Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei

Gomen lama update. Sibuk banget nih sama segala macam yang judulnya UJIAN. Ujian ini lah, ujian itu lah, bla...bla... Hiks...hiks...

Met baca, semoga kalian suka^-^

Me and My Brother

Chapter 4

Sekarang aku dan Suigetsu sedang dalam perjalanan menuju tempat Karin. Untuk mencapai tempat Karin, kami harus berjalan cukup jauh bahkan melewati lautan. Sebab tempat Karin berada di sebuah pulau yang ada di tengah lautan. Itu tempat yang tepat untuk mengurung tahanan, karena itu akan membuat mereka susah untuk kabur. Apalagi bila yang di tahan itu bukan ninja. Sedangkan ninja seperti kami dapat melewati lautan itu hanya dengan berjalan seperti biasa.

Kami berjalan santai menuju tempat Karin. Sementara aku mendengar celotehan Suigetsu tentang Karin. Bahwa kita tak memerlukan Karin, sebab Karin hanya akan membuat susah saja. Tapi menurutku tak seperti itu, Karin akan sangat bermanfaat dengan kekuatan penyembuhan dan kemampuan untuk mengetahui reiatsu seseorang dalam jarak cukup jauh. Itu akan membantu bagi seorang ninja buronan sepertiku. Terutama jika rencanaku akan berjalan maka yang terbantu bukan seorang tapi sebuah tim.

Aku yakin Karin akan menyetujui ajakanku untuk bergabung. Alasannya adalah karena Karin menyukaiku. Mungkin ini kejam karena aku memanfaatkan perasaan Karin terhadapku. Tapi aku telah bersikap dengan sangat jelas bahwa aku sama sekali tak mengharapkan hubungan romantis, terutama untuk saat ini. Bukan salahku bila Karin tetap mengejarku.

Jujur aku takut dengan perasaan saling menyayangi itu. Aku pernah menyayangi seseorang dan apa yang kudapat? Dendam, tangis, darah, kebencian yang mendalam. Itulah yang kudapat sebagai hasil meyayanginya. Apa ada orang yang menginginkan semua itu? Jelas aku tak ingin merasakannya lagi. Bila tak ingin disakiti, kamu cukup menutup rapat pintu hatimu. Maka takkan ada yang dapat melukaimu. Itu adalah cara terbaik yang dapat dilakukan bila kamu ingin melindungi perasaanmu. Hatimu.

Tak lama kemudian kami sudah sampai di tempat Karin. Tempat itu merupakan sebuah markas yang cukup besar. Kami berjalan masuk melalui lorong-lorong, dimana sebelah kiri kami merupakan sel-sel penjara. Di sana terdapat cukup banyak tawanan. Sepertinya berita bahwa aku telah membunuh Orochimaru sudah sampai hingga tempat ini. Mereka berbisik-bisik karena aku datang tanpa Orochimaru. Mendiskusikan kebenaran gosip dan nasib mereka setelah ini. Aku sempat mendengar salah seorang tawanan berkata apakah mereka akan dibebaskan dan kemudian tawanan lain membalas bahwa itu sesuatu yang tidak mungkin.

Aku berpikir sejenak, sepertinya membebaskan mereka bukan ide yang buruk. Justru itu merupakan keputusan yang baik. Mereka pasti akan berkoar-koar bahwa aku telah membunuh Orochimaru dan membebaskan mereka. Dan pastinya berita itu akan sampai ke telinga orang itu. Hal ini akan menjadi tanda dimulainya pergerakanku. Dimulainya balas dendamku padanya. Yah meski ada sisi negatifnya karena orang-orang Konoha pasti mengejar dan menggangguku. Mereka tak juga menyerah. Setelah berkali-kali kunyatakan bahwa aku tak akan kembali lagi ke desa itu. Terutama Naruto, ia terus berkeras ingin membawaku kembali. Apa katanya bahwa ia percaya bahwa setelah semuanya berakhir, aku akan kembali lagi. Polos sekali! Mana mungkin bisa selesai semudah itu. Sekarang aku merupakan ninja pengkhianat. Apakah ia berpikir orang-orang akan mengerti diriku? TIDAK! Mereka tak akan mengerti dan aku juga tak ingin kembali lagi. Setelah semua ini berakhir, tujuanku adalah membangun kembali klan Uchiha.

Kami masuk ke dalam ruangan Karin. Ruangan itu cukup luas dan hanya terdapat sebuah sofa dan meja, menampilkan kesan lapang. Atau kamu bisa menyebutnya kosong, terlalu sepi. Karin tampak kaget melihat kedatangan kami. Tapi, ia dengan cepat dapat mengendalikan ekspresinya. Menyembunyikan kekagetannya atas kedatangan kami yang tiba-tiba terlebih dengan gosip bahwa aku telah membunuh Orochimaru. Pengendalian diri Karin bisa dibilang hasil dari berkubang dalam dunia kejahatan. Saat kamu bergabung dalam kelompok yang salah dan setiap hari harus mempertahankan nyawamu. Tentunya kamu harus bisa mengendalikan perasaanmu. Di dunia tempat kami berada, perasaan adalah tanda kelemahan.

Karin tersenyum menyambut kedatanganku. Jelas ia tidak senang dengan kehadiran Suigetsu. Bagaimanapun setiap kali mereka bertemu, mereka selalu bertangkar. Bagaikan minyak dan air yang tak bisa menyatu. Sepertinya aku harus ekstra sabar menghadapi mereka berdua. Terutama bila Karin akan bergabung dalam tim.

Aku menatap jenuh pertengkaran Karin dan Suigetsu. Hal yang sepele menurutku. 'Haah... Sebaiknya kuhentikan. Biar semuanya cepat selesai,' kataku dalam hati. Aku melangkah mendekati pertengkaran mereka. Menarik napas lagi dan mengeluarkan perintah dengan nada final pada Suigetsu.

"Suigetsu, lepaskan para tahanan!" perintahku pada Suigetsu.

Ia menyengir mendengar perintahku. Sepertinya ia cukup menyukai tugasnya kali ini. "Oke," balas Suigetsu dan berlalu dari ruangan itu.

Karin mengerutkan keningnya tanda tak setuju atas perintahku dan ia mulai memprotesku, "Apa maksudmu melepaskan tahanan?" tanyanya.

"Orochimaru sudah mati. Kamu tak perlu menjaga tahanan lagi," kataku.

Karin tampak kaget dengan pernyataan yang kubuat. Lalu ia menjawab, "Jadi, benar kabar burung bahwa kamu sudah membunuh Orochimaru?"

Aku mengangguk sebagai jawaban.

"Lalu, apa yang kamu inginkan hingga datang ke sini?"

"Bergabunglah denganku Karin"

Karin tersenyum senang. Dari sikapnya jelas bahwa ia menunggu aku mengajaknya untuk bergabung. Paling tidak ia sudah bisa memperkirakan maksud kedatanganku. Ia membuka kacamata yang sedari tadi bertengger di wajahnya. Ia menatapku dengan pandangan sensual. Aku tak bodoh. Aku tahu maksud tatapan itu.

Karin berjalan mendekatiku yang sedang duduk di satu-satunya sofa yang ada di ruangan itu. Ia menjatuhkan dirinya di dekatku sembari mendesah. "Aaahh... Baiklah kalau kamu ingin aku bergabung Sasuke. Tapi aku rasa kita tak perlu mengajak Suigetsu ikut serta. Cukup kita berdua saja," kata Karin.

"Tidak, Karin. Aku memerlukan Suigetsu dalam tim."

"Ayolah Sasuke, kamu tak membutuhkannya," katanya dengan nada manja. Apa ia berpikir bila ia memohon seperti itu, aku akan mengabulkan keinginannya?

Tepat setelah Karin mengucapkan itu, pintu ruangan itu hancur karena ulah Suigetsu. Ia menatap sinis pada Karin yang cepat-cepat menyingkir dariku. "Aku sudah melepaskan tahanan. Ayo pergi Sasuke, sepertinya Karin tak ingin ikut dengan kita!" ejek Suigetsu sembari menyeringai lebar, membuat Karin mali karena ejekannya. Jelas sekali Suigetsu tahu apa maksud Karin menolak ia ikut pergi dengan kehadirannya. Ya, karena ia ingin berdua saja pergi bersamaku dan baginya Suigetsu hanya pengganggu.

Aku berdiri dari sofa dan menatap Karin dengan tatapan datar, "Apa benar begitu Karin?"

"Eh, a... aku akan ikut kalian. Kebetulan aku juga ingin pergi dari sini. Jadi, nanti setelah tiba di tempat tujuan. Aku akan berpisah dengan kalian," kata Karin dengan gugup.

"Ooh," kataku sembari menatap Karin.

"Heh, begitu ya?" ejek Suigetsu lagi. Sepertinya Suigetsu benar-benar senang mengganggu Karin.

Karin tampak malu. Jelas sekali kalau ia berbohong. Ia ingin pergi bersama kami, tetapi terlalu gengsi untuk berkata ya. Biar sajalah itu bukan urusanku. Yang penting tujuanku ke sini tidak sia-sia. Aku berhasil menambah anggota dalam tim ini. Dan sekarang tinggal satu orang lagi. Lalu tim ini akan lengkap untuk memulai tujuanku.

"Ayo pergi dari sini, kita akan menjemput Juugo," kataku.

"Apa?" teriak Karin kaget. "Kamu bercandakan Sasuke? Dia itu tak bisa dikendalikan!"

"Tidak, aku serius Karin. Aku menginginkan Juugo dalam tim ini."

Gomen kependekan. Aku harap kalian tetap bersedia mereview fic ini...