iam.chanbaek presents
xxxxxxxxxxxx
NEPHEW
xxxxxxxxxxxx
Main cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Kim Kai and others
Disclaimer : All characters is belong to theirself and this is my own story so don't be plagiator
xxxxxxxxxxxx
Chapter 04: Solve the Problems
Ruang tamu selalunya menjadi tempat yang paling strategis untuk membuat sesuatu keputusan oleh penghuni rumah. Disana sering terjadi permulaian dari pertengkaran, perdamaian bahkan perlakuan kasih sayang
Chanyeol duduk disalah satu sofa di ruang tamu rumahnya untuk berhadapan dengan Baekhyun. Tatapan kosong masih dia pertahankan. Tubuhnya dia sandarkan dengan tangan yang bergerak bermain dengan hujung pakaiannya. Katakan saja dia sedang tidak nyaman karena tiba-tiba saja Baekhyun terlihat manis dengan wajah marahnya
"Terserahmu mau memulai dari mana. Tapi aku butuh penjelasan"
Pria jakung itu menghela nafas. Dia berkedip beberapa kali lalu mengarahkan matanya untuk menatap lelaki mungil yang juga tengah menatapnya. Lucu sekali
"Aku pulang dari kerja dan lelah. Itu saja"
Baekhyun mengangguk sambil terus mempertahankan wajah angkuh yang dibuat-buat
"Wow Park! Alasan yang bagus"
Chanyeol mendelik lalu mengerang menunjukkan pada Baekhyun bahwa dia tidak suka akan sindiran yang Baekhyun lontarkan. Tetapi Baekhyun tetap bertahan dengan senyum menyindirnya yang mana membuat Chanyeol menjadi gemas
Chanyeol menunggu beberapa detik untuk sebarang pertanyaan dari Baekhyun, tetapi sepertinya pria mungil itu masih menatapnya. Chanyeol mendengus lalu mengarahkan matanya untuk kembali bertatapan dengan Baekhyun
"Kenapa? Masih belum puas?"
Baekhyun menggeleng
Chanyeol merubah ekspresinya demi menakutkan Baekhyun karena demi Tuhan Baekhyun malah menjadi semakin lucu. Dia bergerak membawa tubuhnya kedepan, berhadapan dengan Baekhyun dengan lebih dekat mungkin tidak buruk
"Apa kau juga mau kupukul? Aku sedang lelah. Negosasinya nanti saja kalau aku sudah tidak lelah"
Baekhyun kembali menggeleng. Dia mengangkat lengannya untuk bertopang, membawa tubuhnya kedepan untuk menatap langsung mata Chanyeol seperti dia ingin melawan tatapan Chanyeol
"Tidak, sehingga Kai berteriak bahwa Sehun sudah baikan"
Chanyeol menggeram sambil merubah ekspresinya seperti harimau, berharap Baekhyun akan merubah ekspresinya yang dibuat-buat menjadi manis
"Aku tidak takut dengan harimau"
Chanyeol mendengus lalu menarik wajahnya untuk menjauh dari Baekhyun, tidak tahan dengan godaan Baekhyun
"Cepat katakan maumu. Aku terlalu capek"
"Bujuk Sehun. Minta maaf padanya. Bilang kalau kau tak akan memukulnya lagi"
Chanyeol tertawa remeh sambil membawa tangannya untuk dia lipat didepan dada. Dia menatap tak percaya pada Baekhyun
"Setelah aku memujuknya seperti adik bayi, lalu apalagi yang aku harus lakukan pak guru?"
"Tentu kau harus memberi penjelasan detail mengapa kau sampai harus memukulnya. Dan yang paling penting adalah mengusap kepalanya, lalu usap punggungnya, atau perlu kau harus memeluknya"
Chanyeol tercengang selama penerangan Baekhyun padanya
"Kau serius? Itu terlihat seperti sedang memujuk seorang gadis"
Baekhyun menggeleng lalu menunjuk jari telunjuknya yang dia gerakkan ke kiri dan ke kanan bagi menepis pemikiran Chanyeol
"Itulah caranya memujuk, Tuan Park"
Baekhyun menghela nafas sebelum menggerakkan matanya untuk melihat angka didalam jam tangannya
"Aku harus pulang sekarang. Ingat Chanyeol, Kai itu teman baiknya, segala yang dia alami maka Kai juga akan tahu. Jadi aku tidak mau dia merajuk terlalu lama"
"Aku pergi"
Chanyeol mengangguk sebagai jawaban. Hatinya tergerak untuk memperlakukan Baekhyun seperti soerang tetamu lalu menghantarnya hingga ke pintu rumah. Tapi itu tidak dia lakukan mengingat dia masih kesal pada lelaki mungil itu
"Heh. Apa kau sedang membiarkan keponakanmu tinggal disini? Bawa dia pulang bersamamu"
"Biar dia pulang sendiri. Aku tidak membawa mobil"
Setelahnya hanya ada teriakan Chanyeol yang menggema sedang Baekhyun menutup pintu rumah sambil terkekeh
"Lucu sekali"
x
x
x
x
"Sehun, musikmu sepertinya terlalu keras"
Sehun menatap datar Kai. merasa terganggu akan teguran Kai yang secara tak langsung ingin mengacau acara bersantainya
"Lalu apa maumu?"
Kai menggeleng
"Tidak ada sih. Tapi sepertinya seseorang mengetuk pintu kamarmu. Aku tak bisa mendengarnya dengan jelas"
Kai berfikir sebentar. Dia membawa kepalanya untuk melihat ke arah pintu kamar Sehun lalu bergerak untuk berhadapan langsung dengan benda persegi tersebut
"Sehun-ah! Benar kataku ada yang mengetuk!"
Sehun tiba-tiba menjadi belak-an dan langsung mematikan bluetooth speakernya untuk dia sembunyikan dibawah kolong ranjang
"Siapa Kai?"
"Sama ada pamanmu atau pamanku"
Sehun mengangguk lalu bersiap siaga memasang wajahnya kesalnya
"Sehun-ah! Akting dimulai dari sekarang. Action!"
Bersamaan dengan seruannya. Kai membuka pintu kamar Sehun perlahan, menunjukkan wajah sedihnya kepada si pengetuk pintu
"Hai Kai"
Kai mendongak untuk menatap seseorang yang berdiri dihadapannya. Wajah sedihnya masih dia pertahankan dihadapan Chanyeol
"Kau tidak pulang? Sekarang sudah malam loh"
Kai mengerutkan dahinya. Apa benar?
"Memangnya sekarang jam berapa?"
Chanyeol berdehem lalu menunjukkan jam tangannya pada Kai
"Jam tujuh? Kau serius paman? Ya Tuhan aku kemalaman"
Chanyeol mengangguk lalu memasukkan tangannya kedalam saku celana
"Sebentar paman. Biasakah aku melihat jam-mu sekali lagi? Aku ingin memastikannya"
Chanyeol menangguk lalu kembali memperlihatkan jam-nya pada Kai
"Wah! Benar paman!"
Chanyeol menangguk lagi
"Benar saja kau memakai Rolex! Ya Tuhan aku turut bahagia!"
Chanyeol memberi pandangan heran pada Kai lalu setelahnya hanya mengangguk-angguk. Karena tadi benar saja matanya menangkap bahwa bocah itu sedang bersedih. Lalu bagaimana dia mau menjelaskan arti dari lompatan-lompatan kegirangan Kai?
"Paman, apa boleh aku menyentuhnya?"
Chanyeol mengangguk lagi. Dia membawa lengannya untuk dihayunkan pada Kai. Tidak ada yang dia bisa lihat selain wajah berbinar Kai. Menurutnya itu akan berlangsung lama memandangkan jemari Kai masih lagi belum menyentuh jam-nya melainkan hanya bergetar
Matanya dibawa untuk bergolek memerhati sekitar rumahnya dan berhenti pada satu titik dimana dia mendapati keponakannya sedang bersandar di kepala ranjang. Seketika dia teringat akan tujuannya ke kamar Sehun
"Adik Kai, apa masih lama?"
"Sebentar paman, aku masih belum bisa menyentuhnya"
Dia menghela. Sepertinya ini akan berlangsung lebih lama dari apa yang dia jangkakan. Jadi Chanyeol mendekatkan bibirnya ke telinga Kai untuk berbisik
Sehun mendelik dari dalam kamarnya untuk melihat interaksi pamannya dengan Kai. Sebuah pisau seperti tengah menyayat hatinya ketika melihat pamannya malah mengobrol dengan temannya dan bukan pergi untuk membujuknya atau apalah yang bisa membuatnya baikan
"Dasar teman penikung. Jahat sekali dia"
Dia memutar badannya menghadap ke arah kepala ranjangnya setelah mengumpati kawannya. Mulutnya masih bergerak untuk mengatai semua hal mulai dari Nintendo pamannya yang terlalu mahal sehingga guru Byun yang rela memeluknya. Sehun tersenyum sendiri ketika mengingat bagaimana guru galak itu mau memeluknya
"Ekhem. Oh Sehun"
Sehun membeku. Otaknya segera mentafsir siapa pelaku yang baru saja menegurnya. Pasalnya dirumah hanya ada dia, Kai dan pamannya. Dan suara Kai tidak mungkin se-husky itu
Sedang otaknya sibuk memikirkan apa yang akan dia lakukan atas teguran pamannya, kasurnya sudah memberat sebelah dengan artian seseorang sudah duduk dibahagian pinggir ranjangnya. Seketika Sehun mati akal
"Sebenarnya itu adalah barang kesayanganku diantara barang-barang lain. Lagipula tadi asistenku mengacaukan lukisanku. Aku harus melukisnya kembali dan tiba-tiba dia datang lagi mengatakan bahwa sebuah proyek dari Yokohama dibatalkan"
Chanyeol menjeda ucapannya untuk menarik nafas
"Ketika aku bertanya kenapa, dia bilang bahwa itu salahnya karena tidak menjawab panggilan sebanyak empat kali, jadi mereka membatalkan proyek atas alasan perunding yang tidak becus"
"Itu sungguh membuatku kewalahan untuk kembali berunding dengan mereka. Dan kau malah bermain dengan Nintendo-ku ditambah dengan tampang kurang ajarmu. Bagaimana aku tidak marah kan?"
Chanyeol melepas satu desahan. Dia menunduk untuk melihat tangannya yang terkait demi menghilangkan kegugupan. Menunggu beberapa detik untuk sebarang respon dari keponakannya. Otaknya mencoba untuk memutar segala cara yang disugestikan Baekhyun, tapi dia berfikir jika dia salah langkah
Cara pertama yang dikatakan Baekhyun adalah memujuk Sehun tapi yang dia lakukan sekarang malah rayuan terakhir iaitu memberi penjelasan kenapa bisa dia sampai memukul Sehun. Chanyeol memutar otak demi mendapat ide agar dia bisa mengulang kembali aturcara membujuk Sehun
Dia berfikir jika itu kesalahannya yang memutar balikkan cara-cara dari Baekhyun, makanya caranya tidak mempan untuk membujuk Sehun
"Hmm, aku berjanji tidak akan memukulmu lagi. Itu adalah yang pertama dan terakhir. Aku hanya terlalu lelah lalu menjadi buas"
Masih tidak ada jawaban. Chanyeol memejamkan matanya geram. Dia berfikir tentang pelukan atau elusan mungkin akan mempan, tapi semua orang tau gengsi Chanyeol tidak akan membiarkannya melakukan semua itu
Otaknya buntu hanya untuk memikirkan cara lain sedangkan masih ada beberapa cara yang belum dia lakukan, tapi bodohnya otaknya melupakan cara lain itu
Chanyeol memejamkan matanya sambil berdoa karena dia memutuskan untuk mengesampingkan egonya demi kebaikan Sehun
Setelah menepuk dada kirinya guna memberi semangat, Chanyeol segera membawa lengannya untuk meraih bahu Sehun
"Sehun-ah, apa kau tak kasihan pada paman?"
Chanyeol memutar matanya keatas, menatap ruangan putih diatas sana sambil merangkai kata-kata untuk diutarakan pada Sehun
"Nah, aku akan memberimu apa saja"
Masih tiada jawaban. Akhirnya Chanyeol bergerak mendekat lalu memeluk Sehun dari belakang dengan erat
"Sehun-ah! Aku tidak mau kengecewakan Baekhyun. Tolong maafkan pamanmu ini. Sehun-ah!"
Sehun berjengit tak suka mendengar rengekan pamannya yang sangat tidak pantas
"Lepaskan aku paman! Kau menggelikan"
"Kumohon! Baekhyun tidak akan memaafkanku"
"Lepaskan aku"
Chanyeol menggeleng dibalik badan Sehun. Dia terus menggeleng sehingga suatu getaran menghentikannya. Dia memutar kepalanya untuk menatap benda persegi yang dia taruh dia sebelah kakinya. Nama Baekhyun terpampang sebagai pemanggil disana
Chanyeol berhenti mengerang serta merta lalu menarik badannya dari Sehun. Keponakannya itu sedang menatap heran padanya, bahkan mungkin jijik. Dia tidak menghiraukan semua itu, memilih untuk menstabilkan suaranya untuk mengangkat panggilan Baekhyun
"Halo?"
Chanyeol menahan nafasnya selama pemanggil di ponselnya berbicara. Hanya sebatas kata pendek yang diutarakan
aku ingin bicara dengan Sehun tanpa basi basi mampu membuat Chanyeol kecewa setengah mati. Dia mencoba untuk bertanya kenapa tetapi dipotong dengan ucapan sama. Tidak ada yang Chanyeol bisa lakukan selain memberi ponselnya pada Sehun
"Dia ingin bicara denganmu"
Sehun mengernyit, tidak sudi mengambil ponsel Chanyeol
"Nih ambil"
Sehun mendelik sebelum merampas ponsel pamannya
"Halo? Ada apa?"
Chanyeol mengintai dibalik matanya untuk melihat bagaimana aura Sehun terlihat lebih santai dengan kepala yang mengangguk-angguk. Dia memperhatikan dengan berjuta umpatan yang dia sembunyikan dibalik hatinya. Matanya masih memicing untuk memperhatikan Sehun yang tiba-tiba tersenyum manis
Sialan.
"Nih paman"
Chanyeol meraih ponselnya lalu mendelik. Dia menempatkan benda persegi itu untuk menempel pada telinga kanannya
"Halo?"
Tidak ada jawaban dari pemanggil
"Sudah kumatikan paman. Ngapain lagi paman mau mengobrol dengan guruku?"
Dua kali sialan.
x
x
x
x
"Paman. Kau mau tau sesuatu yang membahagiakan?"
Baekhyun mengangguk demi meladeni keponakan kesayangannya
"Pamannya Sehun memakai Rolex. Aku menjadi sangat bahagia"
Lelaki mungil yang berperan sebagai seorang paman itu hanya terkekeh lalu mengelus puncak kepala keponakannya. Dia tersenyum manis untuk seterusnya mengeluarkan ucapan yang sedikit sebanyak melukai hati Kai
itu terlalu mahal
Kai mencoba tersenyum untuk tidak melukai hati pamannya. Dia tau bahwa pamannya itu adalah sejenis penghemat berat
"Jam tangan-mu masih bisa dipakai kan?"
Kai mengangguk
"Nah kan"
Kai mengangguk perlahan. Dia mendongakkan kepalanya yang semulanya menunduk, mencoba tersenyum paksa pada pamannya sebelum pamit untuk masuk kekamarnya
Baekhyun menggeleng, sama sekali tak berniat untuk membujuk keponakannya. Yang dia lakukan malah meraih ponsel lalu menelpon kontak bernama Park Chanyeol
"Aku mau bicara dengan Sehun"
"Bicara dengan Sehun, please"
Baekhyun terkekeh selagi panggilannya belum sampai ditangan Sehun. Dia mencoba berfikir jernih tentang mengapa suara Chanyeol terdengar kesal
"Halo Sehun?"
"Tidak ada. Hanya ingin bertanya, apa kau sudah baikan?"
"Aku senang mendengarnya, titipkan salamku pada pamanmu"
Baekhyun meletakkan ponselnya diatas meja setelah Sehun menutup panggilan secara sepihak. Dia menghela nafas
"Sekarang tinggal Kai, bagaimana cara untuk membujuknya?"
x
x
x
x
"Kau dari mana paman? Hari ini kan libur"
"Membeli oleh-oleh"
Sehun melongo sambil menatap sebuah kardus yang dibawa susah payah oleh pamannya. Dia coba memprediksi bahwa itu adalah laptop atau yang semacam dengannya
"Apa kau tau dimana rumah Kai?"
Sehun mengangguk
"Ayo"
Lelaki bermarga Oh itu mengenyit, apa pamannya baru saja mengajaknya ke rumah Kai secara tak langsung?
"Ayo"
Sehun terlalu lama berfikir sampai tak sadar bahwa pamannya sudah mematikan seluruh perkakas listrik didalam rumah itu. Tak lama terdengar bunyi derusan mesin mobil dari luar
Dia membawa tubuhnya untuk masuk ke mobil pamannya tanpa banyak berfikir. Selama perjalanan hanya terjadi keheningan yang tak dapat dielak dengan fikiran Sehun yang masih berkelana tentang apa maksud pamannya membawa kotak besar untuk berkunjung kerumah Kai
"Paman stop. Itu apartemennya"
Chanyeol mengangguk lalu menjadi orang pertama yang berniat untuk keluar
"Paman, kenapa tidak parkir didalam saja?"
Lelaki jakung itu mengernyit untuk menimang cadangan Sehun. Lalu setelahnya menangguk untuk memarkirkan mobilnya di perkarangan apartemen Baekhyun
"Ayo"
Sehun menunjuk dirinya sendiri untuk bertanya tentang apakah dia juga harus ikut
"Ya. Kau juga ikut"
"Sebelumnya, benarkan jika Kai itu suka bermain game?"
Sehun mengangguk
"Kau tidak akan cemburu jika aku memberinya Nintendo kan?"
Sehun menggeleng
"Bagus"
"Tapi paman, bagaimana kau tau Kai suka main game?"
Chanyeol berkedip, berfikir untuk memberi tahu Sehun atau tidak
"Kemarin saat dia sibuk ingin menyentuh jam-ku, aku bertanya apa dia suka, tapi katanya dia lebih suka game"
Sambil dia menerangkan segalanya pada Sehun, lengannya sibuk menggapai kardus berbalut kertas coklat di jok belakang. Sehun mendengus
"Itu sih semacam tanda terima kasih. Karena Baekhyun telah membantuku"
"Maksud paman?"
"Dia mengajariku cara membujuk"
Sehun terdiam, otaknya berjalan lagi untuk berfikir membujuk yang dimaksudkan pamannya. Apa pamannya sedang berbicara tentang acara membujuknya kemarin?
"Jadi kau membujukku karena guru Byun? Kau serius sialan paman. Palsu"
Chanyeol tercengang diposisinya. Tangannya sudah berhasil mengambil Nintendo yang masih berbungkus sebelum Sehun menutup pintu mobilnya seolah ingin menghancurkan seisi mobil
"Anak itu sungguh tidak dijangka. Apa itu maksud dari cemburu atau memang marah?"
x
x
x
x
To be continue
Hai VFlicka6104! Iya sama-sama, terima kasih juga sudah sudi mereview ya! Aku tunggu loh XD
Hai nuuuuut dan chalienBee04! Haha, iya itu yang manggil Sehun Baekhyun, terlalu obvious ya? XD
Hai Bona! Aku juga sebenarnya kasihan kenapa Sehun sampai harus dipukul, tapi itu semua juga akan aku sangkutkan dengan kehidupan Sehun sebelumnya. Hmm, aku minta untuk tidak dipanggil 'thor' lagi ya T.T dan terima kasih sekali lagi :D
Hai AERI BYEOL! Terima kasih sudah mau baca ceritaku sebagai new reader ya! :D aku terima semangat dari kamu, YEAY! :D
Hai hunhanshin! Yap, di chapter 3 ini juga sudah sedikit menerangkan kalau Sehun pernah ngalamin yang namanya dipukulin, good job buat kamu ya! :D
Hai juga khakikira! Iya aku next, aku tunggu juga reviewnya! hehe :D
Hai juga soufi park! Terima kasih sudah mereview dan maaf karena tidak fast update, itu sudah aku terangkan di author's note, Satu lagi, jangan panggil aku 'thor' ya T.T Sekali lagi terima kasih! :D
