"Mencintai berarti belajar mengalahkan ketakutan untuk tersakiti di kemudian hari."
-RED NIGHT-
Sungmin mengernyit melihat kehadiran Kyuhyun di sana. Itu pria pemilik cafe itu, batinnya bingung. Tetapi kemudian dia melihat kesempatan untuk melarikan diri dari Jungmo. Pegangan Jungmo di tangannya melemah, membuat Sungmin bisa menyentakkan tangannya dan melepaskan diri.
"Sungmin." Jungmo masih berusaha mengikuti Sungmin, tetapi dengan cepat Sungmin melompat, bersembunyi di belakang punggung kyuhyun yang bidang. Dan dengan penuh pengertian pula kyuhyun langsung berdiri melindunginya.
"Saya rasa Sungmin tidak mau berbicara lagi dengan anda."
Mata Jungmo memancar marah menatap ke arah kyuhyun, "Saya tidak tahu anda siapa." Desisnya geram, "Tetapi sungmin adalah tunangan saya dan saya berhak berbicara dengannya."
"Mantan tunangan." Sungmin menyela dari punggung kyuhyun, "Dan aku tidak mau berbicara denganmu."
"Anda dengar bukan?" kyuhyun melemparkan pandangan mencemooh ke arah Jungmo. "Saya rasa lebih baik anda meninggalkan Sungmin sendirian."
Kemudian dengan sikap tegas, sebelum Jungmo bisa berbuat apa-apa, kyuhyun menggiring Sungmin memasuki mobilnya. Meninggalkan Jungmo yang terperangah dengan muka masam di sana.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
"Dia mantan tunanganku." Sungmin melirik gelisah ke arah kyuhyun, setelah dia berada di dalam mobil dan kyuhyun melajutkan mobilnya. Sungmin baru menyadari bahwa dia telah begitu saja masuk ke dalam mobil seorang lelaki yang bahkan hampir sama sekali tidak dikenalnya.
Kyuhyun melirik sedikit ke arah Sungmin, ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak, "Mantan?" tanyanya tenang.
Sungmin menganggukkan kepalanya, "Ya, hubungan kami tidak berjalan sebaik semestinya. Aku memutuskan hubungan dan rupanya Jungmo masih belum terima." Sungmin menatap ke pinggir jalan, "Bisakah aku turun di depan sana?"
Kyuhyun mengernyit, "Kenapa harus turun di depan sana?"
'Dan kenapa pula aku tidak boleh turun?' Sungmin membatin, lagipula dia tidak tahu mobil ini akan dibawa kemana oleh kyuhyun. Dia harus tetap waspada meskipun kyuhyun tampaknya baik dan tidak berniat jahat kepadanya.
"Aku hendak ke supermarket berbelanja bahan makanan, dari pertigaan itu aku tinggal naik angkutan umum satu arah ke sana." Sungmin berkata jujur, dia memang hendak naik angkot ke supermarket itu sebelumnya sebelum insiden Jungmo yang mencegatnya di jalan tadi.
"Aku akan mengantarmu." Dengan tangkas kyuhyun membelokkan mobilnya ke arah tikungan yang dimaksud Sungmin.
Sungmin mengernyitkan keningnya, penampilan kyuhyun seperti orang yang akan berangkat kerja, dia sangat rapi dengan jas dan dasi yang terpasang di badannya.' Apakah selain memiliki cafe lelaki ini juga bekerja kantoran?' Batinnya dalam hati.
"Kau tidak berangkat bekerja?" Akhirnya Sungmin memberanikan diri untuk bertanya.
Kyuhyun terkekeh, "Aku bisa datang semauku." Gumamnya misterius, membuat Sungmin terdiam dan menebak-nebak.
Mobil lalu berhenti di parkiran supermarket itu, Sungmin membuka pintu dan turun dengan segera.
'Terima kasih sudah mengantarku, dan terima kasih sudah menyelamatkanku dari Jungmo." Gumamnya pelan.
Kyuhyun menatap Sungmin dengan tatapan aneh yang sangat dalam, tidak bisa ditebak apa artinya, lalu lelaki itu tersenyum lembut.
"Sama-sama Sungmin." Suaranya terdengar lembut dan menggetarkan. Lalu kyuhyun memutar mobilnya dan keluar dari parkiran itu, diiringi tatapan bingung Sungmin.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Dia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki itu.
Bahkan sekarang di saat dia sudah di rumah dan sibuk memasukkan barang belanjaannya ke dalam kulkas. Ingatan tentang Kyuhyun, dan wajahnya terngiang-ngiang terus di benaknya.
Sungmin berusaha melupakan kyuhyun, dengan cara mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Jungmo sekaligus mengingatkan dirinya sendiri bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk tertarik kepada lelaki baru. Tetapi benaknya tidak mau berkompromi. Seolah ada sesuatu yang menariknya, membuatnya selalu teringat kepada kyuhyun.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Malam itu Sungmin berjalan dengan was-was menyeberang dari arah apartemennya menuju Garden Cafe. Dia mengintip ke seluruh jalanan tetapi tidak melihat keberadaan Jungmo ataupun mobil birunya, dengan lega dia menarik napas.
Mungkin Jungmo telah menyerah untuk sementara.
Sungmin lalu memasuki pintu cafe itu. Seperti biasa, shindong yang sedang ada di dekat bar menyambutnya.
"Segelas anggur lagi Nona Sungmin?" sapanya ramah. Sungmin mengangguk dan tersenyum lembut.
"Satu saja shindong." dia butuh segelas anggur itu untuk membantunya tidur. Tidur dan melupakan semua hal yang ada di dunia nyata.
Ketika dia melangkah menuju tempatnya di sudut, dia hampir bertabrakan dengan sosok lelaki yang tiba-tiba melintas cepat di sana.
"Oh. Maaf." Ada senyum di suara lelaki itu, "Aku tidak melihatmu, kau begitu mungil."
Sungmin mendongakkan kepalanya, dan ternganga, Lelaki itu amat sangat mirip dengan kyuhyun bagaikan pinang dibelah dua.
Tetapi meskipun begitu Sungmin tahu kalau lelaki ini bukan kyuhyun, penampilan mereka berdua yang pasti sangat berbeda. Lelaki yang ada di depannya ini berambut setengah panjang sampai menyapu kerahnya, sementara kyuhyun berpotongan rapi. Gaya berpakaiannyapun sangat bertolak belakang, Sungmin ingat ketika bertemu kyuhyun di malam hari waktu itu, dia mengenakan celana khaki yang formal dan sweater panjang yang membungkus tubuhnya bagaikan model yang elegan. Sementara lelaki yang ada di depannya ini mengenakan celana jeans yang sangat pudar hingga hampir putih dan kaos longgar yang sedikit kusut.
Guixian menatap Sungmin yang masih termangu meneliti dirinya lalu tergelak, "Kau pasti mengira aku adalah kyuhyun." Tebaknya lucu lalu mengulurkan tangannya, "Kenalkan aku Guixian Cho, saudara kembar Kyuhyun."
'Saudara kembar, pantas saja mereka begitu mirip' batin Sungmin masih kaget. Lalu dia tergeragap dan menyambut uluran tangan lelaki itu dan menyebutkan namanya. Guixian menggenggam tangannya dengan erat dan bersemangat, berbeda dengan genggaman tangan Kyuhyun yang halus dan elegan ketika mereka berkenalan waktu itu.
"Kau temannya Kyuhyun?" Guixian menatap Sungmin dengan menyelidik. Ada nada ingin tahu di dalam suaranya, meskipun lelaki itu tetap tersenyum manis.
Sungmin menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa disebut teman Kyuhyun bukan?
"Bukan. Saya bukan temannya. Saya pelanggan cafe ini."
"Oh. Dan kau mengenal kyuhyun?"
Sungmin menganggukkan kepalanya, "Saya tahu kyuhyun pemilik cafe ini, kadang-kadang dia menyapa pengunjung cafe ini bukan?"
Guixian menyipitkan matanya, "Menyapa pengunjung cafe ini?" matanya bersinar misterius, "Mungkin saja." Senyumnya mengembang, "Oke aku harus pergi, senang bertemu denganmu, Sungmin." Lelaki itu membungkuk hormat dengan gaya menggoda lalu melangkah pergi.
Sementara itu Sungmin masih mengamati kepergian Guixian dengan dahi mengerut, ketika Shindong mendekatinya.
"Saya lihat anda sudah bertemu dengan Tuan Guixian." Gumamnya, mendahului Sungmin melangkah ke meja Sungmin yang biasanya, lalu meletakkan anggur dan cemilan pesanan Sungmin di meja, "Beliau saudara kembar Tuan kyuhyun, tetapi anda lihat sendiri mereka sangat bertolak belakang."
Seperti pinang dibelah dua, tetapi sangat bertolak belakang. Sungmin menyetujui dalam hati. Lalu keningnya berkerut ketika mengingat kyuhyun. Lelaki itu tidak tampak di mana-mana. Sungmin mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu menghela napas panjang.
Ada apa dengan dirinya? Dia datang ke cafe ini untuk mengetik cerita dan menyalurkan isnpirasi menulisnya bukan? Dia datang ke sini bukan untuk bertemu kyuhyun. Dengan cepat Sungmin membuka laptopnya, lalu mulai mengetik di file yang sudah disiapkannya. Lama setelahnya, Sungmin menyadari bahwa dia membohongi batinnya sendiri, bahwa dia amat sangat ingin melihat kyuhyun meskipun hanya sedetik saja.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Seohyun tersenyum ketika menghidangkan makanan itu di meja, dibantu oleh beberapa pelayan dia meletakkan makanan-makanan itu untuk kyuhyun. Ya. Seohyun khusus memasak untuk kyuhyun malam ini, dia mengikuti kursus memasak untuk mengisi kesibukannya dan memutuskan untuk mengundang kyuhyun mencicipi hasilnya.
"Aromanya lezat." Kyuhyun tersenyum lembut, "Sepertinya mereka mengajarimu dengan baik." Kyuhyun mengambil makanannya dan mencicipi, lalu memutar bola matanya, "Dan rasanya juga nikmat."
Seohyun terkekeh, menarik kursi rodanya mendekat dan duduk di seberang kyuhyun, "Kau yakin kau tidak berbohong untuk menyenangkanku?"
"Tidak." kyuhyun mengunyah dengan bersemangat, "Masakan ini memang benar-benar lezat."
"Nanti setelah kita menikah, aku akan memasakkan makan malam untukmu setiap malam." Seohyun tertawa. "Aku akan memilih menu yang berbeda-beda supaya kau tidak bosan."
Kyuhyun langsung menelan dengan susah payah, makanan yang dikunyahnya tiba-tiba terasa seperti pasir ketika seohyun menyinggung pernikahan. Hingga dia harus meminum air untuk membantunya menelan makanannya.
Dia berusaha menjaga wajahnya tetap penuh senyum supaya Seohyun tidak menyadari perubahan suasana hatinya. Dan rupanya seohyun memang tidak menyadarinya, perempuan itu sedang menerawang membayangkan persiapan pernikahan mereka.
"Eomma dan appa akan pulang dari Australia minggu depan, dan semoga kita bisa membicarakan persiapan pernikahan dengan lebih terperinci." Mata seohyun berkaca-kaca ketika menatap kyuhyun. "Terima kasih Kyuhyun, atas cintamu yang penuh maaf, aku bersyukur karena bisa memilikimu."
Kyuhyun mencoba tersenyum tetapi yang muncul adalah senyuman pahit yang tak tertahankan.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Ketika mobil kyuhyun berlalu, seohyun menatap dari teras dengan keheningan yang menyesakkan.
Semakin lama kyuhyun semakin berbeda dan terasa begitu jauh, dia menyadarinya. Seohyun tahu insiden pengkhianatannya yang sangat fatal itu membuat kyuhyun semakin jauh dari dirinya. Tetapi lelaki itu bersedia mendampinginya untuk seterusnya, berkomitmen supaya menjaganya. Dan seohyun sangat takut kehilangan kyuhyun, dia tidak bisa hidup tanpa lelaki itu.
"Nona seohyun mau dibantu?" seorang pelayannya melihat ke arah teras, ke arahnya.
Seohyun tersenyum, "Tidak usah bi, aku bisa membawa kursi rodaku masuk sendiri." Dengan tenang dia berdiri, lalu melipat kursi rodanya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Ketika kyuhyun sampai di Garden Cafe itu, sudah menjelang tengah malam, jalanan macet karena malam ini adalah malam libur sehingga kyuhyun menghabiskan banyak waktunya di jalanan. Dia melangkah masuk ke arah cafe, berharap-harap cemas, ingin menemukan sosok Sungmin di dalam sana.
Tetapi perempuan itu tidak ada. Kyuhyun membatin dalam diam. Menahan kekecewaan di hatinya. Apakah malam ini Sungmin tidak menulis di cafe ini?
Shindong yang melihat kyuhyun datang langsung mendekatinya dan tersenyum memahami, "Nona Sungmin tentu saja datang tadi, dia menulis sebentar lalu pulang. Katanya dia mengantuk, mungkin anggur merah itu mulai bereaksi kepadanya." Shindong terkekeh, "Ngomong-ngomong, Nona Sungmin tadi berkenalan dengan Tuan Guixian."
"Sungmin berkenalan dengan Guixian? Bagaimana bisa?"
"Tuan guixian tadi pulang tepat pada saat Nona sungmin datang, mereka berpapasan."
"Oh." Kyuhyun menghela napas panjang, menyembunyikan kecemasannya. Kalau sampai Guixian memperhatikan Sungmin, dia pasti akan kalah. Selalu begitu, para perempuan lebih menyukai Guixian yang penuh canda dan mempesona daripada dirinya yang serius dan pendiam.
"Aku tidak ingin Keenan bertemu dengan Sungmin lagi, shindong, apapun caranya." Tiba-tiba dia merasakan firasat itu. Meskipun dirinya dan Guixian bertolak belakang dalam segala hal, tetapi dalam selera wanita mereka sama.
Kalau Guixian tertarik pada perempuan, maka Kyuhyun akan mempunyai ketertarikan yang sama. Begitupun tentang Seohyun, Seohyun dulu tergila-gila kepada Guixian, tetapi karena Guixian tidak pernah serius dengan perempuan, Seohyun mengalihkan perhatiannya kepada Kyuhyun.
'Apakah Guixian merasakan getaran yang sama, yang dirasakanolehnya ketika melihat Sungmin?' Batin kyuhyun bertanya-tanya, mencoba mengusir kecemasan di dalam benaknya.
Sementara itu shindong mengerutkan keningnya sambil mengawasi kyuhyun, "Bagaimana caranya mencegah Tuan Guixian bertemu dengan Nona Sungmin? Tuan guixian bisa datang dan pergi sesuka hatinya."
"Kalau ada Sungmin di dalam, tahan guixian dimanapun dia berada. Pokoknya jangan sampai mereka bertemu lagi." kyuhyun bersikeras. Dia lalu memijit dahinya yang mulai berdenyut pusing, "Aku lelah sekali hari ini, shindong."
Shindong mengangkat alisnya, "Karena melewatkan malam bersama Nona seohyun?" tebaknya dengan tepat, membuat kyuhyun menghela napas panjang, tidak membantah tetapi tidak juga mengiyakan.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
"Hai"
Sungmin menolehkan kepalanya dan mengernyit ketika menemukan kyuhyun sedang bersandar di dekat pintu putar apartemennya, lelaki itu tampaknya sedang menunggunya.
Benarkah? Sungmin mengernyitkan keningnya.
"Aku menunggumu dari tadi." Kyuhyun langsung bergumam, menjawab keraguan Sungmin. "Bagaimana kabarmu? Apakah lelaki itu... mantan tunanganmu, mendatangimu lagi?"
Sungmin tersenyum pahit, "Sepertinya dia memutuskan untuk menyerah sementara."
"Apa yang dia lakukan sehingga kau tampak begitu membencinya?"
Sungmin tercenung, "kenapa kyuhyun ingin tahu?' Dia mengkhianatiku. Dengan sangat parah." Suara Sungmin terdengar serak, selalu begitu setiap dia mengingat Jungmo, "Dan aku tidak bisa memaafkannya."
Kyuhyun langsung terkenang akan pengkhianatan yang dilakukan seohyun kepadanya, dia bisa memahami perasaan Sungmin. Dan merasa Sungmin lebih beruntung, karena perempuan itu bebas membenci dan meninggalkan, tidak seperti dirinya.
"Tetapi sepertinya dia belum menyerah." Gumam kyuhyun kemudian, mengingat bagaimana Jungmo mencekal lengan Sungmin dan memaksa untuk berbicara.
Sungmin tertawa, "Dia memang begitu, tidak pernah mau menerima pendapat orang lain. Tetapi aku akan menunjukkan kepadanya bahwa kali ini dia tidak punya kesempatan lagi."
"Karena kau seorang pendendam?" Gumam kyuhyun, sambil tersenyum.
"Bukan." Sungmin menggelengkan kepalanya, "Karena aku bisa memaafkan, tetapi tidak akan pernah bisa melupakan." Jawab Sungmin mantap.
Kyuhyun tertegun, apakah itu juga yang dia rasakan kepada Seohyun? Bisa memaafkan segala kesalahan seohyun di masa lalunya, tetapi tetap tidak bisa melupakannya?
"Kau mau kemana?" kyuhyun menatap penampilan Sungmin yang lumayan rapi, dengan celana hitam dan kemeja formal berwarna krem.
Sungmin mengamati penampilannya sendiri dan tersenyum, "Ini penampilan paling rapi yang bisa kulakukan. Aku akan menemui editorku dan menghadap perwakilan penerbit di kota ini, untuk membicarakan kontrak novel terbaruku."
"Di mana?" tanya kyuhyun.
Sungmin menyebut nama sebuah daerah perkantoran yang lumayan jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
Sungmin langsung menggelengkan kepalanya, tidak mungkin dia menerima tawaran kebaikan lelaki itu kepadanya. Meskipun dia bertanya-tanya apa yang dilakukan kyuhyun menunggunya di sini, "Tidak usah, terima kasih. Aku sudah memesan taksi." Senyum Sungmin berubah lembut, "Sampai jumpa."
"Oke. Sampai jumpa lagi." kyuhyun menyandarkan tubuhnya di dinding, mengamati Sungmin yang melangkah pergi menuju tempat taksinya menunggu. Dicatatnya dalam hatinya bagaimana Sungmin mengatakan 'sampai jumpa', dan bukannya 'selamat tinggal' kepadanya.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
"Kau sudah menemukan alamat pria bernama Jungmo itu?" kyuhyun menelepon salah satu pegawai kepercayaannya dikantor cabang mereka di tempat asal Sungmin. Dia ingin menyelidiki tentang Jungmo. Well, setiap orang yang akan berperang harus mempelajari musuhnya masing-masing bukan?
Kyuhyun sendiri tidak tahu kenapa dia melakukannya, tetapi ketertarikannya kepada Sungmin sendiri sungguh sangat mengganggunya. Dia tidak bisa melepaskan Sungmin dari pikirannya, seluruh batinnya tersita untuk Sungmin. Perempuan itu telah mendapatkannya dari pertama kali mereka saling menyapa.
"Dan setelah kau mendapatkan alamat Jungmo, apa yang akan kau lakukan?" shindong yang sedari tadi duduk di ruang kerja kyuhyun di atas cafe itu mengernyitkan keningnya, "Menyingkirkannya?"
"Mungkin." Mata kyuhyun bersinar tajam, "Aku sudah terbiasa menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalanku."
"Jalanmu?" Hanya shindong satu-satunya orang yang tahu kekejaman tersembunyi di balik sikap kyuhyun yang tenang dan terkendali. Dan hanya shindong pula lah yang berani membantah dan mempertanyakan semua keputusan kyuhyun. Karena dia tahu jauh di dalam hati kyuhyun, tersimpan kebaikan yang luar biasa besar, bertolak belakang dengan kekejamannya. Buktinya laki-laki itu tidak tega membuang seohyun begitu saja. "Jalanmu untuk apa, kyuhyun? Untuk memiliki Sungmin? Bukankah kau tidak bisa memiliki Sungmin selama masih ada seohyun?"
Ah iya. seohyun.
Kyuhyun sendiri masih belum tahu apa yang akan dilakukannya kepada seohyun. Apakah terlalu kejam meninggalkan seohyun yang lumpuh dan tidak berdaya seperti itu?
Tetapi kyuhyun tidak bisa membohongi perasaannya, perasaan yang dirasakannya dengan begitu kuat kepada Sungmin.
"Akan kupikirkan nanti." Gumam kyuhyn sekenanya.
Shindong langsung mengangkat alisnya, "Pernikahanmu dengan seohyun hampir delapan bulan lagi, kyuhyun."
"Aku tahu." Dan kyuhyun harus bisa bersikap tegas, menentukan apa yang akan dilakukannya selanjutnya.
Shindong sendiri hanya tercenung, dia mencemaskan kyuhyun. Baginya kyuhyun sudah seperti anaknya sendiri karena dia memang tidak punya keluarga lagi. Pada saat kyuhyun memutuskan melanjutkan pertunangannya dengan seohyun waktu itupun shindong sudah tidak setuju. kyuhyn hanya didorong oleh rasa bersalah. Shindong takut kalau pada akhirnya kyuhyun bisa menemukan orang yang benar-benar dicintainya, dan dia terlanjut terikat kepada seohyun?
Dan sepertinya, apa yang ditakutkannya sudah terjadi.
⧫⧫⧫ RED NIGHT ⧫⧫⧫
Sungmin menoleh ke arah victoria yang sedang asyik memilih-milih hiasan rumit dari kerang di bazaar itu.
"Kau belum selesai?" tanyanya, kakinya mulai kelelahan karena berjalan begitu jauh mengelilingi seluruh area bazaar yang sangat luas. Victoria mengajaknya ke tempat ini sepulang dia bertemu dengan penerbit tadi. Dan itu adalah sebuah kesalahan besar, karena begitu berbelanja, sepertinya Kesha tidak bisa berhenti.
"Aku masih ingin melihat pakaian di sebelah sana." victoria menunjuk sudut yang jauh, "Tadi ketika kita lewat, aku melirik ada satu baju yang warnanya lucu."
Sungmin mengernyit ketika membayangkan harus berjalan lagi ke arah sana, "Kenapa kau tadi tidak berhenti ketika kita lewat sana?"
Victoria tampaknya tidak memahami kelelahan Sungmin, "Aku tadi masih ragu apakah aku menginginkannya atau tidak." Matanya tertuju pada gelang kerang yang dicobanya, "Sekarang aku memutuskan bahwa aku menginginkannya." Victoria menyerahkan gelang yang dipilihnya kepada penjualnya. Lalu menunggu gelang itu dibungkus dan kemudian dia membayarnya.
Setelah itu, dia setengah menggandeng Sungmin ke arah lokasi penjual baju yang dimaksudkannya, "ayo." Gumamnya bersemangat.
Dengan menyeret langkah, Sungmin mengikuti victoria yang berjalan begitu cepat dan bersemangat. Kakinya sakit, dan dia sedikit oleng ketika menembus keramaian itu. Seseorang sepertinya tanpa sengaja mendorongnya sehingga tubuhnya tergeser ke samping, menabrak seseorang.
"Ups." Gumam suara itu, sebuah tangan yang kuat menopangnya. Sungmin mengenali suara itu dan dia mendongakkan kepalanya.
"Sepetinya kau ditakdirkan untuk selalu menabrakku." Wajah Guixian yang ada di depannya, dan lelaki itu tersenyum geli menatapnya.
.
.
.
Bersambung . . .
Next or Delete?
Thanks for Review ^^
