I'M BACK!

Finally after a long way of –mostly like- hell, which in this case, refers to Examination month.

Well, I haven't work on this chapter lately because I have to face school examination rite after I finished my Cambridge International Examination.

But please don't be sad [or not?]

I'm working on this fic again :D

And for those whose been asking me about the previous chapter: well yes it's flashback

Again, im telling you

I DO NOT OWN ANY VOCALOID CHARACTERS


Kejujuran

Len memegangi dadanya sambil mencoba menarik udara sebanyak-banyaknya setelah berlari cukup jauh, siapa yang mengira Miku, gadis yang ia kenal tak pernah hadir saat jam pelajaran olahraga bias berlari secepat itu dan menghilang dari pandangannya.

Len memandangi siluet wanita dihadapannya, wanita itu menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Miku, kenapa kau lari?"

Miku hanya diam, tak merespon. Len menggaruk lehernya canggung.

Apa dia menangis? Kenapa? Seharusnya mala mini menjadi malam yang indah bagi kami berdua, atau setidaknya bagiku, tapi melihat dia menangis seperti ini…

Len terdiam dalam benaknya.

Oh, kumohon tidak. Tidak dengan apa yang kupikirkan… tidak mungkin dia membenciku, kan?

"Miku…"

Len berjalan mendekati sosok miku yang kini berjongkok, membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Pria berambut kuning keemasan itu berjongkok, lalu mendekatkan wajahnya. "..Kau menangis?"

Lagi-lagi tak ada jawaban dari Miku. Hal ini membuat Len semakin penasaran, alisnya berkerut.

"Miku, dengar! Aku.. aku minta maaf jika aku sudah berkata salah, atau mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang menakutimu, atau mungkin sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu telah mengusikmu…"

Len menarik nafas panjang sambil menatap langit-langit dengan mata terpejam. Mungkin inilah saatnya…

"Aku minta maaf, aku tak bermaksud melakukannya. Kumohon jangan benci aku dan jangan lari lagi…"

Ayo, Len! Katakan sekarang atau tidak sama sekali…

"…aku… aku…" Len memejamkan matanya, merasa sulit untuk membiarkan sebuah kalimat terucap dari mulutnya. Tuhan, kenapa lidah ini sulit sekali rasanya untuk mengucapkan sebuah pernyataan…

"Aku mencintaimu… Len"

Janji

"Aku minta maaf, aku tak bermaksud melakukannya. Kumohon jangan benci aku dan jangan lari lagi…"

Tidak Len, aku sama sekali tak membencimu… Bahkan tak pernah terbersit akan membencimu, aku tak bisa membencimu bagaimanapun caranya…

"…aku… aku…"

"Aku mencintaimu… Len" Miku mengangkat kepalanya, membiarkan Len menatap wajahnya yang basah akibat airmata, membiarkan pria berambut kuning emas itu menatapnya dengan tatapan terkejut. "Sejak dulu, aku mencintaimu…"

"Aku bahkan berpikir aku ini seorang maniak setiap kali aku bersikap aneh jika menyangkut dirimu, aku… aku mencintaimu Len, aku tak bisa berhenti dan sampai sekarang… walaupun 5 tahun sudah berlalu, perasaan itu… tak pernah sekalipun berubah… tak.. pernah…"

Miku menatap kedua mata Len yang terlihat masih dalam keterkejutan.

"dan kau tak tahu betapa sedihnya aku saat tahu kau pindah ke Amerika, meneruskan studimu disana, meninggalkan aku …. Bahkan kau tak mengucapkan selamat tinggal padaku… tak sekalipun… aku mendengar kabar darimu…"

"Kau curang, Len! Satu-satunya alasan aku membencimu… karena kau membuatku seperti ini, membuatku.. gila… tak karuan… "

Len melebarkan kedua tangannya, meraih tubuh Miku dan menariknya dalam pelukan, membiarkan gadis itu bersandar pada dadanya. "Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku, Miku!"

"aku, aku berjanji… aku tak akan meninggalkanmu lagi. Aku tak akan pergi tanpa sepengetahuanmu, aku tak akan membuatmu sedih lagi. Aku janji, Miku…"

Miku menutup matanya, tersenyum dan membalas pelukan Len. Membiarkan tangisnya tumpah di dada Len.

"Aku mencintaimu, Miku… "

Len membenamkan kepalanya di pundak Miku dan membiarkan rasa nyaman menjalar dalam tubuhnya.

Sudah sejak lama ia menunggu saat-saat seperti ini, menanti sepanjang tahun menunggu entah kapan pastinya ia bisa memeluk gadis yang dicintainya, cinta pertamanya, gadis yang sudah mengacak-acak perasaannya.

Len tersenyum, melepaskan pelukannya dan menatap lurus kedua mata biru milik Miku.

"aku mencintaimu Miku…" ucap Len pelan saat menempelkan bibirnya pada bibir miku

Mabuk

Len melepaskan ciumannya saat beberapa saat, dan mulai kehabisan nafas. Ia tersenyum pelan sambil menncoba mengeringkan liur yang membasahi dagunya. "Kurasa sekarang aku seperti seorang pemakai obat-obatan…"

Len tertawa kecil sambil mendekati bibirnya sekali lagi ke arah bibir Miku, "Aku tak bisa berhenti menciummu, Miku"

Miku mencengkram kemeja Len saat merasakan lidah Len bergerak liar dalam mulutnya, menari-nari memainkan lidahnya. Miku memejamkan matanya, membiarkan Len menciumnya.

"Le…Len…" Ucap Miku terengah-engah saat mereka beristirahat, mencoba bernafas.

Len diam, menarik Miku dalam pelukannya dan menciumi leher wanita itu. Miku membalas pelukannya, membenamkan kepalanya dipundak Len, merasakan segar aroma parfum pria itu.

"Len… perasaan apa ini?"

Len menatap Miku bingung.

"Kenapa… setiap aku mencium wangi tubuhmu… aku merasa seperti…" Miku menunduk, tak mampu meneruskan kata-katanya. Wajahnya kini memerah, cukup jelas terlihat bagi Len untuk menebak apa yang ingin dikatakannya.

Pria itu tersenyum lalu berdiri. "Ayo, Miku. Aku tak ingin membiarkanmu sakit karena angin malam"

"Ada apa, Rin?"

Rin menoleh ke arah suara berasal, suara itu milik seorang pria berambut ungu panjang yang kini tengah tertawa sambil menuang minuman ke gelasnya. Rin menggeleng pelan.

"Aku hanya ingin tahu, kemana Len dan Miku. Mereka belum kembali sejak tadi…"

Rinta menepuk pundak wanita yang duduk disebelahnya, "Biarkan saja, mereka butuh waktu untuk meluapkan rasa rindu setelah 5 tahun berpisah"

"Mereka sudah dewasa, Rin. Biarkan saja, mereka bisa menjaga diri mereka sendiri" ucap Meiko menambahkan. Rin menghela nafas perlahan, ia tersenyum lalu meraih sebuah gelas dihadapannya. "Kurasa kalian benar. Aku bahkan lupa saudaraku sudah dewasa, tak lagi membutuhkan bantuanku untuk mendekati gadis yang dicintainya"

"Aku tak yakin mereka akan baik-baik saja…"

Semua mata tertuju pada Luka, gadis berambut pink itu terlihat khawatir menatap botol minuman kosong dihadapannya. "Len dalam keadaan mabuk" ucapnya lirih sambil menunjukan label botol kosong dengan kadar alcohol yang cukup tinggi tertera disana.


Im so sorry if i used some bad words, or words that doesn't even exist in Indonesian's vocabulary.

And i'm welcoming ur review. I'll thank everybody who can gim'me some critics. Every reviews are welcomed.

I'll continue this story though, but the story may change due to ur review :D