it's not like I have a choice ―Terminating the World
.
.
Jangan.
Jangan ingatkan Luki.
"Ukh―"
Bayangan masa lalu makin menghantamnya. Luki masih menahan sakit teramat. Gelar Parade bukan pajangan semata rupanya.
BRUKKK
Buruk.
Pandangannya mengabur perlahan. Luki ikut ambruk akibat kaki tertekuk. Selain perut, kakinya serasa ditusuk. Ia tergeletak di lantai begitu saja. Satu tangannya diluruskan ke depan, entah untuk apa. Cahaya dari arah seberang tampak temaram. Ia menggumamkan sesuatu sebelum semua menjadi gelap.
.
Ring mengangkat tubuh Lui yang terkulai itu. Sedikit kesulitan, tapi ia bisa. Ring gitu loh.
"Zzz"
Baru saja Ring hendak berjalan dengan menggendong tubuh rekannya itu, ia mendengar dengkuran. Ah, tunggu, bukannya Lui..
"Zzz."
Perempatan imajiner muncul.
"HIBIKI LUIIII!"
.
.
.
.
.
Fukase heran darimana Ted mendapatkan seragam Sugoroku. Yah, Rion juga dapat sih. Walau penasaran, ia tak menanyai Ted langsung. Ini hukuman. Mereka ibarat keju di penjepit tikus kini. Hah, tunggu. Tachibana kan tidak dihukum. Jadi meskipun mereka bersama, status mereka tetaplah berbeda. Jika dianalogi, ibarat tersangka kasus hilangnya kolor tetangga dan kawannya yang gak tau temannya. jatuh ke lubang dosa.
"Kalian tahu tugas kalian, bukan? Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya." Rook memberi titah sebelum melambai selamat tinggal ―Fukase berharap bukan yang terakhir.
.
.
.
.
"Kubilang jangan sekarang. Tahan diri kalian." Len mencegah mendekatnya Gakupo dan Kaito dengan kedua tangannya.
"Nee, kenapa?" Kaito hanya tersenyum jahil.
"Sudah kukatakan, kita di sekolah.."
"Sebentar saja.." Rajuk Gakupo.
"Tidak..ukh..hentikan.."
Krieetttt
.
..
...
Hening.
Sunyi.
Senyap.
Lui merasa tidak enak hati karena datang disaat yang tidak tepat, namun bagi Len, Lui datang tepat waktu menyelamatkannya.
"Hibiki, kau kenapa?"
Gakupo yang pertama kali menyadari, ketika Lui membuka pintu dengan balutan perban dan plester yang dilekatkan.
"Biasa."
"Tapi, biasanya tak separah ini." Imbuh Kaito.
"Lui habis dihajar anak kelas satu." Ring muncul dari belakang Lui tiba-tiba.
"Apa?"
Naik satu oktaf, ketua menahan agar tidak seriosa.
"Aku ditantang, seperti biasa~" Lui duduk di kursi panjang, diikuti Ring di sebelahnya.
"Aku akan membereskannya besok." Ring mengocok kartunya. Mengambil tiga kartu acak dan menunjukkannya.
The Magician, Ace of Wands, Seven of Swords.
Sugoroku.
Vocaloid dan UTAU disini bukan punya saya.
Majisuka Gakuen: Akimoto Yasushi.
Drama/Friendship
.
.
.
.
.
.
Gumiya masih merasa bersalah soal kemarin, dia jadi takut masuk kelas. Dirinya masih nyempil di balik pintu. Di bangkunya, Luki masih sibuk membaca
Apa Luki akan memaafkannya, ya?
"Megurine Luki, mari kita bertarung!" Dua orang gadis menghampirinya. Luki masih acuh, sibuk membaca novel tercinta. Sedang dua gadis itu tak henti menantangnya.
"Selamat pagi, gadis-gadis!" Gumiya berusaha mencairkan suasana, sekaligus medium pendekatan terhadap Luki.
Luki masih diam.
Apa ia benar-benar marah, ya?
Duh.
"Kemarin Nakagawa-san sangat hebat loh!" Puji Anon,salah satu dari gadis itu. Ia berputar sendiri.
"Iya! Kau keren sekali!" Kanon tak mau kalah menyahut. Mereka berdua lalu bertepuk tangan.
Luki masih membaca. Sama sekali tak teralihkan atensinya.
"Ah, Luki-kun.."
Gumiya duduk di bangkunya, tepat di depan Luki. Namun tubuhnya menghadap ke belakang dengan bertumpu pada meja Luki menggunakan tangan. Menatapnya lurus hanya untuk mengatakan sesuatu,
"Aku minta maaf."
Luki masih terdiam.
Gumiya menunggu jawaban.
"Nakagawa, jangan ganggu kami!"
Gumiya mengangkat novel yang menghalangi pandangan Luki padanya. Luki terperangah sesaat, tapi ia berusaha bersikap biasa kemudian,
"Apalagi, Nakagawa?"
"Luki-kun jawab aku."
"Apa yang harus kujawab?"
"Permintaan maafku."
Luki mendengus, tangannya berusaha meraih novel yang dipegang Gumiya. Tapi Gumiya mengangkatnya semakin tinggi.
"Kembalikan, Nakagawa."
"Tidak sebelum kau memaafkanku."
"Nakagawa!"
Suara Luki yang mendadak tinggi terdengar menakutkan. Seisi kelas hening. Geng yakiniku yang sedang bergosip sambil memanggang daging di belakang kelas, diam. Anon dan Kanon yang sedari tadi merajuk ikut diam. Mereka bisa melihat kilat amarah dalam tatapan dan suara Luki.
"Jawab aku."
"Aku sedang tidak ingin membahas ini, Nakagawa!"
Gumiya menyipitkan mata.
"Oh, ayolah Luki-kun."
Luki menggertakkan giginya, tangannya mencengkeream sisi meja; kesal dan marah.
Bayangkan saja, kemarin ia dipancing oleh Gumiya agar melawan Lui. Ia merasa dijebak. Bodohnya ia tak menyadari trik anak SD ini. Sudah berkata pada Gumiya berkali-kali, ia tidak suka strata palsu di sekolah ini, tapi Gumiya menyeretnya dalam masalah besar. Ia teringat ultimatum Suzune Ring kemarin.
Luki hanya ingin hidup tenang. Tanpa mengganggu atau diganggu.
"Apa kau membenciku, sekarang?" Tanya Gumiya akhirnya. Masih memandang penuh harap.
Luki tak beranjak untuk meraih novelnya, entah mengapa. Padahal ia tinggal bangkit dari kursinya dan menyahut bukunya. Tapi, pandangan Gumiya membuatnya tak berkutik. Tatapan macam apa itu?
"Begitu. Maaf."
Gumiya meletakkan kembali novel yang ia pegang ke atas meja Luki. Gumiya lalu beranjak pergi dari sana. Berjalan menuju pintu kelas kemudian menghilang.
Sunyi.
Gumiya bergeser, menyingkir dari jangkauan penglihatannya. Luki tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi, Gumiya benar-benar pergi.
Pergi.
.
.
.
.
Luki mulai mengenal Gumiya dari tahun pertama SMP. Pemuda itu memang berisik. Dia merupakan sumber informasi mengenai warta terkini karena hobinya yang sering ngluyur ke kelas atau sekolah lain. Kenapa dia ngluyur? Ya buat ngegombalin cewek. Pujangga lumutan itu punya hobi merangkai kata puitis untuk merayu hati perempuan. Ya, tidak selalu berakhir mulus, kadang ia dapat tonjokan gratis atau dikatai mesum. Tapi sepertinya ia senang-senang saja, dasar cabul.
Sebenarnya banyak teman yang Luki punya, namun Gumiya terasa berbeda. Ia tak pernah mengeluhkan sikap kutu buku Luki. Bahkan ia terkadang mendapat bahan rayuan dari buku bacaan Luki yang rata-rata romansa.
"Oh, darling. Terimalah mawar ini sebagai bukti cintaku padamu~"
Sialnya lagi, Luki yang sering jadi objek rayuan jika seharian Gumiya tidak dapat perempuan untuk digombali. Luki hanya menatapnya tajam. Gumiya masih meneruskan aksinya, tapi ia akan berhenti saat bel berbunyi.
Luki masuk ke klub baseball di tahun kedua. Ia berlatih cukup baik. Gumiya yang selalu lengket dengannya sering menyorakinya dari bangku penonton sambil membawa plakat bertuliskan 'Luki-kun, aku cinta kamu.'
Sungguh, itu tidak memberi semangat sama sekali. Maka Luki bermain cepat agar latihan segera usai; agar tidak muntah karena keberadaan Gumiya disana.
Tapi, Luki hanya membiarkannya. Menurutnya, ya itulah Gumiya. Selalu mencari sensasi dimana-mana. Luki juga tidak tau apa yang dipikirkan oleh temannya itu, dan tidak mau tau. Kehidupan pribadi bukan bahan obrolan mereka. Namun, suatu hari,
"Hei, Luki-kun...b-bagaimana rasanya saat menembak seorang gadis?" Gumiya tampak sedikit gugup saat mengatakannya.
"Hah? Bukankah kau selalu melakukannya?" Luki balik bertanya.
"Ih, rayuan dan menembak itu beda." Kilah Gumiya.
"Aku tidak tau."
"Oya, minggu depan kau bermain untuk penyisihan turnamen, bukan? Luki-kun memang hebat! Kenapa justru kau yang terkenal di antara gadis-gadis? Aku tidak terima!" Gumiya memutar tubuhnya seraya menengadahkan satu tangan ke atas seperti patung selamat datang.
"Hentikan, Nakagawa."
"Kau harusnya memanggilku Gumiya! Aku saja memanggil dengan nama kecilmu!"
"Tidak mau."
Luki punya satu rahasia kecil, yang tak seorang pun tahu selain dirinya. Bahkan Gumiya sekalipun.
.
.
.
.
"Bajuku rasanya agak kebesaran."
Fukase mengamati seragamnya sendiri. Rion hanya memainkan jari-jarinya seperti biasa.
Mereka sekarang ada di dalam Sugoroku, tanpa ada yang curiga. Yah, nampaknya mengingat wajah siswa sekolah sendiri adalah hal langka disini. Itu dirasa wajar, sebab Sugoroku lebih suka bertarung dengan sekolah lain daripada kelompok di sekolahnya sendiri. Ya, kecuali jika ada orang hebat yang muncul itu beda cerita.
Rion membetulkan letak kacamatanya, memastikan apa yang ia lihat tidak salah.
.
Gumiya berjalan gontai dari kelasnya sendiri, menyusuri koridor yang sedikit ramai. Satu tangannya meremat rambutnya sendiri kasar.
Benar, Luki tidak mungkin memaafkannya setelah kejadian kemarin. Gumiya tahu dirinya sudah keterlaluan dan memaksakan kehendak. Tapi, tapi..
Gumiya melewati Fukase dan Rion yang sedang berbicara. Suasana hatinya sedang kacau, tak sempat mengamati sekitar. Ia terus berjalan, dan berjalan entah kemana.
.
.
"Ah, hari ini aku mau pergi kesana."
Ucapan Len membuat Kaito dan Gakupo terbatuk tanpa sebab.
Mereka sekarang berada di jalan menuju sekolah. Tinggal beberapa meter lagi sampai dan Len berubah haluan.
"Harus sekarang? Kau tidak mau melihat pertarungan Ring?"
Len hanya tersenyum, "Aku percaya pada Ring. Perkelahian memang tidak baik."
"Kau mengatakan seakan tak pernah melakukannya." Dengus Kaito. Gakupo hanya terdiam mengamati Len, sungguh.
"Itu cerita lama." Len tertawa.
Kaito sebenarnya cukup tahu, Len tak bisa ditawar kalau soal ini. Ia hanya mengendikkan bahu.
"Ya, terserahmu saja."
"Aku akan kembali."
"Ya, hati-hati." Pesan Gakupo.
"Tentu saja..jaa~" Len mengambil arah kiri, menuju suatu tempat. Suara langkah kakinya makin lama terdengar makin kecil.
"Hei, Kaito..kau pikir..seperti apa perasaan Kagamine sekarang?" Diliriknya Kaito di sebelahnya.
Kaito hanya terkekeh. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan mendongak menatap langit biru di atas sana. Sedikit angin berhembus kala itu.
"Siapa yang tahu."
.
.
.
"KY membuat masalah lagi."
"Sekolah itu tak pernah kapok, ya."
"Apa mereka tidak tahu sekarang Sugoroku yang teratas?"
"Tentu saja, era Rappappa sudah lama berlalu. Apalagi semenjak perseteruan mereka dengan yakuza."
Geng Yakiniku sedang asyik-asyiknya membakar daging, menggosip beberapa warta terkini.
"Eh, menurutmu Megurine itu bagaimana?" Wakana melahap daging setelah itu.
Piko menyahut, "Tapi, dia cukup hebat, kan?" Sepasang netra mengerling.
"Kemarin dia mengalahkan Hibiki, itu sudah cukup." Wil membalik daging yang sedang ia panggang. Terdengar suara seperti rembesan sepersekian sekon kemudian.
"Ngomong-ngomong soal itu.." Piko menatap langit-langit sejenak "Bukankah hari ini Suzune-san menantangnya?"
"Mau lihat?" Tawar Wakana.
"Aku lebih ingin menghajar Megurine itu." Wil terkekeh.
.
.
.
Ring mempersiapkan semua.
78.
Sempurna.
Ia menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. Tangan kanannya menarik satu kartu dari tumpukan.
"Magician, huh?"
Benar.
Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.
Dikembalikannya kartu ke tumpukan. Ia mengocoknya lagi, lalu meletakkannya ke tempat kartu yang menggantung di sekitar pinggang.
"Hmph, naik atau turun?"
.
.
Pagi itu masih mendung. Luki setia membaca novel. Mengabaikan suara gaduh di sekitar. Membalik per halaman penuh penghayatan.
"Megurine-kun!"
―kecuali gadis kembar yang masih berisik di dekat telinganya, Luki risih sebenarnya. Tapi ia diam saja.
"Megurine-kun! Ayo coba lawan kami!"
Tolong.
Luki merasa tidak nyaman.
BRAKK!
Pintu kelas ditendang keras, memperlihatkan beberapa siswa yang membawa bat baseball yang disenderkan ke bahu. Nampaknya rahang mereka mengeras begitu mendapati Luki dalam jangkauan penglihatannya.
"Kora! Jadi ini anak kelas satu yang sok itu?!"
Sok? Sok bagaimana?
"Ayo kita hajar dia!"
Sekejap, kelas silih menjadi ajang perkelahian.
.
.
"Denahnya hampir selesai. Lalu mana yang belum kita datangi?"
Rion dan Fukase selaku musuh Sugoroku kini tengah membuat denah sekolah ini. Ada yang bilang, untuk mengalahkan lawanmu, kenalilah dulu lingkungannya. Entah siapa itu. Tapi Fukase yakin, idenya ini tidak buruk. Ini adalah langkah awal yang bagus mengumpulkan informasi sesederhana apapun.
Tapi, apa yang kurang, ya?
Fukase dan Rion terhenti di dekat tangga. Beberapa sekon kemudian, terdengar suara langkah berat dari atas. Seseorang nampaknya baru turun dari sana.
Fukase berusaha mengingat. Oh, bukankah dia Suzune Ring si tukang tarrot itu?
Gadis itu sama sekali tidak lucu dalam balutan baju badutnya.
Ring menuruni anak tangga, hingga benar mencapai batas. Ia lalu melenggang ke arah berlawanan dari posisi Fukase dan Rion.
"Mau kemana parade itu?" Fukase bertanya entah pada siapa. Rion menarik lengan seragam Fukase.
"Ada apa, Tachibana?"
"Di atas..ada apa..?"
Oh benar juga. Salah satu parade turun dari atas sana. Apakah ada semacam markas disana bagi mereka?
Bagaimana ini? Haruskah Fukase naik untuk memastikan? Tapi, jika ada anggota parade lain disana, dia yang akan tersingkir duluan. Harus bagaimana?
"Lain kali kita akan mengeceknya. Tandai."
Pilihan bijak saat ini adalah berpikir tenang, dan jangan tergesa-gesa.
Tunggu, tadi Suzune mau kemana?
.
.
"Hentikan! Kalian tidak boleh memakai bat baseball seperti itu!"
Harusnya Luki bisa menahan diri. Tapi, sial saja. Semua yang berhubungan dengan baseball membuatnya tak mampu berpikir jernih. Tiba-tiba saja tubuhnya bergerak tanpa diperintah.
Sial. Sial. Sial.
Luki tidak tahu harus apa setelah menghajar mereka.
Ia benar-benar tidak tahu.
Ia hanya lelah.
Lelah.
Luki memilih kabur melalui jendela.
.
.
.
.
Luki tidak tahu kemana ia berlari.
Benar, ia memang pengecut.
Ia hanya manusia biasa yang tidak ingin mendapatkan masalah. Tapi, mengapa Tuhan selalu memberikannya cobaan?
Bukankah ujian itu termasuk tanda bahwa Tuhan menyayangi kita?
Kenapa Tuhan suka sekali mempermainkan hidupnya, kenapa?
Ia menembus jalanan sepi , berlari dari sekolahnya sendiri.
Angin menyibak rambutnya pelan, seirama langkah kaki yang makin cepat. Kedua tangannya berayun bergantian membelah udara di sekitarnya. Ia mendongakkan kepalanya menantang langit.
Lalu berteriak sekuat yang ia bisa.
.
.
.
"Sst, diam Tachibana.."
"Maaf, Haneda-kun."
Fukase dan Rion tengah membuntuti Ring saat ini. Gadis berpakaian lucu tapi tidak lucu itu, melenggangkan kaki keras di koridor. Lalu, langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kelas. Ia masuk sebentar dan keluar lagi.
"Dia itu mau kemana sih? Tidak jelas." Gerutu Fukase. Ia lelah membuntuti gadis itu dengan Rion. Dari tadi tak jelas tujuannya kemana. Ia cuma berjalan menyusuri koridor sejak setengah jam lalu. Fukase lelah.
"Haneda-kun, dia berbelok ke kiri!" Bisik ―namun dengan nada seru― Rion menyadarkannya. Fukase mengangguk pelan dan menepuk pundak Rion.
"Jaga disini."
"Tapi, Hane―"
"Turuti saja, Tachibana."
Rion sebenarnya tidak rela meski ia mengangguk pelan. Fukase berhati-hati, melanjutkan penguntitan.
"Hati-hati..kaicho.."
.
.
Len tak hentinya menatap aliran sungai di depannya sedari tadi.
Ia hanya berdiri, di tepi seorang diri. Memandang likuid bening yang cukup tenang. Lalu beralih memandang kosong ke seberang, mengorek ingatan.
"Rin.."
Sebuah nama yang selalu disebutnya sepanjang waktu. Nama yang sederhana namun berharga itu tetap melekat. Pikirannya memutar ke masa lalu, dimana ia sering memandangi orang itu dari sini ―begitu pula sebaliknya.
"Aku merindukanmu."
Tapi, Len tahu bahwa, Rin tak mungkin kembali untuknya. Suatu hal yang mustahil. Oh. Ingin sekali ia kembali ke waktu itu agar tidak menyesal seperti sekarang.
"UWAAAHH!"
Len berhenti melamun, ketika mendengar suara ―juga orang yang terjatuh dari sisi atas dengan tidak elit.
BYUURR
Len sabar menanti.
.
.
Lama Luki berlari.
Luki merasa tidak puas menumpahkan kekesalannya dengan berteriak, maka ia melanjutkan berlari tanpa melihat jalan.
Gedebuk!
O, ow.
Luki terpeleset, meluncur bebas menuju sungai. Punggungnya yang mencumbu tanah menurun itu makin mempermulus acara tergelincirnya.
"UWAAAHH!"
BYUURR
Luki merasakan oksigen punah tiba-tiba, sinar mentari remang berdistan ;ia lalu menggapaikan kedua tangannya ke atas permukaan air. Perlahan namun pasti, ia berenang menuju pinggir sungai.
Setibanya di tepi, ia terbatuk hebat. Mulutnya mengeluarkan air ―mungkin lebih tepat disebut memuntahkan kembali.
"Hahh..hahh.."
Luki meremas ujung seragamnya dan memeras air. Semoga dia tidak masuk angin nanti. Huh.
"Kau siapa?"
Luki menoleh, refleks. Didapatinya seorang yang err ―cantik?
"E-eh..maaf.."
Luki sebenarnya tidak tahu mengapa ia harus meminta maaf. Tapi, sepertinya ia mengganggu seseorang ―yang tidak dia kenal― disini.
.
Len, hanya tersenyum penuh makna.
"Kau tidak apa-apa?"
Pemuda asing yang baru saja jatuh masuk sungai tadi, hanya memalingkan wajahnya dari Len.
"Ti-tidak apa. Terima kasih sudah bertanya."
Oh, itu kan seragam sekolahnya. Untung Len tidak pernah ―dan tidak sedang― memakai seragam, sekarang.
"Siapa namamu?"
Len terkekeh saat melihat pemuda itu menjawab kikuk seraya menggaruk pipi. "A-ah..Luki.." Sengaja tak disebutkan marga, entah kenapa.
"Aku Rin." Jawab Len, memakai nama palsunya bila di depan orang asing yang baru pertama ia temui. Ya, biarlah. Toh, sepertinya pemuda itu tak mengetahui bahwa ia juga berada di sekolah yang sama dengannya.
"Senang bertemu denganmu." Luki masih memeras kemejanya.
"Lepas pakaianmu dan keringkan dulu. Kau bisa masuk angin."
Luki hanya melangkahkan kaki "Maaf. Aku akan pulang saja. Terima kasih dan maaf mengganggumu."
Len ingin mencoba ide konyolnya sekarang. Sepertinya ini kesempatan yang bagus.
Len dengan cepat menahan tangan kiri Luki dan menariknya. Dengan sedikit berjinjit bertumpu pada satu ujung kakinya, Len meraihnya.
Pipinya dikecup sekilas.
Luki berkedip tak percaya, sebelum akhirnya tersadar dan mendorong pelan Len menggunakan kedua tangannya.
"Ah, m-maaf. Aku harus pergi." Luki mati-matian menyembunyikan wajahnya. Kalau ini manga, mungkin kepalanya sudah berasap.
Len tersenyum lagi, disertai satu telunjuk menutupi ranum merahnya "Ah, tidak apa. Aku dengan senang hati melakukannya, O-u-ji."
Luki bergidik ngeri dan segera pergi dari sana. Ia akan mengambil tasnya di sekolah dan langsung pulang.
"Ah, untung aku belajar cara menjadi perempuan."
Len terpingkal tanpa suara.
Ini sangat menyenangkan.
.
.
.
TBC
Luki vs Ring-nya diundur ya, mau saya masukin kesini tapi masih kurang referensi.
Buat shiro rukami en vanilla latte avocado yak ini udah lanjut moga memuaskan :"v
Soal majijo 5, emang rappappa (majijo), gekioko, bahkan yabakune bersatu nyerang di pertemuan yakuza dan mafia china. Endingnya kampret eh masa oshi saya ,bahkan Iizuka-san selaku polisi favorit saya disitu ikut mampus :'v ya intinya mampus semua sih hahaha /ditavok/ majijo 5 sangat direkomendasikan untuk kalian tapi hati2 rating dewasa/slap
See you next chap!
