Chapter 4
- Reveal -
Preview :
"Luhan, kau juga punya kalung seperti itu?" Minseok.
Luhan berbalik menghadap ke Xiumin, ia mengangguk.
"Itu tak mungkin!"
Xiumin dan Luhan sama - sama terlonjak kaget dan seseorang telah berdiri di depan pintu rumah Xiumin, menatap tidak percaya pada apa yang baru dilihat dan di dengarnya.
- Sehun -
Dia memacu mobilnya melewati jalanan sepi. Dalam benaknya hanya terpikirkan satu orang, mendiang ibunya. Ia pergi mengunjungi 'rumah' ibunya sekali lagi. Sesampainya disana, ia baru menyadari ada sesuatu. Di dekat foto ibunya terdapat kalung yang sama seperti yang ada di foto bayi itu. Dan itu berarti, dia memang bukan anak kandung dari kedua orang tuanya yang sekarang.
Sehun berjalan gontai kembali menuju mobilnya. Ia masih memikirkan surat dari ibunya tadi. Di surat itu, ibunya menceritakan segalanya tentang masa kecil dirinya.
Flashback
Sohee tengah berjalan - jalan di area pusat perbelanjaan. Sebenarnya Sohee tengah menghibur diri dari rasa sedihnya. Hari ini adalah hari ulang tahun putrinya yang ke 5. Tapi kenyataan berkata lain, ia tak bisa merayakan momen berharga ini bersama putri kandungnya.
Ia hanya duduk melamun sendirian di bangku istirahat yang ada di mall itu. Dan disana berdiri seorang anak kecil laki - laki menatap penuh ingin tahu pada Sohee. Tatapan mata yang lucu dan menggemaskan menarik perhatian Sohee. Tanpa sadar Sohee tersenyum dan melambai, yang di balas tatapan bingung dari anak kecil itu.
Anak kecil itu tanpa ragu mendekat ke arah Sohee. Sohee seketika langsung jatuh cinta pada anak kecil itu. Seperti melihat putrinya sendiri, ia memeluk anak kecil itu.
"Adik kecil, kenapa kau sendirian di sini? Kemana eommamu?" tanya Sohee.
Anak itu mengedipkan matanya lucu, "Aku tidak tahu, tadi eomma bilang sedang membeli baju untukku di sana. Tapi lama sekali tak kembali."
Sohee merasa simpati, "O iya, namamu siapa? Bagaimana jika adik kecil menunggu di sini saja sama ahjumma. Berbahaya kalau main sendirian disini,"
"Namaku Sehun, baiklah ahjumma," Sehun menunduk memainkan mobil mainannya, sedangkan Sohee tersenyum.
Mereka berdua asyik bercanda dan bermain, tanpa terasa waktu sudah hampir senja, tapi orang tua Sehun tak kunjung datang untuk mencari anaknya atau sekedar terdengar pengumuman kehilangan seorang anak kecil atau apa. Sohee terus melirik arlojinya, sudah waktunya untuk pulang. Ia takut jika nanti suaminya akan memarahinya. Tapi bagaimana dengan anak kecil ini? Jika ia pergi lebih dulu, anak kecil itu akan sendirian.
Kemudian Sohee bangkit dan menggandeng anak kecil itu, ia membawanya ke ruang keamanan dan melaporkan bahwa ia menemukan seorang anak sendirian di mall itu.
Setelah memberi keterangan pada pihak keamanan, operator mall itu mengumumkan nama Sehun lewat pengeras suara. Setelah hampir 15 menit menunggu dengan gelisah, akhirnya orang tua Sehun datang dan berkata ia kehilangan pengawasan pada putranya saat berbelanja. Orang tua Sehun berulang kali membungkuk meminta maaf dan mengucapkan terima kasih pada petugas keamanan dan Sohee yang sudah menemukan putranya.
Sohee merasa senang akhirnya Sehun bisa menemukan ibunya lagi, tapi didalam hatinya, ia masih ingin bersama Sehun. Ia benar - benar menyukai Sehun. Namun buru - buru ia menepis pikiran itu saat ia melihat Sehun dengan riang bercerita pada ibunya.
Sohee pergi dalam diam menuju tempat parkir mobilnya di basement mall. Di sana ia kembali melihat Sehun sedang memainkan bola mainan kecil di dekat mobil ibunya, sementara ibunya sibuk memasukkan barang belanjaan. Bola itu terlepas dari tangan Sehun dan menggelinding tepat di kaki Sohee. Ia memungutnya dan melihat Sehun sedang berlari mendekatinya dengan senyum lebar.
Tak dinyana dari arah lain muncul mobil yang sedang melaju ke arah dimana Sehun berjalan. Sohee melotot ngeri.
"AWAS!!!"
Dan semua berjalan dengan cepat, Sehun terlempar ke arahnya, dan seseorang tertabrak mobil itu dan terlempar. Sohee sendiri terjatuh karena menangkap Sehun yang di dorong oleh seseorang. Si empunya mobil itu ketakutan lalu melarikan diri. Sehun yang masih kaget, tak peduli dengan rasa kagetnya, berlari mendekat ke arah ibunya dan mulai menangis mengguncang tubuh ibunya yang tergeletak dijalan bersimbah darah.
Sohee menelepon ambulance dan polisi dengan tubuh gemetar. Lalu ia mendekap Sehun yang mulai histeris melihat kondisi ibunya. Entah kenapa ia ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Sehun. Ia merasa sangat sakit melihat Sehun menangis seperti ini.
Beberapa menit kemudian ambulance dan polisi datang. Sohee membawa serta Sehun ke rumah sakit. Dan ia pun di tanyai oleh petugas kepolisian tentang kasus tabrak lari itu. Sohee menjelaskan semuanya dan memberitahu plat nomor mobil si penabrak. Setelah semua penyelidikan dari polisi selesai, ia mengajak Sehun menunggui ibunya di ruang operasi. Sehun masih sedikit terisak namun sudah agak tenang di pelukan Sohee.
"Ahjumma, apa eommaku akan baik - baik saja?"
"Tenanglah, dokter ahli sedang mengobati eommamu. Lagipula, eommamu kan eomma yang kuat, jadi pasti eommamu akan baik - baik saja, hem?"
"Ahjumma, aku merasa sangat lelah. Bolehkah aku tidur sebentar?"
"Boleh, sayang, tidurlah. Nanti jika eommamu sudah bangun juga, kau akan ahjumma bangunkan," Sehun pun mengangguk dan mulai memejamkan mata.
Tak butuh waktu lama, Sehun sudah terlelap. Sohee menemani Sehun semalaman, sampai 2 jam kemudian operasi ibunya Sehun selesai. Ia menggendong Sehun dan mendekat ke arah dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan ibu anak ini?" Sohee tidak suka melihat ekspresi dokter sekarang ini. Ia tak suka dengan yang akan ia dengar sekarang.
"Maaf, kami sudah berusaha semampu kami. Pasien sudah kehilangan banyak darah, tekanan darahnya terus menurun dan semua organ dalam tubuhnya telah rusak. Pasien pun sudah tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Pasien telah meninggal dunia," terang dokter.
Sohee seketika merasa lemas. Apa yang ia katakan pada Sehun nanti? Bagaimana jika ia mencari ibunya? Dengan siapa Sehun akan hidup nantinya?
Ia sendiri menangis mengingat kondisi Sehun nantinya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia bukanlah anggota keluarga Sehun.
Sohee mengguncang tubuh Sehun, membangunkannya. Ia bagaimanapun juga tetap harus mengatakannya.
"Sehunnie, bangun, Sehun?"
Perlahan Sehun membuka mata dan menguceknya.
"Ahjumma, apa eommaku sudah bangun? Aku lapar dan ingin makan masakannya," rengek Sehun.
"Eumm, Sehun, sebenarnya, eumm, itu, eommamu sudah tertidur selamanya. Dan sepertinya eommamu tidak bisa bangun lagi," Sohee berusaha keras agar air matanya tak keluar.
"Tapi eomma bilang padaku, hari ini ingin membuatkan aku bubble tea kesukaanku,"
"Iya sayang, tapi eomma sudah pergi jauh ke surga," Sohee mencoba memberi pengertian sekali lagi.
"Hueee...tak boleh! Pokoknya Sehun mau bubble tea buatan eomma!"
"Sehun, sayang, eomma sudah tak ada lagi, bagaimana jika ahjumma belikan saja di kedai depan?"
"Pokoknya tidak ma.."
Belum selesai Sehun merengek, jenazah ibu Sehun di bawa keluar dari ruang operasi. Seketika Sehun kembali histeris dan ingin bersama ibunya. Ia duduk di sebelah ibunya, mengguncang - guncang tubuh si ibu yang sudah terbujur kaku. Sehun menangis kencang, Sohee menggendongnya lagi, kali ini ia ikut terisak.
Ia memang tak mengenal Sehun atau pun ibunya, tapi ia merasakan ikatan yang kuat dengan Sehun yang bahkan bukan anak kandungnya. Dalam hati Sohee berjanji akan merawat Sehun dan mengobati rasa sakit Sehun secara perlahan. Tak ada hal lain yang bisa atau ingin ia lakukan sekarang kecuali membawa Sehun pulang kerumah.
Ia mengambil ponselnya dan menelpon temannya Jaejoong dan Yunho untuk meminta pertolongan. Dan Sohee masih menggendong Sehun yang menangis merasa kehilangan.
Sebulan setelah kejadian itu, Sohee resmi mengadopsi Sehun. Hal ini jelas di tentang oleh suaminya, Oh Changmin. Tapi Sohee tetap tak peduli, meskipun ia akan di siksa nantinya, tak masalah. Yang terpenting Sehun ada bersamanya.
Berkat bantuan Yunho, pelaku tabrak lari mendiang ibu Sehun berhasil di tangkap. Rupa - rupanya, orang itu adalah orang suruhan Changmin yang biasa mengawasi Sohee. Ini membuat Sohee semakin merasa bersalah pada Sehun.
Secara tak langsung, dia adalah penyebab mendiang ibu Sehun meninggal. Ia sudah membuat hidup Sehun penuh derita. Tanpa kasih sayang seorang ayah ataupun ibu yang sesungguhnya. Ayah kandung Sehun sudah lama meninggal sejak Sehun masih berusia 1 tahun karena sakit.
Meskipun Sohee sudah menjadi ibu angkat Sehun, tapi Changmin tak mau menerima Sehun sebagai anak angkatnya. Ia membenci semua hal yang di sukai oleh Sohee. Dan berniat melenyapkannya perlahan tanpa sepengetahuan Sohee tentu saja.
Berulangkali Changmin bersikap kejam tanpa ampun pada Sehun, padahal ia hanya melakukan kesalahan kecil. Lalu Sohee dengan tergopoh - gopoh akan mendekati Sehun dan membawanya pergi sejauh mungkin dari Changmin.
Sehun yang masih polos hanya ketakutan dan tak banyak bicara.
Hal terakhir yang diingat Sehun sebelum ibunya meninggal, itu 3 hari menjelang ulang tahunnya yang ke 7. Ibunya memberinya sebuah amplop biru, sangat tebal. Sebuah kotak kado bergambar karakter favorit Sehun. Tak lupa kotak coklat kecil yang isinya sebuah kalung dengan dua lingkaran yang tertaut.
Sehun sangat senang tentu saja karena ia mendapat kado lebih awal dari biasanya. Ia lalu menyimpannya ke tempat di mana tak ada seorangpun yang bisa menemukannya, kamar rahasia yang ada di kamarnya.
Sohee sengaja membuatkan Sehun sebuah kamar rahasia di dalam kamarnya tanpa sepengetahuan Changmin atau siapapun. Supaya Sehun bisa menggunakan tempat itu untuk keperluan pribadinya.
Tepat saat ulang tahun Sehun, kejadian naas itu terjadi.
Sehun sedang bermain di taman di belakang rumahnya. Ia di temani Sohee tentu saja. Mereka menghabiskan waktu berdua seharian. Mulai dari merayakan ulang tahun, mendirikan kemah mainan, membakar kentang goreng dan memancing di kolam kecil dekat taman itu.
Sehun tak mengerti apa yang tengah terjadi ketika ibunya mengajaknya berlari masuk ke dalam rumah dan bersembunyi.
Ibunya meminta ia terus berada di dalam kamar rahasianya dan melarang Sehun keluar dari tempat persembunyiannya apapun yang ia dengar nanti.
Suara berkelontang terdengar dari luar di susul suara pecahan kaca dan tembakan beruntun tanpa ampun. Sehun ketakutan, menutup telinganya dan membenamkan dirinya ketempat yang gelap supaya tak terlihat. Ia menahan isakan tangisnya dengan memejamkan matanya. Tanpa ia sadari, ia pingsan ketika mendengar kamarnya di dobrak dengan brutal dan ia mendengar semua itu dari dalam kamar rahasianya.
Saat Sehun sadar dari pingsannya, ia dengan badan menggigil gemetar membuka pintu kamarnya. Hal pertama yang ia lihat adalah keadaan kamarnya yang luar biasa berantakan. Semua foto kenang - kenangan dirinya bersama ibunya hancur. Tangan gemetarnya terjulur meraih gagang pintu. Takut akan hal yang akan ia lihat nantinya. Dan benar saja, ketakutannya menjadi kenyataan.
Terpampang dihadapannya rumahnya yang porak poranda. Darah tercecer dimana - mana. Pistol tergeletak dilantai, mayat tergeletak di seluruh penjuru rumahnya. Seketika ia teringat ibunya, bergegas menelusuri tangga kedua di bagian dalam rumahnya yang besar menuju kamar ibunya. Saat ia menghempaskan pintu kamarnya, dilihatnya ayahnya tengah memangku ibunya yang bersimbah darah dengan bekas luka tembak di punggungnya.
Ayahnya menatap dirinya penuh kilat kemarahan. Lalu mulai mengeluarkan sumah serapahnya dan mengatakan semua itu adalah kesalahannya. Sehun bertambah takut dan terisak semakin kencang.
"Appa, hiks, biarkan aku melihat eomma, hiks, aku ingin melihat wajahnya sekali saja,"
"Kularang kau untuk melihatnya. Semua ini gara - gara kau, dasar anak pungut pembawa sial!" Changmin murka luar biasa dan mengusir Sehun dari hadapannya.
Sehun yang tengah terluka berlari sendirian menuju taman, tempat terakhir kali mereka membuat kenangan. Tak peduli hujan lebat yang menerpa tubuhnya, ia melampiaskan amarahnya pada hujan. Menendang, memukul, bahkan berguling - guling di tanah, berteriak dan menangis sekeras mungkin. Supaya dunia tahu betapa tidak adilnya hidup ini.
"Eommaa!! Eomma!! Kenapa kau meninggalkanku, eomma? Kau bilang kita bisa hidup berdua saja, bisa bahagia walaupun tanpa ada appa di sekitar kita. Tapi kau berbohong padaku eommaaa, kau mengingkari janji yang kau buat sendiri," Sehun berlutut di tanah, menangis keras, lalu pingsan.
Dan saat sadar, ia tengah berada di rumah sakit. Menurut perawat, ia sudah tertidur selama dua hari. Saat Sehun dengan ekspresi kosong bertanya siapa yang membawanya kemari, perawat itu berkata ayahnya yang membawanya kemari.
Sehun sedikit terkejut, namun kemudian berekspresi datar lagi.
Ia sekarang sendirian dan tidak punya seseorang untuk ia jadikan sandaran. Ia merasa sangat sakit di dadanya. Bukan sakit karena penyakit, melainkan rasa sakit karena selalu di tinggalkan oleh orang - orang yang ia sayangi.
Sehun kini lebih memilih menjalani kehidupan kosongnya demi mendiang orang - orang tersayangnya. Entah nanti hidupnya bahagia atau tidak, ia tak peduli lagi. Yang ia tahu, ia ingin mencari siapa penyebab ibunya meninggal. Dan ia bersumpah akan membalas dendam, meskipun nyawanya sendiri yang jadi taruhan.
Flashback end
Sehun kini mengingat semuanya. Ia baru menyadari dirinya memang bukanlah anak kandung mendiang ibunya. Sedangkan ibu kandungnya pun telah meninggal dunia, itu juga karena ingin menyelamatkan nyawanya. Sehun menepikan mobilnya dan mulai menangis lagi mengingat saat - saat kelam itu.
Ketika ia telah tumbuh dewasa, ia memang menemukan dalang di balik semua ini. Tapi ia tak bisa menyalahkan orang - orang itu, karena, sebab utamanya memang adalah ayahnya sendiri. Yang ia herankan adalah kenapa sebegitu jahatnya ayah angkatnya terhadap orang - orang itu. Apa yang sudah mereka lakukan terhadap diri ayahnya dulu hingga sampai ayahnya menyimpan dendam yang begitu mendalam.
Sehun menghapus bekas air matanya, memandang lagi foto, surat dan kalung pemberian ibunya. Dalam surat itu, ibunya juga menjelaskan bahwa anak kandungnya pasti akan mempunyai kalung yang sama seperti kalung yang ibunya berikan pada Sehun juga. Ibunya juga berkata, meskipun Sehun bukanlah anak kandungnya, tapi ibunya benar - benar tulus menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Sebab itulah, ibunya juga menghadiahkan kalung yang serupa dengan milik anak kandungnya.
Di simpannya dengan hati - hati surat terakhir peninggalan ibunya itu. Namun ia memakai kalungnya, lalu ia selipkan ke dalam pakaiannya.
"Minseok-ah, aku tahu siapa kau sebenarnya. Tapi maafkan aku, sepertinya aku terlambat menyadari bahwa kau putri kandung ibuku yang selama ini ia cari. Aku tahu saat pertama kali melihat fotomu di file milik ayahku sewaktu kita pertama kali bertemu di Beijing dulu, ada sesuatu yang terasa familiar. Aku memang bodoh, terlalu lama dan terlalu jauh untuk menyadarinya,"
Sehun mengambil map milik ayahnya, disitu terpampang foto bayi dengan nama Xiumin Lee alias Kim Minseok. Foto bayi mengenakan selimut berwarna pink dan di tangan bayi itu menggenggam kalung seperti yang di pakainya. Sehun mengelus kalung di dadanya.
"Tak peduli apapun, aku akan mempertemukanmu dengan orang tua kandungmu, Minseok. Meskipun sedikit terlambat, tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali. Kau harus percaya padaku, dan tunggulah aku."
Luhan dan Minseok melotot ngeri melihat Onew berdiri di ambang pintu dengan tatapan sulit di artikan dan nafas terengah - engah.
"Op..oppa, sejak kapan kau berdiri di sana?" Minseok mengerling ke arah Luhan dan kakaknya dengan gugup. Luhan membungkuk memberi salam dengan canggung.
"Minseok! Kenapa kau membawa pulang seorang pria asing?! Tengah malam lagi, kau sudah gila ya?! Kau kan bisa menghubungi oppamu ini jika ada sesuatu yang terjadi," Onew tanpa mendengar penjelasan dari Minseok langsung mengomel begitu saja.
"Oppa, ini.."
"Minseok jangan menyelaku, sekarang cepat masuk ke kamarmu dan biarkan aku yang mengurus orang ini," Onew berkata dengan sangat tegas pada Minseok.
Yang kemudian di tanggapi dengan ekspresi kesal oleh Minseok dan langsung berlari menuju kamarnya lalu membanting pintunya dengan kesal. Onew tak melepaskan pandangannya sedikitpun pada Luhan. Tatapan mata penuh intimidasi membuat Luhan gugup dan mati - matian ia sembunyikan rasa itu.
"Kau, darimana kau bisa mengenal adikku? Namamu Luhan, bukan?" Onew memulai sesi interogasinya.
Luhan dengan sedikit terbata menjawab 'iya' dan ia baru akan menjelaskan kronologi kejadian yang membuatnya hampir saja mati konyol, Onew sudah memotongnya dan berubah menatap curiga pada Luhan.
"Apapun yang akan kau katakan, sebaiknya jangan pernah menemui adikku lagi. Aku hanya tak mau adikku akan terluka dan merasa sakit karena dirimu," ancam Onew.
"Tapi.."
"Kau mungkin lupa dengan pertemuan awal kita dahulu. Aku tak akan pernah melupakannya. Seharusnya kau berterima kasih aku tak membunuhmu sekarang. Tapi, jika kelak kebetulan kita bertemu lagi, aku pasti akan membunuhmu saat itu juga," Onew melirik sengit, lalu berpaling.
"Pergilah sekarang selagi aku masih berbaik hati!"
Luhan yang kebingungan tetap menuruti apa kata Onew.
Dengan gontai, ia berjalan keluar dari rumah Minseok. Ia sama sekali tak keberatan dengan sikap oppa Minseok terhadapnya. Malah ia dengan sengaja ingin pergi ke rumah Minseok lagi besok. Jika tetap tak bisa ia akan kesana besoknya lagi, jika tak bisa lagi, besoknya lagi. Begitu seterusnya.
Ia baru saja menutup gerbang rumah Minseok, tapi ia sudah di hadang oleh seseorang. Luhan mendongakkan kepalanya dan ekspresinya berubah marah.
"Kau?!"
"Hai, Luhan, kita berjumpa lagi disini. Apa ini kebetulan lagi heh?" sapa orang itu.
"Issh, aku rasa kau memang sengaja menguntitku. Kenapa? Itu karena kau selalu kalah selangkah di belakangku, kau tahu. Dan aku, tak berniat mengubahnya," Luhan menyeringai.
"Kau percaya diri sekali, Luhan. Kita lihat saja apa yang bisa kau dapatkan dengan cara licikmu. Orang - orang mungkin akan tertipu dengan wajah malaikatmu itu, tapi tak akan berguna bagiku. Kau malaikat berjiwa iblis, dan selamanya akan tetap seperti itu," dengus orang itu.
"Heh, kau pikir kau berbeda? Kita ini sama saja. Kau bersikap tak lebih baik dari pada aku. Dan kau tahu, aku akan memastikan kedokmu akan terbongkar lebih dulu sebelum kau bisa membunuhku, Sehun!" balas Luhan tak kalah sengit.
"Haha, kita lihat saja. Tapi aku tak akan menyerah dengan mudah. Mungkin ini memang sudah mendarah daging. Ayahmu dan ayahku memang musuh sedari dulu. Kitapun sama, tapi, aku mempunyai alasanku sendiri melakukan semua ini. Dan kali ini aku tak boleh gagal," Sehun.
"Silahkan kau lakukan dengan caramu, aku akan lakukan dengan caraku. Ini bukan soal memenangkan hati seseorang, melainkan mengungkapkan kejujuran pada semua orang. Dan aku rasa, kau tak akan pernah mampu melakukannya. Karena sedari awal, kaulah yang bersalah."
"Terserah apa katamu, Sehun, lakukanlah sesukamu, aku tak peduli. Jadi, selamat tinggal," Luhan beranjak pergi dari sana melewati sisi Sehun.
Tapi tangan Sehun menahan lengan Luhan. Luhan menatap pada Sehun yang kini sedang melihat ke arah lain dengan ekspresi datar namun dari sorot matanya nampak terkejut.
"Sehun, ap.. eh, Minseok?!"
Berdiri disana, Minseok dengan ekspresi tajam mematikan menatap ke arah kedua makhluk paling tak disangka oleh Minseok. Sehun dan Luhan.
A/n :
Yeey...yang ini akhirnya selesai juga, huhuhu,
Mian banget author molornya ga ketulungan, mian,
Tapi author selalu berusaha supaya selalu bisa nyicil tiap waktu luang. Dan sekarang yang ini sudah jadi. Tinggal nyelesein yang dua lainnya.
Author kira minat reader berkurang sejak si L konfirm dating, ternyata masih pada setia nungguin ff author apdet, hueee, terharu bgt.
Pokoknya buat para reader yg udah mampir, makasih kalian selalu kasih support, selalu kasih voment, tapi kadang ga di balas sama author, author minta maaf ya,
Makasih sekali lagi yang udah selalu setia nungguin ff gaje dr author apdet. Author ga akan ada tanpa kalian para reader,
Saranghae
#weareone_exo
bow
