Pain

Chapter 4

"Mikuo... Apakah ini bukan mimpi?", tanya Miku masih takut untuk mengira ini mimpi.

Mikuo melepaskan pelukannya. "Sudah mencubit pipimu sendiri kan? Bagaimana rasanya?", tanya Mikuo sambil tersenyum.

"Sa-sakit..."

Mikuo memeluk Miku lagi. "Kau tidak sedang bermimpi, Hatsune Miku..", kata Mikuo.

Miku menangis..

"Hei-hei.. Kau tidak suka aku bisa seperti ini ya?", tanya Mikuo.

Miku menggeleng. "Bukan begitu. Hanya saja, ini mengejutkanku. Dan membuatku sangat bahagia. Apakah kamu tidak merasa pusing lagi untuk berjalan?", tanya Miku.

Mikuo menggeleng. "Bahkan untuk beraktifitas, aku tidak merasakan pusing lagi. Hahaha", jawab Mikuo.

"Benarkah? Sebaiknya kita cek ke dokter saja ya..", kata Miku lagi.

Mikuo langsung menjawab, "Ja-jangan! Aku tidak apa-apa, sungguh! Kau sudah melihat perubahan yang baik ini kan? Tidak perlu ke dokter. Hahaha'".

Miku sedikit merasa aneh. Namun memang benar, Mikuo seperti sudah membaik.

"Kenapa bisa..."

"Mungkin karena selalu rutin meminum obat? Dan makan serta istirahat cukup? Hahah", kata Mikuo..

"Oh ya Miku.. Maafkan aku untuk yang kemarin malam.. Aku.. Sungguh menyesal..", kata Mikuo sambil menundukkan kepalanya.

Miku menggeleng sambil memeluk Mikuo lebih erat. "Tidak. Aku yang salah.. Maafkan aku yang terlalu sering bekerja keras ya.. Maaf..", balas Miku.

Mereka berpelukan semakin erat lagi.

"Aku bahagia sekali Mikuo.. Mikuo yang dulu.. Telah kembali lagi, di depanku..", kata Miku sambil menangis bahagia.

"Separah itu ya aku berubah? Hahaha. Maafkan aku ya..", balas Mikuo sambil menghapus air mata Miku.

"Yang penting adalah aku yang sekarang disini.. Di depanmu, Hatsune Miku..", kata Mikuo lagi.

Miku mengangguk. "Yaa.. Aku sangat bahagia, Mikuo.."

Dan tiba-tiba, Mikuo mencium Miku.

Miku kaget dengan apa yang dilakukan oleh saudara kembar sekaligus pacarnya ini, walau sebenarnya dia senang luar biasa.

Setelah merasa kekurangan oksigen, Mikuo melepaskan ciuman itu..

"Mi..Mikuo...", dan muka Miku sudah menjadi semerah tomat.

"Hahahah. Biar ciuman pertamamu tidak direbut oleh siapapun kecuali aku..", kata Mikuo.

"Baka.."

"Memang.."

Dan mereka tertawa bersama. Menikmati moment-moment bahagia itu.

Tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

..

Mikuo POV

Setelah menerima obat dari Piko, aku benar-benar merasa sehat. Obat ini sangat membantuku, walau memberi efek samping yang menyakitkan.

Flashback

"Obat ini akan membuatmu tidak pusing dan dapat beraktifitas kembali. Tetapi, setelah selesai beraktifitas, tubuhmu mungkin akan merasa dua kali lebih sakit dan pusing daripada biasanya. Juga.. Mikuo, apa kau yakin? Kurasa obat ini mempunyai efek samping lebih dari itu...", kata Piko lemas.

"Tenanglah. Berikan saja aku satu. Untuk meminta maaf pada gadisku..", kataku.

"Tidak bisa. Minimal kau membelinya 10 tablet, karena sudah begitu sejak dalam kemasan. Bahaya sekali jika kau sampai meminum semuanya..", tambah Piko.

"Argh sudahlah, berikan saja! Percayalah, aku tidak apa-apa. Kalaupun mati, itu karena penyakit sialan ini, bodoh!", jawabku kasar.

Piko menghela nafas dan memberikan obat itu padaku akhirnya.

"Baiklah-baiklah.. Jaga dirimu baik-baik ya Mikuo.. Jangan kecewakan gadismu itu!", kata Piko.

"Beres. Terima kasih banyak!"

Flashback end

Dan efek negatif dari obat itu. Terasa sekali sekarang..

Badanku merasa lebih lemas dari biasanya. Dan kepalaku juga dua kali lipat lebih pusing dari biasanya. Padahal hari ini aku tidak melakukan banyak aktifitas, tetapi sudah begini. Sungguh merepotkan..

Untung saja ini terjadi ketika Miku sudah tidur, dia pasti tidak akan curiga.

Tidak apa-apa lah, hal ini juga kulakukan untuk Miku. Aku jamin, dia pasti sangat lega dengan kondisiku yang sekarang.

Kulakukan semua ini.. Demi Miku..

..

- Morning Time -

Pagi-pagi sekali setelah aku bangun, aku langsung meminum obat itu lagi. Setelah beberapa saat, aku merasa lebih sehat dan aku segera berdiri.

Setidaknya.. Hari ini aku ingin memberi kejutan untuk Miku.

Karena biasanya Miku pagi-pagi sekali membuat sarapan, kali ini aku yang bangun lebih pagi akan buatkan sarapan untuknya.

"Ohayooou..", kata seseorang dengan nada masih mengantuk.

"Ohayou, oujo sama!", balasku sambil tersenyum.

"Mi-Mikuo! Apa yang kau lakukann?"

"Eh? Memasak? Tidak boleh ya?"

"Bagaimana dengan tubuhmu?"

Aku mendekatinya sambil tersenyum. "Kau lupa ya? Aku kan sudah sehat...", dan aku mengacak-acak rambutnya itu.

"Ah.. Iya aku lupa.. Hahaha"

Aku tersenyum melihat tingkahnya itu.

"Hei masakanmu jangan ditinggal begitu!", katanya tiba-tiba.

"Eh! Baiklah-baiklah.. Salahkan wajah cantikmu yang menyita perhatianku~", aku sedikit menggodanya.

Miku menggembungkan pipinya, dan kemudian dia menuju ke kamar mandi.

Setelah selesai memasak, aku langsung menyiapkan semuanya. Sepertinya ini akan jadi sarapan paling spesial untuk kami berdua..

"Masakanmu enak kan, Mikuo?", tanya Miku sambil berpura-pura ragu.

"Tidak enak, tidak usah dimakan~", balasku menggodanya.

Kami pun tertawa kemudian.

"Sudah lama sekali aku merindukan moment seperti ini..", kata Miku.

"Yaah.. Aku juga..", jawabku.

"Benar kan kata-kataku? Kau pasti sembuh Mikuo!", katanya senang. Aku hanya diam, dan membalasnya dengan senyumku.

Kau tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, Hatsune Miku..

"Sebentar lagi aku akan berangkat kerja..", kata Miku melirik jam.

"Tidak usah.. Aku sudah sehat. Tidak butuh obat lagi..", kataku.

"Tapi Mikuo.."

Aku berjalan kearahnya dan memeluknya. "Aku mohon.. Jangan tinggalkan aku.."

Jangan tinggalkan aku Miku! Waktuku tidak banyak!

Miku melihatku heran. Tetapi dia juga bingung apakah harus bekerja atau tidak.

"Mi-Mikuo.."

"Aku berjanji akan menuruti permintaanmu, yang penting jangan tinggalkan aku lagi! Aku akan mencari pekerjaan, jadi kau tidak perlu bekerja!"

Miku terdiam sebentar. Lalu tersenyum..

"Baiklah.. Apapun untukmu.."

Aku tersenyum lega.

"Terima kasih.."

"Tapi berjanjilah padaku.."

"Apa?

"Aku akan membawamu ke taman, dan tidak ada alasan menolak seperti biasanya!", kata Miku.

Aku tertawa, dan mengacak-acak rambutnya yang menjadi hobiku. "Baiklah.. Baiklah, apapun untukmu, tuan putri.."

Dan berkat hal itu, Miku tidak jadi pergi.

To be continued (almost finish)

Keep reading and review please :D thanks!