Chapter 4
Hallo minna-san kembali lagi dengan author baru disini :D
Datang dengan lanjutan pic sebelumnya...
Terimakasih yang sudah setia menunggu kelanjutannya :D
Sahabat authornya baru ngelanjutin sih karena banyak kegiatan disekolah maklum sudah kelas 3 :(
Oke... oke tanpa basa basi lagi langsung baca saja :D
.
.
.
Dulu, yang menjadi kecambuk dalam hati Naruto itu adaalah bagaimana cara ia emberitahu ayah dan ibunya kalau ia menyukai Hinata. Dan setelah kecambuk itu mereda, ia kita tidak aka nada lagi hal-hal membingungkan yang akan dia pikirkan.
Tapi nyatanya, semua asumsinya itu salah. Ia kembali dihadapkan pada beragam masalah yang seolah menghimpitnya dari segala arah.
Hubungannya masih dengan orang yang sama. Hinata. Bukannya dia tidak mau dipusingkan dengan masalah mantan pacarnya itu, hanya saja masalah kali ini begitu pelik dan memeras otaknya. Naruto tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Hinata tahu tentang semua laporan yang diberikn Konohamaru.
Ketua muda ini menghela nafas panjang. Selama hampir satu jam lebih Naruto duduk bersandar dikursi meja kerja ayahnya. Otaknya berusaha ia putar sekeras mungkin supaya dia bisa menemukan carauntuk menyelesaikan masalah ini.
Mata birunya kini kembali menelusuri kertas demi kertasyang tercecer dimejanya. Kertas-kertas ini menunjukan berbagai hipotesis yang dibuat berdasarkan bukti yag mereka dapatkan. Dan semuanya menunjuk pada aah Shion.
Tentang bagaimana kronologi kejadian, rekening pembayaran yang mencurigakan. Serta beberapa percakapan ayah Shiondengan seseorng yang mencurigakan. Itu semua Naruto akui masuk akal, bahkan tidak ada kejanggalan.
Namun, itu semua justru membingungkan bagi Naruto, bukan tentang siapa dan bagaimana pembunuhan itu berlangsung, tapi bagaimana dia bisa memberitahukan Hinta tentng semua ini.
Pandangan Naruto beralih pada sebua kotak beerisi sebuah peluru senjata api. Sebuah peluru runcing yang mempunyai sedikit ukiran unik dipangkalnya. Peuru ini ia dapatkan dari seorang dokter yang mengotopsi jasad Hiasi. Awanya dia ingin memberikan pelurunya pada Hinata, namun Naruto urungkan saat melihat ukiran tersebut. instingnya mengatakan kalau ukiran itu akan menuntunnya pada sesuat yang benar.
Tok... tok... Tok...
Naruto menyerengit mendengar ketukan pintu tersebebut. Dai seolah mendnegar keraguan diketukan iu.
"Masuk" ucap Naruto juga ikut ragu.
Perlahan-lahan pintu kayu itu terbka, hingga sebuah kepala menyembul dari sana, Hinata.
"Kau sibuk?" ucapnya pelan dan serak khas bangun tidur.
Menyadari istrinya sudah bangun, Naruto segera keluar dari dalam ruangannya.
"Kenapa tidak tunggu dikamar saja?" kata Naruto sambil menghampiri Hinata yang masih kukuh berdiri didepan pintu.
"Aku bosan dikamar, terlebih aku tidak bersamamu"
Naruto tersenyum lembut, Hinatanya kembali. Tidak seperti gadis yang kemarin siang sibuk menjungkitbalikan perasaannya, tapi kembali menjadi gadis manis yang lembut.
Naruto membawa sang istri keruang tengah, sekilas ia melihat ibunya melempar senyum kearah mereka.
"Setidaknya kau panggil saja aku, tidak perlu keluar kamar segala" ucapnya setelah mereka duduk disofa. Berhimpitan dengan Naruto yang berusaha merengkuh tubuh Hinata untuk lebih dekat.
"Aku itu sudah sembuh Naruto 100% sudah sembuh"
Pria yag memeluknya ini terkekeh, lalu menangkap kedua belah pipi Hinata yang sukses memebuat wajah sang istri berhadapan dengan wajahnya. Diperhatikannya lekat-lekat dua mata bulan itu dengan seksama. Lalu turun pada hidung sang wanita yang sedikit berwarna merah diujungnya dan berakhir pada kedua belah bibir tipis nan pucat istrinya. Sipria tan itu menghela nafas dalam. Dilihat dari manapun istrinya ini masih sakit.
"Istirahatlah, aku tak mau kau tambah sakit"
"Tapi aku sudah sembuh"
"Aku bilang istirahat. Istirahat bukan hanya untuk orang sakit"
Hinata menggembungkan pipinya. Itu cara baru Hinata merujuk. Namun itu semua tidak mempan karena Naruto barusaha dengan kuat supaya tidak melihatnya.
"Baiklah aku akan kembali kekamar. Aal dengan satu pertanyaan"
"Apa?"
"Apa kau sudah menemukan siapa orang yang membunuh ayahku?"
Deg…..
Mata Hinata seolah menusuknya saat ia bertanya. Ini, ini yang Naruto takutkan, berhadapan dengan mata ini yang sangat Naruto takutkan.
Apapun bisa ia hadapi, dari 100 pembunuh atau 1000 penembak jitu bisa Naruto hadapi, tapi dengan tatapan menusuk dari istrinya Naruto bisa langsung terkapar tidak berdaya. Ia tidak dapat menghindar atau berbohong jika sudah dihadapkan oleh mata indah itu.
"Aku…." Tapi seolah ada sebongkah batu besar yang menyumbat kerongkongannya hinga ia tidak bisamengungkapkan beribu alasan yang telah ia susun didalam benaknya.
"Naruto kantormu menelpon!"
Ingatkan Naruto untuk berterimakasih pada ibunya nanti.
"Sebentar"
Hinata yag ditinggal hanya bisa mengangguk patuh.
Lama Naruto tidak datang dan kembali saat Hinata sudah hampir menyusul. Naruto datang dengan stelan kerjanya dan bisa ia pastikan kalau suaminya akan meninggalkannya kerja. Baru sempat Naruto membukan mulutnya Hinata sudah bicara duluan.
"Tidak usah bilang, akau tahu kau akan berangkat kerja. Jadi hati-hati" ucapnya lalu mengecup pipi kanan Naruto kilat.
Naruto kembali tersenyum
"Aku tidak akan lama"
Dan seperti biasanya Naruto pergi setelah mengecup kening istrinya.
Setelah melihat mobil Naruto hilang dari penlihatannya, tak lantas membuat Hinata masuk kerumah. Dia masih terpaku pada jalan dihadapannya walau nyatanya pikiran Hinata tidak berada disana.
Ada sesuatu yang aneh dengan Naruto, dan Hinata menyadari gelagat itu. Seperti sedang menyembunyukan sesuatu dari tadi naruto selalu seolah menghindari kontak mata dengannya. Lalu ingatan Hinata kembali pada pertemuannya dengn shion kemarin dan mau tidak mau hatinya pnas sendiri.
"Ibu aku akan kembali kerumah."
.
.
.
Nampaknya Hinata harus mengucapkan beribu maaf pada Ibu Naruto nanti, karena ia tidak benar-benar kembali kerumahnya. Tapi membuntuti Naruto dikantornya.
Ia hanya tidak mau Naruto bertemu lagi dengan wanita itu.
Hey, Hinata istri Naruto wajarkan kalau dia cemburu?
Sudah hampir 2 jam Hinata menunggu Naruto didepan kantornya. Tapi tidak ada tanda-tanda suaminya keluar dari dalam sana. Hingga seorang yang dia kenal sebagai Konohamaru keluar dari sana dan tidak lama Narutopun menyusul. Dengan sigap Hinata mengikuti mobil yang mereka tumpangi dengan mobil yang ia pinjam dari kakaknya.
Mobil itu mengarah menuju sebuah restoran tak jauh darisna. Naruto dan Konohamaru tampak sedang menunggu seseorang. Dalam hati Hinata was-was sendiri, khawatir kalau yang mereka tunggu adalah Shion.
Namun sampai 1 jam lamanya tidak ada satu orangpun yang menghampiri mereka. Dan semua itu berakhir saat keduanya beranjak meninggalkan meja yang tadi mereka tempati. Tentu saja Hinata juga ikut bangkit, namun saat berdiri tegak tiba-tiba kepalanya terasa diputar-putar belum lagi sesuatu didalam prutnyaterasa membuncah merengsek ingin keluar.
Buru-buru Hinata menuju toilet untuk memuntahkan semua isi perutnya. Tapi yang keluar hanya sebatas cairan bening, dan itu hanya membuat perutnya makin mual saja.
Setelah selesai dengan urusan perutnya, buru-buru Hinata menuju lahan parkir cukup luas untuk memastikan kalau mobil Naruto belum beranjak. Namun sialnya permohonan Hinata tidak terkabul.
Dia kehilanagn jejak Naruto.
.
.
.
Naruto datang dengan lebam-lebam dipipinya. Entahapa yang lelaki itu akukan sebelum menginjakan kaki kerumahnya, karena yang jelas Hinata tidak mau bertanya langsung pada suaminya itu, karena percayalah seorang Naruto dalam mood buruk itu sangat menyebalkan dan sedikit menyeramkan.
Sebelumnya Hinata ingin memberi kejutan pada Naruto, sebuah kabar bahagia untuk mereka. Namun melihat keadaan suaminya yang seperti ii ia putuskan untuk meundanya.
Sebenarnya Hianta sedikit khawatirmelihat Narutoyngnampak sangat frustasi. Tapi sekali lagi ia tidak mau ikut campur dengan apa yang Naruto alami. Mungkin masalah dikantor, pikirnya. Sedangkan Naruto sendiri tidak tahu harus bagaimana. Pikirannya makin kacau saja setelah pertemuannya yang hampir batal dengan salah satu kepercayaan Tuan Shiroshima.
Yang ujungnya berakhir dengan baku hantam dengan orang tersebut karena NAruto merasadipermainkan dan diremehkan oleh mereka. Tak terasa emosinya dia bawa hingga kerumah dan berimbas pada Hinata yang dia acuhkan. Bahkan istrinya menawarkan diri untuk mengobati lukanya.
Kini dia berada diruang kerjanya berusaha melepas segala emosinya pada apapun barang dihadapannya. Persetan dengan segala berkas-berkas kerjanya yang berhamburan.
Lelaki dengan usia kepala dua itu menghela nafas kasar. Dia mulai menetralisir segala bentuk kemarahan dalam hatinya dan dia baru ingat satu poin penting untuk meredakan emosinya. Hinata, dia butuh wanita itu.
Kaki-kakinya membawa lelaki itu keluar ruang kerjanya, dan menemukan sang pujaan hati yang hampir terlelap diatas meja makan dengan berbagai makanan yang hampir dingin.
Naruto tersenyum lembut. Lihatkan khasiat Hinata jauh lebih menennagkan dari sake paing mahal sekalipun. Karena dengan melihat gadis itu tidurpun ia sudah tenang kembali. Dengan tanpa beban Naruto menghampiri Hinata lalu memindahkan istrinya itu kekamar mereka dengan hati-hati. Hinata itu ringan hingga dengan mudahnya menggendong istrinya tersebut.
Namun belum sempat mereka sampai tujuan Hinata sudah bangun.
"Naruto?" ucapnya serak.
"Tidurlah lagi, sebentar lagi kita sampai"
Bukannya mengikuti perintah Naruto, Hinata malah tersenyum lalu membawa tangannya kearah luka disudut bibir Naruto mengusapnya penuh sayang.
"Kau itu kenapa sih?"
Sang suami tidak menjawab pertanyaan istrinya. Ia hanya focus membarngkan Hinata diranjang mereka, lalu ikut naik dan berakhir dengan ia yang berlabuh dipelukan istrinya. Masih dengan perasaab gamang Hinata hanya bisa mengusap rambut Naruto yang masih mendekpnya, membiarkan sang suami tenang dalam pelukannya.
"Apapun yang terjadi kuyakin kau bisa menghadapinya Naruto" ucapnya setelah mengecup puncak kepala Naruto, untuk kemudian bangkit dari tidurnya menuju ruang meja Naruto, karena dia yakin kalau suaminya itu telah memporak porandakannya.
Benar saja, meja yang biasanya rapih kini sudah tidak berbentuk. Berantakan, bahkan kursinya sudah terjungkal. Hinata mulai meraih beberapa kertas yang berserakan rata-rata laporan kerja Naruto. Namun ada sebuah mapyang sedikit menarik perhatiannya karena berada dikolong meja.
Dan seperti mendapat sebuah hantaman keras dikepalanya, Hianta terduduk didepan map yang sudah ia buka. Map pemeriksaan tersangka pembunuhan ayahnya. Hampir 15 menit Hinata mencermati setiap baris yang tercetak dikertas yang awalnya ada didalam map tersebut. Namun selama itu pula yang dia dapatkan selalu sama.
Hingga tidak terasa iapun menangis dalam diam dengan tangannya yang bergetar Hnata meraba perut ratanya. Kandas sudah kebahagiaannya. Ia terlalu kecewa pada Naruto. Walaupun memang ia tahu ini begitu berat untuk Naruto mengakuinya. Tapi setidaknya ia harus tetap memberitahu Hinata tentang ini. bukan menyimpannya rapat-rapat.
Karena hal ini justru membuat pikiran Hinata berspekulasi macam-macam. Dan salah satu alibi paling kuat adalah karena ada nama Shion didalamnya hingga Naruto enggan memberitahu Hinata atau mungkin akan membuat kasus ini hilang ditelan bumi.
Ya, Shion. Apa karena wanita itu hingga Naruto tega membiarkan Hinata terlarut-larut dalam kebingungannya.
"Anakku, ada apa dengan ayahmu"
Tbc…..
Terimakasih yang sudah mereviw gomen tidak bisa menyebutkan satu persatu :D
sekali lagi arigato gozaimasu dari kami semua :D
