DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO
Pairing : Narusaku
Rated : M for language
Genre : Family , angs , hurt/comfort
Warning : OOC, OC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.
Story by me seriello
DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V
*SESI JAWAB REVIEWS*
narusaku29 : aduh aku jga kesel sama naru:v kenapa dia ga ngakuin? Aku udh jelasin di chapter 2 kok, ya dia takut perusahaannya terancam dan dia takut sakura cuman manfaatin kekayaannya nya gtu
Guest : wkwk gagap nya ga lama2 kok itu cuma karna dia kaget aja tiba2 Naru nongol ditokonya trs dia ga lemah kok:v aku jga ga mau nyamain dia dengan hinata :"v
NS, Guest , Guest , Guest , Guest , No name, Guest , XiuZulfan , hikanee , mitsu mayo , shino 136 : Terimakasih banyak atas kalimat membangunnya , sumpah aku seneng minna san mau nungguin fic gaje ini:")
Guest : aku sebenernya pengen jabarin cuman kaya nya terlalu berat gtu untuk ukuran chapter 1 jadi yaudah aku singkatin aja ambil intinya buat pengenalan gtu hehe
Zet : wkwk itu karna aku suka sikap naru yg di the last, dewasa gtu terus lebih kalem jadi aku terinspirasi dari situ:v tapi klo untuk ngejar2 ya chapter depan jelas naru pasti ngejar sakura lagi buat yakinin dia dan maafin naru:v untuk anak nya jelas mirip naru :"v
eeueuseusheushaeushaj : aduh emang tema ku pasaran jadi ga heran kalo ada yg mirip ama yg lain maaf ya:v tapi terimakasih banyak lebih suka cerita ku :"
Image28 : aduh kejam banget kasian shina:"v
MANASYE : iya soalnya dia pengen shina kenal dirinya soalnya kalo ditunda2 nanti saku bakal jauhin shina dari naru jadi dia ambil ancang2 kenalin diri dulu sebelum nnti saku tau trs perang dunia shinobi ke 5 :v
NSL : nah itu dia :" awal nya aku cuman readers bahkan silent readers trs akhir2 ini aku liat kok ga ada yg up fanfic narusaku lagi yg baru gtu, jdi sedih:" trs aku nekat deh bikin ff sendiri buat meramaikan pair ini biar ga tenggelem eksistensinya:"
Paijo Payah : makasih udh mau naruh harapan sama fic gaje ini:"v
Makasih semua nya atas review kalian yg sangat membangun :D
.
.
.
.
Shina melangkahkan kaki nya dengan cepat, dua pasang kaki mungil itu berayun memasuki pelataran rumah.
Ditangannya kini ada 2 kantung plastik besar berisi mainan dikiri dan kanan nya. Membuat nya sedikit kesusahan berjalan.
Dia pulang terlambat,jelas sudah pasti ibu nya akan marah terlebih lagi ia tidak pulang dengan Shikadai. Teman nya itu tentu pulang jauh lebih dulu daripada dirinya.
Dihembuskannya nafas dengan berat mempersiapkan diri mendapat amukan super dahsyat dari ibunya.
CEKLEK
Pintu depan terbuka setelah sebelumnya Shina kesulitan membukannya.
Sepi.
Shina melangkah kan kaki nya menyusuri ruang tamu dengan kewaspadaan tingkat dewa. Iris emeraldnya itu bergulir ke kiri dan kanan mengawasi daerah sekitar, mencari-cari sosok merah muda yang ia panggil 'Mama'.
Mebuki yang muncul dari arah dapur secara tiba-tiba jelas mengejutkannya, membuatnya tidak sengaja menjatuhkan kedua plastik besar itu ke lantai ubin rumah nya.
"Ahh Nenek!! Bikin kaget saja." Bocah yang usia nya belum genap 6 tahun itu mendengus sambil memegang dadanya terkejut.
Mebuki yang melihatnya hanya bisa menautkan alis heran, terlebih lagi ketika matanya melihat beberapa mainan berserakan keluar dari plastik yang dijatuhkan Shina.
Dari mana mainan sebanyak ini?
"Shina kau terlambat pulang hari ini, mainan itu kau dapat dari mana? Mana ibu mu?" Mebuki menghampiri cucu kesayangannya, meraih pipi gembul itu untuk dielusnya.
Matanya lantas menoleh kearah pintu depan yang masih terbuka, tidak ada siapa-siapa disana.
Sebelumnya Sakura pamit mencari Shina yang tidak kunjung muncul juga padahal ia tau Shikadai sudah pulang dari sekolah, lantas ia pergi untuk mencari nya, dan sekarang cucu nya ini sudah ada di rumah dengan plastik-plastik besar tanpa ibu nya.
Sekarang Kemana Sakura pergi?
Tak menjawab pertanyaan Nenek nya Shina malah sibuk mengumpulkan kembali mainan nya membuat Mebuki makin heran.
Cucu nya ini kenapa mendadak banyak diam? Padahal dia adalah bocah teraktif yang pernah Mebuki lihat. Tak ada barang sejenak pun untuk Shina berdiam diri. Pasti ada saja yang dibicarakan cucu nya ini. Entah itu kegiatan sekolah atau juga keluh kesahnya ketika Shikadai meninggalkannya dan ketika itu terjadi lantas Mebuki pasti hanya akan mendengarkan dengan senyuman manisnya.
Kenapa jadi aneh begini?
Pasti telah terjadi sesuatu yang membuat cucu nya berubah.
Tapi apa?
Belum juga Mebuki sadar dari kebingungannya, Shina sudah melesak jauh menaiki tangga menuju kamarnya.
Meninggalkan sang Nenek dengan segudang pertanyaannya.
.
.
.
.
BRAK!
Sakura membuka pintu kelewat keras membuat bocah bersurai pirang itu kaget bukan kepalang, dia tengah memainkan mobil-mobilan ferari terbaru dilantai kamar nya ketika ibu nya ini datang secara tiba-tiba.
"Katakan sama Mama kau habis pergi kemana? Mama mencari mu kemana-kemana!" Sakura geram, didekatinya Shina yang kini sudah berdiri dari posisi duduknya.
"Kenapa kau pulang terlambat hari ini? Dan dari mana mainan ini?" Pandangan Sakura tertuju pada segudang mainan baru yang berserakan di lantai kamar Shinachiku.
Ada kereta dan mobil dengan perlintasannya, robot ultraman, tamiya seri terbaru dan masih banyak lagi.
"Papa membelikannya untukku." Jawaban yang terlontar dari bibir tipis Shina membuat Sakura tersentak.
Papa kata nya?
"Papa? Papa yang mana?" Sakura tak habis pikir kenapa Shina memanggil 'orang asing' dengan sebutan Papa.
"Papa Naru! Papa tadi ajak aku pergi dan Papa membelikan aku semua ini." Sakura makin tak percaya dengan apa yang didengar nya.
Namikaze keparat itu sekarang berani menunjukan batang hidungnya bahkan sampai-sampai mengaku sebagai 'papa' nya? Kurang ajar sekali dia.
"Dengar Shina! Kau sudah tidak punya papa! Papa sudah lama pergi. Jangan mudah percaya dengan orang asing yang mengaku-ngaku sebagai Papa mu." Sakura merendahkan tubuhnya, menjadikan lutut sebagai topangan berat badannya. Dielusnya kepala Shina mencoba memberi perhatian kepada putra sematawayang nya.
"Tidak!" Teriakan keras Shina membuat Sakura terkejut.
Putra nya telah berteriak didepan muka nya?
"Papa Naru masih hidup! Aku bertemu dengan nya tadi! Kenapa sih Mama tega sembunyiin ini? Shina kan pengen ketemu Papa." Bocah itu mulai menangis. Tangan nya mengepal dengan kuat membuat buku-buku jari nya memutih.
Sakura menyadari itu, Shina terlihat sangat marah sekarang.
Apa yang sudah Naruto lakukan? Sampai-sampai bocah ini sudah berani menentang ibu nya?
Suara teriakan Shina menyita perhatian Mebuki. Wanita paruh baya itu lantas berlari dengan tergopoh-gopoh untuk melihat ada apa diatas sini.
"Nenek juga! Nenek bohong juga kan? Nenek tau Shina masih punya Papa tapi Nenek slalu bilang Papa Shina udah ga ada!" Semprotnya langsung ketika tau Mebuki berdiri diambang pintu, membuat ke dua wanita dewasa itu tersentak dengan tuduhannya yang tepat sasaran sebenarnya.
Jadi ini alasan Shina mendiami dirinya saat pulang sekolah tadi? Dia marah?
"Mama jahat! Nenek jahat! Kakek juga jahat! Kenapa sih kalian semua jauhin Shina dari Papa? Mama bilang berbohong itu tidak baik! Tapi kenapa sekarang malah Mama yang bohongin Shina?" Bocah itu marah besar. Air mata membasahi kedua belah pipi nya. Mata nya terpejam sedangkan kini bibirnya terkatup rapat sampai-sampai membentuk lengkungan kurva kebawah, jari-jari tangan nya mengepal disisi tubuhnya.
Hati Sakura mencelos melihat kemarahan anaknya ini bersumber dari nya,sakit sekali melihatnya.
Diliriknya kini Mebuki yang masih mematung di belakang sana. Bingung hendak berbuat apa. Shina sudah tau sekarang, dan parah nya dia cepat percaya dengan pengakuan Naruto itu.
"Dengar ya Shina, Papa memang sudah tidak ada.. paman itu hanya mengaku-ngaku saja. Papa Shina adalah Namikaze Naruto yang lain, bukan yang itu." Ucap Sakura dengan nada lembutnya, mencoba memberi penjelasan selogis mungkin. berusaha keras supaya tak menangis sekarang.
"Mama bohong lagi!" Tuduh Shina segera, ditatapnya lekat-lekat mata sang ibu. Membuat Sakura gelagapan mendapati tatapan mengintimidasi itu.
"Namikaze Naruto hanya ada satu! Lalu Papa Shina Namikaze Naruto yang mana?" Bocah itu kelewat cerdas, membuat Sakura meringis sendiri dibuatnya.
Melihat Sakura dan Mebuki tertegun dengan pertanyaan nya, jelas membuat Shina yakin bahwa selama ini dia memang benar dibohongi.
"Lebih baik Mama keluar sekarang! AKU BENCI MAMA!" Teriak Shina membabi buta membuat Sakura tersentak mendengarnya.
Putra nya ini mengusirnya? Bahkan membencinya?
Setelah berteriak seperti tadi, Shina lantas bergegas naik ke ranjang dan menarik selimut menenggelamkan diri. Suara isak tangisnya masih mendominasi sedangkan Sakura menangis dalam diamnya. Tak kuasa menahan tangis mendengar pernyataan anak sematawayangnya. Shina membenci nya, membenci atas kebohongan yang memiliki alasan.
.
.
.
.
"Aku papa mu"
Kalimat itu terngiang-ngiang berputar terus-terusan di kepala nya.
Shina tak percaya sosok ayah yang ia rindukan ternyata masih hidup. Berkeliaran bahkan tinggal dikota yang sama dengannya.
Shina tak habis pikir kenapa ibunya tega menutupi semuanya. Bersandiwara seakan-akan dia sudah tak punya ayah. Nenek dan kakek nya pun sama. Mereka kompak dalam membohongi nya.
Shina menggigit bibir bawahnya dengan deretan gigi atasnya,tak percaya apa yang sudah terjadi pada nya hari ini.
Ia tau tentang perceraian.
Teman nya Mitsuki, Orang tua nya bercerai sejak lama tapi ibunya tak berbohong tentang ayahnya. Mitsuki bilang ia masih sering dikunjungi ayahnya dan ibunya tak menghalangi hal itu. Tidak bersandiwara seolah-olah ayahnya sudah tiada. Lalu jika memang orang tua Shina bercerai juga kenapa Mama Saku membohonginya sampai seperti itu? Berkata jahat bahwa ayahnya sudah tiada.
Bukan kah itu kelewatan?
Shina berjanji jika ibunya jujur sejak awal dia tak akan nakal atau pun meninggalkan ibunya. Karna meskipun Shina rindu ayahnya, tetap Shina menyayangi ibu nya. Setidaknya biar kan dia tau keberadaan ayahnya saja itu sudah cukup sebenarnya.
"Papa.." panggil nya pelan disela-sela isak tangis yang menggema diseluruh kamar besarnya.
Shina mengunci pintu berusaha memblokir akses mana pun yang membuat ibu nya bisa masuk kedalam.
Ia kecewa. Untuk pertama kalinya kecewa pada ibu nya.
Sejak dulu Shina sangat mengagumi Sakura. Ibu terhebat menurutnya,ibu yang tidak ada tandingannya.
Ia mendefinisikan Sakura dengan 1 kalimat.
'SUPERHERO'
Wanita terkuat yang pernah ada.
Mampu mengurusi toko bunga dan butiknya mampu mengurusi Shina juga, bangun pagi-pagi untuk membuatkan sarapan dan bekal, membacakan dongeng pengantar tidur untuk Shina, semua nya dilakukan Sakura sendiri.
Apa kata yang lebih tepat selain 'super hero' untuk Sakura?
Shina menangis tersedu-sedu tak menyangka wanita yang menurutnya sempurna ternyata bisa berbuat salah juga yang bahkan mengecewakannya.
"Shina.. makan malam dulu, Nenek dan Kakek menunggu mu." Ucapan lembut dari balik pintu menyadarkan Shina dari lamunannya. Sejak kejadian itu Shina tak mau keluar kamar sama sekali.
"Shina.." panggilan itu kembali muncul saat tak kunjung mendapat jawaban.
"Shina ga lapar Ma!" Teriak Shina dari balik selimutnya.
Kini bocah kecil itu duduk di tengah pintu geser menuju balkon kamarnya, menatap langit gelap diatas sana. Seluruh tubuhnya dibungkus selimut orange tebalnya, sejak dulu Shina menyukai warna orange ataupun hal-hal yang berhubungan dengan jeruk. Dan ia membenci gelap, seperti langit diatas sana. Langit itu terlihat tengah mencibirnya.
Pertemuannya dengan seseorang yang mengaku sebagai 'Papa' nya jelas mengejutkan Shina. Paman itu menunjukan Kartu Nama nya, menunjukan beberapa foto diri nya dengan Mama nya dan banyak lagi yang membuat Shina yakin bahwa paman ini benar Ayah nya.
Dari dulu Shina tau Nama ayahnya adalah 'Namikaze Naruto' dan itu terpampang jelas pada surat-surat identitas dirinya seperti akta kelahiran dan lain-lain. Lalu paman itu memperkenalkan diri dengan Nama yang sama dengan ayah nya. dengan segala kemiripan yang ada, mana mungkin paman itu berniat jahat padanya dengan membohonginya bukan? sudah cukup banyak bukti yang membuat Shina percaya dan yakin bahwa ibunya membohongi nya.
"Shina kangen Papa." Ucapnya sendu sambil menggigit ujung selimut nya.
.
.
.
.
Sejak kejadian kemarin sore, Shina tak keluar kamar sama sekali meskipun hanya untuk makan malam. Bocah itu melewatkan makan malam dan sekarang sarapan pagi nya juga. Shina bergegas pergi naik bis sekolah tanpa sarapan dan tanpa bekal yang dibuatkan Sakura. Dia benar-benar masih marah.
"Sungguh, Ino. aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, Shina marah pada ku dan sejak kemarin sore itu dia mendiami ku." Sakura menangis, menangkup wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. Butik sedang lengang kali ini jadi kesempatan itu Sakura gunakan untuk curhat dengan Ino.
Wanita pirang itu tampak tengah mengelus punggung Sakura perihatin. Sedikit banyak dia juga terkejut mendengar penuturan Sakura tadi atas kejadian kemarin sore.
Dia tidak menyangka, Naruto bisa senekat itu menunjukan eksistensi nya. Bahkan dengan cepat meraih perhatian dari Shina sampai-sampai membuat Shina seakan-akan berpihak pada nya.
Isak tangis Sakura masih terdengar bahkan sampai ke luar butik.
"Apa yang harus aku lakukan?" Keluh Sakura frustasi, ia nampak menjambak rambutnya sendiri.
"Sekarang Shina sudah tau kalau Namikaze Naruto itu ayah kandungnya."
DEG!
Detak jantung wanita bersurai merah darah itu seakan-akan berhenti bekerja. Kaki nya membeku tak bisa melangkah lebih jauh ketika tidak sengaja mendengar penuturan wanita merah muda dari dalam butik sana.
'Sekarang Shina sudah tau kalau Namikaze Naruto itu ayah kandungnya'
kalimat itu terngiang-ngiang di kepala nya. Jelas Karin terkejut.
Nama sepupu nya disebut-sebut. Bahkan penuturan tadi tak bisa dianggap remeh. 'Ayah kandung' itu sudah jelas menunjukan hubungan yang sakral kan?
Sakura mengenal Naruto? Ayah? ada hubungan apa dengan mereka?
Mungkin kali ini pembicaraan pasal baju lebih baik ditunda dulu. Ada yang lebih penting dari itu kan?
.
.
.
.
"Shina!"
Seseorang berteriak memanggil namanya, membuat bocah pirang itu menoleh dan mengurungkan niatannya memanjat tangga bis sekolah. Mata nya memicing mempertajam penglihatannya ingin tau siapa yang mencarinya.
"Bibi Karin?" Gumamnya pelan begitu yakin wanita dengan surai merah darah yang tengah berlari tergesa-gesa kearahnya memang lah Karin.
"Kenapa bibi ada disini?" Tanya Shina begitu Karin nampak sudah ada didepannya, dada wanita itu naik turun karna berlarian menghampiri Shina.
"Kau... k-kau" Karin tak melanjutkan kalimatnya dan memilih memeluk Shina dengan erat. Kebingungan Shina makin jelas begitu tau wanita ini malah menangis tersedu-sedu.
"Bibi kenapa?" Tanya Shina bingung, masih tak mengerti dengan keadaan ini.
"Bibi Karin,ada apa ini?" Shikadai turun dari bis begitu tau Karin memeluk Shina sambil menangis. Wanita itu menggeleng pelan.
"Hei nak! Kau ingin pulang naik bis atau bagaimana? Kami akan berangkat sekarang." Suara paman supir itu menginterupsi kegiatan mereka bertiga, membuat Karin menoleh kearahnya. Sang supir agak terkejut melihat wanita cantik tadi malah menangis.
"Shika pulang saja naik bis ya, biar Shina bibi yang antara. Bibi ada perlu dengannya." Ucap nya yang disambut dengan anggukan paham dari Shikadai sedangkan Shina malah tidak mengerti sebenarnya ada apa.
Bocah dengan kuncir tinggi itu lantas segera berlari masuk kembali ke dalam bis sebelum akhirnya bis itu melaju meninggalkan Shina dengan Karin yang masih terpaku.
Karin memandangi Shina lekat-lekat membuat Shina agak risih dibuatnya.
"Sebenarnya bibi kenapa?" Tanya Shina heran melihat tingkah laku Karin yang tidak jelas menurutnya. Tiba-tiba saja rekan kerja ibunya ini menyambangi dirinya disekolah dan bilang ada perlu.
Perlu apa?
"Sudah jelas! Kau ini benar anak nya! Kau sangat mirip dengannya! Ternyata dugaan ku benar, saat aku melihatmu untuk pertama kalinya. Aku langsung berpikir bahwa kau mirip seseorang." Karin lantas kembali memeluk Shina erat sedangkan bocah kecil itu nampak mencoba mencerna kata-katanya.
"Kau benar anak Naruto!" Satu Nama yang disebut Karin membuat Shina terkejut.
"Bibi kenal Papa Naru?" Tanyanya heran yang disambut dengan anggukan yakin dari Karin.
Wanita merah dengan kacamata bertengger di batang hidung nya itu nampak tengah menghapus air matanya.
Karin tidak tau apa alasan yang tepat untuk tangisannya. Yang iya tau ia bahagia mengetahu fakta bahwa bocah ini adalah keponakannya.
Sudah lama Karin bimbang dengan firasatnya yang mengatakan ada sesuatu yang mengikat dirinya dengan Shina. Bocah itu seakan-akan punya hubungan dekat dengannya.
Kekeluargaan.
Terlebih kemiripan yang bisa dibilang melebihi batas wajar.
Rambut pirang, tingkah periang serta cengiran lebar mengingatkannya pada sepupu nya. Naruto.
Tetapi dia selalu menepis firasat itu karena yang ia tau Sakura tak mungkin kenal dengan Naruto.
Sepupunya itu workaholic. Terlalu serius dengan pekerjaannya, mana mungkin ia main-main dengan perempuan, lagipula Naruto belum pernah menikah, mana mungkin dia punya anak dan juga Sakura, wanita itu tidak pernah bercerita kalau dia punya kenalan atau semacamnya yang berhubungan dengan keluarga nya. Sakura tidak mungkin tidak mengetahui bahwa Namikaze dan Uzumaki itu saudara kan? lagipula yang ia tau, Sakura bercerai dengan suami nya.
Itulah yang membuatnya menangis sekarang. Dugaan nya benar.
"Papa Naru itu sepupu bibi."
"Apa?" Pernyataan Karin membuat Shina terkejut. Sekarang ia punya harapan. Shina tidak tuli. Ia dengar tadi pagi ibu nya sempat berteriak memintanya menjauhi Papa nya. tapi sekarang ternyata bibi Karin sepupu ayahnya, Bibi Karin pasti mendukungnya kan? tidak mungkin menjauhkannya seperti ibunya.
Sepertinya kami-sama memihak padanya untuk mempertemukannya dengan Papa nya.
"Bibi aku mau ketemu Papa!" Shina menangis memeluk Karin erat membuat wanita itu sedikit terkejut. "Kau ingin bertemu Papa Naru?" Pertanyaan Karin dijawab dengan anggukan antusias Shina yang masih memeluknya.
"Kalau begitu ayo bertemu Papa mu."
.
.
.
.
Naruto tak henti-henti nya tersenyum sumringah menatap potret dirinya dengan Shina di taman bermain kemarin.
Senyum mereka berdua nampak sama meskipun figur wajah dan mata Shina lebih seperti Sakura, tapi surai nya, cengirannya sama persis seperti Naruto bahkan semangat dan sikap riangnya.
Entah kenapa hati Naruto menghangat sekarang.
Rindu itu sering menyambangi diri nya sejak Naruto bertemu Shina, bocah itu sukses membuat nya kecanduan.
Shina bagaikan zat adiktif bagi Naruto. Ia merasa cepat ingin melihat cengiran bocah riang itu sekarang padahal kemarin mereka sudah menghabiskan waktu bersama.
'Kenapa aku jadi seperti ini?' Naruto bergumam.
Diambil nya figura foto dirinya diatas meja kemudian membongkar isi nya, mengganti potret dirinya yang tengah berdiri dengan senyum sumringah sambil bersidekap di depan dada dibawah deretan foto petinggi perusahaan dengan potret dirinya dan Shina yang sudah ia cetak sebelumnya.
"Nah ini lebih bagus." Naruto menatap figura itu dengan wajah luar biasa bahagia. Diraihnya gagang telepon untuk menghubungi ibunya dirumah.
"Hallo?" Sapa hangat seorang wanita yang sudah jelas adalah ibunya.
"Hei bu ini aku, Naruto." Sapa nya sambil masih senyum sumringah.
"Eh? Ada apa menelpon jam segini?" Tanya Kushina bingung.
"Tidak apa-apa,bu. Aku hanya ingin bertanya. Mmm.. bagaimana kalau aku berkeluarga?" Pertanyaan nya itu jelas membuat Kushina bingung, membuatnya berdiam diri sejenak kemudian tertawa.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Tentu ibu akan senang! Usiamu itu kan sudah 27 tahun,untuk apa menunda lagi?" Respon Kushina kelewat semangat membuat Naruto tersenyum menanggapi nya.
"Tapi.. bagaimana kalau sudah punya anak?" Pertanyaan itu sukses membuat Kushina bingung.
"Kau akan menikahi seorang janda? Begitu maksud mu?"
"A-aa tidak begitu ibu, dia belum pernah menikah di-."
"Dia adopsi anak?" Kushina menyela perkataan Naruto, wanita itu memang jika ingin tau sesuatu jadi seperti ini, suka menebak-nebak sendiri. Naruto mendengus.
"Ah begini saja, nanti akan ku jelas kan saat aku sampai dirumah." Setelah mendengar persetujuan dari ibunya maka lekas Naruto putuskan sambungan teleponnya.
Dipandanginya potret Shina kembali kemudian menyentuh pelan pipi Shina.
Sejak perpisahan nya dengan Sakura bertahun-tahun lalu, kalau boleh jujur Naruto merasa 'sedikit' kehilangan.
Wanita itu yang biasanya akan menemani hari-harinya. Menyiapkan sarapan dan menunggu nya pulang.
Sejak konflik itu ada, Sakura dan ia jelas berpisah. Tak pernah bertemu dan bahkan Sakura terkesan menghindarinya.
Menghindari atau memang dirinya yang tidak pernah mengunjungi?
Sepertinya opsi ke dua jelas lebih benar adanya. Keegoisannya mengalahkan rasa iba nya. Naruto terlalu egois terhadap reputasinya. Terlalu takut perusahaannya terancam sampai-sampai dengan tega ia menolak mentah-mentah bayi yang ada dikandungan Sakura bahkan sampai berfikiran yang kelewat kurang ajar.
Ia tak pernah berfikir tentang keadaan Sakura dengan bayi nya sama sekali. Tapi sekarang kenapa dia jadi merasa berhak atas Shina?
Naruto beranjak dari duduk nya,meraih kunci mobil serta jas nya. Mungkin memang kali ini mereka perlu bicara.
BRAK!
"Papa!!!" Teriakan serta suara pintu terbuka membuat Naruto kaget.
Bocah pirang itu menghambur kepelukannya dan mencium pipi nya begitu Naruto menggendongnya. Seorang wanita merah dengan kacamata khas nya muncul setelahnya.
"Karin?" Panggilnya heran begitu menyadari seupupunya datang beserta Shina kemari.
Karin mengenal Shina?
"Jelaskan ada apa ini sebenar nya bodoh!" Karin menghampiri Naruto dengan aura membunuhnya membuat Naruto bergidik dibuatnya.
"Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan? Jangan bilang kalau kau menghamili anak gadis orang dan tak mau tanggung jawab!" Tuduh Karin sambil menatap Naruto tajam.
"Ah sebaiknya ini tidak dibicara kan sekarang. Ada anak kecil disini." Ucap Naruto sambil melirik Shina yang tengah sibuk memainkan kancing kemejanya. Entah kenapa mungkin kancing ini menarik perhatian Shina.
Karin beranjak keluar membuka pintu ruangan Naruto kemudian mengedarkan pandangannya.
"Ahh itu dia! Hei kau yang di pojok situ!" Teriak Karin memanggil seorang office boy yang tengah membersihkan kaca ruangan meeting yang tak jauh dari posisinya berdiri.
Yang dipanggil segera menghampiri.
"Shina kemari! Bibi tau kau belum makan kan?" Bocah itu menggangguk antusias. Karin kemudian mengambil alih Shina dari gendongan Naruto.
"Sekarang kau makan dulu di kantin bawah ya, makan yang banyak! Ambil apapun yang kau mau." Mendengar itu membuat mata Shina berbinar-binar.
"Benarkah?" Tanyanya tak percaya.
"Iya tentu saja. Hei kau! Bawa Shina ke kantin bawah dan awasi dia, biarkan dia makan semau nya dan jangan kemana-mana sebelum aku sendiri yang menjemputnya" titah nya pada seorang office boy dengan kacamata bulat yang bertengger dibatang hidungnya, pria itu mengangguk lantas menuntun Shina menjauh menuju kantin yang berada di lantai bawah.
"Nah sekarang kau harus jelaskan pada ku!" Naruto sweatdrop melihat Karin yang antusias ingin mengetahui masalah pribadinya.
"Tunggu dulu, aku ingin tau kenapa kau bisa bersama Shina? Kau mengenalnya?" Tanya nya heran. Wanita itu bersender pada bingkai jendela kemudian menghela nafas bosan.
"ibunya itu rekan bisnis butik ku."
.
.
.
.
"Loh? Shina?"
Merasa Nama nya disebut seseorang lantas Shina menolehkan kepalanya.
Seorang pria tinggi tegap yang sangat mirip dengan Shikadai membuatnya tersenyum.
"Paman shikamaru!" Ucapnya sambil berlari mendekati ayah sahabatnya itu. Ditangannya kini ada melon pan yang masih hangat. Pipi nya belepotan bumbu ramen. Jelas sekali bocah ini baru saja makan.
Tapi bukan itu yang membuat Shikamaru mengernyit heran melainkan kenapa Shina ada disini?
Tunggu..
Apa dia kemari dengan Naruto?
Apa Naruto sudah tau kalau Shina putra nya?
Apa Shina tau kalau Naruto itu ayah nya?
Ya ampun banyak sekali pertanyaan di otaknya yang belum terjawab membuat ia mengabaikan kehadiran shina yang sudah ada didepannya, menatap nya bingung.
"Paman Shikamaru!" Panggil nya lagi lebih keras sambil tangan kirinya yang kosong menarik bagian bawah jas Shikamaru, Menyadarkannya.
"Hei, kenapa kau ada disini?" Tanyanya sambil berjongkok menyamai tinggi nya.
Seorang office boy tampak berlari menghampiri, keringat membasahi wajahnya.
Ya ampun anak ini nakal sekali, dia berlarian kesana kemari sesudah makan ramen membuat Kabuto, office boy itu kewalahan mengejarnya.
Awalnya anak ini diam menurut tapi setelah makan energinya benar-benar tanpa batas seakan-akan baru di isi ulang.
"Kenapa kau ada di kantin? bukannya ini sudah jam kerja ya?" Tanya Shikamaru heran melihat office boy yang seharusnya sudah kembali bekerja malah berkeliaran di kantin saat jam makan siang sudah selesai.
"Saya di suruh Nona Karin membawa anak ini makan siang di kantin dan menjaganya." terangnya membuat Shikamaru tambah tak mengerti.
Karin? Membawa Shina?
Kenapa sepupu Naruto itu ada di sini?
Karin juga kan rekan bisnis Ino dan Sakura kan?
Paham bahwa segala jawaban ada pada Shina maka segera ia bangkit dari posisi nya.
"begini saja, kau kembali lah bekerja. Biar aku yang menjaga anak ini. Atau bila perlu aku yang akan mengantarkannya kepada Karin." Mendengar itu lantas Kabuto undur diri. Jelas dia lebih memilih membersihkan kantor dari pada harus berlarian kesana kemari mengejar bocah nakal ini.
"Kemari." ajak nya duduk di sebuah meja kosong paling pojok,tempat ini paling strategis supaya tidak ada yang menguping pembicaraan.
"kenapa kau disini?" Tanya Shikamaru yang lantas kemudian dijawab Shina dengan lengkap tanpa terkecuali pertemuannya dengan Naruto dan adegan ngambek nya pada ibu nya.
Shimakaru hanya memperhatikan bocah polos itu bercerita disela-sela ia makan kue melon pan nya dengan semangat.
Jujur saja Shikamaru tau kalau Shina ini anak Naruto dari istrinya, Ino bercerita pada nya soal kehamilan Sakura dengan seorang pria bernama Naruto.
Ia tau Sakura dekat dengan Naruto melebihi kata teman atau kenalan maka tidak heran jika Sakura sampai kebobolan.
Shikamaru mengenal Sakura karena wanita itu sahabat istri nya, sedangkan Shikamaru mengenal Naruto saat dia dipromosikan naik jabatan sehingga dia dipindahkan dari kantor cabang Namikaze Corp yang ada di Okinawa ke perusahaan induk yang ada di Tokyo ini yang dikelola oleh Naruto, jadi mereka berdua dekat.
Shikamaru juga tau bahwa Sakura dan Naruto punya hubungan semacam itu tapi dia tak mau ambil pusing atau pun ikut campur. Hanya sekedar tau.
Ini bukan urusannya jelas dia tak perlu repot-repot masuk kedalam masalah itu kan?
.
.
.
.
"Jadi begitu?"
Karin nampak memegang dagu nya memasang pose berfikir sedangkan Naruto mengangguk lemas.
PLETAK!
"Kau jelas-jelas keterlaluan bodoh! Kurang ajar sekali kau ini!" Karin memukul kepala sepupu pirangnya itu dengan keras sedangkan Naruto nampak mengelus kepala nya sambil meringis. kesal sekali ia mendengar penjelasan Naruto.
"Iya aku tau aku kurang ajar, tapi kan bukan berarti aku harus di jauh kan dengan putra ku sendiri." bela nya yang hanya ditanggapi dengan picingan tajam dari Karin.
Sebagai seorang wanita. Jelas Karin kesal mendengar nya. Pria ini benar-benar merendahkan harga diri seorang wanita baik hati seperti Sakura.
"Itu pantas untuk mu bodoh! Kau merendahkan harga diri nya, sudah pasti dia kecewa bahkan sakit hati. Jika kau tidak siap menerima kenyataan itu, kau kan bisa bicara baik-baik! Lagi pula kau menolak Shina mentah-mentah jadi ini pantas kau dapat kan! Untuk apa sekarang kau meminta hak atas anak yang sudah kau tolak?" Sungguh amarah nya tersulut kali ini.
Karin sekarang yakin bahwa rumor Naruto itu bodoh ternyata benar ada nya. Sepupu nya ini bodoh dalam hal apapun kecuali pekerjaan.
"Iya itu kan karena aku pikir dia berbohong, aku sudah menjelaskan itu Karin" jawab Naruto kesal,ia masih bersikukuh bahwa apa yang ia lakukan tidak sepenuh nya salah.
"Iya aku paham sebagai seorang workaholic seperti mu yang tidak memikirkan kehidupan rumah tangga jelas yang seperti ini kau anggap ancaman, baiklah aku paham. Saat itu kau masih muda, masih 22 tahun dan menjabat title sebagai seorang pengusaha muda sukses dengan segudang prestasi kemudian saat kau masih meniti karir seperti itu tiba-tiba kau dapat kabar bahwa gadis yang kau kencani tiap malam itu hamil dan karena reputasi mu yang sedang menjulang tinggi bak dewa itu membuat mu berfikir bahwa Sakura hanya ingin kekayaan mu, kepopuleranmu. Begitu?" Penuturan panjang lebar Karin dijawab dengan anggukan kecil Naruto.
Shappire nya tengah sibuk mengamati wajah Shina dalam foto lekat-lekat.
"Dan sekarang kau menyesal?"
"Sangat." jawab Naruto cepat.
"Andai saja saat ia melahirkan dulu aku diberi kesempatan untuk melihat Shina, mungkin saat itu juga aku akan menikahinya. Tapi sayangnya dokter itu langsung membawa Shina untuk dimandikan dan keluarga Sakura seperti tak mengizin kan ku berlama-lama, ayahnya langsung meminta ku tanda tangan surat pernyataan untuk akta kelahiran dan setelah itu aku langsung pulang. Aku tidak tau rupa Shina seperti apa saat itu. Lagipula mereka tak membuktikan apapun seperti tes DNA dan lain nya. itu membuatku semakin yakin bahwa mereka hanya main-main." Ada raut kesedihan disana.
"Itu karna mereka sudah terlanjur kecewa bodoh!" Karin mendecak geram.
"Tapi justru dengan begitu malah membuat ku makin berfikir kalau anak itu memang bukan anak ku. Mungkin saja anak itu mirip ayah yang sebenarnya sehingga mereka akan malu kalau terus-terusan mengejarku dan ku pikir Sakura sudah menikah dengan ayah Shina yang sebenarnya. Tapi melihat Shina mirip sekali dengan ku membuatku yakin dia anak ku. Sungguh Karin, kalau aku diberi kesempatan ke 2 aku akan mengajak nya menikah segera." Naruto mengatakannya dengan sungguh-sungguh, apapun demi Shina akan ia lakukan.
Sekarang Karin tau, disisi lain, apa yang dilakukan Naruto itu benar-benar kesalahan fatal tapi menghukumnya dengan seperti ini sedikit keterlaluan menurutnya bahkan sampai mengatakan bahwa Naruto sudah 'tiada'.
Seketika ia setuju dengan apa yang Naruto pikirkan. Ini semua kesalah pahaman. Dan atas kesalahpahaman ini membuat bocah polos tak tau apa-apa menjadi korbannya.
"Aku rasa kau perlu bicara padanya. Bicara lah baik-baik pada nya, Kau harus sadar diri bahwa posisi mu kini adalah yang bersalah." Saran Karin sambil bangkit dari posisinya duduk di sofa.
"Aku tau.. aku akan berbicara dengannya." Naruto ikut bangkit dari posisi nya kembali mengambil kunci mobil yang sempat ia letakan diatas meja saat Shina memeluk nya.
.
.
.
.
"Itu bibi Karin!" Shina berteriak semangat menunjuk ke direksi pintu masuk kantin membuat Shikamaru mengikuti arah tunjukannya.
Seorang wanita dengan dress warna ungu muda sedang menghampiri mereka.
"Loh? Kenapa Shina bersama mu? Kemana office boy itu?" Tanya Karin sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
"Aku yang menyuruh nya pergi." Jawab Shikamaru, yang kemudian dijawab dengan anggukan paham Karin.
Karin tau Shikamaru itu suami Ino, rekan bisnis nya dibutik selain Sakura.
"Ahh terimakasih kalau begitu, maaf ya sudah merepotkanmu." Karin sedikit membungkuk memberi ucapan terimakasih.
"Tidak masalah, aku hanya heran kenapa dia ada disini, ibu nya pasti mencari nya" jawab Shikamaru sambil melirik Shina yang sekarang tengah menyedot susu kotak nya.
"Ah iya, aku akan mengantarkan nya pulang nanti, sekarang aku masih ada urusan dengannya, Kalau begitu kami pamit." Ucap nya lagi yang kemudian dijawab dengan anggukan pelan dari Shikamaru.
'Seperti nya mereka sudah tau.' Gumam Shikamaru dalam hati sambil Memperhatikan Karin dan Shina yang menghampiri meja kasir.
"Kita mau kemana?" Tanya shina begitu mereka keluar gedung menghampiri mobil merah Karin.
"Bertemu Nenek mu." Jawab karin santai sambil membuka kan pintu untuk Shina.
"Nenek? Nenek Mebuki?" Tanya Shina heran, apa mereka akan pulang?
"Bukan.. Nenek mu yang lain. Nenek Kushina."
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
tunggu dulu*
Naruto : kenapa sih sikap ku kurang ajar -_-
Seri : ya kan emang gitu naru di ceritanya, profesional dikit dong!_-
Karin : hei! aku kurang keras nabok bocah bodoh itu!
Sakura : biar aku aja yg nabok! *shannaroo*
Naruto : ga disini ga di scene aku selalu aja kena_-
Other cast : loh? aku belum keluar nih?
Naruto : eh? sapa lu?! *natap sengit*
Other cast : aku it- *dibungkam seri*
seri : udah diem! jangan berisik deh biar readers aja yg nebak2 kamu itu siapa_- *pada diem*
kabuto : turun derajat gua jadi OB_-
.
.
.
.
Review nya minna?:")
kaya nya ffn nya aku eror deh masa review yg harusnya udh masuk dari kemaren eh baru muncul sekarang padahal tanggal nya udh 2 hari yg lalu. kesel aku:"v btw maafkan atas typo dan EYD yg berantakan:") percayalah meskipun aku udh menyunting ampe belasan kali ttp ada aja typo yg lolos:")
dan juga aku sepakat mengganti judulnya karna menurut temen ku judul yg dulu kurang tepat:"v
14 mei 2019 - seriello