.
.
D: Dimple
[Noun]
: a small depression in the flesh, either one that exists permanently or one that forms in the cheeks when one smiles
.
.
.
Kids!Namjin
.
.
.
Seokjin samar-samar ingat, waktu usianya masih enam tahun, ia pernah diajak ibunya untuk bertandang ke rumah tetangga baru mereka. Wanita itu bilang, marga tetangga baru mereka itu sama-sama 'Kim' sehingga Seokjin harus menganggap seluruh anggota keluarga tersebut layaknya saudara.
Sebagai anak yang baik, Seokjin tentu saja langsung menurut. Apalagi setelah netra madunya bertukar tatap dengan sorot polos anak laki-laki keluarga Kim itu.
"Kamu lucu," tukas Seokjin langsung, sebelah tangan tahu-tahu menggapai pipi tembam yang lebih muda, menjawilnya gemas, "mau jadi kawanku, tidak?"
Anak laki-laki yang lebih muda meringis karena cubitan Seokjin di pipinya. Ia mengusap-usap belah pipinya yang memerah sebelum akhirnya bersungut-sungut kesal, "Tidak mau, nanti pipiku habis karena Kakak cubiti terus."
Mendengarnya, Seokjin tergelak. Merasa terhibur dengan respons Namjoon, nama anak laki-laki yang kini duduk bersisian dengannya itu.
"Jangan marah, dong," goda Seokjin di sela tawanya. "Nanti aku bawakan permen tiap kali kita pergi bermain, bagaimana?"
"Sungguh?" Namjoon menyambar cepat dengan sepasang mata berkilat-kilat senang. Ia suka permen, suka sekali. Biar ibunya kerap mengomelinya yang malas sikat gigi setelah makan permen dan berakhir membuat gigi susunya berlubang, rasa cinta Namjoon pada makanan manis yang satu itu tidak pernah sedikit pun berkurang.
Seokjin mengangguk yakin.
"YAAAY!" seru Namjoon heboh, lantas melempar tersenyum lebar, lebar sekali. Terlalu lebar sampai-sampai Seokjin takut anak itu akan merobek mulutnya suatu hari nanti.
Namun, sesuatu nyatanya lebih menarik perhatiannya.
Seokjin mengangkat alisnya tinggi, lalu mengernyit. Bertanya-tanya dalam hati, apa ia baru saja melihat kalau pipi lucu Namjoon ... berlubang?
"Kamu sakit?"
"Huh?" Namjoon menatap Seokjin heran, tak menyangka kalau anak itu akan tiba-tiba bertanya demikian, dengan wajah cemas pula. "Tidak."
"Tapi pipimu barusan berlubang. Apa kamu sakit gigi?"
Ternganga, Namjoon berkedip-kedip. Sebentar, sebentar, agaknya ia paham maksud Seokjin. "Ini namanya lesung pipi, Kak."
"Huh?"
"Aku tidak sedang sakit gigi. Ini memang sudah ada sejak lahir." Namjoon menunjuk pipinya dengan telunjuk gemuknya, lalu menarik sudut-sudut bibirnya, tersenyum dari telinga ke telinga, menampilkan lubang kecil di pipinya lagi. "Lubang ini akan muncul kalau aku tersenyum atau tertawa."
Sedetik setelah penjelasan itu meluncur dari mulut Namjoon, Seokjin membulatkan mata dan bertepuk tangan keras-keras. "Ajaib sekali!"
Namjoon tak paham pola pikir Seokjin. Ajaib katanya?
"Aku juga ingin punya yang seperti itu," tambah Seokjin kemudian dengan nada merajuk. "Bagaimana caraku mendapatkannya?"
Namjoon mengangkat bahu.
"Apa kalau aku tusukkan telunjuk atau pensilku di pipiku, seminggu kemudian aku akan punya lesung pipi seperti punyamu juga?"
Namjoon mendelik, "Jangan, itu berbahaya." Namjoon tak ingin Seokjin malah berakhir terluka.
"Tapi, lubang di pipimu benar-benar lucu, Namjoon-a," katanya seraya menusukkan telunjuknya pada pipi Namjoon. "Kalau aku menikah denganmu saat sudah dewasa nanti, apa kita bisa punya anak yang memiliki lesung pipi seperti ini?"
Namjoon masih terlalu muda untuk memahami. Ia hanya tahu kalau ikatan pernikahan akan menghasilkan keturunan, seperti ayah dan ibunya yang menikah dan kemudian memiliki dirinya. Namjoon belum paham bahwa memiliki anak merupakan kerja sama yang sempurna antara sperma dan ovum, yang berarti bahwa diperlukan satu laki-laki dan satu perempuan untuk menghasilkan anak. Namjoon kecil belum paham soal itu semua.
Maka, ketika si Manis Seokjin, yang masih sama-sama belum mengerti, bertanya demikian, Namjoon hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja!"
Seokjin meringis senang, "Ayo berjanji kalau begitu!"
.
.
.
Fin
.
.
.
Hello, don't forget to comment and let's be friend!
