapa anjing dan kucing (jelas dipisah areanya) dibiarkan bermain, dan pengunjung berkesempatan untuk melihat dan ikut bermain. Naruto dan Kiba jelas tidak akan menolak tawaran seperti itu.

"Sudah yuk, aku sudah dapat shampoo dan makanan untuk Akamaru." Ajak Kiba sambil menenteng keranjang belanja berisi sebotol besar shampoo dan conditioner khusus anjing, serta dua bungkus makanan anjing dengan jenis yang berbeda.

"Eeh, masa sudah? Sebentar lagi dong, dia masih ingin main tuh." Tolak Naruto sambil masih memainkan jarinya di celah kandang.

"Dia yang mau main, atau kau?" Naruto memberikan cengiran sebagai jawaban. "Sudahlah, kau bilang mau jalan-jalan dan beli buku."

Akhirnya Naruto menurut. Keduanya lalu berjalan beriringan ke meja kasir. Setelah membayar mereka lalu keluar toko. Tujuan mereka selanjutnya adalah toko buku yang tidak jauh dari Pet Shop itu. Sesampainya disana Naruto langung berlari menghampiri rak buku yang terdapat buku yang ia inginkan disana. Dia sudah tahu tempatnya karena sebelumnya ia sudah sempat melakukan survey perihal harga.

"Sudah dapat?" tanya Kiba yang muncul dari belakang. Ia sempat geleng-geleng melihat perilaku sahabatnya yang langsung berlari kencang masuk ke dalam toko tadi.

"Sudah, nih." Jawab Naruto sambil menunjukan buku yang ia butuhkan.

"Hm? 'Sejarah Dunia Bawah Jepang'?" alis Kiba tak mampu menahan diri untuk menyatu, mengerutan dahi, bingung atas bahan bacaan si pirang. "Mau apa kau baca buku begini?"

"Memangnya kenapa?"

"Ya, tidak apa-apa sih. Aneh saja. Bacaanmu 'kan paling bantar komik. Kalaupun novel juga novel romansa yang cheesy."

"Enak saja! Jadi maksudmu aku tidak bisa baca buku-buku serius begitu?" geram Naruto.

"Aku tidak bilang begitu loh ya~ kau yang mengaku sendiri."

Naruto ngambek secara instan. Ia mengehentakkan kakinya menuju kasir. Meninggalkan Kiba di belakang yang geleng-geleng (lagi) tidak paham dengan perilaku sahabatnya.

"Serius, Naruto, kau mau apa baca buku begitu?"

"Penasaran saja. Habisnya minggu lalu 'kan, Iruka -sensei sempat menyinggung masalah Samurai, nah, karena beberapa hal juga aku merasa tertarik dengan dunia bawah Jepang."

"Maksudmu seperti Yakuza, begitu?"

Kalau Naruto sedang minum, mungkin saat ini dia akan tersedak, menyemburkan minumannya, lalu batuk-batuk sampai mati. Kenapa tebakan Kiba pas sekali, sih?

"Y-yaa, begitu deh."

"Hmm…." Kemudian keduanya diam sampai keluar toko buku.

Belum ada lima menit mereka berjalan, keduanya yang memang berjalan beriringan tiba-tiba ditabrak oleh seorang pria yang berjalan sangat terburu-buru dari arah depan. Ia megatakan maaf pada keduanya. Baik Naruto maupun Kiba tidak ada yang menaruh curiga. Namun saat orang itu berjalan menjauh, Kiba melihat sekilas di tangan kanan pria itu, tergenggam dompet lipat berwarna cokelat. Kiba mengangkat sebelah alisnya. Itu terlihat seperti dompetnya, apalagi gantungan mungil berbentuk anjing, seingatnya itu edisi terbatas- tunggu! Dompetnya! Ia meraba kedua kantung celana jeans nya.

"Kenapa Kiba?" tanya Naruto yang penasaran melihat sahabatnya sibuk merogoh-rogoh kantung celana dan mengaduk kantung belanjanya.

"Dompetku, Naruto! Pria tadi, dia pencopet!"

"HAH?!"

Kiba yang tidak sabar kalau harus menjelaskan ulang pada sang sahabat pirang akhirnya berlari sambil menarik tangan Naruto. Yang ditarik tidak berontak, masih blank atas pernyataan Kiba. Namun beberapa detik kemudian ia akhirnya konek dan berlari dengan kecepatan penuh bersama Kiba, mengejar pria pencopet tadi.

Pria itu awalnya berjalan santai sambil bersiul, namun mendengar suara gaduh ia pun menoleh. Dilihatnya dua remaja yang tadi menjadi korbannya berlari heboh dengan wajah luar biasa murka. O-ow, waktunya kabur. Dan terjadilah adegan kejar-kejaran antara Kiba, Naruto dan sang pria pencopet. Kurang BGM lagu India dan padang bunga saja, hingga nantinya scene mereka bisa disamakan dengan adegan romatis threesome ala-ala Bollywood. Astaganaga, tidak tidak. Tidak usah dibayangkan.

"Berhenti kau bajingan!" pekik Kiba sambil terus berlari.

Baik Kiba dan Naruto tida berhenti berteriak dan memaki sepanjang jalan. Untung jalanan yang mereka lalui makin kesini makin sepi, jadi tidak usah takut harus menubruk orang-orang. Eh, tunggu, jalan sepi?

"Naruto, ini dimana?" tanya Kiba sambil berteriak –dan berlari- pada Naruto.

"Tidak tahu! Sudah, kejar saja!" balas Naruto, juga dengan berteriak.

Pria pencopet itu berbelok kearah cabang jalan dengan tajam. Melihat itu Naruto dan Kiba juga mengikuti. Namun tenyata cabang jalan itu merupakan jalan buntu. Awalnya mereka merasa sangat beruntung karena akhirnya pencopet itu tidak bisa kabur lagi. Sayang, angan hanya tinggal angan. Di ujung jalan itu ternyata sang pencopet sudah bergerombol dengan beberapa temannya.

"Weeru weru weru, lihat dua kelinci yang terperangkap ini." Ujar salah seorang teman dari pencopet itu. Terlihat kalau ia adalah ketua kelompok.

Naruto dan Kiba berdecih. Bukan, bukan karena mereka terkepung. Melainkan karena gatal ingin mengoreksi pengucapan (sok) bahasa Inggris pria itu. Bung, walaupun Naruto dan Kiba merupakan siswa yang nilainya tidak bagus-bagus amat, tapi setidaknya pengucapan dalam bahasa Inggris mereka tidaklah seamatir lidah orang Jepang kebanyakan.

Segerombolan geng pencopet itu maju. Berjalan mengelilingi Naruto dan Kiba. Mereka tertawa dan menyeringai menjijikan. Baik Naruto dan Kiba memandang waspada.

"Jadi, kawan. Ada keperluan kalian mampir ke tempat kami?" tanya pria yang berbicara diawal tadi.

"Kembalikan dompetku!" ujar Kiba ketus.

"Dompet apa? Tidak ada dompetmu disini."

"Jangan bercanda! Temanmu itu sudah mencopet dompetku. Kembalikan, dan aku tidak akan melaporkan kalian pada polisi."

Suara tawa membahana di jalan mungil itu. Tidak hanya sang ketua kelompok, semua anggota kelompok itu juga tertawa. Mereka berhenti tertawa saat sang ketua mengangkat tangan kanannya tanda diam.

"Kau pikir kau bisa melaporkan kami, hm, bocah?" ujar sang ketua. Ia berjalan mendekat ke arah Kiba. "Kurasa keluar dari jalan buntu ini saja kau tidak akan bisa."

Kiba bergerak mundur, menjauhi pria itu. Agaknya ia takut juga atas ancaman barusan. Melihat sang sahabat di pojokkan seperti itu, Naruto tidak tinggal diam. Dengan langkah besar ia mendekati Kiba dan mendorong dada sang ketua dengan kasar.

"Heh, dengar ya! Jangan kira dengan ancamanmu itu kami akan takut dan diam saja. Kau dan kelompokmu itu pantas di laporkan pada polisi."

Pria itu mengangkat kepalanya. Seringai yang sejak tadi bertengger pada wajahnya kini berganti menjadi keratan rahang. Ia kemudian berjalan mundur, keluar dari lingkaran itu.

"Kalau begitu, kalian juga tidak akan takut kalau ancamanku menjadi kenyataan, kan?" saat kalimatnya selesai, saat itu juga anak buahnya maju, membuat lingkaran manusia itu menjadi makin kecil.

Di luar dugaan Naruto dan Kiba, mereka berdua akhirnya dikeroyok. Mereka beberapa kali mencoba melawan. Namun apa daya, kemampuan bela diri mereka tidaklah seberapa, alhasil mereka habis dipukuli sampai tersungkur. Dengan sisa tenaga yang ada, Naruto berusaha mengelak dan menarik bagian belakang baju Kiba. Ia menarik sang sahabat agar keluar dari kerumunan itu, dan mereka berhasil. Dengan wajah yang sudah babak belur mereka berusaha berlari menjauh. Naas, ternyata kelompok itu belum puas, dan malah mengejar. Mereka berdua berusaha mencapai jalanan yang lebih ramai. Setidaknya mungkin kalau ada orang yang melihat keadaan mereka, orang itu bisa berteriak dan memanggil bantuan.

Saat mereka sampai di jalanan yang lebih besar, ternyata sial masih menghantui. Tidak ada satu pejalan kakipun yang peduli pada mereka. Karena berlari dengan putus asa, keduanya tidak melihat kalau dari arah Barat ada sebuah mobil hitam yang melaju kencang ke arah mereka. Keduanya terlambat, hingga akhirnya Naruto tertabrak dan Kiba terguling karena di dorong Naruto.

Untung mobil itu sempat mengerem dengan tajam, tabrakan tidak terjadi dengan keras, namun Naruto tetap jatuh tersungkur. Saat mobil hitam itu sudah berhenti total, pintu kemudi terbuka, menampilkan seorang pria tua yang berpakaian formal. Pria itu terlihat panik sambil mendekati tubuh Naruto yang terbaring bergetar merasakan sakit. Terlihat darah mengalir di bagian siku kanannya. Pintu di bagian penumpang ikut terbuka. Kali ini yang keluar adalah pemuda tinggi dengan kemeja putih dan celana bahan. Awalnya wajahnya terlihat datar, namun saat ia mendekat dan melihat Naruto, wajahnya terlihat panik bukan main.

"Senpai!"

Naruto mencoba mengangkat kepalanya. Ia melihat sang adik kelas berlutut sambil mencoba mengangkat tubuhnya yang masih bergetar.

"Sa-sasu-"

"Senpai, jangan banyak bicara, saya akan bawa anda ke kediaman Uchiha."

"Ada apa, Sasuke?" seorang pemuda tinggi lainnya keluar dari mobil hitam-mewah itu. Ia penasaran akan tingkah adiknya yang terlihat buru-buru berlutut, dari dalam mobil. Saat ia sadar siapa yang berada di pangkuan sang adik, ia tidak bisa untuk tidak ikut memekik panik. "Naruto-kun!" ia lalu beralih pada sang supir yang masih berdiri kaku dengan wajah ketakutan. "Apa yang sudah kau lakukan, idiot?" geram Itachi pada sang supir. Pria tua itu hanya menunduk, tak berani menatap balik sang atasan.

"Kalau sampai terjadi apa-apa pada anak ini, akan kupastikan keluargamu akan mendapat paket berisi potongan tubuhmu, dasar tidak berguna!"

"A-ampuni saya Wakadanna! Saya memang ceroboh, tapi anak ini yang berlari tanpa melihat jal-" perkataan si supir terhenti. Ia melirik horror pada tuan mudanya yang lain. Sasuke menatapnya dengan aura membunuh yang sangat pekat. Di Uchiwa-gumi, hal yang paling ditakuti oleh para anak buah selain sang bos besar, adalah sang bungsu Uchiha. Sikapnya yang begitu pendiam dan dingin jelas sangat menakutkan, apalagi kalau sedang murka.

"Ki-kiba," suara bisikan lirih terdengar dari pangkuan Sasuke. Sang empu menoleh. "Kiba, disana," lanjut Naruto sambil menunjuk kearah tubuh lain tak jauh dari tempat mereka. Itachi mengambil inisiatif untuk mendekati pemuda yang ditunjuk senior dari adiknya itu. Dari jarak segini ia bisa melihat darah mengalir dari pelipis pemuda itu. Ia pingsan, nampaknya karena kepalanya terbentur aspal.

Belum Itachi mencapai tubuh Kiba yang terbaring tak sadarkan diri. Dari salah satu cabang jalan, keluarlah segerombolan pria yang terlihat marah.

"Disana!" ujar salah seorang di antara mereka.

Dalam waktu singkat kerumunan itu sudah mendekat dan berdiri mengelilingi mobil beserta lima orang disana.

"Heh, berhasil mencari bantuan rupanya." Ujar pria yang merupakan ketua kelompok itu. "Tapi sayangnya bantuan itu tetap tidak akan mengalahkan kami, bocah ingusan." Sang ketua kelompok begitu percaya diri, saat yang ada dihadapannya hanya ada seorang pria tua, dan dua pemuda tinggi dengan wajah datar dan bingung.

"Bos, kelihatannya mereka orang kaya, lihat mobilnya!" bisik salah seorang anak buahnya. "keroyok sedikit, dan kita bisa dapatkan lebih dari dompet, khehehe."

Sang ketua menyeringai. Ia memberi aba-aba untuk anak buahnya maju.

Sasuke yang awalnya memandang kerumunan yang mengelilingi mereka, kini kembali menoleh pada Naruto. Senpai-nya itu mencengkeram bagian lengannya. Ia terlihat ketakutan.

Itachi sendiri tidak ambil pusing. Ia kembali mendekat pada Kiba. Ia hendak berjongkok dan membopong pemuda itu, namun sebuah kaki melayang kearah wajahnya. Karena refleknya yang baik, ia berhasil menangkis kaki itu dan balik memelintirnya. Suara pekikan terdengar dari sang empunya kaki.

Semua kerumunan menoleh ke sumber suara. Bisa terlihat kalau orang yang mencoba menendang Itachi kini sudah terbaring sambil memegangi kakinya. Sang ketua kelompok berdecih, namun sedetik kemudian ia terenyum. Ada anak buahnya yang lain yang kini berjalan mendekat pada tubuh Kiba.

"KIBA!" teriak Naruto panik.

"Heh, anak ini pingsan toh." Ujar anak buah yang kini sudah berada di sebelah tubuh Kiba. Ia dengan sengaja menginjak lengan Kiba.

"Sasuke, Kiba! Tolong Kiba!" uajr Naruto sambil meremas bagian depan kemeja Sasuke. Namun Sasuke masih diam menatap sang Senpai.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, tuan?" tanya sang supir.

Naruto menatap makin panik saat melihat sang sahabat kini sudah di dekati seorang anak buah kelompok itu lagi. Ia paham, Sasuke pasti tidak akan semudah itu mau membantunya tanpa tahu alasan dibaliknya. Ia harus bisa memberi alasan yang bagus agar Sasuke mau membantunya.

"Itu... mereka…" Naruto memandang resah ke kanan dan kiri. Aduh, alasan apa yang bisa membuat sang adik kelas mau membantunya tanpa banyak tanya lagi? Oh! Mungkin itu bisa.

"Sasuke, orang-orang ini orang jahat!" Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Naruto berdecak kesal. "Mereka tadi mengepung kami. Kami akan diperkosa!"

JGERR! Bukan hanya Sasuke yang shock mendengar alasan Naruto, bahkan kerumunan pencopet itu juga hampir menjatuhkan rahang mereka. Perkosa? Sejak kapan tujuan mereka jadi memperkosa dua remaja laki-laki tanggung itu? Memang sih, kalau diperhatikan keduanya cukup imut, tapi hell! Mereka masih sanggup menyewa wanita penjajak seks di distrik merah, kok. Mereka lurus!

"Heh, bocah, jangan macam-macam ya! Awas kau- eh?" protes sang ketua kelompok itu terpotong saat merasakan aura membunuh yang begitu pekat dari Sasuke. Ia sampai melangkah mundur karena gentar.

Sasuke memberi isyarat untuk sang supir mengambil alih memangku Naruto. Dengan gerakan pelan namun pasti ia berbalik dan berjalan kearah sang ketua kelompok.

"Itachi, boleh aku habisi mereka?" ujar Sasuke dengan dingin. Itachi sendiri sampai merinding. Jarang memang adiknya ini naik pitam, tapi sekalinya terjadi, well, siapa yang mampu menghentikannya? Alhasil ia hanya ber-hm panjang tanda menyetujui. Sedetik setelahnya maka dimulailah pembantaian yang dikomandoi oleh Sasuke, seorang diri.

Itachi hanya memandang datar pada sang adik yang mulai meninju wajah anggota kelompok pemcopet itu satu persatu. Memerhatikan bagaimana lincahnya sang adik mengelak dari keroyokan belasan pria seram itu. Yah, Itachi sebenarnya sejak awal ingin tertawa, melihat bagaimana sang adik dikeroyok begitu ia jadi ingat salah satu manga terkenal tentang raksasa pemakan manusia. Haha, Sasuke itu bisa jadi raksasanya, melihat bagaimana pendeknya tubuh para preman itu dihadapan sang adik.

Itachi kemudian beralih pada dua pria yang berada di kanan-kiri tubuh tak berdaya Kiba. Mereka nampak melongo melihat bagaimana rekan-rekan mereka dibabat habis. Sang sulung Uchiha lalu berjalan mendekati keduanya. Mereka tampak berjengit lalu memasang sikap siap bertarung. Salah satu diantara keduanya mengangkat tubuh Kiba yang masih pingsan, mendekapnya dari belakang dan mengarahkan pisau pendek pada leher Kiba. Alis Itachi terangkat, penasaran dengan yang akan dilakukan pria dihadapannya.

"Mendekat, dan leher anak ini akan putus!" ancam salah satu dari dua orang anggota pencopet itu.

"Aaw, kalau kau melakukannya, temannya akan marah loh." Ujar Itachi sambil menunjuk Naruto yang masih dipangku sang supir dengan ibu jari. "dan kalau anak itu marah, maka adikku bisa memutuskan lehermu dengan tangan kosong." Kini yang ditunjuk Itachi adalah sang adik yang saat ini sedang menendang perut sang ketua kelompok dengan lututnya terus-terusan. "Wah, sepertinya, bos mu saja sudah K.O. bagaimana kalau kau yang berhadapan dengan Sasuke ya~?" nada main-main setia digunakan oleh Itachi. Sukses membuat yang menyandera Kiba bergetar takut.

Itachi menyeringai. Ia berjalan mendekat.

"Ja-jangan mendekat!" pekik keduanya frustrasi.

"It's okay~ Aku tidak bisa memutuskan leher orang dengan tangan kosong kok." Ujarnya sambil terus berjalan mendekat, sedangkan sang mangsa bergerak mundur. "Tapi kalau tidak kau lepaskan pemuda itu, mungkin aku bisa pecahkan kepala kalian dengan tangan kosong~"

Kaku. Kedua pria berlabel orang jahat (entahlah Itachi masuk dalam kateori ini juga atau tidak) itu berdiri kaku. Kaki mereka sudah mulai lemas. Kalau tidak punya malu, mungkin mereka sudah kencing di celana. Itachi maju, keduanya mundur. Terus begitu, dan Itachi mulai bosan.

"Oh ayolah, kalian membuang-buang tenaga dan waktu." Itachi baru akan maju untuk meninju wajah keduanya ketika dari arah belakang terdengar sura teriakan horror. Diputarnya kepala, dan Itachi bisa melihat sang adik yang kini sedang berdiri mengahadap padanya, dan lawan-lawannya yang memasang wajah kaget sekaligus ngeri.

"K-k-k-kau kau!" salah seorang anak buah jatuh terduduk sambil membelalak, menunjuk punggung Sasuke. Ternyata kemeja bagian punggung Sasuke sobek besar dan memerlihatkan punggung beserta tato yang menghiasinya. "Tato itu, itu… Uchiwa-gumi, dia anggota Uchiwa-gumi!" orang itu kemudian bangkit berdiri dan berlari tunggang langgang menjauh.

Itachi yang melihatnya (dan sedikit mendengar) mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin kelompok penjahat cap ikan Teri begitu bisa kenal tato yang ada di punggung sang adik? Setahunya yang akan bereaksi begitu paling tidak adalah anggota kelompok yakuza. Mungkinkah?

Melihat salah satu teman mereka berlari sambil meggemakan nama kelompok yakuza besar itu, tak ayal membuat yang lain juga berlari menjauh. Dua orang yang berhadapan dengan Itachi tadipun memilih untuk melepaskkan Kiba dan kabur. Namun sayang tangan Itachi lebih cepat. Salah satu dantara keduanya berhasil dicekal oleh Itachi.

"Katakan, kalian anggota kelompok mana?" ujar Itachi dengan nada yang jauh berbeda dari yang ia gunakan sejak tadi. Kali ini terdengar begitu serius dan hati-hati. Yang ditanya hanya bergetar ketakuan tak berani bukka mulut.

"Katakan, atau aku benar-benar akan memecahkan kepala tak berotakmu itu." geram Itachi.

"A-a-a-itu… ne-" cengkeraman pada kerahnya mengerat, membuatnya tak mampu bernapas. "Akh! Ne-gumi! Kami anggota Ne-gumi!"

Mata kelam Itachi membelalak. Ne-gumi dia bilang? Bagaimana bisa ada anggota Ne-gumi berkeliaran, bahkan berbuat onar di area ini? Ini kan masih area kekuasaan Uchiwa-gumi. Dengan kasar ia melepaskan pria itu dan membiarkannya kabur.

"Sudah, Sasuke, kita pulang. Kita harus menyembuhkan luka Naruto-kun dan temannya." Ujar Itachi sambil beranjak menggendong Kiba, dan berjalan menuju mobil.

Sasuke menurut. Ia berjalan menuju sang supir dan menggendong Naruto –bridal style, menuju mobil juga.

Saat mobil itu berjalan menjauh dari jalan itu, tanpa mereka ketahui ada sepasang mata kuaci yang memerhatikan.

"A-apa yang terjadi? Naruto dan Kiba, mereka mau dibawa kemana?"

.

.

.

Bersambung.

Keterangan:

(*) Kristal Meth: salah satu jenis obat terlarang, adiktif, bentuknya ya seperti kristal, mirip gula.

(**) Well, disini Itachi ngomongnya seperti mbak-mbak online shop yang minta instagramnya di follow, atau yang biasa buka POan segala macam, pasti ngerti bagian ini lol

(***) Nama lain Pomeranian. Anjing tipe Spitz. Kecil, ramah, berbulu lebat, dan sangat aktif. Tingginya paling hanya sampai 30 cm. Asalnya dari daerah Jerman Timur sama Polandia-entah-bagian-mana. Dulu saya sempat punya, tapi mati karena memang sudah tua *cry*

(****) Sumpah, breed-nya Akamaru tuh aslinya lucu banget. Dia aslinya breed Great Pyrenees, anjing gunung yang ukurannya memang besar. Asalnya dari Spanyol. Tipe anjing penjaga, jadi biasanya gentle sama anak-anak. Kalau yang jantan bisa tumbuh sampai semeter mungkin. Bulunya so woolly~

A/N:

Yak, maaf karena membuat kalian menunggu, sudah nunggu lama, hasilnya malah tidak memuaskan di chapter ini *cry*. Ini saya berusaha fokus ke keluarga Uchiha, kasihan juga keluarga yakuza tapi gak ada wibawa yakuza nya. Nah disini saya paparkan sebagian sisi yakuza mereka lol. Belum ada romance nya juga, chapter depan ada roti manisnya kok, tenang.

Saya memutuskan naik rating, karena sepertinya ada beberapa hal yang kurang bisa kalau dimasukan ke rating remaja. Apalagi ini tentang dunia bawah, jadi pasti banyak hal-hal yang berbau dewasa. Tapi tenang, ini no lemon scene or else kok. Paling grepe-grepe lucu. *oops*

Thanks to:

Guest Shafira anggraini120398 seraoff Guest kimjaejoong309 Habibah794 Izca RizcassieYJ liaajahfujo cheonsa19 Yukazu Zuki ai no dobe CacuNalu Kucing Gendut Revhanaslowfujosh InmaGination k-i-d4y Avanrio11 kusuma. Iya uzumakinamikazehaki Kuroshiro Ringo Sas'ke kazekageashainuzukaasharoyani michhazz ryouta suke yassir2374 choikim1310 Jasmine DaisynoYuki Nayuya ima JustCallMeAzi Nami SayuriDaiseijou xhavier rivanea huges NaYu Namikaze Uzumaki shin. sakura. 11 URuRuBaek shiraishi connan hyunnie02 gyumin4ever gici love sasunaru sasunaruniacc Zie09 aXsisyeolliefujo Eun810 Leethakim kirA KJhwang bimaaa Zuihara Ame ChulZzinPang HyunminCho137

Yang sudah review, juga kepada yang sudah mau baca karya abal ini bahkan mau menanti updateannya, I love you sooo much. Sorry for make y'all disappointed, see ya *tebar roti mani* (dimakannya di chapter berikutnya ya lol)