Lelaki bersurai blonde itu merasa seperti ada yang menghambat pernapasan dan perutnya ditindih. Dahinya mengernyit kesal mengetahui seseorang menganggu tidur indahnya. Dengan kasar ia buka maniknya dan mendapatkan hidung seseorang berada tepat di depan wajahnya dan bibirnya basah oleh sesuatu.

CUP

"Morning, Oppa,"


Warning: sinetron abis, bagi yang ga suka genre kaya gini mending pergi ya daripada muntah-muntah.

Disclaimer: BTS' members belong to BigHit Ent, family, and fans.

Don't like this pairing? Close this page, write your own story and pairing. Thanks!


Selanjutnya hanya cengiran yang bisa dilihat lelaki itu. Sedari tadi rupaya ia dihujani kecupan manis oleh sang kekasihnya agar cepat bangun dari tidurnya. Mau tak mau Yoongi membalas ucapan kekasihnya, "pagi, Baby Bun,"

Jungkook yang kini duduk di perut Yoongi masih belum beranjak. Ia kembali mengusak wajahnya ke dada bidang lelaki di bawahnya berharap kekasihnya yang hobi tidur itu segera bangun.

"Oppa cepat bangun. Aku mau sarapan,"

Biasanya, Yoongi akan memaki siapa saja yang berani membangunkannya. Namun, entah kenapa saat ini bukannya sumpah serapah yang keluar dari bibir tipisnya, malahan kekehan ringan yang memenuhi kamar bernuansa putih itu.

"Bagaimana aku mau bangun jika kau masih duduk di atasku, eoh?"

"Mian. Makanya Oppa cepat bangun!"

Segera gadis bermata bulat itu turun dari perut kekasihnya dan berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar gadis itu berkata dengan cebikan kesal.

"Oppa bangun! 10 menit belum siap aku siram pakai air!"

Yang diancam hanya berdehem dan berguling membiarkan kepalanya terpendam di bantal. Sebenarnya ia ingin sekali tidur sampai siang, tetapi hal itu tidak akan terjadi karena kekasihnya sibuk minta ditemani hari ini.

Atensi manik kelamnya berpusat pada layar ponsel yang hidup karena ada panggilan masuk. Nama 'P. Jimin' membuat alisnya berkerut bingung.

Ada apa dia menelepon pagi-pagi? Batin Yoongi bingung.

"Ne?"

"YOONGI! OH TUHAN KENAPA LAMA SEKALI MENGANGKATNYA?!"

Dahi sang pria semakin berkerut mendengar nada suara Jimin yang panik.

"Wae?"

"Yoongi, aku butuh bantuanmu!"


Surai oranye gadis yang sedari tadi sibuk berjalan ke sana kemari di kamarnya semakin kusut karena gadis itu tak berhenti mengusaknya.

"Yoongi, aku butuh bantuanmu!"

"mwo?"

Dengusan kasar berserta putus asa Jimin keluarkan. Harusnya pagi ini ia habiskan untuk duduk tenang di depan sofa sambil menonton drama. Bukannya malah sibuk menyusun drama di hidupnya.

"Bisakan aku berpura-pura menjadi sekretarismu? Atau apa pun yang penting biarkan aku seolah-olah bekerja di perusahaanmu, please?"

Keheningan di seberang sana membuat Jimin tambah gelisah. Gadis itu tahu bahwa lelaki yang menerima teleponnya kini baru bangun dari tidurnya, dan lelaki itu biasanya sedikit mengalami gangguan pencernaan pikiran saat pagi hari—lemot.

"Kau bilang apa tadi?"

Sudah kuduga! Batin Jimin jengkel.

"Intinya aku minta tolong untuk—"

"Ani, aku mengerti.. tapi kenapa?"

Jimin menggigit bibir bawahnya. Ia bingung bagaimana menjelaskannya, "aku akan menceritakannya lain kali tapi tidak sekarang. Aku akan datang ke kantormu sebentar lagi. Gomawo, Yoongi!"

"Hm—" dan sambungan diputus secara sepihak oleh Jimin karena ia tidak ada waktu lagi. Dengan tergesa ia langsung melesat menuju kamar mandi.

Semua tidak akan serumit ini jika saja Taehyung tidak mulai mencari masalah. Gadis itu ingat betul bahwa ia sudah mengatakan bahwa jangan menemuinya lagi, tetapi ia lupa bahwa Kim Taehyung adalah orang yang keras kepala.

"Siap?"

Onyx gadis bersurai oranye itu bergulir kesal. Menghentakkan kakinya yang terbalut high heels. Kemeja putih agak longgar dengan rok hitam span selutut menjadi pakaiannya hari ini. Khas seorang karyawan. Beruntung Jimin memunyai baju seperti itu.

Secara tiba-tiba saat ia ingin membuang sampah pagi hari tadi, ia meligat sesosok yang sangat dikenal. Kim Taehyung berdiri tak jauh dari pintu apartemennya membuat mata sipit gadis itu terbelalak kaget.


"Apa yang kaulakukan?! Dari mana kau tahu apartemenku?!"

"Aku mengikutimu kemarin," jawab sosok itu dengan cengir khasnya.

"KAU—! Aish, mau apa kau ke sini, Taehyung-ssi?"

Senyum Taehyung luntur karena panggilan formal tersebut, "aku hanya ingin mengantarmu bekerja,"

Otak Jimin mendadak beku. Lidahnya agak kelu. Gadis itu yakin jika ia mengatakan bahwa ia tidak bekerja pasti akan muncul banyak pertanyaan yang membuatnya semakin bingung.

"Aku sedang libur, iya benar libur! Jadi aku tidak bekerja hari ini," jawabnya santai dengan hati berdebar.

"Ah, begitu? Aku juga sedang libur! Aku ingin melihat di mana kau bekerja!"

Empat perempatan siku-siku imajiner hadir di pelipis gadis itu. Kesal karena kekeraskepalaan sahabat sekaligus mantan kekasihnya itu.

"Dengar Kim Taehyung-ssi! Sudah kukatakan jangan pernah menemuiku lagi!"

"Jika kau tidak mau mengantarkanku hari ini, aku bisa mengikutimu lagi lain hari saat kau berangkat bekerja,"

"HEOL, kau gila? Aku akan lapor polisi!"

"Lapor saja. Akan tidak takut,"

Taehyung tahu bahwa Jimin membenci hal-hal merepotkan dan tidak mau melibatkan dirinya ke dalam hal rumit maka itu ia menantang gadis itu untuk menghubungi polisi karena tahu Jimin tidak akan melakukannya.

"AISH! Baik! Kuizinkan kau kali ini tapi segera lenyap dari pandanganku setelahnya!"

Dan bantingan di pintu membuat Taehyung tersenyum menang.


Mulut pria bermanik caramel ini terbuka dengan wajah bodoh, "Jim, kau bekerja di sini?"

Senyum ponggah gadis itu berikan, "ya, keren kan?"

Perusahaan milik pria minim ekspresi—Yoongi—memang megah dan besar. Entah ada berapa tingkat—yang mana Jimin tidak tahu karena tidak pernah sekali pun ia ke sini, ia hanya tahu alamatnya.

"Ya, ini hebat sekali. Kau tidak mau masuk?"

Keringat dingin menetes kembali, "un—untuk apa? Aku libur hari ini jadi aku tidak akan masuk kantor! Kau hanya bilang mau melihat kantorku dari jauh!"

"Aku tidak bilang begitu. Aku bilang aku ingin melihat di mana kau bekerja. Termasuk lantai berapa dan letak ruanganmu,"

"KAU GILA—"

"Nona Park?"

Jimin dan Taehyung terdiam mendengar suara penuh wibawa itu. Seorang pria dengan tinggi semampai dan rambut platina menghampiri mereka dari pintu kaca utama.

Dahi gadis itu mengernyit heran. Dari mana pria ini tahu namaku?

"Ye?"

"Apa Sajangnim meneleponmu untuk bekerja?"

Kalimat itu diucapkan dengan begitu serius membuat Jimin tambah linglung. Melihat gadis di depannya menampakan raut bingung membuat pria dengan surai platina itu berdehem singkat.

"Sajangnim yang memberitahuku semua,"

Manik onyx Jimin melebar senang. Dalam hati ia ingin mengucapkan beribu terima kasih untuk lelaki bersurai blonde itu. Jimin tidak menyangka Yoongi akan membantunya sampai seperti ini.

"Ne, aku libur hari ini, tetapi orang ini bilang ingin melihat tempatku bekerja jadinya aku kemari hari ini,"

Yang merasa dibicarakan berdehem kemudian membungkuk singkat, "Aku Kim Tarehyung, kekasihnya,"

"MWO?! ANIYA! Dia bukan pacarku!"

"Kami sedang bertengkar, makanya ia sedikit kasar hari ini,"

"YA! MATI KAU TAEHYUNG!"

Pria bersurai platina ini memandang keduanya bingung. Kebingungannya bertambah saat tadi pagi mendapat telepon dari atasannya.


Layar ponsel Namjoon bergetar dan menampilkan nama 'Min Sajang', segera ia mengangkat sambil tetap membaca laporan di meja kerjanya.

"Ne, Sajangnim?"

"Namjoon, aku butuh sedikit bantuanmu," suara di seberang sana terdengar kesal membuat alis Namjoon berkerut.

"Ne, Sajang?"

"Nanti akan ada gadis datang ke kantor. Ia pendek dengan rambut oranye terang yang merusak mata. Ia akan berperan menjadi sekretarisku. Kau paham?"

Jujur, Namjoon tidak paham, "ah, maaf, Sajang—"

"Aish, gadis oranye itu namanya Park Jimin. Ia datang ke kantor untuk berpura-pura menjadi sekretarisku. Meja kerjamu berikan saja untuknya hari ini. Kau jadi pengawal atau apa pun untukku hari ini bukannya sekretarisku, karena sekretarisku hari ini adalah gadis oranye itu, mengerti?"

"Algeseumnida, Sajangnim,"

"Ne, gomawo,"

PIP

Dan sambungan terputus membuat pertanyaan di dalam pikiran Namjoon masih bergelayut.


Mereka bertiga kini di dalam lift dengan Namjoon yang sibuk membungkuk membalas sapaan para karyawan dengan Jimin dan Taehyung yang sibuk terkagum dengan suasana dan interior dalam perusahaan Yoongi.

Pria bersurai platina itu menekan tombol 7 dan berbisik di telinga gadis bersurai oranye itu, "namaku Kim Namjoon, Nona Park,"

Jimin membungkuk singkat, "Namjoon-ssi, gomawo,"

Lift kaca membuat semua terlihat membuat Taehyung masih terkagum. Lift di perusahaannya bekerja tidak terbuat dari kaca karena itu ia sangat kagum melihat bagaimana pemandangan dari dalam lift.

Jimin mendesis kesal melihat kelakuan norak mantan kekasihnya itu. Ia tidak sadar bahwa tadi ia juga menunjukkan reaksi yang sama dengan Taehyung.

Lift berhenti dan mereka bertiga keluar mengikuti langkah pria bersurai platina itu. Mereka berjalan di koridor dengan banyak lukisan terpajang. Sampailah mereka di suatu ruangan besar.

"Ini tempat di mana Nona Park bekerja,"

Taehyung yang pertama kali berdecak kagum, "tempat kerjamu bagus sekali, Jim,"

Yang diajak bicara juga sibuk memandangi ruang kerja milik Yoongi dengan intens. Baru kali ini ia melihat tempat di mana lelaki blonde itu menghabiskan harinya untuk bekerja.

"Ah, maaf, aku belum tahu namamu," ucap Taehyung sembari tersenyum.

Pria bersurai platina itu terkesiap, ia bahkan lupa mengenalkan dirinya yang mengaku kekasih gadis oranye itu, "ah, kau benar. Saya Kim Namjoon, aku asisten Tuan Min,"


"Masih mau belanja lagi?"

Pria bersurai blonde ini menatap tiga tas belanja yang masing-masing berada di kedua tangannya dengan jengah. Menemani di dalam pikirannya adalah hanya sekadar jalan-jalan, tetapi nyatanya menemani versi kekasihnya adalah dengan masuk ke toko satu ke toko lain.

Sebenarnya Yoongi tidak masalah sama sekali dengan belanjaan itu. Ia hanya lelah dan rasanya tak sanggup masuk ke toko lagi.

Jungkook, yang menjadi tersangka membuat mood kekasihnya siap meledak hanya tertawa renyah. Sambil bergelayut manja di lengan kekasihnya yang masih sibuk meneneng tas belanja.

"Ayolah, Oppa. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu~"

"Tapi tidak dengan belanja juga, Jungkook-ah. Kita bisa duduk di kafe dan mengobrol sampai malam,"

Bibir ranum gadis bersurai hitam itu mengerucut lucu, "ayolah, Oppa~ sewaktu di Jepang aku belanja sendiri dan itu menyedihkan,"

"Baiklah, Baby Bun tapi berjanjilah padaku ini toko terakhir karena kakiku sudah berdenyut sakit,"

Yang diajak bicara hanya terkekeh lucu sembari memberi hormat ala tentara, "siap bos!"

Kaki kurus untuk ukuran pria milik Yoongi berhenti tatkala merasakan getaran di saku yang berasal dari ponsel pintarnya. Tiga kantung belanja di tangan kanannya ia taruh di tanah guna mengambil ponsel di saku. Nama 'Namjoon Kim' terpampang di layar membuat dahinya mengerut. Nama Jimin melintas di pikirannya saat ini. Takut jika Jimin berulah di kantornya.

"Mwo?"

Khas Min Yoongi kala menjawab. Bukan 'yeoboseyo' atau berbasi-basi.

"Sajangnim, teman Anda sudah selesai berkunjung dan sekarang mungkin mereka sudah dalam perjalanan pulang. Saya minta maaf tidak segera menelepon saat mereka keluar kantor karena pekerjaan—"

"Arasseo. Terima kasih, Namjoon. Apa gadis oranye itu membuat masalah?"

"Aniyeyo, Sajangnim. Gadis itu datang berkunjung dengan pacarnya—"

"'Pacar'?"

Alis pria bersurai blonde itu berkerut mendengar pernyataan asisten sekaligus sekretarisnya itu. Bahkan tanpa sadar nada suaranya naik saat menanyakan hal tersebut.

Jimin punya pacar?

"Saya tidak tahu kebenarannya. Hanya ucapan sepihak karena Nona Park terus mengelak hal itu,"

Yoongi menghela napasnya kasar, "ara, selesaikan pekerjaanmu,"

Dan telepon diputus secara sepihak oleh Yoongi seperti biasa.

"Oppa? Sedang apa? Ppalli!"

Pria bersurai blonde itu tersadar telah melamun selama beberapa detik. Mengangguk kecil lalu mengambil kembali tas belanja yang tadi teronggok di tanah.

Manik bulat milik gadis bersurai hitam itu membulat dan jemari lentiknya tanpa sadar menunjuk sesuatu di belakang Yoongi.

Yoongi jelas sekali memasang wajah bingung. Namun, ketika ia menoleh ke belakang untuk melihat apa yang membuat kekasihnya terkejut seperti itu, maniknya ikut melebar.

Dua orang yang berada tak jauh dari punggung Yoongi terdiam. Salah satu dari mereka juga membulatkan matanya.

"Kau—" dan suara Jungkook membuat perut Jimin melilit seketika. Ditambah gadis itu menunjuk—entah ke dirinya atau Taehyung sembari memicingkan mata.


Mereka berempat duduk di suatu restoran terdekat. Yoongi berada di samping kanan Jungkook, di depan gadis itu ada Taehyung dan di samping Taehyung ada Jimin yang berada di depan Yoongi.

"Kau ingat aku?"

Itu kalimat pertama yang keluar dari Jungkook setelah mereka berempat selesai memesan makanan.

"Ne?" jawaban dari Taehyung jelas membuat bibir Jungkook mengerucut lucu. Ketara sekali jika pria di depannya tidak mengingatnya.

"Aku gadis yang berada di toilet waktu itu, kauingat?"

Mendengar kata toilet membuat ketiga pasang mata di sana membulat. Bermacam bentuk pikiran serta imajinasi sudah terpampang di kepala masing-masing sedangkan si pengucap tidak bermaksud seperti itu karena memang ia mengatakan hal jujur dan tidak memikirkan diksi lain agar pikiran ketiga orang di sini tidak liar.

"Masih tidak ingat? Aku gadis yang membuatmu dipecat karena dikira kau mengintipiku di kamar mandi,"

Kali ini hanya dua manik yang melebar. Manik onyx Jimin bertambah besar mendengar penjelasan singkat itu. Jemari mungil yang berasa di atas pahanya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.

Jadi karena Jungkook, Taehyung kehilangan pekerjaannya?

"AH! Ya, aku ingat!"

Reaksi agak lambat yang ditunjukkan Taehyung membuat Yoongi mendengus.

"Kau ingat?" kali ini reaksi Jungkook yang membuat dengusan lain dari Yoongi. Kekasihnya malah menepuk tangannya dengan riang.

"Ne, tapi tenang saja, Nona. Aku kembali dipanggil di kantorku. Malah sekarang aku mendapat jabatan yang bagus," ucap lelaki bersurai cokelat itu dengan senyum kotaknya.

Jungkook mencibir lucu, "Ish, itu gara-gara aku juga,"

Kali ini ketiga orang di sana mengerutkan dahi.

"Bagaimana bisa?" tanya Yoongi. Kekasihnya yang membuat orang ini keluar dan karena kekasihnya juga Taehyung dipanggil kembali?

Jungkook tersenyum manis, "jadi begini.."


Lima bulan lalu

Gadis dengan mata bulat itu melangkah dengan riang sepanjang koridor. Kaki jenjangnya yang terbalut sneakers putih dengan tanda bintang itu melompat kecil di setiap langkah membuat beberapa karyawan yang melihat tersenyum bahkan tertawa kecil.

Semua orang di sini tahu bahwa putri dari Nyonya Jeon memang masih kekanakan. Hal ini membuat semua orang di sana juga ingin sekali melindunginya karena Nona Jeon memiliki pribadi yang periang dan lugu serta polos. Apalagi dengan mata bulat bak rusa dan gigi kelinci lucu.

"Han Ahjussi!"

Seorang pria paruh baya yang merasa dipanggil menoleh kemudian tersenyum. Lengannya terbuka lebar ketika melihat sesosok gadis cantik bersurai hitam siap menerjangnya dengan pelukan.

"Kookie kangen!"

"Aigoo, uri Bunny. Kita baru bertemu beberapa hari lalu jika kau lupa,"

Yang dikatai kelinci mengerucut lucu sembari melonggarkan pelukan mereka, "Ahjussi jangan ikut-ikutan memanggilku 'Kelinci' seperti Yoong-oppa!"

Kekehan kecil tercipta di wajah pria paruh baya itu, "ne, ara. Bagaimana kabar Yoongi, hm?"

"Ahjussi tidak menanyakan kabarku tapi malah menanyakan kabar Cowo Tidak Punya Emosi itu!"

Tawa tergelak setelahnya membuat beberapa karyawan di sana yang melihat interaksi di antara Penasihat Nyonya Jeon dan Nona Jeon itu tertawa.

"Baiklah, bagaimana kabarmu, Uri Kookie?"

Senyum lebar kemudian tercipta, "Kookie baik~ beberapa hari lagi Kookie mau ke Jepang, loh, Ahjussi!"

"Untuk apa, eoh?"

"Kata eomma aku perlu belajar mengurus perusahaan di sana," dan putri Nyonya Jeon itu memajukan bibirnya imut.

Hanya kekehan ringan yang diberikan pria paruh baya itu serta elusan di surai hitamnya.

"Kookie mau ke toilet dulu ya, Ahjussi! Titip salam sama eomma ya! Bilang, 'Eomma sudah punya keriput, weeeek!' Dadah, Ahjussi!"

Dan tawa gelak keluar dari semua karyawan yang mendengar.

Taehyung yang masih baru bekerja di sini mengalami cukup kesulitan karena belum beradaptasi dengan kantor megah seperti ini. Dari tadi ia sudah bolak-balik dari lantai lima ke lantai sembilan untuk memberi bahan presentasi atasannya. Sekarang ia harus buru-buru menuntaskan hal alamiahnya dan segera kembali bekerja.

Ia melihat palang toilet dan langsung berlari ke lorong tersebut dan berbelok ke arah kanan tanpa melihat kembali bahwa ia berbelok ke toilet wanita.

Baru ia membuka pintu manik caramel-nya terkejut melihat kaca dan wastafel yang menyambut atensinya, bukannya toilet khas pria. Sedetik terlambat ia sudah mendapati lengkingan gadis yang ia sadar bahwa teriakan itu untuknya.

"APA YANG KAULAKUKAN?! MESUUUUUUUM!"

Taehyung gelagapan dengan manik ke sana kemari, "bu—bukan, sungguh, aku salah—tidak tunggu!"

Jungkook, gadis yang mengira dirinya diintip seseorang langsung berlari ke ruangan tempat ibunya bekerja dan menceritakan hal tersebut dengan panik.

Nyonya Jeon dan Tuan Han yang mendengar hal tersebut jelas naik darah dan langsung memecat Taehyung.

Hal itu Jungkook ketahui beberapa hari setelahnya lewat telepon dari Tuan Han. Jungkook yang tengah menelepon kekasihnya saat itu langsung bercerita, "orang mesum seperti itu tidak pantas bekerja di kantor eomma! Benar, kan, Oppa?!"

"Siapa yang mesum?"

Jungkook mendesis kesal karena sejak tadi kekasihnya sama sekali tidak mendengarkannya, "Ish! Cowok Mesum waktu itu kuceritakan!"

"Ah, orang itu sudah dipecat?"

"Ne~ aku tidak mau ada korban lagi,"

Seketika suara hening di seberang sana hanya terdengar suara kertas yang dibalik.

"Oppa sibuk, ya?"

"Mian, Kookie-ya. Kau mau bercerita lagi? Hm? Oppa dengarkan,"

"..aniyo," –percuma karena ujung-ujungnya Oppa tidak mendengarkan.

"Kau di mana, Baby Bun? Berisik sekali?"

"Aku sedang di taman, mau makan es krim,"

Tawa renyah akhirnya terdengar di seberang sana membuat gadis bersurai hitam itu mau tak mau tersenyum.

"Geurae. Makan es krim Korea sepuasnya sebelum berangkat ke Jepang, eoh?"

"Heum. Oppa sudah ya, es krimku sudah datang, annyeong!"

"Ne, Baby Bun. Makan yang banyak~"

Dan sambungan diputus. Jungkook langsung menghela napas. Ia berbohong soal itu. Gadis itu memang ingin memakan es krim saat ini tapi ia masih setengah jalan. Kini ia tengah menunduk sambil terus berjalan. Bibir bawahnya ia gigit tatkala mendapati sifat workaholic kekasihnya yang muncul.

Tak apa Jungkook. Saat kalian menikah nanti, Yoongi-oppa sudah janji tidak akan banyak bekerja. Tahanlah. Kau pasti bisa.

Senyum akhirnya mengembang. Langkah riang ia ciptakan menuju perjalannya ke kedai es krim kesukaannya. Namun, maniknya membulat ketika melihat sosok yang ia kenali walau dari belakang. Rambut cokelat terang itu yang kemarin mencoba mengintipinya!

Jungkook segera mengambil langkah lebar guna mendekati sosok itu. Baru Jungkook ingin menyemburnya, sebuah kalimat lirih dikeluarkan dari pria itu.

"Ne, mereka salah paham dan sekarang aku kehilangan pekerjaanku,"

Gadis itu terdiam tak jauh dari tempat pria itu duduk. Pria itu duduk di sebuah kedai kecil pinggir taman.

"Aku sudah menjelaskan kalau mereka salah paham tapi tetap—ah, sudahlah. Dunia memang tak adil,"

Jungkook melihat gerakan pria itu tengah mengusak surainya frustrasi. Rasa bersalah kini mulai merayap di hati gadis itu.

Jadi, dia bukan orang mesum?

"Man! Aku hanya tidak lihat palang brengsek itu dan ternyata yang kumasuki adalah toilet wanita! Bahkan untuk melihat palang toilet saja aku tidak ada waktu!"

Baru Jungkook ingin menepuk bahu pria itu, gerakannya terhenti seketika,

"aku bahkan memutuskan Jimin,"

Ucapan dengan penuh kelirihan itu meremas jantung Jungkook seketika. Pikirannya kalut karena ia sudah melakukan hal jahat. Ia memfitnah seseorang, membuatnya kehilangan pekerjaan, dan sekarang ditambah bahwa mereka putus karena dirinya! (walau tidak secara langsung tapi itu yang dipikirkan Jungkook).

Gadis itu langsung berlari menjauh dan segera menelpon eomma-nya seketika, "EOMMA! TOLONG PANGGIL KEMBALI COWOK MESUM—AH, BUKAN! DIA BUKAN COWOK MESUM! EOMMAAAAAA! KOOKIE SALAAAAAAH!"


"..begitu,"

Ketiga orang di sana memasang ekspresi berbeda. Taehyung tersenyum bahagia sembari menundukkan kepalanya hingga nyaris menyentuh meja, "terima kasih, Nona! Kau menyelamatkan nasibku!"

Yoongi hanya diam, tetapi dahinya berkerut. Manik sekelam malamnya memandang Jimin penuh makna.

Jadi Taehyung siapamu, Jim?

Sedangkan Jimin masih menunduk dengan tangan terkepal di atas pahanya. Tangannya bahkan bergetar dan oksigen seakan menghilang di sekelilingnya.

Hanya karena hal sepele seperti itu yang membuat Taehyung memutuskanku?! Dan itu terlebih lagi karena Jungkook?!

Jungkook melihat gadis bersurai oranye itu menunduk kemudian memandang pria di depannya, "apa dia yang namanya Jimin?"

Jawaban anggukan kecil dari Taehyung membuat Jungkook tertawa pelan, "maafkan aku, ne? Karena aku kalian putus, aigoo, aku jahat sekali kalau dipikir-pikir,"

Sedetik setelahnya wajah gadis bersurai oranye itu mendongak. Manik onyx-nya memancarkan emosi yang ketara, "ya, hanya karena kesalahpahaman bodoh itu Taehyung memutuskanku. Lucu, sangat lucu,"

Jawaban sarkastis itu membuat atmosfir di meja mereka berempat menjadi dingin. Gadis bermanik bulat itu tersenyum canggung, "ma—maaf, aku tidak—"

"Gwaenchanha, itu cerita lama,"

Manik onyx Jimin memusatkan atensinya pada gadis bersurai hitam yang berada di samping Yoongi.

"Gomawo karena sudah memberitahukanku hal yang sebenarnya, Jungkook-ssi,"

Dan Jungkook merasa kalimat penuh intimidasi tersebut membuat jantungnya berdebar keras serta keringat turun dari dahinya.

TBC


Karena Jungkook, VMin putus~ ada yang baper? :')

Ada yang penasaran dengan latar belakang Uri Kookie? Kkk~ di sini dia kubuat bak Princess bukan tanpa alasan. Adakah yang kesal dengan sifat kekanakan Jungkook? Jangan, ya, masa lalu dia yang berat bikin dia jadi kayak gini #spoiler untuk chap depan aku bahas latar belakang Uri Kookie dan berarti alasan kenapa Yoongi sama Jungkook bisa pacaran serta kenapa sikap Yoongi yang kelewat manis kalo sama Jungkook~~

Aku agak sedih dengan review yang masuk di chap kemarin karena super sedikit u,u tapi aku daijoubu gwaenchanha kok :' dan lagi-lagi chap ini aku publish juga di wattpadku :3

Q&A time!

Q: aku penasaran apa bakal berkembang jd vkook?

A: mau tau gimana bisa jadi VKook? pantengin aja ff ini XD

Q: Trs gimana kalau taehyung tau apa yg dilakuin jim sama suga? ._.

A: jeng jeng jeng~ :'v

Q: Boleh gue tebak sape yg hamil? Jungkook right?

A: yang penting yg hamil bukan aku :' #salahgaul


BTS

..Sedetik terlambat ia sudah mendapati lengkingan gadis yang ia sadar bahwa teriakan itu untuknya.

"APA YANG KAULAKUKAN?! MESUUUUUUUM!"

Taehyung gelagapan dengan manik ke sana kemari, "bu—bukan, sungguh, aku salah—tidak tunggu!"

"TOLONG ADA ORANG MESUM! DIA MAU NGINTIPIN AKU! TEDAAAAAAAAAK!"

"…Kook?"

"PEULISH TOLONGIN KOOKIEEEE! KOOKIE MASIH POLOS BELUM MAU DIANUIN!"

"..Ai?" (maksudnya panggilan sayang, Ay, Ai, Cinta, Beibeh, de el el).

"..ne?"

"..kayaknya di skenario ga gitu deh,"

"hehe, Kookie kebawa suasana. Abis kan biasanya di toilet tempat nganu—"

"CUT!"