.

"Brengsek! Bisakah kau bergenti menangis?!"

Tubuh kecil itu bergetar semakin hebat kala suara berat yang sarat akan amarah itu menggelegar memenuhi seisi ruangan. Air mata mengalir semakin deras membasahi kedua pipinya yang terlihat semakin kurus dari hari ke hari. Anak laki-laki itu mengigit bibir bagian bawahnya dengan cukup keras, berusaha menahan isakannya sekuat mungkin.

Ia tidak ingin menerima hukuman seperti hari-hari yang lalu ketika dirinya secara tidak sengaja mengeluarkan isakannya. Tangan dengan jari-jari kecilnya saling meremat satu sama lain sedang irisnya terpejam dengan erat.

"Anak manis. Bagaimana jika kita bermain?"

Kepalanya menggeleng panik saat pria bertubuh tinggi itu berjalan mendekatinya. Langkahnya yang sedikit sempoyongan berjalan menghampiri anak lelaki itu dengan pasti. Di tangannya terdapat berbagai jenis barang yang selama ini selalu dilihat dan dipakaikan pada tubuh anak kecil itu.

"Kumohon. Jangan lakukan itu." Air matanya mengalir kembali. Meski hanya cahaya termaram yang memenuhi ruangan itu, namun dapat terlihat dengan jelas wajah kacau sang anak.

Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa dengan keras pada posisinya. Sebelah tangannya memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa. "Jangan? Kau adalah milikku, mainanku. Aku bebas melakukan apapun kepadamu dan kau tidak memiliki hak apapun untuk mengaturku, anak manis." ujarnya rendah kemudian menarik dengan keras surai kehitaman si anak.

Tubuhnya semakin merapat ke arah dinding kala langkah pria itu semakin mendekat. Irisnya terpejam, tidak ingin melihat apapun yang dapat membuatnya semakin takut. Ketika suara rendah itu terdengar tepat di telinganya juga tangannya yang ditarik secara paksa, anak itu hanya mampu memekik tertahan.

Pakaiannya yang sudah kusut, dibuka dengan kasar, membuat tubuh bagian atasnya terekspos dengan bebas. Setelahnya, hanya terdengar suara pekikan sakit dari sang anak ketika tubuhnya yang polos dicambuk dengan keras oleh pria itu.

.

He is Mine

.

Rated Mesyum!

(3/?)

Cast : LuHan, Oh SeHun, Byun BaekHyun and others

Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran. Part anu LUBAEK, skip aja kalo gak kuat.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Luhan bergerak dengan tidak nyaman dalam duduknya. Kedua irisnya bergerak ke sana kemari, sedang kepalanya sibuk memikirkan berbagai alasan yang sekiranya masuk akal untuk menolak permintaan Baekhyun yang sebelumnya ia setujui. Jujur saja, ia sama sekali tidak berpengalaman tentang ini dan yang terpenting ia tidak mungkin melakukannya dengan Baekhyun.

Demi Tuhan. Baekhyun itu sudah seperti adiknya. Jadi tidak mungkin bukan mereka melakukannya.

"Ba—" Bibir Luhan terkatup dengan rapat ketika mendapati tatapan kelewat tajam milik Baekhyun.

Astaga. Ia lebih tua dari Baekhyun, tapi kenapa Baekhyun yang lebih galak?

Luhan berdeham sekali, berusaha meredakan rasa gugupnya yang muncul entah karena apa. "Baek," Kedua tangan Luhan bergerak untuk menangkup kedua belah pipi berisi Baekhyun. "Seharusnya tidak seperti ini. Aku tak mungkin melakukannya denganmu, kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri."

Baekhyun berdecak sekali mendengar penuturan panjang lebar Luhan. Raut wajahnya berubah menjadi gelap dengan bibir yang membentuk sebuah garis tipis.

"Bisakah kau berhenti mengatakan itu?!" suara Baekhyun meninggi tanpa diminta, membuat tubuh Luhan berjengit kaget karena tidak menyangka Baekhyun akan berteriak padanya.

"Tap—"

"Berhenti!"

Luhan mengerjapkan kedua matanya berulang kali.

"Baek.."

"Kumohon Lu, kumohon," Baekhyun menatap Luhan dengan tatapan sedih. Kedua iris sipitnya telah berkaca-kaca dan Luhan tahu dengan jelas jika air mata Baekhyun dapat meluncur dengan bebas kapan saja. "Kau menyayangiku bukan?"

Luhan mengangguk tanpa ragu untuk membalas pertanyaan Baekhyun. Bagaimana mungkin ia tidak menyayangi seseorang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri?

Baekhyun tersenyum tipis. "Jika begitu, buktikan. Bercintalah denganku." Baekhyun memegang dengan erat kedua tangan Luhan. Menatap pemuda dengan surai coklat di hadapannya dengan tatapan memohon.

Uh, Luhan benci berada dalam situasi seperti ini.

Hening menyapa. Luhan sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan sedangkan Baekhyun menunggu dengan sabar. Tapi ia yakin, sangat yakin bahkan, jika Luhan akan menyetujui permintaannya.

Sebuah helaan nafas pun Luhan hembuskan dengan pasrah. "Baiklah, Baek. Lakukan apa yang kau inginkan."

Sebuah senyum lebar terpasang di wajah Baekhyun. Tanpa menunggu lebih lama lagi, pemuda manis itu segera mempertemukan bibir miliknya dengan milik Luhan. Melumat dengan lembut bibir atas dan bawah Luhan. Meski tidak mendapatkan respon dari pemuda yang lebih tua, Baekhyun tetap melanjutkan kegiatannya. Tunggu saja, pasti nantinya Luhan akan merespon.

Namun, setelah beberapa menit berlalu, Luhan tak juga membalas. Hal ini jelas saja membuat Baekhyun jengkel. Pemuda dengan surai kelam itu mengerang. Ia melepaskan pertemuan bibir mereka lalu menatap Luhan dengan tajam.

Luhan yang tidak tahu apa-apa hanya membalas Baekhyun dengan tatapan polos bercampur bingung. "Ada apa?"

"Kenapa kau kau diam saja?"

"Apa yang harus aku lakukan?"

Baekhyun kembali mengerang jengkel mendengar pertanyaan Luhan. "Bukankah kau pernah melakukannya dengan mantan kekasihmu dulu?" Bakehyun melanjutkan ucapannya setelah melihat Luhan menggangguk. "Lakukan seperti apa yang pernah kau lakukan dengan gadis itu."

Setelahnya Baekhyun kembali mempertemukan bibir mereka berdua. Pemuda beriris rusa itu mulai membalas lumatan Baekhyun pada bibirnya meski dirinya masih sedikit ragu melakukannya. Perlahan namun pasti, Luhan mulai mengambil alih pagutannya. Ia melumat bergantian bibir atas dan bawah Baekhyun menghasilkan suara kecipak yang terdengar nyaring di dalam kamar tersebut. Posisi keduanya yang semula berdiri di dekat pintu pun beralih menjadi terduduk di atas tempat tidur milik Luhan. Baekhyun sendiri mendudukkan dirinya di atas paha Luhan. Kedua tangannya melingkar di sekitar leher Luhan untuk memperdalam ciuman keduanya.

Tangannya tidak tinggal diam dengan meremat surai kecoklatan Luhan hingga berantakan. Saliva entah milik siapa, turun membasahi dagu hingga leher putihnya. Baekhyun melenguh tanpa ditahan. Dirinya sangat menikmati pagutan ini. Dalam hati sedikit tidak menyangka jika Luhan adalah pencium yang handal. Lenguhan Baekhyun semakin menjadi saat lidah keduanya saling membelit di dalam mulutnya.

Benang saliva tipis terbentuk ketika pagutan terlepas. Nafas keduanya terengah. Baekhyun memanfaatkan kesempatan yang ada dengan melepaskan baju tidur Luhan. Namun pergerakkannya terhenti saat sebelah tangan Luhan menggenggam pergelangan tangannya.

Pemuda yang lebih tua menatap dengan ragu ke arah Baekhyun, tapi Baekhyun memilih untuk mengabaikannya dan menepis tangan Luhan. Sebuah senyuman terulas di wajah manisnya mendapati tubuh atas Luhan yang sudah tidak tertutup kain apapun.

Tangan dengan jari lentiknya mengelus tubuh Luhan yang memiliki otot-otot halus. Iris sipitnya berbinar senang ketika memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan Luhan sebentar lagi bahkan senyuman di wajah Baekhyun semakin melebar. Wajahnya didekatkan ke arah leher Luhan untuk memberikan kecupan dan jilatan di sana kemudian diakhiri dengan dirinya menghisap leher Luhan hingga menimbulkan ruam kemerahan yang jelas di kulit putih Luhan. Dirinya mengulangi kegiatannga beberapa kali hingga meninggalkan cukup banyak kissmark pada leher dan tubuh Luhan.

Di sisi lain, Luhan hanya terdiam, membiarkan Baekhyun melakukan apapun. Dirinya tidak mengerti seberapa cepat tangan Baekhyun bekerja, sebab tanpa ia sadari, baik tubuhnya maupun tubuh Baekhyun sudah tak tertutup sehelai benangpun, padahal tadi jelas-jelas Baekhyun masih sibuk dengan lehernya.

"Nghh..Baek.." lenguhan pertama lolos begitu saja dari bibir Luhan ketika merasakan remasan pada kejantanannya yang bebas.

Baekhyun terkekeh pelan, semakin meremas milik Luhan yang perlahan mulai menegang. Ia bergerak untuk berpindah dari pangkuan Luhan, mendorong pemuda itu untuk duduk bersandar pada kepala tempat tidur sedang dirinya merundukkan wajahnya hingga berada di hadapan milik Luhan.

Lidah basahnya terjulur, menjilat milik Luhan lalu berakhir mengulumnya. Giginya sengaja bergerak untuk menggesekkan milik Luhan, membuat sang empu mendesah tertahan.

"Astaga, Baekhyunhh.."

Helaian halus Baekhyun diremat untuk menyalurkan rasa nikmat yang mendera tubuh bagian bawahanya. Sepasang irisnya tertutup sedang bibirnya sedikit terbuka. Melihatnya, membuat Baekhyun semakin gencar menggerakkan kepalanya maju dan mundur, bahkan dirinya menghisap milik Luhan dengan keras hingga pipinya mencekung ke dalam.

Pergerakannya berhenti ketika dirasa Luhan semakin mendekati puncak. Iris sipitnya dapat melihat wajah memerah Luhan yang berhasil membuatnya semakin terangsang. Uh, ia ingin secepat mungkin merasakan milik Luhan di dalam tubuhnya.

Baekhyun kembali merangkak naik untuk mendudukkan dirinya di atas pangkuan Luhan. Pagutan kembali terjadi di antara keduanya, pagutan yang lebih panas dari sebelumnya. "Nghh..Lu.." Pemuda yang lebih muda melenguh di tengah-tengah ciuman. "Aku menginginkanmu.." lanjutnya kemudian mengulum telinga Luhan.

Luhan menegang.

Tangannya lagi-lagi bergerak menghentikan pergerakan Baekhyun yang mulai mengarahkan miliknya. "Ba..Baek, kurasa sudah cukup." Luhan berujar dengan sedikit terbata. Menatap lekat-lekat Baekhyun dan berharap pemuda itu menyetujui ucapannya.

"Kau bercanda?! Tidak!" Baekhyun menolak dengan keras.

Iris sipitnya menatap Luhan dengan berkaca-kaca dan bibir yang melengkung ke bawah.

Oh, tidak. Tidak dengan tatapan seperti itu.

"Ba.."

"Kau benar-benar tidak mau melakukannya? Kau tidak menyayangiku?"

Luhan mengerang dalam hati. Lagi-lagi kalimat itu.

"Bukan begitu, Baek. Tapi aku hanya ingin kau melakukannya dengan seseorang yang kau cintai, bukan denganku yang hanya berstatus sebagai sahabatku."

Baekhyun mengerang pelan. "Tapi aku mencintaimu!"

Terkejut? Tentu saja dirinya terkejut!

Mata indahnya membola mendengar penuturan Baekhyun sebelumnya. Namun belum sempat ia selesai memproses dan memahami ucapan Baekhyun, tahu-tahu saja ia merasakan hangat menyelimuti miliknya yang masih digenggam oleh Baekhyun.

"Ngh..Lu…"

Nafas ditahan tanpa ia sadari. Pipi bagian dalamnya digigit, berusaha menahan dirinya agar tidak melenguh. Ia dapat merasakan miliknya yang benar-benar diremas dengan kuat oleh lubang rapat Baekhyun. Sayangnya, sekuat apapun dirinya menahan, desahan tetap meluncur dari bibirnya ketika Baekhyun mulai bergerak di atas tubuhnya.

Tubuh Baekhyun bergerak naik dengan perlahan sebelum kembali menghentakkan milik Luhan dengan keras ke dalam lubangnya. Luhan dapat melihat dengan jelas melihat miliknya yang bergerak keluar dan masuk ke dalam tubuh Baekhyun.

Pergerakkan Baekhyun yang semula perlahan, berubah menjadi semakin cepat ketika milik Luhan menyentuh gumpalan manis di dalamnya. Tangannya yang tadi bertumpu pada bahu Luhan berpindah menjadi memeluk leher milik pemuda di hadapannya.

"Mmhh..Luhanhh.." bisiknya.

Luhan hanya mampu memegang pinggang Baekhyun, berusaha melambatkan sedikit pergerakkan Baekhyun yang semakin tak terkendali. "Perlahan, Baekhh.."

Baekhyun jelas tidak menurut. Dirinya sudah terlalu terbuai dengan kenikmatan yang mendera tubuhnya. Setiap kali milik Luhan menyentuh titik nikmat di dalam tubuhnya, membuatnya semakin menggila. Ia menginginkan lebih, ia ingin batang menegang milik Luhan menghantam lubangnya dengan kasar. Kedua iris sipit Baekhyun terpejam, terlalu menikmati penyatuan tubuh keduanya. Bahkan kedua tangannya meremas dengan cukup keras surai coklat madu milik Luhan yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan.

Luhan sendiri hanya dapat mengerang menikmati pijatan lubang Baekhyun pada miliknya. Tubuhnya bersandar pada kepala tempat tidur. Tanpa disadarinya, Luhan ikut menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan pergerakan Baekhyun kala merasakan dirinya sudah semakin mendekati puncak.

Desahan demi desahan lolos dari mulut keduanya. Suhu kamar tidur yang seharusnya terasa dingin berubah menjadi panas bahkan tubuh kedua sudah bercucuran keringat. Bunyi pertemuan antar kulit terdengar sangat nyaring mengimbangi desahan yang ada.

"Lu, aku..nghh..aku akan sampai..ahh.." Baekhyun berucap dengan susah payah dengan tubuh yang terus bergerak naik turun memompa milik Luhan ke dalam lubangnya sendiri.

Luhan melenguh pelan. Membiarkan pemuda yang lebih muda terus bergerak sesuka hatinya.

Dan pada hentakan ketiga, keduanya mencapai puncak, dimana Baekhyun menyemburkan cairannya hingga membasahi perut dan dada Luhan sedang Luhan menyemburkan miliknya jauh ke dalam tubuh Baekhyun.

Nafas keduanya memburu. Senyuman manis terulas di wajah Baekhyun, merasa sangat senang juga puas. Ia menenggelamkan wajahnya pada leher Luhan, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Luhan yang sangat ia sukai.

"Lu.." Baekhyun memanggil pelan. Jarinya bergerak asal pada dada Luhan. "Ayo lakukan lagi."

Tubuh Baekhyun berjengit kala Luhan menjauhkan tubuhnya dengan cukup keras. "Tidak, Baek. Cukup sekali saja kita melakukannya." ujar Luhan memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

Kata kenapa terlontar dari bibir Baekhyun diikuti dengan sebuah rengekan manja. Merasa sedikit kesal karena penolakan yang Luhan berikan kepadanya. Ia jelas melihat Luhan menikmati penyatuan tubuh mereka tadi. Jadi tidak ada salahnya jika mereka melakukannya lagi bukan?

Kepala Luhan menggeleng sekali. "Sebaiknya kita beristirahat, hm? Aku harus bertemu dengan Seohyun nanti."

"Kau apa?"

Dahinya berkerut tidak mengerti. Luhan hanya mengerjapkan matanya berulang kali, sama sekali tidak menangkap raut wajah Baekhyun yang perlahan menggelap. Bahkan pemuda yang lebih muda itu sudah menggertakkan giginya jengkel.

"Kau bercanda?!" Baekhyun berteriak tertahan. "Kau lebih mementingkan gadis itu daripada menghabiskan waktumu denganku?!"

Luhan terserang panik saat mendapati air mata turun membasahi wajah putih Baekhyun. "Baek, jangan menangis, kumohon."

Luhan sungguh tidak mengerti kenapa Baekhyun akhir-akhir ini terlihat aneh. Kondisi emosinya tidak stabil seakan pemuda yang berada di atas pangkuannya ini kembali ke masa saat ia pertama kali bertemu, saat dimana ia menghadapi Baekhyun yang dalam satu waktu sangat ceria dan dalam waktu berikutnya dapat menangis tersedu-sedu.

"Baek.."

"Jangan menemui gadis itu, Lu." ucapnya memohon.

Helaan nafas pasrah dihembuskan Luhan. Ia menganggukkan kepalanya untuk menuruti permintaan Baekhyun. "Baiklah, tapi berhenti menangis dan sebaiknya kita beristirahat."

Kepalanya menggeleng. "Kita lakukan sekali lagi, baru aku akan tidur." Baekhyun merengek kembali dengan bibir yang mengerucut. Entah kemana perginya Baekhyun yang tadi menangis.

Lagi, Luhan hanya dapat menghela nafas. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati karena selalu tidak mampu menolak apapun permintaan Baekhyun. Luhan jelas ingin menolak, tapi mengingat Baekhyun yang kembali mengalami kondisi emosi yang tidak stabil, membuatnya hanya bisa menuruti apapun yang diinginkan Baekhyun.

Untuk saat ini. Ya, hanya untuk saat ini.

"Baiklah. Lakukan apapun yang kau mau."

Senyuman merekah di wajah Baekhyun dan hal itu menular kepada Luhan juga.

"Terima kasih, Lu."


#


Tubuh tinggi dengan kulit pucatnya bersandar pada sandaran tempat duduk di sebuah kursi. Wajahnya yang biasanya hanya menampakan wajah datar kini tampak lebih berseri. Ada senyuman tipis yang tercetak pada rupanya. Sesekali dirinya melirik ke arah jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya.

Sepuluh menit lagi.

Suara lembut Luhan mengalun memasuki pendengarannya. Kepalanya yang semula menunduk diangkat. Namun dalam sepersekian detik, senyuman tipis di wajahnya menghilang begitu saja. Irisnya yang sipit semakin menyipit ketika mendapati warna kemerahan pada leher Luhan.

Bibirnya menipis ketika sebuah pemikiran menghampirinya.

"Hei, Sehun. Maaf membuatmu menunggu." Luhan berujar.

Luhan mendudukkan dirinya tepat di hadapan Sehun. Gelas berisi minuman yang baru Luhan beli diletakkan di atas meja. Senyuman ia berikan kepada Sehun meski Sehun tidak membalasnya. "Ada apa dengan lehermu?"

"Huh?" Dahinya mengernyit tak mengerti. Namun irisnya membola ketika menyadari apa yang dimaksud oleh pemuda di hadapannya. Ia memegang lehernya, menutupi warna kemerahan itu semampunya. "Bukan apa-apa. Hanya alergi."

Sehun memandang penuh curiga kepada Luhan yang tertawa dengan sedikit terpaksa. Meski rasa penasaran masih mengganjal, Sehun pun memilih mengabaikannya dan kembali mengutarakan maksudnya mengajak Luhan bertemu ketika Luhan bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.

Senyuman lagi terulas. "Aku ingin mengajakmu pergi berlibur,"

"Maaf, Sehun. Aku sedang tidak memiliki cukup uang untuk berlibur." Luhan menatap penuh rasa bersalah ke arah Sehun.

Kepala Sehun menggeleng sekali. "Tidak, Lu," Sehun mengulurkan tangannya lalu menarik tangan Luhan untuk disentuhnya. "Aku mendapatkan dua tiket berlibur gratis ke Pulau Jeju."

"Bagaimana mungkin?"

"Well, aku mencoba-coba peruntungan mengikuti kuis berhadiah dari internet dan mendapatkannya."

Luhan menatap ragu Sehun. Pasalnya, ia tidak percaya jika hal yang Sehun ucapkan dapat terjadi. Bagaimana mungkin seseorang dapat seberuntung itu hanya dengan bermodalkan coba-coba saja?

Tapi Luhan menepis pemikirannya tersebut saat mendapati Sehun menatapnya dengan penuh harap. Uh, tidak dengan tatapan tersebut. Kenapa orang-orang di sekitarnya senang sekali menatapnya demikian. Ia jelas tidak mungkin menolak jika begini.

Sisian wajah digaruk sekali dengan iris yang menatap ke arah lain, tidak ingin menatap Sehun. Helaan nafas ia hembuskan sekali. "Baiklah, aku akan pergi bersamamu." ujarnya.

Sehun bersorak pelan. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang jelas dan Luhan tersenyum karenanya. Ia bahkan sedikit terkekeh. Saat ini Sehun benar-benar terlihat sangat menggemaskan. Keheningan menyapa keduanya setelahnya. Keheningan yang membuat baik Luhan dan Sehun merasa nyaman.

Harus Luhan akui, Sehun adalah satu-satunya pemuda yang dapat membuat nyaman secepat ini. Sehun merupakan seseorang yang menyenangkan dan baik. Ia ingat saat kemarin Sehun mau repot-repot membawakan dirinya makan malah hingga mengajarinya yang sempat merasa putus asa dengan tugasnya yang menyebalkan.

"Lu?" Adalah sepenggal kata yang sukses menarik atensi Sehun dan Luhan.

Di saat Luhan terlihat bingung dengan kehadiran seorang gadis di dekatnya, Sehun malah terlihat sangat jengkel. Ini sudah kedua kalinya dirinya diganggu saat sedang berduaan saja dengan Luhan. Rasanya ia ingin menculik Luhan dan menguncinya saja agar tidak ada yang bisa mengganggu waktunya dengan Luhan. Tapi semua itu hanyalah sekedar niatan. Dia tidak mungkin melakukan hal tersebut,

Pemuda Oh itu memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah Luhan, memperhatikan seseorang yang sudah memiliki hatinya itu. Luhan benar-benar adalah sosok yang sempurna dan hanya Luhan saja satu-satunya orang yang mampu membuat dirinya terjatuh seperti ini.

Dentuman-dentuman menyenangkan di dalam dadanya sudah menjadi bukti yang cukup bahwa dirinya mencintai pemuda di hadapannya. Seulas senyuman sangat tipis terpasang di wajah tampannya mendengar tawa Luhan. Namun senyumannya menghilang begitu saja ketika melihat seberapa akrab Luhan dengan gadis yang tadi menghampiri mereka.

Sebenarnya siapa gadis ini?

"Ah, maaf. Kalian belum saling mengenal bukan?" tanya Luhan memecah pikiran Sehun. "Sehun-ah, gadis ini adalah Seohyun dan Seohyun, ini adalah Sehun." Luhan menunjuk bergantian ke arah Sehun dan Seohyun.

Gadis bernama Seohyun itu melemparkan senyuman manis, tapi hanya dibalas tatapan datar oleh Sehun. Keduanya saling bersalaman kemudian mengenalkan nama satu sama lain sebelum Luhan kembali berbicara dengan Seohyun, melupakan keberadaan Sehun di sana.


#


"Apa yang kau inginkan?"

Pemuda yang dilempari pertanyaan bernada ketus itu tertawa. "Santai saja, Byun Baekhyun. Tidak bisakah kau duduk terlebih dahulu, hm?"

"Berhenti berbasa-basi brengsek. Apa yang kau inginkan?!" Baekhyun yang sudah terlalu kesal meninggikan suaranya tanpa diminta.

Hanya dengan datang bertemu pemuda di hadapannya saja sudah membuat dirinya kesal, tapi dengan sialannya pemuda itu malah berusaha untuk menahannya lebih lama di sini. Baekhyun menggeram sekali ketika pemuda itu tak kunjung membuka suara sama sekali dan Baekhyun tidak bodoh untuk tidak mengetahui jika pemuda di hadapannya baru akan berbicara saat Baekhyun menuruti perkataannya.

Baekhyun mengumpat dalam hati lalu mendudukkan dirinya dengan kasar di atas tempat duduk.

"Lebih baik, bukan?" Seringaian yang sedari awal sudah terpasang pada paras rupawan sang pemuda semakin melebar. Tangan besarnya terulur mengelus sisian wajah Baekhyun.

Tentu saja Baekhyun menolak. Kepalanya ia tolehkan ke samping untuk menjauhi sentuhan di wajahnya. Namun usahanya sia-sia saja karena sentuhan tersebut berubah menjadi sebuah cengkraman di kedua belah pipinya.

"Kau benar-benar sangat susah dijinakkan."

"Aku bukan binatang yang harus kau jinakkan!"

Pemuda itu terkekeh pelan. Oh, ia sangat menyukai sumisif pembangkang seperti ini. Cengkramannya mengerat. "Dengar, little puppy. Aku tahu apa yang sudah kau lakukan dengan Luhan. Aku akan membiarkanmu untuk kali ini, tapi jangan berharap kau akan lepas untuk waktu selanjutnya." ujar lalu pergi meninggalkan Baekhyun seorang diri di sana.

Baekhyun menendang kaki meja yang berada di dekat kakinya sesaat setelah pemuda itu pergi. Mengerang penuh amarah sedang tangannya menjambaki surai gelapnya dengan penuh amarah,

"Brengsek!"

.

.

ToBeContinued

.

.

ANJIR ANJIR ANJIR. APA YANG SAYA KETIK? HELEP!

Monmaap kalo anuannya aneh atau gak hot. Saya masih belom kebiasa ngetik begituan :". Dan well, saya udah nekenin di summary. Ini itu HunHan-LuBaek! Jadi jangan protes, oke? Betewe, maunya ini ending dengan HunHan atau LuBaek? Saya sendiri masih belom tau ini cerita endingnya gimana :V

Dan buat yang minta dilanjut, udah saya lanjut nih walau lama dan jadinya gaje. Wkwkwkkw. Jangan lupa review yakkk~~

23/06/19 hundeer.