Yosha! Another boring chapter is out nodayo. Bila sakit berlanjut, hubungi dokter.
Chapter 4: Tsundere
"Jaa minna, sampai disini adakah yang belum dimengerti?"
Zenzen wakaranai. Aku tidak mengerti sama sekali.
Chizuru menghela nafas kesal pada pertanyaan polos Satou-sensei. Sambil menopang pipinya sendiri dengan telapak tangan, ia kembali mencatat rumus-rumus kimia yang sebenarnya sudah melekat di kepalanya sejak lama. Bahkan pelajaran favoritnya pun tidak membuatnya bersemangat hari ini. Ia benar-benar masih tidak mengerti bagaimana harus bersikap di depan Midorima setelah semuanya berbeda dari hari kemarin. Duduk tepat di samping pemuda itu selama kurang lebih lima jam juga tidak membantu sama sekali. Kadang ia harus mengambil sesuatu dari tasnya yang tergantung di kiri meja dan, bam! Chizuru tidak sengaja melihatnya. Kadang kalau tangan kirinya lelah menopang pipi bulatnya saat mendengarkan penjelasan sensei, ia harus bergantian dengan tangan kanannya lalu, bam! pandangan matanya yang condong ke kiri akan menangkap sosok pemuda itu lagi. Kalau saja semuanya tidak berakhir berantakan kemarin, pasti duduk di samping Midorima Shintarou masih merupakan berkah ketimbang kutukan baginya.
Setidaknya sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi, Chizuru sedikit bersemangat mengingat ia mungkin bisa menaikkan moodnya dengan makan siang. Ia bahkan melongok ke kolong mejanya untuk sekedar menyapa bekal milik—
—nya dan sebuah bekal lainnya.
Ha.
Sedetik kemudian bel istirahat makan siang berbunyi riuh, membuat gadis itu sontak duduk setegak tiang bendera. Midorima memperhatikan sikap aneh itu dari sudut matanya; semburat kemerahan di pipi bulat gadis itu memaksanya untuk menahan senyum geli. Seorang Midorima Shintarou tidak akan semudah itu terpancing untuk tersenyum. Tidak, dia adalah tsundere profesional tingkat ujian nasional.
Sambil mempertahankan nada dingin dalam suara baritonnya, ia menoleh pada gadis itu, "Ne, Hongo,"
Yang dipanggil malah tersentak pelan, memberanikan diri untuk menoleh, "A-aku?" tanya Chizuru sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Tentu saja, bodoh. Siapa lagi yang bernama Hongo di kelas ini nanodayo?"
"Aha..hahaha..ha iya ya, benar juga ya, ahaha..ha," kata Chizuru sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal; merutuk dalam hati atas tawa canggungnya yang kedengaran bodoh sekali.
"Itu—" Chizuru sontak menoleh pada sesuatu yang ditunjuk jari Midorima, "—stamina dishku bukan?"
"Eh?" hawa hangat kembali menyerang pipi gadis itu, "Ha..hahaha..yah, begitulah, ehehe bodohnya aku tidak mengabarimu dulu tadi pagi. Habis ponselku rusak hehe. M-mido-kun pasti...sudah membawa bekal sendiri ya?"
Midorima terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tidak."
"Eh?"
"Bu—bukannya aku menunggu bekal darimu atau apa nanodayo, aku hanya tahu saja kau pasti tidak akan lupa. La-lagipula sifat perfeksionis dari golongan darahmu 'kan—"
"Mido-kun,"
Midorima mendongak—setelah beberapa kali membetulkan letak kacamatanya untuk mengalihkan pandangannya—hanya untuk menemukan gadis di hadapannya tersenyum; jenis senyum yang mencapai mata beningnya.
Bagaimana bisa kau tersenyum seperti itu?
"Hai," ujar Chizuru sambil menyerahkan bekal hijaunya. Pandangan Midorima jatuh pada benda di tangan gadis itu.
"Hm." gumam pemuda itu sambil menerima stamina dishnya—sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan gadis di hadapannya. Lucu sekali mengingat bagaimana berterima kasih menjadi hal yang lebih sulit daripada melakukan tembakan tiga poin bagi seorang Midorima Shintarou. Pemuda itu bergeming; membuka mulutnya, "A..ariga—"
"Huwaaa apa ituu? Shin-chan mendapat bekal dari Chizuuu? Jahat sekalii, aku 'kan juga mau!" Takao melompat ke hadapan mereka entah darimana; membuat sisa murid yang masih berada di kelas menoleh pada mereka.
"Takao. Berisik nanodayo." hardik Midorima. Sementara gadis di sampingnya sedang memandangi seisi kelas dengan wajah sepanik tersangka pencopetan.
"Ano! Ini bukan seperti yang kalian pikirkan, bekalnya—maksudku, itu adalah asupan energi—bukan, maksudku, dulu aku biasa membuatnya untuk semua anggota reguler tim basket SMPku, m-mengerti 'kan? Ini—"
"Booodoh. Kenapa harus panik? Lihat, tidak ada yang peduli tuh," ejek Takao sambil menjitak dahi Chizuru—yang kemudian disambut oleh gembungan marah di pipi gadis itu. Midorima menggeleng pasrah pada pertengkaran harian dua makhluk di hadapannya. Sambil membawa bekal hijaunya, ia bangkit dari tempat duduk; berjalan keluar kelas menuju tempat ia biasa menghabiskan waktu istirahatnya. Dua kawannya mengekor cepat, masih dengan perseteruan mereka.
Semuanya terasa nyaris normal. Takao dan Chizuru bercekcok soal hal-hal sepele sementara Midorima senantiasa berjalan di belakang mereka; seperti seorang ayah dengan dua anaknya. Setelah keluar dari kerumunan kantin—Takao membeli beberapa buah roti isi untuk makan siangnya sedangkan dua lainnya membeli minuman—mereka menyeberangi taman sekolah menuju gedung ruangan klub. Semuanya berjalan seperti hari-hari biasanya, Midorima bahkan sesekali mencuri pandang pada Chizuru untuk melihat apakah semua benar-benar normal. Ia memikirkan gadis yang samasekali bungkam padanya selama lima jam terakhir tadi. Pemuda itu mendapati dirinya sendiri tersenyum tipis melihat semuanya baik-baik saja sekarang.
"Kemarin..." Takao memulai; membuat kedua sahabatnya menahan napas selama sedetik mendengar kata 'kemarin', "kau kemana?"
Chizuru berkedip, "Aku?"
"Aku pergi mencari kau dan Shin-chan, jadi para senpai pergi duluan. Kukira aku akan menemukanmu bersama Shin-chan, kau 'kan sedang mencarinya waktu itu, tapi yang kutemukan malah—"
"Oi, sudahlah." potong Midorima saat Takao mulai menahan tawa.
"Kenapa deh? Kau hanya tidak boleh mengaku menangis pada cewek, Shin-chan. Dia 'kan bukan cewek," Takao mengedikkan pundak pada Chizuru.
"Menangis?" Chizuru membelalak.
"TAKAO!"
"Ya ampuun, benar-benar kekalahan pertama ya?" Takao tertawa terbungkuk-bungkuk. Midorima mempercepat langkahnya, diikuti Chizuru yang masih bertanya-tanya.
Mereka memasuki ruang klub basket; Midorima selalu membawa kuncinya atas kepercayaan Pelatih Nakatani karena manajer tim shuutoku—orang yang harusnya membawa kuncinya—sering tenggelam dalam kesibukannya sebagai wakil ketua osis. Ruangan itu dipenuhi—selain trophy dan piala kejuaraan, tentunya—hangat cahaya matahari yang bersinar lewat kaca jendela di sepanjang sisi dinding. Pemandangan taman Shutoku terpapar dengan sangat baik dari jendela itu. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang, tempat Midorima meletakkan bekalnya. Chizuru menempati kursi lain di dekat deretan loker.
"Ano sa," kata Takao sambil menyandarkan kepala di ambang pintu dengan pandangan bosan—rupanya kehilangan semangat tertawanya. Dimulailah topik yang tidak bosan-bosannya ia utarakan tiap makan siang. "Aku serius deh soal tempat makan siang kita, harusnya kita makan siang di atap sekolah seperti yang ada di manga-manga."
"Sudah berapa kali kuberitahu," kata Midorima tak sabaran.
"Makan di atap bikin nasiku cepat dingin, sudahlah terima saja." tukas Chizuru sambil membuka bekalnya.
"Jangan merajuk soal hal-hal sepele seperti anak kecil, Takao." ujar Midorima dengan suara baritonnya saat point guard itu memanyunkan bibir.
Takao kalah suara. Selalu.
Sambil melangkah gontai ke kursi di sebelah Chizuru, Takao memilih kembali pada pembicaraannya yang sempat terpotong tadi. "Kemarin aku mau mengajakmu ke kedai okonomiyaki favoritmu untuk menghibur Shin-chan—" ujarnya pada Chizuru terpotong geraman Midorima—ia terkikik sebelum melanjutkan, "Kukira akan sepi tanpamu, tapi ternyata aku bertemu dengan point guard Kaijo yang pernah kutunjukkan padamu itu lho di majalah basket bu—"
"Khaiho?" tanya Chizuru dengan mulut penuh. "Bwerarti Khispcchi huga hada?"
"Ya, kami bertemu Kise juga nodayo," jawab Midorima. "Kuroko dan timnya juga ada disana lebih dulu daripada kami."
"Sial, aku melewatkan okonomiyaki dan saat-saat berharga reuni dengan Kisecchi dan Kuroko-kun," gumam Chizuru sebelum melahap penuh nasinya dengan sebal.
"Lagipula kau kemana sih semalam? Hujannya cukup deras lho," tanya Takao penasaran. Chizuru tersedak pelan; sumpit Midorima berhenti bergerak, mengudara beberapa senti di atas konomonnya; sementara Takao terus mengunyah roti isinya seperti tupai, tetap saja tidak peka.
"Ke-kemarin," kata Chizuru setelah berhasil menelan makanannya, "Kemarin aku bertemu sahabat kecilku di perjalanan pulang. Jadi, ya, begitulah."
"Hee? Siapfa? Didak pfnah cerida duh," tanya Takao di tengah kegiatan mengunyahannya.
"Murasakibara?" tebak sang ace Shutoku. Tanpa menunggu jawaban Chizuru, ia melanjutkan, "Bukannya dia sedang berada di Akita?"
"H-hai," Chizuru mengangguk pada Midorima, "Dia pulang ke Tokyo dengan senang hati karena ada urusan keluarga, Atsu-kun belum terlalu suka tinggal sendirian di apartemen rupanya. Dia bilang dia akan kembali ke Akita besok sore."
"Mura..Murasaki..raba?" Takao menyipitkan mata sambil memiringkan kepala; kebingungan melafalkan nama marga sepanjang itu.
"Mu-ra-sa-ki-ba-ra. Murasakibara Atsushi." kata Chizuru galak; disusul seruan Takao yang baru saja mengingat nama itu dalam salah satu majalah basket bulanan edisi lamanya. Chizuru mulai mencekcoki kebiasaan membaca majalah Takao yang mirip ibu-ibu rumah tangga, dan perseteruan pun lagi-lagi pecah.
Sementara itu, Midorima melanjutkan makannya dalam diam, memutuskan untuk menghiraukan keributan dua orang di hadapannya. Pikirannya terfokus nama itu. Nama orang yang merupakan kutub kebalikan dirinya dalam hal kedisiplinan. Midorima ingat di tahun keduanya di Teiko, ia sempat tidak akur mengenai berbagai hal dengan orang itu. Berbagai hal, salah satunya mengenai—
Chizuru tidak mengira akan mendapati iris hijau itu juga sedang menatapnya dari seberang meja saat ia tidak sengaja menoleh. Cepat-cepat ia mengalihkan pandang, menonyor wajah Takao yang diam-diam sedang mencomot bekalnya lalu kembali berseteru selama puluhan detik. Detak jantung gadis itu belum sepenuhnya normal saat ia memberanikan diri untuk mencuri pandang pada pemuda berkacamata di seberang meja.
Midorima Shintarou masih memandanginya.
"Tapi akui saja deh, aku keren banget 'kan waktu menggagalkan misdirection Kuroko waktu itu? Ya 'kaan? Iya 'kaan?"
Matahari masih menyinarkan sebagian besar jingganya di ufuk barat saat Midorima, Takao, dan Chizuru berjalan menuju tempat parkir sepeda. Hari ini tidak ada latihan basket sepulang sekolah jadi Takao bersikeras untuk mengajak dua kawannya makan ramen bersama di perjalanan pulang nanti. Si pemilik mata elang itu bahkan membujuk Midorima dengan berkata akan mengayuh 'kendaraan' mereka tanpa melakukan batu-gunting-kertas.
"Aku tetap lebih mendukung Kuroko-kun. Enyahlah, Bakao." kata Chizuru dengan datar sambil menyeret keluar sepeda gunung 'warisan' kakak laki-lakinya dari tempat parkir.
"Shiiin-chan! Si AHOngo lebih mendukung Seirin daripada kita!" Takao mencoba mengadu pada Midorima yang hanya melemparinya dengan pandangan datar jilid dua. Takao baru saja akan protes sebelum sang ace tim membuka suara.
"Takao, lucky itemku tertinggal di kolong meja. Ambilkan nanodayo."
"Hee? Kenapa aku? Kelas kita kan di lantai tiga, badanku masih pegal-pegal karena pertandingan kemarin, tahu!"
"Keberuntunganku lebih penting dari pegal-pegalmu nanoda—"
"A-ano," kata Chizuru sambil memarkirkan sepeda biru-gelapnya di dekat sang 'kendaraan'. "Aku bisa kok, mengambilkannya untuk Mido-kun."
"JANGAN!"
Chizuru berjengit kaget mendengar kedua pemuda di hadapannya meneriakkan hal yang sama secara bersamaan.
"Hai, hai, biar aku saja yang mengambilnya," kata Takao sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. "Mau dikemanakan harga diri ini kalau amanah untukku diambil alih oleh cewek jadi-jadian. Lagipula aku 'kan lelaki sejati digilai banyak wanita se—"
"Kami tunggu di depan gerbang nodayo." kata Midorima singkat; membuat Takao menutup mulutnya, lalu pergi menjalankan misinya dengan ogah-ogahan.
Midorima meletakkan tasnya ke dalam sang 'kendaraan', pandangannya menerawang melewati pagar di depannya yang membatasi tempat parkir itu dengan jalan setapak di luar sekolah. Tempat parkir itu hanya terletak beberapa meter di sisi kanan gerbang utama. Tidak akan makan satu menit menuju kesana. Takao sudah dikirimnya menjauh. Masalahnya sekarang, apakah dirinya siap?
"Eh?" Chizuru mengerutkan kening saat Takao sudah hilang dari jarak pandang; Midorima terbangun dari lamunannya. "Memangnya dia tahu benda apa yang menjadi lucky item Mido-kun hari ini? Aku bahkan belum melihat benda aneh apapun di sekitar Mido-kun tadi."
"Bodoh. Kau pikir aku benar-benar seceroboh itu meninggalkan lucky itemku di kelas?" kata Midorima sebelum mengeluarkan benda yang sedari tadi pagi ada dalam sakunya.
"Permen nerunerunerune?" Chizuru memandang kudapan seukuran kotak pensil itu sebelum mendongak pada empunya, "Lucky item Mido-kun?"
"Ya."
"Keren! Bagaimana bisa muat masuk di saku ce—eh? Ja, Takao-kun..?" Chizuru memandang sekelilingnya; baru saja menyadari bahwa di sekitar tempat itu hanya ada mereka berdua. Fakta ini membuatnya mulai merasakan serangan hawa hangat di sekitar wajahnya—terkutuklah kedua pipi bulatnya yang gampang sekali terkena serangan itu. Ia menunduk—untuk pertama kali dalam hidupnya bersyukur atas tinggi badannya yang minim—sehingga ia bisa menyembunyikan wajahnya dari pemuda menjulang di hadapannya.
"Ada yang ingin kubicarakan nanodayo."
Chizuru mendengar suara bariton itu berbicara. Entah mengapa, suara itu tidak pernah gagal membuat jantungnya berdegup dengan kecepatan tidak normal, terutama di saat-saat seperti ini.
Eh? Seperti apa?
"Hongo," suara bariton itu kembali menyapa inderanya, "A-aku berhutang maaf padamu."
Kali ini Chizuru memberanikan dirinya untuk mendongak. Dahinya berkerut tidak mengerti.
"Aku minta maaf. Soal kemarin." Midorima mendapati serak dalam suaranya, ia membenahi letak kacamatanya, "B-bukannya aku ingin mengingatkanmu soal hal itu atau apa nanodayo, aku sendiri samasekali tidak suka mengingatnya—"
Chizuru tertohok di suatu tempat dalam dirinya dengan kalimat itu; membiarkan pandangannya kembali turun perlahan pada sepatunya. Ia bahkan berusaha memberitahu dirinya sendiri bahwa Midorima adalah seorang tsundere, tapi tetap saja rasanya—
Sakit.
Kupikir sudah berakhir,
Mido-kun.
Midorima menyadari perubahan pada gadis di hadapannya, mau tak mau dirinya juga dilanda gelisah. Sial, bukan itu itu yang ingin kukatakan. Ia kemudian mendengar dirinya sendiri berdeham, "Aku memang tidak menyukaimu—" Sial! Bukan itu juga, Shintarou! "—t-tapi aku ingin kau tahu bahwa—"
"Sampai disitu saja—"
Baik Midorima maupun Chizuru menoleh pada suara yang berasal dari balik pagar di dekat mereka yang kebetulan hanya setinggi dagu orang dewasa.
"—Mido-chin."
Atau dalam kasus Murasakibara Atsushi, hanya setinggi dadanya.
"Sampai disitu saja kau menyakitinya atau aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu, Mido-chin." terdengar suara kasar gerusan permen dari mulut Murasakibara saat ia memandang dingin mantan rekan satu timnya.
"Atsu-kun,"
"Aa, Chizu-chin, aku datang untuk menjemputmu~ Bosan di rumah."
"Bukan itu—"
"Jaa, aku kesitu ya~" ujar suara malas Murasakibara setelah memandang tajam pada pemuda bersurai hijau, ia melangkahkan kaki panjangnya menyusuri jalan di balik pagar menuju gerbang Shutoku untuk masuk ke dalamnya. Midorima masih bungkam, matanya mengekor ke arah sosok raksasa itu pergi sebelum ia mendengar suara lirih yang sepertinya berasal dari gadis yang sedang menunduk di depannya.
"Aku tidak pernah menuntutmu melakukan apapun mengenai perasaanku, jadi kumohon—" Chizuru menelan ludah, menghiraukan cairan bening yang mulai memburamkan pandangannya. "Kumohon maafkan aku karna sudah membebani Mido-kun dengan pengakuanku yang tidak penting. Sumimasen deshita."
Midorima membelalak saat gadis itu membungkuk hormat di hadapannya. Tidak, jangan lagi. Ia merasakan tangan kirinya yang dominan sedang bergerak ragu ke arah surai gelap milik gadis itu. Akulah yang harusnya minta maaf. Tangannya menggantung di udara, beberapa inci lagi—
Namun Murasakibara sudah lebih dulu meraih lengan gadisnya yang sedang membungkuk. Tangan lainnya menyeret kemudi sepeda biru-gelap familiar yang sewarna dengan jaket jins milik gadis itu.
Detik selanjutnya, Midorima mendapati dirinya sedang memandangi bayangan Chizuru yang kian menjauh. Ia menghiraukan hujanan pertanyaan Takao yang rupanya sedari tadi menyaksikan kejadian itu dari kejauhan. Ia bahkan tidak menyadari bahwa jari-jarinya yang terbalut rapi kini sedang mengepal kuat.
Sesuatu jelas sedang terbuka pada penutup chapter ini.
Huwaaaa kelar! Huwaa! Huwaaa terima kasih banyak buat review, favorite dan followingnya! *bungkuk-bungkuk*
[Pembaca yang budiman, silahkan di-skip aja bagian ini karna ini isinya cuma curhatan gaje si author nanodayo.]
Masih fresh dari microwive loh ini! (?)
Jadi, yea, maaf updatenya lama (seperti biasa, ngeselin) karna jujur saya buntu banget sebuntu si Chizu yang mau ngapain lagi sama manusia tsunderenya. Saya ngabisin banyak hari buat cari mood, cari wangsit, jaga lilin dan riset-riset panjang nan geje tiap dini hari.
Oh! Makasih (lagi) buat 'megane-chan'-san (?) yang udah ngingetin soal Akitanya. Jadi dari awal bikin, di dunia imajinasi saya tuh semua Kiseki no Sedai rumahnya di Tokyo karena SMPnya pada di Teiko (anak SMP ngekos/apartemen kan nyeremin). Terus karna perjanjian Akashi, jadi semua pada mencar cari sekolah yang oke. Disitu saya kepikiran kalo si Murasakibara yang sekolahnya di Akita kayaknya nge-apartemen wahahaha! *ditabok Fujimaki Tadatoshi sensei*
Oh! (lagi) buat SkipperChen-san. Jadi aslinya, saya ga ada kepikiran buat anu-anuin Takao ke love life Chizuru. Takao-nya murni jadi temen soalnya saya pribadi ngerasa kayak 'enak kali ya punya sahabat yang sama-sama 'miring' kayak Takao'. ETAPI, gara-gara baca review anda, otak jahanam saya langsung nyengir-nyengir jahil gajelas merencanakan sesuatu XDXD Jadi anda secara tidak langsung berandil pada banyaknya kemunculan Bakao disini HOAHAHAHA *author keliatan banget labilnya*
Wahaha engga kok. Takao stays as a friend aja til the end. Dua aja dah pusing, gimana kalo tiga? #dilempar
Dan makasih selalu buat pereview2 lainnya *bungkuk-bungkuk* Tau ga sih kalo review kalian ngaruhin baaaaaaanget mood saya buat lanjut terus? Kan saya labil nodayo. Jadi makasih bangetla yang udah nyempetin review, follow, maupun favorit
Jadi...ya, chapternya boring dan gajelas lagi.
Huf.
Saya udah kepikiran buat kelanjutan masa depan cerita ini dan mungkin bakal ganti ratenya jadi T. Mungkin. *ada apaan coba di masa depan kok diganti rate segalak dasar author otaknya jahanam lagi*
Tapi saya masi bimbang mau ngestop kisah ini di tengah-tengah wintercup ato sampe selese wintercup juga aja
Menurut anda gimana? ._. Please let me know nodayo~
Domo,
L.
