Here coming the fourth chapter! (tet teret tet tet...)
Thanks banget buat semua yang mau baca... thx buat itachi4ever atas reviewnya...
Btw, chapter ini jauh lebih panjang daripada chapter sebelumnya... dan ini adalah chapter yang kusuka, karena aku emang seneng banget nulis tentang persahabatan...
If there are any mistakes, gomenasai...
Oh iya, Song: You Got a Friend (Carole King)
Udah deh, baca aja. Enjoy...
Disclaimer: Never... ever... (hiks—sobbing)... the characters belong to Masashi K, and the song belongs to Carole King...
IV. COUNTDOWN : 13—GIRLS TIME: BEST FRIENDS FOREVER
"Ohayo, Hinata-chan!" Tenten melambaikan tangannya, tersenyum riang. Hinata membalas lamabaian gadis itu, lalu berlari ke luar gerbang Hyuuga Mansion.
"Ohayo, Tenten-chan!" sahut Hinata, diiringi senyuman kecil.
Tenten mengulurkan tangannya, dan Hinata menyambutnya. Bergandengan tangan, kedua gadis itu menyusuri jalanan Konoha yang memutih karena salju sambil bersenandung.
oOoOo
Dua orang gadis tampak berdiri di depan Yamanaka Flower Shop. Yang seorang berambut kuning panjang dan diikat ekor kuda, sementara itu yang satunya lagi berambut sebahu warna pink.
"OOOIIII!!" teriak seorang gadis berambut kuning panjang sambil melambaikan tangannya bersemangat. Suaranya yang sangat keras membuat orang-orang di sekitar mereka menolehkan kepala dan memandang dengan wajah bingung.
JDUGH! Haruno Sakura menjitak kepala gadis yang baru saja berteriak itu. Yamanaka Ino mengaduh, dan menoleh marah pada gadis itu.
"Apaan, sih!" sentaknya.
"Berisik, Ino-pig! Lihat tuh, semua orang jadi memperhatikan kita!" desis Sakura di telinga Ino.
Ino, yang selalu merasa dirinya cantik tentu saja tidak rela dikatakan pig. Ia menggeram pada Sakura, dan bersiap-siap melayangkan pukulan. Sementara itu, Sakura pun bersiap untuk menerima serangan.
Namun, pertengkaran dua orang gadis itu terhenti sebentar tatkala mereka melihat dua gadis lainnya datang.
"Ohayo, Sakura-chan, Ino-chan!" ucap salah seorang gadis yang berambut hitam kebiruan dengan lembut.
Sakura dan Ino hanya menoleh sekilas pada gadis itu, dan melanjutkan aktivitas mereka; saling mengirimkan pandangan 'membunuh' satu sama lain, sementara itu badan mereka siap melancarkan sejumlah serangan. Hinata hanya bisa menghembuskan napasnya, menatap kelakuan dua makhluk di depannya.
"Oh, ayolah..." suara Tenten bosan. "Masak kalian pagi-pagi sudah bertengkar lagi, sih!"
Melangkah di antara kedua gadis yang tengah berseteru itu, Tenten menggunakan tangan kanannya untuk menghentikan Ino, dan tangan yang satunya lagi untuk menghentikan Sakura.
"Iya deeh..." ucap Sakura, mengalah. "Kita kan cuma bercanda! Iya kan, Ino-pig?" gadis itu mengerling mengejek pada Ino.
"Apa tadi kau bilang, forehead-girl?!"
"Aku bilang, kita kan cuma bercanda, iya kan, Ino-pig?"
"Forehead-girl!"
"Ino-pig!"
Kedua gadis itu mulai berseteru lagi. Kali ini Tenten benar-benar tidak diperdulikan.
Kedua gadis yang lainnya hanya bisa menatap, dan menghembuskan napas. Yah, mulai lagi deh...
oOoOo
Akhirnya, setelah Sakura dan Ino berhenti bertengkar (dengan hasil parut-parut kecil pada lengan mereka berdua), keempat gadis itu pun berjalan di jalanan Konoha sambil mengobrol.
"Jadi, hari ini kita mau ngapain?" tanya Sakura, menatap keempat temannya.
"Shopping!" sahut Ino cepat, mata birunya bersinar-sinar. "Hari ini ada obral besar di toko Emika! Maklumlah, akhir tahun... dan aku sudah sengaja menabungkan uang hasil misi-misi kemarin untuk hari ini!"
Sakura menyetujui ide Ino dengan penuh semangat, namun Tenten menghembuskan napasnya seraya menggerutu. "Kenapa harus shopping, sih?" protes gadis itu. "Malas!"
Ino menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Tenten. "Dengar ya, Tenten-chan!" ucapnya memulai.
"Kenapa shopping itu penting? Karena kecantikan adalah modal yang sangat penting bagi kunoichi seperti kita! Kenapa penting? Karena bagi seorang kunochi—seorang wanita, kecantikan itu adalah suatu sarana yang sangat berguna bagi kita dalam meraih kesuksesan! Dan kamu tahu, Tenten-chan, kecantikan adalah mahkota bagi seorang wanita!" jelas Ino bersemangat.
Tenten mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun tidak sepenuhnya setuju pada penjelasan Ino. Kecantikan fisik memang penting, namun yang lebih penting lagi adalah kecantikan hati... seperti yang dikatakan Neji-kun padaku...
Mengingat Neji membuat pipi gadis itu bersemu merah. Ya, Neji dan Tenten memang sudah menjalin hubungan sejak musim semi kemarin. Semua shinobi yang lain tidak terlalu heran dengan berita mengenai resminya hubungan mereka, namun mereka terheran-heran pada fakta bahwa ternyata Neji, sang Hyuuga Jenius, bisa juga jatuh cinta.
Tiba-tiba Sakura menjentikkan jarinya, teringat oleh sesuatu. Ia membisikkan sesuatu kepada Ino, dan gadis itu pun mengangguk setuju.
"Dan, Tenten-chan..." ucapnya. "Di sana, aku dan Sakura melihat sebuah gaun yang sagat cocok untukmu..."
"Apa? Gaun?! Nggak, nggak mau!" Tenten menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Baginya, mengenakan gaun lebih memalukan daripada gagal melakukan sebuah misi dengan rank D.
"Oh, ayolah..." ucap Ino menggoda, mengerdipkan sebelah matanya pada Sakura. "Gaun itu sangat bagus, dan aku yakin, Neji-kun pasti akan menyukainya..."
Mendengar nama Neji kontan membuat pipi Tenten bersemu merah. "Apaan, sih..."
Sakura tertawa melihat ekspresi Tenten. Ia dan Ino menarik tangan gadis itu ke dalam toko.
Hinata menatap adegan di depannya sambil tersenyum simpul.
Namun tiba-tiba ia merasakan dadanya mulai memberontak.
Hinata mencengkram dadanya, berusaha mengendalikan napasnya. Jangan sekarang... Jangan rusak waktuku dengan teman-temanku! Rutuk gadis itu dalam hati.
"Hinata-chan! Daijoubu?" didengarnya Sakura berteriak dari dalam toko.
Berusaha mengendalikan dirinya, gadis itu menarik napas dalam-dalam sebelum memasang seulas senyum dan mengikuti langkah teman-temannya ke dalam toko.
oOoOo
Sakura berdecak kagum ketika melihat Ino dengan balutan gaun berlengan panjang berwarna biru muda dengan renda di leher dan ujung lengannya. Gaun itu sangat bagus, dan sesuai dengan warna mata Ino yang biru cerah.
"Bagus, Ino-chan!" puji Sakura, kali ini terdengar tulus dan tanpa sufiks pig.
Keempat gadis itu sedang berada di bagian gaun-gaun di Emiko Shop. Sakura sendiri sedang mencoba sepotong gaun berwarna merah muda. Gaun yang memiliki potongan sederhana, namun tampak cocok dikenakan oleh gadis itu.
Ino berputar-putar di depan kaca, memandang puas pada pantulan dirinya di sana. Ia melepas gaun itu, dan bersiap membayarnya ketika mendengar suara gaduh dari balik bilik pakaian di sebelahnya.
Dari dalam sana, wajahnya semerah kepiting rebus, Tenten melangkah keluar, dengan Hinata mendorong punggungnya, sambil tersenyum simpul. Gadis itu mengenakan gaun berwarna coklat muda dengan bordiran bunga di dadanya. Detail gaun itu sulit dikatakan (A/N: karena aku nggak bisa ngejelasinnya, hehehe...), namun yang pasti gaun itu sangat pas dengan mata dan rambut Tenten yang juga berwarna coklat.
Ino memandang Tenten dengan terkejut. "Oh My God! Tenten-chan! Bagus sekali!" jeritnya bersemangat.
Sakura memandang gadis itu dari kepala hingga kaki, lalu berbisik, "Bagus! Cocok! Neji-kun pasti suka..."
Wajah Tenten yang sudah merah menjadi semakin memerah.
Lalu, Sakura berpaling pada Hinata yang belum memilih gaun apa-apa. "Bagaimana denganmu, Hinata-chan?"
"Eh?"
"Kau juga perlu memilih gaun. Gaun-gaun ini akan kita gunakan waktu perayaan malam tahun baru nanti, kan?" tanya Sakura.
Kalau aku masih hidup... bisik Hinata dalam hati, merasakan dadanya mulai berdecit lagi.
"Aku... tidak usah," ucap gadis itu, berusaha tersenyum. Namun Ino, yang tadi sempat menghilang di balik tumpukan gaun, muncul dengan sepotong gaun berwarna lavender dan menjejalkannya ke tangan Hinata.
"Coba," ucap gadis itu, setengah memerintah.
Akhirnya Hinata mengangguk, dan melangkah pelan ke dalam bilik pakaian.
oOoOo
Keempat gadis itu duduk di bawah pohon di pinggir lapangan training, dan mengobrol. Di sebelah mereka terletak beberapa kantong belanja. Sesekali suara tawa terdengar.
"Jadi, bagaimana dengan Choji-kun?" tanya Sakura pada Ino.
Gadis yang ditanya menghembuskan napasnya. "Choji-kun selalu... saja makan. Kau tahu, kemana biasanya, maksudku, selalunya aku dan Choji-kun pergi berkencan? Ke restoran beefstick, dan yang dia lakukan di sana hanyalah makan-makan-makan dan makan!"
Sakura, Hinata, dan Tenten terkikik geli mendengar pengaduan Ino. Gadis berambut kuning itu menghela napas, sebelum melanjutkan.
"Tapi..." suara Ino menggantung, dan wajahnya memerah. "Choji-kun... baik sekali..."
"Hmph, lagu lama!" sambut Sakura, menelengkan kepala Ino dengan bersahabat.
"Anou, sa, bagaimana dengan Neji-kun?" Ino memutar badannya menghadap Tenten.
Tenten tersenyum, dan matanya menerawang. "Apa yang harus kuceritakan?" tanya gadis itu lembut.
"Apa saja!" sahut Ino.
"Tidak ada," sahut Tenten. Ino mengerang.
"Pasti ada..." ujarnya memaksa. Namun Tenten hanya tersenyum simpul.
"Demo... Tenten-chan, aku harus berterima kasih..." ucap Hinata. Tenten menoleh ke arah Hinata, wajahnya menyiratkan kebingungan.
"Eh?"
"Ya, karena... sekarang Neji-nii-san... lebih banyak tersenyum..." lanjut Hinata lembut. "Neji-nii-san memang tidak seterbuka dulu, namun sekarang ia terlihat lebih... baik..."
Tenten tersenyum mendengar komentar Hinata.
"Bagaimana dengan Naruto-kun?"
Hinata hanya tersenyum kecil, dengan sedikit rona merah di pipinya. "Aku belum berani mengatakan padanya..." Namun aku harus segera mengatakannya, karena waktuku sangat terbatas...
Keempat gadis itu terdiam. Suasana sunyi sejenak, hanya desauan angin yang terdengar.
"Ah... aku harap Sasuke-kun ada di sini..." suara Sakura membuat ketiga gadis lainnya menoleh.
Gadis berambut pink itu duduk memeluk lututnya, dan terlihat ada kabut di matanya.
"Kalian semua beruntung..." bisik Sakura.
Hinata menatap Sakura lembut, dan mengambil tangan gadis itu. "Gomenna, Sakura-chan..." ucap Hinata.
Sakura menatap ketiga temannya dengan tatapan sayu. Hanya ketiga gadis itu yang mengetahui bahwa di balik cerianya, sebenarnya Sakura masih menangis pada malam hari, menyesali kepergian pemuda yang sangat dicintainya.
"Aku... tidak bisa mencegahnya pergi..." suara Sakura tercekik. "D... dan... S-Sasuke-kun tidak pernah kembali..." Ia membenamkan wajahnya di lutut dan air mata mengalir ke pipinya.
"When you're down and troubled
And you need a helping hand
And nothing, nothing is going right ..."
Suara lembut Hinata membuat Sakura mengangkat kepalanya.
"Close your eyes and think of me
And soon I will be there
To brighten up even your darkest night…"
Kali ini Tenten yang bernyanyi. Sakura menatap ketiga temannya, mulai muncul sedikit senyum di wajahnya.
"You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again…"
Nada itu mengalun dari bibir Ino.
"Winter, spring, summer or fall
All you got to do is call
And I'll be there
You've got a friend…"
Nyanyian itu mengalir lembut dari bibir Tenten, Hinata, and Ino. Sakura menatap mereka dengan pandangan penuh terima kasih.
...
If the sky above you
Should turn dark and full of clouds
And that old north wind begins to blow
Keep your head together
And call my name out loud
Soon I'll be knocking at your door
...
"Kadang-kadang… tekanan itu memang begitu berat…" ucap Sakura. "Aku selalu merasakan sakit di dadaku setiap melihat Naruto yang tidak lelah berusaha mengembalikan Sasuke-kun… rasanya sangat sakit tidak bisa menyelamatkan sahabatku sendiri, sekaligus orang yang kucintai..."
...
You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you got to do is call
And I'll be there
...
"Ne, Sakura-chan… tapi kamu tidak perlu menyimpan semuanya sendirian, bukan?" ucap Ino. Gadis itu menatap Sakura dengan mata birunya, tersenyum lembut.
...
Hey, ain't it good to know
that you've got a friend?
People can be so cold.
They'll hurt you and desert you.
Well they'll take your soul if you let them.
Oh yeah, but don't you let them.
...
"Karena kita ada di sini bersamamu..." sambung Tenten. "Jika seorang sahabat mengalami kesulitan, yang harus kita lakukan adalah mengulurkan tangan kita dan menolongnya, bukan?"
...
You just call out my name
and you know wherever I am
I'll come running to see you again.
Oh babe, don't you know that,
Winter, spring, summer or fall,
Hey now, all you've got to do is call.
Lord, I'll be there, yes I will.
...
"... Karena itulah gunanya seorang teman..." ucap Hinata lembut. Ia menghapus air mata di pipi Sakura. "Bukan hanya Sakura-chan, tapi siapapun... siapapun yang mendapatkan kesulitan di antara kita, sudah sepatutnya kita menolongnya..."
Sakura tersenyum menatap sahabat-sahabatnya. Ia memeluk mereka, dan berbisik, "Arigatou..."
Tenten menatap gadis-gadis yang lain, tersenyum, lalu berkata, "Janji ya, bahwa kesulitan salah seorang di antara kita adalah kesulitan bersama..."
"Bahwa masalah seseorang di antara kita adalah masalah bersama..." ucap Ino, menyambut uluran tangan Tenten.
"Bahwa kita tidak akan pernah menangis lagi..." sambung Sakura, melakukan hal yang sama.
"Dan bahwa kita... adalah sahabat selamanya..." ucap Hinata mengakhiri, meletakkan tangannya di atas tangan ketiga sahabatnya.
Keempat gadis itu tersenyum satu sama lain. Mereka menautkan lengan mereka, dan bersama-sama mengucapkan,
"Sahabat selamanya..."
Dan hari itu, keempat lengan mereka bertaut satu sama lain, keempat hati mereka telah bertaut satu sama lain, dalam sebuah janji untuk menjadi sahabat.
Selamanya.
...
You've got a friend.
You've got a friend.
Ain't it good to know you've got a friend.
Ain't it good to know you've got a friend.
You've got a friend.
...
Hiks... aku ngerasa bahagia banget nulisnya... bagaimana dengan Anda? Well, persahabatan itu emang indah...
Tapi maaf banget jikalau anda tidak bahagia dalam membacanya...
Gomen... gomen... gomen...
Jadi, jangan lupa review, oke? Katakan padaku apa yang terlintas di benakmu setelah membaca cerita ini...
Kritik pedas, bahkan flame diterima aja, kok. Karena itu semua bisa membuatku jadi lebih baik lagi...
Thanks...
Ja ne!
