Inside Out

HoMin

Warning : Typo's, kata berulang, Not a good author^^

Thankyou again , and again, and again.

Chapter 4

Bagaimana dengan memulai sedikit dorama ?

"Amazeballs"

.

.

Hope ya'll enjoy it!

ooOOOoo

"Apa aku pernah bilang kalau aku meyukaimu ?"

Kini Shim Changmin yang bungkam, dia membuang wajah, menghindar dari tatapan mata Yunho yang kembali mengeluarkan suara dalam. Meraih tangan Changmin yang sedang memegang remote control televisi.

"Aku menyukai matamu.."

Ditarik dagu Changmin yang menghindari Yunho yang sedang berbicara. Changmin kembali menoleh dengan terpaksa, namun tetap menunduk matanya.

"Apa kau pernah bertanya kenapa kau seperti kesulitan hanya untuk sekedar memandangku?"

Tangan Changmin ingin menghindar, namun Yunho terlanjur menggenggam.

"Apa kau pernah bertanya kenapa kau harus menghindar, kalau kau sebenarnya menginginkan?"

Bibir Changmin terkatup rapat. Yunho bukan pembaca pikiran, namun seolah dia dapat dengan mudah menebak apa yang sedang Changmin pikirkan.

"Aku menginginkanmu!"

Changmin bergegas berdiri dari duduknya. Separuh dari tubuhnya menikmati tangan Yunho Yang menari-nari diatas wajahnya, dan meremas tangannya. Namun sebagian dari dirinya menyuruh dia melangkah pergi, takut menjadi mannequin mainan, mengingat tiba-tiba saja bentuk tubuh dari 'pria celana dalam' dan sosok wanita yang pernah Yunho genggam tangannya, mulai berkelebatan didepan matanya. Yunho dekat dengan mereka pasti bukan tanpa alasan.

"Aku menyukai wajahmu.." Dari sudut mata Changmin, punggung jemari cantik Yunho berjalan bergerak memutar melingkar dipipinya. "Aku menyukai bibirmu.." Puas menari dipipi, kini jemari Yunho kembali berada disudut bibir Changmin. Yunho menekankan ujung jempolnya diatas bibir bawah Changmin, memilinnya mempermainkannya diantara jari telunjuk dan ibujarinya.

"I just.. simply like you!"

Yunho memajukan wajahnya, mendekati Changmin yang kehilangan ribuan kata-kata yang sebelumnya selalu bergumul penuh didalam kepalanya. Tangan Yunho mulai bergerak kebelakang telinga Changmin, empat jarinya menyeruak diantara anak-anak rambut yang tumbuh tipis disekitar telingan, sementara ibu jarinya masih berada didepan muka telinganya, seperti dia sedang ingin memasukkan ibu jarinya pada lubanng telinga Changmin disana. Yunho sudah benar-benar akan mencium bibir Changmin kali ini, namun lagi-lagi dia harus kembali mengeruk nafas dalam karena masih juga gagal. Bell pintu rumahnya berdering mengagetkan.

"Ah.. Anyyeonghaseyou,." Sapa Yunho pada kurir dari kantor pos yang mengantarkan paket dengan ukuran yang lumayan besar padanya. "Disini ?" Tanya Yunho lagi pada si kurir, dan dia mendapat anggukkan khidmat dari pertanyaannya.

Sementara Yunho masih sedikit disibukkan dengan tamu dadakannya. Changmin yang berdiri ditengah ruangan mulai sedikit sadar dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

Setelah semalam dia-Changmin-yang bersedia menginap dan tidur satu ranjang dengannya, bukan berarti Yunho boleh saja selanjutnya mengatakan dia menyukainya dengan begitu gampang. Setidaknya Shim Changmin masih mempunyai sedikit kewarasannya, untuk menolak dan berkata tidak.

Yunho yang masih berdiri diambang pintu berbicara dengan kurir dari kantor pos, dimanfaatkan Changmin dengan gerakan cepat, ingin meninggalkan Yunho dan rumahnya yang mulai membuatnya tidak nyaman. Ransel dan mantel yang tertidur rapi diatas kursi ditariknya kasar, lalu dia melangkah panjang menuju pintu depan.

"Ahh.."Changmin mendesah, Yunho sudah selesai dengan tamu nya, dia-pun sudah kembali menutup pintu rumah rapat-rapat, dan kini matanya kembali bertabrakan dengan Changmin yang sudah lengkap dengan barang-barang miliknya ditangan. "Aku.." Changmin gagap, dia membasahi bibirnya. "Ak harus pulang, tiba-tiba aku teringat hari ini aku ada kelas.."Changmin melenggang panjang, melewati tubuh Yunho yang berdiri dengan box besar ditangan.

Namun belum genap pada hitungan langkah ketiga, tubuh Changmin sudah kembali tertarik mendekat. Yunho membuang box ditangannya, kasar dan menimbulkan bunyi berantakan menimpa lantai.

"Aku tidak bermain dengan perasaan dan apa yang sudah aku ucapkan, aku tidak ingin kau melewati pintu itu dengan pikiran dan kesan yang salah tentangku!" Cegah Yunho menarik kembali tangan Changmin yang sempat terlepas. Tubuh Changmin membal menabrak dada bidang Yunho yang menariknya tanpa membuat suara, Changmin sudah kembali dalam dekapan tangan Yunho.

"Jangan pergi begitu saja meninggalkan pengakuanku, aku menginginkanmu!"

Lembab. Changmin tidak lagi bergerak, ataupun membuat jarak. Yunho menyudutkannya, meremas tangan kanannya yang kembali teraih dalam genggaman , menyentuh halus tengkuk leher Changmin menariknya mendekat untuk bersentuhan dengan bibirnya. Mereka berciuman. -Namun masih permainan Yunho seorang, Changmin diam, nafasnya memelan namun detak jantungnya terpacu kencang.-Yunho menciumnya perlahan, memberi sentuhan ringan pada bibir Changmin yang masih sangat sulit meregang.

"Look!" Yunho meninggalkan bibir Changmin sejenak, beralih manatap mata Changmin yang membulat sempurna. "You know who is the most beautiful person i wanted right now ?"

.

.

.

"Jadi .. apa yang sebenarnya terjadi setelah hujan badai kemarin hari ?"

"Kau tidak sakit bukan?"

Pertanyaan Kyuhyun belum dijawab, Minho sudah menambahi dengan pertanyaan lain. Meraka selalu seperti itu, berebut melempar tanya kepada Shim Changmin. Sementara Changmin sendiri masih bungkam menopang dagu diatas tangan, dengan mata mengambang.

"Hey! Satan ? Kau dengar aku ?" Seru Kyuhyun lagi disela kegiatannya mengelap halus lensa kamera.

"Mungkin setan maninggalkannya, seperti yang pernah kau bilang Hyung!" Cekikik Minho menyindir, namun Changmin sedikitpun tak berdesir.

"Ah.. Minho ah ? sebelum kau pulang nanti, bisa kau tolong aku untuk menyuapi ikan masku ? aku harus segera pergi setelah ini.."

"Kemana ? dengan Siwon Hyung?" Celetuk Taemin yang muncul tiba-tiba dengan apel yang sudah dikupas bersih ditangannya, dan Kyuhyun terlihat mengangguk dalam menanggapinya.

"Woah.. apa kalian benar-benar berpacaran?" Lajut Taemin tiba-tiba, membuat Changmin yang semula duduk dalam diam mulai ikut memperhatikan.

"Who knows, aku hanya nyaman saja dengannya. Bukan berarti aku harus mengencaninya. Tapi kalau misalkan dia menawar, kenapa tidak !" Kyuhyun mengahkiri jawaban panjangnya dengan tawa membahana, disusul dengan suara tawa Minho dan Taemin bersamaan.

"Hey yo satan? kau belum menjawabku, jadi.. apa yang sebenarnya terjadi setelah hujan badai kemarin hari ? Apa selanjutnya kalian saling berpelukan lalu berdansa membosankan begitu?" Sadar Changmin tak ikut masuk didalam guyonan mereka, Kyuhyun kembali menarik perhatiannya dengan pertanyaan yang sama ditambahinya dengan sedikit candaan dan senyuman lebar menunjukkan deretan giginya.

"Yah!.. bisakah kau sehari saja tidak memanggilku satan Kyuhyun sayang ?"

"What ?"

Suara Minho melengking, Taemin menutup mulutnya dengan dua tangan , sementara Khuhyun berakting dia seperti baru saja selesai muntah. Changmin tidak terdengar seperti seorang Shim Changmin yang biasanya. Suaranya rendah dengan mata teduh memelas.

"Ah baiklah-baiklah.. sungguh memang ada yang salah denganmu Changmin. Apa yang Yunho lakukan padamu ?

"Apa benar kau sudah tidur dengannya ?"

"Hey hentikan, Changmin bukan orang yang suka pada batangan!"

Suara sahabat-sahabatnya bersahutan dengan pertanyaan. Kyuhyun dengan pernyataan dan pertanyaanya yang mengganggu indra pendengar. Minho dengan pertanyaannya yang membuat Changmin menggeram, dan lalu si tampan-cantik Taemin yang mencuat dengan kata-kata dan suara nyaringnya yang membuat Changmin mendengus menata nafasnya.

"C'on guys! Don't be fully fucking silly! I do need money but i I'm not selling my body, got that bitchies?!"

Kyuhyun and flocks diam menutup mulut setelah deretan kata panjang dari mulut Changmin menjebol gendang telinga mereka. Entah apa yang ada didalam diri Changmin, dalam keadaan marah ataupun tidak, Changmin dengan tiap kalimatnya akan membuat teman-temannya diam. Walau bukan selalu diam menurut tunduk, tapi mereka tidak akan lagi berani menyela Changmin, walaupun itu si second anarchy Cho Kyuhyun. Dia akan diam, Dan memilih kembali saat Changmin mulai kembali pada kepalanya yang dingin.

"Euhh.. mianh. Um! Mau apel?" Sela Taemin kikuk mengalihkan pembicaraan, sambil mengulurkan tangan menunjukkan sepotong apel diujung jari.
Changmin menerimannya kasar, memasukkan potongan apel itu bulat-bulat kedalam mulutnya dan mengunyahnya cepat dengan mulut tertutup. Menggemaskan seperti Chipmunk dengan peanut.

"Guys.." Sekilas menganga selesai dengan apelnya, Changmin memanggil kembali perhatian mata para sahabatnya. "I think I just turned gay!"

Sejanak. Untuk beberapa detik yang terasa berubah menjadi ratusan menit untuk Shim Changmin yang mendapat pandangan menyeramkan dari sahabat-sahabatnya. Kuburan di ujung lembah bagai pindah seketika kedalam rumah. Sunyi dan mencekam. Kyuhyun mengabaikan lensa kameranya, tangannya berpindah menutupi mulut. Taemin membingkai wajahnya dengan dua tangan dengan mata membelalak. Sementara Minho, rahangnya sudah seperti akan jatuh kebawah, dia menganga lebar.

Changmin berdehem pelan. Bulu kuduknya mulai meremang. "Guys ?.. " Mengibas-kibaskan tangan kirinya diudara, didepan para sahabat yang sudah seperti kehilangan nyawa.

"Pukul kepalamu sendiri Taemin-ah.. Kau salah tentang Satan ini!" Seru Kyuhyun meneleng horror pada Taemin yang terlihat berusaha kembali berkedip dengan normal.

"Yah! Dan aku akan sangat bersedia memukulnya untukmu kalau satan ini menyebutmu botty ganjen lagi!" Sambut Taemin menelengkan kepalanya dengan gerakkan yang sama.

"Baiklah!.. apa aku perlu mencuri sampanye milik tetangga sebelah untuk merayakan kegilaannya ?" tambah Minho tiba-tiba sambil merapikan rahangnya.

"Ohh c'on you guys, aku tidak bilang aku totally gay, aku hanya.."

"Kau penyuka batangan!"

Belum sempat Changmin mengeluarkan penuh suaranya, Taemin memotongnya dengan kalimat yang membuat Changmin memukul sendiri kepalanya.

"Geez! Taemin ayolah! Buang kata batangan itu!" Changmin menutup mata dan separuh keningnnya dengan satu telapak tangan. "Don't you realize it that you yourself are gay, huh ? kamu sendiri pacaran dengan Minho!" Lanjut Changmin, meneguk air mineral banyak-banyak.

"Tidak, kami tidak pacaran!" Sanggah Minho dengan suara datar.

"Kami hanya teman tidur, dan teman saling berbagi nyaman!" Dukung suara Taemin pada apa yang dikatakan Minho.

"Ahh terserah! Kalian menyebutnya apa, tapi kalian tidur berdua bukan ?"

"Jadi kau sudah tidur dengannya! God Changmin how slut you are!" Lengking Kyuhyun membingkai wajahnya dengan dua telapak tangan persis seperti apa yang Taemin tadi lakukan.

"Watch your french shithead! " Changmin menunjuk pada wajah Kyuhyun yang malah memamerkan deretan rapi gigi-giginya sambil meneleng kepala. "Kau sendiri sedang berkencan dengan Si pria restoran itu.."

"Siwon!" Koreksi Kyuhyun.

"Ah whatsofuckingever! " Changmin berdiri menggulung mata."Kau mengencaninya bukan ?"

"Tidak, kami hanya teman berbagi kehangatan! Dan sedikit berbagi pengetahuan tentang oral, itu saja!"

"Ahh.." Changmin berulang mendesah! "Bisakah aku berbicara pada satu saja orang pintar diantara kalian ?! Kenapa aku tidak berteman dengan Kai 'EXO', Kim Hyun Joong, Song Jong Ki, atau artis tampan dan pintar saja daripada kalian.. "

Changmin meraih backpack yang tertidur rapi diatas kursi, dia bersiap dan melenggang pergi. Berjongkok sebentar merajut tali sepatunya, lalu kembali berdiri tegak meraih gagang pintu. Hanya sempat meraihnya, bukan memutar dan membuka lebar pintu rumah Kyuhyun, mata Changmin disita oleh monitor kecil yang menempel disisi dinding. Seperti sebuah televisi yang tersambung dengan camera yang berada diluar rumah. Layar kecil yang menempel pada dinding ini menampilkan gambar dari apa yang ditangkap mata camera yang berada diluar. Didepan pintu rumah Kyuhyun.

Tangannya meninggalkan gagang pintu, Changmin kembali berjalan mundur beberapa langkah, dia menggigit dan membasahi bibirnya beberapa kali. Apa yang dialaminya dikemarin hari tiba-tiba kembali berkelebat menari-nari mengitari. Siwon berada didepan pintu rumah Kyuhyun, dan Jung Yunho bersamanya.

"Yah! Satan ? Kau tuli ? Bell pintu rumahku meraung ribuan kali deaf!"

Kyuhyun menangkap tubuh Changmin yang berjalan mundur, mencibir tak berarti lalu membuang tubuh Changmin kesamping kiri.

"Kyu, don't !" Cegah Changmin meremas keras pergelangan tangan Kyuhyun.

"It's hurts silly! Wae-yo?" Kyuhyun menoleh memberi tatapan kejam. Menyeringai lebar, dia tahu alasan kenapa Changmin melarangnya membuka pintu, namun Kyuhyun si 'Telur Burung' malah mempermainkan Changmin dengan senangnya. "Aku akan membukanya, lalu kau mau apa ?"

"Kyu.." Changmin memelas, sedang Kyuhyun menyeringai puas, melihat wajah Changmin yang sudah seperti anak anjing menggemaskan yang meminta diremas.

"Mereka bertamu.."

"Baiklah.. aku akan bersembunyi, jangan bilang aku ada disini, you got me?"

Kyuhyun hanya tersenyum miring, sambil berpolah centil membenarkan sudut poninya. Changmin melesat kembali kedalam, mencari tempat untuk menghindar dari Jung Yunho, yang entah kenapa selalu saja bertamu ke rumah Kyuhyun bersama dengan Siwon.

"Ah anyeong-haseyou.."

"Oh hyung-dul anyeong!"

"Ah.. iye anyeong!"

Suara diluar tengah mulai bersahut-sahutan. Dari suara manja Taemin lalu disusul dengan suara Minho, mulai terdengar juga sahutan suara dari Siwon.

"Ah! Duduklah , ini bukan pertama kalinya kalian disini."

Kali ini suara Kyuhyun. Melengking tinggi terdengar sedang mempersilahkan tamu-tamunnya untuk membiasakan diri. Sementara Shim Changmin mulai berkeringat kepanasan, duduk berjongkok dibelakang tubuh kulkas diruang belakang. Pelan-pelan sekali dia membuka resleting backpacknya untuk mengambil sebuah botol air mineral yang tersimpan didalam, ingin membasahi kerongkonganya yang sudah terasa retak kekeringan. Dia sangat berhati-hati, menyembunyikan diri, menghindari Jung Yunho yang entah kenapa melihatnya saja membuat Changmin terasa susah untuk berdiri.

"Changmin tidak disini ?"

Changmin hampir tersedak-oleh air putih yang diteguknya-mendengar suara yang kembali mencuat dari ruang tengah. Dia yakin benar, itu adalah suara dari seseorang yang bermarga Jung.

"Ahh.. diaaa.." Kyuhyun menarik panjang suaranya. "Changmin euhh…" Kyuhyun jelas sedang mempermainkan suaranya. Mempermainkan Shim Changmin yang sedang bersusah payah menyembunyikan keberadaanya.

Changmin mengigil dibelakang tubuh kulkas. Dia menggigit gemas ujung moncong botol yang masih melekat dibibirnya sambil meremas kasar tubuh botol yang digenggamnya. Menutup mata rapat-rapat, merapal do'a agar Yunho tidak menemukannya, lebih tepatnya agar Kyuhyun tidak membuka mulut botty-nya memberitahu keberadaan Changmin.

"Berjongkok dan mengulum ujung botol, apa yang kau lakukan disini?"

Changmin lumpuh total. Persendianya sudah benar-benar terasa tidak berguna. Lunglai diatas lantai. Yunho dengan kedua tangannya yang dia masukkan kedalam saku celana, berdiri tegap memasang senyum manis sambil menelengkan kepala setengah menunduk, menatap Changmin yang melantai ditanah, membuat Changmin mendongak tinggi menatapnnya.

"I euh..?" Changmin meringis gagap, mengangkat tubuhnya untuk kembali berdiri tegap. 'Godammit you Cho Kyuhyun' Lalu memberi tatapan mematikan pada Kyuhyun yang mengangkat sebelah alisnya sambil mengumbar senyuman innocent namun berdosa.

"Ahh.. aku tadi euhh.. mencari.. umm" Changmin memegang sebelah pipinya yang memanas, menghindari mata Yunho yang tidak berhenti juga menatapnya. ".. mencari tikus. Yah! Kau tahu, telur burung itu pemalas, rumahnya kotor dan, euhh.. dia bukan orang bersih seperti aku!"

"Excusme!" Kyuhyun menyalak berkacak pinggang.

"Aku pulang, aku selesai dengan tikusmu!"

Tidak mau berdebat, itu sangat tidak penting. Bagian terpenting yang dipikirkan otak Changmin adalah untuk menjauh atau menghindar dari Yunho sementara waktu.
Changmin berjalan cepat meninggalkan kediaman Kyuhyun sosoknya menghilang seketika setelah tangannya bergerak singkat dengan satu hentakkan membuka lebar-lebar pintu rumah Kyuhyun menghilang-meninggalkan- Yunho, Kyuhyun dan tamunya, Siwon , juga Minho dan Taemin yang sedang bersuap-suapan irisan apel tanpa membuat kata lebih.

Lepas dari rumah Kyuhyun yang membuatnya panas dan berkeringat-karena Yunho yang selalu datang tanpa membuat alarm peringat-Changmin sudah terlihat duduk mengatur nafasnya dibawah pohon rindang ditengah taman.

'Changmin-ah? kenapa kau tidak hadapi saja dia, kenapa kau selalu berlari kalau kau sebenarnya ingin dia selalu mengikuti ? Atau jangan-jangan kau keluar dan ingin berdua saja dengan dia ditempat lain? Slut! Jujur padaku kalau kau sudah pernah ditelanjangi oleh Yunho ?"

Belum menata duduknya dengan sempurna, Iphone biru cerah yang berada didalam sakunya bergetar samar. Satu message notification terpampang jelas dilayar, 'Telur Burung'. Pesan dari Kyuhyun membuat bibir Changmin meruncing tajam. Jempolnya mulai menari cepat diatas layar ponsel yang dia genggam, mengetik sesuatu untuk dilempar balik kepada si pengirim pesan.

"Dammit Kyu! Kau memang tidak waras!"

Pesannya terkirim, dan tidak lama kemudian ponselnya kembali bergetar. Kyuhyun adalah pengetik pesan tercepat dan terhandal diantara para flocks-nya. Namun belum sempat Changmin untuk membuka slide-lock nya jemarinya dihentikan oleh sepasang kaki bersepatu merah milik sosok laki-laki yang tiba-tiba berdiri tegak dengan senyuman didepan dia terduduk kepanasan.

"Evian ?" Orang itu bersuara, tersenyum sambil mengulurkan air mineral dalam botol kecil.

Changmin menelengkan kepalanya, menunjukkan wajah bingung lalu menoleh pada kiri dan kanannya yang sebenarnya tidak ada siapa-siapa.

Orang berambut blonde dengan mata biru dan bibir tipis ini sekilas mirip pemain film action garapan Hollywood yang mungkin juga adalah pria berkebangsaan Eropa atau Amerika sana yang sedang menikmati hidup di Korea. Dia tersenyum masih dengan tangan memegang botol air mineral.

"Evian ?" Seru dia lagi.

Changmin berdehem pelan, mengatur suaranya, menata apa yang ingin dikatakannya, melihat wujud orang yang berada didepannya ini sudah pasti dia tidak akan bisa mengerti bahasa yang Changmin gunakan. "are you talking to me ?" Changmin menunjuk hidungnya. Dan pria bermata biru itu mengangguk dalam, menanggapinya. "I'm not Evian ..you.."

Belum selesai apa yang ingin Changmin katakan, suaranya sudah tertekan oleh tawa pria bermata biru itu yang sudah menyerupai suara sebuah ledakan.

"No! I mean this Evian! It's so damned hot here I thought you might love this.." Jelas pria itu, kembali mengulurkan tangannya dengan botol air minum yang mempunyai nama Evian.

"Ahhh geez!" Changmin memukul pelan kepalanya. Dia tersenyum lebar, senyuman bodoh keluar begitu saja. Orang didepannya ini bukan mencari seseorang yang bernama Evian, dia hanya menawarkan minuman Evian pada Changmin yang terllihat kepanasan dan juga duduk sendirian.

Setelah basa-basi singkat dan ucapan terimakasih atas botol air minum yang dia terima-dengan gratis tentunya-Changmin mulai bisa mengeluarkan senyumnya yang menawan khas. Pipinya merona merah karena terpaan cahaya matahari yang masih bisa menyingkap padat daun dari pohon Trembesi tempat Changmin menyembunyikan diri dari panas matahari.

"So.. What are you doin' here ? " Tanya pria asing itu yang kemudian memperkenalkan dirinya dengan nama Daniel Patrick, terdengar lucu memang apa lagi ketika nama itu memasuki telinga Changmin. Dia berdehem dalam menahan tawanya yang tentu saja akan sangat tidak sopan kalau dia menertawakan nama orang. Se-nakal ataupun se-anarchy apapun Shim Changmin dia tetap orang Korea yang mengerti tata karma.

Orang asing yang tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk akrab dengan Changmin ini kini duduk disebelah Changmin tanpa menunggu dipersilahkan.

"I uehh.. nothing just having touch of the sun!" Jawab Changmin menenggak minumannya. Dia menengguknya terlalu cepat hingga sebagian dari cairan tak berwarna itu keluar dari sudut bibir dan membasahi dagunya.

"May i.."

Changmin terkesiap, matanya membulat, namun dia tidak sempat menghindar. Orang asing ini menyentuh dagunya yang basah. Bukan menyentuh yang seperti Yunho pernah lakukan, dia masih menggunakan lembar tisu untuk menyesap air dari sana, namun tetap saja tindakannya yang mendadak membuat Changmin gagap, diam tak bergerak.

"Excusme.. who the fuck are you ?"

Suara baritone memecahkan sunyi diantara Changmin dan Daniel. Daniel segera menjauhkan tangannya dari dagu Changmin, sementara Changmin segera berdiri tegak diatas kedua kakinya.

"Yy..Hyung?"

Yunho dihadapan Changmin memasang wajah serigala.

"Your brother ?" Tidak menjawab pertanyaan dari Yunho, Daniel si mata biru malah melempar mata dan pertanyaannya pada Changmin seraya memberdirikan tubuh duduknya, melingkarkan tangan hangatnya pada lengan Changmin.

"Ahh nah! He's my.. euhh" Changmin bingung mencari jawab. Yunho bukan temannya, bukan juga saudaranya. Namun bukan juga dia kekasihnya, walaupun Yunho sudah pernah menciumnya.

'Ahh Gila' Kepala Changmin bersuara, giginya mengerat dia menyipitkan mata menggigit sudut bibirnya. Bagaimana mungkin dia memikirkan Yunho adalah kekasihnya, lagi pula tidak mungkin juga dia menjawab dengan jawaban seperti itu,bagaimana jika orang bernama Daniel Patrick ini adalah golongan dari Homophobic, dia tidak mungkin menginginkan manusia mata biru ini terkena serangan jantung dan lalu mati, dia masih terlalu muda untuk itu. Atau yang lebih parahnya Changmin tidak mungkin menginginkan orang ini memukul wajah tampannya, misalnya. Changmin dan isi kepalanya terlalu sedikit mendrama.

"Stay away from him!" Yunho mendesis. Bergerak satu langkah lebih dekat, membuat kicauan kepala Changmin buyar.

"Who are you ?" Si orang asing belum dan tidak mau mengerti. Dia masih berdiri berjajar memegang lengan Changmin.

"Ah Daniel.. just.."

Tangan Changmin terangkat, berniat dia mengulur lepas tangan Daniel yang melingkar dilengannya.

"I said stay the fucking away from him!"

Suara Yunho menggelegar, Changmin terkesiap matanya membulat, sementara tangan Daniel sudah menjauh total dari lengannya. Satu hentakan kuat Yunho membuat rajut tangan Daniel pada lengan Changmin berantakan.

"Hyung!" Changmin reflex balas membentak. "Kenapa denganmu, dia hanya teman, minta maaf padanya!" Perintah Changmin, melirik pada Daniel yang memegangi pergelangan tangannya karena sabetan tangan Yunho yang lumayan kuat.

"Kau?" Lepas dari tangan Daniel, lengan Changmin beralih menjadi milih Yunho, dia menggenggamnya kuat-kuat. "Ikut denganku!"

Lagi-lagi Changmin terseret paksa. Dia setengah berlari mengimbangi langkah panjang Yunho yang selalu saja suka menggelandang tubuhnya kemana Yunho suka. Sementara Daniel si mata biru, dia berdiri meringis masih memegang pergelangan tangannya memperhatikan dua laki-laki yang semakin terlihat menjauh dari pandangannya. Si mata biru Eropa-Amerika kembali menjadi bukan siapa-siapa.

Tidak ada suara music, tidak ada suara Changmin ataupun Yunho yang bersahutan. Hanya sayup dingin dari pendingin udara dimobil Yunho yang membelai tubuh duduk mereka. Changmin melipat tangan membuang muka, sementara Yunho memegang kemudi mobil namun tidak ada niatan untuk menghidupkannya.

"Keterlaluan, dia pikir siapa dia, selalu saja menarikku seenakknya"

"Kau yang keterlaluan!"

Changmin hanya bergumam samar, namun suaranya masih dapat ditangkap dengan jelas oleh telinga Yunho.

"Wae? That was too much you know ? Kau terlalu kasar!"

"Itu salahmu!"

"Aku ?" Changmin menunjuk hidungnya. "Gila saja.. Hallo Mr Jung dia hanya menawarkan minuman!"

"Dia menyentuh wajahmu, ingat ?"

Changmin bungkam, dia mengingat-ingat, tangannya terangkat menyentuh dagunya lalu tersenyum samar menggigit bibir bawahnya.

Belum selesai Changmin dengan senyumnya yang akan sudah semakin melebar, tangannya yang memegang dagu kembali tertarik paksa, Yunho selalu saja melakukan apa yang ingin dilakukannya tanpa membuat aba-aba. Manarik tangan Changmin dan lagi-lagi genggamannya sangat erat membuat Changmin sedikit meringis menatap minta dilepas.

"Katakan! harus bagaimana aku mengucapkannya padamu, bagaimana aku menunjukkannya agar kau tahu kalau aku menyukaimu? Kenapa kau tidak juga mau mengerti dan menerimaku?"

"Hah.. Apa yang kau bicarakan!"

Changmin menghentakkan tangannya dari genggaman tangan Yunho. Manik mata hitam Yunho yang lurus memandangnya tak dia hiraukan, Changmin bagai menendang jauh tatapan mata tulus yang Yunho berikan padanya.

"Go find a dokter dude!" Changmin mengibaskan tangannya diudara, didepan wajah keras Yunho tepatnya.

Changmin melengos, membuang wajahnya beberapa detik sebelum akhirnya dia kembali tertarik mendekat, lagi-lagi karena paksaan dari tangan Yunho. Yunho memaksakan ciumannya pada Changmin, dengan kedua telapak tangan dia memegang kendali penuh atas kepala dan leher Shim Changmin yang melakukan sedikit gerakan penolakan-kaget dengan apa yang Yunho perbuat-dengan meletakkan dua tangannya pada dada bidang Yunho. Namun gerakan penolakan Changmin tidak terlalu berarti, Yunho menguasai bibir Changmin yang menolak untuk terbuka, sedikit gigitan yang dia berikan pada bibir bawah Changmin tidak memberikan efek apa-apa selain rasa bibir Changmin yang mulai sedikit berbeda rasa,

"Fuck You! What the fuck do you think you're doin', dammit Hyung. It's hurts !" Teriak Changmin mengumpat keras setelah dia berhasil terlepas dari Yunho yang mulai tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Bibir Changmin berdarah. Dia meringis menyentuhnya dengan punggung tangan."You sick!"

Jeda sedikit panjang diantara mereka, Changmin sibuk mendesis dengan bibirnya yang terluka, sementara Yunho diam menunduk dalam, sadar apa yang dilakukannya terkesan merendahkan.

"Maaf menyakiti bibirmu.." Kembali menengadah kepalanya,Yunho menjulurkan tangannya hendak kembali meraih wajah Changmin.

"Menjauh!" Changmin menyentak berdesis. Kembali dia menyentuh bibirnya dengan ujung jempol dan noda warna merah dari bibirnya terjiplak sempurna di ujung jempolnya. Changmin melirik sadis pada Yunho yang meletakkan sikunya diatas kemudi dengan jemarinya menyentuh dahi. Bisa saja Changmin bertingkah seolah dia sangat marah dan lalu pergi. Namun sebagian dari dalam dirinya melarangnya untuk pergi, dia menikmati kejadian ini, menikmati cara Yunho marah mungkin kecemburuan namun Yunho tak mengatakannya.

"Ahh ayolah kenapa ini tidak menjadi gampang saja seperti drama Korea yang selalu Taemin suka.. " Changmin menghantamkan punggungnya pada sandaran kursi, mendesah panjang menjilat luka ringan dibibirnya, lalu mengernyit dahinya karena perih yang dia rasa.

Changmin mengerti kenapa Yunho marah, Changmin mengerti kalimat pertanyaan yang dikeluarkan Yunho diawal suaranya mulai terdengar. Hanya.. bukan Shim Changmin kalau dia tidak bisa membuat permainan. Changmin belum mendapatkan apa yang ingin dia dengar dari Yunho, namun diluar dugaannya kalau Yunho akan menunjukkan perasaannya melalui ciuman yang dipaksakan, bukan kalimat manis seperti yang ingin dia dengar.

Now Playing🎵 : The 1975 - UGH!

Bosan dengan hening dan diam, Changmin menyalakan musik dari dalam stereo mobil Yunho keras-keras.

"I turned gay .. and it's your fault! " Changmin menyerah dengan diamnya Yunho yang menundukkan kepala. Entah apa yang sedang ada dikepalanya, sulit sekali untuk Changmin bisa meraba. Suara Changmin yang lebih teduh dari sebelumnya membuat Yunho singkat mengangkat kepalanya, menghadap Changmin yang sudah lebih dulu menatapnya. "Kenapa kau perlu bertanya apa yang ingin aku dengar kalau kau bisa mengatakan sesuatu yang lebih menyenangkan dari pada marah tanpa alasan dan memaksakan sebuah ciuman, that's sucks ya know ? dan rasanya sama-sekali tidak enak!" Changmin menjulurkan lidahnya singkat, lalu menutup sebelah matanya dengan telapak tangan."Aku merasa sudah seperti akan diperkosa kau tahu ?" Lanjutnya lagi, menyilangkan tangannya didepan dada ".. kalau kau hanya bermain disini, pergi dari sekarang! Karena kalau aku terlanjur menyukaimu lebih dari ini, kau tidak akan bisa lepas dariku!"

Senyum Yunho merekah, terlihat puluhan kali lebih indah, mempertegas garis tampan diwajahnya. Celoteh Changmin yang dia akhiri dengan memasang wajah sebal malah membuat Changmin terlihat ribuan kali lebih menggemaskan.

"Dan kau!..." Suara Changmin lagi, mengangkat telunjuknya menunjuk hidung Yunho.

"I love You!" Putus Yunho menghentikan suara Changmin.

Yunho menekan pedal yang ada disebelah kanan kursi, membuat kursi yang diduduki Changmin bergerak sedikit mundur.

"Bibirku berdarah!" Cegah Changmin yang mengerti jelas apa yang ingin dilakukan Yunho kali ini. Sementara Yunho menghiraukannya, dia mengumbar senyuman miring dan bergerak perlahan mendekati Changmin, sudah seperti akan menempatkan tubuhnya diatas pangkuan orang yang lebih kecil darinya.

Yunho membingkai wajah Changmin dengan kedua tangannya, membelainya perlahan, mengecup matanya pelan dan dalam, lalu Yunho tersenyum samar -seperti sebuah ucapan permisi agar Changmin memperbolehkannya melakukan sesuatu yang dikehendakinya-sebelum akhirnya Yunho mulai menekankan bibirnya berlama-lama dibibir Changmin. Changmin mulai mengerang, menahan perih bibirnya karena jilatan lidah Yunho yang mulai ingin bermain lebih dengannya. Yunho menghisap bibir Changmin pelan bagai menyesap coco mocha yang pernah Changmin seduh untuknya. Sedikit demi sedikit Changmin mulai terbiasa dengan perih dibibirnya, perihnya berubah menjadi sebuah kedutan manis yang membuat dia mulai membuka mulutnya perlahan, memberi sambutan selamat datang pada lidah berasa mint milik Yunho.

Sedikit tersentak dengan Changmin yang mau membalas ciumannya, Yunho tersenyum menang disela cumbuannya. Changmin membuka dan menjilat lidah Yunho, kesempatan manis untuk Yunho, tanpa basa-basi lagi Yunho memasukkan lidahnya lebih dalam memasuki mulut Changmin, mengisap lidahnya, menari-nari dilangit-langit mulutnya.

Yunho memeluk kuat pinggang Changmin, mulai terasa ada sesuatu yang mengeras dibalik balutan celananya. Shim Changmin benar-benar sudah membuatnya gila, beberapa menit yang lalu dia seperti ingin sekali menikam poros hidup Changmin yang sudah membuatnya panas terbakar cemburu juga karena Changmin yang acuh, namun sekarang Changmin dengan gampang bisa membuatnya ingin sekali bercinta. Sementara itu, ditengah kecipak basah dari mulut mereka tiba-tiba sesuatu didalam saku celana Changmin bergetar hebat, menghentikan ciuman basah mereka sementara.

"Eugh..!" Changmin melenguh ingin bergerak menjauh, hendak merogoh saku celananya namun Yunho tak memberinya kesempatan, dia kembali melumat bibirnya, menyeruakkan lidahnya kembali kedalam mulut Changmin. Mata Changmin kembali terpejam sempurna, sedikit menggeliat saat tangan Yunho menyentuh paha dan merogoh saku celanannya, sedikit susah namun tangan Yunho masih dapat menemukan benda tipis yang terus saja bergetar mengganggu dibagian bawah, lalu membuang benda itu se-enaknya ke kursi penumpang bagian belakang. Puas membuang pengganggu yang tidak memiliki nyawa, Yunho kembali melanjutkan aksinya menjelajah leher jenjang Changmin dengan kecupan bertubi-tubi, dan gigitan-gigitan kecil berkali-kali, meninggalkan bekas memar merah merata.

Changmin mengerang antara keenakkan dan sedikit kesakitan dari gigitan-gigitan Yunho pada lehernya, dia semakin mengeratkan pelukannya pada leher Yunho, sementara tangan Yunho mulai bergerak masuk kedalam kaus yang Changmin kenakan. Merasakan detakan jantung Changmin yang bisa dibilang lebih dari kencang. Merasakan daging lunak yang mulai mengeras didada bidang Changmin, yang seakan-akan memberitahu Yunho bahwa Changmin siap untuk lebih dari ini.

Namun Yunho masih cukup sadar meraka sedang tidak berada ditempat yang seharusnya, dia menyudahi ciuman basahnya dengan kecupan kecil pada mata dan juga ujung hidung Changmin yang berkeringat samar.

"Kau milikku" Seru Yunho meng-claim Changmin sebagai sesuatu yang hanya dia yang bisa memilikinya.

Mereka terengah, meraup kembali nafasnya yang menguap bercampur dengan udara, mata Changmin sendu sedikit memerah efek dari perlakuan Yunho yang seperti benar-benar telah memperkosa mulut dan bibirnya.

Kecupan lembut kembali Yunho daratkan diatas mata sayu Changmin, tanda terimakasih dan tanda kasih membuat Changmin terlena dalam nyaman dan merasa aman, hingga dia kehilangan kesadaran dan tertidur pulas setelahnya. Sampai akhirnya Changmin kembali terbangun saat gemericik air dari kamar mandi menggelitik telingannya. Jung Yunho's house. Changmin kembali berlabuh di tempat tinggal bossnya. Bukan! namun kali ini, Kekasihnya.

"Yeah i was shocked, dia memegang kendali atas diriku dangan membingkai leher dan kepalaku dengan dua tangannya, dan yah! kau bisa bayangkan bukan?" Tangannya bergerak memutar mengaduk cokelat panas didalam gelas, sementara bibirnya berceloteh panjang dengan Iphone biru cerahnya. Changmin tanpa malu bercerita tentang dia dan Yunho pada Kyuhyun sang sahabat yang mendengarkan dengan setia penuh antusias. "Of course i love it, you kidding ? that was amazeballs you know!"

"amazing!" Koreksi Kyuhyun dari seberang.

"Ahh i don't give a anjing! jangan mengoreksiku, ini mulutku! And hey! Pesanmu itu telat, aku baru membacanya saat tadi aku baru bangun tidur!" Omel Changmin berkelanjutan..

"Aku tidak! aku dengan cepat memberitahumu kalau Yunho menyusulmu keluar, kau saja yang tidak cepat membukanya. Jadi sekarang dimana dia ?" Suara Kyuhyun lagi masih dari seberang.

"Mandi kurasa!"

"Kau belum tidur dengannya bukan ?"

"Don't be so silly, tentu belum! ini cinta bukan hanya tentang dildo, sodom, or sex understood ?"

"Ahhh.. terserah kau saja!" Suara Kyuhyun menguap menyerah.

"Besides..my penis is not that cheap ya know! " Changmin menyesap cokelatnya yang sudah siap.

"Ohh.. coba kuingat siapa yang bilang dia tidak menjual tubuhnya untuk uang!" Kyuhyun mengejek dari seberang.

"Maksudku bukan uang, idiot!"

Changmin menambah satu balok gula pada cokelat di gelasnya. Belum sempat lagi Changmin melanjutkan obrolannya dengan Kyuhyun didalam telephone, dia sudah dikagetkan oleh tangan putih dan basah yang melingkar dipinggangnya.

"Siapa ?" Tanya Yunho menelusup diceruk leher Changmin.

"Telur Burung!" Jawab Changmin singkat, sedikit kegelian oleh kecupan lembab dari bibir Yunho.

"Changmiiiinn?"

Yunho menarik panjang nama Changmin yang disebutnya, tanpa berkata banyak dia memberi isyarat agar Changmin memperbaiki bahasanya, atau panggilannya untuk sahabatnya.

"Baiklah.. Kyuhyun!"

Changmin berputar. Membuang ponselnya sembarangan, dan melingkarkan tangannya pada leher Yunho yang berkalung handuk putih dan sedikit basah. Changmin mulai berani bertingkah nakal, dia tersenyum miring dan menggigit bibirnya sendiri sebelum akhirnya dia menjilat sekali dua kali bibir merah Yunho, lalu melanjutkannya dengan mengecupnya berkali-kali, yang tentu saja mendapat balasan yang lebih dari Yunho yang mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Changmin.

"Kau tidak diizinkan untuk bersama dengan orang lain!" Titah Yunho setelah ciumannya yang terakhir. Dijawab Changmin dengan anggukan dalam.

"You too!" Balas Changmin dengan perintah yang tentu saja sama. Namun tidak kunjung mendapat anggukan atau jawaban dari Yunho yang malah diam memperdalam pandangannya menatap alur wajah tampan Changmin. "Hyung!" Suara Changmin membangunkannya, yang sudah seperti sedang memasuki alam diluar sadar.

"Ne!" Seru Yunho singkat, mengembangkan senyumnya, lalu memeluk Changmin erat-erat.

.

.

.

To Be Continued...

ooooOOOooo

.

.

.

Bored,huh ? Baiklah jangan katakan, atau saya akan menggenggam bilah pisau ditangan. Yaa.. jangan keburu berpikir serampangan saya cuma mau ngupas buah-buahan. XD

Maaf late update . Tugas sekolah tidak mau dimadu. Dan pekerjaan rumah tidak mau mendengar kata nanti dulu, jadi ini sedikit telat dan maaf^^ . Jadi bagaimana? gimme some review akan saya lanjutkan, kalau zero yang saya dapat. Yup mungkin akan lebih lagi telat-telatan lagi buat update nya. mungkin juga akan segera dibuat Tamat . ehe..

Tbh, saya juga sedang mengerjakan FF request dari salah satu pembaca, (dari kisah asli dia) yang.. baiklah akan saya sebut "Sedih", namun masih dilema. apakah saya sanggup menulisnya, terlebih ini kisah asli orang kalau nyeleweng tar saya digampar. eheh.. *Baiklah untuk bagian yang ini abaikan saja saya.

well.. Sankyuuu^^

See ya next chapter

love love love.

Ino Cassio.