Cinderella Seoul Choi Min Gi
Rated T
GS for uke, OOC, Typo(s), etc.
Disclaimer:
Fanfic ini entah dibilang apa, aku hanya meminjam alurnya dai novel 'Cinderella Tuathina ' by Mimosa Q. tapi cerita, bahasa, semuanya murni dariku. Bagi yang sudah membaca novelnya. Mungkin akan berbeda dari novelnya karna saya hanya meminjam alurnya.
Semua tokoh milik diri mereka sendiri dan Tuhan.
DLDR! NO BASH FOR CHARA!
READ A/N
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
TOK TOK TOK
Suara menggelegar dari arah pintu memecah keheningan. Jaejoong terlonjak, Yunho hanya menaikkan alis.
"Ah, lagi-lagi dia. Kenapa sih dia tidak pernah mau memencet bel? Bunyinya kan lebih enak dari pada ketukan seperti itu."
Tentunya Yunho sedang bercanda. Lebih pantas disebut gedoran dari pada ketukan, pikir Jaejoong.
Jaejoong juga tidak akan heran dalam waktu dekat ini pintu itu akan terlepas dari engselnya saking dahsyatnya 'ketukan' itu.
DUK! BRUK! BRUK!
"Aish, iya iya! Sebentar!"
Yunho melepaskan pegangan selimutnya dan untuk sesaat Jaejoong memegang selimut sepenuhnya, menyembunyikan diri dalam kehangatan dan ketebalannya. Sedetik kemudian Jaejoong menahan napas, ia khawatir akan melihat pemandangan polos Yunho dan bersiap-siap menutup mata. Atau malah membelalakkan mata?
Manusiawi kan kalau penasaran? Maka ia mengintip sedikit sambil berpura-pura menutup mata.
Pekikan tertahan keluar dari tenggorokkannnya. Yunho ternyata memakai celana boxer. Merah marun gelap, dan harusnya sih tampak sopan. Harusnya. Ditubuh Yunho, kelihatan seperti buatan designer berharga ribuan dolar. Eh, tapi tidak menutup kemungkinan kalau harga boxer itu memang segitu. Yunho sepertinya tipe yang tidak segan menghabiskan uang.
Ah, celana boxer. Jaejoong harus kecewa atau tidak ya? Mungkin keduanya. Dan ketika merenungkannya lebih dalam, Jaejoong kaget karena ia sebenarnya merasa kecewa dari pada lega. Kenapa harus boxer? Kenapa tidak polos saja? Upss..
.
.
.
.
Yunho berkacak pinggang, menyisir rambutnya dengan jari, dan bersiap membuka pintu.
Terbesit pemikiran yang tidak enak dalam benak Jaejoong, bagaimana kalau yang 'mengetuk' pintu itu adalah pacarnya Yunho? Atau lebih parahnya lagi, orangtua Yunho? Ah, Jaejoong mulai pusing memikirkannya.
Tunggu dulu, kalau memang pacar Yunho, harusnya sekarang dia sekamar dengan Yunho kan? Kalau orangtuanya, mana mungkin menghajar pintu? Apa orangtua Yunho bernama hulk? O.O
Pintu terbuka, dan terdengar perdebatan yang anehnya terasa familiar. Jaejoong menyurukkan diri lebih dalam di balik selimut. Demamnya sudah sembuh namun tubuhnya masih saja gemetaran, gemetar karena takut. Atau mungkin malu? Di depan Yunho saja Jaejoong tidak karuan begitu, apalagi didepan orang asing lain?
Dentuman tangan ke dinding, pintu yang ditutup. Perdebatan lagi, Jaejoong menyesal tidak menggunakan kesempatan ini untuk lari ke kamar mandi. sekujur tubuh Jaejoong kaku akibat ketakutan yang tidak rasional. Ia hanya meringkuk dan tidak berani menampakkan wajah. Apa yang akan dipikirkan orang kalau melihat Jaejoong di sini?
Sudah kenyang rasanya Jaejoong menerima sindiran baik tersirat ataupun terangterangan. Dulu saat ibunya masih hidup, ia berusaha menegarkan hati saat ada kasak kusuk.
"Memang jadi pelayan hotel gajinya cukup? Janjangan Jaejoong punya profesi ganda… mungkin dia menerima tip besar dari para tamu hotel atas 'jasa'-nya yang memuaskan.."
Dihakimi oleh orang seenaknya memang menyakitkan, tapi yang lebih menyakitkan adalah tak peduli seberapa kita menyanggah, selentingan itu akan lebih meranggas ke mana-mana. Jadi lebih mudah bagi Jaejoong untuk berusaha mengabaikannya.
Tapi apa dikota seperti Seoul, ada gossip-gosip tak sedap seperti itu pula? Bagaimana kalau kelangsungan karirnya yang baru dimulai di kota ini? Jaejoong berharap siapa yang diajak bicara oleh Yunho bukanlah pengusaha hotel….. atau penggosip. Ia tidak ingin memberikan kesan bahwa Jaejoong bersedia tidur dengan para tamu utk mendapatkan 'penghasilan sampingan'.
.
.
.
Astaga.
Jaejoong kenal suara itu. Suara yang bisa melambungkannya ke angkasa sekaligus menguburnya jauh dibawah tanah.
Suara yang kemarin menyayatnya dan membuatnya putus asa.
Apa Tuhan sedang memainkan lelucon kejam untuknya? Atau hal ini kebetulan biasa?
Bagi Jaejoong, semuanya seperti malapetaka. Siapa yang menyangka Siwon ternyata kenal Yunho?
Jaejoong berusaha mengintip dari balik selimut, yang meski tebal, dapat memberikan bayangan samar dua pria didepannya. Yang satu bertopang dagu, ekspresinya tak terbaca namun tubuhnya kelihatan rileks. Yang satunya lagi mondar mandir sambil mengacak-acak rambut, tubuhnya gelisah tidak mau diam. Mereka anehnya berdiskusi dalam bahasa inggris. Jaejoong menyesal karena pemahamannya belum mencukupi untuk memahami semua kata-kata mereka. Kalau ia tidak salah tangkap, Siwon sedang memarahi Yunho karena bersenang-senang dengan perempuan di masa-masa seperti ini.
Jaejoong tidak paham maksudnya, memang ada apa? Dan meski ia sendiri tidak tahu tadi malam apa yang sebenarnya terjadi, tapi menurutnya bukan alasan Siwon marah-marah. Dengan siapapun dan apapun yang Yunho lakukan di waktu luangnya, bukan urusan Siwon kan?
Kecuali kalau Siwon kekasih Yunho…
Sesuatu yang dingin merambati tengkuk Jaejoong, dan Jaejoong menelan ludah kasar. Apa mereka benar-benar pacaran? Apa Jaejoong kecewa kalau Siwon gay? Atau Yunho? Atau kedunaya?
Absurd, kenal saja tidak dengan Yunho. Namun kalau memang Yunho pecinta sesama jenis, hal ini menjelaskan semua hal. Pantas aja Yunho tampak tenang dan tidak rikuh sedikitpun terbangun di samping Jaejoong-yang hanya mengenakan pakaian dalam. Meski terbesit dalam benaknya…. Kaum perempuan sepertinya sungguh merugi… sebenarnya ini bukan urusannya kan?
.
.
.
Untung saja Siwon tidak tahu kalau yang berada dibalik selimut itu Jaejoong. Jadi sementara Siwon dan Yunho berdebat-Siwon nyerocos dan Yunho menimpali dengan santai, Jaejoong menjaga tubuhnya agar tetap tenang. Biar saja ia disangka batu atau tidur pulas, yang penting ia tidak terlibat.
Mungkin karena Siwon akhirnya sadar kalau Yunho tenang-tenang saja, Siwon menghentakkan kaki kemudian keluar kamar. Pertengkaran itu selesai sudah, dan Jaejoong yang sungguh lega dapat bernapas lagi. Ia melepaskan cengkeramannya, pelan- pelan Jaejoong mengintip, sehingga selimut terbuka. Yunho meliriknya.
Tapi kemudian Siwon memasuki kamar kembali, kepalanya menunduk seolah berpikir. Namun ketika Siwon mendongak dan mendapati Jaejoong ada di tempat tidur Yunho, ia berjengit seperti disengat listrik. Mata Siwon yg sebelumnya membelalak langsung menyipit, tatapannya penih spekulasi. Bibirnya membentuk huruf 'O' namun tidak ada suara yang keluar.
Terlambat bagi Jaejoong untuk kembali bersembunyi di balik selimut, jadi Jaejoong hanya menatap mata Siwon. tidak lama, namun cukup memberi sinyal "Terus kenapa?"
Yunho mengamati mereka berdua, senyumnya semakin lebar. "Hei, hei, ada apa ini? Mendadak semuanya memutuskan berperan dalam film bisu, atau apa?"
Siwon dan Jaejoong mengabaikannya.
Yunho menatap mereka bergantian, pemahaman mengembang di wajahnya. Kening Yunho berkerut, dan segurat tekad membayang. Yunho seolah sedang berusaha memutuskan sesuatu yang sangat penting. Perlahan Yunho menutup pintu kamar, kemudian dengan langkah ringan dan panjang mendekati Jaejoong. Wajahnya tak terbaca.
Yunho meraih jemari Jaejoong, tangan Yunho terasa begitu hangat dan menenangkan. Jaejoong otomatis meremas tangan Yunho yang disambut Yunho dengan mengecup punggung tangan Jaejoong.
"Maafkan aku karena kalian harus berkenalan dengan cara seperti ini," kata Yunho.
Yunho tampak menikmati semuanya meski seharusnya ia rikuh dengan pakaiannya yang minim itu. Yeah, minim. Boxer. Ketat. Menggoda.
"Siwon, perkenalkan ini kekasihku, Jaejoong. Jaejoong sayang, ini rekan kerjaku, Choi Siwon."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
T.B.C
a/n: huhuhu ini super kilat ngetiknya. Di sela kesibukan pindahan, bener2 disempetin ngetik ini mah.
Buat yang tanya, kenapa siwon kek gitu ke jae?
Sebenarnya kalo kalian cermati, chap ini ada clue nya buat masalah mereka kok. Jadi bacanya jangan cepet2, diresapi lah istilahnya. Hehe
Okelah tanpa kebanyakan cincong. Silahkan di riview, kalo ga riview juga gapapa kok u,u
Well, excuse my typo. Ini uda aku edit 3x. tapi kalo masih ada typo ya aku minta maaf banget. Namanya juga manusia, tak luput dari kesalahan. Eitsss…
Oke, don't forget to review.
Jakarta, 10 oktober 2015
