Halo halo semua! MonnaC bikinnya pake iPad ayah. Siapa tahu bisa, hehe... Ok, let's begin!
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Alur kecepetan, Typo, GaJe, dll
Pairing: SasuSaku (Main), NaruHina, ShikaIno
Chapter 4: Prelude Partita No.3, Johann Sebastian Bach
Hari ini adalah hari pertama Sakura dkk latihan. KBM belajar ditiadakan sementara untuk latihan okestra seminggu lagi. Pertanyaannya adalah, 'apakah cukup hanya latihan selama seminggu?' itulah yang ada dalam pikiran Sakura sekarang.
"Sakura? Sakura? Sakura!" konduktor okestra kelas Sakura, Asuma-sensei, meneriaki Sakura.
"E... Ada apa sensei?" tanya Sakura yang langsung tersadar dari lamunannya.
"Kau ini kenapa Sakura? Ini bagian kamu masuk." seru Ino yang memainkan suling di belakang Sakura yang berdiri di depan, di sebelah sensei Asuma.
"G-Gomen sensei. Bisa kita ulangi lagi?" kata Sakura malu. Ia membunguk meminta maaf. Sensei mengulangi latihan dari awal lagi.
Latihan diadakan bergantian di ruang audiotorium. Giliran pertama tadi adalah kelas Hinata. Setelah kelas Sakura, baru Sasuke akan latihan. Sakura sebenarnya kurang konsentrasi karena ia memikirkan ibunya yang ada di rumah sakit. Lalu ia teringat bayang-bayang Sasuke yang sedang memainkan biola dengan lembut.
Asuma-sensei juga berkata bahwa permainan Sakura hari itu sedikit nyasar entah kemana. Mungkin karena hari pertama latihan, itulah yang ada di pikiran sensei.
Kelas Sakura selesai latihan. Berbondong-bondong anak-anak keluar masuk audiotorium. Ino yang belum dijemput menemani Sakura melihat sang pujaan hati latihan. Sakura duduk di paling pojok ruangan didampingi Ino di sebelahnya.
Di sisi Sasuke,
"Perhatikan tempo kalian! Terlalu cepat! Perlambat! Terlalu lambat! Percepat sedikit! Celo jangan terlalu ditekan! Viola nadanya kurang tinggi! Violin nada terlalu rendah hingga suaranya mirip violin! Bermain yang kompak!" teriak Sasuke kesana-kemari. Berbagai bisikan yang tak didengar Sasuke memenuhi ruangan. Sakura yang berada di pojok ruangan -dengan pendengaran yang tajam, mendengar bisikkan-bisikkan itu.
"Sasuke keras ya."
"Aku jadi tak suka padanya."
"Lebih baik Kiba saja yang memimpin."
Sakura hampir menendang kursi di depannya jika ia tak ingat bahwa Sasuke sedang konsentrasi. Berbagai bisikkan dan ejekkan yang dituju untuk Sasuke kembali terdengar di telinga Sakura.
BRAKK
Sakura menendang kursi yang ada di depannya dengan wajah merah karena marah. Semua orang yang sedang latihan, tak terkecuali Sasuke, melihat ke arah Sakura dengan tajam dan kaget.
"Jangan pernah bicara yang aneh-aneh tentang Sasuke!" teriak Sakura tiba-tiba. Ia sudah geram karena perkataan orang-orang busuk yang sedang dilatih Sasuke. Ino berusaha menenangkan Sakura dengan lembut dan pelan, takut menarik perhatian juga.
"Ini tak ada hubungannya denganmu, Sakura!" teriak salah seorang anak yang ada di kerumunan itu. Tak ada hubungannya? Sakura malah berpikir sebaliknya.
"Ini jelas ada hubungannya denganku! Karena aku menyukainya!" beberapa detik Sakura belum menyadari apa yang ia katakan. Sasuke terbelalak dan mukanya semerah tomat. Bagaimanapun juga.. masih terbayang bayangan perempuan itu di benaknya sampai sekarang. Tapi kenapa.. sejak bertemu Sakura di ruang latihannya, ia jarang sekali memikirkan perempuan itu.
Tidak, ia harus melupakannya.
Ia HARUS melupakan perempuan bejat itu.
Beberapa detik kemudian, Sakura baru menyadari apa yang ia ucapkan. Ino langsung sweetdrop dan mengejar Sakura yang berlari keluar ruang audiotorium itu.
Sasuke mengalihkan pandangannya setelah Sakura keluar, "Sakura.."
.
.
.
.
"T-tadi... Aku bicara apa?" muka Sakura memerah di depan kaca kamar mandi. Di sebelahnya, Ino berdiri setia menunggui sahabatnya itu. Biola Sakura ditaruh di samping kaki perempuan pink itu. Sakura tak berani menatap wajah Sasuke lagi setelah ini.. mungkin? Tapi yang bisa menghiburnya adalah musik. Satu-satunya adalah musik.
Ino masih saja sweetdrop atas kejadian tadi. Sakura meminta Ino agar ia dibiarkan sendiri dulu. Ino mengiyakan. Sakura berjalan bergandengan dengan biolanya. Ia berjalan ke arah ruang audiotorium, ruang dimana Sasuke latihan tadi. Pelan tapi pasti, Sakura membuka pintu agar tak terdengar oleh siapapun. Di sana kosong. Seperti yang Sakura harapkan.
Seperti yang dia harapkan? Ya, Sakura ingin menenangkan diri dulu di dalam sana. Sepertinya Sasuke sudah pulang. Sakura masuk dan berdiri di tengah-tengah panggung. Ia membelakangi tempat duduk penonton dan mulai mengeluarkan biolanya dari dalam tempatnya. Sakura membentuk posisi memulai menarik bow.
Lagu itu terdengar seseorang yang spmasuk melalui pintu yang tak Sakura tutup tadi. Ia meninggalkan sebuah barang di dalan ruangan itu. Tapi setelah mendengar ada suara biola Sakura bermain, ia mengurungkan niat awalnya dan duduk di dertan kursi paling belakang. Ia memerhatikan Sakura yang bermain membelakanginya.
"Hm.. Prelude Partita no.3, Johann Sebastian Bach." orang itu bergumam sendiri masih memerhatikan Sakura menggesekkan biolanya.
Lagu itu mengalun pelan di telinga Sasuke dengan lembut. Wajah Sakura tak terlihat tapi ia tahu wajah Sakura tenang. Karena setiap kali perempuan itu memainkan biolanya wajahnya selalu terbawa suasana lagu yang ia mainkan.
.
.
.
Lagu selesai, Sakura menurunkan alat musiknya dan menghembuskan nafas pelan. Orang yang memerhatikan perempuan berambut panjang itu berdiri lalu bertepuk tangan pelan. Sakura melirik laki-laki itu. Muka Sakura berubah warnanya menjadi merah padam. Orang itu berjalan turun ke depan pangung Sakura.
"Er... Sa-Sasuke.. Soal yang tadi siang..." kalimat Sakura dipotong Sasuke.
"Lagu yang bagus Sakura," Sasuke tersenyum ke arah Sakura yang sukses membuat muka Sakura memerah "dan maaf, aku tak bisa menjawab pernyataan cintamu. Aku.. masih ada perempuan lain yang ingin kulupakan," Sasuke berkata dengan wajah stoic yang sering Sakura lihat. Dengan cepat, Sasuke meraih baton* di atas podium tempat para konduktor bermain, "J-Jaa... Aku pergi dulu ya Sakura."
Sakura hanya bisa menatap punggung Sasuke yang mulai menjauh dan menghilang dari pandanganya.
"Siapa perempuan itu Sasuke?" tanya Sakura sedih. Ingin sekali ia menitikkan air mata karena penolakan Sasuke. Tapu rasanya air mata Sakura sudah kering terlebih dahulu.
.
.
.
.
Sakura pulang ke rumahnya, berganti baju dan mulai tidur di kamarnya yang serba pink. Pikirannya tak jauh dari Sasuke. Sasori yang menyadari adiknya menjadi pendiam hari itu beranya,
"Sakura, ada yang tak beres di sekolah?" tanya Sasori sebelum Sakura menutup pintu kamarnya.
"...tak ada kak." Sakura langsung menutup pintu kamarnya
.
.
.
.
Yang ada di pikiran Sakura saat ini adalah, "Apa artinya diriku bagi Sasuke?"
A/N: Aw... Pendek ya? Ah, baton itu tongkat yang biasa konduktor pakai. Saya baru ingat tentang tongkat kecil coklat itu. Maaf pendek, saya tak konsentrasi mengetik di iPad ayahku, diawasin terus.. Hehe... Prelude Partita No.3 karya Johann Sebastian Bach, request dari Salamanca Tree Hidle.
blue sakuchan: Ini masih jauh dari hebat kok Tapi sankyuu reviewnya yaaa...
Ayhank-chan UchihArlinz: Maaf karena pendek... Saya blank karena ngetik di iPad. Gomen... Thx reviewnya
Aoi Shou'no: Eh... mirip ya? Saya baru nyadar kalo mirip pas baca ulang. Hihi... Thank you reviewnya
Salamanca Tree Hiddle: Iya, yang iklan Royal JJ itu! Yang main suling tak lain dan tak bukan adalah Ino! Maafkan saya karena typonya banyak ... Right! I Love Classical Music! Requestnya kebetulan sama kayak yang ada di pikiranku sebelum Sal-chan ngereview.
Laura Pyordova: Chapter ini Sasuke nolak Sakura.. Ditunggu aja, pasti nanti Sasuke nembak Sakura kok! Thx reviewnya!
Ok, RnR pleaseeee...
With classic love,
monnaC
