Chapter empaaat! Ahahaha … :))

Semoga sejauh ini, kalian suka dengan ceritanya.

Selamat membaca …


"Kali ini, kau gak akan bisa lari lagi, Ulquiorra!" ancam Grimmjow sambil melukai kedua jari tangan kanannya dengan zampakuto hingga berdarah. Entah kapan dia berhasil mengambil zanpakuto-nya itu. "Rasakan ini! Grande Ray Cero!"

DEG!!!

Jantung Ulquiorra serasa berhenti berdetak. Dia sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres, maka perlahan dia pun menoleh ke belakangnya. Orihime berdiri di sana dengan wajah cemas. Ulquiorra pun kembali menoleh pada Grimmjow yang sudah siap melepaskan Grande Ray Cero yang berupa gumpalan cahaya biru ke arahnya.

Tanpa berpikir panjang lagi, Ulquiorra pun berlari ke arah Orihime dan mememeluk erat tubuhnya. Sementara Grimmjow telah melepaskan Grande Ray Cero. Ulquiorra melindungi Orihime dengan tubuhnya, sementara telapak tangan kanannya terbuka lebar dan mengeluarkan cero berwarna hijau yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Akibatnya, kedua cero itu bertabrakan.

Cero yang dikeluarkan Grimmjow sangat kuat, namun cero Ulquiorra tidak kalah kuatnya walau itu hanya cero biasa.

Orihime menatap Ulquiorra dengan jantung berdebar, dia pernah mengalami hal ini sebelumnya tiga tahun lalu. Walau saat itu dia tidak bisa melihat orang yang sedang memeluknya dan membunuh sesuatu yang menyerang dirinya, tapi dia dapat merasakan kuat pelukannya.

"Apakah mungkin?" batin Orihime, lalu dia teringat akan Adjuchas yang menolong dirinya dari serangan sekelompok Hollow. "Tapi … tapi mengapa yang saat itu kulihat adalah Grimmjow?" lanjutnya di dalam hati.

Ulquiorra memutuskan untuk membawa lari Orihime, karena dia sudah tidak dapat menahan Grande Ray Cero. Sesungguhnya Ulquiorra bisa saja menahannya lebih lama walau beresiko dia mengalami cedera, namun dia tak mau mengambil resiko itu karena dia sedang bersama Orihime. Bisa-bisa gadis itu ikut cedera.

Ketika Ulquiorra pergi bersama Orihime, Grande Ray Cero yang dilepaskan oleh Grimmjow pun menabrak salah satu pilar merah di Las Noches hingga pilar itu hancur berantakan.

"Kau tak apa-apa?" tanya Ulquiorra sesampainya di sebuah tempat yang cukup aman walau belum jauh dari Grimmjow.

Jantung Orihime berdebar keras. "A-aku … gak apa-apa."

Ulquiorra tersenyum. "Syukurlah."

Ini sungguh mengejutkan untuk Orihime, karena ini pertama kalinya dia melihat Ulquiorra tersenyum. Selama ini, pemuda itu selalu berwajah dingin dan tidak pernah merubah ekspresi wajahnya. Orihime sampai sempat menuding kalau Ulquiorra adalah makhluk yang tidak berperasaan. Sepertinya dirinya salah.

"Hooo … ternyata kau berada di sana bersama mainan kecilmu."

Ulquiorra dan Orihime terkejut, mereka sama-sama menoleh pada Grimmjow yang tiba-tiba saja muncul. Senyuman lebar merekah di wajah pria tampan itu, matanya memancarkan niat jahatnya untuk membunuh Ulquiorra. Tangan kanannya menggenggam sebuah katana yang kini diletakkan di bahu kanannya.

Mendadak raut wajah Ulquiorra kembali dingin. "Kau tunggu di sini," ujarnya pada Orihime seraya bangkit berdiri.

"Eh? Tapi Ulquio―"

Belum selesai Orihime berbicara, Ulquiorra sudah melompat tinggi ke udara untuk menyerang Grimmjow yang segera menyambutnya. Terdengar suara dua katana yang saling beradu. Jantung Orihime terus ribut karena reiatsu yang dikeluarkan oleh Ulquiorra dan Grimmjow yang begitu besar.

"Luar biasa," batin Orihime yang terkagum-kagum. "Mereka berdua sungguh luar biasa."

Sesaat perkelahian terhenti. Ulquiorra menatap Grimmjow yang kini terengah-engah, dahi kirinya pun sudah berdarah-darah karena terkena gores katana.

"Sial!" umpat Grimmjow, kemudian ia melirik Orihime yang sedang melihat ke arah dirinya serta Ulquiorra. Wajah Orihime yang masih berusia dua belas tahun melintas di benaknya. Jantungnya jadi mulai berdebar. Setelah beberapa saat menatap Orihime, Grimmjow pun kembali menatap Ulquiorra dengan kesal. "Aku gak akan kalah darimu lagi!" Tangan kirinya menyentuh besi katana-nya yang kini berubah warna menjadi biru muda. "Menggertaklah, Pantera!"

Saat itu juga, pasir di Las Noches berterbangan seperti pusaran angin yang menutupi tubuh Grimmjow hingga dia menghilang dari pandangan.

"Inoue Orihime," panggil Ulquiorra tanpa melepas pandangannya dari Grimmjow.

"I-iya?"

"Gunakanlah Santen Kesshun untuk melindungi dirimu," pinta Ulquiorra. "Dan jangan berhenti menggunakannya walau hanya sedetik."

"Tapi―"

"Lakukan sekarang!"

Orihime menatap Ulquiorra yang sudah sangat serius saat ini. "Santen Kesshun!" ucapnya dan sebuah sinar berwarna kuning berbentuk segitiga muncul di hadapannya.

"Aku akan menyelesaikannya dalam waktu lima menit," gumam Ulquiorra.

Perlahan pasir yang menutupi Grimmjow pun menghilang. Grimmjow telah berubah wujud. Rambut birunya berubah panjang sepinggul, wujudnya kini seperti manusia setengah Panther. Grimmjow mengaum seperti seekor panther. Aumannya itu sangat kencang sampai memekakan telinga.

Orihime terpana melihat Grimmjow yang kini berwujud manusia setengah Panther. "Grimmjow," batinnya. "Sungguh, dia adalah Hollow yang telah menyelamatkan diriku tiga tahun lalu. Tapi …" Dia menoleh pada Ulquiorra yang hanya diam menatap Grimmjow. "Tapi pelukan Ulquiorra seperti pelukan seseorang yang tidak dapat kulihat dulu. Siapakah yang sebenarnya selalu melindungiku?"

Tidak hanya wujudnya saja yang berubah, kecepatan tubuh Grimmjow pun berubah drastis. Dia menjadi sangat cepat.

Tetapi hal itu tidaklah menakutkan bagi Ulquiorra. Dengan tenang, dia menangkis dan menghindari serangan Grimmjow. "Apakah kau sudah selesai bermain-main, Grimmjow?" tanyanya.

Pertanyaan itu memancing amarah Grimmjow. "Diam kau, brengsek!" Dia kembali menyerang Ulquiorra.

Ulquiorra mengangkat katana-nya dan dia pun menghilang dari pandangan.

Grimmjow terkejut, dia melihat ke berbagai arah untuk mencari Ulquiorra tetapi pemuda itu sama sekali tidak ditemukan.

Secara tiba-tiba, Ulquiorra muncul di hadapan Grimmjow. "Lamban," ujarnya dan ia pun mengayunkan katana-nya secara horizontal.

Grimmjow memuntahkan darah. Dadanya tergores sangat dalam oleh katana Ulquiorra. Tangan kirinya menyentuh dadanya yang terluka, lalu ia menatap darah di telapak tangannya. Tubuhnya terasa dingin. Perlahan Grimmjow menoleh pada Orihime dan tersenyum kecil padanya. Pandangan matanya mulai merabun, akhirnya matanya tertutup dan tubuhnya terjatuh ke atas pasir.

To be continued …


Shaorin: akhirnya bisa dilanjutin juga nih fic.

Grimmjow: buru-buru banget lanjutinnya.

Shaorin: abisnya udah gak sabar sih! Ehehehehe …

Ulquiorra: gak sabar kenapa?

Sha: gak sabar mau bikin fic Bleach selanjutnya.

Renji: Oh, fic Flightless Bird ya?

Shaorin: Yeph!

Ishida: by the way, scene berantem Ulquiorra sama Grimmjow gak asing.

Shaorin: ahahahaha … aku ambil scene berantem Ichi sama Grimmjow.

Ichigo: (==);; bahkan kata-katanya juga sama.

Shaorin: habisnya, lagi gak ada ide (^ ^);;

Ichigo: *dalem ati: keliatan banget maksa lanjutin nih fic*


Don't forget to review in the end of the story … :D