aiya,sempet bingung mau dibikin gimana lanjutanny...ditunggu reviewny :)

karakter original Dynasty Warrior adalah milik KOEI sepenuhny...


Satu tahun setelah penyerangan Kota Jian Ye

Sudah lebih dari tiga minggu semenjak pertempuran di Yi Ling usai, dengan kemenangan di pihak Wu. Ada yang bersuka cita, ada juga yang terluka karena pertempuran tersebut. Karena bagaimana pun juga, musuh sesungguhnya bukanlah Wu, melainkan Wei. Namun apa daya, Liu Bei kehilangan kendali, dan menuntut balas atas kematian dua saudaranya. Semenjak itu, hubungan diplomasi antara Wu dan Shu mulai memanas, meski pun kedua belah pihak tidak pernah saling menyerang satu sama lain selepas peristiwa Yi Ling.

Di saat Wu dan Shu bertarung, di utara, Wei sedang membangun kekuatannya kembali, dan berusaha untuk mencari celah di tengah kekacauan ini untuk menjatuhkan kedua musuhnya. Harus ada yang mengalah, harus ada yang memperbaiki persahabatan kedua kerajaan yang sudah rusak ini. Dan karena itulah, mengapa kedua orang itu berada di sini sekarang.

Tidak pernah terbayangkan oleh Sun Quan, untuk melihat sosok pria itu di pagi hari di dalam istananya. Ditemani oleh wanita yang satu-satunya selain adiknya yang berhasil mengalahkan raja Wu ini dalam pertandingan memanah. Apa yang mereka inginkan?

"Sungguh sebuah kejutan yang sangat menyenangkan, Master Zhuge Liang!" Sun Quan membuka percakapan. "Sebelumnya, saya minta maaf karena membuat anda menunggu terlalu lama."

Zhuge Liang menggeleng, kemudian memberi hormat. "Anda tidak perlu meminta maaf, Master Sun Quan. Seharusnya saya yang meminta maaf karena telah mengganggu tidur anda."

"Tidak ada salahnya bila aku bangun lebih awal," Sun Quan menatap Zhuge Liang lekat-lekat, kemudian berpaling ke sosok yang duduk di belakangnya. "Lama tidak berjumpa, Fan."

Wanita bernama Cao Fan itu tersenyum lembut, lalu mengangguk. "Sebetulnya sebulan yang lalu kita bertemu, hanya saja kondisinya sangat tidak menyenangkan."

"Ah, sebulan yang lalu," Sun Quan menunduk. "Mungkin akan terdengar aneh, namun saya turut berbela sungkawa atas kematian Liu Bei. China sudah kehilangan seseorang yang sangat hebat. Perlu anda ketahui, Master Zhuge Liang, bahwa Wu tidak pernah berniat untuk merengut nyawa Liu Bei. Yang kami inginkan hanyalah Jing kembali menjadi milik kami. Sebab bagaimana pun juga, Jing pada awalnya milik Wu. Katakanlah, selama ini Wu meminjamkan daratan Jing kepada Shu karena kalian tidak memiliki wilayah kalian sendiri."

"Saya mengerti, Lord Sun Quan. Dan karena itulah, mengapa saya kemari," Zhuge Liang meletakkan sebuah kertas putih di atas meja kecil yang berada di hadapannya. Ada cap kerajaan Shu di kertas tersebut. "Rasa anda bisa menebak alasan saya datang kemari?" Zhuge Liang bertanya.

"Ya. Namun saya bingung, kenapa harus anda sendiri yang datang ke sini, Master Zhuge Liang? Kenapa tidak mengirimkan orang lan saja untuk membicarakan.."

"Untuk meluruskan masalah ini, adalah yang terbaik bila saya sendiri yang langsung menghadap anda, Master Sun Quan. Ini adalah masalah yang serius, menyangkut masa depan kerajaan Shu dan Wu, bahkan seluruh China."

Padahal Sun Quan ingin langsung menerima tawaran perdamaian yang diajukan oleh Zhuge Liang, namun bawahannya tidak setuju, dan langsung menghujani Zhuge Liang dengan berbagai pertanyaan dan menuntut untuk mendapatkan jaminan bahwa Shu tidak akan menyerang Wu lagi, dan bersama-sama akan mengalahkan Wei.

"Akhirnya pertemuan itu selesai juga," Cao Fan merenggangkan tangannya ke atas. Duduk diam selama tujuh jam benar-benar membuat tubuhnya kaku.

Sun Quan tertawa pelan. "Aku minta maaf atas kelakukan bawahanku. Sebetulnya aku tadi ingin langsung menerima tawaran perdamaian anda, Master Zhuge Liang, tetapi mereka..."

"Itu hal yang normal, Master Sun Quan. Saya malah akan heran bila tidak ada yang berusaha menghentikan niat anda tersebut, dan menguji saya terlebih dahulu."

"Hari sudah semakin siang, bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu?" Ajak Sun Quan.

"Terima kasih untuk tawaran anda, Master Sun Quan." Zhuge Liang membungkuk serendah mungkin. "Namun saya harus menolaknya, sebab masih ada yang harus saya lakukan sebelum kembali ke Shu."

"Apa itu?"

"Saya ingin memberikan surat dari Lord Liu Bei kepada adik anda, Putri Sun Shang Xiang."

Sun Quan menatap lurus ke arah Zhuge Liang, wajahnya terlihat kaku. "Surat apa?"

"Saya tidak tahu. Sebelum Lord Liu Bei menghembuskan nafas terakhirnya, beliau memberikan surat ini, dan memerintahkan saya untuk memberikannya kepada adik anda."

"Ada sesuatu yang harus..."

"Biar saya yang mengantarkan mereka ke kamar Lady Shang Xiang," terdengar suara yang familiar dari belakang.

"Zong!" Pekik Cao Fan bahagia.

"Hah, aku tidak mengira kalau aku akan bertemu lagi denganmu secepat ini," Cao Zong tersenyum. "Apa kabar, adikku?"

Sun Quan memperhatikan pria tersebut berjalan mendekati mereka bertiga. "Apa kau yakin dengan ucapanmu barusan? Apa kau yakin kalau Shang Xiang..."

Cao Zong menepuk pundak Sun Quan. "Serahkan semuanya kepadaku. Dan lagipula, Master Zhuge Liang memiliki kunci untuk membuat Shang Xiang seperti dulu lagi."

Awalnya dia ragu, tapi pada akhirnya Sun Quan mengizinkan Cao Zong untuk pergi mengantar Zhuge Liang beserta adiknya ke kamar Sun Shang Xiang.

"Bagaimana kabar Shang Xiang?" Cao Fan bertanya ketika mereka bertiga tengah menelusuri lorong menuju kamar Shang Xiang. Setelah kembali dari Yi Ling, kamar Shang Xiang pindah ke belakang, dekat dengan halaman.

"Sangat buruk," jawb Cao Zong pelan. "Dia sudah berkali-kali mencoba untuk bunuh diri. Sudah seminggu ini dia tidak keluar untuk makan atau minum."

"Saya harap setelah membaca surat ini, Lady Shang Xiang akan kembali seperti sedia kala."

"Kami semua berharap seperti itu," Cao Zong berhenti di depan sebuah pintu berwarna merah. "Ini kamarnya. Apa anda ingin masuk dan bertemu dengan Shang Xiang?"

Cao Fan mengambil kertas tersebut dari tangan Zhuge Liang. "Lebih baik aku saja yang mengantarkan surat ini," ditatapnya Cao Zong. "Zong, bagaimana kalau kau menemani Lord Zhuge Liang ke ruang makan? Aku yakin Quan akan senang bisa makan siang bersama dengan Lord Zhuge Liang."

Kedua pria saling bertatapan, hingga akhirnya Zhuge Liang mengangguk. Sebelum memberikan surat tersebut ia berpesan kepada Cao Fan, "Tidak perlu terburu-buru, aku yakin kalian punya banyak hal yang ingin diceritakan."

"Terima kasih, Lord Zhuge Liang!" Cao Fan membungkuk. Dengan hati-hati ia mengetuk pintu kamar Shang Xiang. Sebelum pemilik kamar keluar, Cao Zong dan Zhuge Liang sudah pergi.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Zong, sekarang bukan waktunya untuk melamun!" Teriakan Xiahou Yuan menyadarkan Cao Zong.

Sekarang mereka sedang berada di Han Zong, kota yang sangat penting bagi rencana Cao Cao untuk menyerang Shu. Bila Han Zong sampai jatuh ke tangan musuh, tidak, Cao Cao tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Oleh sebab itu dia mengirim seluruh pasukan terbaiknya untuk melindungi kota ini.

"Maafkan saya, Master Xiahou Yuan," Cao Zong membungkuk, "Saya.."

Sebuah anak panah melesat, hampir mengenai pipi Cao Zong. Targetnya ternyata prajurit Shu yang akan menyerang Cao Zong dari belakang, anak panah itu tertancap tepat di keningnya. "Tetap fokus, Cao Zong! Jangan biarkan musuh berhasil menyerangmu!"

Sudah sepuluh jam pertempuran berlangsung, namun kedua belah pihak belum menunjukkan tanda menyerah. Shu, yang dipimpin oleh Huang Zong membiarkan Wei untuk menyerang sesuai dengan perintah Xiahou Yuan. Kedua perwira yang memiliki keahlian dalam panahan itu sama-sama ingin menunjukkan kehebatan mereka.

"Master Xiahou Yuan, apakah tidak lebih baik bila kita menunggu pasukan Lord Cao Cao untuk tiba terlebih dahulu?" Cao Zong menatap lurus ke arah medan pertempuran yang sudah dipenuhi oleh mayat para prajurit dari kedua belah pihak.

"Cao Cao mempercayakan kota ini kepadaku, aku tidak akan membuatnya kecewa dengan menunggunya untuk datang menyelamatkanku," Xiahou Yuan menepuk pundak Cao Zong, "dan, dia itu ayahmu. Berhentilah memanggilnya dengan sebutan Lord Cao Cao."

Raut wajah Xiahou Yuan tiba-tiba berubah, "Dia ada di sini. Berhati-hati, Cao Zong!"

Cao Zong memegang erat senjatanya, menajamkan pendengaran serta penglihatannya. Waktu tiba-tiba seperti berhenti hingga bunyi panah melesat yang disusul dentingan besi menggema, kemudian ditutup dengan erangan panjang dari Cao Zong. Dia tadi berhasil menangkis satu anak panah, namun ternyata musuh menyerangnya menggunakan dua anak panah.

"Sial! Cao Zong, kau tidak apa-apa kan?" Xiahou Yuan mendekat ke Cao Zong.

"Di sana!" Teriak Cao Zong sambil menunjuk ke arah barat.

"Kau tidak bisa bersembunyi lagi, old man!"Dengan cepat Xiahou Yuan melepaskan tiga anak panah sekaligus.

Huang Zong keluar dari persembunyiannya, sebuah anak panah tertancap di kaki kirinya. "Hah, kau boleh juga!"

"Menyerah, atau kalian akan menyesali hari dimana kalian tidak melakukannya!" Perintah sebuah suara dari belakang Cao Zong dan Xiahou Yuan.

"Suara ini, aku kenal... Fan..."

"Bagus kalau kau masih mengingatku, Cao Zong." Cao Fan berjalan dengan perlahan ke arah Huang Zong. Dia tengah memegang sebuah busur dengan anak panahnya, siap untuk dilepaskan kapan saja.

"Seharusnya racun di panah itu sudah bereaksi," Huang Zong menarik anak panah dari kakinya. "Tapi kenapa belum muncul gejalanya?"

"Racun? Racun menyedihkan buatan kalian, tidak akan mempan kepadaku!" Dengan satu tarikan Cao Zong berhasil menarik keluar anak panah dari pundaknya. "Darah dibalas dengan darah, panah dibalas dengan panah!" Seusai mengucapkan kalimat itu, Cao Zong mengambil busur yang ia bawa, kemudian melepaskan anak panah itu, tepat mengenai perut Huang Zong.

"Master Huang Zong!" Ditengah kepanikan, Cao Fan membalas serangan kakaknya, dan berhasil menyerang Xiahou Yuan, tepat dijantungnya.

"Tidak, Master Xiahou Yuan!"

Disaat perhatian Cao Zong tertuju kepada Xiahou Yuan yang sudah roboh, Cao Fan memapah tubuh Huang Zong dan pergi meninggalkan musuh mereka.

"Master Xiahou Yuan...," Cao Zong terjatuh ke tanah. Ia tidak bisa bergerak dan perlahan mulai kehilangan kesadaran. Nampaknya racun tersebut sudah bereaksi.