A/N: Hello guys! TGIF! Pertama-tama aku mau ucapin terima kasih buat sahabatku yang cantik, JEJO karena sudah dengan sabar terus dengerin semua ocehanku tentang ide-ide cerita ini, dan terus kasih semangat buat lanjutin cerita ini. Yang kedua, tentu saja buat kalian semua yang sudah dengan setia membaca cerita ini, mereview dan memfavorite cerita ini. Aku benar-benar merasa dicintai :D

Baiklah ini chapter keempat, sedikit lebih panjang dari yang lain, dan kuharap kalian menikmatinya J

Disclaimer: I do not own Naruto, if I do, Gaara would have his happy ending with Hinata.

Now, on with the story.


Chapter 4: A Turn of An Event

Setelah pembicaraan yang menghancurkan hati dengan seorang wanita yang ia duga bernama Elise, Hinata Hyuuga pun akhirnya kehilangan selera makannya dan langsung naik ke kamar tidur. Ia membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk menenangkan dirinya dan akhirnya berhasil menerima kenyataan bahwa Gaara Sabaku memang laki-laki dangkal brengsek yang suka melanggar janji.

Dia memutuskan untuk langsung tidur malam itu. Namun ketika ia mau cuci muka, Hinata ngeri melihat bayangannya sendiri di cermin. Rambut berantakan, mata sembap, hidung merah, dan wajah yang basah karena air mata. Merasa malu karena seseorang yang bahkan tidak memikirkannya melakukan ini terhadapnya, Hinata pun akhirnya memutuskan untuk berendam air panas, dengan harapan setelah mandi ia akan melupakan segala hal yang terjadi hari itu.

Sehabis mandi, Hinata mengolesi sekujur tubuhnya dengan lotion beraroma vanilla, lalu mengenakan baby doll yang sudah lama namun sangat nyaman dipakai. Ia tidak lupa meneteskan minyak marjoram pada bantalnya, agar ia bisa tidur nyenyak malam itu. Sebelum naik ke tempat tidur, Hinata mematikan semua lampu kamarnya dan merasa lega karena kegelapan begitu menentramkan dirinya. Belum lagi otaknya sempat untuk berpikir macam-macam, Hinata sudah jatuh tertidur. Ternyata minyak marjoram-nya benar-benar ampuh.


Hinata terbangun karena suara-suara seperti seseorang memindahkan perabotan melintasi lantai kayu yang keras. Ia mendengarkan lagi dengan seksama dan menyadari bahwa itu suara guntur. Sebentar lagi hujan, pikirnya. Ia melihat pada jam diatas meja samping tempat tidurnya, dan menyadari saat itu sudah lewat tengah malam. Tapi dia tidak peduli, ia turun dari tempat tidur kemudian berjalan melintasi kamar.

Jika ada satu hal yang paling dikagumi Hinata di dunia ini, itu adalah hujan. Ia tidak tahu bagaimana mulanya, namun sejak Hinata bisa mengingat, ia sudah sangat menyukai air. Waktu kecil ia senang bermain dibawah hujan, membiarkan tetesan-tetesan yang dingin itu menyejukkan wajahnya, membasahi dirinya, dan menghilangkan segala kecemasan yang dirasakannya. Ibunya dulu sering mengomelinya kemudian bercerita tentang bagaimana mengerikannya jika ia terkena pneumonia. Tapi Hinata tidak mendengarkannya, karena kecintaannya pada hujan melebihi rasa takutnya pada pneumonia.

Hinata tersenyum ketika melihat langit terbelah oleh sabetan kilat, kemudian ia memejamkan matanya dan menunggu datangnya suara guntur. Detik berikutnya, suara gemuruh terdengar menggocangkan kaca-kaca jendela diikuti dengan hembusan angin yang kencang. Si gadis Hyuuga membuka pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dengan balkon diluar, membuat tirai-tirai jendela berterbangan.

Dahan-dahan pohon disekitar rumahnya meliuk-liuk karena tiupan angin yang akan membawa hujan. Angin juga menerbangkan rambut Hinata yang panjang dan membuat baby doll yang dipakainya melekat erat pada tubuhnya. Ia melangkah keluar dan menghirup dalam-dalam aroma hujan yang datang mendekat.

Bukan, bukan hujan. Yang akan datang kali ini adalah badai.

Hinata bersandar pada pagar balkon, mencondongkan tubuhnya sedikit, dan menikmati saat-saat sebelum badai menghantam bumi. Ketika titik-titik air pertama jatuh dan membasahi wajahnya, Hinata tetap tidak bergeming dari tempatnya di pagar balkon. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia merasakan air hujan di wajahnya.

Kilat menyambar lagi, kali ini menerangi seluruh pekarangan rumah Hyuuga. Saat itulah Hinata melihat sebuah mobil Range Rover hitam yang berhenti persis di depan gerbang rumahnya. Pemilik kendaraan itu kelihatannya sedang berdebat dengan salah seorang penjaga gerbang.

Hinata tidak mengenal seorang pun di keluarganya yang mengendarai mobil seperti itu, dan siapapun yang mengendarakan mobil itu tidak mungkin teman Hinata. Kalaupun itu ayahnya dengan mobil baru, tidak mungkin penjaga gerbangnya terlihat bersikeras tidak mau mengizinkan mobil itu masuk. Hinata menyipitkan matanya dan berusaha melihat siapapun itu yang duduk di kursi pengemudi. Namun karena jaraknya yang terlalu jauh, usahanya sia-sia.

Karena penasaran, Hinata pun akhirnya masuk kembali ke kamarnya, mengambil kimono tidur untuk menutupi baby doll-nya dan keluar dari kamar. Seisi rumahnya sudah gelap, hanya beberapa lampu kecil di koridor yang menerangi jalannya. Begitu sampai dibawah, Hinata bergegas menuju interkom yang menghubungkan dalam rumahnya dengan pos penjaga di gerbang.

Si Hyuuga memencet sebuah tombol di interkom tersebut dan beberapa detik kemudian seseorang menjawabnya. "Ya?" Hinata mengenal suara tersebut milik Kiseki, salah seorang penjaga gerbang.

"Umm... Kiseki-san?"

"Miss Hinata?" Kiseki terdengar kaget mendengar suara majikannya. "Apa yang bisa saya bantu Miss?"

"Uhh... M-mobil siapa itu diluar?"

"Ah, anda melihatnya? Saya juga tidak tahu siapa laki-laki ini. Tapi dia mengaku sebagai kenalan anda."

Eh? Kenalan-nya? Hinata tidak ingat ia pernah mengundang seorang pun kenalannya, apalagi tengah malam begini.

"Apa d-dia punya nama?"

"Saya tidak yakin. Kalaupun punya dia tidak mau menyebutkannya. Dia bersikeras ingin masuk, dan... dan dia... kedengarannya mabuk. Togou-san berusaha menanyakannya apa dia salah rumah, dan pria itu mengoceh kalau anda sendiri yang sudah mengundangnya kesini. Tapi saya yakin anda tidak memberitahu bahwa anda sedang menunggu siapapun."

Dahi Hinata mengernyit. Entah mengapa dia mempunyai firasat buruk tentang orang yang bersikeras mengaku sebagai tamunya di pintu depan itu. Kemudian dengan takut-takut ia bertanya, "K-Kiseki-san... apa... pria itu berambut merah?"

"Eh? Ya... Ya Miss Hinata. Dia berambut merah. Bagaimana anda bisa tahu? Oh tidak..." Kelihatannya penjaga gerbangnya juga menyadari siapa pria misterius di mobil itu. "Jangan bilang dia teman anda yang anda bilang akan datang siang tadi?"

"A-Apa dia punya... umm... semacam tato di dahinya?"

"Wah ketika anda bilang begitu saya baru sadar, dia memang punya tato aneh."

Jantung Hinata mencelos. Pemilik mobil itu ternyata si Gaara Sabaku (Siapa lagi orang dengan rambut merah dan tato di dahi yang dikenalnya kecuali cowok itu?)

Apa yang dilakukan laki-laki itu dirumahnya jam segini? pikirnya panik. Bukannya tadi dia yang membatalkan janjinya tanpa pemberitahuan apapun?

Hinata tidak bisa mengerti jalan pikiran Gaara. Cowok itu terus-terusan membuatnya bingung, dan tidak perlu disinggung lagi tadi sudah membuatnya menangis. Ketenangan yang tadi sudah susah payah Hinata dapatkan sekarang hancur, membiarkan segala macam rasa frustasi kembali membanjiri dirinya.

"Miss? Miss Hinata? Uhh... Apa dia laki-laki yang anda tunggu?" tanya Kiseki, kekhawatiran terdengar dari suaranya ketika majikannya tiba-tiba membisu.

"Uhh.. ya... ya." Hinata tidak yakin apa yang harus dilakukannya sekarang. Hinata tidak siap bertemu dengan cowok itu, ia takut akan segala perasaan rendah diri yang dirasakannya jika berada dekat-dekat dengan orang seperti Gaara. Namun Ia perlu tahu apa maksud keterlambatan Gaara yang sangat keterlaluan ini.

"Apa anda masih ingin bertemu dengannya?" tanya Kiseki lagi.

Hinata terdiam selama beberapa saat, menimbang-nimbang antara membiarkan cowok itu masuk atau tidak. Jika tidak, Hinata yakin penjaganya akan memanggil polisi untuk menyeret cowok itu pergi. Namun Hinata tidak yakin, meskipun ia hampir sama sekali tidak mengenal Gaara, ia tidak mau cowok itu berurusan dengan polisi karena dia.

"Y-ya. I-Izinkan dia masuk." jawab Hinata pelan, kemudian mematikan interkom tersebut.

Si gadis Hyuuga kemudian menyeret langkahnya ke arah sofa di ruang duduk untuk menunggu kedatangan si Gaara Sabaku. Dengan hati-hati ia menyusun setiap pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukannya untuk menyerang cowok itu. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya lalu bergumam "Jangan gagap, jangan gagap, jangan gagap, kau tidak boleh tergagap Hinata Hyuuga!"

Deru suara mesin mobil dari luar membuatnya sontak berdiri lalu bergegas menuju pintu depan. Ketika Hinata membuka pintu, angin dingin seketika berhembus masuk, dan saat itulah Hinata ingat bahwa ia hanya memakai sebuah kimono tidur tipis yang hanya mencapai atas lutut untuk menutupi baby doll-nya. Wajahnya memerah. Ia berpikir untuk berlari cepat keatas dan mengambil sebuah sweater, namun cowok yang sepanjang siang tadi ditunggunya itu sudah menaiki tangga yang menuju ke pintu depan tempat dia berdiri.

Hinata menelan ludah ketika Gaara tiba di depannya. Cowok itu mengenakan t-shirt hitam dengan jeans yang sama hitamnya, rambut merahnya berantakan, dan ia menatap Hinata lurus-lurus. Melihat pandangannya, secara otomatis Hinata melangkah mundur, membiarkan pintu yang tadi ditahannya terbuka lebar. Gaara masuk dan menutup pintu dibelakangnya, dan Hinata melihat pria itu membawa sebuah kantongan di tangan kirinya.

McDonalds.

Tanpa berkata apa-apa Gaara langsung menghampiri Hinata. Jantung gadis itu langsung berdetak lebih cepat. Tidak, tidak... dia tidak akan bisa melukaiku dirumahku sendiri, pikir Hinata dengan berani. Dia tahu kata-katanya benar, namun ia tetap tidak bisa mencegah tangannya bergetar karena pandangan cowok itu. Dia bukan hanya orang pertama dari Konoha Gakuen yang mengunjungi rumah Hinata, tapi juga merupakan laki-laki kenalannya yang pertama kali masuk ke rumahnya.

"Hai." Gaara menyapanya ketika cowok itu hanya berjarak selangkah darinya. Suaranya rendah dan dalam, dan Hinata bisa mencium bau rokok dari bajunya.

"H-Hey." Hinata berusaha untuk tidak terlihat panik dan mencoba mengingat kembali semua pertanyaan yang tadi disusunnya.

Ya Tuhan... ini canggung sekali!

"Apa aku terlambat?"

"K-Kenapa kau datang?"

Mereka berdua berbicara bersamaan, dan Hinata bergidik ketika mendengar Gaara tertawa kecil. "Kau mengundangku 'kan?"

"Y-Ya! T-Tapi k-kau tidak tahu jam berapa sekarang?" Hinata mencoba menaikkan nada suaranya agar terdengar marah, namun akhirnya suaranya tetap terdengar seperti mencicit.

"Jam satu siang."

Apa dia gila?

Saat itulah Hinata teringat kata-kata Kiseki... Pria itu kedengarannya mabuk... Laki-laki itu memang terdengar mabuk, dan jika tidak memperhatikan dengan seksama Hinata tidak akan menyadari rona merah di wajah cowok itu.

"Uhh.. S-Sabaku-san... ini... sebenarnya sekarang t-tengah malam... K-Kau m-mabuk."

Gaara menutup jarak diantara mereka, kemudian menyentuh dahi Hinata dengan telunjuknya. "Tidak... aku sama sadarnya dengan kau. Mengapa semua orang bersikeras kalau aku mabuk?"

Karena kau memang mabuk.

Secara otomatis Hinata mundur selangkah untuk menciptakan kembali jarak diantara mereka, namun pria itu bersikeras mendekatinya hingga Hinata merasakan pinggulnya menyentuh sofa dan ia terjebak diantara si rambut merah dan sofa dibelakangnya.

"Ini masih jam satu siang. Tapi Sasuke mengusirku pulang... dan perempuan itu menempeliku seperti kelelawar. Kemudian aku teringat padamu..." Ia menyentuh dagu Hinata. " Lalu aku menurunkannya di pom bensin dan langsung kesini."

Jadi dia dari rumah si Uchiha ya? pikir Hinata jengkel. Sementara aku menungguinya dan berharap seperti orang bodoh dia memang minum-minum dengan si brengsek itu. Karena kesal Hinata mendorong Gaara. Hinata tidak menyangka ketika dorongannya membuat cowok itu mundur dua langkah.

"A-Aku akan membuat teh." Sebenarnya Hinata mengatakan itu agar ia bisa bebas dan menjauh dari cowok itu. Kedekatannya membuat Hinata tidak bisa bernapas.

"Tidak usah." Gaara menangkap lengannya, memberhentikan langkahnya. Ketika berbalik Hinata menemukan pria itu sudah duduk bersila di lantai. "Aku lapar... jadi aku beli ini..." Dia meletakkan kantongan McDonalds itu didepannya. "Kupikir kau juga lapar..."

Eh?

Wajah Hinata langsung memerah begitu ia sudah mencerna kata-kata Gaara. Belum pernah ada orang lain yang berkata seperti itu padanya. Dia pikir aku lapar... Jika saja pria cowok tidak membuatnya menunggu selama tujuh jam lebih, Hinata akan berpikir bahwa perbuatannya itu... manis.

"Kenapa kau terbengong-bengong begitu? Sini duduk." Ia menepuk lantai di depannya, memberi tanda pada Hinata agar ikut duduk bersila sepertinya.

Hinata hanya menatapnya dengan pandangan yang seakan-akan berkata Kau gila! Yang berada di depannya ini pasti bukan Gaara Sabaku yang rumornya selalu Hinata dengar itu. Gaara Sabaku yang itu tidak akan mungkin mengajaknya untuk... untuk...

"Kenapa kau masih disitu? Ayo makan ini!"

Tidak. Gaara Sabaku yang itu tidak akan mungkin mengajaknya makan bersama.

Meskipun begitu, ketika melihat Gaara yang menyodorkan hamburger kearahnya, Hinata tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak tertawa kecil. Yang dilakukan Gaara saat ini sangat bertentangan dengan image-nya sebagai berandalan sekolah.

Walaupun melawan segala pikiran rasional di dalam dirinya, Hinata pun akhirnya duduk bersila di depan laki-laki itu. Ia meraih hamburger yang dibelikan cowok itu untuknya. Itu adalah hamburger pertama yang pernah dibelikan oleh orang lain selain ayah atau ibunya untuknya. Meskipun cowok itu mabuk, tapi ia tetap ingat untuk membelikan sesuatu untuk dirinya. Hinata pun merasa tersentuh atas perbuatan Gaara tersebut dan merasa sayang untuk memakan burger itu. Ia hanya menatap makanan ditangannya itu sambil tersenyum kecil.

"Kau tidak mau?" tanya Gaara yang sedang menggigit burger ditangannya. "Jangan bilang kau takut gemuk hanya karena burger?"

"Eh? Uhh.. b-bukannya begitu... Aku mau.. tapi r-rasanya sayang kalau d-dimakan." jawab Hinata malu-malu, tidak berani melihat ke arah Gaara.

"Itu cuma hamburger!"

"Ya... T-tapi... Ini pertama kalinya umh, seseorang membelikan ini untukku. Jadi.. kupikir..."

"Tidak usah berpikir. Makan saja."

Hinata tahu ia tidak bisa mendebat Gaara. Lagipula dia belum makan apa-apa sejak pagi tadi, dan dia betul-betul tergiur mencium aroma yang menguar dari bungkusan ditangannya itu. Akhirnya Hinata dengan hati-hati membuka bungkusan burger itu dan menggigitnya. Dia pun tersenyum.

Mereka berdua makan dalam diam. Suara-suara yang terdengar hanyalah suara guntur yang menyambar atau suara angin yang mengetuk-ngetuk kaca jendela. Sekali atau dua kali Hinata mencuri pandang ke arah cowok dihadapannya dan ketika menemukan bahwa cowok itu menatapnya dengan pandangan yang intens, Hinata langsung memalingkan wajahnya.

"A-Aku... akan membuat teh." Hinata mencari alasan untuk bisa lepas dari tatapan Gaara. Ia pun berdiri dan meninggalkan cowok itu duduk sendirian di lantai.

Begitu sampai di dapur, Hinata langsung mengisi air kedalam ketel dan meletakkannya diatas kompor. Ia menyalakan kompor itu kemudian bersandar pada meja dapur. Tangannya menyentuh dadanya seakan-akan berusaha untuk menenangkan jantungnya yang sejak tadi berdetak dengan liar.

Jantung yang sama nyaris loncat keluar dari tulang rusuknya ketika ia merasakan sesuatu atau lebih tepatnya seseorang menyentuh bahunya. Hinata langsung berbalik dan terkesiap ketika melihat kedalam sepasang mata azure yang sangat indah. Si pemilik mata tersebut hanya menatapnya lurus-lurus tanpa emosi apapun di wajahnya. Hinata tahu saat ini seharusnya ia memalingkan wajahnya atau menunduk dengan wajah yang memerah kemudian dengan gagap bertanya apa yang dilakukan Gaara disini. Namun kedua mata yang indah itu seakan-akan menghipnotisnya, membuatnya tenggelam dalam tatapan intens pria itu.

Yang terjadi selanjutnya berada diluar perkiraannya. Dari bahu Hinata, tangan Gaara perlahan-lahan turun ke pinggul gadis itu lalu menariknya mendekat. Si gadis Hyuuga yang masih tercengang oleh tatapan pria itu tidak melakukan apa-apa saat pria itu mendekatkan wajahnya hingga Hinata bisa mencium bau alkohol dari mulutnya.

Hinata tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun ia menemukan dirinya tidak peduli, matanya justru perlahan-lahan tertutup, dan menanti bibir pria itu untuk bersentuhan dengan bibirnya. Tapi saat-saat yang ditunggu itu tidak kunjung datang. Hinata membuka matanya dan seketika terbelalak ketika badan Gaara tiba-tiba bersandar seluruhnya ke tubuhnya, kepalanya lunglai. Tidak mampu menahan beban yang tiba-tiba itu, Hinata pun jatuh berlutut, dengan pria itu masih menempel padanya.

Kenapa dia harus pingsan di saat-saat seperti ini? pikir Hinata panik.


Jika melihat Hinata beserta seluruh kekayaan yang dimiliki ayahnya, orang-orang pasti akan berpikir bahwa Hinata adalah seorang tuan putri yang harus diantar dengan limousine kemana-mana. Tapi tidak. Hiashi mewajibkan anak-anaknya bisa membawa mobil sendiri sejak mereka menginjak SMP. Oleh karena itulah Hinata tidak mengalami masalah sama sekali ketika membawa mobil Range Rover milik Gaara ini.

Ketika cowok itu pingsan di dapur tadi, Hinata berusaha sekuat tenaga agar tidak panik. Hal pertama yang muncul dalam pikirannya adalah berteriak memanggil salah satu pelayannya. Tapi ia mengurungkan niatnya. Saat itu sudah hampir jam satu pagi, dan tidak seperti dia, seluruh pelayannya sudah bekerja keras sepanjang hari, ia pun merasa tidak enak untuk membangunkan mereka.

Setelah menyemangati dan membisikkan kata-kata motivasi untuk dirinya sendiri, dengan sekuat tenaga Hinata membopong tubuh Gaara―yang beratnya hampir dua kali lipat tubuhnya sendiri― ke ruang duduk dan membaringkan cowok itu diatas sofa. Lalu ketel air yang tadi dipanaskannya tiba-tiba menjerit dan Hinata pun langsung melesat ke dapur untuk mematikan ketel itu.

Begitu kembali di ruang duduk, Hinata mondar-mandir memikirkan solusi untuk pria yang sedang terbaring tak sadar diatas sofanya itu. Menginap dirumah Hinata bukan pilihan. Lagi pula sejak awal dia kesini 'kan karena dia mabuk, pikir Hinata sedih. Malam ini Gaara Sabaku menunjukkan sisi dirinya yang Hinata tidak ketahui. Mereka bahkan hampir berciuman! Hinata memerah karena pikiran tersebut. Kalau pria itu bangun besok pagi dan menemukan dirinya di rumah Hinata, dia pasti akan marah. Hinata tidak sanggup menerima kemarahan pria itu setelah apa yang dilakukannya pada Hinata malam ini.

Pilihan kedua adalah Hinata akan mengemudikan mobil pria itu dan mengantarnya pulang. Lalu... lalu Hinata akan pulang kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki sambil menikmati hujan! Si gadis Hyuuga tersenyum berseri-seri dan langsung mengambil pilihan ke dua. Kemudian ia melesat ke atas, mengambil sebuah sweater tebal dan mengenakan jeans, kemudian turun lagi ke bawah dan dengan sekuat tenaga kembali membopong Gaara, kali ini ke mobilnya.

Ia sudah berkata pada Togou-san bahwa ia akan mengantar temannya pulang. Pria paruh baya itu awalnya khawatir melihat Hinata keluar rumah selarut itu. Namun saat Hinata bilang rumah temannya itu hanya di ujung blok, pria tua itu terlihat sedikit lebih lega.

Kurang dari lima menit, Hinata sudah mengemudikan Range Rover itu melewati pintu gerbang rumah keluarga Sabaku. Saat itu hujan sudah sangat deras hingga Hinata bahkan tidak bisa melihat lebih dari jarak lima meter di depannya. Mungkin saat pulang nanti ia harus meminjam payung dari rumah Gaara.

Ketika turun dari mobil itu, Hinata bisa merasakan guyuran ribuan titik-titik air menghujam kepalanya dan langsung membasahi sekujur tubuhnya. Ia memutari mobil itu untuk menurunkan Gaara yang tadi didudukkannya di kursi penumpang. Saat lengan pria itu sudah melingkar dengan aman di bahunya, dia tiba-tiba terbangun lalu menarik Hinata kedalam pelukannya.

"Hey!" seru Hinata kencang melawan derunya hujan.

Sebelum Hinata bisa mengucapkan apa-apa lagi, Gaara mendorong Hinata hingga punggungnya menempel ke mobil, kemudian langsung melumat bibir gadis itu. Belum lagi Hinata pulih dari kekagetannya, lelaki itu sudah menelengkan kepala dan semakin mesra menciumnya. Tanpa sadar Hinata mengerang terkejut waktu lidah Gaara bergerak membuka bibirnya. Tindakan itu membuat Hinata dapat mengecap rasa alkohol beserta makanan yang tadi di makannya. Mula-mula Hinata terlalu terkejut untuk bisa menghentikan lelaki itu, tapi beberapa saat kemudian gelombang gairah yang memabukkan menerpanya hingga ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Ini adalah ciuman pertama-nya, dan Hinata bingung harus melakukan apa. Ia selalu membayangkan bahwa ciuman pertamanya akan terjadi di tepi pantai saat matahari terbenam. Lalu dia dan si pria khayalan berpelukan dengan penuh cinta dan berciuman dengan lembut. Sedangkan ini... ini sangat jauh dari bayangannya. Ditengah hujan, terhimpit ke sebuah mobil, kedua matanya terbelalak lebar, dan yang paling tidak masuk akal adalah melakukan ini semua bersama Gaara Sabaku.

Kedua tangan Gaara yang tadinya berada di bahu Hinata meluncur turun ke pinggangnya. Hinata terkesiap ketika Gaara menarik pinggul mereka agar menempel. Tangan kanannya bergerak ke balik sweater Hinata. Dibukanya kait bra Hinata dan tangannya merayap ke baliknya. Tangannya mula-mula mengusap payudaranya, kemudian membelainya.

Tindakan Gaara itu memancing erangan gairah bercampur panik dari tenggorokan Hinata. Sensasi ini terasa sangat liar, dan Hinata takut ia tidak bisa mengontrol responnya sendiri ketika ciuman Gaara semakin panas.

Kemudian ia tersentak. Gaara tidak sadar ia sudah melakukan ini padanya. Pria itu mabuk dan bergairah. Dan Hinata kebetulan berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Pikiran-pikiran tersebut menyadarkannya dari gairah yang menggebu-gebu, lalu dengan sekuat tenaga Hinata mendorong pria itu, namun dia tetap tak bergeming.

Pria itu akhirnya mengangkat kepalanya, membuat Hinata lega, namun sejurus kemudian ia mulai menciumi dagu Hinata dan terus turun hingga ke lehernya. Tangan kirinya yang tadi berada di pinggang Hinata kini merayap ke atas dan menyentakkan kepala gadis itu hingga ia mendongak agar Gaara lebih bebas menciumi lehernya. Tangan kanannya yang sejak tadi berada di dalam sweater Hinata bergerak makin liar.

Kini Hinata medongak, menatap langit, menatap hujan yang sangat disukainya, air hujan memasuki mulutnya yang terbuka dan membasahi kerongkongannya. Tepat saat itulah, sebuah suara menggelegar terdengar mengalahkan derasnya bunyi air hujan.

"HEY! APA YANG KALIAN LAKUKAN?"

Begitu mendengar suara gadis itu, Hinata langsung tersentak, Gaara pun kaget hingga Hinata bisa mendorongnya menjauh. Secepat kilat Hinata langsung memperbaiki bajunya, meskipun tidak banyak yang bisa dilakukannya mengingat dia dan bajunya sekarang terlihat seperti habis diguyur oleh seember penuh air.

"Uhhh... S-Sabaku-san... K-Kau s-sebaiknya masuk..." suara Hinata mencicit, ia tidak berani menatap Gaara, jadi Hinata mendorong punggung pria itu agar dia mau mendaki tangga yang menuju pintu depan itu.

Disana, di pintu depan tersebut, berdiri seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut cokelat pendek sebahu. Kedua tangannya tersilang di depan dadanya dan wajahnya memerah karena campuran marah dan malu.

"Siapa kau?" tanyanya dengan tajam pada Hinata. "Apa kau pacarnya Gaara-san?"

"T-Tidak. A-Aku.. Eh..." Hinata bingung dengan jawabannya selama beberapa saat karena masih terbawa oleh intensitas ciuman yang tadi diberikan oleh si cowok berambut merah. "Aku... temannya di kelas home ec."

Gaara yang tidak mengindahkan si gadis berambut cokelat langsung bergegas masuk ke rumahnya sambil menarik tangan Hinata. "Umm... S-Sabaku-san... a-aku harus pulang..."

"APA? PULANG?" teriak gadis itu lagi, membuat Hinata terlonjak. Tidak bisakah ia memelankan suaranya sedikit? pikir Hinata kesal.

"Y-Ya.. R-Rumahku sebenarnya hanya..."

"Dengan pakaian seperti itu dan cuaca seperti ini? Apa kau mau kena pneumonia? Tidak tidak. Kau menginap disini malam ini."

Hinata pikir ia salah mendengar kata-kata perempuan itu. "Eh? A-Apa?" Bukannya perempuan ini tadi marah melihat Gaara menciuminya? pikir Hinata bingung.

Tapi si gadis berambut cokelat tidak mendengar pertanyaannya. Ia menutup pintu kemudian berbalik dan menarik Gaara menjauh dari Hinata, "Kau tunggulah disini sebentar, aku akan mengurus Gaara-san kemudian membawakan handuk untukmu." Gaara melepas pegangan tangannya pada Hinata lalu mengikuti si gadis berambut cokelat naik ke tangga mewah yang menuju ke kamar cowok itu.

Sebelum Hinata bisa memprotes, si gadis aneh dan Gaara sudah setengah jalan menuju ke atas. Jadi Hinata memutuskan untuk menunggu gadis itu dan menjelaskan padanya bahwa dia tidak bisa tinggal disitu. Apa yang ayahnya katakan nanti jika dia tahu anak perempuannya menginap di rumah orang lain, terutama rumah seorang laki-laki? Hinata bergidik memikirkannya.

Kemudian Hinata melihat sesuatu dari ekor matanya, dan ia tersenyum. Perapian di ruang duduk keluarga Sabaku menyala dan memancarkan kehangatan. Karena sekujur tubuhnya gemetar kedinginan, Hinata pun mendekat sumber kehangatan tersebut dan berdiri di depannya. Ia melipat kedua tangannya tepat di bawah dadanya, dan seketika memori akan kejadian beberapa menit lalu terulang kembali.

Tanpa sadar Hinata menyentuh bibirnya yang membengkak bekas ciuman Gaara. Wajahnya langsung merah padam dan ia menunduk. Berkali-kali ia mengingatkan pada dirinya bahwa Gaara melakukan itu hanya karena Hinata kebetulan satu-satunya makhluk yang berjenis kelamin perempuan yang berada di dekatnya. Gairah pria itulah yang mendorongnya. Hinata berani bertaruh besok pagi ketika ia terbangun dia tidak akan ingat sama sekali tentang kejadian malam itu.

Hinata menghela napas. Entah mengapa ia merasa kecewa karena menjadi satu-satunya orang yang akan terus mengingat ciuman itu sampai mati.

"Kau bisa menggunakan handuk ini untuk mengeringkan tubuhmu." Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Hinata berputar dan melihat si gadis berambut cokelat menyodorkan sebuah handuk putih besar ke arahnya.

"T-Terima kasih... Tapi, s-sebenarnya rumahku b-berada di ujung jalan ini. J-Jadi maaf... Aku tidak bisa..."

"No way!" gadis itu menyelak Hinata. "Aku sudah menelepon Miss Temari, begitu aku menyebutkan ciri-cirimu beliau langsung setuju agar kau menginap disini."

Eh? Apa? Temari Sabaku mengenalnya? Hinata tidak ingat dia pernah bertemu dengan supermodel itu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi mungkin saja Temari mengenali mata pucat yang menjadi ciri khas Hyuuga.

"Miss Temari tidak menerima penolakan." Gadis itu nyengir pada Hinata. "Ngomong-ngomong namaku Matsuri, pengasuh Gaara-san selama Miss Temari dan Master Kankurou berada di luar negeri." Matsuri menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, yang diterima Hinata dengan senang hati.

"H-Hinata Hyuuga." kata Hinata sopan. Si Matsuri ini mendadak tidak terlihat segalak di pintu depan tadi, dan Hinata senang melihatnya.

"Aku akan mengantarmu ke kamar tamu, ayo." Dengan langkah ragu-ragu Hinata mengikuti Matsuri menuju tangga. "Hmmm..." gadis itu berbalik sebentar lalu melihat Hinata dari atas ke bawah. "Kelihatannya bajuku tidak akan muat di badanmu..."

Hinata memerah karena komentar gadis itu. Si gadis Hyuuga tidak seberuntung Matsuri yang bertubuh langsing. "Ummm t-tidak apa... a-asalkan ada selimut a-aku bisa tidur te-..."

"Tidak bisa. Kau akan sakit besok pagi jika kau nekat tidur telanjang. Tenang saja aku punya ide." Matsuri mengedipkan sebelah matanya pada Hinata kemudian bergegas mendaki sisa tangga itu diikuti si gadis Hyuuga yang masih bertanya-tanya akan idenya. Dia juga masih harus bertanya pada gadis itu apa dia bisa meminjam telepon untuk menelepon rumahnya.


Gaara terbangun dengan kepala yang serasa mau pecah. Ia mengerang sambil menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk belakang kepalanya. Ia benci hangover. Sambil menggertakkan gigi si cowok berambut merah itu turun dari tempat tidurnya, dan menyadari bahwa ia secara misterius mengenakan piyama.

Ia tidak ingat sudah mengganti pakaiannya semalam.

Gaara tidak memikirkannya lebih jauh. Mungkin seorang pelayan yang mengganti bajunya semalam. Hal itu biasa terjadi kalau dia pulang terlalu larut lalu tertidur di lantai ruang keluarga.

Dengan malas-malasan Gaara menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Saat ini yang diperlukannya adalah aspirin untuk menghilangkan sakit kepalanya yang menjadi-jadi. Ia menyumpah dengan keras ketika tidak menemukan aspirin di kotak P3K di kamar mandi.

Sambil menggerutu Gaara keluar dari kamarnya dan turun ke bawah, berharap ia bisa menemukan seseorang yang bisa membantunya menemukan aspirin. Ia semakin kesal ketika tidak bertemu dengan siapapun di koridor. Kemana semua orang saat ia sedang membutuhkannya?

Lalu saat Gaara memasuki dapur, segala kekesalannya langsung lenyap dan digantikan dengan kebingungan ketika ia melihat sebuah sosok yang tidak dikenalnya. Perempuan itu memunggungi pintu masuk menuju dapur, sehingga ia tidak melihat Gaara yang berhenti di depan dapur dan berusaha mengingat siapa perempuan asing di dapurnya ini.

Rambut perempuan itu berwarna indigo dan mencapai pertengahan punggungnya. Ia menggunakan salah satu kaos Gaara yang sudah tua dan berwarna merah kusam, namun kaos tersebut kelihatannya terlalu kebesaran untuknya hingga ujung bawahnya mencapai pertengahan paha perempuan itu, menunjukkan sepasang kaki indah yang tidak mengenakan alas kaki apapun.

"Apa kau memakai sesuatu dibalik kaos itu?"

Suara Gaara yang tiba-tiba mengagetkan perempuan itu hingga ia hampir menjatuhkan ketel air ditangannya. Begitu ia berbalik, barulah Gaara ingat siapa perempuan itu.

Hyuuga... Hyuuga Hina...ta?

"S-Selamat pagi." Perempuan itu menganggukkan kepalanya malu-malu, kedua mata pucatnya berusaha menghindari Gaara. "Uhh... m-maaf aku menggunakan d-dapurmu. T-Tadi ketika aku bangun..umh tidak ada siapa-siapa..."

Gaara hanya mengangkat bahunya. Dia yang baru bangun tidak bisa berkomentar apa-apa tentang rumahnya yang tiba-tiba kosong.

"Ah umm, a-aku membuatkan ini untukmu..." Pelan-pelan Hinata menuangkan isi ketel yang tadi hampir dijatuhkannya ke dalam cangkir teh yang sudah disiapkannya diatas meja dapur. "Ini... manjur untuk menghilangkan hangover." Hinata membawa cangkir teh beserta tatakannya itu untuk Gaara, dan melihat saat pria itu mengangkat alisnya kearah cairan di dalam cangkir tehnya.

"Bagaimana kau bisa disini? Apa aku tidur bersamamu semalam?" Apa lagi kesimpulan yang bisa ditarik Gaara setelah melihat seorang wanita mengenakan kaos-nya dan berkeliaran di dapur-nya bertelanjang kaki?

Wajah perempuan itu merah padam, dan kegagapannya bertambah parah. "T-T-Tidak... B-B-Bukan begitu... s-semalam.. k-kau... datang ke rumahku."

Gaara menyesap cairan di dalam cangkirnya sedikit, dan merengut ketika merasakan pahitnya minuman itu. "Ini tidak enak."

"K-Kau harus menghabiskannya agar umh s-sakit kepalamu hilang..."

Mereka berdua bertatapan, saat mengamati wajah perempuan itu, Gaara perlahan-lahan teringat akan kejadian semalam. Ia memang mengunjungi rumah perempuan itu, lalu mereka mengobrol sebentar dan... Gaara tidak ingat apapun lagi setelah itu.

Melewati Hinata, Gaara pun akhirnya memilih duduk di atas meja dapur sambil meniup cairan panas misterius di cangkirnya. "Ceritakan padaku apapun yang terjadi semalam setelah aku datang ke rumahmu."

Sambil tetap berdiri dan mengatupkan tangan, Hinata menceritakan pada Gaara bagaimana semalam ia memulangkan cowok itu ke rumahnya, dan tentu saja ia sengaja melewati bagian dimana Gaara tiba-tiba menciumnya. Sepanjang bercerita, tak sekalipun Hinata berani menatap mata Gaara, takut pria itu bisa mendeteksi bahwa Hinata menyembunyikan sesuatu darinya.

Setelah selesai Gaara hanya terdiam, lalu dalam sekali teguk ia langsung menghabiskan minuman di tangannya. "Itu saja?"

Hinata mengangguk.

"Kau yakin tidak terjadi hal apapun selain itu?"

Hinata mengangguk lagi.

Gaara menyipitkan matanya. Entah mengapa ia merasa gadis ini menyembunyikan sesuatu darinya. Si Hyuuga itu berdiri dengan gelisah, dan matanya dari tadi terus-terusan menghindarinya. Gaara hampir bisa menduga apa yang terjadi semalam.

"Lalu... siapa yang memberikan baju itu padamu?"

"O-Oh.. M-Matsuri-san yang memberikan ini... Umh, bajuku basah kemarin dan ukuranku diatas ukuran Matsuri-san... Jadi... ia m-meminjam punyamu... M-maaf..." Hinata membungkuk untuk menunjukkan permintaan maafnya.

"Tak apa." Meskipun yang diperbuat si care taker itu lancang, namun Gaara tidak marah padanya. Ia tak bisa menyangkal bahwa si Hyuuga ini terlihat seksi memakai baju-nya. Matanya menjelajahi sekujur tubuh perempuan itu dan sengaja berlama-lama menatap kakinya. Bagaimana ia bisa melewatkan kaki seseksi itu disekolah? Dimana gadis itu bersembunyi selama ini? "Jadi... apa kau memakai sesuatu dibalik itu?"

"T-Tentu saja!" kemudian seakan-akan ingin membuktikannya, gadis itu mengangkat sedikit bajunya untuk memperlihatkan sepasang celana pendek yang terlihat kekecilan untuknya. "I-Ini... punya Matsuri-san..."

Gaara hanya menyeringai melihat wajah perempuan itu yang semakin memerah. Jelas sekali ia merasa tidak nyaman.

"A-Ano... S-Sabaku-san..." Hinata memulai, "M-Mengenai uhh project home ec. kita..." Ah ya, jika dipikir-pikir lagi dari awal project itulah yang memulai semua kekacauan ini. "J-Jika kau memang benar-benar tidak bisa m-mengerjakannya, a-aku tidak keberatan mengerjakannya sendirian. M-Maksudku... bukannya aku mau memonopoli nilai u-untuk d-diriku sendiri a-ataupun membuat k-kau terlihat b-buruk di depan Ms. Kurenai... t-tapi... a-aku..."

"Okay okay geez, tak adakah yang bisa kau pikirkan selain project itu?" Gaara menyela Hinata, gadis itu menunduk malu tak menjawab. Seindah-indahnya kaki perempuan itu, Gaara tetap tidak tahan mendengar kegagapan cewek itu yang terus menerus. Rasanya Gaara ingin sekali membentaknya. Hanya saja ia tidak dibesarkan untuk menyakiti perempuan. "Kita kerjakan project itu sekarang."

"Eh?" Hinata mendongak kaget. "S-Sekarang?"

"Ya. Besok dikumpulkan 'kan?"

"Uhh.. ya... Mmm, t-tapi... tidakkah kau mau... mandi dulu?"

Gaara turun dari meja dapur kemudian meregangkan badannya. Secara ajaib sakit kepala yang menyiksanya tadi tidak terasa lagi sekarang. Mungkin minuman yang dibuat gadis itu benar-benar mujarab.

"Tak apa. Kalau tunggu sampai nanti, aku keburu berubah pikiran."


Sejam kemudian, Hinata sudah siap menarik rambutnya, meninju dinding, mencakar lantai, atau apa saja untuk menyalurkan frustasinya. Laki-laki ini, Gaara Sabaku, tidak bercanda ketika dia bilang pengetahuannya di bidang masakan adalah nol besar.

Bukannya memecahkan telur, dia meremukkan telur yang malang itu. Hinata yakin dia mengatakan dua sendok baking soda tapi dia malah menambahkan dua belas sendok kedalam adonan mereka. Seakan-akan belum cukup, dia juga memprotes bentuk kelinci yang harus mereka buat.

"T-Temanya 'kan paskah... ja-jadi kita harus membuat bentuk k-kelinci paskah..." jelas Hinata lemah.

"Kau pasti bercanda. Kau percaya dengan kelinci paskah? Itu cuma karangan orang-orang gereja dulu! Daripada kelinci lebih bagus bentuk rakun."

Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membuat dua loyang, seloyang berbentuk kelinci paskah dan seloyang lagi berbentuk rakun... paskah (?). Namun kekacauan yang terus menerus diciptakan Gaara membuat mereka harus mengulang adonannya sampai tiga kali.

"Akhirnya jadi juga." Gaara menghembuskan napas lega melihat adonan cookies cokelat keempat pada mangkok ditangannya.

"T-tinggal mencetaknya." Hinata mengambil mangkok tersebut dari Gaara dan mulai membentuk adonan itu menjadi kelinci dan rakun satu persatu diatas loyang. Gaara memanaskan oven kemudian duduk diatas kursi di dekat meja dapur. Ia melihat saat Hinata memasukkan kedua loyang tersebut ke dalam oven.

"Yang harus kita lakukan sekarang adalah menunggu." Kesunyian mengikuti kata-kata Gaara. Karena merasa tidak tahu harus berbuat apa, Hinata memutuskan untuk membersihkan segala kekacauan yang tadi dibuat Gaara.

"Hey, kau tak perlu melakukannya. Aku membayar pelayanku untuk melakukan itu." kata Gaara ketika melihat Hinata mengelap tumpahan adonan di lantai.

"T-tidak apa..." Hinata mengabaikan Gaara dan tetap membersihkan noda yang terancam akan melekat di lantai tersebut.

Gaara menghembuskan napas kesal, dan menghampiri Hinata, lalu berjongkok di dekat perempuan itu. "Kau keras kepala ya?" Dia menarik Hinata berdiri kemudian meraih kain lap yang di dapat Hinata entah darimana lalu melempar benda itu ke bak cuci piring. "Tapi aku lebih keras kepala darimu."

Hinata hanya melongo melihat Gaara, dan tidak berkata apa-apa saat cowok itu mendorongnya ke kursi dan mendudukannya disana. Gaara duduk disebelahnya, namun Hinata tidak berani menatapnya dan menyibukkan dirinya mengaduk-aduk sisa adonan cookie di dalam mangkok diatas meja dapur.

Gaara melihat saat perempuan itu terus-terusan mengaduk adonan cookie itu dengan gelisah. Dia tahu dialah penyebab kegelisahan perempuan itu. Gadis dihadapannya ini kelihatannya bukanlah orang yang sering mendapatkan perhatian pria, dan ketika tiba-tiba mendapatkannya, dia bingung harus melakukan apa.

Gaara harus mengakui perempuan dihadapannya ini menarik. Dia tidak cantik seperti Ino, ataupun bertubuh selangsing cewek temannya Ino semalam, tapi sesuatu membuat perempuan ini terlihat begitu sensual. Cara ia memberikan petunjuk mengenai cara membuat adonan kue, ia terdengar seperti mendesahkan setiap kata yang diucapkannya. Lalu cara dia menggigit bibirnya yang penuh itu ketika dia gelisah, atau ketika lengan mereka tanpa sengaja bergesekan.

Ya, Gaara yakin sesuatu pasti terjadi semalam. Perempuan ini tahu apa yang terjadi, namun ia menyembunyikannya.

Dia menyeringai ketika melihat lidah Hinata tanpa sadar menjilati sendok yang berlumur adonan cookie tersebut. "Ada cokelat di ujung bibirmu... Sini kubersihkan..."

Tanpa menunggu jawaban Hinata, Gaara langsung menjilati adonan cookie di ujung bibir Hinata sebelum lidahnya pindah untuk menjilati bibir gadis itu, lalu menjilati rahang gadis itu dan mencium bibirnya yang lembut.

Hinata terkesiap dan menjatuhkan sendok yang dipegangnya. Gaara mengambil kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya dan merasakan adonan cookies di dalam mulut gadis itu, dan membuatnya mengerang. Perlahan-lahan tangannya merayap ke bagian belakang apron milik pelayannya yang tadi dipinjam gadis itu dan mulai menarik lepas ikatan di belakang apron itu. Ia berhenti sebentar untuk melepas apron tersebut, sebelum kembali mencium Hinata dengan ganas.

Ia turun dari kursinya, kemudian menarik gadis itu turun lalu dengan mudah mengangkatnya dan mendudukkannya di atas meja dapur. Tangannya mengenggam rambut gadis itu lalu menariknya, membuat gadis itu mendongak dan memaparkan lehernya pada Gaara. Ciuman Gaara pun turun ke leher gadis itu, menjilati dan menggigitinya, menikmati suara desahan-desahan yang keluar dari tenggorokan perempuan itu.

"A-Aku tak b-bisa melakukannya S-Sabaku-san..." protes Hinata.

Namun Gaara mengabaikannya. Tangannya justru bergerak ke payudara Hinata. Ia menyeringai ketika menemukan gadis itu tidak mengenakan bra dan putingnya menegang dibalik kaos tipis itu. Telapak tangannya mengusap pelan ujung payudara tersebut, membuat Hinata merasakan tarikan yang kuat, seperti serangan rasa lapar, jauh di dalam dirinya.

"Oh Tuhan..." desahnya. Rasanya benar-benar nikmat. Hasrat, ketertarikan atau apa pun itu, rasanya sungguh menyenangkan dan menggoda, juga menakutkan karena kalau ia tidak menghentikan apapun yang dilakukan cowok ini sekarang, ia akan melakukan kesalahan lain. Kesalahan yang lebih merusak daripada yang terjadi semalam.

"A-Aku tidak bisa m-melakukan i-ini denganmu," kata Hinata dengan napas memburu, mencoba menghentikan Gaara yang sedang mengulum ujung payudaranya yang hanya tertutup oleh kaos tipis itu. Dan persis seperti semalam, si rambut merah tidak bergeming, ia justru mulai menggigiti puting gadis itu, memancing erangan nikmat keluar dari tenggorokan Hinata.

"YA TUHAN! JIKA KALIAN INGIN MELAKUKAN ITU SETIDAKNYA LAKUKANLAH DI KAMAR!"

Teriakan yang familiar itu mengagetkan mereka berdua. Gaara tersentak kebelakang, Hinata mengambil kesempatan itu untuk turun dari meja dapur dan menjauhkan dirinya dari si rambut merah. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya seakan-akan takut Matsuri bisa melihat tempat bekas mulut Gaara mengulum dadanya tadi.

Hinata melihat Gaara, pria itu terlihat tidak senang. Ia melempar pandangan marah ke arah Matsuri. "Hey, jangan marah dulu Gaara-san. Aku sengaja berteriak karena jika tidak, kau tidak akan menyadari bahwa temanmu dari tadi sudah menunggumu di depan dapur.

Lalu seakan diberi aba-aba, Sasuke muncul, kedua tangannya terlipat dan ia memasang senyuman paling kurang ajar. "Aku tadi bermaksud untuk berdeham. Tapi aku tidak suka mengganggu. Untung saja cewek ini datang," Ia mengedikkan kepalanya ke arah Matsuri sebelum kembali memandang Gaara dan Hinata. Matanya berhenti pada Hinata, ia memandang gadis itu dari atas ke bawah dengan tatapan mencemooh, kemudian menatap Gaara. "Pergilah mandi air dingin, kelihatannya kau membutuhkannya. Kita akan bicara setelah itu."


A/N: GAAHINA RULES! MCDONALD RULES! Damn you Matsuri for ruining the perfect moment! ,,, Jadi gimana menurut kalian? Kasih tau kesan-kesan kalian di review ya? :* Anyway, aku ga nulis angst, jadi kalian tidak perlu khawatir, karena akhir cerita ini pasti bahagia.

Baiklah.. sekarang balasan review:

Ekha : Ya, kalau kamu bilang ini semi-M, maka inilah chaptermu ;)

Madam-Fein : hahhaha cassanova! bener juga sih. Hmm.. Matsuri-Hinata... kayaknya engga juga sih... Aku udah lumayan kasih clue Hinata akan berkonflik sama siapa nanti. Coba kamu tebak? ;D ahahaha kritik diterima! Semoga chapter ini cukup panjang buat kamu. :*

Hina bee lover : yak! inilah adegan pentingnya! Sasuke yang mergokin Gaara dan Hinata! muahahahha!

lawliet cute : Broken Arrow masih belom selesai... Aku masih berusaha nambahin kekurangan-kekurangan disana-sini V . V

lonelyclover : awww thanksss! :*

Shaniechan : Pertanyaanmu sudah terjawab di chapter ini XD XD

Mayyurie Zala : Thank you buat kritiknya. Aku seneng kamu nganggep semua emosi yang ada dalam cerita ini dengan serius. Dan ga ada pujian yang lebih tinggi daripada itu :D sekarang... penjelasannya. Kita semua sudah tahu kalau sejak ditinggal Neji dan Hanabi, Hinata tidak punya teman sama sekali. Saat Gaara nelpon dia balik, dan setuju untuk datang kerumahnya, dia pikir Gaara mau jadi sesuatu yang mungkin dekat dengan kata 'teman'. Dia menggantungkan harapannya terlalu tinggi sama cowok itu sampai-sampai dia rela pake dress segala macem, dan nyiapin ini itu pas cowok itu mau dateng. Dia jadi mikir macem-macem pas cowok itu ternyata ga jadi dateng, dan pas dia nelpon buat mastiin kemana dia sebenarnya, ternyata cewek yang angkat! Hinata pun sakit hati karena merasa bodoh sudah berharap terlalu banyak pada Gaara, dan dia pun nangis. Semoga penjelasannya bisa diterima. Keep reading! :D

fi-kun31 : Okayyy... Kimi no Todoke... mungkin aku mau baca manga itu :")

Mayraa : ahahaha, iya si Gaara emang suka-suka dia aja ya? Aku seneng kamu suka chapter sebelumnya. Semoga kamu suka chapter yang ini.

Ind : ahahaha iya dongg.. Gaara kita itu cowo jantan XD XD makanya Hinata jadi deg-degan ketemu dia XD

INDONESIANreader : hmm... aku ga tahu (?) semoga kamu suka chapter yang ini.

Rain Vegard : KYAAA... aku seneng deh kamu jadi suka GAAHINA! XD XD hmmm... NaruSaku... aku ga keberatan... Dari awal aku emang ga terlalu suka Sakura sama Sasuke dan lebih milih Naruto sama Sakura (jadi curhat) ehehehe. :P

Makasih semuanya udah baca cerita ini *bows*

xoxo

shiorinsan