Title:
Reincarnation or Illusion
Cast:
Choi Seungcheol a.k.a Scoups a.k.a Prince Coups
Yoon Jeonghan
Hong Jisoo
OC
Rated:
M (Mature for Sex Scenes, Some Blood Scene, Mental Breakdown, Fantasy creature, Ghost, and many more)
Summary:
Ketika cinta melelehkan hati yang dingin dengan segala keindahannya.
Ketika hati yang menghangat kembali membeku
Melihat kekasih hati pergi menyisakan lubang di hati
Ketika janji membelenggu dengan segala siksaannya
Ketika cinta kembali datang sebagai renkarnasi baru
Atau kembali hilang sebagai ilusi?
.
.
.
.
.
Jeonghan membuka mulutnya lebar. Ia hanya tidak bisa berkata lagi. Mungkin usulannya untuk mengerjakan di tempat Scoups adalah usulan yang buruk. Tempat ini seperti kastil hantu taman bermain yang telah ditinggalkan selama bertahun-tahun. Jeonghan hanya berdiri di depan pintu kastil saat Scoups telah memarkirkan mobilnya dan menghampiri Jeonghan. Pemuda itu membuka pintu kastil yang menimbulkan bunyi decitan.
Jeonghan mengikuti langkah Scoups di dalam kastil. Di luar dugaan, kastil ini cukup bagus di dalamnya. Berbagai interior zaman abad pertengahan nampak kentara di setiap sudut ruangan. Beberapa lilin dan lampu gantung nampak telah dihiasi sarang laba-laba karena tidak dipakai lama.
Hanya satu lampu gantung di tengah ruang tamu yang menerangi ruangan. Dari yang Jeonghan duga, sepertinya kastil ini dibeli murah oleh Scoups.
"Duduklah. . " ucap Scoups singkat.
Jeonghan meletakkan tasnya dan duduk di sofa ruang tamu. Dapat ia rasakan kain sofa yang terbuat dari beludru sangat halus dan sepertinya sangat mahal. Ia tidak pernah merasakan kain selembut ini.
'Oke mungkin dia membeli kastil ini tidak murah.'
"Aku mau ke kamar sebentar. Jangan kemana-mana" Jeonghan hanya bisa mengangguk kecil. Setelah Scoups pergi, Jeonghan beranjak dari duduknya. Ia mengelilingi ruangan tempatnya berada sekarang. Jeonghan tidak habis pikir. Masih ada orang yang bersedia tinggal di kastil menyeramkan ini. Masih ada, Scoups.
Oh ya kalau kalian ingin tahu. Setelah berhasil membujuk Scoups untuk mengajarinya kemarin, Jeonghan juga berhasil mendapat nomor teleponnya. Hari ini merupakan hari pertama ia 'privat' dengan pria ini.
Dan Jeonghan juga belum memberitahu Jisoo. Namja cantik itu memutuskan untuk memberitahunya nanti saja. Ada baiknya jika untuk sekarang ia bisa bersosialisasi dengan orang lain selain Jisoo.
Ya masalahnya Jeonghan tidak tahu. Ia tidak bersosialisasi dengan 'orang' sekarang.
Jeonghan sedang melihat interior di atas perapian saat sebuah suara halus memanggilnya ,
'Jeonghan. . . '
Jeonghan menoleh, mendapati ruangan kosong yang hanya ada dirinya berdiri di sudut ruang. Kembali ia berusaha menajamkan pendengarannya,
'Yoon Jeonghan. . . '
Ia tersentak, kali ini bukan hanya dirinya yang ada di ruangan tersebut. Sesosok perempuan menggenakan gaun abad pertengahan nampak melayang bebas di hadapannya. Logika Jeonghan tidak bisa berjalan seperti biasanya. Sesosok bayangan itu kini mendekatinya, tubuh pemuda itu seakan dipaku di tempat, membeku tak bisa bergerak.
Keringat dingin mulai mengucur dari dahi Jeonghan ketika wajah sosok itu mendekat ke arah wajahnya. Dan saat itulah pikiran Jeonghan mulai bekerja kembali. Sosok itu sangat mirip dengannya. Tidak! Sosok itu dirinya! Ia melihat sosok dirinya berbalut gaun dan melayang-layang di udara.
Sosok itu berbalik dan keluar dari ruangan. Untuk sesaat Jeonghan menghela nafas lega, tapi sedetik kemudian ia sadar bahwa kakinya bergerak mengikuti sosok itu. Apa ini? kakinya benar-benar tidak sinkron dengan otaknya. Entah ia sudah melalui berapa ruang setelah mengikuti arwah itu. Ia tidak bisa ingat apa yang dilakukannya.
'Shit'
Jeonghan terus berjalan, ia hanya bisa berharap kakinya –atau siapappun yang mengendalikannya— tidak akan membawanya ke tempat yang berbahaya. Arwah itu berhenti di sebuah pintu kayu coklat yang sudah usang. Arwah itu menoleh ke arah Jeonghan sebentar sebelum melayang menembus pintu tersebut.
Mendadak pintu tersebut terbuka lebar, Jeonghan bisa melihat kegelapan di dalamnya, tidak ada lampu, cahaya matahari, ataupun penerangan lain. Kaki Jeonghan melangkah ke dalam. Ternyata tidak segelap yang dibayangkannya, cahaya matahari masuk melalui celah korden yang di tutup.
Mendadak pintu kayu usang itu menutup keras memekakkan telinga Jeonghan. Seketika itu anggota tubuhnya dapat digerakkan kembali. Kaki dan yang lainnya kembali diorganisir oleh otaknya sendiri. Tidak lama setelah kesadarannya kembali, Jeonghan berlari ke arah pintu dan membukanya.
"Terkunci?!" Jeonghan masih berusaha untuk membuka pintu. Menyadari usahanya sia-sia, ia menghentikan tangannya.
Jeonghan melihat sekitarnya, hanya gelap dan berdebu. Cahaya matahari yang masuk kesini hanya sekedar ini? Jeonghan berjalan ke arah korden dan menyibakkan kain berlipit itu. Seketika Sang Surya menyambar matanya membuatnya harus beberapa kali berkedip untuk menyesuaikan keadaan.
Partikel debu melayang di udara dapat Jeonghan lihat saking kotornya tempat ini. Setelah beberapa detik terngiang dalam pikirannya sendiri. Ia menyadari bahwa ruangan itu sesungguhnya adalah sebuah kamar tidur. Satu ranjang ukuran besar terletak di tengah ruangan dengan kelambu yang tergantung menutupi, benar-benar klasik.
Ada juga nakas kecil disamping tempat tidur, sebuah lampu lilin bercabang tiga terletak berbalut sarang laba – laba.
Jeonghan masih meneliti ruangan itu ketika itu matanya beralih pada sebuah lukisan di dinding yang tertutup oleh kain berwarna hitam. Lukisan besar itu tergantung di dinding tepat di hadapan kasur. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya mendekati gambar itu.
Sudah kepalang tanggung, arwah itu tak akan membawanya kesini jika tidak ada sesuatu bukan? Berbagai pikiran aneh telah menghinggapi Jeonghan sejak pertama ia melihat tempat tinggal Scoups. Apakah ia seorang pembunuh? Perampok? Atau bahkan psikopat?
Jeonghan menyentuh ujung kain hitam itu dan menariknya cepat. Kain itu terjatuh di hadapan kaki Jeonghan. Mata Jeonghan hampir melompat rasanya, mulutnya menganga. Ia lebih kaget melihatnya daripda pertama kali melihat tempat tinggal Scoups. Benar saja itu sebuah lukisan. Tapi bukan hanya itu.
Di dalam lukisan itu, tergambar seorang lelaki dan perempuan mengenakan baju senada berwarna hitam dengan aksen merah. Sang pria melingkarkan tangannya di pinggang sang wanita. Mereka tersenyum bahagia. Jeonghan mengucek matanya. Ia memang memiliki mata minus tapi tak separah ini bukan? Laki-laki di gambar itu Scoups?!
Dan yang lebih parah, wanita di sebelahnya adalah arwah yang tadi menuntunnya ke sini! Wanita itu sangat mirip dirinya. Bahkan jika sekarang Jeonghan dipakaikan gaun abad pertengahan mungkin orang mengira ia adalah wanita itu.
'Tidak! Ini tidak mungkin! Okay, tarik nafas. . . buang. . . lakukan. . . tenangkan dirimu, Yoon Jeonghan!'
Jeonghan berusaha berpikir positif. dia menemukan tulisan kecil di sudut gambar. Jeonghan memicingkan matanya untuk membaca tulisan itu.
"Prince Coups and Angel. London 1812" gumamnya membaca tulisan tersebut.
Jeonghan terduduk, kakinya tidak bisa menahan badannya lagi. Bagaimana bisa seseorang hidup berabad abad? Ini 2015, haruskah ia percaya dengan matanya, ataukah berpikir dengan logikanya. Ia berusaha untuk kembali tenang dan berfikir positif.
"Mungkin ini adalah kakek buyutnya? Dan wanita ini adalah nenek buyutnya. Itu semua mungkin, Jeonghan. Mungkin! Lagipula pria di gambar ini memiliki rambut pirang. Sedangkan Scoups memiliki rambut hitam legam. Ah tapi mungkin saja ia mengecat rambutnya untuk menyembunyikan identitasnya." Ucap Jeonghan
Sadar akan apa yang diucapkannya, ia menepuk pipinya pelan, "Apa yang kau ucapkan? Jangan ngelantur!"
Pikiran pikiran itu kembali berkecamuk di benak Jeonghan. Ketika ia masih terduduk dan diam dalam pikirannya sendiri, sebuah suara mengagetkannya.
"Sudah puas, melihat – lihat rumah orang?" Jeonghan menoleh kebelakang dan mendapati sosok Scoups berdiri di hadapannya.
'Sejak kapan dia masuk? Bukankah tadi pintu ruangan ini terkunci?' pikirnya
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Sejak kapan kau ada di ruangan ini. Ruangan ini selalu terkunci"
'Dan sekarang dia bisa membaca isi otakku?! Sebenarnya apa yang telah terjadi? Ya Tuhan!'
Keheningan masih terjadi diantara keduanya. Jeonghan masih terduduk di hadapan lukirsan tersebut sedangkan Scoups berdiri di ambang pintu.
'Sebenarnya apa ini? Aku bertemu dengan orang yang hidup berabad-abad. Dituntuh roh halus kesini. Apalagi yang akan ku temui, Tuhan?' batinnya
Ia ingin menangis sekarang.
Seharusnya ia tidak disini.
Seharusnya ia dirumah sedang nonton TV.
Atau berada di tempat Jisoo mengerjakan tugas.
Nafas Jeonghan tercekat saat dalam kedipan mata Scoups sudah berada di berjongkok di dihadapannya.
"Siapa sebenarnya kau, Yoon Jeonghan?" Bisik Scoups.
Keringat bercucuran deras dari dahinya saat Scoups membelai pipinya. Tapi tak ia pungkiri juga wajahnya memanas melihat pria yang menarik perhatiannya ia sedekat ini dengannya. Saat itulah Jeonghan merasakan tangan pria ini dingin seperti es. Setiap jengkal kulit Jeonghan yang tersentuh oleh tangan Scoups merinding.
Entah dari mana ia mendapat kekuatan untuk menepis tangan Scoups dan berdiri. Ia hanya bisa bernafas cepat saat Scoups mulai mencengkram pergelangan tangannya erat. Pria berambut hitam legam ini menarik Jeonghan ke kasur dan menempatkan kedua pergelangan tangan Jeonghan di atas kepalanya.
"Yak!—" Jeonghan tidak bisa berteriak lebih lanjut ketika bibirnya dibungkam oleh Scoups. Jeonghan masih belum bisa memproses pikirannya ketika mendadak Scoups meraup bibirnya kasar. Pemuda cantik itu berusaha menghindar dengan menolehkan kepalanya ke samping. Scoups menahan kedua tangan Jeonghan dengan tangan kirinya dan memegang tengkuk Jeonghan dengan tangan kanannya.
Jeonghan masih berontak ketika akhirnya ia membuka matanya. Di hadapannya, arwah wanita itu kembali muncul. Scoups tidak melihatnya karena ia sibuk menenangkan Jeonghan dengan ciumannya. Arwah itu melayang-layang diatas kepala pria diatasnya.
'Apa lagi ini ya tuhan?' pikirnya.
Jeonghan melihat sosok di lukisan tadi sekarang mendekatinya. Melayang di udara, wajah arwah itu tiba-tiba meluncur menuju arahnya.
'Kumohon hentikan ini semua'
.
.
.
Jeongcheol
Beberapa detik kemudian, Jeonghan berada di sebuah ruangan putih. Tidak ada apa – apa disana. Hanya. . .
Putih.
"Yoon Jeonghan" ucap sebuah suara.
Pemuda cantik itu menoleh mendapati sosok itu lima langkah di hadapannya. Sosok serupa dirinya itu hanya tersenyum kecil. Jeonghan mengerutkan dahinya.
"I'm sorry" Jeonghan semakin bingung. Bukna karena arwah atau apalah yang ada di hadapannya sekarang menggunakan bahasa Inggris. Walaupun bahasa Inggrisnya sangat buruk dibanding Jisoo.
"Please help me. . ." ucapnya lagi.
"What can I help you?" balas Jeonghan.
Sosok itu mendekat ke arah Jeonghan dan mengulurkan tangannya. Seperti hendak berjabat tangan, makhluk itu masih menunggu reaksi Jeonghan. Pemuda itu tidak tahu harus bagaimana. Apakah baik jika ia menjabat tangan sosok dihadapannya. Atau mungkin lari? Tapi mau kemana? Sepanjang matanya memandang hanya ada putih, putih, dan putih.
Entah apa yang dipikirkan otaknya saat itu. Tapi, tangannya tergerak untuk meraih tangan sosok wanita itu. Tangan mereka bersentuhan. Tiba-tiba muncul cahaya putih menyilaukan matanya. Untuk sesaat ia memejamkan mata.
Ketika ia membuka mata kembali, yang ada di hadapannya adalah pemandangan Scoups yang masih menindihnya di kasur. Jeonghan nampak mengerjapkan matanya perlahan.
Tangannya masih ditahan Scoups diatas kepalanya.
'Apa yang sebenarnya terjadi?'
Mendadak Scoups kembali menyambar bibir Jeonghan. Melumatnya pelan dari bibir atas bergantian dengan bibir bawah.
Namun, kali ini ada yang aneh. Jeonghan membalas ciumannya?!
Hei apa kau sadar, Yoon Jeonghan? Kau membalas ciumannya?
Otak Jeonghan memberontak. Semakin otaknya ingin pergi, semakin gila tubuhnya merespon dari sentuhan Scoups. Mendadak ia merasakan ia membuka mulutnya, mempersilahkan lidah Scoups masuk dan menelusuri setiap sudut mulutnya.
'Ini gila! Ada apa dengan tubuhku?!' batinnya.
Lidahnya beradu dengan milik Scoups menghasilkan cipaka-cipakan kecil. Jeonghan bisa merasakan saat sedikit saliva keluar dan mengalir turun di pipinya saking ganasnya mereka berciuman. Setelah beberapa lama, Jeonghan mulai butuh nafas. Namun, sepertinya Scoups masih tertarik untuk menghabiskan waktu dengan beradu mulut dalam arti sebenarnya dengan Jeonghan.
Wajah Jeonghan mulai membiru seiring dengan habisnya oksigen di paru-parunya. Tangannya yang masih ditahan Scoups membuatnya semakin tersiksa.
Untunglah beberapa detik kemudian, Scoups melepaskan ciumannya. Kesempatan ini diambil Jeonghan untuk menarik nafas sebanyak – banyaknya.
"Hhhahhh. . .hahhh. . . hhaaaahhhh. . . "
Scoups memandang pria dibawahnya. Jeonghan tengah mengatur nafas dengan berat, wajahnya memerah, dadanya naik turun berusaha mengambil oksiden di udara.
Beberapa detik kemudian, Jeonghan sudah mulai tenang. Melihat mangsa di depannya tidak berkutik. Sang pemburu melepaskan cengkraman tangannya. Entah kenapa tangan Jeonghan terulur untuk memeluk leher pria di hadapannya.
'What the hell?! Tanganku bergerak sendiri?!' pikirnya.
Belum berhenti rasa terkejutnya, tiba-tiba mulutnya mengucap sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya,
"Kau tidak mau melakukannya?"
'Shit! Apa ini?! Tanganku bergerak sendiri. Aku mengatakan yang tak ingin kukatakan. Dan. . . suaraku! Ada apa dengan suaraku?! Ini. . . ini suara wanita?!'
Jeonghan masih berusaha menggerakan anggota tubuh lain. Tapi tidak berhasil. Ada seseorang yang mengendalikan tubuhnya. Ia dapat melihat, mendengar, merasakan apapun di sekitarnya. Udara, air, massa, semuanya terasa di indra Jeonghan. Arwah itu! Jadi ini maksudnya meminta bantuannya? Jadi arwah itu meminjam tubuhnya untuk dijadikan tempat sementara?
'Sial!'
Tubuh ini sekarang milik wanita itu. Wanita yang mendatanginya sejak pertama ia datang, wanita misterius yang dilukis dengan Scoups. Wanita yang tiba-tiba mengambil alih tubuhnya. Mungkin yang tersisa milik Jeonghan sekarang hanya pikiran dalam otaknya.
Menangis, hanya itu Jeonghan lakukan. Bahkan ketika pikirannya menyuruh untuk menangis, tidak ada yang keluar dari air matanya. Justru suara-suara memalukan keluar dari mulutnya ketika pria diatasnya mulai mencumbu lehernya.
Scoups menyibakkan rambut pirang sebahu Jeonghan untuk akses lebih mudah. Ia mulai menjilat dan memberika kissmark disana-sini.
"I miss you so much, baby" bisik Scoups.
Sosok–yang mengendalikan tubuh—Jeonghan hanya tersenyum, "I'm sorry for all this years leaving you alone, my Prince"
Dan untuk pertama kalinya, dalam hidup Jeonghan. Ia melihat sebuah senyum yang begitu menawan. Bagaimana seseorang bisa memiliki senyuman bahagia sekaligus terluka dalam satu saat? Jeonghan masih bisa melihat ketika Scoups mengecup dahinya pelan. Ia bisa merasakan kehangatan yang dipancarkan dari pria dingin diatasnya.
Untuk beberapa saat, ia berpikir mungkin ia akan membiarkan pria diatasnya ini menyentuhnya. Toh, bukan dirinya yang sekarang berada di tubuhnya. Tapi setelah dipikir lagi, ia tidak mungkin membiarkan Scoups melakukannya. Ia masih merasakan tubuhnya ketika Scoups menyentuhnya. Sama saja dong berarti ia juga yang diperkosa.
Scoups masih mengurus leher Jeonghan. Mulutnya terbuka memperlihatkan kedua taring di samping kiri kanan yang siap menusuk permukaan kulitnya.
Tubuh Jeonghan tersentak ketika dua benda tajam kecil yang Jeonghan yakini taring menusuk permukaan kulit lehernya.
"ARRRGHHHHH. . . . "
Jeonghan mendongakkan kepalanya, genggaman tangannya semakin erat meremas rambut hitam legam milik sang pangeran.
Scoups memulai kegiatannya. Ia tidak melewatkan setetespun cairan pekat yang sangat familiar di lidahnya. Selama hampir satu millenia ia tersiksa karena merasakan darah pahit milik perokok dan pemabuk atau darah tawar dan anyir milik para penjaja tubuh di klub malam.
Rasa manis itu menuruni lehernya. Ia tidak bisa melupakan rasa manis milik kekasihnya. Walau sudah bertahun mereka berpisah. Perlahan namun pasti, surai sang pangeran berubah. Dari hitam legam menjadi pirang terang.
Keadaan ini berbanding terbalik dengan Jeonghan. Pemuda itu dapat merasakan darahnya dikeluarkan dari tubuhnya. Jeonghan merasaka pening luar biasa di kepalanya.
Sudah cukup dengan anemia yang meengharuskan untuk meminum pil penambah darah. Mata Jeonghan berkunang-kunang. Pandangannya mulai menghitam seiring cairan pembawa oksigen yang berpindah ke tubuh Scoups
"Anghhhh. . . ."
Jeonghan melenguh kecil saat kedua taring milik pria diatasnya ini keluar dari kulitnya. Ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Apa yang terakhir kali ia lihat adalah pemandangan Scoups dengan darah di sudut bibirnya dan berambut pirang.
'Sama seperti luksian itu' batin Jeonghan
Setelah itu, semuanya hitam. . . . .
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
HUWEEEEEEE MAAF BANGET
MIANHAE MiANHAE MIANHAE HAJIMA~~~
BABY I'M SORRY
SUMPAH SAYA GAK TAHU KALO SAYA SALAH UPDATE CHAPTER
MAAFKAN, CERITANYA JADI GAK NYAMBUNG
INI UDAH DIPERBAIKI SAYANG SAYANGKU, MAAFKAN DAKU YA. MUNGKIN OTAK SAYA LAGI KETINGGALAN BELUM DI MASUKKIN KE TEMPATNYA PAS UPDATE CHAPTER MAAFKAN YA...
JANGAN BOSEN BOSEN BACA YA GARA-GARA SAYA SALAH UUUUU T_T
INI DIUSAHAIN UPDATE CEPET KOK
